Penulis: ksomm814

Penerjemah: Mini Marauder

Harry Potter series © JK Rowling

Informasi selengkapnya, kembali ke Bab 1.


Bab 9 Riddikulus

Setelah hari pertamanya yang mengerikan, Harry lega semua agaknya kembali normal. Orang-orang masih berbisik-bisik tentangnya setiap waktu, tetapi tidak seburuk kemarin. Harry meminjam buku yang disarankan Profesor Lupin dari Perpustakaan dan telah membaca bab Mantra Patronus kapanpun dia sempat. Seperti yang dia janjikan, Harry tidak memberitahu siapapun tentang pelajaran Pertahanan barunya. Tidak ada yang melihat buku Mantra Tingkat Lanjut karena Harry membacanya di dalam perlindungan tempat tidurnya yang bertiang dan berkelambu.

Duduk bersama Ron dan Hermione tidak mudah. Mereka ingin tahu apa saja dan tidak terima kalau Harry mengelak. Dia memberitahu mereka kalau dia tidak sadarkan diri selama kejadian penculikannya, dan selain itu, dia sedikit sekali mengungkapkan informasi. Akhirnya, Harry memutuskan menggunakan kartu terakhir yang sebenarnya tidak ingin dia pakai: kartu kepercayaan. Dia memberitahu teman-temannya kalau Profesor Dumbledore ingin semua detil, tentang apa yang terjadi, dirahasiakan.

Ron dan Hermione jauh dari kecewa, tetapi ini yang terbaik. Mungkin Harry akan memberitahu mereka suatu saat nanti. Sekarang ini, meskipun begitu, dia percaya: semakin sedikit yang tahu, semakin kecil kemungkinan rahasia ini terbongkar.

Pertemuan Harry dengan Malfoy belum terjadi sampai Kamis pagi di kelas Ramuan. Malfoy masih bad mood setelah dimarahi di kelas Pemeliharaan Satwa Gaib dan sama sekali tidak menyembunyikan kebenciannya terhadap guru baru itu. Tekad Harry menyelesaikan Ramuan Penyusut dengan baik dan benar adalah satu-satunya hal yang mencegahnya mengutuk Malfoy. Beberapa Gryffindor malah tampak ingin membunuh Malfoy.

Mendapati ejekan-ejekan Malfoy tidak direspon, Malfoy mencoba teknik pendekatan baru. "Apa masalahnya, Potter?" dia melambat-lambatkan bicara. "Terlalu sibuk mendengarkan ibumu?"

Lengah, Harry menjatuhkan pisaunya dan mencengkeram meja, bernapas cepat. Selama ini dia berusaha keras tidak memikirkan suara wanita itu, yang sekarang kembali menghantam gendang telinganya kuat-kuat. "Jangan Harry, kumohon jangan, aku saja, bunuh aku saja—" Memejamkan mata, Harry menggelengkan, menjernihkan kepalanya. Jangan sekarang. Maafkan aku, Mum, tapi jangan sekarang.

Harry bukan satu-satunya yang mendengar Malfoy. Ron baru akan menyerang Malfoy ketika Profesor Snape menyambar murid, yang baru melancarkan serangannya itu, di bagian kerah bajunya. "Lima poin dari Gryffindor, Mr Weasley," desis Profesor Snape. "Mr Malfoy, ke kantorku, sekarang!"

Wajah Malfoy kehilangan warna. Kelas hening total ketika Malfoy mengikuti gurunya ke kantor. Begitu pintu kantor tertutup, Ron dan Hermione mencapai sisi Harry. Hermione membantu Harry duduk, lalu berlutut agar dia bisa melihat wajah Harry. Menguasai diri, Harry bisa melihat hampir seluruh penghuni kelas menatapnya.

"Kau baik-baik saja, Harry?" tanya Hermione.

Harry mengangguk. "Aku baik-baik saja," katanya, seraya berdiri. "Malfoy hanya mengagetkanku, itu saja. Terima kasih, ya."

Pintu kantor Snape terbuka dan semua orang kembali bekerja. Tidak ada yang melihat Malfoy menjejak-jejakkan kakinya ke kualinya, marah-marah. Herannya, Profesor Snape tidak menyiksa siapapun lebih parah dari yang biasanya. Semua memandangnya sebagai berkah dan buru-buru keluar kelas begitu pelajaran berakhir.

Waktu makan siang diisi keheningan di kelompok kelas tiga, meja Gryffindor, sampai Seamus Finnigan berlari-lari masuk. Daily Prophet di tangan. "Ada yang melihatnya!" dia berteriak. "Ada yang melihat Sirius Black!"

Celotehan-celotehan di Aula Besar berhenti. Seamus berlari ke arah Harry dan menyerahkan surat kabar itu padanya. Membaca sekilas artikel itu, Harry menghela napas. Bahunya turun. Menurut artikel itu, Black tidak jauh dari Hogwarts. Apa dia datang untuk menyelesaikan apa yang Voldemort gagal lakukan bertahun-tahun lalu?

"Apa yang tertulis di sana, Harry?" tanya Ron, penasaran.

Harry memandang Ron, wajahnya kosong. "Ada Muggle melihatnya tidak jauh dari sini," katanya, tenang, lalu menyerahkan surat kabar itu kepadanya. "Tentu saja begitu Kementrian menerima laporannya, dia sudah lama pergi. Jadi, tidak ada yang bisa mengkonfirmasi kalau itu benar-benar dia."

Ron dan Hermione membaca sekilas artikel itu, lalu memandang Harry, cemas. Harry tahu mereka berdua mengharapkan ledakan emosi atau entah apa, tetapi Harry tidak akan melakukan itu terutama di Aula Besar. "Er—setidaknya dia tidak di sini," kata Hermione, memecah keheningan. "Jangan khawatir, Harry. Dengan adanya Dementor di halaman terluar Hogwarts, aku yakin kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun."


Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam adalah pelajaran pertama mereka di siang hari. Harry sudah menunggu-nunggu kelas itu; setengah bersemangat, setengah cemas. Setelah sebulan belajar di bawah bimbingan langsung Profesor Lupin, dia tidak yakin bagaimana harus bersikap di depan gurunya. Ya, dia juga belajar langsung dengan guru-guru lain, tetapi mereka semua menjaga kesan guru dan murid. Belajar dengan Profesor Lupin agak lebih personal karena yang satu seperti tahu apa yang dialami oleh yang lain.

Masalah lainnya, peran Profesor Lupin sebagai wali sementaranya. Tidak ada guru lain bermasalah dengan Profesor Lupin mengajar, tetapi Harry tahu beberapa murid (terutama Slytherin) bakal memandang Profesor Lupin memfavoritkan seorang murid padahal dia bersikap adil terhadap siapa saja. Pikiran semacam itu membuat Harry gugup. Profesor Lupin sudah melakukan banyak hal untuknya, tetapi Harry cuma bisa menambah masalah.

Dia tahu reaksinya mungkin berlebihan, tetapi baginya, semua seakan-akan di luar kendali. Tidak ada yang sesulit ini sebelum sekolah dimulai. Dia tidak pernah sekhawatir ini memikirkan apa yang orang lain pikirkan atau tahu, karena para guru sudah lebih dulu tahu. Sekarang dia terjebak di jaring-jaring kebohongan yang dibuatnya sendiri untuk melindungi diri.

Murid-murid memasuki ruang kelas kosong dan baru akan duduk ketika Profesor Lupin masuk. Dia meletakkan tas tuanya di meja, lalu menoleh dan menebarkan pandangan ke kelas. "Hari ini adalah pelajaran praktek. Kalian akan membutuhkan tongkat sihir kalian," katanya. "Nah, kalau kalian sudah siap."

Bisik-bisik dimulai ketika Profesor Lupin memimpin arak-arakan murid keluar kelas, dan terus ke sebuah koridor kosong. Mereka berbelok di sudut koridor, lalu ke koridor lain, dan baru berhenti tepat di depan pintu ruang guru. Profesor Lupin membuka pintu, dan mempersilakan murid-murid masuk. Harry mengikuti Ron dan Hermione, melewati Profesor Lupin dan merasakan sebuah tangan mendarat di bahunya. Mendongak memandang gurunya, Harry melihat ekspresi familiar. Yaitu ekspresi 'aku harus memberitahumu sesuatu'.

Setelah murid terakhir masuk, Profesor Lupin mengajak Harry menjauhi murid-murid lain. "Dengarkan aku, Harry. Hari ini kita akan berlatih dengan Boggart," katanya, lamat-lamat. "Boggart bisa berubah menjadi sesuatu yang kita takuti dan dengan—er—sejarah hidupmu, aku pikir akan lebih bijaksana kalau kau tidak berpartisipasi. Begitu, tidak apa-apa?"

Harry mengangguk. "Saya mengerti, Sir," katanya. "Saya akan tetap di belakang."

Profesor Lupin tersenyum menenangkan, lalu memasuki ruang bersama Harry. Setelah masuk, Harry melihat Profesor Snape sedang mengemasi barang-barang. "Lebih baik aku tidak menonton petualangan entah apa yang kaurencanakan, Lupin," katanya. "Dengan Longbottom dan Potter di satu ruang yang sama, kemungkinan besar ruang akan hancur dalam waktu singkat."

Neville merah padam, bahu Harry merosot, mata menatap lantai. Dia tahu Snape sedang menjadi Snape tetapi dia yakin kemampuannya sebagai penyihir tidak seburuk itu. Dalam beberapa saat, pikiran Harry mengelana ke kenangan tentang Paman Vernon yang berteriak tentang betapa dia tidak berguna. Dua orang itu membencinya dengan intensitas sama, dan itu menakutkan.

Profesor Lupin seperti melihat reaksi dua muridnya, lalu tersenyum inosen kepada guru Ramuan itu yang membuat Perofesor Snape memandang rekan kerjanya itu dengan skeptis. "Nah, nah, Severus," katanya. "Kita berdua tahu kalau kemampuan seorang murid adalah cerminan dari gurunya. Aku percaya semua muridku bisa memiliki kemampuan luar biasa dalam mengerjakan tugas ini."

Terbakar amarah, Profesor Snape menerabas keluar ruangan, pintu berdebam menutup di belakangnya.

Bebas dari gangguan, Profesor Lupin memulai pelajarannya tentang Boggart, pengubah bentuk yang menyukai ruang gelap dan sempit. Dia mengajak murid-murid mendekati sebuah lemari pakaian yang tiba-tiba bergetar, menggedor-gedor dinding di belakangnya. Banyak murid yang tampak takut, tapi Lupin tidak memperhatikan. Dia menjelaskan bahwa tawa dapat mengalahkan Boggart dan Mantra-nya adalah 'Riddikulus'.

Profesor Lupin memanggil beberapa murid untuk mendemonstrasikan dan Neville adalah yang pertama. Neville gemetaran luar biasa, menyaingi lemari, ketika dia melangkah maju. Seluruh warna di wajah ketakutan anak itu terkuras habis. Dia kelihatan siap pingsan kapan saja.

Profesor Lupin melihat ketidaknyamanan Neville, dan segera ke sisinya. "Neville, tidak perlu takut," katanya, lembut. "Menyerah pada ketakutanmu berarti kemenangan untuk Boggart. Sekarang, apa yang paling kamu takuti? Boggart-mu akan mengambil bentuk apa?"

Neville memandang gugup Profesor Lupin dan bergumam, "Profesor Snape."

Profesor Lupin tersenyum, sementara yang lain tertawa. "Profesor Snape… mari berpikir… apa yang bisa kita lakukan untuk membuat dia tidak begitu menakutkan?" dia bertanya serius, sambil mengetuk dagunya. Setelah momen keheningan, Profesor Lupin berputar menghadapi Neville dan membisikinya pelan sekali, supaya hanya Neville yang dengar.

Neville masih tampak gugup, tapi semua orang bisa melihat senyuman kecil menghias wajahnya. Apapun yang Profesor Lupin katakan, sepertinya berhasil menghapus ketakutan anak itu. Masih berdiri di barisan paling belakang, Harry penasaran apa yang menakutkan baginya. Paman Vernon? Tidak, Paman Vernon sudah dipenjara. Voldemort? Mungkin, tetapi dia berani melawan Voldemort.

Lalu dia mengerti. Jubah hitam melayang, meluncur… hawa dingin tiada akhir yang membangkitkan teror berisikan suara ibunya sebelum dia meninggal… ketidakberdayaan yang membuatnya tidak bisa melakukan apapun, hanya mendengarkan… Dementor.

Suara Profesor Lupin membangunkan Harry dari lamunan. "Baiklah, kau siap, Neville?" tanyanya, seraya mendekati lemari yang masih bergetar. Setelah Neville mengangguk, meski terpaksa, Lupin melanjutkan. "Ketika Boggart keluar, dia akan langsung berubah menjadi Profesor Snape. Angkat tongkat sihirmu, Neville, lalu bunyikan Mantra-nya, yaitu?"

"Riddikulus," jawab Neville.

"Bagus sekali," kata Profesor Lupin, membesarkan hati. "Lalu konsentrasilah pada apa yang tadi kita diskusikan, Neville. Itu penting sekali. Aku yakin teman-teman sekelasmu akan senang melihatnya. Setelah Neville berhasil, Boggart-nya kemungkinan akan berjalan mendekati yang lain. Silakan menggunakan waktu yang singkat ini untuk memikirkan bagaimana mengubah sesuatu yang menakutkan bagi kalian, menjadi sesuatu yang lucu."

Harry tanpa sadar mengambil satu langkah ke belakang. Bagaimana kau mengubah Dementor jadi lucu? Dementor, kan, memakan kebahagiaan!

"Baiklah," kata Profesor Lupin. "Neville, pada hitungan ketiga." Lupin menunjuk pegangan pintu lemari dengan tongkat sihirnya dan menghitung, sebelum serpihan cahaya menyemburat dari tongkatnya, menjurus ke pegangan pintu. Pintu lemari menjeblak terbuka.

Neville mundur selangkah ketika Profesor Snape keluar, terlihat mengintimidasi seperti biasa. Secepat kilat, Neville mencabut tongkat sihirnya dan membidikkannya ke Snape. "R—riddikulus!" dia tergagap.

Suara seperti lecutan cambuk membelah udara ketika Snape tersandung dan berhenti. Sekarang dia memakai gaun panjang berenda dan sebuah topi dengan burung bangkai duduk di atasnya. Semua orang meledak tertawa ketika Boggart mengubah jalur berjalan. Dia mendekati Parvati Patil, lalu Seamus Finnigan, Dean Thomas, dan Ron sebelum berubah jalur lagi menuju Profesor Lupin.

Bukannya makhluk menakutkan, yang berdiam, menggantung diri di atas Profesor Lupin adalah bola putih keperakan. Profesor Lupin tidak terganggu dengan objek itu dan mengucapkan Mantra dengan malas. Si Boggart bergerak mendekati Neville lagi, yang mengubah jubah hitam Profesor Snape menjadi gaun lagi tanpa ragu. Ada satu ctar lagi, lalu Boggart-nya meledak menjadi asap. Dia telah dikalahkan.

Profesor Lupin menghadiahkan beberapa poin kepada mereka yang turut menghadapi Boggart, menugaskan PR, lalu membubarkan kelas. Sekali lagi, Harry tinggal di kelas, bersikeras menyusul teman-temannya nanti. Sudah pernah melihat interaksi di antara Harry dan Profesor Lupin di kereta, Ron dan Hermione tidak membantah dan melangkah pergi.

"Apa yang ada di pikiranmu, Harry?" tanya Profesor Lupin, seraya mendekat.

Harry memandang Profesor Lupin dan tersenyum kecil. "Terima kasih atas peringatannya," katanya. "Aku tidak bisa menemukan cara membuat Dementor jadi tidak menakutkan." Namun, senyumnya lenyap ketika dia mencuri pandang ke arah lemari yang sekarang tidak bergeming. "Profesor Snape tidak akan menyukai ini. Dia mungkin akan mengira ini salahku."

"Memangnya mengapa begitu, Harry?" tanya Profesor Lupin, penasaran. "Seluruh kelas melihat aku yang memainkan semua ini."

Harry mengangkat bahu. "Dia menyalahkanku atas semuanya," katanya sambil lalu, lalu mengembalikan pandangan ke Profesor Lupin. "Apa kau tahu mengapa dia sangat membenciku?" Dalam sekejap, Harry marah pada dirinya sendiri karena terdengar kekanak-kanakan. "Aku bukannya mengeluh," tambahnya, buru-buru. "Hanya saja, dia seperti membenciku di kali pertama dia melihatku."

Profesor Lupin tampak gelisah. "Er—well, ingat apa yang kuceritakan tentang Marauder?" tanyanya. Harry mengangguk. "Well, mayoritas kenakalan yang ayahmu lakukan ditujukan kepada Severus dan Asrama Slytherin. Beberapa dari kenakalan itu agak kelewatan, tetapi sisanya hanya untuk bersenang-senang. Masalahnya, Severus tidak punya sense humor dan kupikir dia cemburu terhadap ayahmu."

Harry menatap Profesor Lupin, menahan amarah yang bangkit di dalam dirinya. "Jadi karena ayahku seorang bully, Snape merasa berhak melampiaskan semua itu kepadaku?" dia bertanya. "Aku bukan ayahku! Aku tidak ingat apapun tentang ayahku, bagaimana aku bisa mirip ayahku!"

Profesor Lupin menghela napas, lalu menarik Harry ke dalam pelukannya. "Aku tahu itu," katanya, tulus. "Severus tidak seharusnya melampiaskan kekesalannya kepadamu, kamu benar. Ayahmu tidak sempurna, tidak ada yang sempurna. Hubungan dia dengan Severus mirip seperti hubunganmu dengan Draco Malfoy. Seperti kamu, ayahmu juga populer dan pemain Quidditch yang sangat tangkas. Aku tahu kamu bukan James, Harry. Cepat atau lambat, Severus juga akan menyadarinya."

Untuk beberapa alasan, Harry meragukan itu.


Balasan review:

(1) ainun anissa 9, kamu cepat sekali, ya. Hampir selalu paling pertama dalam melayangkan review! Hahaha, saya usahakan update kalau sempat ya. Kebetulan ini lagi liburan, jadi bisa cepet menerjemahkannya.

(2) Nyanmaru desu, iya, dia mencantumkan Angst. Tapi setelah saya baca, sebetulnya tergolong hurt/comfort. Mungkin perbedaan pendapat tentang konsep genre, ya.

Oh, baguslah kalau begitu, hohoho.

Hm, tapi biarpun Muggle-born, kan masih penyihir :/ Ah sudahlah. Hahaha.

Well, yaaa, yang namanya Ramalan sih….

Ah, bocorin nggak ya? Hahaha. Masih rahasia dong.

Sama-sama, mumpung libur ini, jadi lumayan ada waktu luang.

Terima kasih atas dukungannya!

(3) YMFS, halo, selamat datang. Ah, saya membalas setiap review di chapter-chapter sebelumnya kok ;) Terima kasih, atas antusiasmenya. Senang sekali akhirnya nambah reviewer :D Saya santai saja mau berapapun review yang saya dapat hahaha. Salam kenal! Ikuti terus ceritanya, ya.

Semoga hari kalian menyenangkan.

Mini Marauder