Auhtor : Oh Zhiyulu
Genre : Sad, Romance, Yaoi, Shounen- ai, Boy X Boy, Genderswitch, OOC
Ratting : M (ratting semakin tinggi dari chap ke chap)
Cast : Oh Sehun
Xi Luhan
Other member EXO
~~ Aware That Feeling ~~
"Nghiiiiiikkkk..." sebuah suara pekikkan kuda yang sangat nyaring menyadarkan mereka dari kegiatan keji yang sedang mereka lakukan. Melayangkan nyawa seseorang yang bahkan tak memiliki kesalahan apapun pada mereka.
Mereka memandang Sehun dengan tatapan meremehkan. Seolah pria itu tak mempunyai kekuatan apapun untuk melawan mereka. Khususnya Tao. Sebuah seringai mengerikan tengah terpampang dengan jelas di wajahnya. Siapapun bisa mengetahui dengan jelas jika ia mempunyai dendam yang teramat dalam pada Sehun.
"Ternyata kau pengawal yang sangat setia ya? Saking setianya kau pun ingin menemani si lemah ini ke neraka. Kau hebat!" Yahh benar. Tao kali ini yakin kalau ia akan menang melawan Sehun. Bagaimana tidak? Dibelakangnya berjejer belasan prajurit yang siap berdiri di belakngnya.
"Benarkah?" Tanya Sehun dengan nada yang menusuk dan masih dengan ekspresi datarnya. Ia beranjak turun dari kudanya. "Mungkin aku yang akan mengirimmu ke neraka."
Aliran darah Tao mendidih. Rahangnya menegang, urat - urat pada wajahnya terlihat jelas. Dan jangan lupakan wajahnya yang tengah memerah menahan emosi. Tao benar benar marah saat tak ada sedikitpun rasa takut pada pancaran mata Sehun. Datar tanpa ekspresi apapun. Yang ia lakukan hanya berdiri di samping kudanya dengan melipat kedua tangannya didepan dada dan tentunya tatapan mata Sehun yang kini seolah meremehkan Tao.
"Kau pikir kau hebat?! Disini aku memiliki banyak prajurit. Dan kau hanya sendiri. Kau pikir kau bisa mengalahkanku? Cihhhh! Jangan pernah berharap walau hanya dalam mimpimu!"
"Untuk apa aku bermimpi jika aku bisa melakukannya?"
Semua prajurit itu pun maju ke depan membentuk formasi pertahanan tatkala Sehun berjalan ke arah mereka dengan perlahan.
"KAU!" Geram Tao sambil berjaln ke arah Sehun. Namun sebuah tangan menghalangi langkahnya.
"Sudahlah Tao! Untuk apa kita urusi manusia seperti dia. Biarkan saja para prajurit yang menghabisi mereka. Dan kita kembali ke urusan kita." Ucap Lay lalu ia pun membalikkan tubuhnya dan berjalan ke ujung tebing. Mengampiri seotang pengawal yang tengah menahan tubuh sesorang pria yang sedang tak sadarkan diri.
"Habisi dia hingga mati!" Tegas Tao pada para prajuritnya dan berjalan menyusul Lay.
"Jangan sentuh dia! KEPARAT KAU!" Jerit Sehun lalu ia pun berlari ke arah Tao. Lebih tepatnya ke arah Luhan yang sedang tak sadarkan diri.
Serentak dengan bergeraknya Sehun, para prajurit yang hampir dua puluh orang itu pun maju mengahalangi langkah Sehun.
Traaang...
Crasshhh...
"Akkhhhh.."
Jleeeb...
Bruuukkk..
Traang...
Satu lawan dua puluh. Tak adil memang. Tapi tak ada seorang prajurit pun yang mampu menggores kulit albino itu dengan senjata yang mereka miliki. Hanya ada percikkan darah mereka yang mengenai tubuhnya.
Senjata itu saling beradu. Mencari siapa yang paling kuat. Sering sekali pedang tajam milik Sehun beradu dengan kulit mereka yang berusaha melenyapkannya.
Angin yang berhembus dari laut semakin kencang. Langit pun semakin gelap. Namun tak menyurutkan semangat Sehun untuk terus menyelamatkan Luhan di ujung sana yang sedang di ujung maut. Sehun dengan brutalnya menghabisi para pajurit itu hingga tewas. Suara denting pedang beradu dengan kencang. Teriakkan memilukan semakin kentara terdengar. Darah pun telah menyelimuti rerumputan yang hijau. Tak bisa dipungkiri jika kini banyak tubuh manusia yang tergeletak tak berdaya dibanjiri cairan merah kental yang mulai mengering.
Jlebbb...
"Akhhh..."
Bruuuukk...
Setelah berhasil menancapkan pedang miliknya tepat di jantung prajurit itu, ia pun kembali menarik pedangnya dan menendang pria itu hingga ia terbaring tak berdaya di atas rumput beralaskan darah. Bergabung bersama teman temannya yang lebih dulu meninggalkannya.
"Hosshh... hoshhh..."
Sehun meraup oksigen yang ada di sekitarnya dengan rakus. Memenuhi paru - parunya yang terasa sangat kosong dengan oksigen sebanyak banyaknya. Setelah merasa cukup. Ia pun mengangkat kepalanya, menatap empat orang yang berdiri di ujung tebing itu dengan mata elangnya yang teramat tajam. Tubuhnya diselimuti peluh sehingga membuat bajunya menjadi basah. Namun tak sedikitpun ekspresi kelelahan terlukis di wajahnya yang rupawan.
"Ternyata kau cukup hebat anak muda." Ucap Lay dengan nada meremehkan.
"Serahkan Luhan padaku! Aku bisa membuatmu berakhir seperti mereka!"
"Benarkah? Kurasa tidak mungkin. Kau terlalu lemah untuk kami. Suho,,, habisi dia!" Ucap Lay dan dengan itu Suho pun berlari ke arah Sehun dengan sebuah samurai di tangan kanannya. Sehun sedikit terkesiap dengan gerakkan Suho yang sangat tiba tiba.
Triiiing...
Namun dengan lihainya Sehun menangkis samurai tajam Suho dengan pedang miliknya. Kedua pasang bola mata mereka saling beradu. Mata Sehun terbelak kaget saat ia menyadari suatu hal.
"Kau?" Gumam Sehun.
~~ Aware That Feeling ~~
"Apa kita tidak terlalu banyak membawa pasukkan panglima?" Tanya Jong In kepada Panglima Yunho yang tengah memasukkan beberapa kebutuhan kedalam kantung yang tersemat di tubuh kuda miliknya.
"Tidak," Balas Yunho sambil menepuk kedua tangannya untuk membersihkan debu. "Hari ini, harus kita pastikan mereka disekap di dalam penjara istana. Dan tak akan pernah bisa mengganggu pangeran lagi. Apapun harus kita lakukan agar pangeran selamat. Walau nyawa taruhannya. Dan pastikan raja dan ratu tidak mendengar hal ini."
"Saya mengerti."
"Katakan pada pengawal yang lain agar lekas bersiap. Mungkin saja di sana Sehun mengahadapi masalah yang tak dapat ia selesaikan sendiri."
"Baiklah. Saya mohon pamit." Ucap Jong In lalu ia pun membungkukkan tubuhnya dan berlalu pergi setelah Yunho menganggukkan kepalanya.
"Jong In!" Jong In berjalan menuju para pengawal yang sedang memasukkan senjata milik mereka kedalam kantung kuda mereka masing masing. Namun langkahnya langsung terhenti saat ia menedengar seorang wanita sedang memanggilnya.
"Ada apa Kyungie?" Tanya Jong In saat Kyungsoo tiba di hadapannya dengan nafas yang saling memburu.
"Ituhh... apahh kauhh huhh..."
"Heii... heii... tenanglah dulu. Tarik nafas... buang... tarik lagi... buang." Ucap Jong In dan gadis imut itu melakukan istruksi Jong In. Setelah nafasnya kembali normal, ia pun kembali berbicara.
"Kau akan ikut menyelamatkan pangeran?"
"Nde! Mana mungkin aku tidak ikut. Kami pasti akan membawa kembali pangeran kemari dengan selamat."
"Benarkah?" Ada sedikit rasa khawatir yang tersirat dalam pertanyaan Kyungoo
"Tentu sa-.. heeii... kau ini kenapa?"
"Kau janji akan pulang dengan selamatkan?" Pandangan mata Kyungsoo mulai memudar tertutupi air matanya yang semakin banyak menggenangi mata bulatnya yang indah.
Jujur,,, ia begitu menyayangi pria yang kini ada di hadapannya. Ia tak tahu bagaimana hidupnya tanpa pria ini. Membayangkannya saja sudah membuat Kyungsoo menangis. Apa lagi jika itu kenyataan.
Dengan sigap Jong In menarik tubuh mungil itu kedalam dekapannya yang hangat. Begitu pas tubuh Kyungsoo dalam pelukkannya. Begitu hangat dan nyaman.
"Aku janji. Aku tak akan meninggalkanmu. Aku janji. Uljimayo chagiya." Ucap Kai sambil mengelus surai hitam nan halus milik Kyungsoo dengan lembut. Memberikan rasa kasih sayangnya yang teramat dalam. Memberi tahukan padanya semua akan baik baik saja.
Jong In tersadar jika ia harus cepat cepat bersiap. Ia lagi dalam jam kerjanya. Bisa dipecat ia jika ketahuan pacara saat jam berkerja. Bagaimanapun, menjadi pengawal di Kerajaan Phoenkx adalah impian setiap namja yang ada di desa itu. Semua biyaya hidupmu dan keluargamu otomatis akan di tanggung oleh kerajaan saat kau menjadi pengawal yang setia dan patuh pada raja, ratu maupun pangeran.
Jong In melepas pelukannya terhadap Kyungsoo. Menatap wajah manis itu yang tengah bergelinang air mata. Ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman. Sedangkan kedua ibu jarinya bergerak untuk mengahapus aliran air mata tersebut.
"Jangan menangis. Aku janji aku kembali dengan selamat. Kau percaya denganku?" Dan Kyungsoo hanya mengangguk membalas pertanyaan Jong In.
"Baiklah. Aku harus segera pergi. Initinya, saat aku selesau bertugas. Aku ingin kau menyambutku dengan desahan erotis saat kau berada di bawahku. Mengerti?"
"Yakk! Kau mesum. Pergi sana!" Gerutu Kyungsoo sedangkan Jong In tertawa melihat tingkah lucu Kyungsoo.
"Baiklah,,, aku pergi dulu." Ucap Jong In lalu ia mengecup kening Kyungsoo sekilas dan berlalu pergi dari hadapannya dengan sebuah senyuman yang masih terus tersimpan di memori otaknya.
~~ Aware That Feeling ~~
"Apa semua sudah siap?" Tanya Yunho pada seluruh pengawal yang tengah berdiri di hadapannya.
"Ya!" Jawab mereka semua dengan kompak. Tak terkecuali Jong In.
"Baiklah, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu pada kalian." Ucapnya lalu ka pun menghirup udara sejenak. "Ini sudah yang ketiga kalinya pangeran akan dicelakai oleh mereka. Saya ingin ini yang terakhir kalinya. Maka dari itu, harus kita pastikan mereka mendekam di ruang bawah tanah, sehingga tak bisa menganggu pangeran lagi. Segala macam cara harus kita lakukan. Walau nyawa taruhannya. Mengerti kalian?!"
"Mengerti!"
"Baiklah. Semuanya, bergerak!"
Dan dengan perintah itu, mereka semua pun menaiki kuda masing masing dan keluar dari perbatasan Kerajaan Phoenix. Memasuki hutan yang terlihat sangat mencekam dari luar. Namun tak mengurangi semangat mereka mencari sang pangeran.
~~ Aware That Feeling ~~
"Hoshhhh... hoshhh..."
Sehun berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon. Nafasnya saling memburu mencari pasokkan oksigen. Peluh semakin banyak membanjiri tubuhnya. Bukan cuma itu, bahkan terdapat beberapa luka gores pada tubuhnya.
Sehun sedikit mengintip dari balik batang pohon, dengan masih menyembunyikan tubuhnya di batang tersebut. Disana, Sehun melihat Suho masih dengan keadaan normal. Tak ada nafas yang memburu ataupun ekspresi kelelahan. Hanya ada peluh yang menghiasi wajahnya yang datar.
"Suho! Cepat habisi dia!" Jerit Lay dari ujung tebing. "Kami lelah menunggu kalian. Tangkap saja dia! Dan kita jatuhkan mereka berdua dari tebing ini."
"Kalau begini aku bisa mati." Gumam Sehun. "Lu... bertahanlah. Aku mohon. Aku pasti akan menyelamatkanmu."
Sehun kembali meyakinkan hatinya. Ia menggenggam kedua pedangnya dengan erat. Menyiapkan cara untuk melawan Suho yang tengah dibawah pengaruh sihir.
Yah... memang benar. Saat ini seorang Kim Suho berada di bawah pengaruh sihir Lay. Matanya kosong seolah tak memancarkan ekspresi apapun. Kosong tak bisa terbaca.
"Keluar kau anak muda!" Sentak Lay "Kenapa? Kau takut? Kau tak akan bisa mengalahkannya. Aku telah menyuruh seorang penyihir dari hutan terlarang untuk menyihirnya. Sehingga ia akan patuh dengan semua perintahku! HAHAHAHHAAA...!" Ucap Lay yang penuh dengan kebencian.
"Keparat!" Bisik Sehun. Ia pun keluar dari persembunyiannya. Berlari menerjang Tao yang ada di ujung tebing. Mencoba menghindari Suho yang berada di dekatnya.
"Serahkan Luhan padaku!" Gertak Sehun sambil memeluk Lay dari belakang dengan sebuah pedang yang ia arahkan ke leher milik Lay.
"Hehh... kau anak bodoh! Kalau kau berani membunuh ibuku, aku juga akan membunuh Luhan."
"Setidakhnya kita impas! Lepaskan Luhan dan aku janji akau melepaskan dia!"
Sehun terlalu fokus dengan pengancamannya terhadap Tao dan Suho yang kini berada di hadapannya. Sehun sedikit bingung saat tatapan mata Suho sedikit berubah. Tidak lagi datar seperti sebelumnya. Kini ada sebuah kekehawatiran yang sangat dalam di mata tersebut.
"Akhhhhhh..."
Mata Sehun terbelak kaget saat sebuah rasa yang teramat sangat sakit menjalar di perut bawah bagian kirinya.
Tanpa Sehun sadari sedari tadi tangan kanan Lay tengah merogoh saku gaunnya. Ia dalam hatinya bersorak senang karena ia menyempatkan diri untuk menyimpan belati yang teramat tajam. Sehingga dapat ia gunakan dalam kondisi genting seperti saat ini.
Saat Sehun melemah, Suho langsung memegangi kedua tangan Sehun. Sehun sedikit menyayangi dirinya yang begitu lengah dengan tindakan Lay yang sangat tak terduga. Padahal panglima Yunho sudah memberitahukan sebelumnya kalau Lay adalah wanita yang sangat licik.
"Cihhh!" Lay meludahi wajah sendu Sehun yang tengah di pegangi Suho. Dalam hati ia memaki maki perbutan mereka yang semena mena. Ia tak mampu berbuat lebih. Darahnya terus mengucur semakin deras. Hingga ia tak mampu menahan berat tubuhnya.
"Kau pikir kau bisa mengalahkanku?! Tak akan pernah bisa! Langsung saja kita jatuhkan mereka berdua ke bawah."
"Sebentar eomma!" Ucap Tao mengentikan langkah Suho dan Lay.
"Wae Tao-ah? Kita harus cepat."
"Dia yang membuatku waktu sekarat. Dendamku masih terlalu besar. Jadi, bisakah aku menyiksanya dulu?"
"Tentu saja. Silahkan anakku sayang." Balas Lay sambil tersenyum sinis.
Bughhh...
Bughh... bugghh bugghhh...
Bukan hanya sekali, tapi berkali kali pukulan keras tersebut menghantam tubuh Sehun yang telah tak berdaya. Kekuatannya semakin menghilang. Nyeri di bagian perutnya saja belum hilang, kini di tambah pukulan dari Tao yang bertubi tubi. Ia merasakan kesadaran semakin menjauhinya.
"Suara apa itu?"
"Sepertinya mereka telah datang."
"Serang! Jangan biarkan mereka lepas!"
Sehun memaksakan sebuah senyuman miliknya saat mendengar suara panglima Yunho beserta para pangawal yang lain. Walaupun ia tak berhasil menyelamatkan Luhan, setidaknya ia mampu menahan tindakan mereka yang akan menjatuhkan Luhan dari tebing ini.
'Aku harap kau selamat Lu...han.' dan dengan itu kesadaran Sehun telah hilang sepenuhnya.
~~ Aware That Feeling ~~
Perlahan sang surya mulai menampakkan wujud rupawannya di ufuk timur. Memperingatkan kepada seluruh umat, bahwa banyak pekerjaan yang menanti mereka. Sedari tadi para petani sudah pergi mengais benih - benih beras. Sekelompok burung bertengger di dahan pohon sambil terus berkicau berusaha membantu sang ayam pejantan membangunkan para manusia yang masih bergelut dengan selimutnya yang hangat.
"Eunghhh..." gumaman lirih itu terdengar dari bibir tipis nan pucat milik seorang pria berwajah rupawan. Sepertinya usaha burung burung dan ayam pejantan membangunkan umat manusia telah berhasil. Di tambah lagi sinar matahari yang masuk melalui celah jendela kamar yang menerpa kulit albinonya yang tak bernoda bagaikan porselen. Walaupun sebenarnya ia tidak bisa dikatakan sedang tertidur.
"Sehun,,, kau sudah sadar? Bagaimana perasaanmu?" Yahhh... Sehun memang sedang tidak tidur. Lebih tepatnya ia sedang pingsan. Dan itu telah berlangsung selama tiga hari. Luka tusuk di perut sebelah kirinya membuat luka gores yang kecil pada ginjalnya. Walaupun tidak terlalu fatal, namun tetap harus mendapatkan pengobatan yang serius.
"Hemm... aku tak apa Jong In." Balas Sehun pada Jong In yang kini sedang berdiri di samping ranjang miliknya.
"Apa perlu aku panggilkan tabib Chen?"
"Anio. Aku hanya perlu minum." Balas Sehun dan ditanggapi Jong In dengan anggukkan kepala. Setelah itu ia pun berjalan keluar dari kamar Sehun dan menghilang di balik pintu.
"Luhan..." Ucap Sehun dengan Lirih. Entah kenapa ia begitu merindukan sosok tersebut. Sekelebat kejadian saat peristiwa penculikan itu terlintas di fikirannya bagaikan film yang terpotong potong. Hingga perasaan khawatir itu menguasai hati dan fikirannya.
'Bagaimana keadaanya'
'Apakah ia selamat.'
'Apakah ia sehat.'
"Sehun!" Sehun tersentak kaget saat Jong In memanggil namanya dengan keras.
"Aisshhh! Kau ini tak bisa pelan? Aku bahkan baru sadar." Sehun begitu kesal dengan prilaku Jong In yang membuyarkan lamunanya terhadap Luhan.
"Kau yang salah. Aku sudah memanggilmu dengan pelan, tapi kau tak mendengarnya. Ini minummu!" Balas Jong In sambil menyerahkan segelas air mineral. Sehun mencoba bangun dari tidurnya. Namun karena tak tega melihat Sehun yang kesakitan saat akan duduk, Jong In pun membantu Sehun untuk duduk bersandar pada headboard tempat tidurnya. Lalu meminum air tersebut hingga habis.
"Kamsahamnida." Ucapnya sambil menyerahkan gelas tersebut kepada Jong In.
"Aku kembali dulu ya." Ucap Kai sambil mengambil gelas tersebut dari tangan Sehun dan berjalan keluar kamar Sehun.
"Tunggu!" Jong In menghentikan langkahnya saat mendengar suara Sehun.
"Nde. Wae Sehun-ah?"
"Emmm... bagaimana keadaan Lu,,, maksudku pangeran?"
"Dia? Dia baik baik saja. Dia hanya pingsan karena di pukul di pipinya dengan keras. Tidak separah dirimu yang tertusuk pisau. Sepulangnya dari perang itu, dia sudah sadar. Dan ketiga orang itu sudah di tahan di ruang bawah tanah."
"Ohhh... apa dia ada mengunjungiku kemari?" Bodoh! Itulah yang difikirkan Sehun. Bisa bisanya ia menanyakan hal yang sangat tidak masuk akal itu pada Jong In.
"Kau pikir posisimu disini apa Sehun-ah? Kau hanya pengawal pribadinya. Kalau kau terluka itu memang resikomu walaupun dulu ia yang memintamu menjadi pengawalnya. Kau berharap ia akan datang ke mari dan menjengukmu? Tidak Sehun, dia masih mempunyai banyak tugas dari pada mengunjungimu ke mari."
"Baiklah. Kau bisa pergi." Ucap Sehun lalu ia pun kembali berbaring di ranjangnya yang begitu empuk. Sedangkan Jong In keluar dari kamar Sehun.
'Apa kau tak memiliki perasaan cinta itu sedikitpun padaku Lu?'
~~ Aware That Feeling ~~
Saat ini Luhan sedang berjalan mondar mandir di dalam kamarnya. Kedua tangannya bergerak gelisah. Ekspresi wajahnya menunjukkan kalau ia sedang frustasi berat.
'Hampiri.'
'Tidak!'
'Mungkin aku harus meng,,,'
'Jangan!'
'Tapi kan karena aku dia terluka...'
'Tidak! Itukan memang resikonya.'
Sedari tadi hanya kata kata itu yang ia gumamkan. Bahkan ia tak mengingat berapa kali ia telah melakukan hal itu. Jika ia setrika baju, mungkin ia telah menggosok sepuluh paket pakaian di toko laundry.
"Akhhhhh!"
Luhan mengacak rambutnya frustasi lalu ia pun menjatuhkan dirinya di ranjang king sizenya yang sangat empuk. Namun hal itu tidak membuat fikiranya tenang.
"Aku harus bagaimana?!"
"Aku merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin menyatakan perasaanku padanya. Aku ingin merawatnya. Aku ingin menjadi orang pertama yang ia lihat saat ia sadar. Dan aku ingin hal lain yang bersangkutan dengannya. Tapi..." seketika itu pekikannya melemah saat ia mengingat kejadian tersebut. Kejadian yang begitu menyayat hatinya. Kejadian saat sehun mencumbui seorang wanita penghibur di dalam kamarnya.
"Ia masih menyukai wanita... Bahkan ia melakukan hal itu dengan wanita lain. Mana mungkin ia menyukaiku."
"Aku harus melupakan perasaan gilaku pada Sehun! Tapi...'
"Akhhhhhh!" Untuk kesekian kalinya Luhan menggeram frustasi. Lalu ia pun menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Menenangkan dirinya yang dilanda dilema berat.
Karena Luhan terlalu fokus dengan fikirannya, ia tak menyadari jika sedari tadi seorang pria tengah memperhatikan dirinya dari balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Pria itu menyunggingkan seringainya yang mengerikan. Siapapun pasti akan takut jika melihat seringai itu. Setelah melihat Luhan tidur, ia pun menutup pintu tersebut dan berjalan menjauhi kamar Luhan.
~~ Aware That Feeling ~~
"Kami semua benar benar berterima kasih padamu Sehun. Untung saja saat itu kau langsung menyusul mereka. Kalau tidak, mungkin keadaan istana saat ini sedang berkabung." Ucap Panglima Yunho pada Sehun yang kini berada di sampingnya. Saat ini mereka sedang berjalan di lorong lorong istana yang begitu megah beralaskan karpet merah.
"Itu memang sudah tugasku. Tidak usah terlalu memuji seperti itu." Balas Sehun dengan sedikit menyunggingkan senyumannya. Walaupun enggan, tapi ia hrus menghormati seseorang yang berada di sampingnya ini.
"Bagaimana lukamu? Apa masih sakit?"
"Tidak terlalu. Ramuan yang diberikan Tabib Chen membuat lukanya cepat mengering."
"Baiklah. Mereka bertiga sudah saya tahan di ruang bawah tanah. Jadi mere,,, Selamat Siang Pangeran." Ucap Panglima Yunho yang terpotong saat ia melihat Luhan melintas di hadapan mereka lalu ia mengucapkan salam sambil menunduk hormat. Mau tak mau Sehun pun melakukan hal yang sama dengan yang Panglima Yunho lakukan walaupun ia tak mengucapkan salam.
"Siang." Balas Luhan sambil menatap ke arah Panglima Yunho. "Tolong suruh Jong In mengatarkan mantel musim dinginku ke kamar ya? Sekalian ada yang ingin aku mintai tolong padanya."
"Siap."
"Baiklah." Balas Luhan lalu ia pun bergi dari hadapan mereka berdua. Sehun sedikit heran dengan tingkah Luhan. Seingatnya pangeran itu selalu bergantung padanya. Namun kali ini, Luhan sangat berbeda. Bahkan Luhan tak menganggap keberadaan dirinya di sana. Biasanya Luhan akan meminta hal apapun pada dirinya.
'Kau ini kan pengawal pribadiku. Jadi kau harus menuruti semua perintahku!'
Itulah yang akan didengar Sehun jika ia menolak setiap keinginan Luhan. Menyebalkan! Tapi ia merindukan saat saat sepeti itu.
"Panglima, bisakah aku meminta tolong padamu?"
~~ Aware That Feeling ~~
Luhan sedang berdiri di balkon kamarnya dengan bersandar pada pagar pembatas. Ekspresi di wajahnya sangat beragam. Kagum melihat langit yang begitu indah. Senang melihat rakyatnya yang hidup makmur. Sedih ketika ia tak bisa terlalu dekat lagi dengan Sehun. Yah... ia telah memantapkan hatinya kalau ia akan melupakan Sehun.
Tok tok tok
"Masuk!" Jawab Luhan tanpa mengalihkan perhatiannya. Terlalu sayang jika objek di depannya harus dilewatkan.
Krieeettt...
Ckleekk #BackSoundGagal
"Jong In, ada yang ingin ak,,, HEI! MAU APA KAU DISINI?!" Luhan terkejut saat ia tahu yang memasukki kamarnya ternyata Sehun. Luhan pun berjalan memasuki kamarnya untuk memastikan penglihatannya.
"Mengantarkan mantelmu." Jawab Sehun sambil menatap Luhan dengan tatapan matanya yang datar.
"Kan aku menturuh Jong In yang mengantarkan mantel ini, tapi kenapa kau yang datang?"
"Jong In sedang latihan."
"Kenapa harus kau yang mengatar mantelku? Kenapa tidak yang lain saja?"
"Karena aku pengawal pribadimu. Sepertinya kau tidak suka jika aku yang mengantarkan mantel ini. Kenapa? Aku merasa kau menghindariku."
"Ti...tidak! Untuk apa aku menghindarimu. Kurasa tidak penting bagiku."
"Kau yakin?"
"Tentu saja! Aku hanya sedang tidak ingn berdebat denganmu. Sudahlah! Kau keluar sana! Aku ingin tidur." Ucap Luhan sambil berjalan menuju ranjangnya
Greeep...
"Aku tidak mau!"
"Ap...apa yang k...kau la...kukan?" Tanya Luhan yang sangat terkejut. Bagaimana tidak terkejut saat ia berjalan menuju tempat tidurnya, Sehun malah memeluk tubuhnya dari belakang dengan begitu erat.
"Kau masih mempunyai hutang padaku pangeran." Jawab Sehun dengan sedukatif. Ia berusaha menggoda Luhan dengan menciumi leher jenjang nan mulus itu dengan sangat bernafsu. Membuat sang empunya menjadi lemas dan hanya mampu mendesah.
"Shhhh,,, hutanghhh,,,akhhh,,aphhhhh,,ahh" Sebenar jika mau, Luhan bisa menyingkirkan Sehun dari tubuhnya. Tapi hatinya menolak. Hatinya terus berkata bahwa inilah yang diinginkannya.
"Kau lupa pangeran. Dulu kau janji jika aku menjadi pangawal pribadimu, kau akan memberikan apapun padaku."
"Emmhhh... kau ingin apah?"
"Aku ingin..."
.
.
.
.
.
"Tubuhmu..."
TBC
Kyaaaa... kya kyaaaaa... akhirnya Zhiyu bisa ap det juga. Zhiyu lama up date karena inspirasi Zhiyu ilang di maem kucingnya tetangga. #apaainIn -_-"
Kalau chap ini rada aneh, mohon di maklumi yah. Ini udah maksa banget buat ngeluarin ide. Disini belum ada bagian NCnya. Chapter depan baru HunHan NCannya. Udah liatkan yang di akhirnya.
Siapa nih yang ga sabar sama comebacknya EXO! SM udah mengkonfirmasi kalau EXO kambek antara tanggal 31 Maret dan 1 April. Huhuhuuuu... ga sabar liat aksinya My Handsome Sehunieee...
Makasih yah buat kalian para reders yang masih setia buat baca dan review fanfic Zhiyu. Trus reviewnya juga makin banyak. Kamsahamnidaaaa! #bow.
Maaf yah Zhiyu ga bisa balas reviewnya. Mungkin chap depan Zhiyu bakal usahain untuk ngebalas review kalian. Chap depan Zhiyu usahain buat up date pas EXO kambek.
Akhir kata #cieleahh. Zhiyu ucapin banyak terimakasih buat para readers dan siders yang baik hati. Juga tak lupa Zhiyu mohon kritik dan saran dari kalian, jika banyak kekurangan di fanfic abal ini.
Kamsahamnida! #bow
Review again, please... ^_~
