REMAKE NOVEL By : Shanty Agatha

You've Got Me From Hello

Cast : Oh Sehun, Park Chanyeol, Kris Wu, Byun Baekhyun, and others.

Warn : GS, typo

-ooOoo-

.

.

-oOo-

"Kau membuka pagiku dan juga menutup malamku, Sesederhana itulah aku menginginkanmu."

8

Ketika ponselnya berbunyi lagi, hampir jam sepuluh malam, Sehun yang sudah berada dalam posisi meringkuk di ranjang dan bersiap tidur mengernyit. Dia sedang tidak enak badan, hari ini adalah hari pertama dia datang bulan dan dia selalu sedikit merasakan nyeri di perut bawahnya ketika sedang haid. Diangkatnya telepon itu,

"Halo?"

"Sehunie?" suara Chanyeol yang dalam terdengar dari seberang sana, "Kenapa kau tidak datang kemari?"

"Oh... maaf Chanyeol." Dia lupa kalau sudah berjanji untuk ke cafe malam ini. "Aku... aku sedang tidak enak badan."

"Kau sakit?" suara Chanyeol terdengar cemas, "Kau sakit apa?"

"Eh tidak..." Sehun bingung, kehabisan kata-kata untuk menjelaskannya kepada Chanyeol.

"Aku antar ke dokter ya?"

"Eh tidak usah..." Sehun menelan ludahnya, "Ini sakit perempuan.."

"Sakit perempuan?" Dari suaranya Sehun bisa membayangkan Chanyeol mengernyit di sana.

"Itu.. sakit perempuan setiap bulan."

Hening. Tampak Chanyeol berusaha menelaah kata-kata Sehun, tetapi kemudian dia sadar,

"Oh."

Tiba-tiba saja Sehun merasa geli karena sekarang Chanyeol yang salah tingkah.

"Maaf ya. Biasanya ini hanya berlangsung di hari pertama kok, mungkin kita bisa bertemu besok."

Hening, lalu Chanyeol bergumam, "Aku ke sana ya?"

"Jangan, aku tidak apa-apa kok."

"Aku akan kesana." Chanyeol bergumam dengan nada keras kepala, lalu menutup telepon.

-oOo-

Ketika pintu apartemennya terbuka, Chanyeol berdiri di sana sambil membawa kantong kertas makanan dari cafenya. Lelaki itu menatapnya dengan cemas,

"Kau tidak apa-apa?"

Sehun menggeleng lemah, memundurkan langkahnya dan mempersilahkan Chanyeol masuk,

"Sakit begini hanya bisa disembuhkan kalau berbaring."

"Kalau begitu duduklah berselonjor di sofa." Chanyeol mendahului Sehun duduk di sofa, dan menunggu Sehun datang. Dia mengambil bantal kecil dan meletakkan di pangkuannya, "Sini, berbaringlah di sini"

Sejenak Sehun ragu, tetapi senyuman Chanyeol tampak begitu menenangkan, dan perutnya sakit. Dia tidak punya siapa-siapa di sini untuk mengeluh. Sambil menghela napas panjang dia duduk di sofa, Chanyeol langsung menariknya, menjatuhkan tubuh Sehun supaya kepalanya berbaring di bantal di pangkuannya.

Rasanya begitu nyaman, meringkuk di pangkuan Chanyeol dengan jemari ramping lelaki itu mengelus rambutnya pelan.

"Sudah makan tadi?"

Sehun menggelengkan kepalanya, "Tidak selera makan."

"Aku bawakan kentang goreng dan sosis dari cafe kalau kau lapar malam-malam." Jemari Chanyeol membelai rambutnya lembut, membuat Sehun mengantuk.

"Terima kasih Chanyeol..." suara Sehun melemah, dia menguap.

"Tidurlah, aku akan menungguimu di sini."

"Terima kasih ya." Sehun mengulangi ucapan terimakasihnya, lalu menutup matanya, merasakan damai yang menenangkan. Dia memejamkan matanya dan terlelap.

Chanyeol duduk di sana, mengamati Sehun yang terbaring di pangkuannya. Hasratnya untuk memiliki perempuan ini begitu besar, tidak pernah dia rasakan sebelumnya pada perempuan manapun. Perempuan ini adalah hasratnya. Dan setiap kali pula Chanyeol rela melepaskan apa yang menjadi hasratnya, demi keharusan untuk memikul sebuah tanggung jawab.

Kali ini itu tidak akan terjadi. Chanyeol akan mempertahankan Sehun di sampingnya. Lelaki itu lalu menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Sehun yang telelap dengan lembut.

"Aku mencintaimu, Sehun."

-oOo-

Sehun bangun di pagi hari dengan badan segar, dia membuka matanya dan menatap ruangan yang temaram. Masih sangat pagi sepertinya di luar, meskipun sinar matahari sudah menembus dengan malu-malu melalui gorden jendela.

Sejenak dia merasa bingung, kenapa dia tidur di ruang tamu. Tetapi dia lalu sadar.

Chanyeol...

Dengan gerakan pelan, Sehun melihat ke atas dan menyadari bahwa kepalanya ada di atas bantal kecil di pangkuan Chanyeol. Lelaki itu tertidur pulas sambil terduduk, tubuhnya menyandar ke sofa dan kelihatannya sangat lelap.

Sehun bergerak perlahan supaya tidak membangunkan Chanyeol. Tetapi rupanya Chanyeol terbiasa waspada ketika tidur karena dia langsung membuka matanya.

Mereka bertatapan, di pagi yang temaram dan udara dingin yang menguar sejuk dari jendela. Lalu Chanyeol tersenyum lembut,

"Selamat pagi."

Tiba-tiba Sehun merasa malu. Lelaki itu baru bangun dari tidurnya dan tetap terlihat sempurna, sedangkan penampilannya sekarang pasti sudah amburadul.

"Aku baik-baik saja."

"Sakit perutmu?"

"Sudah mendingan." Dengan gerakan canggung, Sehun duduk dan menjauh dari Chanyeol, menyadari bahwa semalaman mereka sudah tidur bersama.

"Izinkan aku membuatkan sarapan untukmu." Chanyeol melirik ke arah kantong kertas makanan yang dibawanya dari cafe yang tidak tersentuh, "Mungkin makanan ini masih bisa diselamatkan."

Chanyeol kelihatan tidak canggung sama sekali, seolah-olah tempatnya memang di sini. Dia meraih kantong kertas itu, setengah bersenandung melangkah ke dapur Sehun, dan memasak.

Sehun sejenak termangu, menatap Chanyeol yang tampak begitu luwes dan santai memasak di dapur, lelaki itu tampak menikmatinya. Tiba-tiba Sehun merasa tersentuh. Lelaki ini ingin menjadi koki, tetapi dia meninggalkan impiannya demi rasa tanggung jawabnya, dia pasti merasakan perasaan hampa di dalam dirinya. Sehun sendiri tidak akan bisa membayangkan kalau dia tidak boleh menulis lagi.

"Aku akan ke kamar mandi dulu ya." Gumam Sehun pelan dari sofa.

Chanyeol yang sedang memasak omelet beraroma harum dari bahan-bahan yang dia temukan di kulkas Sehun, menoleh dan tersenyum lembut,

"Silahkan. Ketika kau kembali, makanan sudah siap."

-oOo-

Dan Chanyeol memang benar. Ketika dia selesai mandi, dapur itu beraroma harum dengan telur dan ham yang sudah digoreng, serta aroma kopi yang menguar memenuhi ruangan.

"Makanlah." Chanyeol mengedipkan sebelah matanya, "Sarapan spesial dari koki paling tampan di dunia." Gumamnya menggoda,

Sehun terkekeh geli, dan Chanyeol meninggalkannya sebentar untuk ke kamar mandi.

Ketika kembali rambut Chanyeol basah dan dia tampak segar. Sehun sudah menyeruput kopinya dan mencicipi sedikit omelet yang luar biasa enaknya itu.

"Suka?" Tanya Chanyeol duduk di seberang Sehun di meja makan itu lalu menyesap kopinya yang masih mengepul panas.

Sehun menganggukkan kepalanya, "Aku tidak pernah memakan omelet yang begitu enaknya. Omelet buatanmu memang lezat." Gumam Sehun sambil tersenyum.

Tatapan Chanyeol di atas cangkir kopinya tampak begitu intens, "Kalau kau menikah denganku, aku berjanji akan membuatkan sarapan untukmu setiap pagi."

Hampir saja Sehun tersedak omeletnya, dia mendongak dan menatap Chanyeol terkejut,

"Apa?"

Chanyeol terkekeh dan barulah Sehun sadar bahwa Chanyeol sedang menggodanya. Pipinya langsung memerah karena malu.

"Tidak lucu, tahu." Gumamnya sambil cemberut,

Chanyeol masih terkekeh, tetapi matanya bersinar dengan serius, "Aku tidak sedang melucu Sehun, bayangan itu ada di benakku. Kau dan aku menikah, lalu hidup bahagia selama-lamanya."

Sehun merasakan jantungnya berdebar keras akibat kata-kata Chanyeol, "Bukankah masih terlalu dini membicarakan ini?"

"Ya." Chanyeol menganggukkan kepalanya, tidak membantah kata-kata Sehun, "Tetapi aku tahu apa yang kurasakan, perasaan nyaman yang tidak pernah kurasakan sebelumnya kepada siapapun. Aku bisa saja duduk di sini berdua denganmu, tidak melakukan apa-apa dan tidak merasa bosan." Lelaki itu menyentuh jemari Sehun dari seberang meja dan menggenggamnya sungguh-sungguh, "Beginilah yang kubayangkan akan kulalui bersama istriku nanti. Duduk bersama setiap pagi, mengawali hari dengan bahagia, lalu berpelukan ketika malam tiba."

Kata-kata Chanyeol terdengar luar biasa indah sehingga Sehun terpesona. Dia membiarkan tangannya dalam genggaman Chanyeol dan menghela napas panjang.

"Tetapi kau tidak jujur kepadaku. Cheondung berkata bahwa perusahaanmu tidak hanya mencakup cafe itu dan lain-lain. Kenapa Chanyeol? Apakah kau tidak mempercayaiku? Apakah kau berpikir bahwa aku mungkin hanya mengincar hartamu?" Sehun tiba-tiba merasa terhina, "Kalau kau memang berpikir seperti itu, kau bisa tenang, aku tidak butuh hartamu. Aku bahkan bisa menghidupi diriku sendiri dan tidak perlu bergantung pada seorang lelaki hanya untuk menghidupiku."

"Aku tahu kau orang yang mandiri Sehun, aku tahu kau tidak mengincar harta dan kekayaan." Chanyeol menggenggam erat jemari Sehun, mencegah ketika Sehun berusaha melepaskan diri. "Aku merahasiakannya karena takut kau merasa canggung dan lari dariku. Aku hanya ingin kau memandangku sebagai pria biasa, bukan sebagai seorang miliarder yang berkuasa."

Sehun tercenung, menerima betapa benarnya kata-kata Chanyeol. Kalau dari awal Chanyeol mengatakan bahwa dirinya sangat kaya, mungkin Sehun akan merasa ngeri dan tidak akan memberi kesempatan kepada mereka untuk lebih dekat.

Kedekatan ini sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Ada suatu ikatan yang sangat erat di antara mereka, membuat dunia mereka saling tarik menarik. Dan bahkan Sehun bisa membayangkan kata-kata Chanyeol itu, mereka bersama-sama di pagi hari, memulai hari dengan bahagia dan berakhir di pelukan satu sama lain.

"Apakah kita akan berakhir di sana? Di impianmu tentang hidup bahagia selama-lamanya?" tanya Sehun lemah.

Chanyeol tersenyum lebar, "Tentu saja Sehun sayang, Happy Ending, seperti akhir dari setiap novel romantismu."

-oOo-

"Bagaimana?" Chanyeol bertanya cepat ketika Suho memasuki ruangannya. Suho memang sangat tampan, dia adalah sahabat Chanyeol ketika kuliah di luar negeri sebagai koki. Dan Suho adalah koki handal yang kemudian mengembangkan bisnis hiburan mencakup salon, butik, dan bakery serta rumah makan yang kebanyakan dibangunnya bekerjasama dengan Chanyeol.

"Dia terpesona kepadaku tentu saja." Suho terkekeh, "Tetapi belum cukup untuk membuatnya berani mengambil keputusan untuk membatalkan pernikahan itu."

"Kau sudah melakukan semua yang kukatakan kepadamu bukan?"

"Tentu saja, dengan sempurna. Aku mengunjunginya ke rumahnya, membawakan bunga lily kesukaannya, dia terkejut karena aku bisa mengetahui kesukaannya. Lalu aku menceritakan tentang kucing, seperti yang kau informasikan bahwa Kyungsoo sangat menyukai kucing dan punya puluhan kucing di rumahnya. Dan sekali lagi dia terperangah karena aku mempunyai banyak sekali kesamaan dengan dirinya. Semuanya sempurna mulai dari makan malam, sikap lembut dan perhatian seratus persen. Aku yakin hatinya sudah berpaling, hanya saja belum ada sesuatu yang membuatnya mengambil keputusan penting itu. Seperti yang kau katakan, kau ingin membuktikan bahwa dia bisa mengkhianatimu bukan?" Suho menatap Chanyeol tajam, "Dia tidak menolak ketika aku menciumnya semalam."

Sebuah bukti. Sebuah kenyataan akan pengkhianatan. Chanyeol sudah menduga bahwa Kyungsoo tidak akan mampu bertahan. Perempuan itu mengatakan sangat mencintainya. Tetapi kalau dia sungguh mencintai, dalam keadaan apapun cinta tidak akan semudah itu tergoda untuk berkhianat.

Mungkin sejak awal Kyungsoo tidak mencintainya, mungkin perempuan itu hanyalah terobsesi untuk memilikinya.

"Kalau begitu mungkin ini saatnya aku bertemu dengan Kyungsoo."

-oOo-

Ketika Chanyeol datang, Kyungsoo sangatlah gugup. Chanyeol sudah lama sekali tidak berkunjung. Dan Kyungsoo... sudah terlalu sering menghabiskan waktunya bersama Suho hingga sampai di titik dia sudah tidak peduli lagi apakah Chanyeol akan datang atau tidak.

Tetapi pernikahan mereka sudah dekat, pernikahan itu adalah puncak impian Kyungsoo untuk bisa memiliki Chanyeol pada akhirnya, dan dia tidak akan mundur. Kyungsoo hanya berharap dia masih bisa menghabiskan waktu bersama Suho, mereguk seluruh perhatian yang tidak didapatkannya dari Chanyeol sebelumnya, dan semoga saja Chanyeol tidak akan tahu tentang perselingkuhannya sehingga pernikahan mereka akan berjalan mulus.

"Kemana saja kau selama ini Chanyeol." Kyungsoo memasang wajah merajuk, "Aku sampai berpikir bahwa kau mungkin sudah melupakanku."

"Aku sangat sibuk Kyungsoo, kuharap kau mengerti."

Kyungsoo mendesah sedih, "Selalu begini Chanyeol, apakah nanti di kehidupan perkawinan kita juga akan seperti ini? Kau sibuk dengan pekerjaanmu dan mengabaikan aku?"

Chanyeol mengangkat bahunya, "Itulah konsekuensi kau menikah denganku, tidak akan berubah meskipun kita menikah. Aku mempunyai tanggung jawab yang besar di perusahaan yang tidak mungkin aku abaikan begitu saja. Kalau kau tidak siap menghadapinya kau bisa mundur."

"Apa?" wajah Kyungsoo langsung pucat pasi.

Sementara itu Chanyeol memasang wajah datarnya, "Aku tidak bisa menjadi suami yang perhatian seperti yang kau inginkan, tidak akan pernah bisa. Kalau kau tidak siap menanggung kesedihan karena tidak pernah mendapatkan perhatian dari seorang suami, kau bisa mundur sekarang Kyungsoo agar kau tidak menyesal. Kau tahu, aku tidak pernah memaksamu untuk menikahiku, untuk menjadi isteriku."

"Teganya kau!" Kyungsoo berteriak, dan berurai air mata, "Kau sengaja melakukannya bukan? Kau sengaja mengabaikanku agar aku merasa tidak kuat dan membatalkan pernikahan ini? Kau ingin aku meninggalkanmu bukan? Agar kau tidak perlu memiliki istri yang lumpuh dan cacat sepertiku. Cacat karena kau!"

Perkataan Kyungsoo itu membuat wajah Chanyeol memucat, tetapi dia mengendalikan diri dan berusaha membuat ekspresinya tetap datar.

"Well kau tidak akan mendapatkan apa yang kau mau! Karena aku tetap akan melanjutkan pernikahan ini! Apapun yang terjadi kau tetap akan menjadi suamiku dan aku akan menjadi istrimu!"

Lalu dengan marah Kyungsoo memutar kursi rodanya, memasuki rumah dan meninggalkan Chanyeol berdiri di teras itu.

-oOo-

Sehun sedang tidak ada pekerjaan. Revisian naskah dari editor belum diterimanya. Dia menghabiskan harinya dengan bermain game komputer sampai merasa bosan. Kemudian dia teringat perkataan Yixing pada hari itu, ketika mereka mencari data-data tentang Chanyeol di internet. Bahwa kita tinggal memasukkan sebuah nama saja di mesin pencari, dan kalau orang itu cukup terkenal, maka kita akan menemukan banyak informasi tentangnya.

Sehun teringat, bahwa Chanyeol selalu tampak tampan di foto-fotonya di setiap kolom berita keuangan dan bisnis yang ada di internet. Lelaki itu memang berpenampilan berbeda, dengan jas resmi yang tampak sangat formal.

Dengan iseng, Sehun membuka mesin pencari di internetnya, dan memasukkan nama lengkap Chanyeol di sana. Dalam beberapa detik, deretan hasil pencarian muncul.

Sehun menelusurinya dengan sangat tertarik. Ada berita tentang merger hotel terbaru milik Chanyeol, pembukaan restoran bintang lima secara serentak, dan iklan tentang resor-resor mewah di kawasan pariwisata elit di beberapa kota.

Semua berita itu menyebut Chanyeol sebagai pemimpin perusahaan yang jenius dan kompeten.

Lalu mata Sehun tertuju kepada sebuah kolom gosip. Hey... ada kolom gosip di antara semua berita keuangan dan bisnis ini. Dengan tertarik Sani membuka kolom itu. Itu adalah wawancara dan berita tentang profil Chanyeol, pengusaha muda yang sangat sukses dalam mengembangkan bisnis perusahaannya.

Sani membacanya dengan sangat tertarik, menelusuri kisah hidup Chanyeol dalam bentuk tulisan. Ternyata Chanyeol adalah seorang yang cemerlang dalam prestasi pendidikannya, dan juga...

Mata Sehun berkerut pada sebuah berita bahwa Chanyeol sudah bertunangan dengan kekasih yang dipacarinya selama empat tahun. Tunangannya adalah seorang mantan model pro yang berhenti setelah mengalami kecelakaan, bernama Do Kyungsoo.

Jantung Sehun berdebar keras, sebuah kejutan lagi... Chanyeol sudah bertunangan? Dan dari kolom berita itu, dikatakan bahwa tahun ini mereka akan menikah.

Dunia seakan runtuh di bawah kaki Sehun.

.

.

.

TBC

Adakah yang kangen FF ini? Aku sudah mengedit dan membaca berulang kali agar tidak typo. Mohon maafkan jika masih ada yang terlewat :"

Thanks buat yang udah dukung FF ini teruss, terimakasih untuk yang review fav and follow~

RnR