UNNAME
Cast : SuperJunior (13+2), EXO (12) and other
Summary: Ketika di dunia ini tidak punya harapan lagi tentang perdamaian. Ketika ketidak pedulian menjadi senjata hebat untuk tak terlibat lebih jauh. Mereka UNNAME, sekelompok orang tak bernama yang menjanjikan perdamaian lewat konspirasi, peneroran, separatis dan ribuan jalan yang mereka katakan "Jalan Kedamaian"
Rated: T
Genre: Adventure, Sci-fi, Crime, Friendship and Suspense
Disclaimer: Cast milik Tuhan dan FF ini milik "Unperfect Team". Kibum selalu di usahakan milik ika zordick.
Warning: Typos, World war setting, Usahakan anda cukup dewasa untuk beberapa adegan.
UNNAME
Bagian IX
HELL
NGIUUUNG
NGIIUUUNG
Suara sirine ambulance tak memecah konsentrasi seorang dokter umum yang hebat seperti Zhoumi. "Ambil pingset besar itu!" perintahnya dan harus di akui, Heechul dan Hangeng tampak gugup menjadi perawat dadakan tanpa menempuh pendidikan medis terlebih dahulu.
Hangeng dengan gugup mengambil pingset tersebut, menyerahkannya pada Zhoumi dan berharap ia tak salah ambil alat. Beberapa alat medis di hadapannya banyak yang tak ia ketahui namanya. Zhoumi mengambil peluru yang bersarang di tengkorak Siwon. "Kita sepertinya tidak salah merekrut Hyukjae" terang Zhoumi dan harus di akui, Hangeng tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Peluru itu mengenai tepat pelipis Siwon namun tidak menembus otaknya. Tengkorak itu retak tapi berhasil menahan peluru. "Apakah ini keberuntungan sang Mr. President?" Tanya Heechul tak percaya.
"Ataukah kemampuan luar biasa dari Hyukjae?" sambung Hangeng.
Siapa yang tahu?
Leeteuk tidak terlalu mempermasalahkan itu, ia lebih memilih sibuk berdoa. Ia seseorang yang percaya Tuhan, jadi biarkan dia menjadi manusia yang tak sombong. Biarkan ia meminta dan ia memberikan kesempatan pada Tuhan menunjukkan mukjizat-Nya.
Sungmin yang berada di kursi di samping Yesung menatap jalanan dengan pandangan yang tajam. "Ataukah Ryeowook?"
Terdiam—
Yesung berdehem.
Benar juga, Ryeowooklah yang memperkirakan kesempatan itu. Bukan dengan komputer seperti yang dilakukan jenius Kyuhyun, melainkan perhitungan kemungkinan yang dilakukan oleh Ryeowook. "Nathan itu mengerikan dan dia satu diantara kita" Sungmin melanjutkan.
"Aku tidak terlalu peduli" Yesung bicara, tangannya sudah berkeringat dingin sejujurnya. Ia mengandaikan, bagaimana jika Ryeowook itu bukan dipihak mereka. Bagaimana jadinya mereka berperang dengan orang semacam Ryeowook?
"Kau tipe petarung dengan pengalaman, tentu saja kau takkan mengerti orang yang berbakat"
Yesung berdecih. "Kau sedang membicarakan dirimu?" tersindir dengan perkataan Sungmin baru saja. Bukankah Sungmin termasuk petarung yang berbakat dari lahir?
"Bukan, aku tipe petarung yang giat belajar dan berlatih"
UNNAME
Kibum, bocah lelaki dengan kucing Persia hitam di atas kepalanya itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam salah satu kamar di hotel yang berdekatan dengan Casa de Nariño. Ia berjinjit untuk meraih knop pintunya. Dengan wajahnya yang datar dan mulutnya yang sedikit menggerutu karena ia lupa rencananya. Ia tak menyangka ia harus pulang sendiri, padahal ia lebih suka pulang dengan bergandengan tangan.
"BUM BUM!" –Itu Kyuhyun yang mulai menyerobot. Ia tak terlalu memperdulikan Ryeowook dan Hyukjae yang menatapnya bingung. Bukankah baru saja Kyuhyun itu terlihat pendiam, kenapa jika ada Kibum dia kembali menjadi sosok yang terlihat berisik dan menjengkelkan.
Alasannya mudah.
Kyuhyun berada dalam kawasan terancam. Dia bocah kecil dan dia memiliki ketakutan tersendiri. Anak kecil tetaplah anak kecil, anak kecil takkan pernah bisa berbohong. Ia menunjukkan itu, kegelisahan ketika hanya ada dia, Ryeowook, Hyukjae dan Donghae yang tertidur di sebuah ruangan yang sama.
Ryeowook itu mengerikan.
Dia memang tidak membunuh dengan pistol ataupun senjata tajam lainnya.
Ryeowook itu penguasa perhitungan yang lebih cepat dari prosesor komputernya. Itulah yang membuat Kyuhyun merasa terancam. Logikanya seperti ini, jika input di masukkan kemudian akan di proses setelah itu ia akan memperoleh hasil melalui output tapi tetap saja antara input dan output membutuhkan waktu, meskipun itu adalah dalam hitungan mikro second.
Ryeowook seperti dewa. Komputer tercanggih yaitu otak manusia, ia mengoptimalkan kerja sel otaknya lebih dari kebanyakan orang. Mungkin lebih hebat dari Einstein, dan itu membuat Kyuhyun takut. Ryeowook mungkin bukan seperti Einstein ataupun Newton yang memiliki imajinasi yang tinggi dan menemukan sesuatu yang berbahaya seperti gaya peluru atau energy yang berbanding lurus dengan massa dan kuadrat kecepatan cahaya, tapi lebih dari itu Ryeowook membuatnya seperti Fourier, menemukan hitungan kemungkinan sampai bilangan imajiner.
Sementara Hyukjae.
Dia juga mengerikan, Kyuhyun takut otaknya diledakkan oleh lelaki bertampang manis dan bertubuh kurus itu. Ia tak bisa membela diri, Kyuhyun bukan apa apa tanpa robot robot dan komputernya. Jika di misalkan mungkin Kyuhyun itu seperti plankton di serial Spongebob yang akan selalu bersama dengan istri komputernya.
Dan hanya Kibum penyelamatnya.
Teman lamanya di sebuah taman kanak kanak. Setidaknya Kibum mengerti dirinya karena mereka pernah menggambar matahari diantara dua gunung. Kyuhyun itu diam diam adalah pengagum seorang Kim Kibum atau Bryan. Alasannya, karena temannya itu tidak punya rasa takut dan lebih memilih menutup mulut ketika tidak senang.
"Wajahmu pucat" Kibum tidak sedang mengkhawatirkannya, hanya saja Kibum sadar kalau kulit Kyuhyun itu pucat tapi tak sepucat sekarang ini. "Kau jahat meninggalkanku dengan dua orang pembunuh" Kyuhyun suka mengerucutkan bibirnya. Setidaknya banyak yang bilang ia lucu ketika seperti itu.
"Bantu aku memeriksa Tao, sepertinya ada keanehan pada dirinya" Kibum menurunkan Tao dari kepalanya, memberikannya pada Kyuhyun.
"Keanehan? Apa sensornya rusak?"
"Aku tidak yakin" Kibum menyuruh Tao berbaring di samping Donghae. Kucing itu menurut dan kemudian berubah menjadi bentuk manusianya. Hyukjae melihat tingkah kedua bocah ajaib itu, seolah mereka sedang bermain menjadi dua ilmuwan. Ryeowook sendiri lebih memilih menatap keluar jendela, diluar sudah mulai gelap dan sebentar lagi Bogota akan mengalami krisis pemerintahan.
"Hujan" Kata Ryeowook.
Dan tak butuh waktu lama hujan itu sungguh turun membasahi bumi Bogota. Banyak orang orang yang kecewa di sana, menangis karena kehilangan presiden mereka. Tapi dunia lebih membutuhkan Siwon, bukan hanya Columbia saja. "Maafkan aku" dan sejenak seluruh perhatian seluruh mahluk hidup di ruangan itu tertuju pada Ryeowook yang sedang bermonolog. Dia meminta maaf, pada siapa?
Hujan?
Ataukah pada jendela?
Dan itu konyol.
"Bumbum" Kyuhyun kembali fokus pada Tao, ia mulai memasuki system yang tertanam pada Tao. Tidak sulit karena Kibum memberikan akses padanya dan ia mulai memasukkan virus ke dalam system itu dalam bentuk spyware. "Aku tidak menemukan kesalahan pada systemnya"
"Lalu?" Kibum menaikkan alisnya, ia adalah seorang ilmuwan yang lebih pada biological dan reaksi bukan mechanical atau aksi seperti Kyuhyun. "Tao" Kibum menyentuh dahi Tao, dia terkadang takut jika kucingnya itu meninggalkannya. Rasanya kehilangan itu menyakitkan.
"Bryan" Tao menyahut.
Kibum bertatapan dengan Kyuhyun. Apa dia tak salah dengar tadi, Tao baru saja memanggil nama resmi Kibum. "Bryan"
"Bryan"
"Bryan"
Suara itu terus dihasilkan oleh Tao yang masih terpejam. Tubuh itu mengejang, Kibum dan Kyuhyun menatap tak percaya dengan yang terjadi pada Tao—cyborg biologis tersebut sepertinya baru saja mendapatkan virus yang mengerikan yang menyerang sebuah system yang bahkan Kibum sebagai penciptanya tak tahu dimana.
"BRYAN!" Tao berteriak. Matanya yang tertutup, terbuka begitu saja.
"Edison, menurutmu apakah aku layak hidup di dunia ini?"
"Aku hidup hanya demi Tao dan kini Tao meninggalkanku, menurutmu apakah aku harus mengalih fungsikan alasanku hidup padamu?"
"Aku tidak menangis. Aku hanya menangis untuk mempertahankan hidup tapi di bagian ini sakit"
"Aku bukan anak kecil"
"Aku Bryan Trevor Kim, di darahku—"
"BRYAN!" dan entah kenapa Donghae terlonjak, berteriak seperti yang dilakukan oleh Tao. Matanya terbuka dan mulutnya menganga lebar.
"TUTUP TELINGA KALIAN! MENJAUH DARI JENDELA!" teriak Kibum ketika ia merasakan akan ada hal tidak baik karena Donghae.
PRAAAANGGGGGG
Kaca jendela itu pecah, benda benda di sekitar mereka bergetar. Beruntung Hyukjae memiliki reflek yang bagus, ia menarik tubuh mungil Ryeowook, mengukungnya dan melindunginya dari benda benda serpihan kaca bahkan gadget Kyuhyun retak karenanya. Kyuhyun berusaha menutup telinganya, kepalanya terasa berdenyut dan perutnya mual.
Kibum menarik Kyuhyun ke sudut ruangan, mencoba melindungi teman lamanya itu. "AKU AKAN MEMBUNUHNYA!" Hyukjae meraih FN 57 nya, mencoba menodongkannya pada Donghae. "Jangan bertindak ceroboh!" teriak Kyuhyun tapi ia memuntahkan sarapan paginya kemudian. Ia tak bisa bertahan.
"Jika kau menembaknya, kau akan membunuh kita semua Hyukjae!" Kibumlah yang berbicara kali ini. Ia juga merasakan pusing menderanya tapi sepertinya tidak sehebat Kyuhyun dan Ryeowook. Kibum mencoba meraih pemancar yang ia simpan di bawah ranjang. Ia mengutak atik IPAD Kyuhyun yang sudah retak layarnya tapi masih bisa berfungsi. Dan ia mencoba mengirim sinyal sinyal yang ia yakini bisa membuat Donghae tenang.
Satu menit lewat beberapa detik. Kibum berhasil, dan Ryeowook memuntahkan sarapannya juga di tempat itu. Hyukjae memegangi perutnya dan ia berlari ke dalam toilet di dalam kamar tersebut, menuntaskan hasrat mualnya di sana.
"Mereka membuat senjata biologis yang mengerikan" Kibum menghela nafasnya. Ia bersyukur tidak ada Heechul di sini. "Medan gelombang dengan frekuensi tinggi, benar benar akan membunuh ribuan orang dalam waktu kurang dari lima menit dalam radius tertentu" Kyuhyun menyandarkan punggungnya di dinding. Ia merasa sangat lemas sekarang.
Kibum menghampiri Donghae, android berbentuk manusia itu sudah kembali tertidur seperti semula. "Lebih baik kita menghancurkannya sebelum dia menjadi masalah" Ryeowook memberikan usul, wajahnya menjadi sangat pucat.
"Tidak, kita akan memakainya." Kibum berucap dan Hyukjae telah keluar dari dalam kamar mandi sambil memegangi perutnya. "Kita juga membutuhkan senjata"
Kibum memutar lagu Mozart Symphony #40 dalam G Minor, K 550, Molto Allegro. Membuat semua terbuai dalam keindahan music classic yang cukup lama sudah tak terdengar. "Kalian akan lebih baik setelah ini" ucap Kibum.
Ryeowook menatap Kibum yang memilih keluar dari ruangan itu. Ia mungkin kembali ke kamarnya di sebelah ruangan tersebut. "Siapa kau sebenarnya?" itulah yang ada di batin si jenius Ryeowook.
UNNAME
Zhoumi mulai menjahit luka di kepala Siwon. "Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit" ujar Yesung melihat layar smartphonenya yang menampilkan GPS. "Perlambat sedikit, aku hampir selesai" sahut Zhoumi, menarik benang dan mulai menyatukan daging yang terbuka itu dengan jarum dan kembali menarik benangnya.
Leeteuk meringis. Ia merasa tidak kuat melihat kerja Zhoumi dan sepertinya ia bersyukur karena ia tak pernah kesasar di fakultas kedokteran ketika ia kuliah dulu. "Gunting bagian sini Heechul!" perintah Zhoumi dan Heechul dengan keberanian yang seadanya menurutinya.
"Berikan aku obat itu!" ucap Zhoumi.
Kali ini mereka akan benar menghentikan denyut jantung Siwon. Membunuh lelaki itu dan membuat sejarah baru Kolombia. "Aku berharap dokter dokter di rumah sakit Bogota itu tidak terlalu pintar dan mengetahui trik kita" Hangeng memperhatikan denyut jantung Siwon yang tertera pada layar monitor di hadapannya.
Zhoumi memulai meraba daerah leher Siwon, ia menghunuskan jarum suntik itu pada vena yang berada di leher Siwon. Sedikit demi sedikit dia mendorong jarum suntiknya, memperhatikan jarum jamnya di tangannya. Ia mulai menyuntik. Ia menarik jarumnya kemudian setelah menyuntik habis seluruh cairan itu.
"Pegangi dia!" perintah Zhoumi dan benar saja. Tubuh Siwon menegang. Tubuh itu terlonjak seperti terkena sengatan listrik bertegangan tinggi. Alat pendeteksi denyut jantung mulai menunjukkan gelombang yang tak stabil, menunjukkan reaksi obat itu yang terbilang berbahaya.
Biiibbiiiip
Biip biiiiiiiiippppp
Bibibibiiiip
Suara alat itu semakin nyaring ketika tubuh Siwon mulai menenang. Dan—
Biiiiiiiiiiiiiippppp
Leeteuk menatap tak percaya, ia mendekatkan jarinya ke hidung Siwon. Yang benar saja, president itu sungguh tak bernafas lagi. "Apa ia sudah mati?" Tanya Leeteuk.
Zhoumi mengangguk saja dengan senyuman di bibirnya. Ia menyeka keringatnya dan ia menutup wajah Siwon dengan kain putih. "Kita sampai, bersiaplah!" ucap Yesung.
Pintu ambulance itu terbuka. Terlihat banyak dokter yang menyambut mereka semua dan beberapa wartawan. "Kita kehilangannya di tengah perjalanan" Heechul, perawat wanita yang cantik berbicara. Membuat seluruh dokter mulai panik. Hangeng menurunkan jenazah Siwon dan para dokter itu langsung memasukkannya ke Unit Gawat Darurat, mencoba memompa jantungnya.
"Satu, dua, tiga"
Tubuh Siwon terlonjak saat pengejut jantung itu menyentuh permukaan kulitnya. "Yang paling tertinggi!" perintah salah satu dokter lain.
"Sekali lagi!"
"Satu, dua, tiga!"
Kembali tubuh itu terlonjak namun masih garis lurus yang ditunjukkan oleh layar. "Kita sudah kehilangan dia"
Dan rakyat Kolombia berduka.
UNNAME
"Leeteuukkkk~~" suara rengekkan Kyuhyun terdengar si seberang line sana. Leeteuk menjauhkan smartphonenya dari telinganya. "Kau kenapa Kyuhyun?" tanyanya.
"Tao rusak dan kemudian Donghae menghancurkan ruangan ini. Aku, Hyukjae dan Ryeowook sekarat" terdengar seperti melebih lebihkan sebenarnya.
"Bagaimana dengan Kibum?"
"Bum bum baik baik saja, sepertinya ia memiliki telinga yang tuli sehingga frekuensi tinggi itu tidak mengenainya sama sekali" sebenarnya Kyuhyun itu terlalu polos, apa hubungan telinga yang tuli dengan terkena frekuensi tinggi.
"Sepertinya kita harus segera kembali, ada masalah di hotel" ucap Leeteuk mengkomandoi.
"Ada apa?" Sungminlah yang bertanya pertama kali. Leeteuk tersenyum, meyakinkan bahwa hanya ada masalah pada si manja mereka.
"Kalian keluarlah, kami akan ke kamar mayat dahulu" kata Yesung menarik Hangeng.
UNNAME
Kibum menatap pantulan dirinya di cermin di hadapannya. Dia itu pendek. Ia harus mengakui itu. Dia juga tidak mirip dengan ayah dan ibunya yang sepertinya ia juga lupa wujudnya. Ia meringis, melihat kedua telapak tangannya.
Ia mendudukkan dirinya, mulai mendesis. Cermin, ya waktu itu ia memakai pecahan cermin.
Ia membunuh kedua orang tuanya. Kibum kecil membunuh dua orang dewasa yang selalu berisik itu dengan pecahan kaca dari cermin milik ibunya yang dilempar oleh sang ayah.
Kibum kembali menatap tangannya. "Bukan aku yang membunuh mereka, Taolah yang membunuh mereka" bisiknya.
"Aku tidak makan permen, Taolah yang memakannya" bisiknya dan kemudian dia menatap cermin. Seseorang yang seperti dirinya, duduk bersila seperti dirinya di depan sana. Dia menatap ke dalam bola mata hitam itu dan pantulan dirinya yang ia anggap orang lain itu balas menatapnya.
"Aku tidak membunuh mereka" bisik Kibum.
"Akulah yang membunuhnya" ia melihat dirinya sendiri menyeringai. Begitu mengerikan.
"SIMPAN ITU, SON!" itu ayah Kibum, menyeret kakinya menjauhi sang anak yang sebelumnya sudah menggorok leher istrinya dengan pecahan kaca di tangannya. Kibum masih menunduk, melangkahkan kakinya tanpa ragu menghadap sang ayah.
"Kalian berisik, sangat berisik" racaunya dan dia mendongak, menunjukkan wajahnya yang bersimbah darah pada sang ayah. "Bryan muak, daddy." Ujarnya kemudian.
Ayah Kibum mencoba meraih benda apa saja yang bisa digunakannya untuk melempari sang anak. Mencoba menjauhkan bocah kecil yang berlagak seperti pembunuh bayaran. "Aku belajar banyak dari sebuah film, asalkan kau tidak bernafas maka kau takkan berisik lagi"
Wajah lelaki itu semakin memucat. Ada apa dengan anaknya atau dialah yang tak pernah memantau pertumbuhan sang anak. Benar. Ia sungguh tak pernah tahu apa yang terjadi pada Kibum, begitu juga dengan istrinya.
Voice mail di telpon rumah mereka berbunyi dan hologram berbentuk kepala sekolah tempat Kibum menuntut ilmu terlihat. "Mr and Mrs Kim, I don't know how can I explain this problem for you. There is something wrong about your son."
Ayah Kibum merutuki dirinya sendiri. Dia terlalu sibuk dengan perkelahiannya dengan almarhum istrinya dan pekerjaannya sebagai seorang ilmuwan. "Can you come to school, we must talk about Bryan? I will wait you in this afternoon. See you soon, Mr and Mrs Kim" masih ada panggilan kedua.
"Bryan need a psychologist, and we feel sorry, Bryan must out from our school. He so dangerous."
"Kibum, maafkan daddy!" dan Profesor James Kim harus mengakui ia menyesal.
"Kalian harusnya bisa menutup mulut kalian, aku tidak bisa belajar. Daddy bilang aku harus selalu mendapat nilai lebih tinggi dari teman temanku"
"Kibum!"
"Kalian tidak boleh melempar barang sembarangan, Mom bilang rumah kita tidak boleh kotor"
"Bryan please" Kibum melangkah semakin dekat.
Professor James berlari mengambil pistol di dalam laci dapurnya. Ia menodongkannya pada Kibum, "Please Son! Stop!"
"Jika kau membunuhku, kau juga membunuh ibu dan penelitianmu akan di tutup"
Terdiam. Bagaimana Kibum bisa mengatahui hal itu. "Kau akan hancur Daddy. Kau akan sendirian dan kau akan menyesal"
Tubuh Professor James bergetar. Ingatan ingatan masa lalu kembali menghantuinya, tentang ayahnya yang memiliki ekspresi yang sama dengan anaknya sekarang ini. "A—" bahkan suaranya terdengar tercekat. Seolah ada yang mencekiknya hanya karena menatap mata sekelam malam milik sang anak.
"Aku akan membantumu, benar turunkan pistol itu. Ikuti petunjukku dan kau akan bahagia. Kisah tak sempurna kita sebagai keluarga akan berakhir dengan happy ending, daddy"
Professor James tak mengerti, ia terlalu takut hingga tubuhnya seolah bergerak sendiri. Anaknya yang polos di hadapannya itu berubah seperti Thanatos di matanya. "Arahkan pistol itu ke kepalamu, Dad. Aku janji kau akan mendapatkan akhir yang paling bahagia!"
Tangan Professor James bahkan kini sungguh mengarahkan moncong pistol itu ke dahinya. "Benar. Seperti itu. Tarik pelatuknya Daddy. Kau akan mendapatkan kebahagian"
DOORR
"In the hell" Kibum terkikik. Ia kemudian meraih Tao, kucing hitam itu hanya diam menatapnya dari atas sofa ruang tamunya. "Tao~ menurutmu neraka itu ada atau tidak?"
Kibum menaikkan Tao ke atas kepalanya. Ia kemudian meraih telpon rumahnya, hingga memunculkan hologram polisi. "Mr Police, My Mom and Dad have die. What I must doing now?"
"Hi, Kid! Don't make a joke with us"
"I don't. You can check that. Tao kill them."
Polisi itu kemudian memberikan instruksi agar Kibum bersembunyi sampai mereka datang. Kibum mengangguk mengerti dan mendengarkannya dengan seksama. Ia kemudian bersembunyi di dalam lemari pakaiannya dan menunggu polisi polisi itu datang. "Tao is naughty cat" ia memarahi kucingnya.
UNNAME
"Bagaimana?" Hangeng bertanya dari lantai teratas rumah sakit. Ia sedang memegangi tali tambang yang terikat di tubuh Yesung hingga lelaki itu bergelantungan di gedung rumah sakit tersebut. "Hei, kamar mayatnya di lantai berapa?" Yesung jadi ngeri sendiri saat melihat kebawah. Terlalu tinggi dan ia yakin ia akan mati jika sampai ia terjatuh.
"Disana!" seru Hangeng saat Yesung tepat berada di depan sebuah jendela kaca. "Kau tidak salah perhitungan kan?"
"Tentu saja tidak" Hangeng menghela nafas. Yesung itu tipe yang cerewet dan bekerja dengannya terkadang membuat lelah sendiri karena terlalu banyak peyakinan kata.
Yesung mulai berayun dan Hangeng sudah siap melonggarkan talinya dari katrol yang mereka pasang di atas atap itu. "Satu, dua, tiga. HAAP" PRAAANGGGG
Dan Yesung sukses menembus kaca ruangan itu, ia membenarkan letak topinya dan orang orang yang mungkin di pilih mengamankan ruangan tersebut mulai membuka pintu ruangan itu. Yesung cepat membuka satu per satu penutup wajah mayat yang di dekatnya. Ia menemukannya dan langsung menaikkan jenazah Siwon ke atas punggungnya. Ia berlari, ke luar jendela dan Hangeng segera menariknya.
Namun—
DUARRRRR
Ia melempar granat terlebih dahulu ke dalam ruang mayat tersebut.
"Entah kenapa sekarang aku merasa kita sangat tidak bermodal" ujar Hangeng membuka pengaman di pinggang Yesung.
"Maksudmu?"
"Biasanya, jika di novel action, akan ada helicopter yang akan menjemput kita. Kini, hah~ kita harus menuruni tangga darurat dengan kaki."
"Berhentilah mengeluh cengeng. Cepatlah turun atau kita tertangkap!"
UNNAME
"Allright kid, what's your name?" lelaki dengan hidung mancung dan kantung mata hitam menghampiri Kibum. Bocah kecil itu sedang bermain dengan kucing Persia hitamnya, saling berhadapan seolah mereka berbicara satu sama lain.
"Siapa yang kau maksud? Tao adalah kucing dan aku bukanlah anak kecil" sahut Kibum menjelaskan bahwa tiada satupun diantara ia dan Tao seorang bocah seperti yang disapa oleh lelaki itu sebelumnya.
Lelaki dengan jas putih khas dokter—Kibum menyimpulkan ia salah satu pekerja di rumah sakit mahal tempat ia dirawat itu. Kata para dokter sebelumnya, dia mengalami depresi karena kematian ayah dan ibunya, dan Kibum setuju saja. "Hmm, orang dewasa, boleh aku tahu siapa namamu?"
"Namaku Bryan Trevor Kim tapi keluargaku memanggilku Kibum, tapi khusus Tao memanggilku dengan miaw" psikiater muda itu menyimpulkan Kibum anak yang polos namun cerdas. Lelaki itu kemudian mengulurkan tangannya, mencoba mengajak berkenalan dan Kibum menyambutnya.
"Perkenalkan! Aku Edison Huang, Mr Bryan dan mulai hari ini aku akan menjadi patner kerjamu"
Kibum mengangguk angguk, dia pura pura mengerti saja. Dia kan tidak mau dikatai bodoh, tapi ia kurang mengerti. "Patner?"
"Ya, kita akan bekerja ditempat ini"
Edison menunjuk kamar bernuansa putih yang ditempati Kibum sekarang ini. Sebuah tempat di San Fransisco, di kamar 130 bangunan Dadelion, Langley Porter Psychiatric Hospital.
"Edison Huang" Kibum bergumam dan ia melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Ryeowook terlihat memasang wajah waspadanya ketika Kibum melewatinya, ada yang berbeda dan ada perasaan yang tak nyaman karena bocah itu. Kibum mengambil ranselnya yang terletak di dekat Kyuhyun duduk.
"Aku melewatkan sebuah informasi" Kyuhyun melirik Kibum yang kini sedang mengutak atik smartphonenya. "Maksudmu?"
"Kita akan bisa membangungkan Donghae. Manipulation Biological Cyborg Project, yang di resmikan empat tahun lalu tapi di tutup dua tahun setelah berdiri karena kematian Professor Lau dari Harvard University, sang pencetus ide"
Hening—
"Jika kita mendapatkan formulanya, seharusnya kita bisa memperbaiki Donghae" Kyuhyun tersentak. "Tapi siapa yang memiliki informasi itu? Bukankah professor Lau sudah meninggal?"
Kibum menunjukkan IPADnya, dan Kyuhyun mengerti bahwa ia harus mencari informasi terkait dengan Professor Lau tersebut meski harus menembus jaringan CIA. "He have a son" Hyukjae menaikkan sebelah alisnya menatap tak mengerti Kyuhyun yang bergumam takjub.
"Hubungi Leeteuk!"
"Tokidoki kapten!"
UNNAME
Baru saja Leeteuk menerima telpon dari Kyuhyun, mereka akan ke Inggris dan artinya mereka harus secepatnya menyelesaikan masalah yang terjadi di sini. Suara berisik dari pipa pembuangan terdengar, Sungmin menengadah, berharap sampah yang kali ini terbuang adalah jasad sang president yang baru saja mereka bunuh beberapa saat lalu.
Yang benar saja—
Jasad pucat itu benar mendarat di tumpukan kantong kantong sampah—tempat limbah rumah sakit besar yang mereka ledakkan baru baru saja. Tak lama kemudian Yesung dan Hangeng menyusul. "Aku bersyukur kita mendarat di tumpukan sampah rumah sakit, setidaknya baunya tidak terlalu busuk" komentar Yesung.
Heechul hanya memutar bola matanya bosan, kadang ia juga ingin menyumpal mulut Yesung yang terbilang suka protes tentang hal hal yang tidak perlu sebenarnya. "Bagaimana keadaan di luar sana?" Leeteuk bertanya pada Heechul.
"Sangat berisik, penjagaan menjadi sangat ketat. Itu artinya kita akan di periksa di jarak delapan ratus meter dari sini" ucap Heechul setelah memanfaatkan pendengaran supernya. Leeteuk mengangguk mengerti, ia melirik ke Sungmin dan Sungmin dengan sigap langsung menghubungi Kyuhyun. Mereka perlu jalan keluar dan hanya bocah itu yang punya.
"Melangkahlah lima langkah dari tempatmu berdiri sekarang Vincent" itu suara Kyuhyun dan sepertinya Sungmin mengerti kalau Kyuhyun sedang mengawasi mereka dari salah satu satelit diluar bumi sana yang ia luncurkan secara pribadi. "Tepat ke arah depan"
"Satu"
.
.
"Lima" Sungmin mengikutinya. Kenapa ia merasa mereka sedang mengikuti acara memburu harta karun. Harta karun di Bogota terdengar sangat aneh sebenarnya.
"Ehem—" Sungmin berdehem, mengingatkan pada Kyuhyun bahwa ia telah tepat berdiri di titik yang diminta oleh Kyuhyun.
"I watch you! Lihatlah ke bawah, di sana ada terowongan menuju saluran bawah tanah. Kalian lewat sana, aku akan memandu. Gunakan walkie talkie! Sinyal akan terasa sedikit putus putus"
"Hei Hangeng! Bantu aku!" panggil Sungmin, menunjuk besi berbentuk lingkaran yang terlihat cukup berat. Hangeng segera menghampiri Sungmin. "Dalam hitungan ketiga" ucap Hangeng memberikan aba aba agar mereka mengangkat itu bersama sama.
PLAANG—
Terbuka dan tangga menuju kebawah terlihat. "Kalian turunlah duluan!" Kata Yesung, bagaimanapun dirinyalah yang menggendong Siwon.
Hangenglah yang pertama turun, dengan bantuan senter kecil ia melihat jalan tangga dan memberikan senter itu pada Heechul. Mengerti, Heechul mencoba menerangi anak tangga besi yang di pijaki Hangeng. "Apakah akan ada buaya di sini?" Tanya Hangeng—sontak membuat Leeteuk menaikkan sebelah alisnya.
Yesung memutar bola matanya dan Sungmin berdecak. "Jangan konyol! Sekali lagi kau bertanya yang aneh aneh, ku tendang kau agar cepat sampai ke dasar!" decak Heechul.
"Iya iya" Hangeng menyerah. Jika ia berharap semua kisah mereka akan terlihat keren dan penuh aksi ekstrem seperti di imajinisinya sepertinya tidak harus sekarang. Ia tak ingin di tendang oleh Heechul dan terbawa aliran arus air pembuangan seperti tikus kotor.
"Aman!" teriak Hangeng dan Zhoumi ikut turun mengikuti jejak Hangeng begitu pula yang lainnya.
.
.
"Disini gelap sekali", komentar Leeteuk menyorotkan senter yang di pegangnya ke seluruh penjuru terowongan di sekelilingnya. "Dan juga bau" sambung Heechul memasang tampang jijiknya.
"Bocah Setan disini!" –Kyuhyun mulai lagi dari seberang line sana. Leeteuk gelagapan meraih walkie talkie di pinggangnya. Dia cepat berpikir, apa panggilan untuknya, "Leader Angel disini"
"AKHIRNYA!" Teriak Kyuhyun bahagia. Ada yang mengerti dirinya juga, pada akhirnya. "Berjalanlah ke arah kiri, perhatikan langkah kalian! Akan banyak kecoa dan tikus" jelas Kyuhyun.
"Apakah ada zombie juga?"
"Hangeng!" Sungmin ikut ambil suara ketika ia mulai jengah dengan ocehan tidak penting Hangeng yang bertanya hal hal tidak masuk akal.
"Kurasa tidak" sahut Kyuhyun. Suaranya terdengar ragu karena dia sendiri tidak yakin, yang seperti itu ada atau tidak. Tapi ia yakin bisa dibuat.
UNNAME
Heechul menarik nafas kuat kuat, akhirnya ia bisa mencium aroma udara segar setelah hampir dua jam terperangkap di dalam terowongan pembuangan bawah tanah Bogota. Gendongan Siwon kini berpindah pada Sungmin, pria mungil itu meskipun memiliki tubuh yang pendek namun memiliki tenaga yang kuat.
"Aku tidak menyangka kita sudah berada di pintu belakang penginapan, hebat sekali" sedikit takjub sebenarnya. Tapi ini adalah hal yang biasa melihat kemampuan seorang Kyuhyun. Zhoumi segera mengenyahkan pikirannya tentang ketidak berdayaan orang orang ini. Mereka kumpulan manusia manusia yang paling hebat di bidangnya.
Mereka masuk dari pintu belakang, merasa sedikit bersyukur karena sang pemilik penginapan sepertinya terlalu sibuk dengan pemberitaan pengeboman kamar mayat tempat jasad president mereka berada. Dia terlihat berduka dan respon respon layaknya seorang warga Negara yang baik terdengar. Dia memaki maki para pengawal presiden yang dinilai tidak layak melindungi presiden mereka.
Sesampainya di kamar penginapan, sedikit terkejut tapi sepertinya bukan masalah lagi karena Kyuhyun sudah menginformasikan sebelumnya. Tidak disangka saja kalau si bocah itu tidak dalam mode melebih lebihkan seperti biasanya. Ini benar benar kacau dan Zhoumi harus segera mendapatkan tempat untuk menyadarkan Siwon.
"Di kamar sebelah saja" Yesung menunjuk kamar lain yang mereka sewa dan Sungmin segera mengangkat tubuh Siwon ke sana.
"Kita akan kemana setelah ini?" Leeteuk melirik ke arah Kibum yang mencoba mengutak atik laptopnya. Menggerakkan tangan Tao secara manual dengan perintah perintah dari sana. "London" jawabnya tanpa melirik ke arah Leeteuk.
"Kalian urus itu semua, aku dan Heechul akan mengurus check out kita dari sini!" Leeteuk berbicara dan Kyuhyun beserta Kibum mulai sibuk dengan gadget mereka—mengganti satu per satu identitas diantara mereka. Yang paling terpenting adalah bagaimana caranya agar seorang Andrew, presiden Colombia itu bisa lolos dari keamanan bandara dan bisa mereka bawa ke London.
TBC
Hah~ maafkan ka atas keterlambatan ini TnT
Bukannya ka bermaksud telat, hanya saja memang tidak sempat menulis dikarenakan ka juga harus menulis jurnal untuk laboratorium dan lain sebagainya. Jadi anak kuliahan memang berat huks huks…
Nah nah… ka gak akan janji cepat update, tapi ka akan selesaikan semua FF ka kok dan yang pasti buat FF baru juga.
Maaf juga untuk tidak bisa membalas review satu per satu reader ka yang sangat keren, dikarenakan anak unperfect team belakangan telah hilang dari peredaran dan menjadi semu xD hohohohoho…
Baiklah baiklah, akhir kata mohon semangat berupa review'an untuk kami semua. Diterima Kritik dan saran yang masuk logika. Bashing dan blame yang tidak penting di singkirkan saja ^^
