Title : OneKiss

Cast : - Park Woojin

- Ahn Hyungseob

Genre : Romance

Length : Oneshoot

.

.

.

.

.

When your mind closes its eyes

And tears are coming to talk to you

Sorrow is no longer yours

So now, hold your hand tightly

.

Woojin melangkahkan kakinya di koridor rumah sakit dengan riang, dengan kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku snelli yang ia kenakan. Sesekali ia menyapa perawat atau pengunjung yang sedang menjenguk keluarga mereka. Semua orang mengenalnya, Park Woojin si dokter muda yang ramah dan cerdas. Wajar bila banyak yang menyapanya, atau sekedar tersenyum ketika berpapasan dengannya.

Berbelok ke koridor kecil, Woojin berhenti di sebuah ruangan dengan pintu berwarna biru langit, satu-satunya ruangan yang memiliki warna mencolok. Ia mengintip sebentar, sebelum memutar kenop pintu dan masuk. Disana ada sesosok manis yang sedang menatap jendela dengan pandangan kosong bersama seorang perawat yang akan membasuh tubuhnya. Si perawat yang menyadari kehadiran Woojin sontak membungkukkan badannya dengan sopan, yang dibalas dengan sebuah senyum manis dan anggukan kecil oleh Woojin.

"Suster, biar saya saja yang melakukannya." Kata Woojin. Perawat itu langsung mengulurkan handuk kecil yang belum sempat ia celupkan ke baskom yang berisi air hangat kepada Woojin.

"Anda sudah selesai bertugas, dokter Park?"

"Belum. Tetapi anda tahu saya biasa kesini sebelum lanjut bertugas." Woojin mencelupkan handuk kecil itu dan memerasnya sedikit. "Sudah ada perubahan?"

"Belum. Dia masih saja seperti itu."

Woojin hanya mengangguk kecil. "Anda boleh kembali melanjutkan tugasmu yang lain."

Si perawat segera undur diri dari ruangan itu. Woojin kemudian menggeser kursinya agar lebih dekat pada si pemuda manis, yang sejak tadi tidak terusik dengan kehadirannya.

"Selamat pagi, Hyungseob. Apa semalam kau tidur nyenyak?"

Selalu kalimat itu yang diucapkan Woojin ketika menggunjungi si pemuda manis bernama Ahn Hyungseob. Meski tidak pernah mendapat balasan, Woojin selalu menyapa Hyungseob dengan hangat.

"Aku bersihkan tubuhmu dulu, ya."

Woojin mulai mengusap wajah Hyungseob dengan lembut, kemudian kedua kaki dan tangannya. Sesekali ia memandangi sosok manis dengan manik bundar itu sambil tersenyum. Sementara Hyungseob sama sekali tidak peduli. Bagi pemuda manis itu, jendela lebih menarik daripada Woojin.

Setelah selesai, Woojin mengambil handuk kering dan mengeringkan tubuh Hyungseob. Kemudian ia mengambil sisir dari laci nakas dan merapikan surai hitam si manis. Lagi-lagi ditanggapi dengan apatis oleh Hyungseob.

"Nah, selesai. Sekarang kau sudah cantik."

Woojin tersenyum puas dengan hasil pekerjaannya. Ia kemudian merogoh saku snelli-nya dan mengeluarkan sebatang coklat.

"Kesukaanmu. Mau kubukakan?" tanya Woojin. Ia segera membuka bungkus coklat itu dan memotong kecil jajanan manis itu.

"Buka mulutmu. Aaaang~" Woojin mengarahkan potongan coklat itu ke mulut Hyungseob. Meski tidak bersuara, Hyungseob membuka mulutnya sedikit dan memakan coklat itu. Woojin tersenyum, ia terus menyuapi Hyungseob hingga coklat yang ia pegang tersisa setengah. Hyungseob mulai menolak coklat itu.

"Sudah kenyang, ya?" Woojin melipat bungkus coklat itu dan menaruhnya diatas nakas. Ia kemudian duduk di samping Hyungseob. Kedua lengannya memeluk tubuh kurus itu dengan erat dan menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Hyungseob, menikmati aroma manis nan lembut yang menguar disana.

"Sedang lihat apa?" tanya Woojin. Tak ada sahutan, sama seperti sebelumnya. Namun Woojin tidak peduli.

"Wah, kau sedang lihat bunga-bunga mekar, ya? Kelihatan bagus dari sini." Kata Woojin. Ia mengusap pipi Hyungseob dengan lembut.

Tiba-tiba, pipi tirus itu basah. Manik bundar itu mendadak mengeluarkan kristal bening yang disusul isakan lirih terdengar dari bibir tipis Hyungseob. Woojin menyadarinya, ia pun segera mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepala Hyungseob di dada bidangnya.

"Shh... jangan menangis. Disini kau aman bersamaku." Bisik Woojin menenangkan. Perlahan, tangisan lirih itu berhenti. Hyungseob memejamkan matanya dan beberapa saat kemudian nafasnya berhembus teratur.

Woojin merebahkan Hyungseob di ranjang dan menyelimutinya hingga sebatas dada. Setelahnya ia mengecup kening pemuda manis itu cukup lama.

"Cepatlah sembuh, sayangku. Aku mencintaimu." Bisik Woojin dengan lembut.

oooOooo

Lean on my without saying anything

And softly close your eyes

Your little breathe itself makes you precious

You are the one who's giving happiness to me

.

Alasan utama Woojin pindah tugas ke rumah sakit jiwa adalah Hyungseob. Dokter muda yang sebelumnya bekerja di rumah sakit umum itu memilih untuk berada di tempat yang dihindari sebagian orang karena sosok tersayangnya berada disana. Sosok itu adalah Ahn Hyungseob.

Dulu, Hyungseob sama seperti pemuda pada umumnya. Dia aktif, ceria, dan supel kepada siapapun. Hingga pada suatu malam, Woojin tidak bisa menjemput Hyungseob di tempat kerjanya karena masih bertugas di rumah sakit. Hyungseob memutuskan untuk pulang sendirian dan akan mengabari kekasihnya kalau ia sudah sampai di apartemen.

Tetapi ternyata itu adalah awal dari mimpi buruk Hyungseob. Ketika ia sedang berjalan pulang, ia dicegat sekelompok orang mabuk. Hyungseob sudah berusaha untuk kabur, tetapi orang-orang itu berhasil menangkapnya dan menyeretnya disebuah gang sempit yang sepi.

Hyungseob menangis, memohon agar mereka tidak menyakitinya. Tetapi kemudian ia dibaringkan dengan paksa di jalanan dan mereka menyetubuhi Hyungseob secara bergantian. Hyungseob diperkosa, bahkan dianiaya oleh orang-orang mabuk itu dan ditinggalkan begitu saja dalam keadaan mengenaskan.

Setelahnya Hyungseob mengalami trauma yang mendalam. Post Traumatic Stress Disorder atau Gangguan Stres Pasca Trauma, itulah yang dialami Hyungseob. Ia akan menangis dan mengamuk bila ada orang asing berada disekitarnya. Bahkan tidak jarang ia melakukan tindakan yang berbahaya, seperti menyayat pergelangan tangan dengan pisau atau terjun dari atap rumah sakit.

Mengetahui keadaan Hyungseob, tentu saja Woojin sangat marah. Ia bahkan mencari tahu sendiri orang-orang tersebut, kemudian mendatanginya dan menghajar mereka hingga babak belur. Untunglah orang-orang itu sudah dipenjara dengan dakwaan telah melakukan pelecehan seksual dan penganiayaan. Namun hal itu tetap tidak mengubah Hyungseob. Hyungseob telah jatuh terpuruk terlalu dalam.

Karena hal itulah akhirnya Woojin memutuskan untuk pindah tugas ke rumah sakit jiwa tempat Hyungseob dirawat. Selain lebih dekat dari apartemennya, pemuda itu ingin merawat Hyugseob dengan kedua tangannya sendiri. Woojin juga merasa bersalah karena seharusnya malam itu ia menjemput Hyungseob sehingga kekasihnya itu tidak mengalami sesuatu yang buruk.

Siapapun yang melihat pasti akan menganggap bahwa Hyungseob adalah orang yang beruntung karena Woojin begitu mencintainya tanpa syarat. Tanpa perlu mengatakannya, Woojin sudah mengetahui apa yang sedang dirasakan dan apa yang menjadi keinginan Hyungseob. Seperti apapun keadaan Hyungseob, Woojin tetap menjadikan pemuda manis itu sebagai orang terpenting dalam hidupnya. Karena Hyungseob adalah sumber dari segala kebahagiaan Woojin.

oooOooo

Sometimes sad memories

Will bring tears in your eyes

But please remember this, I'm the one

Who's breathing for you

.

"Dokter Park! Hyungseob mengamuk lagi!"

Woojin yang baru akan duduk, seketika kembali menegakkan tubuhnya dan berlari ke ruang rawat Hyungseob. Dalam pikirannya hanya ada pemuda manis itu. Ia khawatir Hyungseob akan melakukan sesuatu yang nekat walaupun itu diluar kendali tubuh dan pikirannya.

Sesampainya di ruang rawat Hyungseob, Woojin melihat pemuda manis itu tengah mengacungkan pisau buah kearah perawat yang mencoba menenangkannya. Tubuh ramping nan rapuh itu bergetar hebat karena ketakutan, Woojin bisa melihat itu dengan jelas.

"PERGI KALIAN SEMUA! JANGAN MENDEKAT! PERGI!"

Teriakan Hyungseob menggema hingga sudut-sudut kamar. Maniknya mengeluarkan kristal bening yang membentuk aliran kecil di kedua pipi tirusnya. Bibir pucatnya digigit dengan kuat hingga berdarah. Selalu seperti ini bila Hyungseob sedang episodic, sikap defensifnya benar-benar menakutkan sekaligus membahayakan.

Perlahan Woojin mendekat, ia tidak ingin memancing Hyungseob berbuat sesuatu yang lebih nekat dari ini. Ekspresinya begitu tenang karena ia sedang berhadapan dengan pemuda kesayangannya.

"Hyungseob, tenangkan dirimu. Kami tidak akan menyakitimu." Kata Woojin. Namun Hyungseob menatap nyalang kearah pemuda itu sambil mengayunkan pisau buah secara random.

"KUBILANG JANGAN MENDEKAT! PERGI!" jerit Hyungseob kalap.

"Oke, aku tidak mendekat. Tapi kau tenang dulu. Berikan pisaunya padaku, nanti kau terluka." Bujuk Woojin dengan lembut. Hyungseob bergeming, ia tetap memasang sikap waspada pada Woojin dan perawat-perawatnya.

"Sayangku... Tolong berikan pisaunya padaku, oke?"

Woojin mempersempit jaraknya dengan Hyungseob secara perlahan. Setelah berada di jarak yang menurutnya aman dan dekat, Woojin langsung merebut pisau itu dari tangan Hyungseob dan melemparnya ke bawah sofa. Hyungseob terkesiap kaget, ia langsung memberontak dari cekalan Woojin.

"BERIKAN PISAUNYA PADAKU! BIARKAN AKU MATI SAJA!" Hyungseob bergerak tidak terkendali ketika Woojin memeluknya. Woojin kewalahan, tetapi ia tidak ingin Hyungseob berbuat semakin nekat. Ia mengeluarkan injeksi dari saku snelli-nya dan menyuntikkannya di lengan kiri Hyungseob. Perlahan, gerakan Hyungseob melemah dan akhirnya ia lemas di pelukan Woojin. Obat penenang itu bereaksi dengan cepat.

Woojin menggendong Hyungseob dan membaringkannya di ranjang. Ia menyelimuti tubuh ramping itu dengan rapat, kemudian mendaratkan sebuah kecupan di kening dengan lembut. Mata elangnya memandang sendu sosok terkasihnya itu yang kini sedang dalam pengaruh obat penenang. Hatinya teriris perih tatkala melihat orang yang paling ia cintai begitu rapuh dan lemah. Tetapi Woojin tidak boleh ikut terpuruk. Ia harus kuat karena saat ini dirinyalah yang menjadi tempat bersandar sekaligus tumpuan bagi Hyungseob.

Bagi Hyungseob, Woojin adalah hidupnya, dan bagi Woojin, Hyungseob adalah nafasnya.

oooOooo

I missed your scent

When it had been so long

At the moment I realized I can see you

A flower inside of me bloomed again

It's been so long, more than I expected

It might have been a little late

We lingered outside and

It made the temperature of our mind became cold

No need to hold your shaking lips anymore

You did your best, come to me and lean on me comfortably

And don't worry

Now, there's only you and me...

.

Mengunjungi kamar rawat Hyungseob merupakan sebuah rutinitas yang wajib dilakukan Woojin. Paling tidak minimal satu kali ia datang untuk menjenguk pemuda manis itu sebentar sebelum bertugas. Ia harus memastikan Hyungseob baik-baik saja sebelum ia meminta beberapa orang perawat untuk menjaga pemuda manis itu saat ia sedang bertugas.

Hyungseob sudah menunjukkan tanda-tanda membaik. Ia mulai tersenyum ketika disapa dan mulai terbiasa dengan keberadaan orang lain selain Woojin disekitarnya. Sikapnya sudah tidak seapatis dulu. Tentu saja itu membuat hati Woojin menghangat, Hyungseob-nya perlahan kembali.

Woojin tersenyum ketika melihat Hyungseob sedang mengunyah permen sambil bermain game di ponsel miliknya. Woojin sengaja meminjamkan ponselnya pada Hyungseob agar pemuda manis itu memiliki kegiatan dan tidak melamun.

"Selamat pagi, Hyungseob~" sudah ribuan kali kalimat itu terlontar dari bibir Woojin. Namun baru kali ini ditanggapi dengan senyum manis oleh Hyungseob.

"Sedang apa?" tanya Woojin sambil duduk disamping Hyungseob. Hyungseob menunjukkan game cooking academy yang sedang ia mainkan pada si dokter muda. Woojin tersenyum dan mengusap rambut Hyungseob dengan lembut.

"Nanti siang kau terapi, ya." kata Woojin, yang membuat senyum Hyungseob pudar seketika. Manik bulat itu bergetar takut. Woojin langsung memberikan pelukan hangat dan mengecup puncak kepala Hyungseob untuk menenangkan.

"Aku akan menemanimu. Setelah aku selesai bertugas, aku akan langsung datang ke ruang terapi dan menemanimu disana sampai selesai." kata Woojin. Hyungseob meremas kerah snelli yang dikenakan Woojin dengan erat, seolah tidak membiarkan pemuda itu pergi. Woojin mengangkat dagu Hyungseob agar wajah manis itu menatapnya.

"Aku tidak akan mengulangi kesalahanku dulu. Aku berjanji akan selalu ada disampingmu." Woojin kembali memeluk Hyungseob dengan erat, sementara Hyungseob menenggelamkan wajahnya di dada bidang Woojin, menghirup aroma maskulin yang ia rindukan.

"Hanya ada kau dan aku, Hyungseob. Tidak akan ada satu orang pun yang akan menyentuhmu dan menyakitimu lagi. Aku mencintaimu, sayang~"

oooOooo

Baby just one kiss for love

One kiss for us

Tell me your story, softly to my lips

Baby just one kiss for love

One kiss for our love

Eternally, in my arms

.

Hyungseob tidak perlu mengatakan apapun yang ia rasakan dan ia inginkan, karena Woojin begitu memahaminya. Termasuk dalam membagi kisah pahit yang ia alami, Woojin tidak perlu banyak bertanya untuk tahu seberapa dalamnya luka yang ia dapatkan di malam kelam itu.

Seperti malam ini, Woojin yang sudah selesai bertugas langsung datang ke kamar Hyungseob. Ia terkejut ketika melihat Hyungseob meringkuk di bawah selimut dan menangis lirih. Tubuh ramping nan rapuh itu bergetar hebat seiring dengan isakan yang keluar dari bibirnya.

"Hyungseob, ada apa?" tanya Woojin. Hyungseob yang menyadari kedatangan Woojin langsung berbalik dan memeluk pemuda itu dengan erat. Nafasnya berderu cepat seperti ketakutan. Seperti biasa, Woojin hanya diam sambil mengusap punggung sempit itu dengan lembut.

"Ssstt... aku ada disini." Bisik Woojin dengan sayang. Ia melepaskan pelukannya dari Hyungseob, kemudian memagut bibir tipis itu dengan lembut. Hyungseob memejamkan matanya, membiarkan airmatanya jatuh diantara ciuman mereka. Tidak ada nafsu, yang ada hanya ungkapan cinta yang tidak bisa diucapkan lewat kata-kata.

Perlahan, nafas Hyungseob mulai teratur dan ia mulai tenang. Woojin melepaskan ciuman mereka dan menatap kesayangannya itu dengan lembut. Cara itu selalu ampuh untuk menenangkan Hyungseob yang nyaris episodic. Hyungseob tidak perlu bercerita apa yang sedang ia rasakan saat ini pada Woojin. Cukup dengan sebuah ciuman yang lembut, semua perasaannya telah tercurahkan begitu saja dan Woojin akan mengerti.

Seperti itulah arti Woojin di mata Hyungseob. Baginya, Woojin adalah cahayanya, pelita dalam hidupnya yang gelap, dan itulah alasan mengapa ia tidak ingin Woojin menjauh darinya. Ia mencintai Woojin, sedalam Woojin mencintainya.

.

.

.

.

The End

Entah kenapa tiap denger lagi OneKiss-nya Nu'est ini pasti bawaannya baper mulu, malah keinget sama Jinseob mulu. Makanya aku buat lagu ini versinya mereka dan semoga feel-nya dapet.

And last but not least, makasih banget buat kalian yang udah menyempatkan diri buat baca FF ini dan kasih review. Aku bener-bener menghargai kalian semua. Love you all~