Tittle : My Wife is a mafia


Thanks yang uda pada review. review lagi ya! ^^

Happy read ^^

.

"Eungh~" Jaejoong menggeliyat pelan dalam tidurnya, lalu menarik selimutnya untuk lebih tinggi menutupi seluruh tubuhnya. Karena semalam sehabis mereka bercinta, Jaejoong tertidur di lantai yang dingin dengan baju kemeja Yunho yang tidak berkancing lagi dan underwear yang menutupi bagian intimnya. sedangkan Yunho tertidur hanya menggunakan celana tanpa baju atasan.

Jaejoong menyapu tangannya kesamping tempat Yunho berada. tapi ia merasakan tempat itu kosong, tidak ada Yunho disana. Jaejoong membuka matanya perlahan dan langsung terkejut saat mendapati pemandangan pertama saat ia membuka mata.

Jaejoong melihat beberapa orang berpakaian hitam seperti seragam mengelilinginya dengan senjata api di tangan mereka masing-masing. Jaejoong langsung mencoba bangkit dari tidurnya namun naas, belum sempat ia berdiri, seseorang yang berdiri dibelakangnya menendang punggungnya hingga Jaejoong terjungkal kedepan.

"Ugh.." Ringis Jaejoong saat merasakan sakit di punggungnya. Punggungnya yang memang sudah memar dan membiru akibat perkelahiannya dengan Yunho kemarin kini harus menerima tendangan sekuat itu. tentu saja Jaejoong akan meringis kesakitan.

Dugh

Seseorang kembali menendang perut Jaejoong membuatnya kembali meringkuk kesakitan. belum reda rasa sakit diperutnya, Jaejoong kembali merintih saat seseorang menjambak kasar rambutnya dan memaksanya untuk bangun. saat posisi Jaejoong kembali terduduk dengan lutut menumpu di lantai, tinjuan bertubi-tubi kembali menghujam wajahnya. sudah tidak bisa di bayangkan lagi bagaimana bentuk wajah Jaejoong. Bibir merahnya yang biasanya merekah indah dan mempout lucu itu kini terlihat terluka dengan sudut bibir yang sobek. pipi yang biasanya akan mengeluarkan rona merah kalau di goda Yunho itu kini berwarna merah keunguan bercampur darah, Hidung mancung yang selalu di gigit Yunho jika sedang gemas itu kini mengeluarkan darah dan mungkin juga tulang hidungnya patah. mata Doe-nya yang indah kini hanya bisa menatap sayu penuh kesakitan.

Brukh

Jaejoong kembali jatuh kelantai setelah menerima beberapa tinjuan di wajahnya. Jaejoong sebenarnya sudah berusaha melawan, tapi apa daya, ia kalah jumlah. apa lagi orang-orang itu tidak memberikan kesempatan Jaejoong bergerak, belum lagi Jaejoong sudah kehabisan tenaga akibat kejadian kemarin di tambah kegiatan bercintanya dengan Yunho, membuat Jaejoong tidak mampu lagi bergerak banyak.

di tengah rintihannya, mata Jaejoong menangkap seorang namja melangkah mendekatinya dengan senyum kemenangan di wajahnya. Namja itu mengenakan baju yang berbeda sendiri dengan yang lainnya, yaitu stelan tuksedo berwarna hitam melekat ditubuhnya.

"Coba lihatlah bagaimana keadaan uri Hero yang katanya hebat itu? bukankah menyedihkan" Cibirnya. namja itu memberi tanda kepada anak buahnya, kemudian salah satu anak buahnya memaksa Jaejoong agar kembali terduduk

Hangeng namanya. Namja yang kini berjongkok di depan Jaejoong dengan tatapan meremehkan itu adalah kepala devisi penyelidikan dan anti teror. singkatnya adalah atasan Yunho dalam kasus Hero.

"Ck ck ck. kau tampak begitu menyedihkan Hero-ssi" Hangeng berdecak sambil mengejeknya, membuat Jaejoong benar-benar tidak tahan memisahkan kepala namja itu dari badannya.

"Tangan ini..." Hangeng mengangkat tangan kanan Jaejoong, Sambil memperhatikan tangan itu. "Adalah tangan penjahat yang sudah membuat beratus nyawa melayang"

Krek

"Arrrggh!"

Hangeng menekan sekaligus meremas tangan dan jemari Jaejoong sedemikian rupa hingga membuat Jeritan Jaejoong mengaung.

"Kau benar brengsek hangeng!" Eoh? Bagaimana Jaejoong mengenalnya? Tentu saja Jaejoong mengenal salah satu target yang masuk di list orang-orang yang harus ia bunuh.

"Penjahat? cuih!" Jaejoong meludahi wajah Hangeng. "Bukankah kau penjahat yang sebenarnya? seharusnya aku tidak perlu menunggu untuk membunuhmu. Orang-orang sepertimu yang pantas mati bersama teman-teman penghianatmu yang sudah kukirim terlebih dahulu ke neraka"

Hangeng melap wajahnya yang terkena ludahan Jaejoong. wajah Hangeng berubah mengerikan karena marah. Hangeng kembali beranjak berdiri lalu memukul wajah Jaejoong dengan keras lalu menendangnya hingga Jaejoong kembali tersungkur. Hangeng kembali mengakhiri serangannya dengan menendang perut Jaejoong lagi, kali ini dengan sekuat tenaga hingga tubuh ringan Jaejoong dengan mudahnya terdorong kebelakang hingga punggungnya menabrak dinding yang tidak Jauh dari tempatnya berada tadi.

"Eenggh~"

Brust

Darah segar menyembur dari mulut Jaejoong saat punggungnya terbentur diunding yang keras. sebenarnya bukan hanya karena hal itu yang membuat Jaejoong muntah darah, tapi karena tendangan yang di terimanya berkali-kali diperutnya membuat tubuh bagian dalamnya terluka hingga ia terpaksa memuntahkan darah.

mata Jaejoong mulai berkunang-kunang, Ia merasakan kesadarannya mulai menipis, bahkan ia hanya mendengar samar-samar suara Hangeng yang kembali berbicara kepadanya.

"Suami seorang agen dan istri seorang pembunuh. bukankah itu lucu? Kasihan sekali nasibmu Yunho. kau yang tidak tahu apa-apa kini harus terlibat dengan masalah ini" Kata Hangeng sambil memasang wajah simpati dan melemparkan pandangan ke arah sesuatu yang tergeletak di lantai di belakang anak buahnya berdiri.

Melihat tatapan Hangeng anak buahnya menyingkir agar sesuatu yang berada di belakang mereka bisa terlihat oleh Jaejoong.

"YUNHOOO!" Jerit Jaejoong saat melihat Yunho dalam posisi tertelungkup dengan wajah Yunho menghadap Jaejoong. entah kekuatan dari mana, membuat tenaganya kembali terkumpul, ia berusaha berdiri dengan sekuat tenaga.

"YUNHO!" Teriak Jaejoong histeris. Apa yang mereka perbuat pada Yunhonya?.

matanya masih terbuka tapi tidak ada tanda-tanda akan bergerak. Jaejoong ingin menghampiri Yunho, tapi beberapa orang menghadang langkahnya dan kembali mendorong tubuh ringkih itu kedinding lalu segera mengunci tangannya dengan borgol.

"YUNHOOO! HIKS YUNN... HIKS YUNHOO!" Jaejoong memberontak dari tahanan orang-orang berpakain hitam itu sambil menjeritkan nama Yunho berkali-kali dengan tangis yang mengiringi teriakan itu. Jaejoong mencoba menendang-nendang, namun usahanya sia-sia, ia tidak bisa lepas dari cengkraman orang-orang itu.

"Kau apakan Yunho brengsek? Aku bersumpah akan membunuhmu. kau pikir kau bisa begitu saja menangkapku. Aku tidak akan mati sebelum aku membunuhmu BRENGSEK!" Teriak Jaejoong marah. sedangkan Hangeng hanya tertawa melihatnya.

"Seret dia keluar" Ujar Hangeng pada anak buahnya.

sebelum anak buah Hangeng menyeret Jaejoong keluar, salah satu dari mereka menyuntikan sesuatu dengan susah payah di lengan Jaejoong, karena Jaejoong yang selalu memberontak, lalu mereka membawanya keluar dengan Hangeng menyusul dibelakang, meninggalkan Yunho yang masih tergeletak di lantai tanpa berkutik dan air mata yang sebenarnya sudah mengalirr sejak tadi, namun sayang Jaejoong tidak menyadarinya, hingga Jaejoong mengira Yunho tidak bernyawa lagi.

'Jae'

.

.

.

"Appa! Tolong kami…Jaejoong Hyung….dia….tertangkap" Ujar Changmin pada Mr Kim melalui telpon.

Sebelumnya Changmin, Kibum, Junsu dan Kyuhyun memang tidak kemana-mana melainkan terus berjaga-jaga di sebuah bangunan kecil yang terdapat di depan apartemen. Sebelumnya juga Changmin sempat naik ke apartemen Kibum, dimana Jaejoong dan Yunho berada, untuk melihat apa yang terjadi di sana. Namun ia menemukan keadaan dua orang itu baik-baik saja, walaupun dengan keadaan apartemen Kibum yang sudah tidak berbentuk lagi.

Namun sekitar jam 4 pagi saat Changmin, Kibum dan Yoochun –yang saat itu masih berada bersama mereka—yang masih terjaga, melihat sekitar 1 mobil sedan hitam, 2 mobil van yang juga berwarna hitam dan 1 mobil box tahanan, masuk ke halaman apartemen.

Sekitar 10 orang berseragam pasukan agen berwarna hitam turun dari 2 mobil van. Masing-masing dari mereka memiliki senjata di tangannya. Kemudian satu orang berjaz biasa turun dari mobil sedan hitam. Laki-laki berjaz itu memberi tanda kepada anak buahnya agar sebagian dari mereka mengikutinya masuk kedalam apartemen dan sebagiannya lagi tetap tinggal menjaga di luar.

Melihat itu Changmin dan lainnya menjadi panic. Apalagi Yoochun yang masih bersama mereka mengatakan bahwa orang-orang itu adalah agen Fbi yang mungkin akan menangkap Hero.

Changmin yang awalnya akan bertindak untuk menolong Hyungnya, di hentikan Yoochun. Yoochun bilang Chnagmin dan lainnya tidak akan bisa menolong Hero begitu saja. apalagi mereka sama sekali tidak memiliki bekal senjata apapun untuk melawan para agen itu. Lagi pula apartemen ini berada di tengah pemukiman warga. Jika terjadi keributan, polisi akan mudahnya mendatangi apartemen itu dan menangkap mereka. Tentu saja itu bukan strategi yang bagus untuk di lakukan saat ini.

Jadi Yoochun dengan susah payahnya menenangkan Changmin yang berusaha memberontak, akhirnya menyarankan untuk menunggu hingga para agen itu keluar. Jika mereka berhasil menangkap Hero maka Yoochun menyarankan untuk mengikuti kemana para agen itu akan membwa Hero, karena sebenarnya Yoochun merasakan sesuatu yang ganjil. Waktu Yunho untuk menangkap hero masih tersisa 12 jam lagi. sesuai perjanjian awal seharusnya Hangeng akan bergerak saat Yunho gagal membawa Hero sesuai dengan waktu yang di janjikan yaitu 78 jam. Tapi sekarang, semuanya terkesan terburu-buru. Ada apa sebenarnya?

.

Setelah Changmin memberitahu ayahnya tentang keadaan Hyungnya sekarang dan meminta bantuan. Mereka menunggu para agen itu keluar dari apartemen. Dan benar saja, tidak lama mereka menunggu para agen itu keluar dengan menyeret Jaejoong. Walaupun keadaan masih gelap, tapi mereka bisa melihat Jaejoong yang tidak sadarkan diri dalam keadaan babak belur.

Junsu menutup mulutnya tidak percaya melihat keadaan Jaejoong. Orang yang telah menyelamatkan hidupnya dulu. Kini kondisinya entah masih hidup atau tidak bernyawa lagi, karena dari kondisi badan Jaejoong yang terlihat sangat parah. Begitu juga dengan Changmin dan lainnya. Mereka terlihat menggigit bibir dan berusaha sekuat tenaga meredam emosinya. Sedangkan yoochun sedang berusaha menutup mulut Junsu karena isakannya yang semakin menguat.

Setelah mobil para agen itu meninggalkan apartemen. Yoochun langsung memerintahkan Changmin dan lainnya untuk mengikuti mobil para agen itu dan memberitahu kepada anak buah Mr Kim yang –akan membantu mereka—tentang posisi Jaejoong nanti. Sedangkan Yoochun sendiri segera naik ke apartemen Kibum untuk melihat keadaan Yunho.

.

Baru saja Yoochun akan memasuki apartemen dua mobil berhenti tepat didepan apartemen. Yoochun memasang siaga, kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Tapi kemudian Yoochun menghela nafas lega saat dilihatnya orang yang turun dari kedua mobil itu adalah Siwon, Dongwook dan Donghae.

"Hyung! Kenapa kau bisa disini?" tanya Donghae heran. Lalu ia dan dua temannya yang lain bergegas menghampiri Yoochun.

"Lalu kalian, kenapa bisa disini?" Tanya Yoochun balik tanpa menjawab pertanyaan ketiga rekannya. Yoochun menatapi ketiga rekannya dengan ekspresi menuntut jawaban. Sedangkan ketiga orang yang di tatapinya saling berpandangan satu sama lain sebelum menjawab.

"Akan kuceritakan nanti! Sekarang kita harus mencari Yunho dulu" Ujar Siwon lalu berlari menuju lift disusul yang lainnya.

.

"Hyung" teriak Yoochun histeris saat melihat Yunho tergeletak di lantai.

"What a mess!" ucap Dongwook saat melihat keadaan apartemen yang berantakan.

"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Siwon ikut duduk di samping Yoochun yang memangku kepala Yunho. Yoochun menggeleng.

"Nafasnya masih stabil, badannya pun masih hangat. Entah kenapa dia bisa seperti ini. Yang pasti Yunho hyung masih hidup" vonis Donghae setelah mengecek badan Yunho.

Dongwook ikut berjongkok di samping tubuh Yunho dan memperhatikan tubuh Yunho dengan seksama. "Donghae benar. Aku menemukan ini di depan pintu" Dongwook menunjukan sebuah benda ditanganya. Benda itu mirip seperti peluru namun di bagian atasnya berbentuk tabung kecil transparan berisi sisa cairan berwarna hijau kehitaman, sedangkan disisi ujung lancipnya berbentuk seperti jarum suntik.

"Ini yang membuat Yunho jadi seperti ini. Dulu digunakan pada rumah sakit jiwa di Valencia dan penjara untuk menyiksa tahanan yang memberontak. Efeknya hanya membuat tubuh mengejang dan mengkaku, bahkan kau tidak akan sanggup untuk mengerjapkan matamu atau menggerakan bola matamu. Tapi jika cairan ini masuk ketubuh, maka itu akan sangat menyakitkan. Membuatnya tubuh kita seperti tersengat listrik"

"Apa itu berbahaya?" Tanya Yoochun.

Dongwook menggeleng. "Tergantung, jika Yunho bisa bertahan dengan rasa sakitnya kurasa ia masih sadar sekarang dan masih bisa mendengar kita. Tapi jika ia tidak sanggup dengan rasa sakitnya mungkin sekarang dia tengah tidak sadarkan diri" Dongwook memandangi Yunho di pangkuan Yoochun. Matanya masih tetap terbuka. "Efeknya tidak akan bertahan lama, dalam 30 menit Yunho akan sadar kembali" Dongwook membuang peluru itu ke lantai lalu kembali berdiri. Ia berjalan ke arah sofa, lalu membetulkan posisi sofa yang awalnya terbalik.

"Letakan Yunho disini. Kita tunggu hingga dia sadar" Ujar Dongwook. Yoochun di Bantu Siwon dan Donghae meletakan tubuh Yunho di atas sofa.

"Dan kau Yoochun. Kurasa kau harus menjelaskan pada kami tentang apa yang sedang terjadi disini" Dongwook beralih mentap Yoochun dengan tatapan menuntut. Begitu juga dua rekannya yang lain.

Dan akhirnya Yoochun menuruti permintaan ketiga rekannya dengan menceritakan semuanya pada rekannya tentang ia diculik dengan paksa oleh anak buah hero dan kecurigaannya terhadap atasan mereka. Saat Yoochun menceritakan kecurigaaannya terhadap Hangeng, Siwon mengiyakannya dengan menceritakan semua hal yang ia dengar dalam pembicaraan Hangeng dengan seorang asing bernama seunghyun. Lalu Siwon meminta bantuan –atau lebih tepatnya memaksa—Donghae dan Dongwook yang pada malam itu sedang menikmati kasur empuknya, untuk menemani Siwon membuntuti atasanya yang pada malam itu akan menangkap Hero.

"Apa hanya itu yang kau dengar?" Tanya Yoochun memastikan. Siwon mengangguk. "Tapi hutang apa? Apa yang membuat mereka berkerja sama? Apa yang mereka cari dari Hero? Siapa sebenarnya Hangeng? Lalu siapa itu Seung—

"Arrrrggghh….eeerrrrggh hiks" Teriak Yunho tiba-tiba membuat Yoochun, Siwon, Donghae dan Dongwook seketika terkejut.

"Hyung/Yunho!" teriak keempatnya panic langsung bergegas mendekati Yunho yang masih terus berteriak diselingi isakan. Kini Yunho tengah meringkuk di sofa.

"Hyung gwaenchanayeo?" Panik Yoochun. Tapi Yunho tidak menjawab melainkan hanya berteriak dan menangis sambil memanggil-manggil nama Jaejoong.

"Tan Hangeng. Akan kubunuh kau!" Desis Yunho sambil menggeram. Matanya berkilat marah. Ekspresi Yunho yang tidak pernah sekalipun Yoochun dan anak buahnya lihat. Ekspresi marah yang mengerikan.

Setelah menggeram seperti itu Yunho bangkit dari sofa lalu menerobos empat rekannya yang berdiri tepat di depan sofa. Tapi baru saja berapa langkah di ambil oleh Yunho tiba-tiba tubuhnya kembali ambruk ke lantai. Dan kembali mengundang teriakan dari rekannya.

"Efeknya belum sepenuhnya hilang. Sebagian otot kaki masih kaku. Tunggulah sebentar lagi" Ujar Dongwook kepada Yunho yang sedang di papah Yoochun dan Donghae untuk kembali duduk di sofa.

Yunho diam sesaat. Air matanya masih keluar. Di otaknya masih terus terbayang ekspresi kesakitannya Jaejoong saat Hangeng dan anak buahnya memukul Jaejoong bertubi-tubi. Ia menyaksikan semuanya. Semua perlakuan Hangeng terhadap Jaejoong. Hingga istrinya memuntahkan darah segar dari mulutnya. Yunho benar-benar menyaksikan semuanya sambil berteriak, mengutuk, memaki dan mengumpat didalam hati.

"Tadi aku mendengar kalian membahas tentang Hangeng. Ceritakan padaku apa yang kalian tahu!" Perintah Yunho pada keempat rekannya, yang hanya saling berpandangan.

.

Sementara itu ditempat lain.

Matahari mulai memperlihatkan sinarnya. Empat mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalan di tengah hamparan pohon pinus dipagi buta. Tidak terlalu jauh di belakang empat mobil itu, melaju mobil kijang berwarna silver membuntuti dengan jarak yang lumayan jauh.

Empat orang yang ada didalam mobil kijang itu sedang bertanya-tanya kemana sebenarnya mobil-mobil yang berada didepan mereka membawa Jaejoong? Jalan yang mereka lewati, bukan jalan menuju kota seperti dugaan Changmin sebelumnya. Lalu kenapa mereka tidak membawa Jaejoong ketempat selayaknya seorang tahanan?

Sekitar dua jam membuntuti empat mobil didepan mereka. Akhirnya mobil-mobil itu berbelok keluar jalan beraspal dan memasuki jalan yang dipenuhi semak belukar. Changmin yang menyetir semakin bingung. Tapi akhirnya dia lebih memilih memarkir mobil di pinggir jalan. Changmin keluar dari dalam mobil, disusul Junsu dan yang lainnya. Sebelum menyusul keempat mobil tadi, Changmin terlebih dahulu menyuruh Kyuhyun memberitahukan kepada anak buah Mr Kim, tentang posisi mereka sekarang. Setelah itu, barulah mereka bereempat menyusuri jalan setapak yang tadi di lewati mobil yang membawa Jaejoong.

Tidak jauh dari jalan masuk, terdapat sebuah bangunan pabrik yang sudah tua dan tak terpakai. Pabrik itu memilik halaman yang lumayan luas. Di halaman pabrik itulah terparkir keempat mobil yang membawa Jaejoong tadi. Tapi tidak, bukan hanya keempat mobil tadi. Tapi ada tiga mobil lagi yang menunggu disana.

Changmin dan lainnya bersembunyi di semak-semak tidak jauh dari kumpulan orang yang sekarang mulai keluar dari mobil masing-masing. Changmin dan yang lainnya sebenarnya mampu melumpuhkan orang-orang itu, asal dengan senjata ditangan mereka. Karena mereka sudah terlatih dalam hal itu. tapi sekarang kondisi mereka tanpa senjata. Semua senjata milik mereka tertinggal di apartemen Kibum. Jika mereka menyerbu orang-orang itu, sama saja mencari mati. Tinju melawan pistol, bukankah itu tidak Fair? Jadi sekarang yang hanya bisa dilakukan Changmin, Junsu, Kibum dan Kyuhyun adalah menunggu dan memperhatikan yang terjadi. sebelum benar-benar menyerang, mereka harus tahu dulu apa yang dilakukan Fbi di tempat seperti ini.

Tak lama Changmin memperhatikan orang-orang itu, tiba-tiba matanya menangkap sosok seseorang yang seperti dikenalnya, dan berusaha mengingat-ngingat dimana pernah melihat wajah tegas itu.

"Astaga itu... hemmbh..." pekikan Changmin terhenti karena Kibum membekab mulutnya.

Plak

"Pabbo kau mau kita ketahuan?!" kesal Junsu setelah menggeplak kepala Changmin.

"Mianhe, tapi itu… orang yang berambut pirag itu…. Choi Seunghyun ?!"

"Choi Seunghyun nugu?" Tanya Junsu, Kibum dan Kyuhyun kompak.

.

Hangeng turun dari sedannya, begitu juga dengan anak buahnya. Ia menghampiri Seunghyun yang berdiri bersama beberapa anak buah di belakangnya.

"Hmm… Mr Hangeng. How ya doin'?" Sapa Seunghyun sambil menghisap cerutunya dengan santai.

"I'm perfectly fine" Jawab Hangeng sambil tersenyum. kemudian ia memberi tanda kepada anak buahnya untuk membuka pintu besi mobil tahanan, agar Seunghyun bisa melihat 'sesuatu yang sangat diinginkannya' selama ini.

Seunghyun tertawa puas melihat isi mobil tahanan itu. "Good job Mr Hangeng. Kau benar-benar bisa diandalkan. Tanpa harus aku turun tangan. Hero jatuh ketanganku dengan mudah" Tawa licik itu keluar lagi dari mulut Seunghyun. Seunghyun berjalan mendekati Hangeng sambil tertawa dan menepuk-nepukan tangannya di bahu hangeng. "Kau benar-benar anak buahku yang bisa kuandalkan!"

"Lalu bagaimana dengan perjanjian kita?"

"Perjanjian?" Seunghyun mengangkat satu alisnya menatap Hangeng, tapi kemudian ia kembali tertawa. "Aaah~ Dokumen rahasia pertahanan korea selatan yang kau jual pada korea utara? Atau balas budimu karena aku menyelmatkanmu dari hukuman mati akibat kau menghianati Negaramu sendiri?"

"Dokumen itu! kau tahu apa yang kubicarakan Seunghyun" Desis Hangeng.

"Hey take it easy! Kau lihat urat-urat dikepalamu menonjol semua. Aku adalah laki-laki yang akan menepati ucapannya!" Seunghyun menyeringai sambil memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membawakan sesuatu. Anak buah Seunghyun memberikan koper kepada hangeng.

"Open it!" Ujar Seunghyun. Hangeng melihat koper berwarna hitam ditangannya lalu beralih menatap Seunghyun.

"Open it!" Perintah Seunghyun lagi.

Hangeng akhirnya membuka koper itu dan melihat isinya. Setelah yakin itu adalah dokumen yang ia cari, Hangeng kembali menutup koper itu.

"Senang berbisnis dengan anda… Mr Choi!" Ucap Hangeng dengan senyum di wajahnya. "I gotta go. I've meeting in a hour" Ujar Hangeng pamit lalu berbalik menuju sedannya.

"Not that fast Mr hangeng!" Teriak Seunghyun.

Hangeng berbalik menatap seunghyun. Matanya terbelalak melihat Seunghyun menodongkan pistol kearahnya. Hangeng cepat-cepat meraih sesuatu di balik jaznya, namun ia lebih terkejut lagi saat mendapati tidak ada satu pistol pun yang terselip di balik jaznya. Hangeng menoleh kepada sepuluh anak buahnya namun mereka hanya diam mematung.

"Hahaha benar-benar lucu. Si penghianat sekarang dikhianati. Tentu saja aku tidak mau mengambil resiko untuk menjadikan seorang penghianat sepertimu menjadi anak buahku" Tawa Seunghyun menggema.

"Kau?! Bukankah kau bilang kau adalah laki-laki yang menepati perkataanya? Aku sudah membawa apa yang kau inginkan. Lalu sekarang kenapa kau berbalik ingin membunuhku"

"Tapi aku tidak pernah bilang untuk tidak membunuhmu kan? Aku hanya berjanji menganggap hutang budimu lunas dan mengembalikan dokumennya, ingat?!"

Rahang Hangeng mengeras, tangannya mengepal kuat dan matanya menatap marah kearah Seunghyun. "Kau brengsek!" geramnya.

"Lihat! Si brengsek bilang brengsek" kata Seunghyun menunjukan kepada anak buahnya, kemudian diikuti suara tawa dari anak buah Seunghyun.

"Tapi sayang. Tidak ada tempat untuk seorang penghianat. Makanya, si penghianat harus—

Dor Dor Dor

"Mati.." Seunghyun melanjutkan kalimatnya dengan wajah datarnya, lalu membuang pistol di tangannya ke tanah.

"Ck, mengotori tanganku saja" decak Seunghyun lalu melepas sarung tangan kulit berwarna hitam dari tangannya.

"Kita pulang!" katanya lagi. lalu melangkah menuju mobilnya. Di ikuti anak buahnya dan juga anak buah Hangeng tadi yang ternyata berkhianat. Inilah dunia mereka. Menghianati dan dikhanati, membunuh dan dibunuh, hal-hal seperti itu sudah wajar terjadi di dunia seperti yang mereka geluti. Tak ada bisa kau percaya bukan.

Baru saja Seunghyun membuka pintu mobilnya. Deru mobil mengalihkan pandangannya kearah gerbang pabrik. Beberapa mobil tidak dikenal menerobos masuk. Dan jumlahnya cukup banyak. Dari mobil-mobil itu keluar orang-orang bersenjata yang sesaat kemudian langsung menghujami Seunghyun dan anak buahnya dengan peluru-peluru mereka.

"Aku tidak tahu siapa Seunghyung. Tapi yang jelas tujuan Mr Hangeng menangkap Hero untuk menyerahkannya kepada namja bernama Seunghyun itu" Ujar Siwon setelah menceritakan semuanya kepada Yunho. Termasuk pembicaraan Hangeng dengan Seunhyung.

"Jadi yang ingin kau bilang. Istriku dalam bahaya?!" Buru Yunho mulai panik.

"Tenang Hyung. Aku sudah menyuruh Changmin dan yang lainnya untuk mengikuti mereka" Yoochun berusaha menenangkan Yunho yang mulai kembali panic.

"Changmin?" Yunho mengerutkan keningnya saat mendengar nama asing itu.

"Ne.. Dongsaeng Jaejoong hyung!"

"Mwo? Dongsaeng?" Yunho makin mengerutkan keningnya. setahu Yunho Jaejoong itu yatim piatu yang tidak memiliki sanak saudara. Apa Jaejoong telah mengangkat adik tanpa sepengetahuan Yunho?

"Eung. Aku juga awalnya bingung. Setahu aku kan Jaejoong hyung tidak memiliki sanak saudara sama sekali. Tapi saat kemarin Junsu mencu—

"Sudahlah aku tidak ada waktu mendengar ceritamu" Potong Yunho yang langsung berdiri dari duduknya. Kemudian ia beralih menatap Dongwook. "Apa kau membawa senjata?" tanya Yunho.

Dongwook menggeleng. "Aku tidak sempat membawa apa-apa. Ini semua karena si kuda itu" Dongwook menunjuk Siwon yang berdiri di samping Yoochun. "Menarikku paksa. Sampai baju pun tidak sempat kuganti" Dongwook memperlihatkan piyama di balik mantelnya.

Yunho beralih menatap Siwon dan Donghae. Siwon menggeleng sedang Donghae menunjukan piyamanya juga di balik mantelnya yang berarti, Siwon memaksa keduanya untuk ikut tanpa sempat berganti baju terlebih dahulu. Sedang Siwon masih mengenakan kemeja mengerang frustasi. Apa yang terjadi pada anak buahnya yang biasanya sigap? Giliran di saat genting tidak ada yang bisa di harapkan.

Yunho beralih menatap Yoochun. "Aku—

Belum sempat Yoochun meneruskan kata-katanya, Yunho kembali memotongnya. "Sudahlah, pasti kau sama saja!"

"Yak! Kenapa kata-kataku selalu kau potong? Kalian ingin senjata, kan? Ayo ikut aku!" kesal Yoochun kemudian masuk ke dapur apartemen Kibum. Sesaat Yunho, Siwon, Donghae dan Dongwook saling berpandangan setelah dibentak Yoochun sebelumnya. Lalu menyusul Yoochun masuk kedapur.

Didapur Yoochun berjalan menuju meja berukura yang tampak seperti meja makan, membuat keempat rekannya kembali berpandangan aneh. 'Apa yang akan dilakukannya?' batin keempatnya bingung.

Yoochun yang sebelumnya sudah diberitahu oleh Junsu dan Kibum, dengan percaya diri membuka papan bagian atas meja makan (bisa bayangin gak?). Senyum mengembang di wajahnya. Membuat Yunho dan yang lainnya mendekat.

"Hoho shit" umpat Dongwook dengan mata berbinar melihat isi dari meja makan itu yang ternyata berbagai senjata canggih—sebenarnya itu milik Kibum. Tapi tetap saja Hero sang pemasok—yang bisa berjuta-juta harganya jika dipasaran. Sedangkan Donghae bersiul pendek kemudian memilih satu, begitu juga dengan Siwon. Yunho menatap Yoochun dengan tatapan meminta penjelasan.

"Bukankah kau tidak memiliki waktu mendengar penjelasanku… Hyung?" tekan Yoochun sambil menyeringai. Akhirnya ia berhasil juga menyeringai kepada ketuanya.

Yunho hanya berdecak, lalu ikut mengambil satu. "Ambil seperlunya saja" Ujar Yunho. "Dan kau Chun, cari tahu lokasi akhir mereka"

"Sudah dapat!" Yoochun memamerkan ponsel—yang tadi di berikan Junsu padanya—sekaligus pesan pendek yang baru saja diterimanya dari Junsu yang mengatakan tentang posisi mereka sekarang.

"Junsu?!" Yunho mengerutkan dahinya bingung.

Yoochun mengangguk. "Eung Dongsaeng Jaejoong hyung?"

Sebenarnya berapa banyak Dongsaeng Jaejoong? "Ck, sepertinya setelah ini aku harus meminta penjelasan Jaejoong!" gumam Yunho.

Sementara itu ditempat Seunhyung terjadi kekacauan. Orang-orang yang tidak dikenal itu menembakinya dan anak buahnya hingga tidak bersisa satupun. Namun sayangnya Seunghyun berhasil melarikan diri dengan mobilnya. Sebenarnya Changmin dan lainnya ingin mengejar Seunhyung namun saat ini bukanlah hal itu yang penting. Yang lebih penting adalah Kim Jaejoong yang mungkin sedang sekarat..

Setelah itu Changmin dan lainnya menghampiri mobil tahanan dan mengeluarkan Jaejoong yang masih tidak sadarkan diri dari sana. Changmin menggendong Jaejoong ala bridal style, lalu meletakannya sementara di tanah lalu membawa kepala Jaejoong kepangkuannya.

"Hyung hiks ireona!" ujar Changmin dengan suara bergetar.

Hatinya terasa begitu sakit melihat keadaan Hyungnya yang berantakan, berdarah dan penuh luka. Apalagi Jaejoong hanya menggunakan kemeja putih—yang tidak lagi putih—yang hanya menutupi tubuh hingga kebokongnya yang hanya tertutup underwear. Changmin tidak berani memegang wajah Jaejoong karena lebam yang pasti sakit jika di pegang.

"Hyung, please wake up!" Kata Changmin lagi kini air matanya jatuh membasahi wajah Jaejoong.

Junsu sedang menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan isakannya karena ia tidak mau Changmin bertambah kalut, begitu juga Kibum yang sedang menggigit bibirnya, sedangkan Kyuhyun sedang sibuk memeriksa nadi jaejoong.

Kyuhyun menarik nafas dalam sebelum memberitahu Changmin tentang keadaan Jaejoong. "Minie de-detak jantungnya melemah. Ia harus segera mendapat perawatan itensif" Ujar Kyu berusaha keras menjaga suaranya agar tidak bergetar. Ia tahu jika ia menagis maka Changmin akan bertambah kalut.

"Kumohon Hyung bertahanlah!" Kata Changmin lagi, namun sayang tentu saja Jaejoong tidak mendengarnya.

Tidak lama kemudian datang helikopter bersama tim medis yang di kirim oleh Mr Kim untuk membawa anaknya dari tempat itu. Tidak hanya Jaejoong. Tapi juga keempat Dongsaeng Jaejoong yang ikut serta kembali ke jepang.

.

"Mereka sudah pergi" Ujar Yunho yang melihat pabrik itu sudah sepi meninggalkan mayat-mayat bergelimpangan. menandakan ada baku tembak yang terjadi sebelumnya. "Lalu dimana Jaejong?" erang Yunho meremas rambutnya. Dia benar-benar sangat khawatir dengan keadaan istrinya saat ini.

"Mr Hangeng" teriak Donghae yang melihat Hangeng masih bergerak dengan luka tembak di tubuhnya. Yunho dan lainnya segera menghampiri.

Mereka melihat Hangeng tergeletak ditanah dengan darah yang mengotori bajunya, ia seperti ingin mengatakan sesuatu sambil menggapai-gapai kearah kaki Yunho.

"To... to..long ekhh aah" kata hangeng mulai terbata-bata.

Yunho menatap Hangeng dengan tatapan sinis. Lalu berjongkok didekatnya. "Apa sakit?!" Tanya Yunho berbelit. Hangeng yang nafasnya mulai putus-putus berusaha mengangguk.

"Kasihan sekali. Mau kubantu menghilangkan sakitnya?" Yunho sedikit mengangkat kepala Hangeng dengan kedua tangannya. Hangeng mulai meronta, namun apa daya ia tidak memiliki tenaga lagi. Keempat rekan Yunho yang melihat itu mulai khawatir dengan apa yang akan di lakukan Yunho selanjutnya.

"Yunho apa yang akan kau lakukan?" teriak Dongwook panik. Yunho yang sudah dikuasai amarah yang mendalam atas apa yang di lakukan Hangeng kepada istrinya mengindahkan teriakan Dongwook. dan mulai memposisikan tangannya sedemikian rupa dikepala Hangeng, lalu menariknya dengan kuat dan cepat.

Krek

Tubuh Hangeng kembali ambruk ke tanah setelah Yunho dengan sukses mematahkan lehernya dan membuat nyawanya melayang dengan sempurna. Perbuatan Yunho tersebut mengundang teriakan tertahan dari keempat rekannya yang kemudian Cuma mematung karena shock melihat Yunho membunuh bosnya sendiri.

Yunho menyunggingkan senyum sinis melihat mayat Hangeng.

"Nikmati Nerakamu... Hangeng-ssi!"

.

.

Hemm akhirnya... setelah terinspirasi dari berbagai film action, hanya sebatas ini yang bisa saya buat. ada yang dari film bond the another day, or mission imposible dll.

hmm yang nunggu yunjae momentnya, semoga Chap depan ada, pengennya break dulu actionnya. habis udah mo deket-deket tamat kemungkinan bakal action semua isinya. klo gak ada penambhan cerita rencananya tinggal 3 atau 2 chap lagi.

so semoga readerdeul gak bosan ya!

thanks ^^

see you next chap

anyoeng!