Love in antiquity…..

Rated: M and M-Preg

Pair: Rokudo Mukuro x Sawada Tsunayoshi 6927

Disclaimer : Amano Akira

Genre : Drama, Romance Angst and Hurt/comfort

Warning : BL, YAOI, MATURE CONTENT, ETC…. banyak banget Typo-nya…. Tolong maklumin ya, authornya ceroboh (amat sangat ceroboh) padahal udah author cek tapi masih ada juga. Hhaaa….

Read and Review please? v(^o^)v

Summary:

Kesucian sebagai seorang abdi dewa direnggut oleh seorang anak raja yang akan segera mewarisi kerajaan dari sang ayahanda. Pemuda yang tak tahu apa-apa, yang berhati bersih tiba-tiba dihadapkan pada pekatnya kegelapan.

#Eighth chapter

"Sudah saya katakan pada anda, bukan? Mengapa anda tidak juga memperhatikan apa yang saya katakan?" ia melirik sebentar kearah pemuda berambut coklat yang masih tetap memandang langit-langit kamar itu.

"…." Ia tetap menerawang jauh keatas sana.

"Haa~ tolong perhatikan kesehatan anda, jika anda masih menginginkan anak itu," ia bergegas merapikan perlengkapannya, memasukkan beberapa alat ke dalam kotak yang selalu ia bawa. Melangkah meninggalkan sosok itu sendiri.

"Seandainya, aku juga tak menginginkan bayi ini…. "ia menutup matanya dengan kedua tangannya. Menenggelamkan manik coklat yang indah itu.

'Seandainya aku bisa, aku ingin sekali diberikan kesempatan melihat orang-orang yang kurindukan… walau hanya sekali….' Ia membatin penuh emosi.

::6927::

"A—apa yang kau katakan Reborn? Juu—judaime menghilang? Ini sudah 3 bulan sejak ia menghilang? JANGAN BERCANDA!" ia meneriaki bayi yang masih dengan tenang duduk diatas bantalan itu, memutar-mutar cangkir teh yang ia pegang, menghirup aroma teh itu dalam, kemudian meminumnya, tanpa sedikitpun melirik bagaimana ekspresi yang tengah terlukiskan di wajah sosok pria bersurai silver itu.

"Ciaossu, Gokudera," hanya itu yang ia keluarkan ketikan meletakkan cangkir tehnya diatas meja.

"REBORN!" teriaknya tak terima tanggapan dari sang kepala kuil tempat dimana orang yang sangat ia kagumi mengabdi.

"Kenapa?! Kenapa kau tak mencarinya, hah?! Bukankah kau kepala kuil disini, tidakkah kau khawatir padanya?! JAWAB AKU REBORN!" ia mengeratkan genggaman tangannya, mungkin karena terlalu eratnya hingga melukai sedikit telapak tangannya akibat kuku-kukunya yang menancap disana.

"Gokudera-kun?" kyoko hanya bisa berdiri memandang sosok bersurai silver itu. Ia juga sudah sangat khawatir akan keadaan dari sahabatnya yang sampai saat ini belum terdengar kabar sama sekali. Namun, entah mengapa ia tahu, kata-kata yang diucapkan Reborn padanya beberapa bulan lalu adalah benar, ia hanya bisa menunggu karena ini semua adalah takdir sahabatnya yang ia sendiripun tak bisa ikut campur didalamnya. Mengenaskan memang karena ia hanya bisa berdiam diri tanpa melakukan apapun. Tapi ia pun terus berdoa demi keselamatan sahabatnya tersebut.

"Bukankah kau sudah mendengar semua dari Kyoko? Jadi kurasa aku tak lagi perlu memberitahukan apa pun lagi padamu," ia kembali menyesap tehnya, kini hingga tanpa tersisa setetespun.

"…. Khh!" ia menatap kesal kearah sosok bayi itu.

"Baik, jika kau tak bisa, maka aku yang akan melakukannya," ia pun melangkah meninggalkan sosok bayi itu, yang tanpa ia sadari tengah tersenyum penuh makna. Entah apa yang dipikirkan oleh sang bayi saat ini tak ada siapapun yang tahu, dan apapun itu semoga saja hal yang baik segera terjadi!

::6927::

"Benarkah? Benarkah Niisan harus menikah?" ia mengedipkan matanya berkali-kali merasa bahwa percakapan yang tengah mereka bicarakan saat ini merupakan hal yang aneh. Ya aneh! Bagi dua orang berkepala nanas itu.

"Oya~ oya~ gossip rupanya cepat menyebar ya?" ia menggedikkan bahunya menanggapi ujaran sang adik didepannya.

"Tapi, bagaimana dengan 'mainan' yang kau punya saat ini Niisan?" ia mengambil beberapa rangakaian buah anggur dari dalam mangkuk besar berisi aneka buah-buahan itu. Menggigitnya dengan sensual, membuat sang pemuda berambut biru keunguan itu menatap dengan pandangan yang sulit diartikan ke arah sang adik.

"Tidak ada hubungannya dengan, Tsunayoshi," ia beranjak mengambil beberapa buku dari rak-rak yang berjejer rapi didepannya.

"Hmm.." jawabnya ringan, ia mendekati jendela melihat keluar sana. Memandangi areal luas yang merupakan bagian halaman dari Istanan tempat ia tinggal.

"Lalu, apa yang akan Niisan lakukan padanya?" kembali ia alihkan pandangannya menatap sang kakak yang terlihat asik dengan buku ditangannya.

"Entahlah, mungkin aku akan membuangnya? Atau menjualnya?" ia mengatakannya dengan santai tanpa beban sedikitpun.

"Jangan terlalu kejam Niisan," ia hanya menggelengkan kepala begitu mendengar jawaban dari kakaknya itu yang tentu saja sudah bisa ia duga sebelumnya.

"Oya~oya~ rupanya kau perhatian juga pada 'mainanku' itu ya, Chrome?" ditutupnya buku yang ia pegang. Diletakkannya lagi di celah buku tepat didepannya. Iapun mengambil minuman yang tersaji di mejanya itu. Menegaknya pelan, kemudian menatap adiknya.

"Bukan begitu, hanya saja apa Niisan tak kasian padanya?" ia masih memandang keluar sana, entah mengapa kadang pandangan matanya itu terasa sedikit kosong.

"Khu khu khu… bukankah kau sudah mengenal bagaimana diriku? Kau ingat kata itu tak akan pernah ada dalam hidupku, Chrome," ia mendekat kearah sang adik, ingin melihat apa yang menyibukkan pandangan adikknya tersebut.

"Haa~ terserah Niisan saja," ia mendengus mendengar hal yang beberapa kali memang pernah ia dengar dari kakanya itu.

"Baguslah kalau kau mengerti, Imouto-ku yang manis," ia mendekatkan kepala sang adik kedada bidangnya, memberikan sedikit elusan sayang di kepala bersurai sama dengannya itu.

'Dan juga Chrome-ku yang kucintai…' batinnya tanpa ada seorang pun yang tahu.

::6927::

"Membuangku? Atau menjualku?"

"Membuang? Aku?"

"Mem—buangku?"

"Hiks… hiks.. hiks…"

Entah mengapa air mata ini mengalir begitu saja. Yang aku herankan apa alasannya untukku menangis? Untuk apa aku menangis?

Hanya karena aku mendengarnya mengatakan hal itu? Tapi mengapa? Bukankah seharusnya itu bagus? Bagus untukku karena tak perlu lagi berada di tempat ini. Tapi, tapi? Mengapa? Ada rasa yang menusuk-nusuk didada ini, membuatku sesak. Apa yang terjadi padaku?

Aku melangkah terus menelusuri lorong yang bagiku terlihat sangat panjang saat ini.

Awalnya aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar, mencari udara segar untukku dan juga untuk bayi ini. Hal ini sudah biasa kulakukan semenjak 2 minggu yang lalu, dan iapun tak lagi memerangkap diriku di kamar itu, justru ia yang mengijinkan aku untuk sesekali berjalan-jalan di luar kamar, tapi tetap dengan penjagaan yang ketat. Dan semenjak itulah pertama kalinya ia bersikap sebagai seorang manusia menurutku.

Rute yang sama yang selalu kutelusuri jika berjalan-jalan di sekitar sini. Lorong sepi namun masih dengan penjagaan ketat dimana-mana. Dan ketika aku melangkahkan kakiku untuk melewati satu lorong dimana lorong itu adalah lorong menuju ke sebuah perpustakaan. Sayup sayup aku mendengar suaranya dan suara seorang gadis, yang kuyakin itu adalah suara adiknya—sepengetahuan yang disampaikan oleh Haru padaku.

Karena penasaran akupun menguping sedikit pembicaraan mereka. Dan tanpa kusadari apa yang kudengar membuatku membeku sejenak didepan pintu itu. Menatapnya nanar,seolah aku baru saja melihat sesosok mahkluk yang sangat mengerikan. Tak mau berlama-lama disitu yang berujung sebuah tuduhan mendengar pembicaraan orang tanpa izin, akupun bergegas menjauh dari sana. Melangkah kembali menuju kamarku—yang kurasa lebih baik berdiam disana.

Sesampainya disana, kubukan pintu itu cepat dan kututup dengan cepat pula. Aku mulai mengatur nafasku pelan-pelan, keringatku mengucur—entah karena aku sedikit berlari kecil atau karena perasaan yang aneh ini, kucari sebuah obat yang kusembunyikan dari orang lain, yang kudapat dari tabib itu, yang berguna untuk menenangkan emosiku.

Ketelan bulat-bulat kapsul-kapsul berwarna merah itu. Kutunggu sampai efek obat itu bekerja, dan setelah beberpa menit efeknya pun terasa, sedikit demi sedikit keringat dingin dan juga perasaanku sedikit lebih tenang dari pada sebelumnya.

"Iapun tak menginginkannya…" ujarku tanpa sadar, akupun jatuh terduduk didekat ranjang itu, mataku terasa sangat berat, mensugestikan diriku untuk segera menutupnya. Kali ini aku berteima kasih pada obat yang diberikan oleh tabib itu.

::6927::

"Ada apa ini?!" ujarnya bergegas menuju keramaian di aula Istana Dalam. Rupanya terjadi kekacauan yang cukup parah menyerang Istananya. Ia yang sedang menikmati acara bersantainya merasa sangat terganggu. Iapun keluar dari ruangannya menuju kea rah kekacauan terjadi.

"Pasukan Vongola Famiglia menyerang, Mukuro-sama!" seru seorang prajurit terengah-engah menyampaikan berita penyebab kekacauan itu.

"Bagaimana bisa?! Cih! Kuso!" ia mengumpat kasar. Diambilnya tridentnya yang tersimpan rapi diruang penyimpanan senjata. Senjata yang hanya ia gunakan disaat keadaan darurat seperti saat ini.

'Sialan! Bagaimana bisa? Bukankah mereka sudah memastikan bahwa kerajaan itu sudah musnah? Musnah oleh perang dengan Millefiore? Tapi? Chikuso!' batinnya.

"Siapkan senjata kalian! Jangan sampai mereka masuk!" ujar Ken sang bawahan terpercaya dari Mukuro.

"Mukuro-san?" ujar sosok dengan topi putih dan berkacamata itu ketika melihat kedatangan Mukuro.

"Chikusa, jaga jangan sampai Tsunayoshi kabur!" ujar Mukuro memberi perintah pada pemuda bernama Chikusa tersebut.

"Baik," ujarnya kemudian berlari meninggalkan tempat itu. Berlari menuju sebuah ruangan yang terletak jauh dan cukup terpencil di Istana itu.

'Yare~yare bisa-bisanya aku memikirkan pemuda itu, che!' suara hatinya, yang entah mengapa orang yang pertama kali melintas dikepalanya adalah sosok pemuda manis bersurai coklat itu.

"Apa yang kau lakukan Niisan? Ayo kita serang mereka!" seru Chrome dengan penuh semangat sambil memegang tridentnya.

"Khu Fu fu fu, rupanya kau tak sabar Nagi?" ia berlari mendekati sang adik.

"Che! Jangan menggunakan panggilan itu saat ini Niisan!" ujarnya bersemu merah, yang semakin menampakkan wajah manisnya.

"Oya~ oya~ baiklah. Kalau begitu ayo serang!" seru mereka bersamaan, berlari dengan senjata masing-masing kearah pasukan yang terbilang cukup sedikit itu.

Dan tanpa ia tahu, bukan itu yang lawan mereka cari sebenarnya namun, sosok seorang pemuda yang kini masih terdiam diruangannya…..

::6927::

"Siapa?" ujarku ketika melihat sosok yang baru pertama kali kulihat. Sosok yang hampir mirip denganku hanya saja, sosok itu bersurai pirang dan lebih tinggi dariku.

"Giotto," ia mendekat kearahku. Namun aku tak menghindarinya, entah mengapa aku sedikit familiar dengan sosok didepanku saat ini.

"Apa aku mengenalmu?" akupun bersuara ditengah hening yang terasa aneh bagiku.

"Kemarilah, Tsunayoshi," ujarnya sambil mengulurkan tangannya padaku. Aku hanya memandangnya heran. Saat ini dibenakku penuh dengan pertanyaan aneh. Siapa orang ini? Apa aku mengenalnya? Mengapa ia tahu namaku? Apa hubunganku dengannya? Mengapa aku merasa sangat familiar dengan sosoknya? Tapi satupun tak ada yang terjawab.

"…." Kupandangi terus sosok didepanku saat ini. Jubah hitam yang ia kenakan berkibar-kibar tertiup angin.

"Aku akan menjawab semua pertanyaanmu, tapi tidak disini," ia berujar sepertinya ia tahu bahwa aku tengah bingung.

"Aku mau dibawa kemana?" akhirnya pertanyaan termudah yang dapat kuucapkan saat ini. Ia hanya memandangku dengan senyum. Senyumanya itu membuatku sedikit merasa hangat.

"Aku akan mengeluarkanmu dari tempat ini," ujarnya yang membuatku membelalakkan mata. Pikiran buruk tentang bagaimana nasib tragis yang akan didapat sosok didepanku, jika ia tahu ada orang lain yang berusaha mengeluarkanku dari Istana ini. Tidak! Aku tak ingin ada korban lagi, sudah cukup Haru-san saja yang menjadi korbannya.

"Tenanglah, tak akan terjadi apapun padaku, Tsunayoshi, percayalah," ujarnya dengan senyum yang sangat meyakinkan untukku.

"…." Aku hanya terdiam, yang menjadi pertanyaanku saat ini sanggupkah aku pergi dari sini? Bukankah ini kesempatanku? Tapi, mengapa sebagian kecil dari diriku ingin tetap disini? Sebenarnya ada apa denganku? Mungkihkah ini akibat obat-obatan yang aku konsumsi?

"Saa, Tsunayoshi?" ia masih mengulurkan tangannya itu padaku. Perlahan kuulurkan tanganku menggapai tangannya, walaupun masih ragu, tapi kuyakinkan ini adalah kesempatan terakhirku.

"Bisakah kau melindungiku?" entah pertanyaan dari mana itu tapi yang pasti pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibirku.

"Pasti, Tsunayoshi," ia tersenyum menanggapi pertanyaanku. Perasaanku sedikit lega ketika mendengarnya.

Sedikit lagi tangan kami bertemu, tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku…

BRAKKK

Pintu itu terbuka dengan kasar menampakkan sosok yang beberapa kali ini kulihat, sosok bertopi dan berkacamata itu, ya! Anak buah Mukuro! Akupun langsung bergidik ngeri, membayangkan nasib sosok didepanku.

"Pejamkan matamu sebentar, Tsunayoshi," ujarnya masih tenang. Aku menatap ia sebentar dengan heran sebelum aku menutup kedua mataku.

Dan beberpa detik kemudian yang terdengar hanya sebuah ledakan besar….

::6927::

DDUAAARRRR….

"Apa itu?" seru mereka bersamaan.

"Dari arah Chikusa terakhir menghilang!" ujar Ken menunjuk arah dimana pemuda yang bernama chikusa itu berlari tadi.

"Kuso! Tsunayoshi!" Mukuropun berlari secepat kilat menuju kearah sana, tak ia perdulikan teriakan-teriakan dari adiknya maupun anak buahnya. Ia merasa hanya harus segera menuju keruangan dimana sosok pemuda manis bersurai coklat itu ia sembunyikan.

"APA-APAAN INI?!" serunya setelah melihat sebuah lubang besar terbentuk didinding tepat di depan kamar yang tengah ia tuju, dengan sesosok tubuh yang mendapat banyak luka disana-sini.

"Mu—ku—ro—sama…" ujar sosok berkacamata itu, sambil menunjuk kearah dua orang yang berada didekat jendela.

Secara otomatis iapun mengalihkan pandangannya kearah yang ditunjukkan oleh anak buahnya itu. Betapa terkejutnya ia melihat sosok pemuda bersurai coklat itu dirangkul dengan erat oleh pemuda pirang disebelahnya. Tiba-tiba emosinya memuncak melihat pemandangan didepan sana.

"SAWADA TSUNAYOSHI!" teriaknya lantang. Yang tentu saja membuat sosok yang tengah dirangkul oleh sosok bersurai pirang disebelahnya itu mengengokkan kepala kebelakang dengan takut-takut.

"Mu—mukuro…" ujarnya pelan—sangat pelan, tubuhnya bergetar, ia seperti merasakan aura kemarahan saat ia pertama kali ia mencoba melarikan diri, namun kali ini lebih pekat. Ia hanya mengeratkan cengkraman tangannya di kedua jubah sosok bersurai pirang disampingnya.

"Kembali kemari!" perintahnya.

'Tidak!' batin pemuda bersurai coklat itu antara takut dan benci.

'Entahlah, mungkin aku akan membuangnya? Atau menjualnya?' ingatan akan kejadian tadi siang kembali terngiang dikepalanya, kembali ia rasakan rasa aneh yang sempat menyerang dadanya tadi siang. Sesak!

Tsunayoshi POV

"Tsunayoshi! Cepat kemari!" serunya lagi memanggilku.

"Tidak…" ujarku masih pelan, semakin kueratkan genggaman tanganku di jubah sosok yang tengah merangkulku.

"Tidak."

"Tidak, tidak, tidak, TIDAK!" teriakku kencang diiringi dengan tangisan yang tak kusadari keluar begitu saja.

"Kurang ajar!" umpatnya, kemudian diangkatnya trident itu tinggi-tinggi, hendak diayunkannya trident itu pada kami.

"Ayo Tsunayoshi," ujar sosok disampingku dengan suara yang masih tenang Nampak tak terganggub dengan umpatan dan teriakan Mukuro pada kami.

"Un," kuanggukkan kepalaku, kuhilangkan jauh-jauh sebagian perasaan yang menyuruhku tetap tinggal disini. Kubalikkan badanku menatap lurus kedepan, kueratkan pegangan tanganku dikedua leher pemuda yang bernama Giotto itu. Ia menggendongku ala tuan putri, membuatku sedit malu.

"Lepaskan dia brengsek!" seru Mukuro, dengan cepat trident itu melayang kearah kami. Tapi untungnya tidak mengenai kami sesenti pun. Dan terjadilah benturan keras antara trident itu dengan tembok didepan kami.

DUAKKK
BOMMM
DUARRR…

"Hentikan! Apapun yang kau lakukan aku tidak akan kembali padamu, brengsek!" seruku yang sudah ingin cepat keluar dari sini.

"Sudah cukup! Percuma saja! Untuk apa juga kau mempertahankan aku hah?! Aku hanya mainanmu bukan? Aku hanya alat pemuas nafsumu! Aku, aku sudah tahu semuanya! Sudah cukup! Aku tak ingin lagi hidup menjadi mainanmu! Aku juga manusia, sama sepertimu! Aku punya hati! Punya perasaan!" jeritku dengan semua kesakitan yang kupendam selama berbulan-bulan ini.

"Beraninya kau padaku Tsunayoshi?!" ujarnya memandangiku dengan sengit.

"Kenapa?! Apa aku salah? Sudahlah, semua sudah berakhir, aku dan an—" Kupegangi perutku yang terasa sedikit sakit, mungkin aku terlalu terbawa emosi, yang menyebabkan ia tak tenang didalam sini. Tak kulanjutkan lagi ucapanku itu, kualihkan perhatianku pada sosok pemuda pirang yang tengah menggendongku.

"Giotto-san, bisakah kita pergi sekarang? Aku lelah," ujarku pelan padanya. Benar tubuhku terasa lemas, keringatkupun bercucuran menyatu dengan bulir-bulir bening ynag terjatuh dari pinggiran mataku.

"Tentu, pejamkanlah matamu Tsunayoshi," ujarnya dengan lembut padaku.

"Terima kasih,"ujarku setelahnya kupejamkan mataku. Dan sama seperti saat anak buahnya itu datang, yang terakhir kali kudengar adalah suara ledakan yang lebih keras dari sebelumnya dan suara gemerincing besi beradu dengan lantai.

'Aku dan anak ini sudah lelah Mukuro, sayounara…' batinku yang melanjutkan ucapan itu. Aku menangis dalam diam.

Sebelum akhirnya aku benar-benar terlepas dari sarang itu.

Dan suara darinya yang terakhir kudengar, yang selalu memanggil namaku, menyebutnya disetiap ia menyentuhku. Kali ini ia memanggilku dengan nada yang terasa aneh. Memanggil namaku dengan lantang, namun terasa menyedihkan. Benarkah? Atau hanya halusinasiku? Entahlah…

Yanh pasti kini semua sudah berakhir….

Benarkan sayang?

End of Tsunayoshi POV

::6927::

"TSUNAYOSHI!" teriakan terakhirku memanggil namanya dengan lantang. Walaupun begitu tetap saja, aku tak bisa menggapainya lagi. Kali ini ia benar-benar bisa pergi jauh.

Ia menghilang. Benar-benar menghilang dari jangkauanku. Tak ada lagi sosok nyata dirinya yang selalu kutemukan duduk disudut kamar ini. Tak ada lagi jerit tangisnya. Tak ada lagi kata-kata 'Brengsek' darinya untukku. Tak ada lagi aroma khas tubuhnya. Tak ada lagi yang bisa kurangkul sehangat tubuhnya. Salahku kah? Entahlah.

Bukankah ia hanya mainanku? Tapi mengapa saat ia tak ada, ada rasa yang aku tak tahu bersarang 'disini?'. Sesak dan nyeri.

"Apa ini?" kupandangi cairan bening yang kini berada ditanganku..

Kulihat ruangan yang kini telah berantakan, sama seperti terakhir kali ditinggalkan olehnya.

Kududukkan tubuhku di tempat dimana ia selalu duduk menyamankan posisi tubuhnya. Entah mengapa masih terasa hangat saat aku mendudukinya. Namun tak sehangat setengah tahun yang lalu. Dimana ia masih berada disini. Ia yang kukurung dalam sangkar milikku. Menyembunyikannya dengan sangat aman.

Potongan kalimat terakhirnya sebelum ia memilih pergi bersama orang itu membuatku sangat penasaran..

"… aku dan an—" apa maksud dari penggalan katanya itu? Sampai sekarangpun aku tak tahu.

Sawada Tsunayoshi…...

END OF 6927

Gomennasai… hontou ni gomennasai minna…

Jangan tenggelamkan ku ya.. hiks hiks…

Fic ini belum selesai kok…

Itu Cuma buat mengakhiri cerita yang lebih di dominasi sama 6927…

Soalnya chap depan dan seterusnya itu bakalan bahas ~~27…

(Ayoo tebak mau dibahas pair yang mana yak? khufufufufu)

Tapi nanti masih ada kok pairing 6927 nya.. tapi mungkin itu bakalan sedikit lama…

Hehhe

Pusing? Bingung?

Yah ku juga kaya gitu, nyehehehe…. :3

Oke saatnya bahas review:

Seiya aya: ya sih kasian… (sambil gigit-gigit bajunya Mukuro :3), oh kalo itu nanti bakalan dibahas kok lebih rinci, di chap flashback masalalunya Tsuna.. eits tapi itu nati hohohoho.. haa… ga mungkin mana mau coba mukuro kaya gitu, yang ada mah Mukuro itu pasti jadinya mesum, apalagi liat uke kayak Tsuna gitu.. xexxexe.. o ya makasi udah review ya… ^^

Fajrikyoya: hehehe ini udah update… makasi ya sudah meninggalkan jejaknya disini, makasi juga semangatnya hehhe ^^

Himeko laura dervish cielo: khu fu fu fu fu wah.. mangap nih… mengecewakan himeko-san /_ \, soalnya kemarin-kemarin ga bisa bales review readers semua jadi ya pada kesempatan itu ku bisa bales.. sekali lagi maaf ya.. dan taaraaa… ini udah update kok. Dan kali ini lebih panjang. Makasi juga udah reviewya Hehhe

Guest: hehehe ini udah update kok… wah kalo itu ku juga kurang tahu.. hehhehee… ditunggu aja ya… makasih udah menyempatkan mereview… he ^^

Yoshhh….

Sekian dulu minna…

Jaa, nee…