Chap9. Rahasia Lain
Terlihat dengan sengitnya mobil tipe Bullet dengan Premier tengah susul menyusul di antara banyaknya tipe-tipe mobil lain. Kedua kendaraan beroda empat ini tampak melintasi jalur jalanan beraspal yang cukup kinclong akibat hujan deras yang mengguyur.
Aksi kejar-kejaran ini pun bertambah seru ketika dirasa sirene-sirene mobil polisi mulai terdengar menemani suara hujan. Tak ingin tertangkap sama saja perlu tancap gas, maka si Premier melaju dengan menggunakan speed boster, mengejar si Bullet yang masih perlu charging kekuatan.
Sebuah bendera persegi panjang bermotif kotak-kotak hitam putih terlihat di ujung sana. Dan begitu Premier melewatinya, maka berakhirlah sudah sesi balapan kali ini, sodara-sodara.
"Yeay...!" Yuuichiro berjingkrak kegirangan ketika tahu jika dirinya pemenang dalam sesi kejar kebut mobil-mobilan kali ini.
"Bangga kau, bocah! Baru menang sekali saja sudah bangga.." ledek Guren yang tengah duduk bersila di samping anaknya.
"Setidaknya bisa menang, daripada tidak sama sekali.."
"Yaa.. Lima banding satu, kau tetap kalah telak, nak.."
"Kamu menyebalkan!"
"Memang.."
Yuuichiro langsung duduk diam sambil cemberut. Mengamati bokapnya yang tengah utak atik game, atau lebih tepatnya, lagi main khusus bagian story, bukan player versus player seperti sebelumnya. Manik hijau itu kemudian melirik ke arah jam dinding.
Sudah pukul 3.47 PM
Yuuichiro kembali menatap si Guren, "Aku lapar.." ucap bocah ini tiba-tiba.
"Sama kalau begitu.." balas Guren sambil masih terus asyik bermain game.
"Apa mama tak jadi datang?"
"Mungkin tidak.."
"Katanya mau ngajak ke Angel Pine..?"
Guren terdiam, mata melirik ke arah lain. Iya ya, akhir minggu katanya Mahiru hendak mengajak mereka berdua. Tapi kenapa akhir-akhir ini wanita itu tak pernah sekali pun menghubungi, terakhir kali sih pas Guren ada di taman. Itu sekitar tiga hari yang lalu.
Bahkan kalau boleh jujur, Guren juga tak pernah melihat keberadaan kekasihnya di kampus. Lalu ke mana wanita itu?
"Mungkin tidak jadi.."
Yuuichiro mendengus, seperti tidak puas dengan balasan dari Guren yang singkat-singkat begitu.
"Kenapa tidak kamu hubungi dia?" bocah ini mengganti topik pembicaraan, walau masih sama saja sih sebenarnya.
"Untuk apa?"
"Katakan jika kamu rindu.."
"Mana mungkin!"
Guren itu suka membohongi perasaannya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Sikap pria Ichinose ini memang cuek dari sononya. Yuuichiro sendiri juga tak habis pikir, Guren sama Mahiru itu pasangan kekasih, bahkan status sudah seperti orang tua yang memiliki anak, kok bisa-bisanya gitu tak saling peduli satu sama lain.
Kemungkinan Mahiru masih peduli, lah kalau Guren?
"Kalian itu serius pasangan bukan sih?" Yuuichiro bertanya.
Manik ungu kelam melirik datar, "Apa kamu mulai tertarik dengan kisah romansa?"
Bocah itu kesusahan menelan air liur, "Bu- bukan begitu.. Hanya saja 'kan, aku anak kalian. Wajarkan jika aku bertanya tentang hubungan orang tua..?"
"Haha.." pria itu sedikit terkekeh, "Tak ada yang menarik dari kisahku dan Mahiru, kau tak perlu mengetahuinya, nak.." ucapnya kembali fokus sama game.
Yuuichiro memperhatikan raut ayahnya. Guren sedikit tersenyum kecil, mungkin dirinya tengah mengingat-ingat masa lalu, tapi di balik senyum kecil itu tersirat juga sedikit penderitaan bahkan penyesalan. Yuuichiro sebenarnya tak pandai baca-baca pikiran orang dari raut wajah, tapi boleh 'kan dirinya berpikir demikian?
Entah kenapa, bocah ini jadi makin penasaran sama hubungan percintaan Guren serta Mahiru. Apa lebih baik tanya sama ibunya saja ya? Barangkali wanita itu mau menceritakan tentang masa lalu mereka?
Yuuichiro menghela nafas singkat, kemudian kepala tak sengaja menoleh ke belakang, menyadari akan kehadiran seseorang. Di sana ada Mahiru, tengah mengendap-endap masuk ke dalam apartemen. Oh iya, Mahiru 'kan punya kunci cadangan apartemennya Guren, wajar saja 'kan jika wanita itu bisa masuk sesuka hati.
Sadar jika Yuuichiro sudah mengetahui dirinya, Mahiru meletakkan jari telunjuk di bibir, mengisyaratkan agar bocah itu tetap diam. Yuuichiro bungkam, mata sesekali lirik bokapnya yang masih saja fokus kejar-kejaran sama polisi.
Mahiru berjalan dengan perlahan, kemudian ketika wanita itu sudah tepat di belakang Guren, ia langsung saja memeluk pria itu dengan gemasnya.
"Gureenn..." panggil Mahiru dengan suara lembut.
"Adoohh.." Pria itu tersentak kaget, "Sial, Mahiru! Misiku jadi gagal tuh loh!"
Terlihat dengan jelas di layar televisi tertulis 'Mission Failed', bahkan player-nya juga tertangkap hingga masuk ke dalam penjara. Yuuichiro sweatdrop.
"Iih, apa sih yang lebih penting antara aku sama game?" rengek wanita itu masih memeluk kepala kekasihnya.
"Mahiru, berhenti memeluk! Kepalaku nyelip di dadamu, tahu!"
Yuuichiro makin sweatdrop.
"Ups.." Mahiru melepaskan pelukkannya, "Maaf, ntar malah keenakan kamunya lagi.." ucapnya sembari tersenyum manis.
Guren segera membenarkan posisi duduknya, lanjut mengurus segala kegagalan dalam game.
"Ma.., papa jahat tak memberikan aku makan.." Yuuichiro akhirnya buka suara.
"Astaga! Guren mah tega, anak kelaparan malah didiemin aja!" bentak wanita Hiiragi itu, namun yang dibentak cuek-cuek saja.
"Mikirin makan buat diri sendiri saja tak kesampean, apalagi mikirin orang lain.." balas pria itu sekenanya.
Mahiru mendengus tak suka.
"Tapi tenang saja, untungnya mama kemari membawa makanan.." Wanita itu bergerak mengambil tasnya dan mengeluarkan kotak bekal dari dalam sana.
Yuuichiro sedikit terkejut, takut jika itu kotak isinya makanan buatan mamanya sendiri. Kalian ingat 'kan jika Mahiru itu agak-agak tak jago memasak?
Guren sih cuma ngelirik sambil bergumam 'Mampus loe..' ke arah anaknya sendiri.
Mahiru duduk manis di samping anaknya, membuka kotak tersebut dengan semangat. Penampilannya sih memang cantik, beberapa daging dengan hiasan daun-daun selada serta cairan saus atau mungkin mayonaise terletak di dalamnya. Guren sama Yuuichiro entah kenapa kepengen ngiler.
"Itu kamu yang buat?" Guren bertanya.
"Yup..! Latihan selama beberapa hari.."
Wanita itu menusuk salah satu daging dengan garpu, mencocol sedikit dengan saus serta mayonaise, kemudian menyodorkannya ke arah Yuuichiro.
"Selamat menikmati.." ucap pria Ichinose sembari kembali fokus bermain.
Yuuichiro menatap ragu. Akan kah ini aman atau tidak?
Mahiru sih sudah senyam-senyum saja, yakin sekali jika anaknya itu akan membuka mulut dan memakan hasil jerih payahnya.
Bocah itu terdiam, padahal dalam hati sudah komat-kamit membaca mantera agar dirinya baik-baik saja. Baiklah, ini sudah keterlaluan. Untuk apa juga pake baca mantera segala? Apa Yuuichiro tidak percaya dengan masakan ibunya?
Dengan reluctant-nya, Yuuichiro akhirnya mau buka mulut dan menerima makanan yang telah diberikan Mahiru. Wanita itu tampak senang. Daging di dalam mulut tak langsung ditelan bocah itu. Pertama diemut dulu, merasakan tekstur luarnya. Perlahan mulai mengunyah dan menelannya. Lalu..
Yuuichiro terbengong sebentar, sambil kedip-kedip. "Ini.. ini enak.." ucap bocah itu pelan.
Guren tersentak kaget, "Masa iya?"
"Huhu, kau mulai meremehkan keahlianku ya?" Mahiru merespon sembari memakan sendiri makanannya. "Sudahkan? Sisanya untukku.."
"Aku mau lagi.." Yuuichiro merengek meminta.
"Sial, jika enak, berikan juga padaku.." Guren melupakan gamenya, ikut mendekati Mahiru, pengen disuapin juga.
"Wee, apa-apaan kalian?" Mahiru mengangkat kotak makanan yang ia bawa tinggi-tinggi, seperti tak ingin membagi gitu.
Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Tiba-tiba saja, hari menjelang hampir malam, bahkan jam sudah menunjukkan pukul 6.17 PM
Saat ini, lakon utama kita, Guren Ichinose maksudnya, tengah tidur-tiduran dengan santainya di sofa ruang tengah. Tangan di letakkan di atas perut sedangkan kepala sudah tertutupi oleh sebuah majalah otomotif.
Mahiru serta Yuuichiro nampak asyik sendiri dengan game battle-battle, bukan game balapan seperti yang dimainkan Guren sebelumnya. Nampak dengan jelas jika Mahiru menggunakan seorang wanita kantoran, sedangkan Yuuichiro menggunakan seorang remaja SMA.
Pertarungan ibu-anak ini cukup sengit, atau malah seru. Guren sendiri bahkan sampai terganggu lantaran kedua orang itu ribut teriak-teriak hajar sana, hajar sini.
Guren mengangkat sedikit buku di kepalanya, melirik ke arah kekasih serta anaknya, kemudian beralih ke arah jendela, melihat hari di luar sana yang sudah petang.
"Hei.." pria itu memanggil, seperti ingat akan sesuatu.
Yang dipanggil tak menyahut, masih sibuk dengan game. Guren mendengus, namun lanjut berkata. "Bukannya kita mau pergi ya?"
Seketika permainan terhenti.
Mahiru mengedipkan kedua matanya sedangkan Yuuichiro ikut kedip-kedip juga.
"OH IYA! Aku lupa!" teriak Mahiru sembari bangkit dari duduk santainya. "Gimana nih? Hari sudah malam?"
"Ya sudah, batalkan saja.." balas Guren santai sambil balik tiduran lagi.
"Aah, aku bodoh bisa sampe lupa seperti itu.." Mahiru malah menjambak-jambak rambutnya sendiri, mirip kayak orang frustasi. "Yuu, maafkan mama ya.."
Yuuichiro mengangkat wajahnya, menatap si wanita Hiiragi. "Ah, iya.. Tak apa kok.."
"Gureenn..! Kenapa tak mengingatkan tadi!?" kali ini Mahiru malah merengek ke arah kekasihnya.
"Loh? Aku saja baru ingat.." terang Guren santai.
Mahiru menggembungkan pipinya, agaknya lagi kesal-kesal sedikit.
"Sudah lupakan saja.. Lain waktu juga bisa 'kan?" ucap pria Ichinose sembari melirik Mahiru. "Hei.." pria ini langsung terduduk dari posisi tidurannya, "Mahiru, kamu mimisan..?" tanyanya tiba-tiba.
"Eh?" Mahiru tampak terkejut.
Yuuichiro segera menolehkan kepalanya, menatap ke arah wanita Hiiragi, dan memang benar, setitik darah nampak mengalir dari lubang hidung ibunya. Mahiru menggunakan tangan kanan, menyentuh sendiri daerah hidungnya.
"Kamu kenapa?" Guren sedikit khawatir, segera menghampiri kekasihnya yang masih diam berdiri, namun wanita itu malah menjauh.
"Eng.., tidak.. Ini bukan apa-apa.." Mahiru dengan serampangan mengelap hidungnya dengan lengan pakaian. "Aku akan bersihkan ini sebentar.." Wanita itu segera pergi dari hadapan kekasih serta anaknya, pergi menuju toilet yang terletak di dekat dapur.
Suara air mengalir terdengar ketika wanita itu sudah menghilang di balik pintu. Guren mendengus sejadinya, walau hati sedikit khawatir dengan kekasihnya itu.
"Apa dia sakit?" Yuuichiro bertanya.
Tak tahu, Guren hanya menggeleng kepala pelan.
Setelah sekian menit, Mahiru akhirnya keluar dari toilet dengan senyum sumringah menghiasi wajahnya.
"Hehee.."
Guren menatap bosan, "Apaan tuh? Tiba-tiba malah senyam-senyum.."
"Kalian pasti mengawatirkanku ya?" tebak wanita itu kemudian. Tak ada jawaban, Guren serta Yuuichiro lebih memilih bungkam. "Tenang, aku baik-baik saja kok.. Hanya sedikit kepanasan, lalu sekarang.." manik coklat kemerahan itu jelalatan.
Guren enggak salah duga, namun cara bicara Mahiru sedikit kaku, seperti tengah menyembunyikan sesuatu begitu.
"Aku harus pulang.." ucap wanita Hiiragi sembari mengambil tasnya yang tergeletak di atas sofa.
"Mama yakin baik-baik saja?" Yuuichiro jujur, entah kenapa malah khawatir sendiri.
"Iya, mama baik-baik saja kok.." Mahiru mengacak-acak surai gelap bocah itu.
"Aku antar.." Guren menimpali.
"Wops, tidak bisa! Aku bawa mobil sendiri.. Kamu tak perlu repot-repot, sayang.. Sudah-sudah, aku harus segera pulang.."
Mahiru melangkah menuju pintu, agak sedikit tergesa-gesa, tak sadar membuat dirinya malah hampir ambruk dengan sendirinya. Guren langsung saja ambil langkah cepat, menyangga kekasihnya agar tak serius jatuh ke lantai.
Wanita itu membelalakkan matanya yang sedikit berair, wajah entah kenapa nampak resah bahkan berkeringat dingin.
"Kamu tak baik-baik saja, Mahiru.." ucap Guren sekenanya.
"Tidak, aku baik-baik saja.." Mahiru melepaskan tangan Guren dari dirinya. "Aku harus pulang.." wanita Hiiragi segera berlari keluar apartemen.
"Hei!"
Rencana Guren mau menyusul, namun Mahiru sudah menghilang duluan di balik tembok. Pria itu mendengus pelan, berpikir sebenarnya ada apa dengan kekasihnya?
-[xXx]-
Keesokkan harinya, Guren melangkah dengan sedikit tergesa-gesa di lorong kampus. Agaknya pria ini telat lantaran semalam tak bisa tidur dengan nyenyak, otomatis, paginya bakal bangun kesiangan toh?
Memang apa yang dipikirkan Guren sehingga pria ini tak dapat tidur dengan tenang? Yah, kalian tahu sendiri 'kan mengenai apa yang terjadi dengan kekasihnya itu?
Yuuichiro saja sampe terbingung-bingung, tumben-tumbenan gitu bokapnya itu menaruh rasa khawatir yang amat sangat terhadap emaknya. Biasanya juga cuek?
"Hei, Guren!" sapa pria tinggi tegap bersurai kuning yang sudah menepati bangku dalam kelas kali ini. "Sini-sini!"
Kalian masih ingat dengan Norito 'kan?
Nama lengkapnya sih Norito Goshi, dia ini salah satu teman Guren sejak duduk di bangku SMA. Entah alasan apa yang membuat mereka berteman. Lalu ada juga si Mito, lengkapnya Mito Jujo. Sama halnya dengan Norito, mereka sudah menjadi teman sejak SMA, tidak tahu ceritanya seperti apa.
Guren mendengus ketika melihat Norito serta Mito, dalam hati mengutuk kenapa juga hari ini dirinya harus satu kelas dengan dua makhluk itu?
"Tumben agak telat kau, Ichinose.." ucap Mito, nada suaranya sedikit ketus, yah mungkin bawaan dari sananya.
"Memang apa peduli kalian jika aku datang cepat?" balas Guren malah bertanya setelah dirinya menepati bangku kosong di belakang Norito.
Norito mengubah posisi duduknya agak miring, supaya bisa melihat ke belakang. "Yah, untungnya sih kau masuk sebelum dosen datang, jika tidak, wuhuu.. Terkunci sudah kau di luar kelas.."
Ya memang benar, dosen untuk mata kuliah kali ini memang sangat mejengkelkan. Sekalinya mahasiswa/mahasiswi datang telat, maka si dosen akan mengunci kelas dari dalam dan tak akan membiarkan mahasiswa/mahasiswi masuk apa pun itu alasannya. Memang menjengkelkan.
Guren menghela nafas singkat, perkataan Norito barusan ada benarnya sih. Beruntung dirinya datang tepat waktu. Pria ini menopang dagu, kemudian mengalihkan pandangannya menatap ke luar jendela.
"Hei, jadi ceritanya kamu sudah punya anak nih?" Mito yang duduk di seberang Norito sedikit melirik ke arah Guren.
"Apa anak!?" Norito nampak terkejut, agaknya tak tahu apa-apa.
"Huh? Dari mana berita itu?" Guren agaknya sedikit kesal.
Siapa juga orang yang seenaknya sebar-sebar kehidupan tentang dirinya. Perihal Yuuichiro yang belum resmi jadi anaknya 'kan hanya Mahiru serta Shinya yang tahu.
Tunggu dulu! Shinya?
"Sial, pasti orang itu.." pria Ichinose bergumam sendiri.
"Tunggu dulu, aku sama sekali tak tahu.. Maksudnya kamu sudah buat anak gitu sama Mahiru?" tebak Norito asal-asalan.
"Bukan, tolol! Itu cuma anak angkat!" semprot Mito ke arah pria bersurai kuning di sampingnya.
Norito berkedip sekali dua kali, "Oh.., anak angkat.. Kirain beneran bikin.." ucapnya kemudian menghela nafas.
"Kau kenapa sepertinya lega begitu?" tanya Guren agak curiga.
"Ha? Aku hanya mewakili perasaannya Mito, gitu-gitukan dia sedikit menaruh hati padamu.." balas pria Goshi sembari angkat-angkat alis.
"Sembarangan!" Semburat merah entah kenapa menghiasi wajah wanita Jujo.
"Haha.." Norito tertawa renyah, mengembalikan posisi duduknya jadi menghadap depan ketika dirasa dosen sudah datang.
Ngomong-ngomong, Shinya serta Mahiru tak kelihatan? Apa mereka kali ini beda kelas dengan Guren? Ah, sudahlah..
Guren kembali menopang dagu menatap ke luar jendela. Setelahnya, selama pelajaran dimulai, pria ini sama sekali tak fokus dan malah berujung dengan ketiduran hingga jam kuliah usai.
Awalnya Norito berencana untuk meninggalkan si pria Ichinose, namun Mito menahan, gitu-gitu sebagai teman tak baik itu meninggalkan, betul?
"Rupanya kau memang menyukainya.." ucap Norito asal-asalan.
"Bukan begitu, idiot!" Mito membentak, kali ini pake menginjak kaki pria di sampingnya, membuat si korban injakkan merintih sambil loncat-loncat memegangi kaki. "Heh, Guren tukang tidur! Bangun!" Wanita bersurai merah itu menggoyang-goyangkan tubuh Guren.
Pria itu bergeming, agaknya kalau sudah ngebo emang susah sekali untuk disadarkan.
"Cium aja.." Norito lagi.
"Diam kau! Gur, bangun, Gur! Elu pengen jadi penunggu kampus nih ceritanya?" Mito enggak sengaja pake bahasa gaul.
Akhirnya si pria Ichinose membuka sedikit sebelah mata, melirik ke arah dua manusia yang berada di hadapannya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Guren enggak pake dosa.
"Jam 5 sore, baby.." balas Norito yang langsung mendapat tatapan sinis dari wanita bersurai merah.
"Oh.." Guren menegakkan tubuhnya, menggerak-gerakkan tangan serta leher. Tidur di atas meja itu membuat seluruh badannya terasa mati rasa. "Ya sudah, aku pulang.."
Pria ini segera bangkit berdiri, membawa tasnya kemudian melangkah keluar.
"Hei hei, tunggu dulu!" Mito menyusul, menyamakan langkah kaki mereka. Norito ngikut aja di belakang. "Ada tugas dari dosen.." Wanita ini menyerahkan beberapa lembaran kertas.
Guren melirik ke arah Mito, "Tumben kamu perhatian.." ucapnya malas sembari menerima lembaran kertas tadi.
"Ah, ung, itu.. Memang lagi kebetulan.." balas Mito sembari membuang muka. "Oh ya, kau tak ada rencana mengenalkan kita dengan anakmu?"
"Ha?" Guren melongo, "Untuk apa?"
"Yaa, bukan untuk apa-apa sih.."
Guren terdiam, menatap lurus ke arah wanita yang tentunya lebih pendek dari dirinya. Sedangkan yang ditatap, nampaknya tengah berusaha untuk mencari-cari pemandangan lain, supaya tak langsung bertatapan muka dengan Guren.
Jangan ditanya apa yang dikerjakan Norito Goshi. Pria ini malah lagi asyik menyaksikan drama romansa di hadapannya, sambil sesekali korek-korek hidung. Oke, lupakan soal Norito.
Pria Ichinose menghela nafas, "Hari ini kamu aneh, Mito.." ucapnya sembari berlalu pergi.
Seriuslah, selama berteman, bahkan Guren tak pernah mengakui jika mereka teman. Wanita bernama Mito itu tak pernah sampe segitunya menaruh rasa perhatian terhadap Guren, malah biasanya, wanita itu selalu mengolok-olok juga membentak.
Lalu kali ini, Guren tentunya curiga 'kan jika Mito perhatian banget sama dirinya?
Mito membelalakkan matanya, kemudian menatap ke arah kepergiannya Guren.
"Cih.., aku seperti ini juga karena khawatir denganmu, bodoh!" gumam wanita ini pelan.
"Ya, tapi khawatirmu itu berlebihan.." Norito menanggapi sembari melangkah perlahan mendekati wanita Jujo.
"Aku hanya kasihan dengannya.."
Norito mengangkat alis, maniknya menatap bosan ke arah menghilangnya Guren.
"Kasihan?"
"Iya, kasihan! Apa kamu tak merasakannya!? Kau juga ambil bagian dalam permainan ini 'kan? Malah kau peran utamanya!" bentak Mito dengan kasar.
"Ahaha, begitu ya? Hmm, kita lihat saja nanti.. Lagipula, Guren itu tak suka jika dikasihani, jadi jangan terlalu peduli dengan dirinya deh.."
Mito cemberut, "Ini reaksi wanita! Jika aku diposisinya, aku tentu akan sangat terluka sekali.."
"Ya, bersyukurlah kau tidak berada diposisinya.."
Mito mendengus sebal, "Sudahlah, berbicara denganmu memang menyebalkan!" wanita ini melangkah mendahului dengan langkah lebar.
"Hei!" Norito merentangkan tangannya, "Ini reaksi pria! Wajar dong jika aku cuek..?"
Chap9. END
-[xXx]-
.
.
.
Sekian kisahnya untuk kapter kali ini. Terima kasih untuk kalian yang bersedia membaca dan meluangkan diri mereview. Mohon maaf bila ada kesalahan tulis. hehee... ngomong-ngomong, sudah berapa lama story ini enggak lanjut? setahun lebih ya? kira-kira masih ada yang ngikutin enggak?
aku akan jujur saja kalau aku mulai main mood kalau mau ngelanjutin fanfiksi. sori ya untuk para pembaca.
Berkenan memberikan kesan pesan? Kritikan sekalian?
.
.
.
.
.
Preview Chap10. Angel Pine
"Oh, astaga... Apa kehadiranku ini tak diharapkan?"
"Anak kecil itu tahu mana orang baik dan mana orang jahat,"
"Ngapain kamu ke sini? Hendak merebut kekasih serta anakku, ya?"
"Memang mau pergi ke mana sih?"
"Seriusan nih? Tempat ini seperti kota hantu saja..."
"Awas!"
"Kyaaa..., Shinya!"
"Oh, shit, apa-apaan nih!?"
