SOULMATES

Chapter 9

Disclaimer : J.K Rowling

Pair : Draco M. & Harry P.

Rate : T

Genre : Family / Romance

Warning : SLASH, MPREG, OOC, Modifiate Canon.

.

.

Jangan berharap ada konflik berat di sini ya, lagi males mikir #plak

.

#

.

"Darrel, hentikan itu," kata Draco sambil terus memeriksa essay para muridnya.

Darrel seakan tak mendengar, dia terus terbang mengelilingi ruangan dengan sapu terbang kecilnya sambil tertawa senang bersama Kreacher yang berlari-lari mengejarnya., "Kejar aku, Kreacher, cepat!" serunya.

Akhir pekan ini Draco menyempatkan diri untuk pulang menjenguk putra semata wayangnya itu di Manor. Severus sedang ada keperluan di luar kota dan Harry belum bisa pulang karena kesibukannya di Hogwarts.

Draco menekan keningnya, dia tak habis pikir dengan tingkah laku anaknya yang terlalu aktif itu. Draco menahan napas melihat ulah anaknya yang tak juga mau berhenti, anak lelaki berusia lima tahun itu terlalu lincah seakan tak memiliki rasa lelah. Anak yang didapatnya dari Harry dengan keistimewaan yang diberikan oleh para peri.

Darrel terus tertawa riang sambil meminta Kreacher untuk mengejarnya, Draco sedikit merasa takut melihat itu, "Darrel, hentikan... kalau kau terus seperti itu kau akan... perhatikan depanmu, Son!" teriak Draco.

BRUUGH...!

Terlambat... Darrel tak melihat pilar marmer di depannya dan terjatuh ke lantai.

Draco melompat dari kursinya dan menghampiri anaknya.

"Daddy..." rintih Darrel pelan dengan menahan sakit pada kakinya.

Draco bersendekap, dia lega karena tak ada luka serius pada anak itu, tapi tetap saja dia harus memarahi Darrel, "Jangan menangis!" katanya.

Darrel terdiam, dia menelan isaknya yang hampir keluar dari mulutnya, kepalanya yang ditumbuhi rambut pirang seperti ayah dan kakeknya menggeleng pelan.

Draco berusaha keras menahan rasa kasihannya, dia dan Harry sepakat untuk tak mendidik Darrel tumbuh menjadi anak manja.

"Ada apa, Draco?" tanya Narcissa panik begitu mendengar suara ribut di ruang tengah, "Merlin, kau kenapa sayang?" teriak Narcissa melihat cucunya terduduk di lantai sambil memegangi lututnya.

"Mum, jangan mendekat, biarkan aku bicara dulu dengan Darrel," perintah Draco.

Narcissa menurut, dia selalu menghargai cara Draco dan Harry mendidik anaknya walau terkadang hatinya sebagai nenek tak tega melihat cucunya dihukum oleh para ayahnya.

"Daddy sudah bilang agar kau hentikan terbang seperti itu, kau dengar?" tanya Draco.

Darrel menggangguk pelan dengan mata yang tampak berkaca-kaca.

"Kenapa kau tak mau menurut apa yang Daddy katakan?" tanya Draco lagi.

Darrel menunduk, sekuat tenaga dia berusaha untuk tak menangis.

Tak berapa lama perapian menyala terang dan keluarlah Harry dari dalamnya. Dia mengernyit bingung melihat Draco, Narcissa dan Darrel di sana, terlebih karena Darrel terduduk di lantai putih dengan wajah setengah menangis. Perlahan dia menghampiri Draco setelah mencium pipi Narcissa sebagai salam, "Ada apa?" tanyanya pada pria yang telah mengikat hatinya sejak enam tahun silam itu.

Darrel tak berani menatap para ayahnya karena dia merasa bersalah, dia terus menunduk dalam.

Draco menceritakan apa yang terjadi pada Harry dan Harry pun mengangguk mengerti, "Kenapa kau tak mendengar kata-kata Daddy Draco, Darrel?" tanyanya pelan tanpa nada menyalahkan.

Darrel dengan takut-takut menatap Harry, "Maaf, Daddy," bisiknya lirih dengan suara gemetar.

Draco menghela napas panjang, dia semakin tak tega melihat anaknya begitu, "Kau menyesal?" tanyanya pelan.

Darrel mengangguk dengan masih mengusap lututnya yang tampak merah.

Perlahan Draco mendekati anak itu dan menggendongnya, mengusap punggung kecilnya dan mencium pirang rambutnya dengan penuh kasih.

Darrel memeluk leher ayahnya dengan erat, dia tak terisak tapi dari mata hijaunya keluar butiran kristal bening yang membasahi kulit Draco.

Draco memandang emerald Harry, dan keduanya tersenyum. Dengan lembut Draco mendudukkan bocah cilik itu di sofa dan memeriksa lututnya, memar merah itu ternyata disertai sedikit goresan pada kulitnya yang berdarah. Pelan Draco meniup luka itu dan menyentuhnya.

Darrel menggigit bibirnya dengan berurai air mata.

"Sakit?" tanya Draco lembut.

Anak lelaki itu menggeleng keras.

Harry tersenyum, "Lalu kenapa dari mata hijaumu itu keluar sungai?" goda Harry sambil mengusap bahu Draco yang berlutut di depan putra mereka.

Kali ini Darrel tak kuasa menahan isaknya, "Maafkan aku, Daddy, aku menyesal tak mendengar kata-kata Daddy," katanya tersendat.

Draco mengacak lembut rambut pirang Darrel yang halus, "Sudahlah, berhenti menangis, Daddy tak marah lagi padamu asal kau janji jangan mengulangi lagi, ok?"

Darrel mengusap air matanya dan mengangguk, "Ok, Daddy," jawabnya pelan.

Draco mengambil tongkat sihirnya dan mengetuk lutut Darrel pelan, merapalkan mantra penyembuh untuk anaknya. Perlahan luka itu menutup, tak ada lagi goresan maupun darah, bahkan memar merah itu perlahan pudar.

"Thank you, Daddy," kata Darrel sambil memeluk ayahnya lagi.

Draco tersenyum kecil lalu menggendong anaknya, "Sudah malam, Daddy akan temani kau di kamarmu," kata Draco yang disambut anggukan Harry.

"Tapi Grandpa Lucy belum pulang," kata bocah cilik itu.

Narcissa mencium pipi cucunya, "Grandpa akan pulang terlambat malam ini, tidurlah dulu, besok pagi kau akan bertemu Grandpa saat makan pagi," hibur wanita cantik itu.

.

.

Setelah mengganti baju Darrel dengan piyama bocah itu pun langsung masuk ke dalam selimut tebalnya, "G'nite, Daddy," katanya sebelum memejamkan mata. Draco dan Harry bergantian mencium anak mereka.

"Kau lelah," kata Draco setelah mereka meninggalkan Darrel yang telah tertidur di kamarnya dan kembali ke kamar mereka sendiri di sebelah kamar Darrel yang terletak di lantai dua, lantai yang dikhususkan Narcissa dan Lucius untuk keluarga kecil Draco dan Harry.

Harry meletakkan jubahnya dan berganti piyama, "Lumayan, Draco, banyak sekali yang harus aku periksa minggu ini," desahnya sambil membaringkan tubuhnya di tempat tidur.

Draco menyusul Harry dan berbaring di samping pemuda berkacamata itu, membiarkan Harry menyamankan tubuhnya dengan merebahkan kepala di dadanya dan melingkarkan lengan di pinggangnya. Perlahan dia mengusap punggung pemuda yang telah melahirkan putranya itu, "Tidurlah," bisiknya.

Harry terdiam sebentar sambil memainkan jarinya di lengan Draco yang memeluk bahunya, "Draco…" panggilnya.

"Hmm?" jawab Draco.

Harry tampak berpikir sebentar sebelum mengatakan sesuatu pada pemuda yang pernah menjadi musuh besarnya itu.

"Ada apa?" tanya Draco penasaran.

Harry menegakkan tubuhnya dan bersandar di kepala tempat tidur yang terbuat dari kayu kokoh berukir mewah itu.

Draco mengernyit dan mengikuti gerak Harry.

Mata hijau Harry memandang Draco, "Tadi pihak kementrian menghubungiku, mereka… memintaku bergabung lagi di departemen Auror," sampainya.

Draco sedikit terkejut, "Lalu?"

"Aku pikir, kalau aku terima maka aku akan bisa menemani Darrel setiap hari, setidaknya lebih sering bersama dia dibandingkan saat ini," jawab pemuda itu pelan.

"Kau sudah terima tawaran mereka?" tanya Draco.

"Belum," jawab Harry cepat, "Sebab aku juga berpikir kalau aku jadi bergabung bersama mereka aku justru…"

"Tak bisa bersamaku sesering sekarang?" goda Draco sambil tersenyum.

Wajah Harry memerah, "Kenapa kau berpikir begitu? Dasar narsis," katanya jengah.

Draco tertawa pelan, "Lalu? Apa lagi alasanmu?"

Harry menggeleng pelan, "No," jawabnya tanpa memandang Draco.

Kali ini Draco yakin kalau tebakannya benar, sebenarnya dia juga tak suka jika tak bisa sesering mungkin bertemu Harry, tapi… "Kau tentukan sendiri keputusanmu, aku hanya bisa mendukung," katanya tegas.

Harry tersenyum, entah kenapa ada rasa lega dalam dadanya, dia tak menyangka kalau Draco akan menjawab dengan dewasa, padahal dia pikir kalau pemuda itu akan bertahan dengan segala keegoisannya, "Thanks, tapi aku juga bingung, Draco… aku juga mencintai pekerjaanku sebagai guru."

Draco mengusap pipi Harry dan mengecup lembut bibir merahnya, "Pikirkan pelan-pelan saja, sekarang sebaiknya kau tidur, karena aku yakin anakku akan membuatmu repot besok pagi."

"Anak kita, Draco," koreksi Harry.

Draco tertawa, "Ya ya, anak kita."

.

.

"Daddy, boleh aku bermain sapu terbang lagi bersama Kreacher?" tanya Darrel pada kedua ayahnya setelah mereka makan pagi.

"No," jawab Harry sebelum Draco memberikan jawaban pada anak itu, "Kau harus belajar dulu bersama Daddy atau Grandma, setelah itu baru kau boleh bermain."

"Sebentar saja, Daddy, setelah itu baru aku belajar," tawar anak berwajah mirip Draco itu manja.

Harry menggeleng, "Tidak ada tawar-menawar," tolak Harry, "Bacalah dulu buku bergambar yang kemarin dibelikan Grandma untukmu, kau suka cerita peri kan?" rayu Harry lagi.

"Tidak mau, aku bosan," bantah Darrel dengan sedikit cemberut.

Draco memutar bola matanya, "Aku benar-benar menyesal dulu bersikap seperti itu pada kalian, Mum, Dad," desisnya pada kedua orang tuanya yang disambut tawa Narcissa.

"Kau dulu lebih keras kepala, Son," jawab wanita cantik itu.

Lucius menutup surat kabarnya, saat ini dia begitu terbiasa dengan suara ramai cucunya, bahkan merasa kesepian disaat anak itu kembali ke rumah Severus. "Mau ikut Grandpa?" tanyanya pada Darrel.

"Grandpa mau kemana?" anak itu balik bertanya.

"Memeriksa area rumah ini dengan sapu terbang, mau ikut?" tanyanya lagi sambil mengulurkan tangannya pada Darrel.

Mata emerald kecil itu membulat, bibir mungilnya berteriak senang, "Tentu, Grandpa! Aku ikuuuuut…!" serunya gembira sambil menerima uluran tangan kakeknya.

"Dad…" kata Harry berusaha mencegah ayah mertuanya.

"Ini juga pelajaran, Son, agar dia bisa menjadi seeker hebat seperti kalian," jawab Pria berambut pirang panjang itu sambil meraih Darrel yang tersenyum penuh kemenangan pada Harry dan menggendongnya menuju halaman belakang.

Draco tertawa, "Kau kalah, Daddy," godanya pada Harry sambil menyeringai.

Harry hanya menatap kakek dan cucu yang mulai menjauh itu dengan pasrah.

Narcissa tersenyum dan mengusap lengan Harry yang duduk di sampingnya, "Biarkan mereka, Lucius selalu merindukan Darrel saat anak itu tak ada di sini," kata wanita berambut pirang itu, "Bahkan dia sering bersitegang dengan severus agar Darrel bisa menginap disini barang semalam."

Harry tertawa pelan, "Begitu banyak yang menyayanginya, mudah-mudahan anak itu tidak besar kepala," kata Harry sambil melirik Draco.

"Kenapa kau melihatku begitu?" tanya Draco tajam.

Harry tersenyum dan berdiri dari duduknya, "Aku harus memeriksa sedikit esai lagi yang belum sempat aku kerjakan kemarin," jawabnya sambil berlalu.

Draco mengikuti langkah pemuda itu, "Hei, jawab pertanyaanku," desaknya.

Harry kembali tertawa, "Aku tak dengar pertanyaanmu," jawabnya ringan sambil terus berjalan.

Narcissa hanya menggeleng saja melihat kelakuan dua anak muda yang terkadang terlihat lucu itu. Tak ada yang bisa menebak masa depan, siapa yang menyangka jika dua musuh bebuyutan itu akan terikat rasa cinta bahkan memberikan Darrel sebagai cucu di keluarga Malfoy?

.

#

.

Harry mendongakkan wajahnya saat pintu ruang kerjanya terbuka, dia tersenyum saat melihat Draco lah yang masuk. Pelan dia menggerakkan tangannya meminta agar Draco tak bicara dulu.

Draco diam dan menarik pelan kursi di depan meja kerja Harry, dia duduk sambil memperhatikan pemuda di depannya itu. Melihat Harry yang tersenyum sambil memejamkan mata maka tahulah Draco kalau Darrel tengah mengajak pemuda berkacamata itu berbincang melalui telepati. Ada perasaan hangat setiap kali dia melihat Harry berkomunikasi dengan anak mereka, bahkan sampai sekarang rasanya dia seperti hidup di alam mimpi. Apalagi yang tak dimilikinya? Harry mencintainya, sama seperti perasaan yang dimilikinya sejak tahun terakhir mereka menjadi siswa di Hogwarts, itu adalah hal hebat yang pernah terjadi dalam hidupnya, dia berhasil memiliki pemuda yang sangat dicintainya. Dan yang membuatnya semakin sempurna adalah karena Harry memberinya seorang putra, anak yang didapatkannya karena para peri memberikan keistimewaan mereka pada Harry sebagai hadiah karena Harry berhasil mengalahkan Voldemort dan membuat para peri tersebut kembali hidup dengan tenang. Penyatuan mereka malam itu ternyata adalah awal dari segalanya.

"Melamun?"

Draco sedikit tersentak oleh teguran Harry, "Tidak, hanya sedikit mengingat masa lalu," jawabnya sambil memajukan tubuhnya dan menumpukan tangannya di atas meja, "Dia cerita apa?" tanya Draco.

Harry tersenyum, dan ikut memajukan tubuhnya, "Katanya dia rindu padamu," jawab pemuda itu, "Dia kesal karena dia tak bisa berbicara padamu setiap saat."

"Asal kalian tahu, aku pun kesal dengan hal itu, kenapa selalu kau yang bisa berbicara dengannya?" jawab Draco.

Harry tertawa, "mungkin karena aku yang melahirkannya ya?"

Draco menatap hijau emerald Harry yang bersinar, "Aku selalu takut kalau semua ini hanya mimpi, Harry," katanya sambil menggenggam tangan pria muda berambut hitam di depannya itu.

"Kenapa?"

Draco menghela napas panjang, "Bisa memilikimu saja sudah merupakan suatu kehebatan tersendiri dalam hidupku, tapi ternyata kehadiran Darrel, putra kita, membuat hidupku semakin sempurna," jawab Draco pelan, jemari panjangnya membelai lembut kulit tangan Harry.

Harry tertawa pelan, "Aku juga seperti mimpi, sama seperti yang kau rasakan. Bahkan sampai sekarang aku sering takut jika suatu hari nanti Darrel akan menghilang dari hidupku, aku masih sering tak percaya kalau aku… sebagai seorang lelaki, bisa melahirkan seorang anak. Aku takut ini hanya kamuflase dari para peri."

"Tak akan aku biarkan putra kita menghilang, Harry, tidak juga kau," tegas Draco. dia setengah berdiri dan memajukan tubuhnya, "Terima kasih karena telah menyempurnakan kebahagiaanku," bisik Draco sebelum mencium bibir Harry dengan begitu lembut. Harry mengurung logikanya, menikmati kelembutan dan kehangatan yang ditawarkan oleh bibir kekasihnya.

Ciuman mereka terputus saat seekor burung hantu masuk dan mendarat di meja Harry. Harry mengambil sepucuk surat yang dibawa oleh burung tersebut, membacanya dan terdiam.

"Kenapa?" tanya Draco, "Surat dari siapa?"

Harry menyerahkan surat, "Kementrian membutuhkan bantuanku segera, mereka ingin aku mengawal Ron dan beberapa auror muda untuk proses pengembalian tawanan dari Azkaban ke Jerman.

Draco kembali melipat surat yang baru selesai dibacanya, "Lalu? Bagaimana keputusanmu?" tanyanya.

Harry menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, "Mau menolak juga tak enak, tapi aku belum bisa menentukan akan memilih menjadi auror atau tetap menjadi pengajar," jawabnya.

Draco mengerti bagaimana ini akan menjadi sulit untuk pasangannya, dia pun tak ingin jauh dari Harry, tapi ini bukan saatnya bersikap egois, "Kalau kau memang ingin membantu Ron sebaiknya kau segera memberi jawaban, untuk keputusan menjadi auror atau tidak itu bisa kau pikirkan lagi setelah kau pulang dari Jerman, itu menurutku," kata Draco.

Harry tersenyum, "Aku tak menyangka kau akan benar-benar berubah, Draco, padahal aku membayangkan kau akan berteriak 'Tidak, Harry, tolak tawaran itu, aku tak akan mengijinkanmu jauh dariku'," godanya.

Draco tertawa renyah, "Aku tak akan bersikap egois lagi, terutama pada keluargaku sendiri, pada pasanganku dan pada anakku," jawabnya yang mampu membuat Harry terpaku.

"Kau pengertian sekali? Kalau aku perempuan mungkin saat ini aku akan berteriak 'Kyaaaa…' dan bermanja di pangkuanmu, Draco," jawab Harry tak percaya.

Sekali lagi Draco terkekeh, "Walau kau bukan perempuan pun aku tak keberatan kalau kau ingin melompat ke atas pangkuanku sekarang," jawab Draco sambil merentangkan tangannya.

Harry tertawa, dia berdiri dan menghampiri Malfoy junior itu, membungkukkan tubuhnya dan mencium bibir tipisnya yang tersenyum lembut padanya, "Thanks, Love," bisik Harry sambil mengecup singkat pipi putih Draco, tapi dia segera menggeleng saat pria itu menarik pinggangnya agar duduk di pangkuannya.

"Kenapa tak mau?" tanya Draco bingung.

"Cukup dengan minggu lalu disaat aku tak bisa konsentrasi mengajar karena kau membuatku 'lelah' sebelumnya," jawab Harry menjauh dan tak mempedulikan cengiran Draco.

.

#

.

"Daddy…!" teriak Darrel saat melihat Draco memasuki rumah Severus, bocah lucu itu berdiri dan berlari menyambut ayahnya, "Mana Daddy Harry?" tanyanya setelah berada dalam gendongan Draco dan melihat pintu kayu rumah itu tak terbuka lagi.

"Daddy Harry harus ke luar negeri, Son, dia tak bisa menemuimu selama dua minggu ke depan," jawab Draco dan langsung menghela napas saat melihat anaknya cemberut.

"Ke luar negeri? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Severus yang baru keluar dari ruang laboratoriumnya.

Draco duduk di depan perapian bersama pelindung Harry tersebut dengan masih memeluk Darrel, "Kingsley membutuhkan bantuannya untuk mengawal tawanan ke Jerman, prosesnya mungkin akan memakan waktu sedikit lama," jawabnya.

"Kenapa Daddy tak bilang padaku? Apa daddy tak merindukanku?" tanya Darrel yang masih cemberut.

Draco mengusap rambut pirang anaknya, "Daddy tak sempat pulang, Darrel, dia harus segera pergi secepatnya," jawab Draco mencoba menenangkan putranya.

"Tapi kan Daddy bisa mengatakannya padaku kalau mau pergi lama?" katanya tak mau kalah.

"Daddy Harry tak ingin mendengar kau menangis dan merengek-rengek sebelum dia pergi," jawab Draco lagi.

"Kalau Daddy bilang harus pergi untuk bekerja aku pasti tak akan menangis, seperti dulu saat Daddy menjadi guru, iya kan Grandpa?" katanya meminta dukungan Severus yang hanya bisa mengangguk.

Draco menggeleng pasrah, "Kalau cerewet begini pasti tak menurun dariku," katanya pelan tak menghiraukan kilat hitam Severus yang seakan ingin tertawa.

-Darrel…-

Sebuah suara mengejutkan bocah itu tapi dia segera tersenyum, "Daddy memanggilku…" katanya sambil memandang Draco.

"Benarkah? Cepat jawab dia," kata pria berambut pirang itu dan membiarkan Darrel bersandar di dadanya dengan wajah bahagia, dia memeluk erat anaknya seakan ingin ikut mendengar suara Harry.

-Daddy… kenapa tak bilang padaku kalau mau pergi?- tanya Darrel yang mulai berbincang melalui telepati dengan ayahnya.

-Maaf, nak, Daddy tak ingin membuatmu bersedih,- jawab Harry menyesal.

-Kapan Daddy akan pulang? Apakah masih lama?- tanya bocah itu lagi.

-Daddy tak bisa berjanji, doakan saja semua urusan daddy cepat selesai dan Daddy bisa segera pulang padamu dan Daddy Draco,- jawabnya lagi.

-Daddy Draco dan Grandpa sev ada bersamaku sekarang,- kata Darrel.

-Benarkah? Katakan pada mereka kalau Daddy sangat merindukan mereka.-

-Jadi daddy tak merindukanku?-

Harry tertawa mendengar nada kesal anaknya, -Kau yanng paling Daddy rindukan,- jawabnya dan kembali tertawa saat mendengar Darrel bersorak gembira.

"Daddy, Grandpa, kata Daddy Harry dia merindukan kalian," sampai Darrel pada dua orang dewasa di dekatnya.

Draco tersenyum, "Katakan padanya kalau kami juga rindu."

Darrel kembali diam dan berbicara dengan Harry, Draco membiarkan hal itu dan tertawa saat tak lama kemudian dia justru mendapati putranya tertidur pulas di pelukannya.

"Dia pasti merasa nyaman, bisa memelukmu dan mendengar suara Harry, seakan kalian berdua berada di sisinya," kata Severus pelan.

.

#

.

Sepuluh hari berlalu, belum juga ada kepastian kapan Harry akan kembali. Kabar terakhir yang di dengar Lucius sebagai kepala divisi hubungan sihir internasional, Harry mengalami kesulitan dengan dokumen pengembalian tahanan di Jerman. Pihak kementrian sihir Jerman sebenarnya tak ingin tahanan ini kembali ke negaranya, tapi jelas tak mungkin juga membiarkannya tetap di Inggris.

"Aku mau Daddy Harry," rengek Darrel saat makan malam di Malfoy Manor.

Narcissa memandang suaminya dan hanya bisa menghela napas panjang melihat gelengan Lucius yang berarti dia juga tak tahu kapan menantunya kembali, "Bersabarlah, sayang, Daddy-mu akan segera kembali kalau semua urusannya sudah selesai," hibur wanita itu.

Darrel menundukkan kepalanya dan mengaduk-aduk makanan di piringnya, "Daddy juga tak menjawab panggilanku sejak kemarin," katanya lagi dengan kesal.

"Mungkin Daddy sedang sibuk, sayang, dia pasti lelah," bujuk Narcissa lagi agar cucunya tak cemberut.

Darrel menjauhkan piringnya dan turun dari kursinya.

"Kau mau kemana, Darrel?" tanya Lucius, "Habiskan dulu makanmu."

"Aku tak lapar, Grandpa," jawab anak itu sambil duduk di sofa ruang tengah. Dia memeluk lututnya sambil terus melihat ke arah perapian.

Lucius dan Narcissa saling berpandangan, selera makan mereka pun hilang melihat kesedihan satu-satunya cucu mereka. Lucius mengelap bibirnya dengan serbet putih yang halus lalu menghampiri Darrel, duduk di sampingnya dan memeluk pundaknya, "Bagaimana kalau besok kau ikut Grandpa?" tawarnya.

Darrel menggeleng keras dan membuat kedua Malfoy senior itu mengernyit heran, sebab tak biasanya Darrel menolak ajakan Lucius, "Kenapa?" tanya Narcissa.

"Aku mau menunggu Daddy, nanti kalau aku pergi dan ternyata Daddy pulang aku tak bisa bertemu Daddy lagi," jawabnya pelan.

"Daddy pasti akan menunggumu datang," kata Narcissa lembut.

"Tidak mau! Aku mau menunggu Daddy!" teriak darrel setengah terisak.

Lucius meraih cucunya dan memangkunya, dibelainya rambut Darrel yang sewarna dengan rambutnya dan Draco, "Baiklah… baiklah, kami tak akan memaksamu, jangan menangis, ok?" kata pria setengah baya itu tanpa melihat senyuman geli istrinya. Darrel memang mampu membuat sebongkah batu karang meleleh oleh pesonanya.

Perapian menyala hijau dan Darrel hampir saja melompat dan terjatuh kalau tangan Lucius tak segera menahannya. Dia bisa melihat kekecewaan di mata hijau cucunya saat melihat Draco keluar dari perapian itu.

"Ada apa ini?" tanya Draco heran melihat seluruh keluarga berkumpul di sana, apalagi saat melihat Darrel yang seperti ingin menangis dalam pelukan kakeknya.

Darrel menolak melihat Draco, dia memeluk dada Lucius dengan rapat, menyembunyikan wajahnya dari ayahnya.

"Hei… kau marah pada Daddy?" tanya Draco sambil menyentuh pundak putranya dengan lembut.

Darrel tak menjawab, dia bahkan mengibaskan tangan ayahnya.

"Darrel…" panggil Draco.

"Daddy Draco jahat, seharusnya Daddy menyuruh Daddy Harry pulang sekarang!" teriak bocah itu sambil menangis.

Draco memandang kedua orang tuanya dengan bingung, Darrel mengira kalau dia bisa menyuruh Harry pulang saat ini juga.

"Darrel, Daddy tak bisa," jawab Draco.

Tangis Darrel semakin keras, "Aku mau Daddy Harry-ku, aku mau Daddy sekarang," rengeknya lagi, "Aku benci Daddy Draco, aku benci Grandpa, aku benci Grandma!" protesnya di tengah cucuran air mata.

Draco tak ingin terus mendengar tangis anaknya, dia memaklumi sikap Darrel yang manja karena dia memang masih kecil, tapi dia tak suka kalau anaknya terus begini. Dengan paksa dia mengambil Darrel dari pelukan Lucius, dia tak peduli walau bocah itu meronta dan berteriak marah, "Darrel, diam! Dengar Daddy," bentak Draco setelah berhasil mengunci bocah itu dalam gendongannya. Darrel terkejut dan saat itu juga teriakannya hilang, hanya air mata yang terus mengalir dari emerald-nya.

"Dengar, Daddy Harry sedang bekerja, dia pasti masih sibuk dan lelah. Coba kau pikirkan ini, Daddy Harry sendirian di sana, tak ada aku, kau dan kakek nenekmu, apa kau pikir Daddy Harry tak merindukan kita?" tanya Draco tegas. "Daddy Harry pasti juga sedih karena tak bisa bertemu denganmu," katanya lagi.

Napas Darrel tersendat-sendat, air mata masih mengalir deras, tapi dia tak berani menangis kencang lagi kalau Draco sudah marah.

Narcissa dan Lucius pun tak berani ikut campur jika Draco ataupun Harry sedang berbicara dengan cucu mereka itu, mereka hanya diam dan siap menampung tangis Darrel kapan saja jika Draco dan Harry sudah pergi.

Draco mengusap air mata anaknya dengan lembut, "Jadilah anak baik dan tidak cengeng, Daddy yakin kalau Daddy Harry akan segera pulang untuk kita, okay?" bisiknya.

Darrel mengangguk pelan lalu memeluk pundak Draco sambil menyembunyikan wajahnya di leher ayahnya, "Maafkan aku, Daddy," isaknya pelan.

"Minta maaf juga pada Grandpa dan Grandma, kau sudah membuat mereka ikut bersedih dengan melihatmu menangis," kata Draco.

Darrel mengangkat wajahnya dan melihat pada kakek neneknya, "Maafkan aku, Grandpa, maafkan aku, Grandma," katanya dengan wajah yang masih basah oleh air mata.

Lucius dan Narcissa hanya mengangguk sambil tersenyum.

Mereka dikejutkan oleh ketukan di pintu Manor yang megah itu, "Biar aku yang membukakan pintu," kata Draco sambil berjalan dengan masih menggendong Darrel. Dia membuka pintu dan terkejut melihat siapa yang datang, "Astoria?" sapanya bingung.

Astoria pun tampak terkejut melihat Draco, dia tak menyangka kalau pria itu akan ada di rumah, "Draco, hai," katanya kaku.

"Daddy, siapa dia?" tanya Darrel dengan suara parau sehabis menangis.

Mata Astoria terbelalak lebar, "Darrel, kau sudah besar ya?" sapanya sambil memberikan kecupan singkat di pipinya yang bulat kemerahan.

"Dia Aunt astoria, teman Daddy," jawab Draco, "Masuklah, Asto, kau ingin bertemu siapa?' tanyanya sambil membuka pintu lebih lebar.

"Sebenarnya aku ingin berkunjung saja, rindu pada Aunt Cissy, tak apa kan?" tanyanya pada Draco.

"Tak apa, siapa yang bisa melarang rasa rindu? Anakku saja baru selesai menangis karena rindu, bukan begitu Darrel?" goda Draco dan tertawa saat bocah menggemaskan itu kembali menyusupkan wajahnya di lehernya.

"Rindu? Pada siapa?" tanya Astoria sambil mengikuti langkah Draco ke ruang tengah.

"Pada Harry, dia di Jerman sepuluh hari ini dan belum pulang," jawabnya.

"Oooh… kasian kau, sweetheart," kata Astoria sambil mengusap rambut pirang Darrel. Ada perasaan ganjil menyeruak dalam dadanya, dia memandang, bahkan menyentuh putra dari pria yang pernah begitu dicintainya, putra dari pria yang dulu hampir menjadi suaminya. Ada rasa sedih, terluka tetapi juga lega melihat wajah Draco yang tampak bahagia.

"Astoria, kejutan kau datang," sapa Narcissa sambil menyambut gadis itu dengan ciuman di pipi, begitu juga dengan Lucius.

"Aku baru datang dari perancis dan ingin menjenguk kalian," kata gadis berambut hitam panjang itu.

Draco duduk di samping Lucius sambil terus memeluk Darrel, membuainya dengan lembut agar kesedihan anaknya berkurang.

Astoria memandang itu dengan takjub, pria angkuh dan dingin yang dulu dikenalnya seolah menghilang, Draco yang ada di depannya sekarang begitu berbeda, sorot matanya penuh dengan cinta saat menatap Darrel, 'Dia sungguh-sungguh mencintai anak itu, pasti dia juga sangat mencintai Harry', katanya dalam hati.

"Darrel, maukah kau duduk bersama Aunty? Aunty membawakan coklat untukmu," rayu Astoria sambil membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa batang coklat dari dalamnya.

"Bagaimana kau bisa menyiapkan itu?" tanya Draco heran.

Astoria tertawa, "Hanya menebak saja kalau kemungkinan besar aku akan bertemu Darrel di sini," jawabnya, "Kemarilah, sweetheart, Aunty juga punya satu buku cerita untukmu," katanya lagi, "Ini aku tahu dari Aunt Cissy saat beliau menceritakan tentang Darrel dalam surat balasannya untukku," katanya sebelum Draco bertanya.

Darrel menegakkan tubuhnya, tertarik pada buku yang dibawa oleh Astoria, "Boleh aku melihat bukunya?" tanyanya dengan sedikit malu.

"Tentu, kata Grandma Cissy kau suka membaca, benarkah?" tanya Astoria sambil menepuk sofa kosong di sampingnya meminta Darrel supaya mendatanginya.

Bocah berambut pirang dan bermata hijau itu pun turun dari pangkuan Draco dan duduk di sebelah Astoria, dia mulai membuka buku yang diletakkan gadis cantik itu di pangkuannya, "Peri!" teriaknya senang dan menunjukkan sebuah gambar pada Draco, "Daddy lihat ini, perinya cantik sekali!" serunya lagi sambil meminta Draco untuk duduk di sampingnya.

Draco sebenarnya agak risih juga, dengan posisinya dan Astoria yang mengapit Darrel otomatis membuat mereka tampak seperti keluarga, dan entah kenapa dia tak suka, tapi dia tak bisa menolak permintaan Darrel, anaknya baru saja bersedih dan dia tak mau membuat bocah itu bersedih lagi. Dengan enggan dia pun duduk di samping putranya, mengapitnya bersama Astoria.

"Aku tak pernah melihat peri seperti ini, Daddy, cantik ya?" celoteh Darrel.

Draco hanya tersenyum dan mengangguk.

"Daddy, lihat, sayapnya besar sekali, apa dia tak akan jatuh saat terbang?" tanya bocah itu dan membuat semua orang tertawa, kekakuan yang tadi sempat tercipta mencair oleh celoteh lucu Darrel. Sesaat bocah itu lupa akan perasaan rindunya pada Harry, dia membuka bukunya dengan semangat sambil sesekali bertanya pada Draco dan Astoria.

.

.

Perapian menyala hijau terang, sinarnya mengejutkan semua orang yang tengah berkumpul di ruang tengah itu. tapi Harry lah yang lebih terkejut, dia terkejut melihat semua keluarganya berkumpul, dan yang lebih penting dia tak menyangka akan melihat Darrel diapit oleh Draco dan… Astoria.

"Harry," sapa Draco yang berdiri dengan cepat, entah kenapa mendadak dia merasa begitu bersalah pada pria itu.

Darrel melempar bukunya dan melompat dari sofa, dia berlari cepat menuju ayahnya, "Daddy…!" teriaknya keras dan tertawa senang saat Harry menggendongnya dan memeluknya erat, "Daddy, aku rindu," kata anak berkulit putih itu.

"Daddy juga rindu padamu, little prince, maaf Daddy baru bisa pulang sekarang," jawab Harry.

Draco memeluk Harry bersama Darrel dan memberikan satu ciuman hangat di bibir kekasihnya, "Selamat datang, senang melihatmu sehat," katanya sambil mengusap pipi Harry.

Harry tak tahu harus tersenyum atau marah, dia masih merasa aneh dengan kehadiran Astoria di ruangan itu.

"Hai, Harry, apa kabar?" tanya Astoria setelah Lucius dan Narcissa memberikan salam pada pria itu.

Harry menerima uluran tangan gadis itu, "Baik, Asto, bagaimana kabarmu?"

"Aku baru kembali dari Perancis, dan aku harap kau tak keberatan kalau aku ingin menjenguk Aunt Cissy dan Uncle Luce," jawab gadis itu.

Harry menggeleng pelan, dia masih belum bisa mencerna apa yang telah terjadi di ruangan itu sebelum dia datang, "Tidak, tentu tidak, aku tak akan melarangmu," jawabnya kemudian.

"Daddy, tahu tidak? Aunty Astoria membelikan aku buku cerita peri yang sangat bagus, di dalam buku itu ada gambar naga perinya juga," pamer Darrel.

"Naga peri?" tanya Harry bingung.

"Aku tunjukkan ya?" kata darrel sambil bersiap turun dari gendongan ayahnya.

"Darrel, Daddy-mu masih lelah, biarkan dia beristirahat dulu," bujuk Narcissa.

Harry berpikir cepat, mungkin lebih baik dia segera meninggalkan ruangan ini dan mengistirahatkan otaknya yang mulai berpikir tak tentu arah, "Ya, Daddy mau mandi dulu, oke?" katanya pada putranya.

Darrel langsung memeluk ayahnya dengan lebih erat, "Aku ikut, aku akan menunggu Daddy di kamar," rengeknya. Bocah itu masih rindu, dan dia takut kalau Harry akan pergi lagi.

Harry tersenyum, "Baiklah," jawabnya, "Aku ke atas dulu, Astoria, maaf tak bisa menemanimu," pamitnya pada gadis itu.

.

.

Hampir setengah jam lebih dan Draco belum juga masuk, padahal Harry sudah terlalu lelah. Ocehan Darrel hampir tak ada yang masuk ke dalam otaknya karena tak ada tempat lagi di sana, otaknya sudah penuh dengan pertanyaan kenapa Astoria ada di sini?

Harry lebur dalam lamunannya. Masih ada perasaan tak enak saat dia bertemu gadis itu tadi, Harry masih ingat bagaimana dulu Astoria telah mempersiapkan semua untuk pernikahannya dengan Draco. Kadang masih ada rasa perih kalau mengingat dulu Draco pernah memperkenalkan gadis itu sebagai tunangannya, tepat disaat dia baru saja mengetahui tentang kehamilannya yang ajaib. Masa-masa sulit yang penuh dengan luka itu kembali menari dalam kepalanya dan dia hanya bisa memeluk Darrel yang mulai mengantuk di dadanya, seolah mencari kekuatan agar tak kembali merasakan sakit seperti yang dulu pernah dia rasakan.

Harry tersentak saat pintu kamarnya terbuka pelan, "Kau belum tidur?" tanya Draco heran saat melihat Harry masih terjaga, terlihat dari tangannya yang terus membelai rambut Darrel.

"Kau ingin aku segera tidur? Tak ingin berbincang dulu denganku?" tanya Harry tanpa melihat Draco. dia memunggungi pintu sambil tetap membuai Darrel dalam pelukannya.

Draco tersenyum geli, pelan dia mendekati Harry dan duduk di belakang punggungya, mengusap bahunya dengan lembut, "Kau cemburu?" tebaknya.

"Cemburu? Pada siapa?" tanya Harry pura-pura tak mengerti.

Draco berbaring dan memeluk pinggang pria itu, ikut mengusap punggung Darrel yang bergelung dalam pelukan Harry, "Dia hanya mampir, tak ada maksud lain, percayalah," bisik Draco.

Harry mendengus, "Seharusnya tadi aku tidak pulang dulu, sebab kulihat Darrel dan kau begitu menikmati suasana tadi," kata Harry dengan nada dingin.

Draco menggelengkan kepalanya, dia merasa kalau Harry pasti tak suka melihatnya dan Astoria duduk mengapit Darrel saat itu, "Darrel bertanya padaku tentang gambar yang dia lihat di dalam buku itu," jawabnya, "Ayolah, Harry, tak biasanya kau begini, kau seperti wanita yang sedang sakit hati saja," guraunya.

Harry membalikkan tubuhnya dan melihat Draco dengan marah, "Berarti kalau laki-laki tak boleh bertanya tentang apa yang membuatnya merasa ganjil? Baik, aku akan diam dan tak akan bertanya lagi."

Draco tersenyum dan mengusap luka di kening Harry, "Kau terlalu lelah, maafkan aku yang ternyata sudah membuatmu marah, tapi itu semua tak seperti dugaanmu, Harry, percayalah," bisiknya.

Harry menghela napas panjang, sebenarnya dia sudah menahan perasaannya agar tak cemburu, tapi ternyata tetap saja rasa itu ada dan membuatnya kesal. Apa seorang lelaki juga tak boleh cemburu?

Draco menarik bahu Harry pelan agar tak membangunkan anaknya, "Aku merindukanmu, Love," bisik Draco sebelum memerangkap bibir Harry dalam sebuah ciuman yang dalam. Bibirnya terus memanja Harry, membuat kekasihnya lupa akan amarahnya dan menggantinya dengan rasa nikmat yang memabukkan.

Harry berusaha menahan erangannya saat lidah Draco menerobos bibirnya, membelai semua yang ada di baliknya dengan lembut dan panas. Gairah Harry terbakar dengan cepat, apalagi di saat bibir Draco mulai menjelajah lehernya yang terbuka. Napas Harry tercekat saat dia merasa kalau tangan Draco mulai menyusup masuk ke dalam piyamanya dan membelai satu titik di sana, "Draco, stop it," erangnya pelan.

"Kenapa?" tanya pria itu.

"Stupid, kau tak lihat Darrel sedang tidur?" gerutu Harry.

Draco menyeringai, dia berdiri dan menarik lengan Harry hingga kekasihnya itu ikut berdiri bersamanya, "Kalau begitu tidak di sini," bisiknya di bibir Harry sambil menarik pria itu menuju kamar mandi.

Harry memutar bola matanya, untuk masalah ini ternyata Draco tetap egois, dan dia hanya bisa pasrah.

.

#

.

Seharian ini Darrel sama sekali tak mau lepas dari Harry, dia terus membuntuti kemanapun ayahnya pergi, saat Harry harus memeriksa pekerjaannya pun Darrel tetap duduk manis di dekat orang yang melahirkannya itu sambil bermain sendiri. Tak sedetikpun dia membiarkan Harry jauh darinya, bahkan bujuk rayu Draco juga tak dipedulikannya.

"Darrel, besok Daddy sudah harus kembali ke Hogwarts," kata Harry saat dia tengah duduk di sofa tengah bersama Draco dan putranya.

"Kenapa cepat sekali?" protes bocah itu, tapi dia langsung terdiam saat melihat kilau kelabu Draco memandang lurus padanya, "Iya tak apa, Daddy harus kerja kan?" katanya setengah hati.

Harry mengernyit heran melihat anak itu tiba-tiba patuh dan tak ribut, "Kau apakan dia?" tanyanya pada Draco.

Draco tertawa, "Kemarin dia mengamuk karena rindu padamu," jawab pria itu, "Dan aku bilang kalau dia terus begitu maka kau tak akan pulang lagi."

Harry ikut tertawa, "Maaf, kemarin Daddy benar-benar sibuk sampai tak sempat menjawab panggilanmu. Daddy ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat agar Daddy bisa segera pulang dan memelukmu seperti ini," jawab Harry sambil mendekap anaknya erat dan menggelitiki pinggangnya hingga Darrel tertawa keras, "Ampun, Daddy… lepaskan aku…!" teriak Darrel kegelian.

Draco tersenyum melihat dua orang yang paling berharga dalam hidupnya tertawa ceria, apa lagi yang dimintanya kali ini? Dia telah memiliki segalanya. Pria itu beranjak dari duduknya saat mendengar pintu depan terketuk, meninggalkan tawa yang masih menggema di ruangan itu.

"Halo, Darrel," sapa seseorang yang langsung menghentikan tawa bocah itu, terutama Harry.

Darrel berdiri dan berlari menyambut tamu yang baru masuk itu, "Aunty Asto…" sapanya sambil membiarkan Astoria mencium pipinya.

Ada sedikit goresan menghiasi dada Harry saat melihat itu, andai Astoria tak pernah mencintai Draco, atau andai dulu Draco tak sempat bersama Astoria, mungkin dia akan senang anaknya mendapatkan kasih sayang dari gadis itu. Melihatnya mencium Darrel membuat Harry membayangkan kalau gadis itu tengah mencium Draco, menyebalkan memang.

"Maaf, apa kau tak suka kalau aku mendekati Darrel?" tanya Astoria pada Harry yang tengah menatapnya seakan bisa membaca isi hati pria itu.

Harry menggeleng kaku, "Tidak, tak masalah," jawabnya singkat sambil berdiri.

"Kau cemburu padaku?" tebak gadis itu lagi yang langsung membuat Harry seakan ingin berteriak 'Ya', tapi dia menahan emosinya, "Tidak, kenapa harus cemburu?" jawabnya pelan.

"Asto, hentikan itu," kata Draco kesal, dia tak ingin Harry marah lagi padanya.

Astoria tertawa, "Aku masih teringat wajahnya semalam saat melihatku di sini, Draco," kata gadis itu lagi.

Harry tak menjawab, dia terus diam dan membiarkan Darrel kembali menggelayut manja di kakinya.

Astoria menghampiri Harry, "Hei, maaf aku hanya bercanda," katanya sambil tersenyum, "Aku akan kembali ke Perancis hari ini, jadi aku datang kembali untuk berpamitan," katanya pada Harry.

"Cepat sekali?" tanya Harry, "Kau baru datang kemarin kan?"

"Kau ingin aku lebih lama di sini? Bagaimana kalau aku menggoda anak dan suamimu lagi? kau mau?" goda Astoria lagi yang sukses membuat Harry terdiam. Dia memandang tajam pada Draco yang berusaha keras menahan tawanya.

"Asal kalian bahagia aku juga ikut bahagia," katanya sambil mencium pipi Harry.

"Thanks, Astoria," bisik pria berambut hitam berantakan itu sambil tersenyum.

Astoria membungkukkan tubuhnya dan mencium gemas pipi bulat Darrel yang masih memegangi kaki ayahnya, memeluk anak itu erat hingga membuatnya tertawa, "Sampai jumpa, sweetheart, Aunty akan bawakan kau buku baru kalau nanti Aunty pulang lagi ke sini, oke?' katanya.

"Thank you, Aunty," jawab Darrel senang. Setelah itu mereka hanya mampu memandang kepergian gadis itu dalam diam.

"Kau tak cemburu lagi kan?" tanya Draco sambil memeluk pundak Harry.

"Kapan aku pernah bilang cemburu?" bantahnya dan membiarkan Draco tertawa geli.

Draco menangkup wajah Harry, "Bagaimana bisa aku melepaskan seluruh kebahagiaan sempurna ini demi orang lain?" rayunya sebelum mencium bibir Harry dengan begitu lembut, menciumi pipinya yang hangat dan mulai memerah.

"Daddy…!"

Suara Darrel menginterupsi ciuman mereka, mereka tertawa karena sempat melupakan keberadaan anak itu, "Yes, little prince?" jawab mereka bersamaan.

"Kalau sudah besar nanti, bolehkan aku menikahi Aunt Astoria?" tanya bocah itu dengan polosnya.

Mereka saling berpandangan karena terkejut, lalu Draco tertawa terbahak-bahak melihat wajah Harry yang memucat, "Sepertinya cemburumu akan menjadi dua kali lipat, Love," godanya.

Harry tak bisa berkata apa-apa, dia membiarkan saja Draco terus tertawa dan Darrel terus merengek, "Kalian benar-benar bisa membuatku terkena serangan jantung," gerutunya. Tapi dalam hati dia tersenyum, 'Benar kata Draco, siapa yang mau melepaskan kebahagiaan yang sempurna ini?'

TBC

a/n.

aneh banget endingnya, beneran desperet nih ma Darrel X((

buat yang udah ribut kangen ma Darrel, nih aku kasih sekuelnya. Mungkin masih akan bersambung krn Harry juga belum mutusin mau jadi auror ato pengajar, cuma seperti biasa saya ga tau kapan bisa ngelanjutin, hehehe #plak

makasih yang udah baca, yang mau ripiu makasihnya dobel #eh =))