The Difficult Triplets

By : Yuuki Azusa

Kuroko no Basuke Fanfiction

Desclaimer : KnB milik Fujimaki Tadatoshi-san

Rated : T

Genre : Romance, Humor

Pair : NijiAka, MayuAka, AkaKuro

Warning : AU, OOC, genderbend, typo(s), No Yaoi, bahasa non baku.

Summary : Si kembar tiga Akashi sangatlah merepotkan. Setidaknya itulah yang dipikirkan Nijimura, Mayuzumi, dan Kuroko.

Ditulis hanya untuk hiburan.

*Happy Reading!*

hint AkaKise in this chapter.

ooo

Story 9 : Akhir Dari Rencana

"Jadi, ada apa tiba-tiba memanggilku kesini?" tanya Ogiwara. Mayuzumi menyuruh Shira mendekat.

"Sebenarnya yang ingin bertemu denganmu bukanlah aku, melainkan gadis ini."

Ogiwara menatap Shira. Ia menyelidiki seluruh penampilan Shira dari ujung kaki hingga ujung kepala.

"Halo, Ogiwara Shigehiro-san. Aku Akashi Seishira, salam kenal." Shira memperkenalkan diri sambil tersenyum tipis.

"Akashi?" Ogiwara mengernyit. Rasanya ia pernah dengar nama itu. Tapi, dimana ya?

Ah, seketika dirinya teringat dengan sosok cowok berambut merah yang waktu itu ditemuinya di toko buku sedang bersama Tetsuna.

"Are? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Sebenarnya, Ogiwara hanya ingin memastikan apa gadis bersurai merah di hadapannya ini adalah orang yang sama dengan cowok yang ditemuinya waktu itu—Ogiwara berpikir kalau Sei sedang crossdress—atau mungkin gadis itu memang orang yang berbeda.

Shira menaikan sebelah alisnya tidak mengerti. "Belum. Ini adalah pertemuan pertamaku denganmu. Mungkin yang kamu maksud tadi adalah Akashi Seijuurou," jawab Shira.

"Ah, benar! Aku baru ingat namanya," seru Ogiwara. "Kalian berdua terlihat mirip sekali. Apa kalian punya hubungan?"

"Ya, aku adik kembarnya," jawab Shira. Entah kenapa, Ogiwara menatapnya kagum.

"He~ Kembar pengantin ya~" gumam Ogiwara. Sekali lagi, Ogiwara menyelidik seluruh penampilan Shira. Shira benar-benar memiliki paras yang sangat identik dengan Sei. Hanya beda pada kedua matanya yang emas, sedangkan Sei punya mata hetero yang mirip kucing. Menurut Ogiwara, Shira juga cantik, walau wajahnya tampak tidak ramah.

Shira mulai merasa risih ditatap lama-lama oleh Ogiwara. Mayuzumi sendiri juga merasa sedikit tidak suka melihat kouhai kesayangannya ditatap seakan ingin diterkam begitu oleh Ogiwara. Mayuzumi berdehem pelan, berusaha mencairkan suasana.

"Oi, Shira. Bisakah kita selesaikan semua ini dengan cepat? Masih banyak urusan yang harus kuselesaikan," ujar Mayuzumi, bermaksud meminta Shira untuk cepat-cepat bicara dengan Ogiwara supaya Ogiwara tidak terus-terusan menatap Shira.

"Ah, iya. Kau benar. Jadi Ogiwara-san, ada yang ingin kutanyakan padamu," ujar Shira serius.

Ogiwara tersenyum jahil. "Hm, apa yang ingin ditanyakan gadis cantik sepertimu ini padaku?"

Shira menatap Ogiwara tajam. Ia tak suka digoda seperti itu. Buru-buru Ogiwara meminta maaf, takut membuat Shira mengamuk.

"Aku ingin tau seberapa jauh hubunganmu dengan Tetsuna."

Ogiwara sedikit tersentak saat mendengar ucapan Shira. Sedikit risih juga mengingat orang yang baru dikenalnya menanyakan sebuah pertanyaan yang cukup privasi.

"Kenapa bertanya begitu?" tanya Ogiwara.

"Aku hanya ingin tau saja," jawab Shira santai.

Ogiwara menghela napas. "Kamu bisa tanyakan semuanya pada Mayu nii-chan, kan? Dia kakak sepupunya Kuroko-chan. Dia tau banyak tentang kami."

Shira sedikit cemberut. 'Dia tidak mau memberitahukannya ya.'

"Untuk apa bertanya padaku jika objek permasalahannya sudah ada di depan mata? Sudahlah, jawab saja pertanyaannya atau kau mau membayar semua makananmu sendiri?" ancam Mayuzumi.

Ogiwara nyengir lebar. "Jangan gitu dong, Mayu nii-chan. Kau kan sudah janji mentraktirku," ujarnya. Mata coklatnya lalu kembali menghadap Shira.

"Apa ini ada hubungannya dengan kakak kembarmu? Apa terjadi sesuatu dengannya setelah kencannya kemarin dengan Kuroko-chan?" tanya Ogiwara.

"Ya. Dia ngambek karena kencannya diganggu olehmu," ujar Shira tajam. Ogiwara langsung tertawa puas.

"Hahaha… Ternyata dia mudah sekali terpancing ya," ujarnya tanpa dosa.

Mayuzumi menatapnya curiga. "Oi, jangan-jangan kau sengaja ya?"

Masih dengan tampang watados, Ogiwara kembali menjawab. "Aku hanya main-main kok."

Hampir saja Shira melemparnya dengan segelas cola yang sedang diminum Ogiwara. Untung Mayuzumi buru-buru menghentikannya.

"Kenapa kau melakukannya? Apa kau tau, karena perbuatanmu ini semua orang jadi repot? Seijuurou itu orang paling merepotkan sedunia ketika dia sedang marah," omel Shira.

"Jangan marah-marah begitu dong. Aku melakukannya juga bukan tanpa alasan," ujar Ogiwara. Ia mulai menceritakan semua alasannya mengganggu kencan Sei dan Tetsuna.

"Sebenarnya, aku sudah lama mengetahui kalau kakakmu itu suka pada Kuroko-chan. Akhir-akhir ini aku sering stalk ig-nya Kuroko-chan dan aku nemuin banyak foto Kuroko-chan sama cowok itu. Kuroko-chan kan jarang tersenyum walaupun sedang foto. Tapi, setiap kali dia foto didekat cowok itu, dia pasti tersenyum walau tipis. Aku jadi tau kalau Kuroko-chan juga pasti punya perasaan yang sama pada cowok itu."

Ogiwara menjelaskan semuanya tanpa ada kebohongan sedikitpun. Hampir saja dirinya didampart Mayuzumi karena ketahuan men-stalk ig adik sepupu kesayangannya.

"Kemarin kebetulan sekali aku bertemu dengan mereka. Saat pertama kali melihat kakakmu, aku langsung sadar bahwa aku tak ada apa-apanya dibandingkan kakakmu. Kakakmu itu ganteng, penampilannya juga keren, dan juga kelihatan bermartabat sekali. Barang-barangnya juga bagus, jadi aku yakin dia pasti anak orang kaya. Sekali melihatnya saja, aku sudah tau. Kakakmu sangat menyayangi Kuroko-chan. Dia tetap menuruti apapun yang Kuroko-chan mau sekalipun itu bertentangan dengan hatinya. Mungkin, perkataanku waktu itu sedikit berlebihan. Makanya dia bisa sampai ngambek begitu."

Shira sekali lagi mengernyit tidak paham. "Memangnya kau bilang apa sama Seijuurou?"

"Aku bilang aku suka Kuroko-chan," jawab Ogiwara sambil nyengir. Shira sontak menepuk jidatnya sendiri. Pantesan.

"Lalu, apa sebenarnya kau memang menyukai Tetsuna?" tanya Shira memastikan.

Ogiwara sekali lagi tersenyum. "Tentu saja. Mana mungkin ada orang nggak suka sama cewek imut kayak dia. Apalagi aku udah jadi teman lamanya dia," jawabnya jujur. "Tapi, aku nggak pernah ada niatan untuk jadi orang ketiga dalam hubungan kakakmu dengan Kuroko-chan. Aku ini sadar diri kok. Kakakmu itu sempurna sekali, cocok sekali dengan Kuroko-chan. Aku akan mendukung hubungan mereka. Tapi, jika kakakmu berani menyakiti Kuroko-chan, aku nggak akan tinggal diam lho," ujar Ogiwara.

Shira terdiam mendengar semua celotehan Ogiwara. Walaupun nada bicaranya seperti bercanda, Shira tau kalau pemuda itu sedang bicara serius. Shira rasa, jawaban Ogiwara sudah cukup membuatnya puas. Dia bisa pergi lalu menyusun rencana lain untuk menghentikan rencana yang sedang dijalani Sei saat ini karena rencana tersebut malah akan memperburuk hubungan Sei dengan Tetsuna. Shira lalu bangkit dari kursi, berpamitan dengan Ogiwara, lalu mengajak Mayuzumi pulang.

"Baiklah, terima kasih karena sudah mau menceritakan semuanya padaku. Maaf karena telah mengganggumu. Sampa jumpa lagi, Ogiwara-kun," ujar Shira.

"Hm, nggak masalah. Kalau kau mau, aku mungkin bisa menemui kakakmu untuk menjelaskan semuanya."

"Sebaiknya jangan. Kalau kau menemui Akashi Seijuurou saat ini, kau malah akan dibunuh," ujar Mayuzumi dingin.

Ogiwara menatap Mayuzumi bingung. Mayuzumi tidak menjawab tatapan Ogiwara. Ia malah menyerahkan sejumlah uang yang cukup banyak kepada Ogiwara.

"Untuk bayar makananmu. Kembalinya kau ambil saja," ujar Mayuzumi. Ogiwara langsung sumringah.

"Arigatou, Mayu nii-chan! Titipkan salamku pada Kuroko-chan dan Akashi-kun ya! Dan juga, semoga hubungan kalian berdua langgeng terus," ujar Ogiwara.

Shira dan Mayuzumi saling melempar pandang, lalu menatap Ogiwara tajam. "Apa maksudmu?"

Ogiwara memasang tampak sok bodoh. "Are? Bukannya kalian berdua pacaran?"

"Kami nggak pacaran, bodoh!" Keduanya protes dengan kompak, merasa kesal karena Ogiwara sudah salah paham dengan hubungan mereka. Ogiwara tertawa senang.

ooo

Setelah menempuh perjalanan dari sekolah, akhirnya mereka tiba di kediaman keluarga Akashi. Baru saja Kise menginjakkan kakinya setelah keluar dari mobil, hujan deras turun secara tiba-tiba dan sukses membuatnya kaget.

"Ah, sudah kuduga. Sepertinya kamu nggak bisa pulang kalau hujannya sederas ini, Ryouko," ujar Sei. Akhirnya, Kise terpaksa menuruti keinginan Sei dan meneduh di rumah Sei hingga hujannya berhenti.

Ketiganya lalu melangkah masuk lewat pintu utama. Baru saja Tanaka-san membukakan pintu, sosok wanita cantik bersurai merah panjang muncul dan dengan OOC-nya memeluk Sei erat.

"Seijuurou-kun! Aku kangen sekali padamu!" seru wanita itu. Kise terlonjak kaget dengan kemunculan wanita itu. Sementara Sei sendiri sedang berusaha melepaskan diri dari pelukan maut gadis itu.

"Siapa dia? Pacarnya Seicchi?" batin Kise. Sementara Shina yang berdiri di sebelahnya hanya menggeleng maklum.

"Mama, bisa tolong lepaskan Juurou? Kasihan tuh, wajahnya sampai biru gitu," ujar Shina.

Kise terbelalak. "Wanita ini ibunya Seicchi? Cantik sekali. Pantas anak-anaknya cantik dan ganteng."

Kise segera minta maaf karena sudah berpikir yang tidak-tidak pada Nyonya Shiori.

"Ya ampun, kamu ini masih saja kekanakan ya, Shiori." Suara wanita lain terdengar diselingi dengan tawanya yang lembut. Seluruh perhatian langsung mengarah pada seorang wanita yang sepertinya seumuran dengan Nyonya Shiori, bersurai biru muda dan berwajah tak kalah cantik dengan Shiori.

Seketika semua remaja yanga ada disana langsung kicep—khusuhnya Sei yang langsung membeku.

"Memangnya nggak boleh ya, Miyuki? Aku kan kangen banget sama anak-anakku setelah seminggu nggak ketemu," ujar Shiori.

"Terus, kenapa cuma Seijuurou-kun aja yang kamu peluk?"

"Soalnya, Sei satu-satunya anak laki-laki yang paling kusayang." Dan Shiori kembali OOC.

"Oh, Tante Miyuki, halo~" Shina yang sadar duluan langsung menyapa.

"Halo, Seishina-chan. Mana Seishira-chan?" tanya Miyuki.

"Sedang kencan sama pacarnya," jawab Shina enteng.

"Heh, Seishira-chan sudah punya pacar? Aku terkejoadt." Ternyata Miyuki sama alaynya dengan Shiori. Mereka yang masih remaja merasa kalah dan makin gagal paham.

"Tante Miyuki belum tau? Pacar Shira kan keponakan kesayangan Tante sendiri."

"Oh, si Chihiro ya. Haha, Tante belum tau soalnya Chihiro nggak ngasih tau tuh. Sejak kapan mereka pacaran?"

Dan kedua wanita beda umur itu pun terus menggosipi hubungan antara Mayuzumi Chihiro dan Akashi Seishira yang sampai sekarang masih ambigu.

Sementara itu, Kise terdiam. Dirinya terlalu terguncang dengan suasana yang dihadapinya ini. Ia mengernyit tak mengerti. "Kenapa ibunya Kuroko ada disini? Kenapa dia dekat banget sama Shinacchi? Apa dia berteman dengan Tante Shiori? Terus, kenapa juga Tante Shiori cantik sekali? Apa rahasianya sampai dia awet muda begitu?" Sekiranya itulah yang sejak tadi dipikirkan Kise.

Diam-diam, Kise memperhatikan Sei yang masih diam dalam pelukan ibunya. Kedua mata heterokromianya menatap arah lain seakan tidak mau menatap orang-orang di sekitarnya.

Lebih tepatnya, ia tidak mau menatap Kuroko Miyuki yang notabene-nya sangat mirip dengan Tetsuna versi dewasa. Saat ini, ia sedang tidak ingin melihat sesuatu yang berhubungan dengan biru muda karena hanya akan mengingatkannya pada Tetsuna yang sekarang sedang dihindarinya.

Sementara Shiori diam-diam memperhatikan Kise.

"Are, siapa gadis cantik bersurai secerah matahari ini? Sei, apa dia pacar barumu?" tanya Shiori—agak hiperbolis—sambil menghampiri Kise. Kise agak malu karena Shiori sedikit memujinya tadi.

"B-bukan, Tante Shiori. Saya Kise Ryouko, teman sekelasnya Seishinacchi-ssu," jawab Kise sambil memperkenalkan diri dengan sopan.

"Oh begitu. Kukira kamu pacarnya Sei. Padahal kamu cantik sekali," ujar Shiori sambil membelai rambut Kise. "Sei, kamu nggak tertarik sama Ryou-chan ini? Atau kamu masih punya rasa sama Tet-chan ya?" sindir Shiori.

Mendengar nama Tetsuna disebut langsung membuat Sei iritasi. Iritasi karena belum bisa melupakan.

"Mama bicara apa sih? Jangan ngawur deh," ujar Sei. Ia melepaskan diri dari pelukan maut sang ibu, lalu melenggang dengan anggun ke dalam rumah.

"Sei, kamu nggak mau Mama peluk lagi? Kamu nggak kangen sama Mama?"

Sei dan Shina sweatdrop. Mereka tidak ingat sejak kapan ibu mereka jadi se-OOC ini.

"Siapa bilang? Aku kangen banget malah. Tapi, memangnya Mama mau peluk-peluk aku yang baru pulang sekolah ini? Aku masih bau keringat, biarkan aku mandi dulu. Setelah itu baru temu kangen lagi. Udah dulu ya, Ma. Aku masuk."

Lalu dengan cepat Sei pergi meninggalkan sekerumunan wanita yang terbengong dengan sikapnya.

"Nah minna, yuk kita masuk," ajak Shiori mencairkan suasana.

ooo

Shira cemberut, Mayuzumi cuek. Keduanya saat ini terjebak di halte bus di depan sekolah. Salahkan Mayuzumi yang tiba-tiba menarik Shira kembali ke sekolah padahal seharusnya dia sudah berada di rumah dan tak harus terjebak hujan seperti ini.

"Ini semua gara-gara kamu! Kalau kamu nggak narik aku tiba-tiba buat ikut kamu ke sekolah, aku pasti nggak terjebak hujan kayak gini!" omel Shira.

Mayuzumi menatapnya kesal. "Bisa diem nggak sih? Mulutmu mau aku sumpal ya?"

"Memangnya ada apa sih di sekolah sampai kita terjebak hujan begini? Kuharap itu hal yang penting."

"Tentu saja penting. Firasatku mengatakan Tetsuna masih berada di sekolah dan sekarang terjebak sendirian. Aku tidak mungkin bisa meninggalkannya sendiri," jawab Mayuzumi.

Seketika, Shira terdiam. Perasaan iri sekaligus cemburu pada Tetsuna muncul di hatinya. Ya, walau ini agak berlebihan, wajar saja sih jika dia cemburu saat gebetan tercintanya lebih peduli pada adik sepupunya ketimbang dirinya sendiri.

Sebuah pertanyaan tanpa sadar meluncur dari bibir manisnya. "Ne Chihiro, kalau seandainya yang terjebak di sekolah adalah aku, apa kamu akan datang dan menjemputku untuk pulang?"

Shira benar-benar berharap bahwa Chihiro akan menjawab 'Iya' diselingi kata-kata romantis lainnya. Sayangnya, sepertinya Shira berharap pada orang yang salah.

Karena Mayuzumi Chihiro adalah cowok paling tidak peka sekaligus tidak punya perasaan sedunia.

Karena Mayuzumi menjawab dengan kejamnya hingga hampir membuat Shira menitikkan air mata.

"Untuk apa aku melakukannya? Kan sudah jelas, jemputanmu pasti datang dan kamu nggak akan lama-lama terjebak di sekolah. Lagian, mana mungkin aku mau melakukan hal yang merepotkan begitu."

Shira hanya bisa mengelus dadanya sabar. Berhadapan dengan cowok macam Mayuzumi Chihiro emang makan ati. Butuh banyak kesabaran agar bisa menghadapi sekaligus menakluki makhluk Tuhan yang satu ini. Untung saja, Shira tak terlalu banyak berharap. Setidaknya ia tidak harus merasa nyesek amat dengan perkataan Mayuzumi tadi.

"Tapi ya, jika memang benar terjadi, aku tak masalah jika harus menemanimu terjebak hujan. Daripada sendirian. Seenggaknya kamu nggak kesepian. Lagian mana mungkin aku bisa meninggalkanmu."

Ucapan Mayuzumi yang kata-katanya sama sekali nggak nyambung itu sukses membuat mulut Shira terbuka menganga. Ia gagal paham dengan ucapan si bayangan itu.

Mayuzumi salting sendiri, entah karena ucapannya atau karena reaksi Shira. Akhirnya, ia menyuruh Shira untuk melupakannya.

Saat Mayuzumi dan Shira kembali terserang kegabutan yang hqq, dua ekor manusia berbeda gender muncul menghampiri mereka.

"Chihiro-nii, Shira-san, kalian kok belum pulang?"

Suara lembut nan datar yang sangat familiar menyapa gendang telingan mereka. Mereka menoleh dan mendapati Kuroko Tetsuna bersama sang Kapten basket SMA Teiko—Nijimura Shuuzou—menatap mereka berdua dengan tatapan bingung.

"Kalian ngapain berduaan di halte begini? Nggak romantis banget," sindir Nijimura.

"Siapa juga yang lagi berduaan?" cibir Mayuzumi.

Sebuah seringai khas rubah muncul di wajah Shira. "Shuuzou, tau nggak? Kalau ada dua orang manusia yang sedang berduaan terus muncul orang ketiga, berarti orang ketiganya itu setan lho," ujar Shira.

Dahi Nijimura berkedut kesal. "Nih anak berani amat ama gua ya? Kagak ada sopannya lagi ama kakak kelas. Kalo nih anak bukan adeknya si iblis boncel itu, udah gua sumpel mulutnya pake cabe," batin Nijimura emosi.

"Shira-san, secara nggak langsung kamu udah ngatain aku setan, lho," ujar Tetsuna masih dengan wajah datarnya.

"Sorry, Tetsuna," jawab Shira tak kalah datarnya.

"Lu nggak pulang bareng abang sama mpok lu? Tadi kan mereka pulang dijemput mobil," tanya Nijimura. Hilang suda sikap sopannya pada Shira akibat rasa kesalnya. "Tadi kayaknya si Kise juga nebeng."

Tetsuna tertegun, Shira mengernyit. "Eh, Ryouko nebeng?"

"Iya. Oh ya, emangnya si Kise ama Sei punya hubungan apa sih? Kok tadi gua liat mereka makan di kantin bareng, mereka jadian apa gimana?" tanya Nijimura penasaran.

Seketika wajah Tetsuna berubah sendu. Shira langsung menatap Nijimura tajam, sedangkan Mayuzumi langsung menyodok pinggang Nijimura yang membuat si empunya pinggang protes tak terima.

"Lu ngapa sih Jum—" namun tak jadi melanjutkan protes setelah matanya menangkap kode dari Mayuzumi. Setelah melihat wajah sendu Tetsuna, Nijimura langsung merasa bersalah.

Hujan semakin menderas membuat payung yang Nijimura pakai berdua dengan Tetsuna tak lagi bisa melindungi mereka dari hujan. Karena tidak mau tubuh keduanya basah kuyup, akhirnya mereka memilih untuk berteduh di halte bersama Shira dan Mayuzumi. Yap, akhirnya mereka berempat pun terjebak hujan dan tak bisa pulang hingga malam datang.

ooo

Kembali ke kediaman Akashi…

"Jadi Ryou-chan, bisa tolong jelaskan pada kami apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian?"

"Ah, lebih tepatnya antara kamu, Seijuurou-kun, dan Tetsuna-chan."

Kise yang sedang menyeruput tehnya hampir saja menyemburkannya saking kagetnya dengan pertanyaan yang dilontarkan dua ibu rempong namun cantik di hadapannya ini.

"A-apa maksudnya ya-ssu? Aku nggak ngerti-ssu," jawab Kise.

"Biar aku yang jelaskan." Shina yang baru saja selesai mandi muncul dari balik kamarnya dengan kaos lengan pendek berwarna hitam dan celana pendek. Aroma stroberi dari shampoo yang digunakannya menguar dari rambut merahnya yang masih basah.

"Aku akan menjelaskan semua yang terjadi sampai Seijuurou selesai mandi."

Sesuai dengan perkataannya, Shina langsung menceritakan semua yang terjadi antara mereka, dimulai dari kencan Sei dan Tetsuna yang berjalan tidak mulus karena gangguan dari Ogiwara, hingga rencana untuk membuat Tetsuna cemburu sekaligus peka terhadap perasaan Sei padanya.

"Oh gitu. Pantes aja Sei kelihatan galau banget," ujar Shiori.

"Um, sekarang dia pasti sedang bermelankolis ria di kamar mandi sambil curhat sama shower tentang kokoro-nya yang remuk karena nggak kunjung dipekain Kuroko," timpal Shina.

Sementara Ryouko sendiri hampir ngakak mendengar fakta tentang seorang Akashi Seijuurou yang baru diketahuinya.

"Tau darimana Shinacchi?"

"Aku ngerekam pas dia lagi mandi, pas lagi galau-galaunya saat baru pulang dari kencannya sama Kuroko. Mau dengar, Kise?"

"Hm, boleh juga tuh," jawab Kise. Boleh juga Kise simpen. Siapa tau bisa berguna suatu saat nanti, untuk jadi bahan aib atau bahan ancaman ngebabuin Sei misalnya.

"Si Sei itu walaupun sikapnya sok dewasa, aslinya mah baperan banget. Dia mirip banget sama Papanya pas masih muda," Shiori malah bernostalgia.

Sementara objek yang sedang diomongin merasa kupingnya semakin panas.

"Hm, pantas aja Tetsuna-chan juga galau. Setelah pulang dari kencannya sama Seijuurou-kun, dia ngelamun terus. Aku yakin memang ada yang aneh antara mereka," ujar Miyuki. Mendadak semua mata tertuju padanya.

"Kurokocchi galau-ssu?"

"Iya, Ryou-chan. Tetsuna-chan sering ngelamun dan juga sering nggak nafsu makan. Pas tidur dia juga sering ngigau "Maafkan aku, Sei-kun." gitu. Karena itu sekarang aku kesini untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi," jelas Miyuki.

Semua orang yang ada disana mengangguk mengerti atas penjelasan Miyuki. Kise sendiri makin merasa tak enak hati. Setelah semua yang ia lakukan bersama Sei hari ini, Tetsuna pasti akan makin galau. Apa Tetsuna masih mau memaafkannya dan berteman dengannya setelah semua ini?

"Tante, maaf ya. Aku sama sekali nggak bermaksud membuat anak Tante cemburu-ssu," sesal Kise. Miyuki hanya tertawa anggun menanggapi Kise.

"Nggak papa kok, Ryou-chan. Sesekali Tetsuna emang harus digituin biar dia ngerti."

Kise merinding sendiri. Ternyata Nyonya Kuroko sama menakutkannya dengan para anggota keluarga Akashi.

"Lalu, apa kalian masih ingin melanjutkan semua permainan kalian ini? Bukannya apa, Tante hanya nggak mau ada pihak yang tersakiti. Kalau seperti ini terus, semuanya malah akan tersakiti. Baik itu Seijuurou, Tetsuna, maupun Ryoko," ujar Shiori. Ia lalu menatap Kise. "Kau juga merasa begitu kan?"

Kise hanya bisa menunduk sebagai jawaban bahwa apa yang Shiori katakan memang ada benarnya.

"Nggak. Sepertinya sudah cukup. Aku akan meminta Juurou untuk berhenti menjalankan rencana ini," ujar Shina.

"Tapi aku nggak mau berhenti!"

Suara berat nan dingin muncul membuat semua orang mencari asal suara tersebut. Seorang pemuda bersurai merah a.k.a. Akashi Seijuurou tengah berdiri di tangga sambil menatap dingin mereka yang berada di ruang tamu.

"Aku nggak akan berhenti menjalankan rencana ini sebelum Tetsuna meminta maaf padaku dan mengakui kesalahannya. Tetsuna harus merasakan apa yang aku rasakan saat itu," ujar Sei dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya.

"Tapi, Sei—"

Sayangnya, kalimat Shina harus terputus karena Sei sudah tidak mau mendengarkannya. Ia sudah terlanjur pergi ke kamar dan mengurung dirinya disana.

Shiori hanya bisa menghela napas pasrah melihat sikap anak laki-laki satu-satunya di keluarganya ini.

"Miyuki, Ryouko, tolong maafkan sikap Sei ya. Kalau sudah ngambek, dia memang agak berlebihan. Aku akan membujuknya agar ia berhenti melakukan semua ini," ujar Shiroi.

Miyuki dan Kise hanya mengulas senyum maklum.

"Nggak papa kok, Tante." Aku udah biasa ngadepin sikapnya yang begitu.—Kise Ryouko.

"Nggak papa kok, tapi kalau bisa kamu bujuk dia sampai dia sadar ya. Jangan sampai dia nyakitin hati anakku terus. Kasihan Tetsuna. Terserah kamu mau pakai cara apa buat bikin Seijuurou-kun sadar. Yang jelas, dia harus segera menghentikan semua ini."—Kuroko Miyuki dengan aura hitam plus senyum cantik di wajah.

"Tenang saja. Kamu kan sudah tau bagaimana keahlianku dalam mendidik anak."—Akashi Shiori dengan seringat bak malaikat plus tatapan tajam bak evil.

Kise hanya kicep melihat mereka berdua. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Sedangkan Seishina lagi-lagi hanya bisa menghela napas melihat kelakukan ibu-ibu rempong di hadapannya ini.

ooo

Pagi ini adalah pagi yang cerah, seharusnya. Namun, karena suasana hati sang putra mahkota dari keluarga Akashi sedang tidak baik membuat beberapa orang yang berada di sekelilingnya merasa bahwa badai akan segera menerpa. Kentara sekali, wajah muram dan aura suram ditambah tatapan tajam ingin membunuh yang tak segan dilayangkan kepada siapapun. Akashi Seijuurou benar-benar dalam kondisi bad mood level bawah. Paling parah. Jangan harap siapapun yang macam-macam dengannya saat kondisinya sedang seperti ini akan selamat dan sehat walafiat.

Bahkan, kedua saudari kembarnya juga merasakannya. Hari ini mereka memilih untuk bungkam dan sedikit menjaga jarak dari Sei, takut-takut kena amuk dan nyawa mereka melayang. Teman-teman dan anggota klub basket juga melakukan hal yang sama. Saat ini, tak ada satupun orang yang berani mendekati Sei jika tak mau mati konyol.

Salah satu penyebab yang membuat mood Sei memburuk adalah karena semalam sang ibu tersayang—Shiori—baru saja memberi wejangan perihal masalahnya dengan Tetsuna. Entah apa yang dikatakan Shiori yang malah membuat mood Sei memburuk bukannya membaik. Shiori hanya berusaha membujuk Sei untuk berhenti melakukan semua hal konyol untuk membuat Tetsuna cemburu yang malah membuat Sei menolak dan makin ngambek.

Dan seperti hari sebelumnya, Sei masih setia menjalani rencananya untuk membuat Tetsuna panas dengan terus melancarkan aksinya bersama Kise. Kise sebenarnya sudah tidak tahan dan ingin segera menghentikan semua ini. Sayangnya, Sei terus menolak dan mengancam Kise jika berani membantah permintaannya.

Makan malam hari ini rasanya benar-benar tidak enak. Bukan karena makanannya, melainkan karena suasananya. Terlalu hening, tak seperti biasanya.

"Aku sudah selesai. Terima kasih atas makanannya," ujar Sei. Ia bangkit dari kursinya lalu beranjak menuju kamarnya.

"Sei, tunggu. Ada yang ingin Papa bicarakan denganmu," ujar Masaomi. Sei berbalik sambil menatap Masaomi dingin. Jiwa bokushi sepertinya sedang menguasainya.

"Nggak bisa, aku ngantuk. Besok aku ada ulangan jadi aku harus tidur lebih sore. Selamat malam." Sei melenggang pergi dengan santainya tanpa mempedulikan tatapan tajam dari sang Papa seakan ingin membunuhnya. Tentu saja, Masaomi kesal sekali. Pasalnya, anak laki-lakinya itu belum pernah sekalipun membantah perkataannya.

"Kurang ajar sekali kau, Seijuurou," ujarnya geram. Buru-buru Shina menenangkan sang Papa agar tidak terjadi perang dunia ketujuh di rumahnya ini.

"Tenang ya, Pa. Juurou lagi bad mood. Biarkan aja dia seperti itu dulu," ujar Shina. Shiori ikut membantu Shina menenangkan Masaomi.

"Sudah cukup! Aku nggak tahan lagi!" Tiba-tiba saja Shira menggebrak meja, membuat semua anggota keluarganya menatap bingung.

"Pa, Ma, Shina, kalian tenang aja. Seijuurou biar aku yang urus," ujarnya mantap. Dengan langkah besar-besar, ia pergi meninggalkan ruang makan menuju kamar Sei, meninggalkan seluruh anggota keluarganya yang melongo saking herannya dengan tingkahnya.

Sementara itu, di depan kamar Seijuurou…

"Oi, Juurou! Buka pintunya! Oi!" seru Shina sambil menggedor-gedor pintu kamar Sei. Tentu saja sang pemilik kamar merasa terganggu. Namun, ia tetap enggan untuk keluar.

"Mau apa sih? Aku kan udah bilang kalau aku ngantuk. Aku mau tidur. Pergi sana! Jangan ganggu," jawab Sei.

"Aku nggak akan pergi sebelum kamu buka pintunya. Kalau kamu nggak mau buka, akan ku dobrak!"

"Dobrak aja kalo bisa—"

BRAK!

Seijuurou terkejut saat tiba-tiba pintu kamarnya hancur setelah ditendang Shira. Di depan kamar, Shira berdiri sambil menyunggingkan seringai menyeramkan.

"Kamu pikir aku nggak bisa? Cih, cuma dobrak pintu kayu gini doang mah gampil. Aku juga bisa ngehancurin seluruh tulang kamu kalau kamu macam-macam denganku," ujar Shira dengan angkuhnya.

Sementara itu, Sei tertegun dengan apa yang baru saja dilakukan adik kembarnya. Diam-diam, ia bergidik ngeri.

"Duh, kenapa gua mesti punya adek kembar kek gini sih? Nyeremin banget," batinnya nista. Walau sebenarnya takut, wajahnya tetap datar-datar saja dan membuat Shira makin naik darah.

"Shira, kalo Papa tau, kamu disuruh ganti lho. Emangnya punya duit?" tanya Sei dengan santainya.

"Heh! Bodo! Cuma pintu begini mah paling nggak seberapa. Duit gua banyak noh, tinggal gesek." Shira sudah kehilangan etika berbicaranya. Sementara di belakangnya, sang Papa bersama Mama dan Shina hanya bisa mengurut dada, mencoba sabar dengan tingkah salah satu dari putri mereka.

"Mau apa lu ke kamar gua sampe ngehancurin pintu kamar gua? Gua harap ada hal yang penting." Sei pun ikut kehilangan etika bicaranya.

"Gua cuma mau bilang kalo lo itu menyedihkan. Hanya karena cemburu, lu sampe bersikap begitu ke Papa. Papa pasti kecewa banget sama lu. Diantara kita bertiga, lu kan yang didik untuk menjadi pemimpin yang baik? Masa' pemimpin sifatnya kek gitu. Harusnya lu malu, harusnya lu bisa nunjukkin ke gua dan Shina kalo bisa jadi pewaris perusahaan Papa yang baik. Kalo pewarisnya kek gini, Papa pasti mikir dua kali buat nyerahin perusahaannya ke elu. Dan kalo sikap lu masih kek gini, hak pewaris perusahaan Papa pasti akan berganti dari tangan lu ke tangan gua atau Shina."

Sei melongo. Ia tak habis pikir. Ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan adik kembarnya ini.

"Bentar dah, ngapa tiba-tiba lu ngomongin hak waris? Apa hubungannya sama kecemburuan gua pada Tetsuna?" tanya Sei bingung. Shina, Papa, dan Mama yang sedang menyaksikan mereka juga ikut-ikutan bingung.

"Ya ada lah! Kalo lu terus bersikap kek gini, itu artinya lu nunjukkin kalo lo itu kekanak-kanakan banget. Kek bocah tau nggak. Cuma karena cemburu sama Tetsuna, semua orang jadi kena imbasnya. Akhir-akhir ini lu sering marahin anak-anak klub basket yang nggak salah apa-apa. Shuuzou, Chihiro, sama Shintarou yang niatnya mau bantuin lu malah lu bentak. Papa yang mau bicara baik-baik ama lu malah lu judesin. Sikaplu ke Tante Miyuki kemarin juga buruk banget. Dan tanpa lu sadari, semua yang lu lakukan bersama Ryouko yang tujuannya untuk bikin cemburu Tetsuna malah akan terus semakin menyakiti Tetsuna. Tetsuna malah akan semakin benci sama lo. Bukannya memperbaiki, hubunganlu ama Tetsuna mala makin buruk. Dan lo harus sadar juga kalau Ryouko ikutan tersakiti karena semua kelakuan lo."

Sei terdiam menyimak semua ceramahan Shira. Papa dan Mama juga diam mendengarkan pidato putri bungsu mereka. Sedangkan Shina hanya geleng-geleng kepala. Tak percaya Shira yang silent itu bisa ceramah panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume begini.

"Gua udah tau semua tentang Ogiwara. Anak itu bilang dia emang suka sama Tetsuna. Tapi, dia nggak ada niatan buat ngerebut Tetsuna dari elu. Yang kemarin itu dia cuma pengen ngetes seberapa besar perasaan lu buat Tetsuna. Dia juga minta maaf karena kencan kalian dirusak sama dia. Tapi, dia nggak bermaksud buat melakukan semua itu."

Sei mengernyit mendengar penjelasan Shira. Entah kenapa, rasanya terdengar seperti Shira sedang membela si Ogiwara itu.

"Darimana lo tau kalo apa yang dikatakan si Ogiwara itu benar? Lo tau kan kalo mulut itu pinter boong?" tanya Sei tak yakin.

"Iya, gua tau. Tapi, lu harus inget, Sei. Gua juga seorang Akashi. Gua ini mutlak dan gua nggak pernah salah. Udah gua pastiin dan gua jamin kalo tuh anak kagak bakal boong."

Seketika Sei dan ketiga anggota keluarganya yang lain sweatdrop mendengar jawaban Shira. "Alasan macam apa itu?"

Shira pun kembali melanjutkan wejangannya. "Karena itu Sei, mending lu berhenti deh melakukan semua hal yang akan bikin lu malu nanti. Lu nggak benar-benar punya rasa buat Ryouko kan? Kasihan tau dia, jadi kayak dipermainkan gitu. Kalo lu emang sayang ama Tetsuna, harusnya lu bisa buktiin seberapa besar rasa sayanglu ke dia dengan bersikap lebih dewasa atas semua kejadian yang tela terjadi. Gua yakin Tetsuna bakal ngerti kalo lu mau terus terang. Kalo lu begini terus, yang ada Tetsuna malah keburu digaet orang. Jadi, gua minta dengan sangat sama lo. Tolong berhenti ya, Sei."

Shira menyelesaikan wejangannya sambil menangkupkan tangan di depan dahinya, sedikit agak berbungkuk di depan Sei, pose seseorang sedang memohon. Shira jarang sekali bersikap seperti ini.

Sei yang sejak tadi termenung sedikit menundukkan kepalanya. Sepertinya, ia mulai memikirkan semua ceramahan Shira tadi. Yang Shira katakan memang ada benarnya.

"Akan aku pikirkan Shira," Sei telah kembali ke dirinya yang biasanya tenang. Shira menghela napas puas karena usahanya tak sia-sia.

Setelah itu, Sei meminta maaf atas sikapnya yang buruk pada sang Papa saat makan malam tadi, juga sikap buruknya akhir-akhir ini pada sang Mama dan kedua saudari kembarnya. Sepertinya, yang dilakukan Shira berjalan mulus sesuai rencana. Ya, rencana B yang telah Shira siapkan bersama Mayuzumi kemarin. Namun, sebagai efek samping atas perbuatannya, Shira mendapat ceramahan dari sang Papa karena telah dengan seenaknya merusak pintu kamar abangnya sendiri.

ooo

Sejak kejadian Shira memberi wejangan pada Sei, Sei jadi terus kepikiran dengan kata-kata Shira. Sepertinya apa yang Shira katakan ada benarnya. Kebencian juga akan dibalas dengan kebencian. Jika Sei terus melakukan hal yang akan membuat Tetsuna cemburu dan semakin membencinya, Sei hanya akan terus dijauhi oleh Tetsuna. Beberapa hari belakangan ini, Tetsuna sama sekali tak mau bicara dengannya. Ia bahkan terlihat sudah tak peduli lagi dengan Sei dan segala sikap manis yang ditunjukkannya pada Kise untuk membuatnya cemburu. Tidak seperti beberapa hari yang lalu. Kini, Tetsuna lebih sering ngobrol dan bercanda dengan Kagami atau Aomine, yang malah akan membuat Sei makin patah hati.

"Seicchi…" Kise menatap Sei iba saat Sei tengah memandang sendu Tetsuna yang sedang mengobrol dengan akrabnya bersama Kagami dan Aomine. Melihat wajah Sei yang kelihatan kecewa sekali membuat Kise ikut-ikutan sedih.

Sei tiba-tiba menghela napas, lalu balik menatap Kise. "Ryouko, ikut aku sebentar. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu."

Tanpa menunggu jawaban Kise, Sei dengan seenak hatinya menarik tangan Kise untuk ikut dengannya. Tanpa mereka sadari, Tetsuna diam-diam memandang kepergian mereka berdua dengan sendu.

"Sepertinya Akashi masih belum sadar juga," ujar Kagami. "Kamu yakin mau melanjutkan semua permainan ini, Kuroko?"

Tetsuna mengangguk. "Iya, aku akan terus melakukannya sampai Akashi-kun sadar dan meminta maaf padaku. Kamu nggak keberatan untuk terus menolongku kan, Kagami-kun?"

Kagami menatap Tetsuna tak enak. "Entahlah, bukannya aku nggak mau bantu atau apa, hanya saja—"

"Menurutku kalian berdua hanyalah pasangan bodoh yang nggak mau mengakui perasaan satu sama lain."

Ucapan Kagami terpotong begitu saja dengan ucapan Aomine. "Kalian berdua saling membuat satu sama lain cemburu. Yang ada keduanya malah saling tersakiti," lanjutnya.

"Wew, tumben banget si aho ini bijak," cibir Midorima yang muncul entah darimana.

"Sialan lu!" umpat Aomine. "Denger ya, Tetsu. Saranku sih lebih baik kamu berhenti. Kamu ngalah aja sama si setan merah itu. Kalau kamu begini terus malah nggak akan ada habisnya," ujar Aomine.

"Itu benar. Sebaiknya akhiri saja. Karena jika kamu terus meladeni keinginan Akashi hanya akan semakin merepotkan saja. Iya kan, Nijimura?" Mayuzumi ikutan nimbrung bersama Nijimura yang sejak tadi jadi penoton dorama picisan AkaKuro.

"Benar. Karena si kembar tiga Akashi itu sangatlah merepotkan," sahut Nijimura.

ooo

Sementara itu, Sei membawa Kise ke belakang gym, tepat di depan vending machine.

"Kamu mau apa sih, Seicchi?" protes Kise yang tidak suka tangannya ditarik seenaknya oleh Sei.

"Ryouko, aku mau kita berhenti melakukan semua ini!" ujar Sei mantap.

Kise menyeringai puas. "Bagus. Aku juga udah nggak tahan didiemin terus sama Kurokocchi," jawab Kise.

"Tapi, gimana caranya agar hubunganku dan Tetsuna bisa balik kayak dulu?" tanya Sei.

Kise terlihat berpikir. "Ya, mau nggak mau Seicchi harus ngalah dan minta maaf pada Kurokocchi atas semua yang terjadi," usul Kise.

"Iya, aku tau. Tapi, gimana caranya? Saat ini Tetsuna nggak mau bicara sama aku. Gimana caranya aku bisa minta maaf?"

"Aku punya ide yang bagus." Shira tiba-tiba muncul dan menginterupsi pembicaraan mereka. Seketika senyum lebar terulas di wajah Kise yang senang akan kehadiran gadis itu.

"Setiap malam Tetsuna biasanya les di bimbel yang ada di jalan Bara. Chihiro yang biasanya jemput dia pulang. Nah, malam ini kamu aja yang jemput dia. Sekalian ajak dia makan dan jelaskan semua yang kamu lakukan semua ini dan minta maaf padanya. Aku akan minta Chihiro untuk nggak jemput Tetsuna dulu malam ini," usul Shira.

"Un! Usul yang bagus Shiracchi!" sahut Kise.

"Jam berapa Tetsuna pulang les?" tanya Sei.

"Sekitar jam 9."

Sei menggangguk. Ia lalu mengulas senyum. "Baiklah, akan aku coba malam ini. Terima kasih usulnya, Shira-chan," ujar Sei sambil mengacak surai merah adik kembarnya.

"Jangan panggil aku –chan! Aku bukan anak kecil!" ujar Shira ngambek. Kise hanya tertawa geli melihat tingkah sepasang anak kembar di hadapannya.

"Kamu juga, Ryouko. Makasih banyak ya. Imbalannya menyusul nanti."

Kise menatap Sei bingung. "Hah? Imbalan apa?"

Sei meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. Entah kenapa, Sei terlihat cute sekali di mata Kise dengan pose begitu.

"Ra-ha-si-a. Aku pergi dulu, doakan aku beruntung ya!"

Sei melenggang pergi meninggalkan Kise yang melongo bingung dan Shira yang sibuk melambaikan tangan sambil tersenyum. Setelah puas dengan semua rasa kebingungannya atas sikap Sei hari ini, Kise balik menatap Shira.

"Arigatou, Shiracchi. Kamu udah berhasil bikin Seicchi sadar," ujar Kise senang.

"Ah, sama-sama. Aku juga nggak mau lihat kamu di PHP-in terus sama dia," balas Shira. Kise membalasnya dengan senyuman cantik. Ia lalu mengajak Shira kembali ke gym.

Ya begitulah. Selama menjalankan rencana untuk membuat Tetsuna cemburu, Kise sebenarnya merasa ter-PHP-kan. Karena tak ada yang tau bahwa sebenarnya Kise Ryouko juga punya perasaan khusus kepada Akashi Seijuurou. Ya, wajar aja sih. Siapa juga yang nggak bakalan naksir dan takluk dengan pesona seorang Seijuurou? Sayangnya, Seijuurou sudah terlanjur memantapkan hatinya hanya untuk dimiliki salah satu spesial langka macam Kuroko Tetsuna yang saat ini hatinya belum berhasil ia taklukan.

Bersambung…

ooo

Author's note :

Sudah dilanjut! Maaf kalo kelamaan update. Chapter ini sepertinya agak aneh, mohon dimaafkan.

Chapter selanjutnya sedang diusahakan untuk update cepat. Semoga kalian masih tetap setia membacanya ya!

Oh ya, Yuuki mau mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa buat kalian yang sedang menjalankan. Semoga ibadah kalian lancar dan penuh berkah, amiin.

Yuuki juga minta doanya pada kalian semua, semoga Yuuki lolos SBMPTN dan diterima di PTN yang Yuuki inginkan. Kalian juga yang para pejuang SBMPTN tetap semangat dan terus berdoa. Semoga kalian juga dapat lulus di PTN yang kalian inginkan, amin.

Terima kasih banyak dan sampai jumpa di chapter depan! Jangan lupa review-nya ya! XD