Bond

Naruto's belong to Masashi Kishimoto

Fanon, Rated T+

Sakura adalah seorang kunoichi. Ia sudah dididik untuk menjadi seorang kunoichi sejak dini, hal yang sulit mengingat kedua orang tuanya bukan dari kalangan shinobi, tapi untung saja dengan kecerdasannya yang diatas rata-rata ia bisa mengikuti pelajaran di sekolah ninja dengan baik. Bahkan berhasil menjadi salah satu lulusan terbaik.

"Daijobu," ujar Sakura memberanikan diri. Sebagai seorang kunoichi andalan Konoha, aneh rasanya jika ia menjadi berdebar-debar─ bukan debaran yang membuat muka memerah tentu saja─ karena seseorang dari kalangan biasa, oke sang Daimyo memang Sakura curigai sebagai seorang shinobi mengingat kondisi Sai yang ia yakini terluka parah karena sang Daimyo, tapi tetap saja itu baru kecurigaan semata.

"Aaa, aku terkejut saat mendengar bahwa kau mengunjungiku di kantor Hana-chan, aku kira Ake berbohong padaku saat mengatakan bahwa kau ingin menemuiku," ujar sang Daimyo sambil tersenyum saat melihat kedatangan Sakura di dalam ruangannya.

"Ah, gomen… Apakah aku mengganggumu?"

"Iie, jadi… Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" Tanya sang Daimyo sambil menghentikan kegiatannya menulis di sebuah gulungan yang Sakura yakini berisi tentang beberapa rahasia mengenai desa Kabut. "Tenang saja, ruangan ini sudah dipasangi kekkai sehingga tidak ada yang bisa mendengar pembicaraan kita saat ini," ujar sang Daimyo saat dirasanya Sakura tak juga menjawab pertanyaannya.

"Mengenai shinobi Konoha yang ada disini," Sakura bisa melihat sang Daimyo yang menaikkan sebelah alisnya, menunggu perkataannya selanjutnya. Sakura gugup, ia menelan ludahnya berkali-kali dan berusaha meyakinkan diri bahwa ini tidak apa-apa. "Apa Kai-sama bisa membiarkan mereka keluar dari desa?" tanya Sakura dengan sekali helaan nafas.

"Hm… jika aku melepaskan mereka, apa imbalannya untukku Hana-chan? Kau tahu kan, mereka adalah mata-mata desa ini. Sebagai pemimpin tidak seharusnya aku melepaskan mereka," ujar sang Daimyo sambil tersenyum.

"Anda tahu bahwa yang menjadi mata-mata adalah aku bukan? Mereka hanya datang untuk mengunjungiku."

"Aku tidak sedang membicarakanmu Hana-chan. Sudah kukatakan, aku bisa saja menyuruh mereka membuka gerbang desa dan mengeluarkan mereka. Kapanpun. Aku hanya bertanya, apa imbalannya untukku?" tanya sang Daimyo sambil tersenyum penuh arti. Sakura memandang gugup kearah sang Daimyo. Ia tahu Kai tidak sedang main-main saat ini.

"…"

"Tetaplah disisiku. Bagaimana jika itu harga yang harus kau bayar untuk mengeluarkan temanmu dari desa?" Wajah Sakura memucat. Baru beberapa saat yang lalu ia berfikir bahwa akhirnya ia bisa berkumpul bersama team 7, dan akhirnya… mungkin… mungkin Sasuke mulai membalas perasaannya.

"Demo─"

"Daimyo-sama ada beberapa dokumen yang harus anda tanda tangani saat ini juga," tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari balik pintu ruangan.

"Aaa, wakatta. Masuklah."

Seorang pria berusia tiga puluh tahunan menghampiri sang Daimyo, ia memberikan setumpuk dokumen yang langsung dipelajari oleh sang Daimyo. Pria yang berperawakan seperti Chouji itu melirik Sakura dengan rasa penasaran.

"Kau bisa memberikan jawabannya besok," ujar sang Daimyo sambil tersenyum penuh arti.

"Wakatta," jawab Sakura dengan lirih.

"Jadi, yang mana yang harus aku tanda tangani?" tanya sang Daimyo, berusaha menarik perhatian pria tersebut agar berhenti menatap gadisnya.

Sakura melangkahkan kakinya dengan perlahan dan tak bertenaga, ia tak mempedulikan tatapan keheranan para shinobi yang merasa aneh melihat seorang geisha berada di kantor seorang Daimyo di tengah hari seperti ini. Ia bingung, penyamaran para shinobi Konoha sudah terbongkar. Satu-satunya cara untuk meloloskan mereka adalah dengan menyerahkan dirinya kepada sang Daimyo. Ia tidak masalah dengan ini, tapi sungguh, seperti yang sempat Kakashi katakan. Team 7 tidak akan pergi tanpa dirinya. Apalagi saat semuanya berfikir bahwa team 7 kini telah kembali.

Apa… apa yang harus kulakukan sekarang kami-sama?

"Doushite?" tanya Kakashi sensei saat Sakura untuk kesekian kalinya terlihat sedang melamun. Sakura tersentak, untuk sesaat ia melupakan bahwa kini ia berada di penginapan tempat para team 7 menginap.

"Daijobu," ujar Sakura sambil tersenyum lemah. Sakura mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan tak mendapati para mantan rekan setimnya. "Ah, mereka kemana?" Kakashi memandang Sakura dengan khawatir.

"Bukankah sudah mereka katakan tadi Sakura-chan, mereka pergi membeli beberapa barang," ujar Kakashi. Sakura tersentak, ia langsung berdiri dan menuju ke pintu kamar, saat Kakashi menahan lengannya. "Kau akan kemana?"

"Mereka tidak seharusnya keluar saat situasi sedang genting seperti ini! Sensei seharusnya mencegah mereka!" desis Sakura penuh emosi.

"Tenanglah. Mereka para jounin elit Konoha, Sakura. Mereka tidak akan apa-apa, mereka hanya pergi ke toko yang ada di bawah," jelas Kakashi. Tubuh Sakura sedikit merileks saat tiba-tiba ia kembali tersentak saat teringat sesuatu.

"Sai!"

"Dia baik-baik saja Sakura-chan, ia beristirahat di kamar sebelah," ujar Kakashi berusaha menenangkan Sakura. Kakashi meletakkan kedua belah tangannya di pundak Sakura, dan menatap viridian milik muridnya itu. "Sakura-chan, apakah semuanya baik-baik saja?" Sakura mengalikan pandangannya dari Kakashi.

"Semuanya akan baik-baik saja, semuanya akan baik-baik saja sensei…" ujar Sakura yang berusaha meyakinkan Kakashi, dan dirinya sendiri…

Ya, semuanya akan baik-baik saja kan?

Sasuke mengerutkan keningnya saat melihat Kakashi yang seharusnya berada di dalam kamar penginapan kini justru berada di depan pintu kamar. Ia tampak berfikir, entah mengapa tiba-tiba saja Sasuke merasakan firasat yang teramat buruk.

"Sakura?"

"Aaa, dia ada di dalam," ujar Kakashi. Sasuke segera melangkahkan kakinya memasuki kamar. Naruto mengikuti Sasuke saat tangan Kakashi menghentikan langkahnya, mencegahnya masuk ke dalam ruangan.

"Biarkan mereka," jelas Kakashi saat melihat raut wajah bingung Naruto.

"Eh… tapi sensei, kita tidak bisa membiarkan teme hanya berduaan dengan Sakura-chan di dalam! Bisa-bisa ia─"

BLAM

Tiba-tiba Kakashi langsung saja menggeret tubuh Naruto untuk memasuki kamar penginapan di sebelah mereka, tempat di mana Sai sedang mengistirahatkan badannya. Sai mengerutkan dahinya saat melihat kedua orang rekan setimnya itu memasuki kamar dengan sedikit ricuh. Sai menaikkan sebelah alis matanya dan membuka mulut ingin menanyakan apa yang sedang terjadi, saat tiba-tiba Naruto dengan kasar medudukkan dirinya di ujung ranjang.

"Aku tidak bertanggung jawab jika akhirnya Sasuke akan berbuat hal-hal mesum pada Sakura-chan," sungut Naruto sambil bersedekap. Sai hanya menaikkan alisnya tidak mengerti, sedangkan Kakashi menarik nafas panjang, pasrah atas kelakuan kekanak-kanakan salah satu mantan muridnya.

Yare-yare… Konoha pasti dalam masalah jika bocah seperti ini yang menjadi hokage... benar-benar tidak tahu situasi…

Sakura tersentak saat merasakan sebuah tangan mengusap lembut pipinya. Sakura menatap ke arah Sasuke yang memandangnya penuh khawatir.

"Doushite?"

Aku… mencintaimu…

Mata Sakura terpejam saat mengingat perkataan yang baru beberapa hari lalu diucapkan oleh pemuda cinta pertamanya itu. Ia mencintai pria ini, sungguh. Tak peduli apa yang telah pria ini lakukan pada dirinya, ia tetap mencintainya dan tak bisa berbalik membenci sang pemuda. Sakura tersenyum lirih. Sasuke… Sai… Naruto… Kakashi… Team 7… nampaknya Sakura tau ia harus berbuat apa.

"Arigatou," ujar Sakura sambil memandang sendu ke arah Sasuke. Dengan perlahan Sakura menjinjitkan tubuhnya mempertemukan bibirnya dengan bibir sang pemuda. Lembut… dan penuh dengan getaran…

Sasuke membelalakkan matanya saat merasakan sebuah sentuhan lembut menyentuh bibirnya, ia bisa melihat Sakura yang menutup matanya berusaha menikmati apa yang sedang ia lakukan padanya, dengan perlahan Sasuke turut menutup kedua matanya dan menyambut balik bibir sang gadis, mengulumnya lembut dan terkadang penuh penekanan. Sasuke membuka matanya saat dirasanya tak ada lagi bibir lembut yang menekan dan memanjakan bibirnya, akan tetapi tubuhnya sontak menegang saat merasakan sentuhan lembut Sakura pada dada bidangnya.

Sakura menyentuh dada bidang Sasuke, menyingkap yukata yang digunakan sang pemuda sehingga ia bertelanjang dada. Kecupan penuh kecupan ia daratkan pada dada dan lekukan leher Sasuke, bahkan sesekali ia meninggalkan tanda berupa ruam kemerahan.

Untuk saat ini...

"Ngh," terdengar desahan tertahan dari bibir Sasuke. Ia menggigit bibirnya, menahan keluarnya erangan dari bibirnya. Gengsi huh?

Sakura menarik tubuh Sasuke ke atas ranjang, ia bisa merasakan sesuatu yang mengeras di salah satu bagian tubuh Sasuke. Tersenyum, ia membalik posisi mereka berdua hingga kini ia berhasil menduduki tubuh Sasuke yang terbaring di atas ranjang. Lagi, ia mengecup bibir Sasuke, memasukkan lidahnya ke dalam mulut sang pemuda, mengajaknya bermain, saling menyesap dan menguasai. Sakura menghentikan ciuman panas itu dengan tiba-tiba, ia bisa melihat pandangan protes yang dilontarkan oleh sang pemuda kepadanya, akan tetapi itu tak bertahan lama, saat ia mengecup pipinya, lekukan lehernya, tulang selangka miliknya, pundak, lengan kekarnya bahkan dada milik sang pemuda.

Untuk saat ini… kau adalah milikku…

Tes…

Setetes air mata mengalir di pipi Sakura. Mengalir di pipinya dan akhirnya menetes di pipi Sasuke. Tubuh Sasuke tersentak.

"Kau bisa berhenti," ujar Sasuke sambil membelai lembut pipi Sakura, mengusap jejak air mata yang sempat mengalir di pipi sang gadis. Sakura menggelengkan kepalanya dengan pelan.

"Daijobu," ujarnya sambil mengecup pelan telapak tangan Sasuke. "Aishiteru… zutto… zutto…" gumam Sakura terus menerus bahkan saat Sasuke membalik posisi tubuh mereka berdua dan mulai menyatukan tubuh mereka.

Dan aku… adalah milikmu…

Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya. Wajahnya memerah saat mendapati Sasuke yang sedang menatapnya dengan seringaian khas klan Uchiha. Sakura hampir saja melempar wajah sok Sasuke dengan bantal saat tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka, dan memperlihatkan sosok Naruto yang terkejut melihat kondisi mereka berdua.

"A… A… AAAAAAAH! sudah kuduga Teme akan berbuat mesuuuuum!" pekik Naruto saat mendapati kedua teman kesayangannya berada di atas ranjang dengan kondisi yang… erm, sedikit tidak layak untuk dilihat oleh pria polos seperti dirinya.

BUKH

"I…ittai… Kakasi sensei tega sekali padaku. Seharusnya yang sensei pukul itu teme!" ujar Naruto sambil menunjuk ke arah Sasuke yang hanya balas menatapnya bosan. Sakura hanya tersenyum melihat keributan kecil yang terjadi di depannya. Ia segera memperbaiki kimono miliknya, Sasuke membantu Sakura mengikat obi miliknya saat ia mengalami kesusahan ketika memasangnya.

"Sakura, ada seorang gadis kecil yang mencarimu di bawah," ujar Kakashi mengacuhkan Naruto yang masih bersungut-sungut tak terima atas pukulannya.

"Eh?" mata Sakura terkesiap saat mendengar pemberitahuan dari Kakashi.

Anak… kecil? Jangan-jangan….

"Chinatsu!" pekik Sakura saat melihat sosok gadis kecil yang dimaksud oleh Kakashi.

"Yo… yokatta-ne, ternyata Hana-sama memang benar berada disini. Okami-sama mencari Hana-sama sejak pagi tadi."

"Chinatsu-chan, dari mana Chinatsu tahu jika aku berada dipenginapan ini?" tanya Sakura saat mereka berdua tengah berjalan menju okiya.

"Eh? Oh, sebelum aku pergi mencari Hana-sama, Daimyo-sama yang datang berkunjung ke okiya berbisik bahwa Hana-sama pasti berada di penginapan ini," Sakura tersentak saat mendengar perkataan polos yang keluar dari bibir Chinatsu.

Dia… bagaimana Kai bisa…

"Oh ya Hana-sama. Aku lupa memberitahu, saat ini Daimyo-sama juga sedang menunggu Hana-sama di okiya seperti biasanya. Ne, Hana-sama pasti senang kan?" tanya Chinatsu sambil menatap Sakura dengan mata berbinar-binar miliknya.

"Ya, tentu saja−" jawab Sakura lirih.

Sakura membungkukkkan badannya di depan Okami-san begitu ia sampai di okiya. Ia tahu, bahwa tidak sepantasnya ia pergi begitu saja tanpa memberi tahu sang Okami. Tak seperti anggapan awalnya, dimana sang Okami akan memarahi dan menghukumnya saat ia meminta maaf, sang Okami justru tersenyum mengerti.

"Ah, daijobu. Daimyo-sama sudah menjelaskannya padaku. Lebih baik kau segera berbenah dan menemui Daimyo-sama. Ia sudah lama menunggumu," ujar Okami-sama sambil menunjuk arah washitsu, tempat dimana sang Daimyo menunggunya.

"Wakatta."

"Aaa, kau sudah kembali rupanya," ujar sang Daimyo saat Sakura menemuinya.

"Apakah Daimyo-sama ingin aku memainkan shamisen?" tanya Sakura mengacuhkan pernyataan sang Daimyo yang berkesan menyindirinya.

"Bagaimana malammu, Hana-chan?" tanya sang Daimyo sambil menatap lekat ke arah Sakura. Tubuh Sakura sontak menegang.

"Bagaimana─"

"Bagaimana aku bisa tahu? Hana-chan, kau tentu tidak meremehkanku bukan? Lagi pula kami desa Kabut tentu tidak begitu saja melepaskan pengawasan pada para mata-mata seperti mereka," ujar sang daimyo dingin.

Sakura memalingkan wajahnya, menghadap ke arah dinding. Saat itu tanpa sengaja Kai menangkap adanya bercak-bercak berwarna merah yang terdapat di leher Sakura. Kai mengepalkan tangannya, berusaha menahan emosi yang muncul. Ia mengerti, saat ini sang gadis tak sekedar menginap di malam itu.

"Aku tidak mungkin menyakitimu. Jika itu keputusanmu aku mengerti," ujar sang Daimyo sambil bangkit berdiri dan menuju ke arah fushuma, akan tetapi langkah-langkahnya terhenti saat dirasanya sebuah tangan menahannya. Ia bisa melihat tangan Sakura memegang erat tangannya. Sang gadis yang tertunduk ragu.

"Aku setuju. Aku akan bersamamu," ujar Sakura sambil mengangkat wajahnya. "Oleh sebab itu, lepaskan mereka," Saat itu Kai merasakan perasaan bahagia yang luar biasa. Ia tersenyum dengan lembut, dengan pelan ia menarik tangan Sakura yang menahannnya, membiarkan Sakura menubruk pelan dadanya. Direngkuhnya sang gadis dengan pelan. Ia menyayanginya. Sungguh.

"Aku tidak akan melepaskanmu."

Sakura menutup kedua matanya erat. Berdoa agar ini merupakan keputusan terbaik bagi dirinya maupun team 7.

Sasuke duduk di atas ranjangnya, di depannya nampak Naruto yang sedang mengomel tidak jelas, Sai yang menatapnya tajam dan Kakashi yang sedari tadi menatapnya dengan senyuman aneh.

"Apa?" tanya Sasuke dingin.

"Kau… kau! Bagaimana kau bisa melakukannya dengan Sakura-chan? Kau Teme mesum!" ujar Naruto sambil menunjuk-nunjuk tepat wajah Sasuke, Sasuke mendecih tidak senang. Dengan kasar ia menepis tangan Naruto yang tepat berada di depan wajahnya.

"Kau memaksannya?" alis mata Sasuke berkedut mendengar pertanyaan Sai yang dirasanya menghina itu.

Memaksa? Yang benar saja! Gadis itu bahkan menyerangku terlebih dahulu!.

"AH! KAU! KAU! Beraninya kau memaksa Sakura-chan! Aku tidak peduli jika Sakura mencintaimu atau apa, aku akan membuat perhitungan denganmu Teme!" ujar Naruto emosi.

"Dia pasti membencimu," terdengar komentar Sai yang lagi-lagi membuatnya berkedut tak senang.

"Kakashi, hentikan mereka," ujar Sasuke dingin. Ia tidak suka membahas hal ini lebih jauh.

"Hei apakah Sakura liar?" tanya Kakashi yang alih-alih menghentikan pertanyaan Naruto, ia justru menanyakan pertanyaan yang membuat Sasuke semakin merasa kesal. "Kalian melakukannya berapa ronde?"

BRAK

Sasuke membanting pintu penginapan dan keluar dengan emosi. Ia tidak tahan jika berada di dalam ruangan itu lebih lama lagi, bisa-bisa ia mengaktifkan sharingan miliknya dan membuat rekan-rekan setimnya itu berteriak kesakitan.

"Ahahhahahaha baru kali ini aku melihatnya seperti itu," tawa Naruto membahana saat pintu penginapan tertutup, meninggalkan mereka bertiga yang saling menatap satu sama lain.

"Kau keterluan Naruto," ujar Kakashi sensei sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mengambil sebuah buku yang tersembunyi di kantong celananya, dan mulai membacanya.

"Hei! Yang keterluan iu sensei! Sensei yang mulai menyakan hal-hal mesum padanya!" ujar Naruto tidak mau disalahkan sendiri.

"Hei, apakah dia sadar bahwa ia belum menggunakan yukatanya?" tanya Sai polos. Kakashi dan Naruto menatap Sai, terkejut.

"Eh?"

Krieeeeet

Nampak Sasuke masuk kembali ke kamar penginapan. Ia melangkah ke ranjangnya, mengambil yukata miliknya, dan kemudian keluar dari kamar dengan wajah yang memerah.

"Hei kau mau kemana?" tanya Naruto sebelum Sasuke menutup kamar penginapan.

"Pemandian," jawabnya dingin.

BRAKK

"Buahahahahahahahhahahaa," gelak Naruto begitu Sasuke pergi dan untuk kesekian kalinya membanting pintu penginapan. Kakashi terkekeh pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, prihatin atas kondisi salah seorang mantan murid kesayangannya itu, sedangkan Sai hanya bisa tersenyum menahan tawa. Sungguh, baru kali ini mereka melihat seorang Uchiha Sasuke yang sedang salah tingkah.

Yuki memandang apato milik Sasuke dengan tatapan pedih. Sudah seminggu ia tidak melihat sang tunangan. Rindu, tentu saja. Tsunade berkata bahwa Sasuke sedang menjalankan misi bersama timnya, team 7. Yuki merasa khawatir, sangat. Para sahabat Sasuke adalah sekumpulan orang-orang bodoh yang tidak menyukainya, entah mengapa ia merasa khawatir. Sejak kejadian percakapan terakhirnya dengn Sasuke, ia merasa Sasuke menjauinya. Ia takut, ia takut jika tiba-tiba Sasuke membatalkan pertunangan mereka.

"Hime-sama," panggil Jirou lembut. Yuki menoleh, mendapati pelayan setianya sedang menatapnya khawatir.

"Jirou, temani aku menuju gedung hokage."

Yuki melangkah dengan yakin menuju ke kantor hokage. Ia merasa yakin akan keputusan yang akan ia ambil untuk saat ini. Jirou bisa melihat pancaran penuh keyakinan yang keluar dari mata Yuki. Selama sekian belas tahun melayani nona mudanya, baru kali ini ia mendapati Yuki yang seperti ini. Yuki yang egois dan penuh dengan keyakinan. Di satu sisi Jirou merasa lega karena Sasuke bisa membuat Yuki yang notabene gadis penurut mau mulai menunjukkan emosi dan keegoisannya, akan tetapi ia merasa khawatir karena mungkin saja nona mudanya itu akan terluka akan perasaan yang baru saja ia rasakan itu.

"Aku tidak akan melepaskannya," gumam Yuki. Gumaman yang pelan, akan tetapi cukup jelas untuk didengar oleh Jirou. Ia akan mendukung segala yang dilakukan oleh nona mudanya. Selama itu bisa membuat nona mudanya kembali tersenyum ceria seperti dahulu. "Dia milikku!"

Kau akan menjadi milikku Sasuke-san…

Tsunade memandang gadis yang berdiri di depan mejanya dengan dahi yang berkerut. Ia baru saja mendengar hal yang lucu terlontar dari bibir gadis yang merupakan tunangan dari sang Uchiha. Gadis yang membuat murid kesayangannya lebih memilih pergi dari desa daripada melihat dirinya dan Sasuke bersama.

"Maaf, sepertinya aku salah dengar," ujar Tsunade berusaha meyakinkan dirinya bahwa yang baru saja ia dengar beberapa menit yang lalu hanyalah khayalannya.

"Anda tidak salah dengar Hokage-sama. Saya mengajukan permintaan misi rank-A. misi untuk mengantarku kembali ke kerajaan. Tapi aku hanya mau Uchiha Sasuke yang mengantarku," ulang sang miko.

"Perlu kutekankan padamu nona muda, kami tidak menerima asal-asalan sebuah misi. Lagi pula, aku yang akan menentukan siapa yang harus melaksanakan misi itu. Bukan dirimu," ujar Tsunade penuh penekanan.

"Aku rasa sebagai tamu kehormatan, aku berhak meminta siapa yang akan mengawalku, bukankah begitu Jirou?"

"Hai' Hime-sama. Soujiro-san berkata demikian saat kita tiba di Konoha," ujar Jirou mengiyakan perkataan sang miko.

"Lagi pula Hokage-sama, kau tidak mungkin menolak permintaan seorang miko dari kerajaan seperti diriku kan?" rahang Tsunade mengeras mendengar perkataan sang miko. "dan perlu kutekankan di sini, Sasuke adalah tunanganku, seorang miko. Jangan seenaknya saja menyuruhnya melakukan misi ditengah-tengah persiapan pernikahan kami," ujar sang miko sebelum keluar dari ruangan hokage.

BRAKKKK… Praanggggg

Tsunade melempar meja ke arah jendela, menyebabkan kaca jendela yang baru sebulan lalu diganti itu pecah berantakan, dan meja kesayangannya rusak terlempar keluar kantor. Nafas Tsunade tak beraturan karena emosi.

"BOCAH ITUUUU!" raung Tsunade, Shizune yang mendengar keributan di ruangan gurunya berlari menuju ke ruangan hokage. Ia terkejut saat mendapati kaca yg pecah, serta kertas-kertas yang seharusnya berada di atas meja kini berhamburan di atas lantai. Meja yang seharusnya berada di dalam ruangan kini entah ada dimana.

"Tsunade shishou!" pekik Shizune saat melihat Tsunade ingin melempar kursi kesayangannya ke arah pintu. Sizune segera berlari ke arah Tsunade dan menurunkan kursi yang tadinya sudah akan dilempar oleh gurunya itu. "Doushite?" tanya Shizune khawatir.

"Bocah itu! Beraninya….." ujar Tsunade terengah-engah menahan emosi. Shizune mengerutkan keningnya. Setahu dia orang yang bisa membuat Tsunade menjadi seemosi ini adalah Naruto, tapi bukankah saat ini Naruto sedang dalam misi di desa Kabut? Atau sebenarnya bocah pirang itu sudah kembali?

"Eh, Naruto sudah kembali dari Desa Kabut shishou?" tanya Sizune polos. Dan Shizune hanya bisa meneguk luah gugup saat mendapatkan pelototan sadis dari gurunya itu. Oh Naruto, ada dan tidaknya dirimu selalu bisa membuat Shizune berada dalam masalah.

Jirou melihat Yuki yang sedang membereskan apato milik Sasuke. Nona mudanya itu sudah ia peringatkan berkali-kali agar sebaiknya ia menyuruh seseorang untuk membersihkan apato milik pria Uchiha itu, akan tetapi sang miko bersikeras, dan mengatakan bahwa sudah tugasnya sebagai tunangan untuk membersihkan apato milik Sasuke. Dan untuk itu pula sebagai seorang tunangan yang baik ia memilih untuk tinggal di apato milik pria Uchiha itu.

"Dia pasti senang jika dalam keadaan pulang nanti aku datang menyambutnya di apato bukan, Jirou?" tanya sang miko pada pelayan setianya.

"Hai hime-sama. Uchiha-san pasti akan senang bertemu dengan anda saat ia kembali diri misinya."

Tentu, kau adalah tunanganku bukan Sasuke-san?

Sejak mendengar keputusan Sakura senyuman sang Daimyo tak pernah lepas dari bibirnya.

"Anda tahu, aku sering melihat anda tersenyum, tapi entah mengapa senyum anda saat ini membuatku takut," ujar Mizukage pada saat mereka merapatkan isu pertahanan desa.

"Aaaa, bagaimana aku tidak tersenyum jika seorang gadis mengiyakan lamaranku?" ujar sang Daimyo yang tentu saja membuat para petinggi desa yang adir saat itu menjadi terkejut.

"Ada apa?" Tanya sang Daimyo kepada Ryu, saat mereka dalam perjalanan menuju ke okiya.

"Aaa, tidak. Maafkan aku," sang Daimyo menyeringai mendengar perkataan pengawal pribadinya itu. Ia tahu, sama seperti para petinggi yang terkejut atas ucapannya pada saat rapat tadi, Ryu juga sama. Ah, tapi mungkin rasa penasaran itu berbeda dengan para petinggi, karena sang Daimyo yakin, Ryu tahu persis siapa gadis yang ia maksud.

Sang Daimyo menghentikan langkahnya saat secara tidak sengaja ia melihat sesosok pria, yang selama ini berhasil membuat gadisnya terluka. Uchiha Sasuke. Merasa ada seseorang yang memperhatikannya, Sasuke berpaling ke arah kanan. Ia bisa melihat sang Daimyo menatapnya dengan tajam. Tanpa sadar ia menyeringai, menunjukkan rasa menangnya atas klaim terhadap Sakura.

"Ryu, sepertinya aku sedang ingin pergi sendiri."

Dan dengan sekelebatan Ryu, sang pengawal lenyap dari pandangannya.

"Uchiha Sasuke, huh?" ujar sang Daimyo dingin. Tubuh Sasuke sedikit tersentak. Ia tidak menyangka bahwa sang Daimyo akan menyebut nama aslinya terang-terangan di tempat umum seperti ini. Sasuke mendecih saat dirasanya sang Daimyo memandangnya dari atas ke bawah, menilai dirinya.

Secara otomatis Sasuke mengaktifkan sharingannya saat melihat sang Daimyo yang tiba-tiba telah berada di sampingnya.

"Tenang saja, aku tidak mungkin menyerangmu di tempat ini," ujar sang Daimyo saat dilihatnya Sasuke telah mengaktifkan sharingan miliknya. "Lagipula aku sudah terlanjur membuat kesepakatan dengan Sakura-chan," ujar sang Daimyo sambil menunjukkan seringainya, "yah, walaupun sebenarnya aku ingin menghabisimu saat ini juga," ujarnya dengan dingin.

"Kesepakatan apa maksudmu?" Tanya Sasuke saat sang Daimyo berjalan meninggalkannya.

SREEET

Tiba-tiba Sasuke menarik memegang pundak sang Daimyo dan menariknya, mencegah sang Daimyo untuk pergi.

"Lepaskan tanganmu dariku, Uchiha," ujar sang Daimyo dingin saat merasakan sebuah tangan menyentuh pundaknya. Cepat- tiba-tiba saja Sasuke merasa kegelapan mengitarinya. Ia tidak bisa melihat. Sebelumnya Sasuke sempat melihat secara sekelebatan tangan sang Daimyo membentuk segel tertentu, mungkin membentuk jurus yang mengakibatkan kebutaan sementara bagi musuhnya.

Kokuangyo no jutsu, heh?

"Ini hanya peringatan, jika kau menyentuhku sekali lagi, aku bisa membutakanmu selama-lamanya."

"Kau−"

"Pergilah dari desaku secepat mungkin," hanya ucapan dingin itu yang Sasuke dengar saat tiba-tiba saja indra penglihatannya bisa bekerja seperti biasanya.

Kesepakatan, heh?

Sakura menatap Sai yang kini sedang menatapnya dengan penuh selidik. Ia menyesal sudah datang menjenguk pria yang ada di hadapannya ini.

"Kesepakatan apa yang kau buat dengannya?" untuk kesekian kalinya Sai mengulang pertanyaan yang sama pada Sakura. Lagi-lagi Sakura mengalihkan pandangannya, tak mau menatap wajah Sai yang menatapnya tajam. Ia menyesal, sungguh. Jika tahu Sai akan mengkronfontasinya dengan pertanyaan seperti itu, ia lebih memilih untuk berada di okiya daripada menjenguk Sai dan mengatakan pada sang pemuda bahwa mereka bisa keluar desa malam ini. Tahu begini ia lebih memilih untuk mengatakannya pada si bodoh Naruto.

"Sakura, aku berbicara padamu," ujar Sai dingin. Sakura menundukkan kepalanya.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Sakura. Seharusnya Sai tidak mengetahui perjanjian yang dibuatnya dengan sang Daimyo. Tidak ada yang boleh mengetahui perjanjian itu, terutama anggota team 7. Karena itu akan membuat semuanya semakin sulit.

"Sang Daimyo tidak mungkin melepaskan kami begitu saja," ujar Sai dingin. "Kau pasti telah membuat kesepakatan dengannya agar membiarkan kami pergi," ujar Sai datar.

"Aku… aku… aku hanya ingin agar kalian─"

"Apa isi kesepakatannya Sakura-chan?" potong Sai tajam.

"Tidak ada yang berarti, hanya saja aku harus tetap berada disini," ujar Sakura sambil menghadap ke arah lain.

"Dan kau menyetujuinya," Sakura tahu bahwa yang dikatakan Sai bukanlah pertanyaan, melainkan pernyataan untuknya. Ia yakin, tanpa perlu menjawabpun Sai tahu jawabannya.

"Kau tahu kan bahwa kami tidak akan pergi tanpa dirimu?"

"Oleh sebab itu, kumohon jangan katakan pada yang la─"

"Aku tidak akan pergi tanpamu," ujar Sai. Wajah Sakura memucat. Ia benci kondisi ini.

"Apa kau tahu betapa sulitnya aku untuk membuat kesepakatan dengan Kai hah? Kau pikir aku juga mau tetap berada disini?" pekik Sakura frustasi.

"Kalau begitu ikut kami," ujar Sai dengan senyum khasnya.

"Ap─"

"Semuanya akan baik-baik saja, percayalah."

"Mana bisa aku percaya. Se─"

"Kami tidak akan pergi tanpa dirimu," terdengar suara seseorang dari arah pintu kamar penginapan. Sakura membelalakkan matanya saat dilihatnya Kakashi, Naruto dan Sasuke memandangnya dengan tajam.

Jadi ini kesepakatan yang dimaksud?

"Ne, Teme benar Sakura-chan. Kami tidak akan pergi tanpa dirimu. Bukankah team 7 seharusnya tetap bersama? Iya kan sensei?" Kakashi tersenyum mendengar perkataan Naruto.

"Tapi─"

"Aku punya rencana yang brillian!" ujar Naruto yang langsung ditanggapi dengan skeptis oleh rekan-rekan setimnya. Hey, Naruto dan rencana? Siapa yang percaya bahwa ninja seperti Naruto memiliki sebuah rencana dalam otaknya yang hanya berisi ramen itu?

"Aku rasa rencana Naruto patut dicoba," ujar Sai setelah mendengar rencana dari mulut Naruto. Sakura melirik ke arah para mantan teman setimnya dengan ragu.

"Baiklah… aku akan mencobanya, tapi aku tidak menjaminnya" ujar Sakura tidak yakin. Bagaimanapun, ini adalah rencana Naruto yang keberhasilannya patut diragukan.

"Naruto yang bertanggung jawab," ujar Sasuke sambil mendudukkan dirinya diranjang, di sebelah Sakura.

"Hei! Setidaknya aku sudah memberikan ide dibandingkan dirimu yang tidak berbuat apa-apa!" pekik Naruto tidak terima. Dan seperti biasa, Sasuke mengacuhkan ucapan Naruto yang dirasanya berisik itu

Hari sudah menjelang malam saat sang Daimyo pergi berkunjung ke okiya. Ia disambut dengan Sakura yang saat itu menggunakan kimono berwarna biru yang dihiasi oleh bunga Erika berwarna ungu tua.

"Kau cantik," puji sang Daimyo sambil mengecup ringan bibir Sakura.

"Apakah malam ini Kai-sama akan menginap?" tanya Sakura lembut sambil menemani sang Daimyo berjalan di lorong okiya menuju ke arah washitsu yang biasa mereka gunakan.

"Aaaa, aku akan menginap," Sakura tersenyum lembut, ia menganggukkan kepalanya mendengar jawaban sang Daimyo. Dengan lembut Sakura menuangkan the ke dalam chawan milik sang Daimyo. Setelah menuangkan teh, Sakura bangkit dari tempat duduknya dan melangkah ke arah fushuma ruangan, saat tangan sang Daimyo menahannya. "Kau akan kemana?" tanya sang Daimyo.

"Hihihihi, tenanglah Kai-sama. Aku hanya ingin mengambil shamisen yang berada di ruang penyimpanan. Bukankah sudah lama kau tidak mendengarkan permainan shamisen ku?" tanya Sakura sambil tersenyum lembut ke arah sang Daimyo. Sang Daimyo mengamati ke arah sekeliling washitsu, ia mengerutkan keningnya saat tidak mendapati shamisen dan tako yang biasanya terletak di sudut ruangan.

"Tadi pagi Okami-san menyuruh Chi-chan untuk membersihkannya. Nampaknya Chi-chan lupa mengembalikannya ke sini, ia justru memasukkannya ke ruang penyimpanan," jelas Sakura yang mengerti kebingungan sang Daimyo. "Tenanglah Kai-sama, aku tidak akan meninggalkanmu," ujarnya lembut. Tubuh sang Daimyo sedikit merileks.

"Gomen-ne, baiklah. Aku tidak sabar mendengar permainan shamisenmu," ujar sang Daimyo sambil tersenyum lembut.

Sakura melangkahkan kakinya perlahan menuju ke ruangan penyimpanan, dengan perlahan ia mengambil shamisen yang terletak di tengah-tengah ruang penyimpanan. Sang Daimyo tersenyum menyambutnya saat Sakura kembali ke washitsu. Dengan langkah-langkah lembut Sakura pergi menuju ke sudut ruangan, tempat dimana ia biasanya memainkan shamisen untuk sang Daimyo. Permainan yang indah dan mendayu-dayu, permainan yang membuat siapaun akan terlena dibuatnya.

Sang Daimyo mengamati permainan shamisen yang dibawakan dengan lihainya oleh Sakura. Tiba-tiba ia melemparkan chawan teh miliknya ke arah Sakura.

Seet… Prang! POOFF

Tiba-tiba sosok Sakura yang sedang memainkan shamisen tidak nampak lagi. Rahang sang Daimyo mengeras, mengetahui bahwa ia berhasil ditipu oleh jutsu sederhana seperti itu.

"Bunshin, huh?" gumamnya dingin.

"Aku senang karena kau kembali bersama kami," ujar Naruto sambil melompat dari satu pohon ke pohon yang lain menuju ke Konoha. Sakura hanya tersenyum menanggapi ucapan Naruto. Ia tidak percaya bahwa rencana yang dipaparkan Naruto berhasil. Ia melirik ke arah Sai yang balik menatapnya dan tersenyum. Ia bisa membaca gerakan bibir Sai yang mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Ia berharap bahwa semuanya memang baik-baik saja, mungkin… mungkin saja sang Daimyo mau memaklumi tindakannya.

Semuanya akan baik-baik saja kan Sai?

Sang Daimyo bangkit dari tempat duduknya, ia keluar dari okiya dengan bergegas diikuti oleh Ryu, ia tak mempedulikan tatapan keheranan yang berasal dari para geisha atau bahkan Okami-san.

"Ryu, siapkan pasukan. Kita menuju Konoha."

Aku tidak akan memaafkanmu!

TBC