Kemudian, warna merah itu makin terang dan makin terang, hingga menjadi putih yang menyilaukan.
Cahaya putih itu meredup, dan warna-warna lain menghampiri penglihatan Psyche. Cokelat, hitam, hijau, dan lain-lain. Warna-warna itu menyebar seperti minyak di atas air, kabur dan terus-menerus buyar.
Kemudian warna-warna itu berhenti menyebar, seperti disedot kembali dan memusat, membentuk wujud tetap. Warna-warna itu tidak lagi kabur, dan bahkan Psyche bisa mendengar sesuatu sekarang. Psyche mengerjapkan mata berkali-kali, berusaha menangkap warna-warna itu dengan matanya.
Warna-warna itu membentuk sesuatu.. sesuatu yang padat, tetap, dan utuh. Dikerjapkannya lagi matanya. Oh—itu, Psyche mengenal bentuk itu—
"Psyche? Kau bisa mendengar Ibu?"
Itu wajah Ibu di sebelah kiri. Dan dokter di sebelah kanan.
Psyche bisa melihat? Operasinya berhasil?
Tidak tergambarkan betapa bahagianya Psyche saat itu. Kehangatan menyebar di dadanya, tapi dia terlalu letih bahkan untuk berbahagia. Seluruh tubuhnya terasa kebas, tenggorokannya kering, lidahnya kelu. Matanya terasa panas. Tapi Psyche bisa melihat! Psyche kira Psyche takkan bisa lagi mengagumi indahnya warna-warna dunia. Psyche ingin tersenyum kepada Ibu dan menunjukkan bahwa dia baik saja, tapi ternyata otot-otot wajahnya pun sama lemasnya. Dia membuka mulut dan berusaha berkata 'ya', tapi dokter menghentikannya.
"Tidak perlu bicara, pasti tenggorokanmu sakit." Wah, benar sekali, Dok, Anda begitu pengertian, batin Psyche. "Berkedip sekali kalau kau mendengar kami."
Psyche berkedip.
"Oh, terima kasih Tuhan." Ibu mengatupkan tangan di depan mulutnya, lalu mulai terisak. Ayah maju dan merangkul bahunya lembut, sementara Dokter tersenyum tipis sambil menatap mereka.
"Selamat." Nada cerianya sedikit kering, tapi Psyche pikir mungkin itu karena Dokter capek. Operasi ini mungkin sulit, peluh tampak di wajahnya yang tertutupi masker. Kemudian, Dokter berbalik dan melakukan apapun itu yang diluar jarak pandang Psyche.
Psyche yang kegirangan mencoba duduk, tapi Ayah menahannya. Psyche merengut protes.
"Tetap disana, kau butuh istirahat. Tapi jangan tidur. Ibu akan berjaga disini."
Psyche berkedip lagi sekali, tanda setuju.
Tiga minggu sudah Psyche lewatkan dengan menjalani terapi di rumah sakit. Ternyata tidak mudah menyesuaikan diri dengan penglihatannya yang sempat rusak, tapi Psyche berusaha dan berusaha, hingga akhirnya hari ini dia diperbolehkan pulang.
Tidak lama lagi Ibu akan kesini dan menjemputnya pulang. Dia sudah mengepak, semua barangnya sudah terkemas rapi. Sambil menunggu Ibu tiba, Psyche berjalan-jalan di sekitar taman rumah sakit. Ini sekitar jam sepuluh, matahari masih hangat tapi sudah terang. Cuaca yang baik untuk berjalan-
jalan.
Selagi melangkahkan kaki di sepanjang setapak batu yang di kanan-kirinya ditanam bunga-bungaan cantik, pikiran Psyche mengawang. Suara tawa samar anak-anak yang bermain di kejauhan tidak lagi terdengar olehnya, begitu pula kicauan burung-burung di pohon. Pandangannya tertunduk seakan mengikuti jelujur batu di jalan yang dilaluinya, tapi pikirannya jauh sekali dari apa yang sedang dia pijak.
Tidak sekali pun setelah Psyche bangun, Psyche melihat Tsugaru.
Dimanakah ia?
Masihkah ia benci padanya?
Mengapa ia tidak pernah datang membesuknya?
Psyche bertanya pada Ibu, tentu saja. Ibu hanya menjawab Tsugaru kerepotan mengurus insiden itu dengan polisi dan pihak sekolah, dan akan segera menjenguk Psyche ketika segala urusan tentang itu sudah beres. Tapi entah mengapa Ibu terlihat sedikit, sedikit saja, mencurigakan. Maka diam-diam, Psyche menolak untuk menerima alasan itu.
Yah, bukan berarti Psyche bisa memikirkan alasan yang lebih baik. Tapi tetap saja. Mengapa Ibu harus berbohong?
Memikirkan hal macam itu membuat dada Psyche sesak. Rasanya pikiran-pikiran macam itu mencekiknya dan mencegahnya bernapas. Tidak enak sekali rasanya, walau bisa dibilang Psyche sudah terbiasa dengannya.
Dia memutuskan untuk kembali ke kamar saja. Lebih awal dari yang dia perkirakan, tapi setidaknya di kamar inapnya dia bisa beristirahat.
Psyche masuk dari sayap bangunan rumah sakit yang berlainan dari sayap tempat kamarnya berada. Cukup jauh, tapi tidak apa-apalah. Psyche belum pernah kesini, jadi mungkin dia bisa sekalian melihat-lihat.
Dibandingkan area tempat kamarnya berada, ternyata disini jauh lebih sepi. Sepertinya kamar-kamar rawat inap disini diperuntukkan bagi orang-orang dewasa yang tidak ingin ada kegaduhan khas anak-anak. Psyche terkekeh pelan selagi dia berjalan, mengingat betapa ramainya bangsalnya pada jam-jam terapi anak-anak. Ibunya sengaja menempatkannya di sekitar sana supaya tak kesepian, di dekat ruangan bersama. Psyche sering ke ruangan itu, bertemu anak-anak dan remaja lain yang sedang berusaha sembuh seperti dirinya. Banyak dari mereka yang lebih sakit daripada Psyche, maka pergi kesana bermakna ganda baginya; sebagai pengusir kesepian dan pengingat baginya supaya selalu bersyukur.
Psyche sedang melamunkan cokelat hangat dan kegiatan-kegiatan ceria yang pernah dia ikuti di ruangan itu ketika sembari lewat, dia merasa familiar dengan rambut pirang yang sekelebat dia lihat dari celah pintu salah satu kamar yang terbuka.
Detik selanjutnya, dia mendengar suaranya.
Dan suara orang yang sedang dia tunggu; Ibu.
Jantung Psyche melonjak mendesak rusuknya, dan langkahnya terhenti seketika. Debarannya berpacu kencang ketika matanya melebar; otaknya memproses semua itu dengan sangat cepat. Dan dia mendengarnya dengan jelas kali ini; suara Ibu.. dan Tsugaru.
"..tidak apa-apa, Bu, sungguh."
"Tapi, Tsugaru.. "
Tsugaru.
Tsugaru!
Psyche menyandarkan punggungnya ke dinding; dia bisa merasakan darahnya mengalir deras di setiap pembuluh yang ada di tubuhnya. Tsugaru ada disini? Dia tidak sedang mengurus kecelakaan itu? Tapi kenapa dia ada disini kalau begitu? Dia juga sakit?
"Aku akan baik-baik saja, bu. Cepatlah, pasti Psyche sudah menunggu. Ya?" oh, suara itu, lembut sekali, terdengar jelas sekali. Hanya terhalang seonggok dinding dan sebilah pintu.
"Ibu akan sering-sering kesini—"
"Tidak apa, bu. Psyche yang butuh perawatan, bukan aku." Psyche bisa mendengar senyum lembut dalam suaranya.
"Tapi kau juga.. " Ibu terdengar putus asa. "mengapa kau tidak ingin Psyche tahu tentang hal ini..?" ucap Ibu lirih.
Tentang apa?
Didorong rasa penasaran, Psyche mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke daun pintu yang terbuka. Dengan berhati-hati dia mengintip lewat celah itu, sangat hati-hati. Tapi dari posisinya sekarang, yang terlihat hanya Ibu yang duduk di dekat bagian kaki ranjang dan kaki Tsugaru yang terbalut selimut.
"Apalah gunanya," Tsugaru berkata lirih."nanti jika sudah waktunya, akan kuberitahu. Tapi bukan sekarang. Nah, sekarang Ibu jemputlah Psyche. Aku tidak masalah sendirian beberapa hari."
Psyche tidak yakin yang mana yang mau pecah—kepalanya atau dadanya, dia merasa dua-duanya dipenuhi sesuatu yang berkecamuk tidak keruan. Apa sih? Apa yang sedang terjadi? Ternyata benar Ibu berbohong, tapi kenapa? Tsugaru kenapa? Psyche kenapa?
Lalu Psyche tersadar—dia harus segera pergi, diam-diam. Dari percakapan mereka, sepertinya jika Psyche ketahuan berada disini, maka Ibu akan menjauhkan Tsugaru dari Psyche, menyembunyikannya lagi. Sebaliknya jika Psyche pulang dengan lancar, kemungkinan besar dari rumah nanti dia bisa menyelinap kesini tanpa penghalang apapun.
Bukannya Psyche tidak memikirkan untuk menghambur masuk dan melihat apa yang terjadi saat ini juga, tapi tindakan itu lebih gegabah.. dan kemungkinan Psyche belum siap menghadapinya. Setitik rasa pengecut di sudut hatinya mengakui itu.
Maka perlahan, dia melangkah mundur. Sial, di saat gugup begini cacatnya 'kambuh' lagi. Susah sekali menapak lantai. Dia harus berpegangan dengan sangat hati-hati pada kusen pintu untuk memantapkan pijakan; berusaha tidak membuat kegaduhan sekecil apapun. Dan dia berhasil.
Baru saja Psyche merasa lega.
Pintu kamar Tsugaru berayun terbuka.
Ibu.
Psyche bisa merasakan wajahnya memucat. Begitu pula wajah Ibu. Mata mereka melebar, dan keduanya mematung saling bertatapan.
"Bu?" sahut Tsugaru pelan dari dalam kamar."Ada apa?"
"..Sejak kapan kau ada disana, sayang?" suara Ibu bergetar. Dia melangkah ke samping sedikit, terlihat jelas menutup-nutupi Tsugaru dari pandangan Psyche.
Psyche menelan ludah. Dia tidak menjawab.
Sudah terlanjur.
Sekalian saja..
Kemudian Psyche maju, menghambur masuk lewat celah sempit diantara Ibu dan pintu. Dia tidak memikirkan apa-apa lagi. Ibu sempat berusaha menghalangi, tapi dia tidak berhasil.
Sekarang Psyche berdiri tegak tanpa penghalang apapun, matanya menatap Tsugaru lurus-lurus. Samar-samar, terdengar isakan pelan Ibu di belakangnya. Tapi dia tidak menoleh.
Pening yang melandanya seakan menguat berkali-kali lipat. Matanya melebar ketika dia melihat kakaknya yang begitu ia sayangi, duduk bersandar pada kepala ranjang. Pemuda berambut pirang itu terlihat sedikit lebih lemah, terutama karena air mukanya yang terlihat bingung. Juga tangan-tangan yang pucat. Dan haori biru langit yang tampak pucat dibawah penerangan lampu rumah sakit… yang seharusnya cocok dengan warna matanya.
Tapi…
Psyche tidak bisa melihat matanya.
Kepala Tsugaru dikelilingi perban di sekitar matanya.
Apa? Tsugaru kenapa? Matanya sakit? Bukankah saat kejadian itu Tsugaru selamat, tidak terkena cairan kimia setetes pun? Bukankah yang nyaris buta itu Psyche?
..yang nyaris buta itu Psyche.
"Psyche..?" bisik Tsugaru lembut.
Pernahkah kau merasa kenyataan yang ada di depanmu terlalu buruk, hingga jantungmu berpacu cepat secepat hatimu berusaha membohongi otakmu? Tiap detakan jantungmu susul-menyusul secepat kilat, beriringan dengan bisikan-bisikan hatimu yang berkata bahwa ini tidak nyata, ini tidak nyata. Kemudian, darah yang mengalir cepat berkumpul di kepalamu, dan tambah membuatnya terasa seperti akan pecah. Dan selagi dadamu berdenyut-denyut menyesakkan, sesuatu di dalam kepalamu pecah berhamburan, memanaskan kulit kepalamu, akar-akar rambutmu. Dan tiba-tiba saja, kakimu terlumpuhkan, dan kau mengangkat tanganmu ke kepala, mencengkeram rambutmu sendiri kuat-kuat.
Itulah yang Psyche rasakan.
Dia terduduk di lantai, menyadari penglihatan siapa yang telah dia renggut untuk penglihatannya sendiri.
Psyche menjerit.
_
Hai semuanya! maaf chapter ini begitu telat saya post. Ada beberapa kendala, seperti ujian akhir semester, tapi yang paling parah adalah provider internet saya mencekal situs ini.
Saya mencoba web proxy, tapi ternyata itu juga masih membawa bencana; misalnya sulit log-in, tidak bisa mengupload dokumen (akhirnya saya copy-paste), dan setelah itu pun dokumen tidak bisa diedit lagi. TT_TT
begitu juga nasib review-review yang telat saya reply.
Maaf ya.
Bagaimanapun, chapter ini adalah puncak penderitaan Psyche.
Review + Follow ya! Jangan lupa, ada tawaran untuk memberi prompt pada reviewer yang memberi feedback yang paling membangun.
