Chapter 8 : I Afraid
.
.
"Eh, aku dengar kalau Oh Sehun siap mengemban tugas sebagai ketua OSIS lagi!" jerit salah seorang siswi yang kini sedang berkumpul dengan gerombolannya, tepat di depan meja Jongin.
Jongin nyaris menendang bangku gadis itu karena dengan seenaknya dia mengganggu tidur siangnya (pada jam istirahat yang sebentar lagi berakhir). Namun, begitu ia mendengar nama Sehun dan informasi yang menurutnya menarik itu. Ia memutuskan untuk menahan dirinya dan menguping. "Serius? Ah, akhirnya! Kudengar Sehun mengundurkan diri sebagai ketua OSIS karena dia galau diputuskan oleh kekasihnya,"
Jongin menggertakkan giginya. Gosip murahan. "Aww, aku yakin dia sangat mencintai kekasihnya itu. Sehun memang boyfriend goals banget," lalu, beberapa gadis lainnya menyetujui perkataan temannya itu dan terus mengomentari betapa hot dan sempurnanya Oh Sehun. Jongin seperti mendengarkan lagu heavy metal yang lama-lama membuat telinganya berdarah. Rasa cemburu mulai menggerogoti dirinya membuat ia sampai mengepalkan tangannya sendiri guna menahan gejolak itu.
"Hei, aku tahu kau tidak tidur," bisik Cal tepat di samping telinganya. Jongin sampai terperanjat kaget dan segera menjauhkan dirinya dari bajingan berwajah lurus itu. Shit, Cal sama sekali tidak memasang wajah bersalah.
"What the, heck bro? Kau mengagetkanku,"
"Setidaknya, aku tidak pernah membohongi sahabatku sendiri," Cal mengatakan sindiran itu dengan tenang. Sangat tenang, malah. Jongin mengernyitkan dahinya. Ia tahu kalau sindiran Cal itu tidak main-main.
Sekumpulan gadis di depan mereka kini berhenti bergosip tentang Sehun dan mulai memperhatikan Cal maupun Jongin yang mengirimkan aura-aura tidak bersahabat seperti biasanya (terutama dari sisi Cal). Tidak hanya mereka saja, melainkan seluruh murid di dalam kelas mulai menengok ke belakang untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa siswa yang membenci gerombolan Jongin berharap kalau Cal akan meninju wajah menyebalkan Jongin dan memulai perpecahan di dalam kelompok mereka.
"Maksudnya? Aku tidak mengerti dengan sindiranmu. Jadi, lebihbaik terus terang saja," Jongin tidak peduli dengan suaranya meninggi. Ia paling tidak suka dipanggil pembohong, apalagi disaat ia tidak menutupi kebohongan apapun dari sahabatnya sendiri.
Cal berbalik ke belakang mendapati kalau semua orang sedang memperhatikan mereka sekarang. "Tidak di sini. Ayo, ke tempat biasa," Cal menyiratkan basecamp mereka yang berada di belakang sekolah. Jongin menganggukkan kembali, lantas mengekori Cal di depannya dan mengedarkan tatapan menusuk pada siapapun yang menatap ke arahnya. Semua orang tahu ancaman macam apa yang dilemparkan Jongin lewat matanya. Ancaman yang bermakna kalau sebaiknya mereka tidak ikut campur atau kepo terhadap masalahnya dan Cal.
Dan mereka semua mengerti. Tidak akan ada yang ikut campur atau ingin mencari tahu. Namun, bukan berarti kalau apa yang mereka lihat ini tidak akan menjadi gosip panas yang akan menyebar dengan sangat cepat ke seluruh penjuru sekolah. Tidak sampai setengah jam, berita tentang pertengkaran Cal dan Jongin menjadi bahan obrolan utama di sekolah. Bahkan, Sehun yang cenderung mengurung dirinya di ruang OSIS untuk mengejar ketertinggalannya terhadap program OSIS yang baru mendengar berita tersebut. Sehun hanya menanggapi berita itu dengan angukkan kepala serta wajah datar.
Apapun masalah yang Jongin miliki dengan temannya adalah masalah pribadi pemuda itu. Kecuali, jika Jongin mengizinkannya untuk ikut campur. Maka, itu menjadi masalahnya juga.
Sementara itu, di sisi lain Cal memojokkan Jongin di belakang sekolah tampak seperti akan menghajar Jongin habis-habisan. Jongin tidak tahu apa masalah Cal padanya. Namun, jika Cal akan menyerangnya entah itu dengan kaki atau tangannya. Ia bersumpah tidak akan Cal membiarkan Cal melakukan apa yang pemuda itu ingin lakukan padanya. Karena Jongin telah memegang teguh satu prinsip di dalam dirinya; ia tidak akan pernah melukai orang-orang yang disayanginya.
"Kau dan Sehun, hubungan macam apa yang kalian berdua miliki? Kekasih? Patner seks? Sahabat? Atau apa? Aku perlu penjelasan darimu," tuntut Cal padanya.
Jongin membeku di tempat. Darahnya berdesir lebih cepat begitupun jantungnya. Ini terlalu dini untuk mengakui hubungan macam apa yang dimilikinya dengan Sehun. Cal tidak akan pernah mengerti dan setuju kalau ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, ia juga tidak ingin membohongi sahabatnya dan menyembunyikan Sehun dari salah satu orang yang paling berharga dalam hidupnya. Jongin menarik nafas panjang. Ia tahu cepat atau lambat ia akan mendengar pertanyaan ini dilontarkan padanya.
"Kami... semacam.. umm.. pacaran?" Jongin tampak ragu. Karena sesungguhnya ia sendiri belum menegaskan hubungan macam apa yang dirinya miliki dengan Sehun. Mengingat, pemuda itu bukan master atau dominant-nya lagi.
Alis Cal terangkat sebelah. "Oke, aku akan menganggap kalau ia adalah patner seks-mu," dan sebelum Jongin sempat protes, Cal segera melanjutkan perkataannya, "yang jadi masalah mengapa kau tidak pernah memberitahu hal ini padaku? Apa kau malu atau tidak percaya padaku? Fuck, Jongin aku tidak peduli kau berhubungan seks dengan Sehun atau pemuda manapun. Aku tidak akan pernah menghakimi sahabatku sendiri, sekalipun kau berhubungan seks dengan domba. Asal kau tidak mengajakku untuk threesome saja, maka aku akan berpura-pura tidak tahu. Lagipula, itu bukan tugasku untuk menghakimimu. Itu tugas fans Sehun yang akan membakarmu hidup-hidup,"
Jongin nyaris tersentuh dengan kata-kata busuk sahabatnya itu. Ia juga nyaris memeluk Cal yang berdiri dengan postur tubuh agak membungkuk yang menunjukkan kalau ia tidak mau berpura-pura kalau ia tidak kecewa pada Jongin. Cal benar-benar kecewa padanya, begitupun dengan dirinya sendiri. "Aku minta maaf," gumam Jongin sambil menggaruk tengkuk lehernya. Sepertinya, ia harus terbiasa mengucapkan tiga kata itu mulai sekarang.
Cal baru empat kali mendengar seorang Kim Jongin mengatakan kata maaf seumur hidupnya. Sehingga, momen yang cukup langka ini harus segera ia abadikan sebelum terlewat begitu saja. Cal merogoh saku celana seragamnya dan mengeluarkan ponsel Iphone seri pertama yang tidak berhenti Jaehyun hina. "Bisa kau ulangi lagi? Aku ingin menjadikannya ringtone ponselku,"
Jongin membalas cengiran khas Cal dengan senyuman lebar. Ia memberikan Cal jari tengahnya lalu memukul belakang kepala bajingan itu. Setelah itu, Cal mengaduh meminta ampun dan "pertengkaran" yang seharusnya berlangsung lama itu berlalu secepat gosip tentang "pertengkaran" mereka menyebar.
"Tapi, serius, kalau Sehun melukai hati atau penismu. Aku akan menjadi orang pertama yang menenggelamkannya di Sungai Han," ancaman Cal itu terdengar konyol, tapi tidak main-main. Cal menatapnya dengan serius membuat Jongin harus menekan perutnya sendiri untuk menahan tawa. "dan juga, aku tidak akan menuntut dirimu untuk menjelaskan hubungan macam apa yang kau miliki dengan Sehun karena itu bukan tugasku sebagai sahabat."
Jongin hanya menganggukkan kepala. Ia tahu kalau ia bisa mengandalkan Cal yang terkadang bisa menjadi figur ibu dan ayah yang tidak pernah Jongin dapatkan selama beberapa tahun terakhir ini. Tanpa dirinya sadari, ia sudah memeluk Cal erat dan tidak berniat untuk melepaskannya.
Chanyeol, Jaehyun dan Woobin datang bersama sekitar sepuluh menit kemudian. Mereka tampak cemas serta tertipu oleh gosip murahan yang menjadi trending sekarang. "Persetan, kita termakan gosip lagi, bro! Padahal, aku setengah berharap menemukan kalian terkapar di sini seperti film-film silat itu," Jaehyun menunjukkan kekecewaannya dengan meninju biceps Chanyeol dan mendapat tatapan sangsi dari temannya itu.
Cal terbahak keras bersama dengan Woobin. Sementara, Jongin hanya menatap Jaehyun dengan aneh. Namun, kemudian ia tertawa layaknya orang kerasukan. Hanya Chanyeol yang tampak terhibur dengan kekecewaan konyol temannya itu dan masih merasa cemas seperti sebelumnya. "Kalian tidak apa-apa, kan? Pertengkaran kalian itu cuma gosip, kan?" tanya Chanyeol membuat tawa mereka semua terhenti.
Cal melirik ke arah Jongin yang balas melirik ke arahnya. Mereka kemudian sama-sama menggelengkan kepala dan saling melempar senyum kecil pada satu sama lain yang bagi Chanyeol menyimpan sebuah rahasia. Apa ini ada hubungannya dengan Sehun? Tiba-tiba saja, percakapannya dengan Cal tadi pagi terlintas di dalam pikirannya. Jadi, Jongin sudah mengakui hubungannya dengan Sehun pada Cal. Oke, itu berita yang cukup bagus.
"Karena berita itu ternyata cuma gosip murahan belaka. Bagaimana kalau kita membuat gosip lain yang benar-benar nyata saja?" celetuk Woobin membuat seluruh pasang mata tertuju padanya.
"Maksudnya?" Cal tampak tertarik dengan ide temannya itu.
Woobin menyeringai lalu mulai menjelaskan kalau nanti malam ada pesta di rumah salah satu anggota oleh kelompok saingan mereka dari sekolah lain dan untuk mengubur gosip tentang perpecahan di dalam kelompok mereka, mereka harus membuat ulah atau mengacaukan pesta itu. Jaehyun segera menganggukkan kepala, disusul oleh Cal dan Jongin yang sudah lama tidak mengacau, sementara itu Chanyeol masih memikirkan pro dan kontra di dalam kepalanya yang terpaksa harus ia sampingkan dahulu karena Cal memasang wajah memelas padanya. Mau tidak mau, Chanyeol menyetujui ide gila Cal.
Setelah itu, mereka memutuskan untuk bolos mata pelajaran matematika yang hanya akan membakar otak mereka. Dan Jongin baru tersadar.. kalau Taeyong tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali di hadapannya hari ini.
.
.
Salah satu keuntungan menjadi ketua OSIS adalah ia bisa mengikuti pelajaran sesuka hatinya. Selama ia bisa mempertahankan nilainya yang selalu di atas angka 8, maka ia bisa tidak mengikuti mata pelajaran yang dianggapnya membosankan dan hanya memeras otak serta tenaganya saja.
Ruangan OSIS kosong seperti biasanya di jam-jam seperti ini. Sehun mengangkat kedua kakinya ke atas meja yang dipenuhi oleh kertas-kertas yang merupakan rancangan program OSIS ke depannya. Matanya terpejam menikmati terpaan angin dari jendela di sampingnya. Sehun segera menurunkan kaki serta membuka matanya begitu ia mendengar suara pintu yang ditutup serta langkah kaki yang mendekat padanya. Diluar dugaannya, orang yang mengganggu waktu kosongnya itu bukan anggota OSIS atau guru yang akan menegurnya. Melainkan, Kim Jongin yang kini melangkah mendekatinya dengan tatapan seduktif.
Pemuda itu menggigit bibir seolah menantang Sehun untuk melakukan berbagai macam hal yang berada diluar batas mereka.
"Bolos lagi?" tebak Sehun dan tanpa Jongin menjawabnya, Sehun sudah mengetahui jawabannya.
"Tentu saja," jawab Jongin dengan bangga. Sehun hanya menggelengkan kepala dan membiarkan Jongin menggeser beberapa lembaran kertas di atas mejanya untuk duduk di sana.
"Kau bisa duduk dipangkuanku kalau kau mau," tawar Sehun secara suka rela.
"Aku tidak tertarik," Jongin lalu membungkukkan badannya sampai wajahnya sejajar dengan perut Sehun. Ia mengelus gundukan daging yang berada di balik celana pemuda itu dengan satu jarinya. "Tapi, aku tertarik untuk menduduki yang ini,"
Jongin tahu bagaimana caranya memancing libido Sehun. Dengan sedikit sentuhan serta godaan mulutnya, maka ia akan mendapatkan apa yang diinginkannya. Sehun memicingkan matanya, menatap Jongin dengan kilatan mata yang menunjukkan kalau ia sangat horny sekarang dan dirinya harus bertanggungjawab. Jongin nyaris tertawa karena tanpa Sehun perintahkan pun pasti ia akan melakukannya dengan senang hati. "Aku menyimpan kondom di saku celanaku," kata Sehun tanpa merasa malu sedikit pun.
"Kau pasti sudah mengira kalau hal ini akan terjadi,"
"Tentu saja, aku mengenal dirimu dan libidomu,"
Jongin memilih untuk bungkan dan merogoh saku celana Sehun untuk mendapatkan kondom milik pemuda itu. Setelah kondom itu berada dalam genggaman tangannya, Sehun bangkit berdiri tapi tidak melepaskan kontak matanya dari Jongin sama sekali. "Buka retsleting dan turunkan celanaku," perintah Sehun dan Jongin enggan untuk menolak.
Ia menyukai sisi dominant Sehun yang tidak akan pernah hilang. Terkadang, Jongin merasa dirinya harus dihukum atau dikendalikan dan hanya Sehun lah orang yang cukup dirinya percayai untuk melakukan semua itu. Selama, Sehun memandangnya sebagai seorang Kim Jongin dan bukan sebagai submissive atau budak seks yang bisa ia pakai untuk kepuasaannya sendiri. Maka, Jongin akan menyerahkan seluruh dirinya pada pemuda itu.
Jonging melakukan apa yang Sehun perintahkan. Kini, Sehun berdiri dengan celana jatuh di lantai dan hanya mengenakan seragam serta celana boxer hitam ketatanya yang menunjukkan bentuk penisnya dengan sangat jelas. Jongin menelan ludah karena sampai sekarang pun ia masih belum terbiasa melihat penis laki-laki lain selain miliknya. "Buka celana dan boxer-mu," perintah Sehun lagi seraya menurunkan boxer-nya sendiri.
Jongin menggigit bibir begitu melihat penis besar Sehun mengacung ke atas seolah mengucapkan salam padanya. Pemuda itu kembali duduk di kursinya semula. Sementara, Jongin mulai menurunkan celana serta boxernya hingga jatuh ke lantai. Wajahnya terasa memanas saat matanya melihat Sehun sedang memandangi penisnya sekarang. "Pakaikan kondom itu penisku," dan Jongin melakukannya.
Ia berlutut di depan Sehun lalu mulai memasukkan penis Sehun pada karet yang menjepit penis pemuda itu kemudian. Sehun memang tidak menyuruhnya. Namun, Jongin merasa ia harus membasahi penis Sehun dengan mulutnya demi kenyamanannya dirinya sendiri. Ia kemudian mengulum ujung penis Sehun dan mulai mencoba memasukkan setengahnya. Penisnya yang menyentuh lantai sesekali bergesekan dengan permukaan lantai yang dingin membuat miliknya sendiri pun menegang. "Jangan menyentuh dirimu sendiri kalau kau tidak ingin kuhukum. Ingat, seluruh tubuhmu itu milikku. Hanya milikku," ujar Sehun dengan penekanan pada kata "hanya milikku".
Jongin menjawab dengan mulut penuh oleh penis Sehun. Sehun mengelus surai rambutnya dengan sayang lalu mulai menggerakkan pinggulnya, mendorong penisnya keluar-masuk mulut Jongin. Jongin memejamkan matanya berusaha untuk mengontrol nafasnya agar tidak sesak. Sehun tahu dimana batasnya, sehingga lama-lama gerakan pemuda itu melambat dan terhenti tepat saat Jongin merasa mulutnya mulai kaku.
"Good boy. Sepertinya, kau mulai ahli ya," puji Sehun mendapat senyuman kecil dari Jongin
"Mungkin, setelah ini aku akan membuka usaha bagaimana cara memberikan blowjob yang baik dan benar," gurau Jongin dan tampaknya Sehun sama sekali tidak menganggap gurauan pemuda itu lucu atau bisa ditertawakan.
"Tidak! Kau cuma milikku. Tidak ada yang boleh melihatmu melakukan blowjob, selain aku," jika saja, bukan Oh Sehun yang mengatakan itu padanya. Mungkin, Jongin akan percaya kalau laki-laki itu sedang merengek padanya.
"Kau benar-benar idiot," dengus Jongin lalu bangkit berdiri. Ia mencengkram penis Sehun lalu memposisikannya tegak lurus. Sementara itu, Sehun mengangkat pinggang Jongin membantu pemuda itu untuk duduk di atas penisnya. Selang beberapa menit, setengah penis Sehun sudah berada di dalamnya dan tanpa perlu menyesuaikan rasa penuh di dalam dirinya yang mulai terasa wajar itu, Jongin mulai menggerakkan tubuhnya naik dan turun.
Sementara, Sehun memegang kedua sisi pinggangnya dan menundukkan kepalanya hingga wajahnya sejajar dengan nipple Jongin. Tanpa ada peringatan, bibir pemuda itu sudah berada pada nipple Jongin, menghisapnya dengan keras dan menggodanya dengan gigi. Jongin yang kini memeluk kepala Sehun merasa terbagi antara dua kenikmatan yang menyiksa dirinya. Sehun mengangkat kepalanya lalu mulai menciumi dagu serta daerah rahang Jongin.
Peluh yang mengalir dari tubuh mereka seolah menyatu. Suara pertemuan antara dua permukaan kulit terdengar keras manambah kobaran gairah di antara keduanya. Ketika, Jongin mulai berhenti menggerakkan tubuhnya giliran Sehun yang menggantikan Jongin. Pemuda itu mengangkat tubuh bagian bawahnya, tidak peduli dengan rasa pegal di bagian pinggulnya, disaat ia nyaris menginjaki orgasme yang berada di depan matanya.
Jongin pun dapat merasakan penis Sehun yang berkedut di dalamnya. Sodokan pria itu semakin mencepat dan semakin dalam hingga mungkin menyentuh bagian yang tak pernah disentuhnya. Tangan Jongin menjambak pelan rambut Sehun saat pemuda itu menyerang satu titik di dalamnya yang akhirnya membawa dirinya orgasme.
"Ahh, fuck! Sehun!"
Jongin memeluk tubuh Sehun erat. Penisnya yang bergesekan dengan abs Sehun menyemburkan cairan kental yang membasahi perutnya maupun perut Sehun. Bagian dalam hole berkedut pasca orgasme meremas hebat penis Sehun yang semakin menegang di dalamnya. Selang beberapa menit, Sehun menyemburkan spermanya di dalam kondom. Ia berbisik pelan di telinga Jongin berkata kalau tidak pernah ada orang lain yang membuatnya menjadi seperti ini dan Jongin membalasnya dengan senyuman lelah serta kecupan di pipinya.
Untuk beberapa saat, mereka hanya terdiam di dalam keheningan. Tidak ada yang bicara, tidak ada yang berniat untuk melepaskan pelukan, dan tidak ada yang menginginkan momen ini untuk berakhir. Jongin bersandar pada dada Sehun mendengarkan detak jantungnya. Siapa yang menyangka kalau dirinya dan Sehun akan sedekat ini? Jongin memejamkan matanya. Tangannya mencari tangan Sehun dan menggenggamnya dengan erat.
Ada banyak hal yang dirinya takuti di dunia ini. Waktu kecil Jongin selalu takut akan kehilangan mainan kesayangannya dan kedua orangtuanya. Baginya itu adalah mimpi terburuk yang dapat membunuhnya secara perlahan. Namun, seiring berjalan waktu, setelah semua yang terjadi sejak dirinya bertemu dengan Sehun. Hal yang ia takuti sekarang adalah.. kehilangan pemuda itu.
Mungkin, ia tidak akan pernah kehilangan dirinya. Sehun akan selalu di sini. Namun, bagaimana jadinya.. kalau Sehun lah yang akan kehilangan dirinya?
Karena meski sulit untuk Jongin akui dan terima, cepat atau lambat.. ia akan pergi.
Dan Sehun akan kehilangan dirinya.
.
.
Hidup di dalam kegelapan membuatnya belajar akan banyak hal. Salah satunya adalah bagaimana caranya bersyukur atas apa yang dimilikinya.. atau, mungkin, sempat dimilikinya.
Ia berdiri di depan cermin. Sebentar lagi, Yifan akan memberikan dirinya kebebasan. Setelah, beberapa tahun hidup seperti bayangan yang selalu menghantui Sehun. Akhirnya, ia dapat bebas dan mengejar kembali apa yang dahulu sempat dimilikinya.
Matanya terarah pada pantulan figura-figura di tembok yang membingkai berbagai macam kenangan yang dilewatinya bersama Sehun. Selama ini, figura-figura itulah yang menjaga kewarasannya dan mengingatkannya bahwa suatu saat nanti ia akan membingkai kenangan baru bersama Sehun, yang mungkin saja masih menunggunya di luar sana.
Luhan melempar senyum pada pantulan dirinya di cermin. Apapun yang terjadi, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, kalau ia akan mencintai Oh Sehun dengan cara yang benar kali ini.
.
.
Rin's note :
Chapter ini lebih ke friendship antara Jongin dan teman-teman somplaknya lol
sedikit teaser tentang Luhan yang akan aku jelasin lebih details di chapter selanjutnya dan persiapkan diri untuk berbagai macam angst dsb yang bakal jadi main topic di chapter-chapter selanjutnya. btw, sorry kalau aku ngaret banget update-nya. Kemarin, aku ngelewatin hard time yang benar-benar nguras otak aku jadi rasanya buat nulis pun susah banget :((
p.s thanks for all ur support dari yang nagih update (SPECIAL THANKS FOR MEGA) sampai yang nanyain di askfm dan udah PM. Kamsha~
p.s.s if you want to ask something or talk to me just go on my askfm (ferinee) or you can PM me
