Entah kenapa selalu saja hari Minggu berakhir lebih cepat dibandingkan hari-hari lainnya, apa karena hari itu selalu diisi hal-hal menyenangkan sehingga tanpa disadari akan segera berakhir? Itulah yang Natsu rasakan setelah kembali ke sekolah, kalau bisa dia ingin terus dan terus hari itu terulang, karena kemarin lebih spesial dibandingkan hari apapun, dari setiap harinya yang terlalui. Kedua bola matanya tengah mencari sosok sang mangaka, bahkan lebih dia adalah teman terbaik yang pernah Natsu punyai.
Setiap orang yang lewat ia perhatikan dengan seksama, siapa tau Lucy menyelip di antara mereka dan sengaja mengerjai Natsu agar merasa bingung. Tetapi kali ini sangat berbeda, bel masuk telah berbunyi sedangkan Natsu masih berada di depan gerbang sekolah, satpam pun mengerunya berulang kali agar segera masuk ke dalam kelas.
"Bel sudah berbunyi, kenapa kamu tidak masuk?" tanya satpam merasa kesal, ingin segera menutup pintu gerbang
"Ma-maaf"
Hari ini Lucy pergi kemana? Tidak biasanya dia absen, gumam Natsu sambil berjalan menuju kelas, saat membuka pintu kelas rupanya pelajaran sudah dimulai dan di depan meja guru Laxus-sensei sedang duduk sambil memeriksa PR murid. Terlihat marah karena ada murid yang datang terlambat, tetapi dengan cepat Natsu menutup pintu, berdiri di depan kelas sambil memasang wajah murung. Hanya ada Lucy, Lucy dan Lucy dalam pikirannya kini.
"Dia tidak masuk, Erza-sensei juga sudah berhenti menjadi guru pengganti, jadi untuk hari ini aku sendirian ya…?"
Sendirian, itu terdengar tidak menyenangkan dan pasti membosankan. Selama jam istirahat pun Natsu hanya terdiam tanpa sedikitpun menyentuh roti lapis kesukaannya, semua akan terasa hambar tanpanya, semua akan terasa aneh tanpanya. Tetapi kemudian dia sadar, bukankah hari ini isi kepalanya terlalu dipenuhi oleh satu nama? Ini bukanlah Natsu, dia menjadi orang yang berbeda tanpa kehadairan seorang Lucy Heartfilia.
"Aneh, kemana perginya sifat asliku?"
Mungkin usai pulang sekolah Natsu akan mencari Lucy, lagipula mereka itu tetangga jadi sangat mungkin bukan untuk bertemu? Selama perjalanan pulang Natsu terlihat gelisah, feel-nya tentang hal ini amatlah buruk, meski sebenarnya dia ingin mengabaikan perasaan tersebut dan percaya jika Lucy berada di rumah, dia akan menyapaku dengan senyuman bukan? Dia akan menyambutku bukan?
Tok…tok…tok…
"Permisi, apa ada orang di dalam?"
Sia-sia saja, sudah tiga kali mengetuk pintu pun tidak ada yang membukakan pintu, saat ditanya pun tetangga sekitar hanya menggelengkan kepala, tidak mengetahui keluarga Heartfilia pergi kemana. Natsu sempat merasa putus asa, mungkin Lucy pindah rumah atau jalan-jalan, tetapi kalau memang begitu kenapa dia sampai harus pergi tanpa kabar? Natsu memutuskan untuk mencari ke beberapa tempat, ya seperti toko buku atau mungkin taman kota.
"Lucy, kamu berada di mana, Lucy?!"
Langit sudah mendung, menandakan sebentar lagi akan hujan dan hasil dari pencariannya selama sejam ini adalah nihil. Meski hujan sudah turun sekalipun, Natsu tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya berpijak, masih berpikir tempat mana lagi yang mungkin Lucy kunjungi, game center? Mall? Sekeras apapun dipikirkan tetap saja Natsu tidak tau.
"Aku belum mengenal Lucy sepenuhnya…aku bukanlah sahabatnya, kami hanya sekedar teman biasa"
"Apa yang kamu lamunkan sampai basah kuyup begini?" tanya seseorang sambil memayungi Natsu
"Erza-sensei?"
"Mukamu terlihat pucat, ada apa?"
"Ah tidak, bukan apa-apa kok.." jawab Natsu berbohong, padahal baginya Lucy yang pergi tanpa meninggalkan jejak merupakan masalah serius
"Rumah ibu dekat dari sini, bagaimana kalau mampir dulu?"
"Apa tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, setelah hujannya reda baru kamu pulang ya?"
Tawaran tersebut pun diterimanya meski agak terpaksa, dengan alasan dia masih ingin mencari Lucy. Selama berada di rumah Erza-sensei, Natsu terus diam dan masih berwajah murung, melihat murid didiknya terus seperti itu sedari tadi sempat membuat Erza khawatir, dia benar-benar bersikap aneh hari ini…
"Bagaimana sekolahmu hari ini?"
"Biasa saja, bahkan terasa hambar" jawab Natsu dingin, seakan memang dia acuh tak acuh dengan percakapan ini
"Karena murid-murid lain kembali membullymu?"
"Bukan, bukan karena itu…aku…"
"Natsu, ibu mohon ceritakanlah, jika kamu terus seperti ini akan menghancurkan hari-hari kedepannya"
"Lucy absen tanpa keterangan, bahkan saat aku mengunjungi rumahnya tidak ada seorangpun di sana"
"Hmm…cukup aneh, Lucy memangnya tidak memberi kabar padamu?"
"Kemarin kami berdua jalan-jalan di sebuah desa terpencil, dia terlihat tidak memiliki masalah apapun, tetapi kenapa sekarang…"
"Tenanglah, ibu yakin Lucy akan segera kembali cepat atau lambat"
"Tetapi aku ingin kepastian, bukan jawaban meragukan seperti itu"
"Begini saja, bagaimana kalau ibu membantumu mencarinya?"
"Terima kasih, saya selalu saja merepotkan sensei" balas Natsu merasa tidak enak hati, selalu saja mendapatkan bantuan dari dulu hingga sekarang
"Karena bagi ibu, kamu sudah seperti anak sendiri"
Mungkin memang sudah takdir, usai hujan reda Natsu segera pulang menuju rumah, berharap akan ada kabar baik yang datang menghampiri telinganya, tetapi…
Seminggu kemudian…
"Lucy tidak masuk selama seminggu penuh, aku sudah mencari ke segela tempat, Erza-sensei pun belum memberi kabar"
Natsu tampak sendirian sambil duduk di samping jendela kelas, di sana ada beberapa murid lainnya yang sedang berbincang satu sama lain dan pembicaraan itu terdengar tidak sedap di telinga Natsu, mereka membicarakan Lucy yang absen seminggu penuh tanpa keterangan.
"Parah sekali sudah membolos seminggu penuh lamanya"
"Hanya dari luar saja terlihat baik, siapa sangka Lucy itu anak nakal"
"Padahal dia berasal dari keluarga Heartfilia, anak dari kelurga terhormat kelakukannya malah seperti ini"
"Sudah sepanatasnya dia di skors, kalau bisa di DO saja"
DO?! Mendengar kalimat terakhir sukses membuat Natsu shock sementara, apa maksudnya mereka ingin Lucy di drop out alias dikeluarkan dari sekolah?! Merasa tidak terima dengan hinaan yang dilontarkan Natsu langsung bangkit berdiri sambil berteriak.
"Asal kalian tau saja, Lucy bukanlah anak nakal! Apa boleh menggosipkan tentang absen seminggu tanpa kabar yang jelas?!"
"Kalau absen seminggu tanpa keterangan bukankah sudah jelas Lucy itu anak nakal? Oh aku ingat, kamu sangat dekat dengannya bukan?"
"Berarti Natsu juga anak nakal, kita jangan temani dia" bisik seseorang ke teman lainnya, semakin membuat Natsu jengkel hingga memunculkan urat-urat kemarahan
BUAK!
Tanpa rasa ragu dan berpikir panjang, ia langsung menghajar salah satu dari mereka dengan cara meninjunya. Natsu benar-benar terlihat marah, sangat marah bahkan…mendengar suara berisik yang ditimbulkan beberapa murid lain datang kemudian melaporkan kejadian tersebut pada guru. Selama di ruang guru Natsu dimarahi habis-habisan oleh wali kelas dan diberi peringatan keras jika mengulanginya sekali lagi.
"Hahaha, rasakan itu!" ejek mereka yang tadi menggosipkan Lucy
"Diam, kalian tidak berhak untuk mengomentariku"
"Kalau kulihat akhir-akhir ini kamu menjadi kidal, tangan kananmu kenapa tuh?"
"Cih…"
"Oh aku tau, sekarang kamu lumpuh ya? Kasihan sekali…"
"KAU!" teriak Natsu siap menghajar, tetapi kemudian dia berhenti karena mengingat peringatan wali kelas
"Hajar saja kalau bisa, dengan begitu aku tidak perlu melihat wajahmu selama seminggu hahaha!"
"Awas saja kau…"
Gray Fullbuster, murid yang satu ini sangat suka mengejek Natsu dari dulu sampai sekarang, mereka juga sempat sekelas saat SMP dan kepergok beberapa kali bertengkar di atas atap sekolah, tetapi semenjak Natsu memutuskan untuk menjadi pelukis cap "anak nakal" perlahan-lahan hilang dari dirinya maupun Gray. Apa sekarang kejadian itu akan terulang lagi? Kalau benar-benar terjadi Lucy pasti akan sangat marah.
Kriing…kriing….
"Halo?"
"Natsu, ibu mendapat kabar di mana Lucy sekarang"
"Di-dia ada di mana?" tanya Natsu merasa senang, akhirnya kabar baik yang dia tunggu-tunggu tiba juga
"Rumah sakit dekat taman kota…"
Natsu POV
Rumah sakit? Bukankah itu berarti Lucy dalam keadaan bahaya? Kabar baik yang kutunggu tidak akan pernah datang sampai kapanpun, merasa shock tanpa sengaja aku menjatuhkan ponsel tersebut dari genggaman tangan, terdengar Erza-sensei menyuruhku datang setelah bel pulang berbunyi, tetapi aku tidak bisa menahan diri lebih lama lagi!
"Hoi Natsu kamu mau kemana? Sebentar lagi pelajaran akan dimulai, Natsu!" teriak Laxus-sensei dari kejauhan, hendak masuk ke dalam kelasku
"Maaf pak saya izin!"
Tunggu aku Lucy, tunggulah aku! Erza-sensei sama sekali tidak menjelaskan keadaannya, maka dari itu aku merasa semakin khawatir, kalau dia kenapa-napa bagaimana? Semenjak kehilangan ayah dan ibu muncul sebuah tekad dalam hatiku, aku berjanji tidak akan membiarkan orang-orang berharga dalam hidupku pergi begitu saja, diam-diam tanpa mengucapkan sepatah katapun sebagai salam perpisahan.
Sesampainya di rumah sakit…
"Apa ada pasien bernama Lucy Heartfilia di sini?" tanyaku pada suster yang sedang lewat
"Kamarnya ada di lantai tiga nomor sembilan ratus, saya baru saja dari sana"
"Terima kasih!"
Sekian lama menunggu lift hampir membuatku mati kesal, karena itulah kuputuskan untuk menaiki tangga yang tidak terlalu jauh dari lift, memang jarak menjadi lebih jauh dan lagi aku harus melewati sekian banyak anak tangga agar bisa sampai ke kamar sembilan ratus, tetapi demi Lucy apapun akan kulakukan. Aku hanya ingin mendengar suaranya kemudian berkata bahwa dia baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Tok…tok…tok…
"Permisi" ucapku sambil membuka pintu perlahan-lahan, di dalam kamar ada paman dan bibi juga Erza-sensei, jadi semua sudah berkumpul ya…
"Natsu, bukankah ibu sudah menyuruhmu untuk menjenguk setelah pulang sekolah?!" Erza-sensei terdengar sangat marah karena aku melanggar perkataannya
"Maaf, saya tidak bisa mengendalikan diri jadi langsung kesini"
"Ingat jangan diulangi lagi, ibu tidak suka"
"Sensei, Natsu sudah tau salah jadi jangan marahi dia lagi"
Suara itu…mendengarnya aku langsung menghampiri ranjang tempat Lucy berbaring, dia tersenyum ramah seakan berkata "tenang saja, aku tidak sakit" Tetapi itu semua tidak cukup untuk mengurangi rasa khawatirku sampai Lucy mengatakannya langsung dari mulut sendiri.
"Kamu baik-baik sajakan?" tanyaku yang terlihat semakin khawatir
"Ya, lagipula aku masuk rumah sakit karena ceroboh hehehe…"
"Ceroboh kenapa?"
"Hari Senin saat perjalanan menuju sekolah, aku terjatuh dari tangga lalu pingsan. Ayah dan ibu terlalu khawatir sehingga mereka membawaku ke rumah sakit, padahal tidak ada yang perlu dirisaukan" cerita Lucy panjang lebar, membuatku terkekeh kecil merasa lucu
"Dasar, membuat semua orang khawatir saja….jadi kapan kamu masuk sekolah?"
"Kalau dokter sudah mengizinkan aku bisa masuk"
Jawaban tidak pasti yang dilontarkan barusan menimbulkan banyak tanda tanya dalam benakku, bukankah itu berarti keadaan Lucy setelah jatuh dari tangga cukup parah, kalau tidak kenapa dokter mencegatnya terus di rumah sakit? Aku ingin menanyakan hal itu, tetapi mengetahui bahwa dia baik-baik saja sudah lebih dari cukup sekarang.
"Oh iya, aku sudah mencuci fotonya kemarin"
"Memang kamu membawanya?"
"Tidak, aku lupa hehehe…"
"Kalau begitu nanti saja, tunggu keadanmu sudah lebih membaik baru berikan foto itu padaku"
"Natsu aku ada permintaan, maukah kamu mendengarnya?"
"Te-tentu" jawabku merasa agak ragu, tatapan Lucy seketika berubah drastis…
"Setelah menerima semua foto hasil jepretanku, kumohon lukislah"
"Ta…tapi…"
"Percayalah pada diri sendiri, saat melihat lukisan kedua orangtuamu kurasa sudah bagus. Natsu kamu memiliki bakat, mau menggunakan tangan kiri atau kanan sama saja, tetap bagus dan hidup"
"Baiklah, jika kamu memintanya"
Pujian barusan sempat membuat semangatku bangkit kembali, Lucy tidak akan berbohong soal padangannya akan suatu hal, perasaannya terhadap siapapun, karena itu aku selalu percaya padanya, tetapi di sisi lain mulai muncul keraguan dalam benakku...
Bersambung…
Balasan Riview :
Anonim : mendadak cerita aku kok jadi penuh misteri ya hahaha :v thx ya udh riview lagi, gimana chapter 9nya? Mengecewakankah?
Kaoru Dragneel : hehehe thx ya buat pujiannya, oke deh makasih ya udh ksh smngt. Thx juga udh riview! Ganbatte :D
