Naruto bukan milik saya, mereka milik Masashi Kishimoto. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari ini.

.

.

.

Takut adalah sifat alami seluruh manusia di bumi. Entah itu wujud kurang ideal yang tak nyata, segerombolan makhluk tanpa mata yang mengusik atensimu. Atau hal di luar nalar yang sulit kau prediksi. Akan kuceritakan ini, cerita gelap dari lembah yang paling dalam, mengusik tidur malammu dan mimpi indahmu. Ini tentang. Hantu.

.

.

.

Poltergeist Report

.

.

.

Satu nama buatku tertarik, langkah bijak membuat penyamaran yang sederhana. Kebohongan klasik berujung maut, kepala membiru akibat terlalu lama berpikir atau asap tebal yang berupa pengkhianatan.

Hanya satu yang ingin aku tanyakan. Naruto, kenapa kau ada di sini? Apakah dia yang berkhianat selama ini? Apakah dia yang mendorongku ke dalam lembah kematian paling menakutkan?

Jadi... dia adalah Judas yang sebenarnya! Ya. Dialah sang tokoh utama dari kejahatan yang telah membius keluargaku dan Aria!

Dia orang yang paling membuatku menderita, merasa takut akibat kejadian pahit terus berdatangan bagai sebuah intrik.

Naruto, kenapa kau kejam? Kenapa kau menghukumku atas ini semua? Atas landasan dan dosa apa yang telah aku lakukan padamu?

Aku menyelidiki lebih jauh mengamati wajah si rubah dan menahan sesak di dada, aku sudah menelan banyak kepahitan, penderitaan, sadis... dan Naruto menambah ini semua ke dalam pundi-pundi di hati kecilku.

Aku mencoba berteriak untuk sebuah sensasi, waktu terasa berputar lama tidak seperti yang seharusnya. "KENAPA BISA?" Lalu setengah berteriak. "Kau kenapa?" Lalu mencoba berteriak lagi tapi aku kesulitan.

Mataku mencari-cari di mana Ayahku dan Shimura Sai, tapi sejauh mata ini mencari hanya ada kunang-kunang yang beterbangan di angkasa, menuai siksa mendalam dan aku baru sadar kalau aku menangis.

Aku mendengar suara dari pertanyaan bodoh yang terlontar refleks dari Kakak, Paman, Aria dan Sheriff, suara itu berdenging di telinga, semua tampak kebingungan dan sedih.

Seutas suara terdengar, suara Aria. "Kau penjahatnya! Kau pembawa kutukannya Uzumaki-kun!"

"Tidak, bukan begitu." Naruto menggeleng, seolah tak terima. Aku mengangkat kepala, mengusap wajah dan menatap si Rubah Licik ini.

Dasar manusia tak berguna!

Aku merutuki diri, mengutuk diriku sendiri yang bodoh hingga terjun bebas ke dalam sandiwara ini. Naruto adalah dalang yang handal.

"Kenapa kalian bisa lupa?" Sai mengangguk pelan dan berbicara sangat halus terlampau lembut, seperti berada di kandang Harimau yang mengharuskan kau diam tanpa kecuali.

Kalau soal Sai, dia memang 100 persen bukan manusia, dia hantu, arwah gentayangan, dia sesuatu yang harusnya sudah tiada. Anehnya para jemaat yang duduk melingkar itu tak menunjukkan gerak-gerik sama sekali atau tanda-tanda kehidupan. Mereka seperti sebuah patung lilin, sebuah robot dan patung kayu.

Mereka... ya! Mereka dihipnotis! Mereka di kendalikan, mereka bukan manusia seutuhnya lagi. Naruto telah mempengaruhi mereka dan Sai mengemban tugas untuk memukul jiwa manusia-manusia ini ke dalam lembah hitam terdalam, gelap dan tak terelakkan. Mereka telah diperalat, mereka telah di bodohi.

"Bukankah kau yang membuat Ayah dari Naruto-kun tewas?" Sai berbicara lagi, mengungkap sebuah fakta menyakitkan yang terdengar tolol dan tak masuk akal. Ingin rasanya kubunuh dia dengan rapalan mantra dan menyiram dia dengan air suci.

Aku yang tercengang, lalu menghardik. "Dad Minato belum mati!"

Naruto berteriak dalam emosi yang larut, wajahnya memerah akibat ledakan emosi yang di tahan. Dia melempar topi kerucut dan menampakkan wajah. Wajah sang Penjahat. "TIDAK. Dia sudah mati! Dan Ayahmu yang membunuhnya!"

"Apa? Apa maksudmu, Naruto? Sheriff—" Kulihat Sheriff Danzou menundukkan kepala, merasa bersalah entah kelelahan. Ia mengenyahkan pikiran nakal dan buruk jika di lihat dari ekspresinya atau mengabaikan bagaimana Sai mencerocos Sang Ayah dengan kalimat yang menyakitkan.

"Dia benar, nak. Minato itu sudah mati, yang kau lihat di RS waktu itu hanya ilusi dan kebohongan yang Anakku buat. Aku tidak tahu itu kalau kau tak cerita, Sas."

Aku menoleh cepat. "Kakak!"

Paman menatap sedih. "Minato-san memang sudah mati. Ini namanya dendam, Sas. Naruto membuat Kak Fugaku menjadi pengikut aliran setan ini dan Kak Fugaku akan menumbalkan kita karena itu memang peraturannya, Sas. Kau dan Aku yang tak terima, pasti akan menjadi jalan keluar agar tetap hidup dan... satu-satunya cara adalah membunuh Kak Fugaku. Itulah rencana yang sebenarnya."

Aku terdiam untuk beberapa saat, mengingat-ingat kembali apa yang semuanya terjadi. Hantu di RS, kematian Sakura dan omong kosong ini membuat hatiku bertambah sakit.

Jadi... ini semua memang sudah di rencanakan sejak awal? Kenapa aku tidak sadar? Kenapa aku tidak maju sejak awal? Aku bodoh.

Kalang kabut aku mencari ke segala arah, tampak putus asa dan kebingungan dalam tangisan yang sudah tak terbendung lagi, aku menemukan sosok yang menjadi kunci dari sikap dan kejadian ini.

Sosok Ayah.

Ayah berada di ujung dari Altar, berlutut juga menundukkan kepala layaknya sedang mengabdi pada Sang Ratu, ia seperti sedang menghadap sesuatu atau sedang diberi kekuasaan Tahta. Kakinya terantai besi padat, kedua tangannya menengadah ke atas setinggi kepala, ia membawa cawan bening berisi cairan merah yang entah apa namanya.

Ayah merapalkan beberapa mantra, aku menyebutnya begitu dari yang kuketahui. Rapalan itu terdengar bagai dawai asmara yang memukau syahdu, mengumpulkan senandung dan sebuah belaian mesra.

Di saat yang bersamaan Aria memanggil nama Ayah untuk sebuah jawaban atau membuat dia tersadar atas segalanya, tapi tak ada jawaban. Ayah tetap fokus pada ini semua dan dia tak menoleh sedikit pun atas ini.

Kakak berteriak. "Ayah! Sadarlah, Ayah! Apa yang kau lakukan ini salah! Kau tak bisa menumbalkan Aku, Sasuke, Uncle Obi atau bahkan Ibu! Ayah..."

Naruto tertawa keras dan mulai menggila, ya, dia memang gila. Sama seperti kejadian ini, aku juga sudah menjadi gila. "Jangan melawak, Itachi! Tidak ada kontrak yang bisa di batalkan, semua ada risikonya! Lihatlah, Fugaku meminta bantuan padaku untuk mendapatkan pekerjaannya kembali dan aku membantunya! Dan inilah yang terjadi."

Harta. Harta. Harta. Harta memang musibah. Terkutuklah! Terkutuklah!

"Sasuke..." Naruto memanggil, kali ini pelan dan menakutkan. "Ingatlah, jika kau tak membunuh Fugaku. Kau, Itachi dan Obito akan mati! Si Kakek Tolol ini tak dapat membantumu."

Sheriff menoleh padaku. "Sasuke, lakukan! Tidak ada waktu lagi."

Aku meraba saku celana, ada sesuatu yang terasa dingin di dalam sana, di dalam sakuku. Baru kuingat ada pisau khusus tersimpan di sana, seperti sebuah anomali. Bentuknya unik, ada relik aneh di sana. Aku tak tahu apa itu.

Aku mengamati pisau keperakkan berelik yang tipis nan tajam itu, tentu saja itu yang Sheriff berikan kepadaku, pisau yang mampu membunuh Ayah dan mengakhiri gejala ini.

Pisau kecil dengan relik aneh berwarna perak, tajam dan memiliki dua sisi seperti mata pedang. Pisau ini tampak kuat dan tak mudah rapuh walau ukurannya kecil.

Sebuah tepukan mendarat di bahu. "Sasuke!" Aria memanggil. "Jangan risau."

"Aria?"

Ia tampak berpikir. "Berikan pisau itu padaku, biar aku yang melakukannya."

"HA? A-APA? Apa kau yakin?"

Tidak. Aria tak yakin. Dia tak berniat membunuh Ayah, tapi dia berniat membu..

...nuh Naruto.

Yang tadi itu, secepat motor Aria melesat menabraki para jemaat yang duduk di sana hingga terjungkal dan sialnya tak menyerang. Gadis lincah itu melompat, melesat bagai tupai terbang dan...

Sebuah pisau tertancap di ubun-ubun, Naruto terjatuh tanpa mengucapkan kalimat terakhir. Darah bersimbah seperti satu liter air, ada lubang di kepalanya yang sangat besar dan benar sekali pisau ini tajam.

Bau amis yang bercampur ngeri mulai beterbangan. Para jemaat yang terjungkal diam dalam posisi sama. Mereka tidak bergerak. Aneh sekali.

Sheriff berteriak hampir buatku lupa. "Kitab! Ambil kitabnya!"

"Aku mengerti."

Aria kembali berlari, berusaha meraih dan mengambil kitab yang tergeletak di Altar. Tempat di mana Naruto terjatuh dan membuat serta merta Kitabnya jatuh ke lantai, berhamburan seperti bulu Ayam.

Namun...

Sebuah kilatan menyergapi, layaknya petir yang silau dan sangat memabukkan. Aku menutup mata rapat-rapat dan membuka pelan untuk sebuah eksplorasi.

Dan... yang kulihat adalah.

Kematian.

Pemandangan mustahil buatku tercekat, semua jemaat di sana berubah menjadi beringas yang tak berotak, mereka berjalan bak zombie dengan kedua tangan terulur, wajah tanpa ekspresi, suara ringkihan mereka membuatku mual.

Dalam sekejap bak angin malam, mereka mengerubungi Kakak dan Paman dengan cara yang menyakitkan. Kekuatan mereka yang Maha berhasil membuat Kakak dan Paman kewalahan tanpa perlawanan.

Jeritan, tangisan, rintihan menyemarakkan. Bau amis bermunculan seperti hujan pertama di pulau tropis.

Ketika waktu berjalan, Paman semakin digerayangi para jemaat, mereka menggigit tubuh Paman hingga bermandikan darah, tidak ada teriakan lagi yang keluar. Dia sudah tak berdaya. Hal yang sama terjadi pada Kakak dan Sheriff sudah tewas.

Ketika aku memalingkan muka akibat pemandangan ngeri ini. Aku melihat bagaimana Aria tewas, seperti yang terjadi di rumah waktu itu, tubuhnya dicabik-cabik sebuah kuku ringkih milik wanita tua.

"Sasuke, ini adalah mantra terakhir yang harus aku baca! Bersiaplah!"

"TIDAK"

Kewarasanku kembali seutuhnya.

Aku memejamkan mata rapat, berlari kencang tanpa menoleh ke belakang, melihat ke depan atau berhenti. Sai sedang membaca kitab yang aku pikir adalah mantra terakhir.

Dan di sinilah aku, berdiri di belakang Ayah dengan pisau yang sempat aku pungut. Kudekati pisau pada leher Ayah, menangis untuk yang terakhir kali yang kupersembahkan untuk Ayah.

Aku memberanikan diri menengok ke belakang, melihat jemari Paman yang bergerak sebab sekarat dan Kakak yang berteriak-teriak kesakitan.

Ini... harus berakhir.

"Selamat tinggal Ayah... maafkan aku."

Pisau tertusuk di leher, kusayat leher Ayah dengan sekali dorongan. Cairan hangat membasahi tangan, merah, semuanya merah. Debam suara terjatuh menambah kesan gaib dalam detik ini.

Seketika tubuh Sai langsung hancur bagai debu, terbang dan hilang. Para jemaat tergeletak dan menguarkan aroma busuk bagai bangkai. Aku yang lemas mencoba bertahan dengan sisa-sisa tenaga.

Namun aku salah... ini sangat sulit. Aku tak bisa bangun lagi. Apa ini berhasil?

Cahaya terang yang hangat memasuki ruangan. Sayup-sayup aku melihat bayangan anak gadis yang manis di sana. Dia meraba pipiku lalu berujar.

"Terima kasih."

"Kenapa kau berterima kasih?"

"Aku akan mengembalikan waktu dan Kak Sasuke akan melupakan kejadian ini, kuharap ini dapat membantu, Kak Sasuke."

"Tapi, kenapa?"

"Karena Kak Sasuke telah membebaskanku dan Keluargaku dari Upacara ini. Aku hantu gadis tanpa mata itu, aku sudah lelah menjadi perantara tumbal dan aku sekarang bebas!"

"Baiklah, kembalikan aku.."

"Tapi, ingatlah Kak Sasuke... aku bisa kembali kapan saja meski aku tak mau, maka jika itu terjadi, berjuanglah! Jangan malas berdoa..."

"Aku akan rajin ibadah. Kalau boleh tahu siapa namamu?"

"Namaku—"

Dan semuanya gelap...

.

.

.

Lelaki berambut sebahu melangkah santai di atas tangga, berbelok lalu membuka pintu berwarna biru. Ia tersenyum jahil, mengendap-endap dan membawa secangkir air dari nakas.

Lalu..

"BANGUN SLEEPYHEAD!"

"HOA... HWAAAAAA!"

Sebuah siraman air diterima remaja yang sedang tidur di atas kasur. Ia gelagapan dan panik. "Sialan kau Kak Itachi..."

"Hm, maaf deh maaf... oh ya, kita tak jadi pindah rumah." Senyuman itu pudar.

Sasuke tergelak. "Ha? Kenapa?"

"Entahlah, Uncle Obi ogah pindah deh. Lagi pula, dia tak mau jauh dari Aria-chan..."

Sasuke merengut kesal. "Gitu? Hanya itu saja seharusnya kau diam saja, beruk!"

"Ya. Tapi syukurlah, Ayah tak dipecat oleh Minato-san. Minato-san sudah mengakui kesalahannya dan dia mau memaafkan Ayah. Duh, padahal Ayah dendam sekali padanya dan berniat membunuhnya."

"Ayah kalau marah semuanya lupa. Dia bisa bertindak gegabah, untung Paman bisa menengahi..."

"Taaa, tapi kita tak jadi pindah, Sas..."

Sasuke memandang remeh Itachi lalu tertawa aneh. "Ya, syukurlah kita tak pindah rumah itu yang terpenting."

"Kenapa? Rumah itu bagus padahal, aku sudah lihat brosurnya."

"Rumah baru biasanya banyak setannya, kecuali kalau kau fetish setan."

"Oh, ngomong-ngomong berita pagi ini ada-ada saja deh. Katanya ada anak dari Sheriff mati di sungai."

"Hm... kasihan."

"Sudah baca novel milik Aria-chan? Rumahnya sama loh seperti yang ada di novel it-"

"Aku tidak peduli dengan novel, Kak. Lagi pula ini hari Minggu. Apa pula kau mengganggu hariku? Pergi sana, sialan!"

Seharusnya Sasuke merasakan liburan gratisnya hari ini. Tapi dia di ganggu oleh Itachi dan tentunya berita aneh soal temuan mayat, Sasuke tidak peduli dan tak mau tahu. Kecuali, pada sebuah panggilan telepon tanpa nama yang datang ke ponselnya, ia mengangkat malas.

"Setan! Bisakah kau tak mengangguku?"

Sasuke mengkeryit, suara gemerisik monoton dari angin yang dia dengar, bukan sebuah timbal balik yang baik. Merasa di permainkan, ia berteriak lagi, kali ini lebih keras dan kasar. "Woy, jawab, tolol!"

"Maaf, Sas ini aku..."

"Aku? Aku siapa?"

"...aku, Shimura Sai."

Dan di bawah sana tiba-tiba Itachi berteriak karena TV nya meledak.

.

.

.

"Apa semua ini berakhir? Mungkin saja. Tapi ketahuilah beberapa hal. Setan itu abadi dan keabadian adalah hadiah..."

"Jadi, kau masih ingin berkeliaran?"

"Aku tidak berpikir begitu..."

.

.

.

TAMAT

.

.

.

Tapi tidak pernah berakhir.

.

.

.

.

Ada yang nanya apakah saya penggemar Obito? YES. Saya suka sama Obito dia adalah tokoh utama di kisah yang dia buat sendiri :'D

Oh buat yg gak tau, timeline balik lagi ke awal sebelum Sasuke pindah dan dia gak jadi pindah soalnya Ayahnya gak jadi dipecat, so semua masih hidup.