9 Desember 2010

Dear Diary

Temanku Sakura, dia bilang dia akan membantuku untuk bisa menyampaikan perasaanku pada Naruto-kun

Katanya dia akan membuatkan kesempatan dimana aku hanya akan berdua saja dengan Naruto-kun

Rencananya, dia akan membuat aku dan Naruto hanya berdua saja mengerjakan tugas piket

Dia bilang dia akan mengajak Sasuke yang juga seharusnya ikut dalam tugas piket hari itu agar tidak masuk kesekolah

Agar kesempatan untuk kami berdua pun bisa terlaksana dengan sempurna

Tapi, sepertinya aku ragu, apa aku bisa melakukannya

Aku hanya bisa berharap, agar aku bisa melakukannya dengan baik

Aku tak mau kalau perasaan ini hanya akan tersimpan dihatiku tanpa pernah terungkapkan

Setidaknya aku ingin Naruto-kun tahu..

Bahwa aku sangat mencintainya..

PLUKK!

Dan buku itu pun kembali terjatuh pada sebuah lantai kayu yang teralaskan sebuah permadani. Lalu sebuah foto berukuran kecil ikut terlontar keluar dari buku itu bersamaan dengan jatuhnya sang buku. Sebuah foto yang menampilkan wajahnya yang sedang tersenyum menatap kamera penuh dengan keceriaan. Ia mengambil foto itu dan menatapnya..

"Hinata.. menyukaiku..?"

_-0-_

All character's created and belong's to Masashi Kishimoto.

Storyline by Aojiru.

Genre's: Romance, Humor and Fantasy.

Warning!: AU, OOC and Sci-fi.

Aturan Baca: Kalau ada kata yang deskripsinya menyebutkan nama Naruto, berarti yang dimaksud adalah Naruto yang berada di dalam tubuh Hinata, jadi pihak ketiga tetap mengira kalau yang berbicara itu adalah Hinata. Sedangkan kalau deskripsinya menyebutkan nama Hinata, berarti yang dimaksud adalah Hinata yang berada di dalam tubuh Naruto, pihak ketiga akan mengira kalau yang berbicara adalah Naruto. Dan kalau yang berbicara hanya mereka berdua saja (tanpa adanya pihak ke-tiga) deskripsi yang digunakan adalah deksripsi biasa atau normal.

Naruto(Hinata) : maksudnya adalah, Tubuh Naruto yang sedang didiami oleh jiwa Hinata. Hinata(Naruto) : Kebalikannya, yaitu tubuh Hinata yang sedang dirasuki oleh jiwa Naruto.

_-0-_

Soul Exchange

O

o

.

Chapter 9

Pagi itu, mentari bersinar cerah seperti bisanya, menghangatkan kota yang masih terasa dingin karena sang malam belum lama tadi baru saja menghilang di telan sang waktu. Burung-burung pun tak lupa untuk berkicau sebagaimana tugasnya untuk meramaikan pagi yang kian sibuk itu.

Rintihan sebuah sepeda tua yang tengah dikayuh dengan santai oleh seorang bocah penjual koran yang baru saja selesai dari tugasnya, diselingi dengan beberapa kali dentingan dari bel yang terpasang pada kemudi sepeda tersebut, sebagai sebuah salam selain dari sebuah senyuman hangat yang terpampang diwajahnya, menyapa beberapa pegawai toko yang tengah mempercantik halaman depan tokonya sambil berharap, dengan begitu toko mereka pun akan didatangi oleh banyak pengunjung hari ini, sebagaimana hari kemarin dan hari-hari sebelumnya.

Namun, diantara wajah-wajah ceria itu, tengah berjalan sesosok pemudi dengan wajah yang terlihat kuyu dan pucat pasi. Garis-garis hitam dibawah matanya dapat menjelaskan melebihi apapun bahwa semalaman tadi ia sama sekali tidak dapat tidur dengan nyenyak.

Berkali-kali hembusan nafas dengan nada mengeluh keluar dari mulutnya, mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang tengah mengganggu pikirannya, atau setidaknya membuat waktu dimana seharunya ia masih berkutat dalam kasurnya yang hangat, malah membuatnya kini sudah terbalut rapi dengan seragam sekolahnya dan berjalan menyusuri jalan yang biasa ia lalui untuk menuju sekolah lebih awal.

Stress!

Itulah mungkin kata-kata yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan pemudi tadi.

_-0-_

Ia mengangkat lengan kirinya, dimana terdapat sebuah jam tangan berwarna lavendernya terpasang. Memperhatikan angka-angka yang sedang ditunjukan oleh jarum jam yang terpasang disana, dan sedikit mempekerjakan otaknya. "Hah~ masih lebih dari setengah jam lagi sampai bel pertama berbunyi.." ujarnya dengan malas dan monoton. Sambil tetap melangkahkan kakinya, ia kembali menurunkan lengan kirinya dan berjalan dengan lunglai.

Khayalannya tertuju pada sesuatu yang tengah mengganggu pikirannya sejak semalam tadi, entah itu untuk yang keberapa kalinya ia lakukan di pagi itu. Dan walaupun ia kerap kali memikirkannya, bukan berarti hal itu dilakukannya karena ia senang, justru karena ia tidak tau apa yang harus dilakukan dengan hal itu, makanya ia terus memikirkannya.

Mengetahui kalau ternyata ada seorang gadis yang menyukainya ternyata lebih berat dari pada harus mengerjakan Pr liburan musim panas sendirian, terlebih lagi dengan tingkat kepekaannya yang sangat rendah dengan hal tersebut, ditambah lagi dengan kondisi dan situasinya saat ini, semua itu bagaikan sebuah pendulum besi berukuran besar yang terikat kuat dikakinya dan membuatnya tak bisa bergerak.

"A-apa benar Hinata menyukaiku ya?" gumamnya pada awan-awan putih yang sedikit berwarna orange akibat bias sang mentari pagi.

"Ah! Pasti itu hanyalah sebuah tulisan iseng saja, mana mungkin Hinata menyukaiku! Lagipula, kalau kuperhatikan, sikapnya biasa saja terhadapku, jadi pasti itu hanya salah paham saja, aku yakin itu," ujar Naruto yang mencoba mencari ketenangan atas permasalahannya itu.

"Kalau aku bertemu Hinata nanti, aku akan bersikap biasa saja, seolah aku tak pernah membaca diary itu, hehehe.." ujarnya yakin.

Tiba-tiba, dari arah belakang, sebuah tepukkan halus mendarat pada bahunya dan membuatnya sedikit terkejut sekaligus memaksanya untuk menolehkan wajahnya kebelakang. Dan saat itu, dilihatnyalah sebuah senyuman yang sekitar sebulan lalu masih menjadi miliknya, sebuahn senyuman yang menjadi ciri khasnya selama ini.

"Selamat pagi Naruto!" sapa Hinata hangat.

DEG!

"Ah! H-Hinata.. se-selamat pagi!" balasnya dengan sedikit gugup. "Ga-gawat! Tak kusangka akan bertemu dengannya sepagi ini!" ujarnya dalam batin.

"Tumben, sepagi ini sudah berangkat sekolah, ada apa?"

"Eh.. T-tidak ada apa-apa kok, cuma iseng saja, hahahaha.."

"Iseng? Hmph.. alasan yang aneh," Hinata tertawa kecil. "Kalau begitu, kita berangkat sama-sama ya?"

"Um.. i-iya.. boleh,"

Mereka berdua pun berjalan bersama menuju sekolah, dan semuanya terlihat normal-normal saja. Tapi, ada satu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, yaitu perasaan Naruto yang kini tengah kalang kabut akibat memikirkan isi diary yang dibacanya itu, dan sekarang orang yang dimaksud tengah berjalan disampingnya, dan hal itu membuatnya kinerja otaknya menjadi kacau.

TEP TEP TEP TEP

"Ng? Ada apa Naruto? kenapa kau berjalan seperti itu?" tanya Hinata yang melihat cara berjalan Naruto yang nampak aneh.

"Ng! Aneh apanya?" tanya Naruto yang kemudian langsung memperhatikan gerak langkahnya, yang mana saat itu ia mengayunkan tangan kanannya ketika kaki kanannya melangkah, dan mengayunkan tangan kirinya saat kaki kirinya melangkah.

"Eh! Ah.. iya.. se-sejak kapan cara berjalanku jadi seperti ini, aneh sekali, hehehe.." ujarnya gugup sambil kembali membenarkan cara berjalannya.

"Fufufu.. dasar Naruto!" gumam Hinata sambil tertawa kecil melihat tingkah Naruto.

"Hehehehe..."

"Ugh! Gawat! K-kenapa aku jadi gugup seperti ini, apa yang salah denganku?" ujar Naruto dalam hatinya dengan diiringi sedikit rasa cemas. "P-padahal, sikap Hinata biasa saja, tapi kenapa justru malah aku yang salah tingkah seperti ini, kalau aku bersikap aneh seperti ini terus, bisa-bisa Hinata sadar kalau aku-"

"Naruto! Naruto! kau mau kemana?" ujar Hinata dengan sedikit berteriak.

"Eh!"

Naruto pun tersadar dari lamunannya, ia langsung celingak-celinguk memperhatikan jalan yang dilaluinya, sama sekali berbeda dengan jalan yang biasa dilaluinya, dan ternyata ia telah melewati jalan yang salah untuk menuju kesekolahnya.

"Naruto! sini!" ajak Hinata sambil menganyunkan pergelangan tangannya diudara.

"Ah! Aku salah jalan ya, hehehe..." Naruto tertawa sambil menggaruk-garukkan kepalanya. Ia pun segera menghampiri Hinata yang berdiri disebuah belokkan yang seharusnya ia lalui untuk pergi kesekolah

"N-Naruto.. ada apa sih? Apa kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Hinata sembari kembali melanjutkan langkahnya.

"Ti-tidak kok, tidak apa-apa!" balas Naruto.

JII~IIT

Hinata mendekatkan wajahnya dan menatap mata Naruto dalam. "Kau bohong 'kan?" tanya Hinata.

BLUSHH!

Berkat hal itu, kini wajah Naruto memerah bak kepiting rebus.

Naruto sontak memundurkan langkahnya kebelakang. "Eh!.. ti-tidak! Aku tidak bohong," ujarnya.

Hinata kembali mendekatkan wajahnya, masih dengan tatapan yang sama. "Apa benar begitu?" ujarnya dengan nada memaksa.

"Iya kok! A-aku tidak bohong.." bela Naruto.

Namun Hinata masih menatapnya dengan tatapan tak percaya, seolah tatapan itu memaksanya untuk menguak kebenaran yang sesungguhnya. "Hmm.."

"Ugh.. bisa-bisa tatapan itu menghipnotisku agar mengatakan hal yang sesungguhnya.." ujarnya dalam hati."Aku harus kabur!"

"Oh iya! Aku belum mengerjakan Pr Matematika hari ini! kalau begitu aku duluan ya Hinata! Daagh!"

WUSSHHH!

Tanpa basa-basi lagi, Naruto langsung melesat secepat kilat dan meninggalkan Hinata.

"Ah! Naruto.. tu-" ujar yang tak bisa meneruskan kalimatnya karena Naruto sudah terlebih dahulu kabur. Namun raut wajahnya berubah ketika ia merasakan ada yang aneh. "Lho! Bukankah hari ini sama sekali tidak ada pelajaraan Matematika?"

Namun tanpa memikirkan hal itu lebih jauh, Hinata kembali melanjutkan langkahnya menuju sekolah.

_-0-_

SLUUURRPP!

Terdengar sekotak jus sari buah yang habis tersedot oleh dahaga Naruto yang memuncak setelah terpaksa berlari dalam perjalanannya menuju sekolah.

"Ah~ segarnya!" ujar Naruto lega. Ia sedikit mengambil nafas untuk menstabilkan detak jantungnya yang tadi kacau balau. "Ha~ tak kusangka akan bertemu Hinata, aku sampai kaget." Sambungnya sambil menyelonjorkan lengan dan tubuhnya pada meja.

"Tapi.. kenapa aku jadi deg-degan begitu saat bertemu dengannya, padahal sebelumnya tidak pernah seperti ini. Apa aku.."

"Selamat pagi~!" sapa Hinata saat memasuki kelas, nampaknya ia sudah bisa memainkan sosok Naruto yang dikenal penuh dengan semangat dan ceria dengan baik.

"Gawat.. dia datang!" gumam Naruto.

Beberapa murid yang sudah hadir pun membalasnya dengan senyuman dan juga ucapan yang sama. "Selamat Pagi Naruto!"

Lalu Hinata segera melangkah menuju tempat duduknya dan menemukan Naruto sedang duduk disebelahnya. "N-Naruto.. tadi ka-"

"Ah! Tenggorokanku kering sekali, aku akan pergi ke kantin untuk membeli sekaleng cola," ujar Naruto sambil bangkit berdiri dan melangkah pergi.

"N-Naruto.. tung-gu.."

_-0-_

"Jadi, jika unsur x dalam sebuah senyawa yang bermuatan ion positif belum diketahui, maka unsur lain yang berada.. ... ... ..."

Apa yang diterangkan oleh Anko sensei sepertinya sama sekali tidak diindahkan oleh Naruto, ia lebih sibuk mengurusi urusan tentang Hinata yang ia tau secara diam-diam telah menyukainya. Ia menatap Hinata yang tengah sibuk memperhatikan pelajaran Kimia yang tengah dijelaskan oleh Anko sensei.

"Sigh, bagaimana ini, aku sama sekali tak bisa berbicara langsung dengannya, menatap matanya saja rasanya sulit, apalagi kalau harus berhadapan dan menanyakan hal itu padanya.." gumam Naruto.

Merasa dirinya diperhatikan, Hinata menolehkan kepalanya kesamping. Didapatinya Naruto yang tengah mencuri-curi pandang dengannya, kedua mata mereka saling bertautan dan wajah Naruto terlihat merona seketika.

BLUSHH!

"Ah!"

Naruto lalu memalingkan wajahnya kearah papan tulis, berpura-pura menikmati apa yang sedang dijelaskan oleh Anko sensei.

"Entah mengapa.. r-rasanya sejak tadi Naruto seperti berusaha menjauhiku, a-apa secara tidak sengaja aku telah menyinggung perasaannya, tapi kapan? Kenapa?" tanya Hinata dalam hatinya.

Dengan masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya, Hinata melalui jam-jam pelajarannya dengan gelisah, sampai akhirnya bel tanda istirahat pun berbunyi.

"Ah.. akhirnya bel istirahat berbunyi, dengan begini aku bisa menanyakan hal itu langsung pada Naruto, alasan kenapa ia terlihat begitu menjauhiku.." gumamnya.

Hinata lalu mengeluarkan bekal makan siangnya yang akan dijadikan alasannya agar bisa makan siang bersama Naruto dan lalu menanyakan perihal yang mengganggu pikirannya itu.

"N-Naruto.. bagaimana kalau kita makan siang sama-sama? B-boleh kan?" tanya Hinata sedikit ragu.

"Ah.. maaf, aku lupa membawa bekal makan siangku, kalau begitu aku akan pergi ke kantin dan makan disana, lain kali saja ya Hinata!" ujar Naruto sambil berlalu pergi dengan tergesa-gesa.

"N-Naruto.." gumam Hinata murung.

_-0-_

Di kantin..

"Hah~ lagi-lagi aku hanya bisa menghindar, dan aku tak tahu apa lagi yang dapat kulakukan selain hal itu," ujar Naruto sambil mengunyah roti cokelatnya. Ia menerawangkan pikirannya, menatap beberapa siswa-sisiwi yang berlalu-lalang dihadapannya, walaupun hanya dengan tatapan kosong yang tak berarti.

"Yo Hinata!" sapa Sakura yang tanpa basa-basi langsung mengambil posisi duduk dihadapannya. Kontan hal itu membuat Naruto tersadar dari lamunannya.

"Oh- S-Sakura.."

"Tumben sekali kau makan disini?" tanya Sakura sambil meminum jus buah kesukaannya.

"Um.. tadi aku tidak sempat membuat bekal, karena itu aku makan siang dengan roti cokelat yang kubeli ini!" jelas Naruto.

"Begitu ya," angguk Sakura. "Mana Naruto? apa dia sedang memesan makanan?" tanya Sakura lagi.

"Eh! T-tidak, Naruto tidak ikut!" terang Naruto.

"Tidak ikut? Memangnya kenapa?" tanya Sakura dengan ekspresi terkejut diwajahnya.

"Um.. memangnya ada yang salah kalau Naruto tidak ikut?" tanya Naruto.

"Lho! Bagaimana sih, bukankah kalian berdua pacaran?"

"APA? PACARAN!" tanya Naruto yang tak kalah terkejut. "S-siapa yang bilang?"

"Eh! Jadi kalian tidak pacaran?"

"Tidak kok, kami tidak pacaran!" ujar Naruto.

"Yang benar?" tanya Sakura yang masih tak percaya.

"Benar! Kami berdua tidak pacaran!" tegas Naruto.

"Aneh.. K-kupikir, kalian berdua sudah berpacaran," ujar Sakura yang terlihat sedikit kecewa.

"T-tapi.. kami berdua memang tidak berpacaran kok, m-memangnya.. apa yang membuatmu berpikir begitu? Apa kami terlihat seperti itu?" tanya Naruto.

"Tentu saja! Soalnya belakangan ini, kalian berdua sering terlihat bersama, atmosfer diantara kalian berdua juga nampak berbeda, kalian nampak sering tertawa berersama dan menghabiskan banyak waktu bersama, pulang sekolah juga sering sama-sama, siapapun yang melihatnya juga pasti akan berpikir demikian 'kan?"

"A-apa benar begitu?" tanya Naruto lagi.

"Jelas!" ujar Sakura memastikan.

Naruto menerawangkan pikirannya, kembali mengingat pada hari-hari yang lalu yang dilaluinya bersama Hinata. "Kalau dipikir-pikir, benar juga ya, belakangan ini, aku jadi lebih banyak menghabiskan waktuku bersama Hinata.. walaupun memang, hal itu dikarenakan kondisi kami yang harus saling menjaga semenjak 'kejadian itu', tapi.."

"Oi Hinata!" seru Sakura yang langsung menyadarkan Naruto dari lamunannya.

"Ng! Apa?" tanya Naruto.

Sakura lalu meletakan jus buah yang sedari tadi digenggamnya, kali ini pun wajahnya nampak serius. Kemudian ia sedikit mendekatkan wajahnya pada Naruto. "Apa kau sudah merasa puas dengan dirimu sekarang?" tanyanya.

"Um.. a-apa maksudmu?"

"Apa kau sudah menyerah? Bukankah, sejak dulu kau selalu menyukai Naruto?"

DEG!

"J-jadi.. ternyata Hinata memang benar menyukaiku ya!" batin Naruto.

"Apa kau sudah merasa puas dengan keadaanmu yang sekarang ini, yang hanya bisa berteman saja dengannya.." sambung Sakura.

"I-itu.. s-sebenarnya.. a-aku.." ujar Naruto yang nampak gugup.

"Ah! Tenang saja Hinata, aku sama sekali tidak bermaksud untuk memaksamu.. aku hanya ingin bilang, kalau suatu waktu nanti kau butuh pertolonganku, kau tidak perlu sungkan untuk mengatakannnya.. karena aku, akan selalu bersedia untuk membantumu!" ujar Sakura sambil tersenyum kecil.

"Eh! I-iya.. terima kasih banyak Sakura."

Bel pun kembali berbunyi, menandakan waktu istirahat telah usai. Mereka berdua bergegas menuju ruang kelas untuk kembali mengikuti pelajaran sebagaimana biasanya.

Pelajaran Biologi yang diajarkan oleh Iruka-sensei pun dimulai.

"Nah anak-anak, silahkan kumpulkan Pr kalian mengenai penelitian tumbuhan yang kuberikan minggu lalu, jangan sampai ada yang tidak mengumpulkan ya," ujar Iruka.

"Ah gawat! Aku sama sekali tidak ingat! Bagaimana ini? apa yang harus kulakukan!" ujar Naruto panik. "Tidak ada waktu lagi.. aku harus mencontek.. harus mencontek!" ujarnya sambil cecelingukan mencari orang yang bisa diconteknya. Saat itu pikirannya langsung tertuju pada Hinata yang menurutnya pasti sudah mengerjakan Pr tersebut, namun karena kondisinya saat ini, ia tak berani untuk menanyakan hal itu padanya. "Ah.. kenapa harus diaat-saat seperti ini sih.." gumamnya.

Tiba-tiba saja Hinata menoleh kearahnya. "Hng?"

Naruto yang tertangkap sedang memperhatikannya, langsung membalikkan wajahnya ke arah lain, ia lalu menghampiri Sakura untuk meminjam Prnya dan menyalinnya.

"N-Naruto.. k-kenapa dia tidak menanyakannya padaku.." gumam Hinata lesu.

_-0-_

Pelajaran berikutnya pun kembali berlangsung, Naruto yang masih diliputi perasaan aneh yang menghantuinya sejak ia mengetahui kalau Hinata menyukainya, hanya bisa diam dalam gelisahnya saat jam pelajaran itu, pikirannya menerawang jauh entah kemana, membiarkan kalimat-kalimat yang diucapkan sensei yang mengajar hanya berlalu bagaikan sang angin.

Hinata yang juga dirundung rasa penasaran bercampur cemas, terus memikirkan alasan dibalik sikap Naruto yang seolah nampak menjauhinya itu. Ia hanya dapat berharap semoga saja hal itu bukan karena kesalahannya sehingga Naruto bersikap seperti itu padanya.

TENG TONG TENG TONG

Bel sekolah kembali berbunyi, kali ini menandakan berakhirnya kegiatan ajar mengajar hari ini, semua murid nampak bergembira menyambut hal itu. Namun, tidak seperti yang dirasakan oleh Naruto dan Hinata yang tengah berkutat dengan perasaannya masing-masing.

"Hinata, Naruto, maaf ya, hari ini aku tak bisa pulang bersama kalian, ada beberapa hal yang harus kukerjakan disekolah, kalian pulang duluan saja ya, sampai besok!" ujar Hinata seraya pergi meninggalkan kelas.

Sementara Naruto dan Hinata hanya terdiam menanggapi situasi yang dihadapinya itu. Naruto yang tak ingin bicara banyak, tak berani memulai percakapan, sementara Hinata yang merasa khawatir karena sikap Naruto yang seperti itu pun juga melakukan hal yang sama, diam.

Setelah merapikan semua barang bawaan mereka, dan suasana sekolah juga sudah sepi, mereka belum juga bergerak untuk meninggalkan kelas. Hanya saling diam.. saling menunggu salah satu dari mereka agar berbicara lebih dulu, dan tentu saja hal itu membuat suasana diantara mereka berdua kian tidak nyaman.

"Ugh.. aku paling benci suasana yang suram seperti ini," batin Naruto menanggapi keadaan mereka berdua saat ini. "Sial.. kenapa malah jadi begini sih!"

Naruto mengangkat tasnya dan lalu menyelempangkan tali tasnya itu pada bahu kanannya. "Um.. Hinata.. k-kita pulang yuk!" ajaknya.

"Hm.." ujar Hinata singkat yang disertai dengan sebuah anggukkan kecil.

Merekapun bergegas meninggalkan sekolah.

Di perjalanan pulang, suasana sama sekali tidak berubah, mereka hanya saling diam menunggu agar salah satunya berujar terlebih dahulu. Sama sekali tak ada percakapan, sama sekali tidak ada senyuman atau pun gelak tawa yang biasa mereka hadirkan saat mereka menyusuri jalan meninggalkan sekolah, hanya wajah-wajah musam yang sibuk dengan pikirannya masing-masing.

"Sial.. kalau tahu akan seperti ini, aku pasti tidak akan membuka dan membaca isi diary itu.." rutuk Naruto dalam batinnya. "Tapi kenapa Hinata malah ikut-ikutan murung seperti ini, apa reaksiku terlalu berlebihan? Apa dia marah karena sikapku yang selalu menghindarinya itu? lalu.. lalu aku harus bagaimana.. ah, yang penting aku harus meluruskan dulu kesalahpahaman ini.. "

"A-anu.."

"Maaf!" seru Hinata tiba-tiba, memotong apa yang ingin dikatakan oleh Naruto.

"Eh! K-kena-"

"M-maafkan aku Naruto!" ulangnya lagi.

"T-tunggu dulu! K-kenapa kau minta maaf Hinata?" tanya Naruto penasaran.

"B-Bukankah kau marah padaku?" ujar Hinata yang balik bertanya dengan sedikit cemas.

"Eh? Kenapa aku harus marah.. aku tidak marah kok!" ujar Naruto.

"L-lalu.. k-kenapa hari ini Naruto bersikap dingin padaku.."

"Ah.. i-itu.. karena.."

"A-apa aku sudah membuat Naruto kesal?"

"Sudah kubilang bukan itu.."

"Lalu kenapa? Kenapa Naruto berusaha menghindariku terus.." tanya Hinata sambil berbalik menatap Naruto, lagi-lagi dengan pandangan yang seolah menekan.

"Itu.. sebenarnya aku.." ujar Naruto gugup.

"Apa?" desak Hinata.

"Aku.. aku telah membaca isi diary mu Hinata.."

DEG!

"EH!"

Sontak hal itu membuat hati Hinata terkejut bagai disambar petir. Diary itu adalah sebuah rahasia tentang ungkapan isi hatinya yang tak boleh diketahui oleh siapapun juga, apalagi oleh Naruto. Wajah Hinata memerah seketika saat Naruto mengungkapkan alasannya, rasa cemas dan khawatir yang tadi menggelayuti pikirannya itu, dengan cepat berganti dengan rasa malu dan gugup yang bergejolak dengan begitu hebatnya dalam dirinya.

"T-tidak mungkin! M-masa' Naruto membaca isi diary-ku itu.. kalau begitu.. b-berarti, Naruto sudah tau apa yang tertulis didalamnya.. semuanya.. termasuk.. perasaanku yang.."

"J-jadi.. kau sudah membacanya ya.." ujar Hinata lemah.

"M-maafkan aku Hinata.. a-aku sama sekali tidak sengaja membacanya.. um.. maksudku aku memang sengaja.. tapi.. saat itu tiba-tiba saja buku itu terjatuh dihadapanku dan.. tanpa pikir panjang, aku langsung membuka buku itu dan membacanya.. aku tidak menyangka kalau.." Naruto terhenti sejenak. "Kalau.. aku akan melihat sesuatu yang sangat penting seperti itu.."

BLUSHH!

Wajah Naruto langsung diliputi warna merah. Hinata yang berdiri didepannya pun seolah tak mau kalah, wajahnya juga ikut merona kemerahan.

"J-jadi.. Naruto sudah mengetahui semua isinya kan.. t-termasuk.. yang itu.." tanya Hinata.

Naruto menunduk untuk menyembunyikan rona merah diwajahnya. "T-tidak semua sih, t-tapi.. yang itu.."

Hinata mulai memainkan jari jemarinya untuk mengusir rasa gugup yang bersemayam dalam hatinya. "La-lalu.."

"I-itu.. Aku tidak tahu.. apakah isi buku itu sungguhan atau tidak, jadi.."

"B-bagaimana kalau sungguhan.." potong Hinata.

"Eh.. m-maksudmu?"

"B-bagaimana kalau apa yang tertulis dibuku itu adalah memang benar perasaanku.. ba-bagaimana kalau ternyata.. a-aku memang benar-benar menyukai Naruto.."

"EH! J-jadi.."

Naruto terkejut mendengar pernyataan Hinata itu, dengan wajah yang tentunya diliputi warna merah karena malu. Sementara, Hinata hanya sesekali menautkan pandangannya pada Naruto sambil memainkan jari-jarinya dan dengan wajah yang juga semerah Naruto.

"Hinata.. a-aku.. sebenarnya..."

DEG! DEG! DEG!

". . . . . . . ."

"Oi~ kalian...!" sapa seseorang dari kejauhan.

"Ah!"

_-0-_

T.B.C

_-0-_

A.N:

Yeah! Chapter 9 finish..

Ditengah kesibukkan yang melanda, akhirnya bisa kelar juga chapter 9 ini..

Mungkin agak pendek, tapi memang sengaja disusun seperti itu, biar semuanya pada penasaran.. (bo'ong, bilang aja gak ada ide!)^^

Dan seperti yang sebelum-sebelumnya, Sebagai penutup, Ao ucapkan terima kasih karena sudah membaca fict ini^^

Juga jangan lupa reviewnya, karena review itu sebagian dari ibadah #Plakk!^^

Oke, kalau begitu, Ao undur diri dulu

Sekali lagi terima kasih atas review-review yang telah diberikan sebelumnya..

Sampai jumpa di chapter berikutnya

Long Live NaruHina

ciao