Best Friend Become Lovers
Chapter 9 Auntumn Season
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance, Friendship
Rated: T
Sumarry: Siapakah pria misterius yang muncul di chapter sebelumnya? Apa yang dia inginkan sebenarnya? Dan bagaimana hubungan Mina-Kushi ke depannya?
Auntumn Season (Musim gugur) jawabannya!
RnR!
Kushina melenggangkan kakinya menuju kelasnya, tatapan iri dari para penggemar Minato mengirini Kushina sampai dia tiba di depan kelasnya.
"Hei, Kushina!" Panggil gadis bersurai kelam menghampiri Kushina.
Kushina hanya memberi respon tatapan bertanya dan kembali berjalan menuju mejanya, di ikuti gadis yang tadi memanggilnya.
"Apa berita itu benar?" Tanya gadis itu dengan tatapan penasaran, dan seringai konyol yang melekat di bibirnya.
"Berita apa?!" Tanya Kushina yang ikut-ikutan bingung dengan pertanyaan sang gadis barusan.
"M-minato-senpai? Kalian- Apa kalian berpacaran?" Tanya gadis itu dengan nada yang bisa di bilang kikuk.
Kushina hanya mengangguk pelan, bingung. Apa istimewanya jika aku berpacaran dengan Durian yang satu itu? Begitu batin Kushina kira-kira.
"Dan kau, Mikoto dengan manusia setengah es itu?" Tanya Kushina pada gadis yang bernama Mikoto itu dengan seringai jahik kepunyaannya.
Gadis yang di panggil Mikoto tadi hanya dapat tersipu malu akibat ucapan Kushina.
Seorang lelaki paruh baya memasuki kelas Kushina, bersamaan dengan itu kelas Kushina sontak terdiam. Menghentikan aktifitas mereka. Seorang pria berambut putih jabrik yang merupakan wali kelas mereka langsung menaruh peralatan mengajarnya dan langsung berdiri di depan kelas dengan ekspresi wajah kecewa, juga sedih, entah apa penyebabnya Kushina dan para siawalain tak tau dan tak ingin mau tau.
"Aku benci mengatakan ini, tapi aku harus mengatakannya." Ujar pria yang di ketahui bernama Jiraya ini, mendengus kesal.
"Hari ini kalian akan di pulangkan lebih awal, kerena akan di adakan serah terima jabatan kepengurusan OSIS." Selesai dia mengatakan berita dukacita baginya dan berita bahagia bagi para muridnya ini terdengan jeritan bahagia dari dalam kelas, bigitupun dengan kelas-kelas yang lain. Lagi-lagi Jiraya hanya dapat menghela napas berat menahan emosi akibat ulah para murid-muridnya.
Kushina juga merasakan hal yang sama seperti teman-temannya, bahagia akibat pulang cepat. Tanpa di komando lagi para siswa langsung berhamburan keluar kelas meninggalkan wali kelas mereka yang mematung dalam kelas itu sendirian.
Kushina berjalan santai menuju tempat parkir melupakan sesuatu hal yang baru terjadi beberapa saat yang lalu. Tapi langkah Kushina terhenti saat ada benda hangat yang menggenggam kuat tangannya, tangan besar Minato menggenggam erat pergelangan tangan Kushina tanpa membuatnya merasa kesakitan. Tapi merasa nyaman dengan perlakuannya itu.
"Kau pergi bersamaku, juga pulang bersamaku." Ujar Minato lembut tepat di telinga kanan Kushina, hembusan napas Minato tepat di telinga Kushina membuatnya sedikit bergidik geli sesaat.
Minato menarik Kushina yang masih bingung akan pikirannya sendiri, Minato pergi bersama Kushina dengan berjalan kaki menuju belakang sekolah. Berpasang mata menatap mereka berdua dengan tatapan iri, benci, kesal, cemburu, dan berbagai tatapan lainnya.
Keduanya tak memperdulikan dan terus melaangkahkan kaki mereka berdua, Kushina melangkah dengan raut keget yang terus ada di wajahnya terlebih lagi saat dia tiba di tempat tujuannya, tidak! Tapi tujuan Minato.
Sebuah lahan kosong yang terbentang dengan ilalang tinggi sepinggang, tidak indah memang, amat terbilang biasa bagi mereka berdua. Tidak ada yang istimewa sama sekali terhadap tempat ini. Penuh ilalang, tempat yang aneh jika mau di jadikan tempat berkencan seorang Minato Namikaze. Tidak berkesan istimewa sama sekali.
Minato menarik napas, menenangkan irama jantungnya yang tidak beraturan. Irama seorang pria yang tengah di landa kasmaran, getaran yang melanda hati para pasangan baru. Bibirnya menguraikan sebuah senyuman, senyum yang diberikan seorang pria pada gadis yang di cintainya.
Tangan Minato menggenggam erat tangan Kushina, seakan tidak ingin terpisah untuk yang kedua kalinya.
"Kushina!" Tanya Minato lembut namun nada tegas terdengar jelas di sana.
"Ya, Minato?"
"Berjanjilah padaku, kau akan terus bersamaku sampai kapan pun?!" Tanya Minato serius.
"Ehm! Aku berjanji!" Ujar Kushina yakin.
"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku lagi?"
"Ya aku berjanji!"
Minato maju melenyapkan segala jarak yang mengahalangi mereka, tangan kekarnya merengkuh Kushina masuk dalam pelukannya. "T'rimakasih!" Ujarnya di tengah pelukan mereka. Minato mengecup singkat bibir Kushina, dia tidak mau berlama-lama melakukannya. Takut kalau-kalau dia melanggar batas yang ada.
Seorang pria berambut perak jabrik tengah kelimbungan di suatu ruangan, giginya terus mengigiti buku jari nya mulai dari ibu jari. Keningnya berkerut memikirkan hal ini terus menerus.
Di hadapannya ada seorang wanita seumuran dengannya, rambutnya berwarna kuning di kuncir dua di belakang bahunya. Matanya menatap tidak suka pada pria di depannya.
"Kau mau apa?" Tanyanya geram.
Pria itu tidak merespon, tetap bergelut pada pikirannya sendiri. Seakan dunianya sunyi, kedap suara.
"Kau tidak dengar, Hah?!" Tanyanya lagi, tidak lupa menaikkan suaranya menjadi 1 oktaf lebih tinggi.
Pria tadi terdiam, giginya tetap mengigiti buku jarinya. Tapi matanya menyiratkan ketegangan. Ke khawatiran juga ada di dalamnya.
"Apa kau tidak tau, apa yang baru saja Itachi katakan? Dia terikat sekarang, sulit membujuknya." Ujar pria itu, lipatan di keningnya semakin bertambah banyak dan rumit.
"Dia bukan tipe anak pembangkang!" Sentak wanita paruh baya tak setuju dengan kalimat lawan bicaranya.
"Minato, dia mencintai seorang gadis. Dia akan berpikir dua kali untuk mau melanjutkan studynya di Jerman. Itu hanya pemikiranmu saja kalau dia bukan tipe anak pembangkang,"
"Lagi pula, seorang lelaki akan nekad melakukan apapun asalkan dapat terus bersama gadisnya."
-DIAM-
Tidak ada yang membuka mulut, tenggelam dalam presepsi masing-masing.
Setuju tidak setuju dengan pemikiran lawan, suka tidak suka. Kedua pihak sama benarnya.
Minato harus melanjutkan studynya di Jerman, tanah air sang b***. Tapi di Jepang hatinya terpikat dengan seorang gadis. Apa mau di kata, jika memaksakan pilihan pertama maka hatinya dan Kushinalah yang menjadi taruhan. Jika memaksakan pilihan kedua maka masa depannya yang mrnjadi taruhan. Pilihan yang sulit.
"Tadaima!" Ujar seorang pria remaja masuk, siapa lagi kalau bukan si objek pembicaraan. Minato Namikaze.
Wajahnya datar seakan tak mendengar apapun, matanya tenang setenang danau. Bibirnya tersenyum ramah. Apanya yang aneh semuanya normal, tapi ada sesuatu yang tidak biasa.
Tangannya mengepal tanda tidak suka!
Pandangan yang tak lazim Minato mengepalkan tangannya tanpa sebab. Pembicaraan orang tuanyalah yang menjadi pemicunya. Rahangnya mengeras walau tidak terlalu tegas.
Dia akan di kirim ke Jerman untuk meneruskan pendidikannya, niat baik memang. Tapi buruk bagi Minato! Dia baru saja berpacaran dengan Kushina beberapa hari, dapat di hitung dengan jari malah! Kuso! Begitulah umpat Minato dalam hati.
"Ah Minato, kau baru pulang rupanya." Sambut Jiraya. Pria paruh baya yang ternyata adalah Ayah Minato.
Minato tak menjawab, matanya menuntut kelanjutan kalimat Jiraya. Minato tau, cepat atau lambat orang tuanya akan memberi tau tentang semuanya.
"Apa kau sudah menyiapkan calon ketua baru yang akan menggantikkanmu, Minato?" Tanya Jiraya. Sebagai seorang Ayah sekaligus seorang Kepala Yayasan, dia tau betul tuhas anaknya ini. Jadi dia juga harus memastikka bahwa tugas yang diemban Minato berjalan lancar.
"Sudah! Aku punya 2 calon untuk itu, aku ragu memilihnya. Htch! Htch!" Minato menjawab pertanyaan sang Ayah di iringi bersin? Ah tidak, itu hanya pengalih. Agar dia bisa segera keluar dari ruang lingkup ketegangan di sekitarnya. Ruang lingkup ketegangan.
"Kau sakit?! Sebaiknya kau cepat masuk, tidak baik udara di kuar untuk orang yang sedang tidak enak badan!" Benar Tsunade -Ibu dari Minato- langsung menyuruhnya untuk segera masuk ke kamar.
Minato mengangguk dan segera berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai 2.
"Anak itu, kapan dia akan mengenal gadis jika kau terus-menerus menyuruhnya mengikuti apa katamu?!" Tanya Jiraya. Memperhatikan tubuh Minato yang sudah hilang di balik tembok pembatas tangga.
Tsunade tersentak, antara setuju dan tidak setuju dengan perkataan suaminya. Urusan pasangan Tsunade memang tidak ingin ikut campur terlalu dalam, sebagai seorang ibu dia hanya ingin Minato bahagia dengan pasangan pilihannya.
"Maafkan aku Kushina, Kau memang tidak pernah meninggalkanku dari dulu. Tapi akulah yang selalu meninggalkanmu." Minato hanya dapat merenung memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Kushina kedepannya jikadia harus pergi dalam waktu lama meninggalkan Kushina.
"Musim gugur yang sama beberapa tahun yang lalu. Kenapa harus kembali terulang di hidupku?!" Umpat Minato dalam hati, melangkah menuju kasurnya dan segeratertidur. Berharap saat dia terbangun nanti semuanya akan berubah.
To
Be
Continued
maaf kalau chapternya kurang memuaskan, setelah pertarungan selama 4 hari dengan 180 soal Ujian Nasional. Akhirnyabisa update juga...
Yosha! Silahkan tinggalkan jejak di kolom reviews yang tersediaminaa-san.
