You

Jimin. Yoongi. Namjoon. Seokjin

Romance dan sedikit dari Hurt/Comfort

Rated M

Shortfict!

Do Not Plagiarize!

.

.

.

"Aku tahu pasti kau sangat bingung dengan kedatanganku kemari," Seokjin menyesap minumannya, "Aku memang sengaja mengundangmu datang."

"Apa aku mengenalmu? Atau aku pernah membuat masalah denganmu di masa lalu?" Seokjin tertawa renyah, lelaki didepannya ini benar-benar lugu. Dia sungguh tidak tahu apa yang sedang dan akan terjadi pada hidupnya seminggu ke depan. Seokjin berdehem, "Tidak, bukan itu masalahnya hingga aku mengundangmu kemari."

Yoongi menyerngit, "Jadi apa?" dia mulai defensif; mengantisipasi dirinya untuk mendengar apapun yang nanti akan dikatakan oleh Seokjin. Dan entah mengapa firasatnya mengatakan bahwa ini adalah suatu hal yang buruk. Yoongi masih mempertahankan wajah datarnya.

"Tolong batalkan pertunanganmu dengan Namjoon." Seokjin meminta dengan suara halus yang bagi Yoongi terdengar seperti nada memerintah yang absolut. "Apa alasanmu hingga menyuruhu membatalkan pertunanganku." Yoongi agak meninggikan suaranya. Pria ini benar-benar tidak tahu sopan-santun. Siapa dia hingga berani berbicara seperti itu padanya.

"Banyak alasan, Min Yoongi. Kau ingin mendengar yang mana?"

"Jangan main-main denganku, Kim Seokjin."

Seokjin menggeleng dan tertawa, menganggap bentakan Yoongi semacam candaan. Baiklah, sepertinya Seokjin harus berhenti bermain-main sekarang. "Apa kau tahu kenapa ibumu yang terhormat itu sangat menginginkan kau menikah dengan Namjoon? Kau pernah bertanya sebeumnya?" Yoongi menyerngit, "Ah! Dari wajahmu sepertinya kau belum bertanya ya?"

"Memangnya kau tahu?"

"Bagaimana kalau aku tahu semuanya?"

Semuanya.

Seokjin membenarkan duduknya, dia memasang wajah seserius mungkin. "Ibumu itu wanita yang licik. Dia menggunakanmu untuk kepentingan dirinya. Aku tahu ibumu sudah bercerai dari ayahmu dan aku tahu, apa yang membuat keduanya bercerai. Kau pastinya juga sudah tahu, kan? Tapi bukankah kau penasaran siapa wanita yang sudah menjadi orang ketiga diantara kedua orangtuamu?"

"Siapa?" tanya Yoongi mulai takut dengan kebenaran yang ada. Selama ini dia diam tidak bertanya tentang perceraian kedua orangtuanya. Trauma dan rasa sakitnya mengalahkan semua penasarannya.

"Wanita itu ibunya Namjoon."

"Maaf?"

Seokjin tersenyum pahit. Sekuat tenaga dia tidak meluapkan emosinya di depan Yoongi. Kenangan pahit yang menimpa keluarga Namjoon masih membekas dalam ingatannya. Bagaimana pria yang ia cintai seluruh hidupnya hancur tidak bersisa. Ibunya yang menjadi wanita simpanan seorang pengusaha kaya, ayahnya yang patah hati hingga kabur hilang entah kemana. Namjoon harus membanting tulang untuk melanjutkan hidup; kerja apa saja yang bisa menghasilkan beberapa won untuk makan.

Saat itu Seokjin sudah mengulurkan tangannya untuk membantu Namjoon. Tetapi lelaki itu menolaknya. Dia sudah tidak memiliki wajah lagi untuk berhadapan dengan dunia. Keluarganya menghancurkannya bahkan ketika Namjoon masih sangat muda. Tapi Seokjin mencintai Namjoon dengan seluruh jiwanya, dia terus berusaha membantu Namjoon tanpa sepengetahuannya. Dia meminta ayahnya untuk memberikan Namjoon beasiswa hingga lulus kuliah, menempatkannya dalam pekerjaan yang menjanjikan ketika Namjoon melamar kerja. Seokjin terus memberikan kemudahan untuk Namjoon hingga lelaki itu sukses seperti sekarang.

Sampai saat mereka akhirnya bertemu, Namjoon langsung menyukai Seokjin. Tapi Seokjin hanya ingin sedikit bermain dengan Namjoon. Dia sengaja tidak mengubris setiap pernyataan cinta dari Namjoon; hanya untuk mengetahui sekeras apa dia berusaha untuk mendapatkan cintanya. Tapi ternyata Seokjin tidak bisa menahan lagi seluruh rasa cintanya, dia mengalah pada ego dan mengatakan bahwa dia juga mencintai Namjoon.

Setelah seluruh perjuangannya dan mendapat cinta dari Namjoon, wanita licik itu kemudian datang dan ingin menghancurkan segalanya. Segalanya yang sudah Seokjin susun dengan baik. Tidak. Seokjin tidak akan diam saja melihat Nyonya Min yang akan menghancurkan Namjoonnya untuk yang kedua kali.

"Apa maksudmu dengan ibunya Namjoon? Apa yang sebenarnya yang ingin kau sampaikan?" Pandangan Yoongi linglung; antara bingung dan ingin mengakhiri pembicaraan ini secepatnya. Suhu udara meningkat padahal Yoongi sedang di dalam ruangan, ditambah sedang hujan deras di luar. Firasat Yoongi menjadi tidak enak dan nama Jimin terlintas begitu saja dalam benaknya.

"Aku memohon padamu untuk membatalkan pertunanganmu. Aku mencintai Namjoon dan tidak ingin pria yang aku cintai kembali hancur." Setetes air mata jatuh dari mata cantik Seokjin. Jantung Yoongi mencelos begitu saja; seolah merasakan sakit hati yang dirasakan Seokjin. "Aku tidak tahu bagaimana pendanganmu terhadap ibumu, tapi Yoongi, dia adalah wanita yang kejam. Dia menceraikan ayahmu tanpa memberikan sedikitpun harta dan saham yang dimilikinya. Dia melarang ayahmu dan ibu Namjoon tinggal disini. Dia menghancurkan keluarga Namjoon dan sekarang dia ingin menghancurkan Namjoon lagi."

Tidak! Ibuku bukan wanita yang kejam!

"Yoongi, kau pasti memiliki orang yang kaucintai. Aku sedang berjuang untuknya."

Kepala Yoongi mendadak pening, perutnya mual. Dia harus segera pergi dari sini. Yoongi bangun dengan linglung dan langsung keluar dari coffe bar meninggalkan Seokjin yang masih tersedu melihat dirinya pergi.

.

.

.

Hujan deras masih membasahi kota Seoul. Jimin menutup tirai jendela kamarnya, menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Yoongi belum kembali sejak siang tadi. Ponselnya juga tidak aktif. Jimin mencemaskannya. Tidak biasanya Yoongi tidak memberi kabar. Mau dicari pun Jimin tidak tahu kemana dia pergi. Lagipula kalau Jimin berkeliaran terus-menerus, bisa-bisa suruhan ibu Yoongi akan mengetahui keberadaannya, dan itu tidak baik untuk keselamatan Yoongi.

Hingga satu jam berikutnya Yoongi belum juga datang. Kecemasan Jimin semakin menumpuk. Tubuh Yoongi itu ringkih, dia tidak bisa terkena hujan karena dia bisa demam hingga berhari-hari. Atau dia sedang bersama Namjoon?

Namjoon. Mendengar namanya Jimin jadi teringat perbincangannya dengan Namjoon beberapa waktu lalu. Saat Yoongi sakit dan Namjoon datang menjenguknya. Saat itu Jimin memperkenalkan dirinya sebagai teman Yoongi.

Dan yang tidak terduga adalah Namjoon mengetahui siapa dirinya. "Kau Park Jimin kan, kekasih Yoongi?"

"Darimana kau tahu?" balas Jimin dengan sarkas. Namjoon tertawa renyah mendengarnya, "Tidak ada yang tidak bisa kulakukan. Aku bisa menemukan informasinya dengan mudah, jadi jangan macam-macam padaku." Tapi Jimin tidak gentar pada Namjoon, dia tetap menantangnya. Jimin tahu Namjoon mempunyai niat buruk pada Yoongi; Jimin hanya merasakan firasat itu.

"Kusarankan padamu, Park Jimin, tinggalkan Yoongi. Dia adalah harta yang paling berharga untuk ibunya, kau tahu itu. Jika Yoongi masih denganmu, apa kau menjamin kehidupannya?" mata Jimin terbelalak. "Yoongi sudah bergelimang harta sejak masih kecil. Dia harus menikah dengan seorang yang derajatnya sama dengannya. Bukan dengan dirimu yang hanya kaum rendah. Apa yang akan dilakukan ibu Yoongi jika dia tahu anaknya sudah mencintai orang yang sangat salah."

Kata-kata itu terus membayangi pikirannya akhir-akhirnya, membuatnya galau dan bimbang. Dia mencintai Yoongi, sangat mencintainya. Tapi benar kata Namjoon, apa dia bisa menjamin kehidupan Yoongi? Jimin sadar dirinya bukanlah siapa-siapa dibanding Namjoon.

Haruskah Jimin meninggalkan Yoongi?

Kemudian pintu kamar terbuka lebar dan Yoongi berada disana. Wajahnya sayu dan matanya sedikit membengkak. Dia berjalan terhuyung kearah Jimin. Jimin tersenyum kecil melihat kekasihnya sudah kembali walau dalam keadaan kacau. Tapi Jimin tidak akan bertanya mengapa, dia tidak ingin tambah menyakiti Yoongi.

Ketika sudah dekat Yoongi langsung menubrukkan badannya pada tubuh Jimin. Mendesah pelan karena merasakan kehangatan yang sudah sangat dia hafal. Mencari kenyamanan dan kekuatan dari tubuh bidang Jimin. Menyampaikan semua keresahan dan membagi kebimbangannya. Yoongi menangis lagi didada Jimin.

Yang tanpa Yoongi tahu Jimin juga menangis. Semua kisah ini seperti benang kusut; begitu rumit bahkan untuk mencari ujung benang untuk melerainya. Inikah yang disebut berjuang demi cinta? Apa harus sesakit ini?

To be continued

.

.

.

I own this story, jadi terserah gue mau panjang atau pendek ceritanya. WKWKWKWK.

Napa?! Mau protes?! Silahkan pm.

DUH, aku mah gak bisa galak. Jatuhnya malah ngakak.

Okelah yang penting ff ini masih mau dilanjutin kan sama naranari. Banyak penjelasan disini, tapi ini baru setengahnya. Yang kemarin ngeh Jimin selalu bilang 'pria itu' ya si Namjoon. Tapi gak ada yang ngeh/? Iyalah ceritanya gak jelas gini.

Masih banyak rahasia yang belum kebongkar. Jadi kalo naranari update ff ini langsung dibaca kalo emang penasaran.

Thanks for followers, favoriters, reviewers.

See you.

©naranari. 2016