Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Aku rela chapter 9
Ting Tong Ting...
Suara bel tanda istirahat terdengar. Para siswa yang sudah bosan dengan pelajaran yang mereka hadapi segera membereskan buku mereka dan keluar ruangan kelas. Tak terkecuali Sai.
Dia berjalan menuju ke atap sekolah. Atap yang berbentuk seperti gedung pencakar langit dengan jaring-jaring dari kawat tipis setinggi tiga kali orang dewasa untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Sai menyeka peluh yang menetes di dahinya ketika dia telah berhasil sampai di bagian atap setelah melewati banyak anak tangga. Entah mengapa dia merasa tidak seperti biasanya. Padahal, dia sering berlomba lari melewati anak tangga menuju atap bersama Shikamaru demi sebuah tempat nyaman dan teduh di atas atap.
'Tentu saja aku begini! Tentu saja karena...'
Sai segera menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin kata itu melintas di pikirannya. Namun efek samping dari obat yang telah diminumnya seminggu terakhir adalah bukti dari semua ini. Bukti yang tidak bisa disangkalnya. Sai memijat-mijat pelipisnya. Dia memang pernah mengalami anemia. Namun yang dia tahu tidak separah ini.
"Tumben datang kesini."
Sai menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya Shikamaru yang sedang berbaring menatap langit dengan kedua tangannya sebagai bantal. Dia menengadahkan kepalanya sehingga bisa melihat Sai dengan posisi terbalik . Sai tersenyum palsu. Sebuah trade-mark yang membuat Shikamaru mendecih dan bangkit untuk duduk menghadap Sai yang berjalan menghampirinya.
" Apa aku mengganggu tidurmu Shikamaru?" tanya Sai seraya duduk di depannya.
" Tidak, kau tidak mengganggu tidurku. Tapi kau mengganggu pikiranku sejak pelajaran tadi," jawab shikamaru enteng seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
" Eh? Maksudnya apa?"
" Entah kenapa kuperhatikan sejak tadi pagi kau tidak seperti biasanya," tanya Shikamaru penuh selidik. " Kau bahkan tidak berdebat dalam pelajaran kewarganegaraan seperti biasanya."
" Memangnya apa yang harus ketanyakan? Presentasi kelompok dua sudah bagus dan jelas."
" Hn. Tapi bukankah kau ahli dalam masalah hukum? Biasanya kau akan menambahkan beberapa pasal untuk mendukung argumenmu. Kau sedang dalam masalah kan? Hey, curhat saja padaku. Itung-itung sebagai balas budi karena kau sering memata-matai Temari di ekskul karate."
Sai tertawa lepas. Namun segera dihentikannya ketika kepalanya mulai terasa pening.
" Mata-mata? Hey, yang benar saja."
" Yah, bisa dibilang begitulah. "
" Itu bukan mata-mata tahu. Menurut kajian bahasa artinya..."
" Hah! Mendokusei na... Kau ini. Yang jelas begitu-begitu lah. Benar-benar merepotkan. Jangan mentang-mentang kau jadi peserta penulisan karya ilmiah kau jadi gila bahasa."
" Yah, mau bagaimana lagi. Bukankah sikap kritis juga diperlukan?"
" Terserahlah, mendokusei. Kau tahu, gara-gara berdebat denganmu aku menjadi tidak mengantuk lagi. Sillahkan ambil spot itu. Aku mau ke kelas," kata Shikamaru seraya bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Sai di atap sekolah.
Sepeninggal Shikamaru. Sai berbaring menatap langit. Lalu tangan kanannya menutupi kedua matanya. Nafasnya satu-satu. Lalu hempaskannya tangan kanannya itu ke sisi kanan tubuhnya. Tiba-tiba dia merasakan sesuatuh berbentuk bujur sangkar di tangan kanannya. Setelah diseret, ternyata sebuah buku. Dengan iseng karena tidak ada hal lain yang akan dilakukannya, Sai mencoba membuka-buka isi buku itu yang ternyata berlabel tulisan 'Nara Shikamaru' di bagian sampulnya.
Ketika Sai berniat membuka halaman pertama, sebuah tangan mencoba untuk merampasnya. Dengan reflek Sai memegang tangan itu yang ternyata milik Shikamaru. Sai terkejut dan segera mengembalikan buku itu diiringi dengan senyum tanpa dosa.
Shikamaru meneliti isi buku itu. Berharap tidak ada yang hilang. Sai tertawa.
" aku belum baca kok."
Shikamaru memandang Sai. Muncul ekspresi khawatir di wajahnya.
" Sai? Kau sakit? Wajahmu pucat."
" Eh? bukankah aku memang pucat?"
" Bukan begitu, kau lebih pucat dari biasanya.
" aku memang tidak enak badan hari ini," kata Sai seraya memiringkan tubuhnya ke arah samping. Shikamaru menghampirinya dan menaruh tangan kanannya di dahi Sai. " Mau kuantar ke UKS? Nanti aku mintakan izin dari BK."
" Tidak usah Shikamaru, aku mau berbaring disini saja. Lagian kau tahu kan bagaimana keadaan UKS sekolah. Bukan bikin sembuh malah tambah sakit."
Alis kanan Shikamaru naik. Lalu dia menghela napas. Kalau Sai yang bilang begini tidak ada yang bisa membantah. Lalu di bangkit dan berjalan meninggalkan Sai. " Terserah kamu sajalah."
" Oke."
Sai memejamkan matanya. Seumur-umur dia belum pernah merasakan lemah yang selemah ini. Benar-benar tidak bertenaga. Beberapa waktu kemudian dia tertidur.
" Wah, itu anak imut sekali."
" Lihatlah ekspresinya ketika tidur. Imut dan polos. Membuatku ingin mencubitnya."
" Iya ya. Sangat imut"
" Hey, dia terbangun. Apa jangan-jangan suara kita.."
Sai menggeliat dan membuka matanya. Tubuhnya terasa lebih baik meskipun masih terasa lelah. Ditolehnya asal suara yang membuatnya terbangun. Didapatinya dua orang wanita dengan umur sekitar empat puluhan dan seorang nenek tua yang berdiri di sebelahnya. Sai mencoba menebak siapa mereka. Untuk menguji kebenarannya, Sai melihat kaki mereka yang tidak menyentuh tanah alias melayang. Sai tersenyum ketika tebakannya benar.
" Konichiwa," ujar seorang nenek tadi kepada Sai. Sai berdiri dan membungkukkan badannya pada nenek itu dan membalas salamnya.
" Wah, sudah ganteng sopan lagi. Andaikata aku masih hidup, pasti akan kukenalkan pada anakku," ucap salah satu dari dua wanita yang berumur sekitar empat puluh tahunan. Sai hanya tersenyum sambil menggaruk pipinya.
Tiba-tiba bel pulang sekolah berbunyi. Sai segera menepuk dahinya mengingat dia telah melewatkan empat jam pelajaran ketika dia tertidur. Dia segera berpamitan pada tiga orang tadi dan berlari menuju kelasnya. Didapatinya kelas sudah sepi. Lalu tanpa sengaja dia menoleh ke arah papan tulis dan selanjutnya...
'Minna... nanti kelas kita tanding kasti dengan kelas sepuluh satu. Jangan lupa lihat ya... bantulah walau hanya dengan menjadi suporter bagi teman-teman kita yang bertanding'
Melihat pengumuman itu Sai segera menuju ke lapangan belakang sekolah. Didapatinya para siswa telah sibuk memberi semangat untuk tim yang mereka dukung. Sai duduk di samping Shikamaru. Shikamaru dan teman-temannya menoleh ke arah Sai. Sai hanya tersenyum canggung.
Tiba-tiba dia merasa ada seseorang yang merangkul lengannya.
" Wah, terima kasih Kami-sama. Sai sudah kembali. Sai, larimu kan cepat dan kamu selalu bisa memukul bola dengan kuat plus jaraknya jauh. Kamu main ya..."
Sai mencoba mengelak. Namun karena bujukan bahkan hinaan bahwa dia adalah anak egois, akhirnya Sai hanya bisa mengangguk. Berharap tubuhnya masih mampu. Sai segera masuk ke lapangan.
Sai menjaga di bagian belakang pemukul. Giliran memukul sekarang adalah Sakura. Sai tersenyum miris. Lucu, dirinya yang tak bisa seperti Sasuke mengharapkan Sakura. Di dalam mimpi saja masih impossible.
Sakura memukul bola namun tidak kena. Dia segera berlari hingga dia merasakan bola kasti menempel di punggungnya. Dia menoleh dan melihat Sai yang menempelkan bola di punggungnya lalu segera berlari menuju ke tempat di belakang pengumpan. Karena hanya dia sendiri yang berada paling jauh, maka Sai menambah kecepatan larinya dan tak disangka, dibelakangnya ada tim lawan yang mengejarnya.
Shikamaru yang sudah dekat dengan tempat di belakang pengumpan segera berbalik dan memberi komando pada anggota timnya yang belum masuk. " Lindungin Sai! Ayo!"
Mereka berempat malah mengelilingi pengejar. Sai segera berlari namun pukulan keras mengenai punggungnya. Dia segera mengambil bola yang mengenai punggungnya dan mengoper ke Shikamaru. Dan...
"Yeah! Ayo cepat balik!" komando Shikamaru. Teriakan para suporter membahana.
" Nomor tiga!" ujar sang wasit.
Shikamaru maju. Dia segera menuju ke tempat pemukul dengan santainya bahkan berkali-kali sampai menguap.
" Mau berapa tingginya?" tanya sang pengumpan.
" Hoam. Segini deh," ucap Shikamaru seraya mengangkat tangan kirinya sepinggang.
Takkk!
" Puah..."
Kalimat kagum terucap dari mulut para suporter. Bola melambung jauh dan para penjaga berusaha berlari ke arah jatuhnya bola. Shikamaru berjalan santai dari pos satu ke pos lain bahkan dengan menguap hingga sampai ke tempat semula. Teman satu tim-nya berusaha memeluk Shikamaru namun yang perempuan hanya mengucapkan selamat.
" Empat!"
Sai maju.
" Sai..! Yang jauh ya..."
Tiba-tiba hujan turun. Para suporter berteduh namun anak kelas sepuluh delapan tetap di tempat mereka. Mereka tahu bagaimana perasaan para pemain.
" Mau berapa?"
" Segini."
Takkk!
" Ppooohhhhhh..."
Sai berusaha memukul meski pukulannya tidak jauh namun cukup melambung tinggi. Ketika sampai di pos dua dia tidak berani kembali karena para penjaga sudah dekat dengan tempat jatuhnya bola. Namun, ada yang aneh. Mereka malah berputar-putar di sekitar situ.
" Sai... bolanya hilang... cepetan kesini..."
Sai tidak memerlukan undangan untuk kedua kalinya. Ketika telah sampai di tempat semula, suara peluit wasit menghentikan permainan. Para anggota dari tim kelas sepuluh delapan berpelukan di tengah derasnya hujan. Sai juga ikut berpelukan.
Dia merasa senang bisa menghabiskan waktu bersama lagi. Setidaknya hingga waktunya telah habis. Meskipun penyakitnya sudah ada obatnya, Sai tetap merasa putus asa. Setidaknya dia ingin bersenang-senang untuk mengurangi rasa sakitnya. Dia ingin sisa hidupnya bermanfaat sebelum kematian menjemputnya. Terutama pada keluarganya...
" Yeah, kita menang..."
" Yosh! Hadiahnya kira-kira buat apaan ya?"
" Lebih baik buat makan-makan satu kelas. Trus liburan bareng..."
" Sepertinya seru tuh!"
Brukkkk!
" Sai !"
...
" Dia sudah meninggal."
" Eh? Kapan?"
" Beberapa tahun yang lalu. Padahal dia terlihat sehat waktu itu."
" Kalau boleh tahu,kenapa bisa meninggal?"
" AIDS."
" Ha? Bagaimana bisa?"
" Buat apa kau bertanya-tanya?"
" Dulu ketika adik saya kecelakaan, dia menolong adik saya. Ketika saya sekeluarga datang ke rumah sakit, dia sudah pergi. Saya kesini untuk menyampaikan ucapan terima kasih."
" Oh, begitu. Yah, kakakku menderita AIDS karena tertular dari suaminya. Setelah tahu dia tertular, dia menjadi pendiam dan menutup diri. Kami sekeluarga mencoba untuk memberikan motivasi. Akhirnya dia mau berusaha namun tajdir berkata lain."
Itachi merasa bersalah dengan membuat bibi di depannya kembali mengulang masa lalu yang menyakitkan mengenai kakaknya. Namun apa daya, hanya ini yang bisa dilakukannya. Dan sekarang dia tahu apa yang menyebabkan adiknya menjadi seperti sekarang ini.
.
.
.
.
To be continued
Author's note:
Wah, keajaiban banget ya kalau Kasumi bisa update kilat? (reader: *hening tak bersuara*). Eh? etto...minggu depan Kasumi udah mulai mengikuti ujian MID semester 2 jadi Kasumi bakalan vakum selama beberapa minggu. Sebagai gantinya, Kasumi update chapter ini dengan kilat (?). Gomen ne...
Tapi mohon review ya...
