TITLE : Extraordinary (Part 9)
CAST :
JEON JUNGKOOK
KIM TAEHYUNG
PARK JIMIN
KIM SEOKJIN
JUNG HOSEOK
KIM NAMJOON
MIN YOONGI
PARK JIHOON
JUNG IL WOO (Jungkook's Father)
PARK SO DAM (Jungkook's Mother)
Previous
"Sudahlah jangan pikirkan masalah ini, lebih baik kau beristirahat. Aku juga akan beristirahat. Tidurlah Kook, aku akan memanggil Seokjin hyung untuk menemanimu."
Taehyung berdiri, mengacak rambut Jungkook pelan lalu pergi menuju pintu keluar.
"Hyung."
Panggilan Jungkook membuat Taehyung menghentikan langkahnya.
"Apa benar kau masih mencintaiku?"
.
.
.
"Hyung."
Panggilan Jungkook membuat Taehyung menghentikan langkahnya.
"Apa benar kau masih mencintaiku?"
"Aku tidak pernah tidak mencintaimu bodoh, kenapa kau harus bertanya lagi." Jawab Taehyung, lalu dirinya kembali melangkah keluar dari kamar Jungkook dan berniat memanggil Seokjin.
"Cih, lalu kenapa kau membuatku terluka." Ujar Jungkook dalam kesendiriannya.
.
.
.
Yeoja itu menatap geram ponselnya yang telah remuk. Ia telah membanting benda itu setelah mendapat kabar bahwa Jungyeon dan keluarganya tidak ditemukan di manapun. Ini sudah dua hari semenjak Jungkook masuk rumah sakit, dan apabila semakin lama ia membiarkan Jungyeon berkeliaran maka segala rencana yang telah ia atur bisa gagal.
"Kenapa tidak ada yang becus dalam membunuh anak tersebut? Kurasa aku terlalu meremehkannya selama ini."
Yeoja itu menyesap barolo, red wine nya dengan perlahan. Ia sedang senang hari ini, meskipun masalah Jungkook belum selesai. Tapi biarlah, untuk malam ini ia ingin menikmati hasil usahanya.
Ia baru saja mendapat kabar bahwa penggelapan dananya telah berhasil dilakukan dengan begitu rapi, paling tidak 50 persen saham suami nya yang berada di Jepang telah berada dalam genggamannya.
.
.
.
"Sweetheart, bagaimana kondisimu?" tanya Seokjin sambil mengupaskan apel untuk Jungkook.
"Bosan." Jawab sang adik dengan cemberut.
"Kau sudah boleh pulang besok. Nikmati saja hari ini."
"Oh ayolah hyung, adikmu ini sudah baik-baik saja." Bujuk Jungkook kembali mencoba meyakinkan hyungnya.
Seokjin tahu bahwa sang adik membenci rumah sakit dan ia juga tahu bahwa sang adik begitu cepat merasakan kebosanan.
"Aku tau kau sudah baik-baik saja. Maka dari itu aku meminta dokter untuk memulangkan mu besok. Kau tau, sang dokter berniat menyuruhmu berada di rumah sakit ini dalam waktu satu minggu. Jadi, kau memilih mana? Pulang besok sesuai perintahku atau satu minggu tetap berada disini?"
Jungkook mendelik mendengar penuturan sang hyung. Satu minggu dirumah sakit? Heol! Lebih baik ia berada di jalanan yang dingin.
Jungkook memainkan ponselnya. Tidak berniat menjawab pertanyaan Seokjin sebab ia yakin sang hyung pasti sudah tau jawaban yang akan ia ambil.
Ia mengetikkan sebuah pesan kepada seseorang, bertanya bagaimana keadaan'nya'. Betapa senangnya Jungkook ketika semalam ia mendapat kabar dari Taehyung bahwa Jungyeon sudah aman bersama dirinya.
Jungkook terkekeh ketika ia mengingat bahwa Taehyung berujar ia hampir tidak tidur demi mencari keberadaan yeoja itu. Jujur saja ia merasa senang, bukan berarti ia percaya diri, tapi ia berpikir bahwa Taehyung rela untuk tidak tidur dan terus mencari karena demi dirinya. Ia benar-benar harus berterimkasih sebanyak-banyaknya kepada namja tan itu.
Ceklek! Pintu terbuka dan menampilkan Hoseok hyung dengan sebucket bunga ditangannya.
"Kiriman bunga untuk adikku yang manis~" ujarnya mendekati ranjang.
Seokjin tersenyum simpul, ia memandang Hoseok sekilas lalu kembali mengupas buah apel dan memotongnya. Sedangkan Jungkook, ia memandang Hoseok dengan pandangan yang sulit diartikan. Dibenaknya sedang banyak berputar-putar segala bentuk tanda tanya dan kebingungan.
"Kiriman bunga dari siapa Hoseok-ah?" tanya Seokjin tanpa melihat kearah Hoseok.
"Ah- ini dari eomma, khusus untuk Jungkook. Ia merasa sedih tidak bisa menjenguk Jungkook di rumah sakit."
Diletakkannya bucket bunga tersebut pada nakas di sebelah ranjang Jungkook.
Jungkook sedekit berdecih, tapi namja bergigi kelinci itu memutuskan untuk membalas ucapan Hoseok. "Wah, ucapkan rasa terima kasihku kepadanya dan bilang kepadanya bahwa aku sedang menunggunya."
Namja dengan panggilan J-hope itu hanya mengernyitkan keningnya mendengar penuturan sang 'adik'. Ia menerka-nerka bahwa ucapan Jungkook hanyalah bualan semata.
"Ya tentu."
.
.
.
Malam harinya Taehyung datang dengan seorang yeoja, yang pastinya Jungkook ketahui siapa yeoja tersebut. Seokjin memutuskan untuk kembali kerumah sejenak untuk mempersiapkan pesta kepulangan Jungkook. Ya, memang pesta kecil-kecilan, untuk menyambut adik kesayangannya kembali kerumah. Walaupun sesungguhnya Jungkook sudah mengatakan berulang kali bahwa ia tidak menyukai ide tentang pesta itu. Tapi Seokjin terlalu bersikeras. Bila sang hyung sudah keras kepala maka sebanyak apapun Jungkook merengek, yang lebih tua tidak akan peduli.
"Jungkook-ah." Sapa yeoja dihadapan Jungkook itu.
"Bagaimana keadaan mu Jungyeon noona?" tanya sang pemuda bergigi kelinci itu.
Taehyung sedikit mengernyit tidak suka dengan perhatian yang diberikan Jungkook kepada Jungyeon.
Sedangkan yeoja itu hanya menunduk, merasa malu mungkin. "A..Aku baik-baik saja. Bagaimana kondisimu?"
"Kondisiku membaik ketika aku mengetahui kau tidak apa-apa." Jawab Jungkook yang langsung membuat Taehyung merasa jengah.
Tapi ucapan pemuda kelinci itu tidak sepenuhnya berbohong sebab sebelum ia mendapat kabar bahwa Jungyeon belum ditemukan kepalanya sering berdenyut sakit dan perutnya mengalami kram karena terlalu banyak berpikir.
Jungyeon perlahan mengangkat kepalanya dan menatap mata Jungkook, yeoja itu tampak menahan sebening kristal untuk turun, terlihat dari matanya yang telah berair. Ditatapnya pemuda manis bergigi kelinci itu, entah kenapa hatinya merasa sesak.
"Jungyeon noona? Kenapa kau menangis?" Jungkook menanyakan dengan nada khawatir ketika melihat mata yeoja lebih tua darinya itu mulai mengeluarkan sang kristal bening.
Sang yeoja kembali menundukkan kepalanya, membiarkan airmata langsung berlomba-lomba turun dari kedua matanya. Nafasnya terengah, mencoba untuk tidak mengeluarkan sebuah isakan.
Jungkook terlihat semakin bingung dan khawatir, apakah yeoja ini masih memiliki trauma batin atas kejadian yang telah ia alami.
Saat itulah Jungkook memberanikan diri untuk menyentuh pundaknya. "Kau tenang saja Jungyeon noona, tidak perlu bersedih, aku akan berusaha untuk membantu mu dan keluargamu."
Jungkook mengelus dengan lembut bahu yang bergetar tersebut.
Tanpa diduga reaksi yang diberikan Jungyeon membuat Jungkook sedikit terkesiap. Perempuan yang lebih tua darinya itu menyentak tangannya, bersamaan dengan sebuah suara tangisan yang lebih kencang dan air mata yang tumpah lebih banyak.
"A..Aku tidak pantas menerima kebaikanmu Jungkook-sshi," Ucapnya terisak hebat.
Lalu ia kembali melanjutkan, "Aku seorang penakut dan pecundang, aku juga seorang penjahat yang telah menyakitimu. Seharusnya aku tidak boleh hidup dengan damai seperti ini seharusnya aku dikejar-kejar oleh polisi dan ketakutan dipinggir jalan, seharusnya aku sudah kelaparan dan menjadi gila. Aku pantas menerima hukuman apapun, aku.. aku benar-benar bersalah kepadamu."
Tangisan Jungyeon semakin menjadi, membuat Jungkook maupun Taehyung sedikit kalut.
Jungyeon menutup seluruh mukanya dengan kedua tangan, terisak, hampir meraung-raung dan menumpahkan airmata dalam jumlah yang tidak sedikit.
Jungkook merasa ini tidak benar, ia menyelamatkan Jungyeon supaya yeoja itu dapat hidup lebih baik, tapi kenyataannya ia malah melihat kesedihan dan kekecewaan serta airmata dari yeoja dihadapannya ini. Sungguh, ia tidak tega.
Tanpa pikir panjang sebuah pelukan ia daratkan pada tubuh Jungyeon. Mendekapnya erat walaupun sebuh rontaan yang ia dapatkan, tapi Jungkook tidak gentar, ia tidak ingin melepaskan Jungyeon, tidak dalam keadaan seperti saat ini. Jungyeon butuh sebuah ketenangan, dan ketenangan biasanya ia dapatkan dari sebuah pelukan.
Akhirnya Jungyeon merelakan dirinya menangis di pundak Jungkook, diiringi dengan sebuah elusan lembut yang Jungkook berikan pada punggungnya.
"Tidak apa-apa bila kau merasa bersalah padaku, tapi jangan terlalu berlarut-larut noona, aku tahu bahwa kau merasa tertekan atas segala kejadian yang kau alami selama ini. Aku tahu kau juga merasa takut dan ingin lari, tapi tidak bisa. Aku paham itu semua, tapi ingatlah satu hal, ketika aku berada di dekatmu aku akan menutupi segala rasa takut dan bersalahmu. Aku akan berusaha semampuku untuk membantumu keluar dari masalah ini. Jadi, jangan biarkan dirimu terpuruk atas segala kejadian yang telah terjadi. Justru kau harus semakin bangkit dan menjadi kuat untuk melawan dirinya." Ucap Jungkook menenangkan.
'Karena ini semua juga salahku' batinnya.
Taehyung hanya mendelik melihat adegan tepat dihadapannya, heoh sepertinya firasatnya benar bahwa Jungkook memang memendam rasa kepada yeoja tersebut. Menolong seseorang seperti ini bukanlah seperti Jungkook yang biasanya ia lihat, kecuali ia memang memiliki perasaan lebih kepada yeoja ini. Sial, seharusnya ia tidak menuruti ucapan Jungkook untuk mencari yeoja ini bila tahu begini akhirnya. Lebih baik ia membiarkan Jungyeon ditangkap polisi dan dipenjara. Ah, lebih baik ia dihukum mati sekalian.
Taehyung mengepalkan tangannya erat, menahan rasa amarah dan kesal secara mati-matian. Hey, tentu saja ia tidak terima melihat miliknya disentuh orang lain seperti ini. Ditambah kejadian ini berlangsung dihadapannya.
Argh! Jungkook itu milikku, tapi terimakasih atas segala kejadian ini kurasa perasaanku padanya telah berkurang.
Mungkin, perlahan menghilang.
Taehyung mencintai Jungkook tapi bila sang pemuda cantik tidak mencintainya ia bisa apa? Kebahagiaan Jungkook adalah prioritas utamanya. Ia tidak ingin kesalahpahaman pada masa lalu terulang kembali. Kesalahpahaman yang tidak akan bisa membuat Jungkook memiliki rasa cinta kepadanya.
Akhirnya Taehyung memutuskan untuk pergi keluar dari ruangan dan membiarkan Jungyeon dan Jungkook berdua. Tanpa ia sadari ada tatapan nanar dari seorang pemuda yang seakan tidak ingin membiarkan ia pergi dari ruangan ini.
.
.
.
"SELAMAT DATANG KEMBALI JUNGKOOK." Pekikan senang itu datang dari sang hyung ketika melihat Jungkook membuka pintu.
Sedangkan sang adik hanya berpura-pura terkejut melihat pesta yang telah disiapkan oleh Seokjin hyung. Dilihatnya tulisan WELCOME HOME yang terangkai menggantung pada langit-langit rumah mereka dengan sebuah kue coklat dan kue vanilla disebelahnya. Ada dua kue? Seokjin hyung, Hoseok hyung, dan beberapa maid yang ada di rumah mereka terlihat tersenyum seakan menyambut kehadiran Jungkook. Hah, meskipun terlihat banyak orang tetap saja rumah ini terasa sepi sekali.
Paman Lee, supir pribadi keluarga Jeon membantu mengangkat barang-barang Jungkook kekamar ketika Seokjin hyung mengajak Jungkook untuk duduk di ruang makan.
"Ah, aku lupa memberitahu mereka, bahwa kau sudah datang. Guys, kemarilah!"
Jungkook mengernyitkan kening mendengar penuturan sang hyung. Mereka? Siapa?
Tiba-tiba ia merasakan kegelapan karena matanya ditutup oleh tangan seseorang, terasa halus dan lembut ketika bersentuhan dengan kulit wajahnya. Tercium juga aroma parfum blossom yang arahnya berasal dari seseorang yang sedang berada di belakangnya. Siapa ini? Jungkook merasa tidak asing namun juga merasa tidak begitu mengenalnya.
"YA! Apa-apain ini? Siapa kau?" kesal Jungkook ketika orang tersebut tidak berniat untuk melepas tangan dari matanya.
Lama kelamaan Jungkook bisa merasakan tangan seseorang itu mengendur dan terlepas dari kedua matanya. Ah, akhirnya ia bisa melihat lagi, haha sebuah lelucon.
"Ish, kenapa Jungkook hyung kini begitu galak?"
Ah.
"Jihoon?"
Jungkook mendelikkan matanya menatap seseorang yang kini berdiri disampingnya dan tanpa diduga langsung menerjang dan memeluknya erat.
"Jungkook hyung, aku merindukanmu. Jangan bersikap terlalu galak nanti kecantikanmu hilang."
Jungkook tersenyum mendengar penuturan Jihoon. Aah, dasar namja manja ini suka sekali bicara seenaknya. Tapi sungguh, Jungkook benar-benar merindukannya.
Ia balas memeluk pemuda bernama Jihoon itu. "Aku merindukanmu juga Jihoon-ah!"
Sambil berpelukan dengan Jihoon tatapan mata Jungkook mengarah pada sahabat yang sudah seperti kakak baginya, Jimin hyung.
Pelukan kedua namja manis itu terlepas. Berganti dengan sebuah pelukan yang ia dapat dari Jimin. "Jimin hyung, bagus sekali dirimu tidak pernah menjengukku dirumah sakit."
"Mianhae Kookie, salahkan saja Jihoon! Aku dipaksa untuk menemaninya berkeliling Kanada ketika kau masuk rumah sakit dan sesungguhnya kami baru saja mendarat di Seoul pagi tadi."
Jungkook melepaskan pelukannya dan memberikan tatapan bertanya kepada Jihoon. ia bertanya, "Benarkah itu Jihoon-ah?"
Pemuda yang ditanya itu mengerucutkan bibirnya. "Aku tidak tau bahwa kau akan mendapat musibah seperti itu. Maafkan aku hyung."
"Benar salahkan dia Jungkook! Dia datang kepadaku sambil merengek dan bilang bahwa ia ingin pergi jauh dari Seoul. Lalu dia akan menangis sekencang-kencangnya sambil meracau 'aku rindu Jinyoungie' terus-terusan, ish dasar anak muda jaman sekarang, terlalu terbawa perasaan." Ujar Jimin sambil mendengus.
"Astaga! Kau sedang ada masalah dengan kekasihmu? Jihoon-ah, aku turut sedih mendengarnya, kau mau malam ini kita jalan-jalan untuk melepas stressmu?"
Reaksi yang diberikan Jungkook membuat Jimin bersweet drop ria. Jihoon dan Jungkook memang satu jenis, pikir namja bertubuh sedikit pendek itu.
Jihoon mengangguk-angguk mengiyakan ajakan Jungkook, lalu memeluk Jungkook sekali lagi untuk mengutarakan rasa terimakasih karena telah mengerti perasaan yang ia rasakan.
.
.
.
Mereka makan bersama dalam suasana hangat, bercanda tawa dan bersuka cita, setidaknya itu yang ada di pikiran Jungkook, meskipun saat ia bersitatap dengan Hoseok hyung ia mendapat sebuah tatapan yang sulit untuk diartikan. Tapi sudahlah, selama keluarga barunya itu tidak melakukan sesuatu yang aneh maka ia juga tidak akan mempedulikannya.
Ketika semua terasa begitu sempurna, hingga kedatangan Taehyung yang tergesa-gesa dengan wajah kelelehan membuat semua mengalihkan pandangan kearah namja tersebut.
Semua memandang bingung, sedangkan Taehyung yang menjadi pusat perhatian tidak mau ambil pusing dengan tatapan tanya mereka. Ia melangkahkan kakinya mendekati Jungkook.
Berujar lirih. "Jungyeon menghilang."
Dan Jungkook tau semua tidak akan berjalan sesuai yang ia harapkan. Kali ini apa yang akan terjadi, apakah akan ada korban selanjutnya?
.
.
.
TBC
Good night guys~
Here is the chapter 9. Pas aku nulis bagian Jungkook sama Jungyeon aku mikir berulang kali. Terlalu intim gak sih ini? Sebenernya agak gimana gitu tapi yah, don't know anymore. Maaf kalau ada yang agak gak nyaman.
Anyway, hope you enjoy this part. Feel free to review, fav, and follow.
Daaaaaannn the last,
.
.
.
AAaahhh, aku sedih banget lihat JK nangis di Final Concert Wings Tour. Seriously, it really breaks my heart. I cry so much this night. Terutama pas bagian bts natap vcr yang ada tulisannya prejudice and plagiarism. I mean, they don't deserve all those harsh words. Rasanya gak tega, tapi beruntung bts selalu kuat dan percaya sama ARMY, dan ARMY will always be believe and protect BTS!
Go go fighting!
