Pagi itu di depan gerbang sebuah rumah mungil, taksi berwarna hitam telah terpakir menunggu penumpang. Dari arah pintu coklat yang terbuka, tiga orang perempuan berbeda usia terlihat dengan beberapa tas besar.
Hanabi menaruh tas terakhir di bagasi mobil lalu memeluk erat kakak perempuannya. Mulai hari ini ia akan meninggalkan rumah kecilnya untuk magang di perusahaan di daerah Hokkaido selama tiga bulan.
"Jaga dirimu baik-baik, jangan telat makan ataupun main game semalam suntuk!" sang kakak mulai memberi wejangan pada adiknya. "Jangan lupa bereskan kamar tidurmu, jangan dibiarkan berantakan!"
"Iya ka, iya. Kau sudah mengatakannya sejak semalam. Tidak ada hal lain yang mau kau katakan selain itu?"
Hinata mendengkus pelan, lalu ia kembali memeluk erat adiknya. Rasanya tak rela sekaligus khawatir. Apakah Hanabi akan baik-baik saja sendirian di hokkaido? tidak kah ia nanti merasa kesepian? bagaimana jika terjadi sesuatu dan tidak ada seorangpun yang bisa menolongnya?
Helaan napas terdengar pelan. "Aku cemas," ujar Hinata akhirnya. "Kalau tahu seperti ini, aku akan mengajukan pengajuan magangmu di perusahaanku saja."
"Dan membiarkanmu mengawasiku selama tiga bulan? tidak, terima kasih, nee-chan!" Hanabi melepas pelukan dan menggeleng dengan tatapan ngeri. "Aku akan baik-baik saja, kau tidak perlu terlalu khawatir begitu. Aku sudah besar!"
"Ck, dimataku kau masih bocah nakal yang harus diawasi." ujar Hinata sembari menyentil pelan kening adiknya. "Pokoknya jangan lupa menelpon setelah kau sampai di sana."
"Iya ka, iya..." Sebelum Hinata kembali mengoceh, ia segera memeluk Chiyo dan masuk ke dalam taksi. "Baiklah, sampai jumpa lagi!" seru Hanabi sambil melambaikan tangannya ketika taksi mulai mejauh pergi.
Hinata menghela napas pelan sebelum seulas senyum hadir di paras cantiknya. Waktu berjalan begitu cepat, tanpa ia sadari Hanabi telah tumbuh dewasa. Ada rasa bangga dan terharu yang ia rasakan.
"Sudah tujuh tahun berlalu, kaa-san." Hinata bergumam pelan pada diri sendiri. "Dulu waktu terasa lama, namun siapa sangka justru kini aku merasa waktu berlalu begitu cepat."
Hinata berbalik, menutup pintu gerbang dan memandang rumah mungilnya. Rumah yang telah menjadi saksi bisu perjalanan keluarga Hyuuga. Kehangatan ketika masih ada sosok sang ayah dan ibu, sampai kesedihan ketika satu persatu orang yang terkasih pergi hingga meninggalkan kakak beradik.
"Hinata," suara serak itu mengalihkan atensi sang wanita. "Aku akan menginap di rumah Hizashi selama beberapa hari."
"Baik, Nek. Titip salam untuk Paman dan Neji-nii."
Chiyo mengangguk singkat, "Satu lagi, jangan lupa tiga hari lagi kau ada janji temu pria yang Nenek jodohkan. Kau harus datang, paham?"
Bahu Hinata menegang mendengar perkataan Chiyo. Bibir tipisnya berusaha ia tarik membentuk senyuman tipis. Ia mengangguk singkat, "Aku ingat, Nek."
Chiyo mengangguk puas, ia lalu kembali melangkah memasuki rumah. Sementara itu Hinata menghela napas pelan dan wajahnya tertunduk lesu. Setelah akhirnya ia bisa menghindari lamaran dadakan dari Naruto. Kini ia harus memikirkan cara untuk membatalkan perjodohan.
"Aku hanyaingin melajang seumur hidup! kenapa sulit sekali, sih?!" Hinata menghela napas panjang, berusaha tenang. Namun ia malah berdecak kesal. "Aku butuh asupan cabai super pedas."
Dengan keinginan itu, Hinata melangkah pergi mencari tempat makanan pedas. Suasana hatinya benar-benar berubah buruk akibat masalah perjodohan. Seandainya saja saat hari pertemuan itu, ia bisa pura-pura sakit atau terkena usus buntu dan harus dioperasi karena kebanyakan makan cabai.
Percayalah bagi Hyuuga Hinata dioperasi karena usus buntu lebih baik ketimbang melakukan pertemuan dengan calon suami yang tidak ia inginkan.
...
Malam harinya, Hinata duduk di depan televisi yang sedang menayangkan program reality show. Setelah pulang dari kedai ramen, di depan rumah Nenek Chiyo sudah berpakaian rapi dengan tas besar di samping pintu mobil taksi.
Hinata mengira kalau beliau akan pergi esok hari, siapa sangka ternyata sore ini. Setelah mengantar kepergian Nenek Chiyo, wanita muda itu segera memasuki kamar dan berganti pakaian.
Kaos putih kebesaran hingga memerlihatkan pundak mulusnya dan berlengan pendek, serta celana hotpants hitam yang bahkan tidak terlihat karena tertutupi bajunya.
Pakaian sehari-hari Hyuuga Hinata yang sudah sering dikomplen Hanabi karena terlalu serampangan. Namun mana mau wanita itu peduli dengan penampilannya, toh, dirumah sendiri ini, pikirnya.
Hinata tertawa ketika humor menggelitiknya, membiarkan kesunyian rumah menjadi ramai akan suara televisi dan tawanya. Mencoba untuk tidak memedulikan rasa sepi yang semakin lama semakin merasuk dalam benaknya.
Namun usahanya sia-sia, pada akhirnya tawa yang ia paksakan seakan berubah menjadi belati bermata dua. Hatinya hampa, kosong, dan sepi. Hinata menoleh ke kanan dan ke kiri, menatap rumah yang sepi. Tidak ada canda tawa, hanya kesunyian dan itu malah membuat benaknya dilanda sepi.
"Sebaiknya aku mengajak Ino menginap."
Hinata meraih ponsel pintar dan mencoba menghubungi teman pirangnya. Namun Feedback yang ia terima adalah penolakan. Ino tak bisa menginap karena ia harus lembur di toko bunga miliknya karena ada pesanan yang harus diselesaikan secepatnya.
Jemari lentiknya kembali menekan nomer lain, berharap mungkin Sakura, taupun teman lainnya bisa datang untuk menginap. Namun setelah hampir setengah jam mencoba menelpon ke beberapa orang, tak ada satupun yang bisa.
Ia menghela napas pelan dan merebahkan kepalanya pada pinggiran sofa sementara ia duduk di lantai. Hinata mengembungkan pipi, bagaimana ini? Apa sebaiknya ia pergi keluar saja?
Ting Tong!
Suara bel yang tiba-tiba, mengejutkan Hinata. Siapa yang berkunjung malam-malam seperti ini? wanita muda itu segera beranjak dari tempatnya dan berlari kecil menuju pintu depan.
"Siapa ya--?"
Ketika pintu dibuka, mata perak itu membeku ketika bersitatap dengan sepasang manik biru langit di depannya. Senyum pria itu merekah dan mengangkat sekantung plastik dengan kotak putih di dalamnya.
"Hei, aku datang bawa cake!"
"Ada perlu apa datang kemari? dan dari mana kamu tahu alamatku?" Suara, tatapan, dan sikap yang gadis itu tampilkan begitu dingin.
Namun Naruto tidak menunjukkan keterkejutannya, mengingat memang selama ini Hinata selalu memasang tembok tak kasat mata.
"..., Aku minta maaf, atas sikapku kemarin." ujar Naruto tulus, "Tidak seharusnya aku membentak, maupun menuduhmu seperti itu."
"Memang apa yang kau tuduhkan padaku?"
Untuk sesaat Naruto terdiam, sementara Hinata masih menatapnya dingin. Pemuda pirang itu merasa sulit menelan ludah kering dan ia sedikit tergagap.
"Aku, aku mengira kalau kau lebih memilih laki-laki mapan meskipun dia seorang duda sekalipun."
Keheningan di antara keduanya terasa canggung dan membuat Naruto keringat dingin. Ia meruntuki kebodohan yang telah ia lakukan kemarin. Bagaimana bisa dia bersikap tidak dewasa seperti itu.
Suara helaan napas Hinata membuat Naruto sedikit tersentak pelan. Mata birunya masih menatap lantai, entah sejak kapan.
"Kau tidak perlu minta maaf," perkataan gadis itu membuat Naruto mendongak, menatap mata perak Hinata yang tegas. "Karena aku memang lebih memilih lelaki mapan, meski dia seorang duda."
Perkataan Hinata bagai petir dan menyambar Naruto tanpa ampun. Kedua matanya membulat sebelum berubah sendu. Sepertinya tanpa ia sadari, perasaannya yang dulu hanya sekedar iseng belaka, menjadi tumpuan harapan yang kini malah kandas.
"Begitu..., memang benar. Siapa juga yang mau dengan laki-laki pengangguran."
Hinata menghela napas, ia lalu menarik pelan tangan Naruto dan membawanya menuju ruang tamu. "Tunggu di sini, akan aku siapkan teh sebagai pendamping kue."
Naruto yang terkejut karena tidak menyangka akan duduk di dalam rumah Hinata hanya mengangguk patuh. Badannya tegak dan dengan raut gugup yang kentara. Matanya bergerak gelisah, hingga atensinya menangkap beberapa figura foto keluarga. Di foto itu, terlihat Hinata yang tersenyum hangat bersama Hanabi dan juga seorang wanita paruh baya berambut coklat dengan aura keibuan. Mungkin wanita itu adalah ibu kandung mereka.
Aroma teh melati menguar memenuhi ruang keluarga. Hinata datang dan menaruh gelas di depan Naruto tanpa menyadari bahwa belahan dadanya sedikit terlihat ketika ia menunduk. Pemuda pirang itu menelan ludahnya dan berpaling, wajahnya memanas.
Apakah Hinata tidak ada niat untuk mengganti pakaiannya?
Naruto berdehem pelan, mencoba mengenyahkan pikiran liar dan kegugupannya. Ia lalu segera mengambil teh dan menyesapnya pelan-pelan.
"Maaf kalau perkataanku terkesan kasar." Hinata membuka suara ketika mereka berdua sudah duduk berhadapan. "Tetapi aku tidak mungkin menikah tanpa memikirkan masalah finansial dan hanya didasari rasa cinta. Terlebih..., aku bahkan tidak ada perasaan khusus terhadapmu. Dua hal itulah yang membuatku tidak bisa menerima lamaranmu."
Diamnya Naruto membuat Hinata kembali berujar. "Aku dan kau sama-sama sudah dewasa dan memang sudah waktunya untuk menikah. Tetapi menikah bukan hal yang bisa dilakukan begitu saja tanpa ada komitmen dan kesiapan." mata perak Hinata untuk sesaat berkilat dan redup. "Namun tidak semua orang siap untuk berkomitmen maupun siap untuk membangun keluarga hingga membesarkan anak."
"..., Apa kau takut untuk berkomitmen, maupun membangun keluarga?" Naruto akhirnya bertanya dengan nada rendah dan hati-hati.
Hinata menyesap tehnya pelan dan tersenyum masam. "Aku siap berkomitmen dan mempunyai keluarga kecil adalah impianku. Namun apa ada jaminan kalau dengan menikah aku akan bahagia?"
Pertanyaan yang Hinata lontarkan bersama tatapan menuntut itu membuat Naruto bungkam. Ada percikan emosi yang membuat pemuda itu merasa dadanya sesak. Kata-kata yang ingin ia lontakan seakan tertahan di kerongkongannya.
"Aku... a-aku..."
.
.
.
To Be Continue...
Ha ha ha! akhirnya setelah sekian lama aku update lagi. dan kali ini agak panjanglah yah sekitar 1,4k. Meski bersambung ketika lagi konflik begini, greget deh. Terima kasih yang masih mau membaca cerita ini dan menanti cerita ini hehe. salam hangat darikuuu.
