CHAPTER 9
KISE? HE'S COMING BACK?
Terdengar bunyi suara alarm. Waktu menunjukan pukul 5.35 AM. Semuanya masih tertidur pulas, kecuali salah satu orang sudah terbangun. Keiji-senpai. Kemudian mematikan alarm tersebut. Lalu, ia membuka kopernya dan mengambil peralatan mandi. Ia berjalan menuju pintu pondok. Udaranya masih terasa sangat dingin. Namun, ia terkejut melihat tubuh seseorang terbaring di lantai teras. "Oh. Rupanya kau sudah kembali." kata Keiji yang kemudian menutupi pemuda berambut kuning tersebut dengan handuknya. Lalu menggendongnya itu ke dalam pondok.
Beberapa jam kemudian, pemuda itu membuka matanya , "Eeee… Kenapa kalian memandangku seperti itu-ssu?" tanyanya memandang heran. "Ki-Ki.. Kiseeee!" semuanya memeluk Kise dengan erat dan menangis. "Eh, eh. A-apa yang terjadi-ssu? Kenapa kalian memelukku seperti ini?" tanyanya lagi. "Karena..karena.. Kau hidup! Kau masih hidup. Huuuu…" lanjut mereka bersamaan sambil menangis lagi. Kise hanya bisa mengerutkan kening dan terdiam. Sementara itu, Keiji hanya memandangnya dengan senyum. Kemudian mereka keluar untuk melihat suasana pagi yang cerah. "Kyaaa.. Segar sekali udaranya! Ya kan, Dai-chan?" kata Momoi menghirup udara segar. Aomine hanya mengangguk-angguk saja. "Yosh! Waktunya bermain!" seru Kagami sambil berlari. Semua berseru, berteriak riang, dan berlari keluar. Keiji hanya berjalan pelan dibelakangnya, "Hei Kise, ayo keluar. Saatnya bersenang-senang!" ajak Keiji berpaling pada Kise yang sedang bangkit dari tempat tidurnya. "Ya-ssu!" serunya dengan suara cemprengnya dan berjalan keluar. Di luar terlihat ramai sekali, walaupun jumlahnya tidak terlalu banyak. Seperti biasa, Kagami dan Himuro selalu memasak. Rasanya seperti tanding saat bermain di Winter Cup dulu. "Hai Kise! Aku akan membuatkan menu spesial buat kamu." kata Kagami sambil memasak daging panggang. "Be-benarkah? Terima kasih-ssu!" balas Kise riang. "Kise-chin, kau mau ini?" tawar Murasakibara sambil menyerahkan snack Maioubu-nya. Kise berpandang bingung karena biasanya Murasakibara pelit dalam hal makanan. "Ya! Eh, benarkah?" tanya Kise belum yakin. Murasakibara tersenyum mengangguk. "Te-terima kasih-ssu!" Kise memeluk erat Murasakibara. Semuanya menyambut Kise dengan senang. "Psstt.. Keiji-senpai. Kenapa mereka memuji-mujiku? Apa karena aku terkenal-ssu?" bisik Kise. Keiji hanya mengangkat bahu, "Aku tidak tahu. Mungkin karena kau telah kembali,". "Kembali? Maksudmu kembali apa-ssu?" tanya Kise.
"Sebaiknya kita bicarakan di dalam hutan," lanjut Keiji sambil menarik tangan Kise. "Oi Kise kau mau kemana?" tanya Aomine yang sedang asyik main air bersama Momoi. "Aku, mau ke hutan dulu sebentar-ssu." seru Kise. "Baiklah. Hati-hati, jangan sampai.. Aaaa!" Aomine berteriak ketika Momoi asyik mencipratkan air ke arahnya, sampai Momoi tertawa. "Oi, Satsuki. Rasakan ini!" balas Aomine. Sebenarnya kakinya masih sakit, cuma semangat bermainnya tak diabaikan. Sementara itu, Kise dan Keiji terus berjalan ke hutan. "Cukup. Kita bicara disini saja," ujar Keiji yang tiba-tiba berhenti. "Jadi?" , "Hah.. Apa kau masih ingat kejadian kemarin?" tanya Keiji mendesah. Kise mengangkat bahu, "Tidak tahu,". Keiji melanjutkan, "Baiklah. Apa kau merasakan hal-hal yang aneh kemarin malam?". "Tidak, tapi.." Kise tiba-tiba teringat sesuatu. "Li-lidahku! Lidahku.. Lidahku normal. Normal-ssu!" seru Kise sambil menjulurkan lidahnya. Kise juga membalikan tubuhnya, "Ekor? Tidak ada ekor! Ekor juga sudah hilang-ssu!" teriak Kise senang sekali. "Baiklah. Jadi sekarang apa yang mau kau katakan?" tanyanya. "Kau tahu. Apa kau sadar kalau kau menjadi anjing dan menyerang orang-orang?" Keiji menyilangkan tangannya. "Menyerang? Maksudmu menyerang apa?" tanya Kise kebingungan. "Kau lihat tangannya Murasakibara?" tanya Keiji dan Kise hanya mengangguk. "Itu kau yang menyerangnya tadi malam.". Kise tercekat, "A-apa katamu? Maksudmu, aku menggigit Murasakibara?". "Iya. Dan kau juga menyerang Aomine dan Midorima," , "Tu-tunggu dulu! Ti-tidak.. Tidak mungkin, ta-tapi.. Waktu…itu.." nadanya penuh ketakutan. "Jadi sebenarnya?" Keiji memegang pundak Kise. "Jadi, sebenarnya… A-aku.. Oh tidak. Aku.. Berubah menjadi anjing rabies?!" panik Kise. "Ya." kata Keiji dengan suara berat.
"A-aa-aaaa! A-aku harus ba-bagaimana-ssu?! Aku tidak mau menjadi pembunuh! Aaa.." teriakan Kise terdekap oleh Keiji. "Bisakah kau tidak berteriak begitu saja? Nanti kalau terdengar oleh yang lain bagaimana? Biasakan untuk tidak panik langsung. Mengerti?" kata Keiji kesal. Kise mengangguk-angguk kencang. Jantungnya berdegup-degup. "Jadi.. Nanti aku harus bagaimana-ssu?" rengek Kise. "Sepertinya, kau berkeliaran di hutan selama malam hari. Lalu kau kembali lagi pagi hari," kata Keiji melanjutkan. 'Berkeliaran? Di hutan malam-malam? Itu kan seram-ssu. Apalagi saat sendirian.' Kise bergidik ngeri dalam hati. "Tapi, kalau aku tersesat gimana-ssu?" , "Tersesat? Kemungkinan tidak, karena inderamu sangat tajam jadi kau dapat kembali ke pondok." lanjut Keiji. Kise hanya bisa menatap diam. "Sudahlah. Lebih baik kita kembali ke pondok saja. Sudah pukul 7.20 AM." Keiji berjalan mendahului Kise. Lalu, Kise menyusulnya.
Selama berjam-jam, dari pagi hingga sore, Kise hanya terdiam. Dia tidak berbicara satu kata pun. 'Aku pembunuh. Aku akan menjadi seekor anjing pembunuh.' batinnya dalam hati. Kise tersentak kaget ketika sesorang memanggilnya. "Kise, maaf mengagetkanmu. Daripada melamun terus, bagaimana kalau pergi memancing?" tanya Aomine sambil membawa tongkat pancingnya. "Ya.. Boleh-ssu. Kita bersama siapa saja ke sana?" Kise berdiri dari kursinya. "Aku, Satsuki, Kagami, dan Keiji." , "Baiklah. Aku ikut-ssu.". Kise dan keempat temannya berangkat menuju ke danau. Jaraknya tidak terlalu jauh kurang lebih 200 meter dari pondok. Setelah menelusuri jalan setapak, mereka sampai di danau. Walaupun ukurannya kecil namun pemandangan di sekitarnya terlihat indah. "Yap! Kita sudah sampai. Saatnya memancing!" seru Aomine sambil berlari ke danau. "Eh, Dai-chan! Tunggu aku!" teriak Momoi menyusul Aomine. Yang lain berjalan menyusulnya. "Kau tahu. Dia sangat suka hal-hal yang berbau 'air'." bisik Kise pada Keiji. "Ya aku tahu itu." Keiji tertawa kecil. Kemudian mereka bermain di sekitar danau. Selama asyik bermain di danau mereka sampai lupa waktu. Terlihat langit mulai gelap.
