Disclaimer: Super Junior hanya milik mereka sendiri, SMent, dan Tuhan semata.

Chara: Cho Kyuhyun, other members of Super Junior and more (SMEnt's Artist)

Genre: Friendship, Romance

Rated: T+

Summary: Cho Kyuhyun, murid pindahan yang pintar dan pendiam, dimana di sekolah barunya ia mempunyai banyak masalah dengan para geng yankee (berandalan). First fic about Cho Kyuhyun ^^. Don't like, don't read, ya.

Warning: Abal, Typo(s), Maksa, OOC, Penuh dengan perkelahian dan kekerasan, AU, Tokoh bisa bertambah di setiap chapternya.

Author's list songs: Qing Tian Wa Wa (Sunny Doll) – Secret OST, Keep Your Head Down – DBSK, Love is – 4Men (Oh! My Lady OST), Always – 49 Days OST

Enjoy this! ^^

.

.

Me vs Yankee

.

.

Chapter 9: Prince of Aegyo, Lee Sungmin

Cho Kyuhyun's POV

Neul Param High School

Pagi kembali turun menjelang setelah bulan bersembunyi. Bintang-bintang perlahan menghilang digantikan langit yang mulai berwarna terang, namun mendung menyelimuti. Burung-burung bersiul ceria, menyambut hari baru. Matahari dengan malu-malu muncul dibalik mendung. Udara sejuk dan sedikit dingin membalut kulit.

Seperti biasa, aku kembali pergi ke sekolah untuk belajar, tentunya. Udara pagi kali ini sedikit dingin mengingat bulan ini sudah memasukki musim gugur. Bisa kulihat daun-daun pohon bunga sakura mulai berguguran. Padahal kupikir, ini masih hari ke lima semenjak musim gugur datang.

Aku tersenyum hanga pada teman-teman yang menyapaku. Sesekali aku juga melambaikan tangan pada mereka. Entah kenapa, sedikit demi sedikit kecanggunganku terhadap teman-teman baru perlahan memudar setelah sebulan ini aku mengikuti kegiatan belajar-mengajar di sekolah ini. Aku tahu waktu itu masih singkat untukku membiasakan diri di sekolah baruku ini. Setelah menaruh tasku di kelas, sudah menjadi kebiasaanku untuk berdiri di depan jendela koridor yang berhadapan dengan pintu kelasku. Aku suka berdiam di sini sambil menunggu bel masuk kelas berdering. Memandangi murid-murid berdatangan dari lantai tiga, menikmati angin pagi yang semilir berhembus dan pemandangan di luar sekolah yang memanjakan mata. Aku hanya bisa mendesah kagum melihatnya.

"Ne, Kyuhyunnie!" Sapa Eunhyuk yang datang bersama Donghae hyung sambil melambaikan tangan ke arahku. Aku mengalihkan pandanganku dari apa yang kulihat menuju dua sahabatku yang tengah menghampiriku itu. Dengan segera Eunhyuk langsung menggabruk punggungku hingga tubuhku tersentak ke depan.

"Yang lain masih belum datang?" Tanya Donghae hyung yang berdiri di sisiku sambil menumpukkan tangannya di kusen jendela. Aku hanya menggeleng sebagai jawaban. Aku pun menolehkan kepalaku kembali ke depan.

"Kyunnie, luka-lukamu belum sembuh-sembuh juga, he?" Tanya Eunhyuk melihat dua plester masih bertengger di wajahku. Satu di pipiku dan satu lagi—walaupun kecil—di sudut bibirku. Oke, luka ini—luka yang kudapatkan dari pertarunganku dengan geng yankee 'Monalisa' tempo hari. Luka goresan yang lumayan dalam dan bibirku yang sempat berdarah belum juga kering. Masih bersyukur aku melihat luka-luka lebamku sudah mulai memudar.

"Aah... gwaenchana. Beberapa hari lagi juga sembuh..." Kataku.

"Aiish... benar-benar mereka itu!" Geram Donghae sambil meremat-remat telapak tangannya mengingat perbuatan geng 'Monalisa' beberapa waktu lalu. Aku hanya bisa terkekeh melihat ekspresi Donghae hyung.

"Donghae hyung..." Eunhyuk mencoba meredam emosi kakak kelasnya itu. Mengibaskan tangannya di depan wajah Donghae.

"Hyung, kuperhatikan kau sekarang dekat sekali dengan Eunhyuk, ya?" Tanyaku setengah menggoda. Mendengar pertanyaaku, Eunhyuk dan Donghae hyung terlihat salah tingkah. Melihat mereka kelabakan, aku hanya bisa tertawa renyah.

"Ah! Annyeong Kyu-ah..." Aku menolehkan kepalaku mendengar suara Ryeowook. Ia segera berlari menyongsongku, diikuti Shindong yang terlihat tergopoh-gopoh. Aku hanya bisa melemparkan senyum lebarku kepada mereka berdua seraya membalas lambaian tangan Ryeowook. Mereka berdua pun kini bergabung bersamaku, Eunhyuk dan Donghae hyung, berbagi cerita baru di hari yang baru. Saling melempar senyum dan tertawa satu sama lain. Entah kenapa... aku baru menyadari betapa menyenangkannya kebersamaan seperti ini.

End of Cho Kyuhyun's POV

.

.

Normal POV

Bel masuk kelas belum berbunyi sama sekali, sementara di luar sana cuaca mulai mendung dan hujan turun rintik-rintik. Udara yang tadinya sejuk berubah jadi dingin. Ah... hujan di awal musim gugur. Sungguh menyentuh hati. Murid-murid yang berdatagan buru-buru masuk ke gedung sekolah dengan membawa payung beraneka warna. Bisa didengar keluh kesah mereka kaena seragamnya basah.

Victoria, Luna dan Sulli terlihat baru saja memasukki pintu gedung sekolah. Di beberapa bagian seragamnya yang serba hitam ala gothic itu terlihat basah. Dengan sedikit kesal mereka mengusap seragam mereka yang basah dengan tangan.

"Aaiish... kenapa pagi-pagi harus hujan begini, sih?" Keluh Luna yang tak mendapat tanggapan dari dua temannya. Setelah meletakkan sepatu di loker dan berganti sepatu khusus di sekolah, mereka bertiga pun bermaksud untuk cepat-cepat ke kelas. Tapi di tengah jalan, ia sudah dihadang sebuah kaki jenjang yang terbungkus celana panjang hitam. Sepatu yang bertengger di telapak kakinya sedikit tertekuk di bagian belakanganya. Victoria, Luna dan Sulli lantas tersentak melihat ada kaki di depan mereka. Mereka pun menengadahkan kepalanya, melihat sosok si pemilik kaki. Mengetahui si pemilik kaki, ketiga gadis yang menggawangi geng 'Monalisa' tersebut lantas berubah tegang. Perlahan mereka menelan ludah dengan susah payah.

"L-Leeteuk sunbae..." Ucap Victoria tertahan. Bibirnya yang sedikit biru karena kedinginan bergetar samar. Orang yang dipanggil Leeteuk itu pun menoleh. Ia bersandar di tembok dan melirik ketiga adik kelasnya itu dengan tajam. Mulutnya meniup permen karet hingga menggelembung besar, dan sesaat kemudian pecah. Leeteuk mulai mengunyahnya lagi dengan cuek. Ia menghunjamkan ujung payung transparan yang dipegangnya ke lantai marmer dengan keras.

TOOKK!

Victoria, Luna dan Sulli tersentak mendengar ketokkan payung itu. Mereka lantas menunduk. Aish... Leeteuk pasti marah karena tempo hari mereka tak berhasil menghabisi Cho Kyuhyun. Leeteuk menenggerkan payung transparannya di atas pundak. Wajahnya yang angkuh dan sengak membuat ketiga 'Monalisa' makin menekuk wajahnya.

"Payah." Cacinya singkat, padat dan dingin. Perkataannya begitu mengena di hati ketiga 'Monalisa'. Rasanya seperti teriris. Dengan sekali sentakan, Leeteuk menendang salah satu dari ketiga gadis itu.

BUAAGH!

"Sulli-ah!" Oke, ternyata yang mendapat hadiah berupa tendangan adalah Sulli. Victoria dan Luna lantas kelabakan melihat Sulli terjungkal ke belakang akibat tendangan Leeteuk. Murid-murid di sekitar mulai tertarik dengan apa yang terjadi akhirnya bergerombol—dengan menjaga jarak mengingat tontonan yang mereka lihat menyeret tokoh-tokoh yankee berbahaya. Leeteuk terlihat tak peduli dan menggelembungkan permen karetnya lagi. Setelah pecah, ia mengunyahnya sebetar dan membuangnya sembarangan.

"Puh!" Leeteuk meludahkan permen karet yang ia makan. "Tidak berguna."

Victoria dan Luna membantu Sulli berdiri. Mereka melihat ke arah Leeteuk dengan tatapan tak terima, tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa melihat sang senior lebih kuat sepuluh kali lipat dari mereka.

"Kalian bertiga... gagal menjadi the next 'Black Dragon'." Ucapnya. Leeteuk terkekeh. "Kalian tidak masuk. Chukkae..." Ejeknya. Leeteuk pun berlalu sambil tertawa keras. Tawanya begitu membuat ngilu hati. Tawa yang mengerikan.

Victoria, Luna dan Sulli hanya memandang punggung Leeteuk yang mulai menjauh dengan tatapan pedih. Mereka begitu kecewa dan sedih dengan ucapan kakak kelasnya yang begitu dingin itu. Benar-benar tak berperasaan.

.

.

Cho Kyuhyun's POV

Di waktu istirahat, aku memutuskan untuk membeli sesuatu di kantin. Kali ini, aku tidak membawa bekal. Aku berjalan menyusuri koridor lantai pertama, melewati beberapa kantor—kantor kepala sekolah, kantor guru, tata usaha dan lain-lain. Beberapa kali aku berpapasan dengan guru-guru yang berseliweran. Aku hanya bisa membungkuk sopan. Aku mulai berjalan lagi dan langkahku terhenti di tengah jalan. Aku membulatkan mata ketika mendapati dua orang laki-laki berjalan berlawanan arah denganku.

"Ah! Kyuhyun-ah?" Suara bariton milik salah satu lelaki di depanku terdengar lembut di telingaku. Ya, suara itu milik Siwon hyung yang sekarang nampak terhenti di depanku. Ia terhenti sejenak sambil membawa map berwarna biru tua. Mata besarnya menatapku teduh. Aku sempat terpesona melihatnya siang ini.

'Uukh... jangan lihat wajahku seperti itu, Siwon hyung! Wajahku jadi memerah!' Gerutuku dalam hati sambil salah tingkah.

"Aah...!" Aku menoleh mendengar sebuah seruan. Aku pun menengadahkan kepalaku, mencari asal suara itu. Dan seteah beberapa saat, aku mendapati seorang lelaki berambut cokelat terang berdiri di samping Siwon hyung. Eeh? Lelaki itu, kan...

"K-kau..." Kataku tergagap sambil terbelalak. Telunjukku menunjuk samar tubuh mungilnya. Terlihat Siwon hyung terheran-heran melihat kami berdua yang saling tunjuk-menunjuk.

"Hee...? Kalian saling mengenal?" Tanya Siwon hyung.

"Tidak. Hanya saja... aku pernah bertemu dengannya dua hari yang lalu." Ucap lelaki yang ada di samping Siwon hyung itu.

Siwon menatap temannya itu setengah terbelalak. "Oke..." Desahnya. "Kalian sudah pernah bertemu, tapi belum mengetahui nama masing-masing, kan?" Siwon lalu menoleh. "Kyuhyun-ah, kenalkan. Ini teman sekelasku, namanya Lee Sungmin hyung. Sungmin hyung, ini adik kelasku—di temanku juga, namanya Cho Kyuhyun." Siwon hyung memperkenalkan lelaki itu padaku. Dengan canggung, aku pun membungkuk. Lee Sungmin? Jadi itu namanya?

"C-Cho Kyuhyun imnida..." Ucapku.

"Aah... jadi ini yang namanya Cho Kyuhyun? Lebih lucu dari yang kubayangkan!" Ucapnya antusias. Aku mengernyit.

'Si-siapa sebenarnya orang ini? Eh, tapi tadi Siwon hyung menyebutnya apa? 'hyung'?'

Lelaki bernama Lee Sungmin itu tiba-tiba terhenti dan sedikit terjengkit. "Aish, Siwon! Sudah berapa kali aku peringatkan, jangan memanggilku dengan embel-embel 'hyung'!" Gerutu lelaki bernama Lee Sungmin itu pada Siwon hyung. "Kita, kan sekelas!"

"Aa... tapi kau, kan lebih tua dariku, hyung..." Aku bisa melihat Sungmin hyung—begitu keputusanku untuk memanggilnya—mengerucutkan bibir kecilnya. Aku sedikit terjengkit melihat betapa aegyonya wajahnya ketika itu. Aku hanya bisa tersenyum kecil dan sedikit heran. Haah... mimpi apa aku belakangan ini hingga bertemu dengan lelaki macam dia. Dia begitu aegyo seperti anak kecil, tapi dia pintar beladiri dan terlihat jantan sekali ketika berkelahi. Tingkahnya benar-benar sulit dibaca. Aiish... bisa-bisa kau frustasi!

"Siwon-ssi?" Panggil seorang guru dari balik pintu ruang Wakil Kepala Sekolah. Guru itu lalu berlalu sambil mengangguk ke arah Sungmin hyung dan aku yang tadi sibuk berdua. Kami pun dengan canggung membalasnya.

"Ah! Ne." Jawab Siwon hyung. Ia menoleh ke arahku dan Sungmin hyung. "Aku masuk dulu. Aku harus menyerahkan dokumen ini pada wakil kepala sekolah." Katanya sembari berbisik. Sungmin hyung mengangguk, begitu juga aku. Sepeninggal Siwon hyung, kini tinggal aku dan Sungmin hyung di koridor. Sesekali aku melihat beberapa murid berlari menyusuri koridor ini. Entah mau kemana.

Suasana mendadak hening. Masing-masing dari kami berdua sibuk dengan pikiran sendiri. Sedikit canggung juga, sih. Aku mengerucutkan bibirku dan membalikkan tubuhku menghadap keluar jendela. Kutumpukkan kedua tanganku di kusen jendela. Angin semilir musim gugur berhembus lembut. Membelai kulitku yang tak tertutup oleh kain seragamku.

"Aku tak mengira bisa bertemu denganmu, Cho Kyuhyun." Tiba-Tiba Sungmin hyung sudah ada di sebelahku. Sempat terlonjak juga aku ketika mengetahuinya. Aku berusaha mengatur napasku agar kembali stabil.

"Aku juga tidak mengira bisa bertemu dengan Sungmin hyung. Siwon hyung belum pernah cerita sama sekali tentang dirimu." Ujarku—sedikit meniru pola kalimat hyung di sebelahku ini. Sungmin hyung hanya bisa terkekeh geli.

"Ah!" Pekiknya mengagetkanku. "Itu... luka-lukamu..." Ujarnya di akhir sambil memelas. Ia menunjuk dua luka di wajahku yang tertutup plester. "Apa masih sakit?" Aku menggeleng canggung.

"Tidak begitu." Jawabku. Ia mendesah.

"Aiish... mereka itu benar-benar!" Desis Sungmin hyung dan memukul kusen jendela dengan keras hingga menimbulkan bunyi. Astaga... jantungku hampir melompat, kau tahu? Orang ini benar-benar freak atau apa, sih?

"Aah... gwaenchana, hyung... luka ini juga sebentar lagi sembuh." Kataku meyakinkan agar ia tak terpancing emosi lagi. Sungmin hyung menoleh ke arahku dengan cepat. Wajahnya nampak serius. Tapi, melihat wajah polosku, wajahnya akhirnya melunak. Ia mendesah keras.

"Haah... sejak kau masuk, banyak orang membicarakanmu, lho. Kau seakan jadi populer hanya karena kau banyak diincar para yankee." Sungmin hyung mendesah keras. "Memang apa masalahmu dengan mereka?"

Aku menggeleng. "Tidak ada. Aku juga tak mengerti kenapa mereka mengincarku." Jawabku singkat. Sungmin hyung terlihat memasang wajah datar plus sweatdrop mendengar jawabanku.

"Kuharap... kau teruslah berhati-hati, Kyuhyun-ah. Jika ada apa-apa, aku siap membantumu." Sungmin hyung menepuk pundakku sambil tersenyum manis, membuat perasaanku jadi hangat.

Sedang asyik-asyiknya mengobrol dengan Sungmin hyung, Siwon hyung pun keluar dari ruang wakil kepala sekolah. Mendengar pintu digeser, aku dan Sungmin hyung menoleh ke belakang. Kulihat Siwon hyung membungkuk sopan dan menutup pintu.

"Lho? Sudah selesai?" Tanya Sungmin hyung. Siwon hyung mengangguk lalu tersenyum, memperlihatkan lesung pipitnya yang lucu. Membuatku tersenyum geli. Siapa sangka lelaki segentle Siwon hyung mempunyai lesung pipi yang imut begitu. "Ne, Kyuhyun-ah... kalau begitu, kami kembali kekelas dulu, ya?" Ucap Sungmin hyung.

"Ne, hyung." Aku tersenyum ramah.

"Ah! Aku lupa memberitahu sesuatu." Pekik Siwon hyung seakan teringat sesuatu. Aku memiringkan kepalaku, merasa penasaran.

"Sungmin hyung diangkat menjadi wakil ketua OSIS mulai minggu ini, menggantikan wakil ketua terdahulu yang kemarin pindah." Ujarnya setengah berbisik di telingaku. Mataku berhasil terbelalak dengan sempurna. Haa? Mwoya?

"Kyuhyunnie, mohon kerjasamanya, ya..." Sungmin hyung tertawa sambil melambaikan tangannya. Ia pun berlalu bersama Siwon hyung yang senantiasa tersenyum padaku.

Sepeninggalan mereka beruda, aku segera membalikkan tubuhku. Kata-kata Siwon hyung tadi kembali terngiang di telingaku.

'Sungmin hyung diangkat menjadi wakil ketua OSIS mulai minggu ini, menggantikan wakil ketua terdahulu yang kemarin pindah.'

'Eeh? Kenapa tiba-tiba begini?'

End of Cho Kyuhyun's POV

.

.

Pulang sekolah

Tak terasa bel pulang sekolah berbunyi. Langsung saja suara gaduh hentakan kaki dan teriakan-teriakan senang terdengar di seluruh penjuru sekolah. Setelah belajar berjam-jam, suara bel pulang sekolah yang nyaring menjadi musik terindah di telinga. Rasa suntuk dan bosan lenyap sudah.

Kyuhyun mengedarkan pandangan ke sekeliling sambil memasukkan buku-buku miliknya ke dalam tas selempang hitamnya. Teman-teman sekelasnya terlihat semangat sekali membereskan barang-barang mereka. Kelas yang tadi tenang, sekarang berubah seperti pasar. Cuping telinga Kyuhyun mendengar beberapa temannya sedang merencanakan pergi bermain bolling bersama sepulang sekolah. Ada juga yang sempat mengajaknya untuk ikut mereka berkaraoke siang ini. Kyuhyun menolaknya dengan halus. Ia seakan sudah terlalu lelah untuk bersenang-senang sepulang sekolah. Lebih baik cepat pulang dan tidur.

"Kyuhyun! Aku duluan, ya!" Seru Ryeowook yang sepertinya terburu-buru. Ia pun keluar kelas setelah melambai ke arah pemuda berambut hitam bergelombang itu. Kyuhyun membalas lambaian itu dalam diam sambil tersenyum. Sepeninggal sahabat imutnya itu, Kyuhyun mendesah pelan dan segera keluar kelas sambil mencangklong tasnya.

Kyuhyun membuka pintu loker sepatunya dengan perlahan. Wajahnya nampak lesu. Ia mendengus dan mengeluarkan sepatu kets hitamnya, lalu dijatuhkannya di lantai. Ia mengganti sepatu khusus sekolahnya dengan sepatu ketsnya itu. Setelah menggantinya, ia pun memungut sepatu khusus sekolahnya dan memasukkannya di loker. Ia menoleh ke arah pintu gedung. Aah... langit mulai kelabu lagi. Kalau sudah begini acaranya, Kyuhyun harus segera pulang. Dengan segera ia pun menutup pintu lokernya.

Sesaat Kyuhyun menutup lokernya, ia tiba-tiba tersentak melihat seseorang berdiri di sampingnya—mengingat sebelumnya tudak ada siapa-siapa sejak Kyuhyun membuka lokernya tadi.

"Omona! Sungmin hyung?" Pekiknya tertahan.

"Astaga... Kau membuatku kaget, Kyuhyun-ah." Sungmin tertawa sambil mengelus dada. "Sudah mau pulang?" Tanya Sungmin.

"Iya, hyung. Wae?" Tanya Kyuhyun polos.

"Anni..." Elak Sungmin. "Eerm... apa kau punya waktu, Kyuhyunnie?" Kyuhyun mengernyit.

.

.

"Terimakasih atas kerjasamanya!" Terlihat semua orang membungkuk. Latihan dance kali ini berakhir dengan baik. Akhir-akhir ini latihan diperbanyak mengingat seminggu lagi akan diadakan kompetisi dance SMA se-Seoul dimana Neul Param High School juga ikut menjadi partisipan. Tepat pukul 17.00 waktu setempat, latihan berakhir.

"Aku harap bagi kalian yang dimasukkan dalam kelompok kompetisi bisa mengatur waktu untuk latihan sendiri di rumah." Nasihat si pelatih. "Arraseo?"

"Arraseo, Seonsaengnim!" Jawab murid-murid serempak. Tak lama kemudian, si pelatih keluar ruangan. Para anggota yang lain pun mengistirahatkan diri sambil duduk-duduk bersandar di cermin sambil meminum air mineral dingin yang dibagikan oleh pemuda berambut blonde.

"Ini."

"Gomawo, Hyukkie-ah..." Eunhyuk hanya tersenyum sambil membagi-bagikan air mineral.

"Eunhyuk-ah! Kami duluan, ya! Ini sudah sore! Annyeoong!" Seru beberapa teman Eunhyuk. Eunhyuk hanya menjawabnya dengan melambaikan tangan. Tak terasa, beberapa menit kemudian, suasana ruang latihan dance mulai sepi. Tinggal tiga orang di sana—Eunhyuk, Donghae dan satu teman Eunhyuk yang sedang membereskan barang-barangnya.

"Eunhyuk-ah, Donghae hyung, aku duluan ya?" Kata si teman sambil mencangklong tasnya.

"Hati-hati, ne..." Si teman hanya mengacungkan jempolnya sambil berlalu.

"Latihanmu tadi bagus sekali, Hyukkie-ah..." Puji Donghae sambil terseyum lembut. Ia membantu Eunhyuk membereskan botol-botol minuman. Kegiatan Eunhyuk terhenti sesaat. Diam-diam ia menyunggingkan senyum manis.

"Kau juga makin kalem dan akrab saja dengan teman-temanku. Kemana sifat yankeemu, hyung?" Eunhyuk berbalik lalu tertawa.

"Hyukkie... begini-begini juga aku perlu tobat, bodoh!" Elak Donghae bercanda sambil melembar satu botol air mineral yang sudah kosong ke arah Eunhyuk. Eunhyuk hanya menghindar sambil terbahak.

"Haiish... kau ini." Gerutu pemuda berambut spike itu. "Yaah... mau dilihat bagaimana pun, kau pantas masuk kelompok kompetisi." Pemuda berambut blonde itu berhenti tertawa.

"Aah... itu hanya kebetulan, hyung..."

"Eh! Mana mungkin kebetulan! Kau juga ingin tampil di depan umum, kan? Menunjukkan kehebatanmu di depan banyak orang?"

Eunhyuk garuk-garuk kepala. "Eng... iya, sih..."

"Nah, kan!" Donghae menepukkan kedua telapak tangannya sekali dengan keras. "Ini semua pasti adalah impianmu, kan? Kau ingin menjadi dancer profesional!"

Eunhyuk terbelalak. "Kok, hyung tahu?"

"Aah..." Donghae mengibas-ngibaskan satu tangannya, semenatara Eunhyuk kembali membereskan ruangan. "Aku sudah tahu itu sejak aku mengenalmu. Dari perawakanmu itu, sudah terlihat kalau kau suka sekali dengan dance." Donghae terdiam sehenak. "Sebenarnya, sih... aku juga." Lanjutnya dengan suara lirih. Eunhyuk tertawa melihat tingkah kakak kelasnya itu yang sok memelas.

"Tenang, hyung... nanti suatu saat kau juga akan ada di posisiku."

"Tapi... aku sudah kelas tiga, Hyukkie-ah..." Desah Donghae, membuat Eunhyuk terdiam dan menunduk.

"Iya, ya..." Lirih Eunhyuk sedih.

"Aah, sudahlah. Toh, masih ada kesempatan lain setelah aku lulus nanti. Mungkin..."

"Kenapa kau jadi pesimis begitu, sih, hyung?" Eunhyuk melempar handuk ke arah Donghae dengan kesal.

"A-aniyo! Itu semua benar, kan? Lagi pula, aku harus serius untuk ujian... dan mendukung kompetisimu." Nada bicara Donghae mulai melunak di akhir kalimat. Ia tersenyum lembut pada Eunhyuk. Membuat pemuda blonde itu blushing.

"Kau menggodaku!"

"Ah! Jangan lempar-lempar aku lagi, Hyukkie-ah!"

Donghae dan Eunhyuk berjalan menuju tempat parkir yang ada di samping halaman sekolah. Bisa terlihat kendaraan sudah banyak berkurang karena dibawa pemiliknya pulang *yaiyalah!*. Donghae menyiapkan motor maticnya untuk ia naikki bersama Eunhyuk. Sejak seminggu yang lalu, Eunhyuk suka sekali pulang bersama Donghae. Toh, Donghae juga pasti mengajaknya pulang bersama.

"Ini helmnya." Donghae menyodorkan helm pada Eunhyuk, dan menaikki jog motor sambil memakai helmnya sendiri. Eunhyuk terlihat sedikit kesulitan untuk mengancingkan helm pinjaman dari Donghae. Terlihat helm itu agak kebesaran dan kancingnya sedikit berkarat, jadi agak susah. Donghae melirik Eunhyuk yang sedang kesulitan itu dari kaca spion dan segera berbalik untuk membantunya.

"Aduuh... sini biar aku saja." Tawarnya lembut sambil mengambil alih kancing helm Eunhyuk. Sang machine dance tercekat. Dengan perlahan, Donghae mengancingkan helm Eunhyuk hingga terdengar bunyi 'klik!'. Eunhyuk hanya canggung sambil memegangi atas helmnya. Wajahnya merona.

"Yak! Sudah terkancing." Gumam Donghae. "Kajja! Nanti keburu malam, lho." Eunhyuk tersadar dari lamunanya.

"Ah! N-ne." Gagapnya. Ia pun segera menaikki jog belakang motor. Setelah Eunhyuk memposisikan tubuhnya mantab di atas motor, dengan segera Donghae menancap gas dan berhasil membuat Eunhyuk terlonjak kaget.

"HUWAA! DONGHAE HYUUNG!" Pekik Eunhyuk seiring berjalannya motor. Sementara Donghae hanya tertawa keras. Oke... Donghae mulai usil. Ia terus membelok-belokkan motornya jahil, membuat jeritan Eunhyuk makin keras.

"Donghae hyung! Jangan ngawuur! HYAAA!" Jeritan itu akhirnya lenyap saat motor berwarna hitam itu berbelok di persimpangan.

.

.

Kyuhyun terperangah melihat bangunan yang akan ia masukki. Alunan musik klasik mengalun ke segala penjuru sudut bangunan. Matanya membulat. Memori otaknya beralih ke masa-masa SMPnya. Bangunan ini...

"Kajja! Kita bisa mengobrol di kedai es krim ini. Biar aku traktir..." tawar Sungmin sambil menepuk lengan Kyuhyun.

"A-ah! Ne." Kyuhyun mengangguk canggung. Yaa... mau bagaimana lagi. Dia juga baru kenal dengan sosok bernama Lee Sungmin itu. Tapi... melihat bangunan ini... membuat hatinya merindukan seseorang. Ya. Kedai es krim ini... kedai es krim yang biasa ia kunjungi bersama Changmin sewaktu SMP. Ia menjejakkan kakinya memasukki kedai es krim bercat krem-cokelat bergaya Belanda ini dengan ragu, sementara Sungmin sudah melenggang dengan ringannya menuju kursi yang kosong di dekat jendela. Kyuhyun terhenti. Bangku itu...

"Kyuhyun-ah? Waeyo? Duduklah..." Sungmin melambaikan tangannya, mengisyaratkan Kyuhyun untuk duduk. "Ah, noona! Aku pesan es krim strawberry!" Serunya pada pelayan yang sudah akrab dengannya. "Ne, Kyuhyun-ah. Kau mau pesan apa?" Tanyanya setelah Kyuhyun duduk.

"Eem... es krim vanila saja, hyung." Kyuhyun tersenyum canggung. Sungmin pun menyampaikan pesanan Kyuhyun pada si pelayan. Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kedai. Ia rindu dengan suasana kedai ini setelah sekian lama ia tak mengunjungi tempat ini lagi. Tapi, di samping itu ia juga merasakan sakit di dadanya.

"Hei, Kyuhyun-ah. Kedai ini adalah kedai es krim favoritku sejak aku masuk SMA." Celoteh Sungmin, membuyarkan lamunan Kyuhyun. "Aku juga suka duduk di sini dan memesan es krim strawberry. Ah! Pelayan tadi namanya Park In Young noona. Dia pegawai baru di sini sekaligus tetanggaku." Kyuhyun terhenyak.

"Sungminnie, ini pesananmu." Tiba-tiba pelayan ber-name tag Park In Young muncul dengan nampan berisi dua gelas es krim. Wanita itu pun menurunkan gelas itu dengan anggun dan mengangguk pamit.

"Noona-ah! Aku didiskon, kan?" Bisik Sungmin. In Young mengerlingkan mata dari kejauhan. Sungmin ber-yes-yes ria. "Kyuhyunnie, dimakan es krimnya." Ajak pemuda berwajah aegyo itu sambil menyendok es krim berwarna pinknya. Perlahan, Kyuhyun pun mulai menyantap pesanannya.

"Sepertinya kau sering kemari, ya, hyung?" Tanya Kyuhyun asal.

"Yaah... aku ini salah satu pelanggan tetap di sini. Bila ada waktu luang, aku suka ke sini dan makan es krim. Siwon juga pernah kuajak ke sini."

"Siwon hyung?"

"Yap! Katanya, itu baru pertamakalinya." Sungmin menangkap sesendok es krimnya dengan mulut kecilnya. "Kau tahu sendiri, kan, Siwon jarang sekali makan es krim di kedai." Kyuhyun hanya mengangguk kecil.

Tidak ada suara di antara mereka berdua untuk beberapa saat. Hanya terdengar suara sendok berdenting.

"Siwon suka sekali menceritakan tentangmu padaku." Sungmin membuka pembicaraan. Kyuhyun tercekat. Hampir saja ia tersedak.

"Jinjjayo?"

"Ne. Sepertinya... dia sangat dekat denganmu."

"Kami sudah berteman sejak SD, hyung..."

"Hoo? Jeongmalya?" Suara Sungmin meninggi. Kyuhyun mengangguk takut-takut karena saking antusiasnya si senior.

"Astaga... kenapa Siwon tidak bilang padaku? Aiish..." Kyuhyun terkekeh.

"Dia... orang yang baik, ya?" Ujar Sungmin seraya menatap Kyuhyun. Ia menyanggak dagunya dengan tangan. "Kau tahu? Dia perhatian sekali padamu. Ia juga suka khawatir belakangan ini karena kau sering diincar oleh para yankee di sekolah." Sungmin tertawa. Kyuhyun tertegun. Ia lalu menunduk dan wajahnya merona merah karena malu.

"Ah, iya!" Kyuhyun seperti ingat sesuatu. "Aku mau berterimakasih atas bantuanmu waktu itu. Kalau kau tidak ada, mungkin aku sudah ada di rumah sakit sekarang." Kata Kyuhyun yang melambat di akhir kalimat. Ia membungkukkan badannya dalam-dalam.

Sungmin terbelalak. "Aah... sudahlah. Tak apa-apa..." Ia mengibas-ngibaskan tangannya sambil bersender. "Aku juga tak suka melihat perkelahian. Apalagi sampai separah kemarin. Makanya aku berusaha menghentikannya." Sungmin kemudian terdiam.

"Aku tidak suka perkelahian tak bersyarat seperti itu. Yankee-yankee seperti mereka tidak pernah hidup dengan serius!" Telak Sungmin. Kyuhyun menengadahkan kepalanya. Mendengar kata 'hidup dengan serius' dari mulut Sungmin, entah kenapa ia jadi teringat pada Changmin.

"Kalau hidup tidak serius, mau jadi apa kita nanti." Kata Sungmin sedikit jengkel. "Padahal, ada pepatah berkata; Hidup harus hidup. Kalau tidak serius, hidup mana bisa hidup!" Lanjutnya. Kyuhyun tercengang mendengar perkataan kakak kelasnya itu. Obsesinya pada keseriusan hidup sama besarnya dengan Changmin dua tahun yang lalu. Kyuhyun merasakan gejolak aneh di dadanya. Semua hal yang ada di dalam diri Sungmin... entah kenapa selalu menuju pada kebiasaan Changmin. Kyuhyun menatap Sungmin yang melanjutkan aktivitasnya menyantap es krim strawberrynya dengan nanar. Satu tangannya meremat kerah bajunya.

'Tuhan, katakan kalau ini hanya kebetulan...'

.

.

Tak terasa matahari sebentar lagi akan terbenam. Setelah mengobrol banyak hal di kedai es krim, Kyuhyun dan sungmin memutuskan untuk pulang. Sungmin membayar semua es krim yang dipesan, walaupun Kyuhyun awalnya mencegah. Sungmin berjalan dengan ringan di depan Kyuhyun seperti anak kecil. Di belakang, Kyuhyun nampak masih tak mempercayai kakak kelasnya itu. Ini adalah kedua kalinya ia memiliki teman agresif dan ceria setelah Ryeowook. Ia hanya bisa tersenyum heran sambil geleng-geleng. Walaupun Kyuhyun lebih muda ketimbang Sungmin, tapi ia merasa jadi lebih tua ketimbang seniornya itu. Mereka kahirnya sampai di salah satu halte bus terdekat.

"Ne, Kyuhyun-ah!" Panggil Sungmin seraya berbalik. "Gomawo sudah mau menemaniku makan es krim hari ini. Pembicaraan di kedai tadi sangat menyenangkan. Semoga kita bisa menjadi teman yang baik, ya!" Ujarnya ceria setelah sebuah bus berhenti. Kyuhyun hanya tersenyum seraya mengangguk.

"Aku duluan, ya, hyung." Kyuhyun melambaikan tangan seraya memasukki bus. Yaah... bus jurusan mereka berbeda arah.

"Ne! Hati-hati!" Sungmin membalas lambaian tangan Kyuhyun dengan bersemangat. Tak lama kemudian, bus yang ditumpangi Kyuhyun pun melaju meninggalkan halte. Sungmin mengantar kepergian bus itu dengan terus melambai hingga menghilang di balik tikungan jalan. Sepeninggalan bus tersebut, diam-diam Sungmin menyunggingkan senyum penuh arti.

.

.

Black Dragon's camp

Kim Heechul berjalan menuju markas gengnya dengan santai. Sesekali ia mekemaskan lehernya yang pegal. Sebelum pulang, ia memang terbiasa mampir ke tempat itu. Tangannya menggeser pintu ruangan kecil itu, menimbulkan bunyi yang khas. Ia pun dengan sigap menginjakkan kakinya pada lantai kayu yang catnya sudah banyak yang mengelupas itu.

Baru beberapa langkah saja, ia sudah harus menghentikan langkah. Seseorang tengah duduk terdiam di dalam sana. Kedua mata sipitnya menatap tembok di hadapannya dengan tatapan sayu, namun serius. Satu tangannya memainkan aksesoris di lehernya. Heechul melihatnya sambil menaikkan satu alisnya.

"Yesung?" Panggil Heechul. Merasa di panggil, pemuda bersurai cokelat gelap itu pun menoleh. Matanya melirik ke arah Heechul dengan tajam. Sang pemuda berparas cantik pun tercekat. Matanya mengerjap satu kali.

Yesung pun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar. Bahunya tak sengaja—atau memang disengaja—menyenggol bahu Heechul, membuat lelaki berambut cokelat kemerahan itu sedikit goyah. Ia merasa heran dan memperhatikan punggung Yesung yang menjauh. Diam-diam, Yesung menyunggingkan senyum liciknya tanpa sepengetahuan sang leader.

Heechul nampak mengernyit dengan keanehan yang ia lihat. Tidak biasanya Yesung bersikap dingin seperti ini padanya. Kilatan tajam mata Yesung tadi kembali terukir di kepalanya, membuatnya tersentak dan terbelalak. Ia seperti menyadari sesuatu. Heechul pun berbalik ingin mencegah Yesung pergi. Tapi terlambat. Yesung sudah lenyap dari pandangan.

'Mungkinkah...'

.

.

TBC

A/N: WOOKEEE! Sampek juga chap.9. setelah ini, para 'Black Dragon' bakal saia munculin satu-satu. Tapi tetep ada selingan romantis-romantisnya antara EunHae dan WonKyu. Oke, di reviewan yang bejibun tadi banyak dari kalian pada bingung couple Kyuhyun di sini sama siapa, kan? Oke, deh, sekarang saia kasih cluenya. Tenang aja, ini nanti berakhir dengan WonKyu, kok. WONKYU! Okeehh? *gaya rocker*. Itu juga udah saia rencanain dari awal saia bikin fic ini. Tapi nanti deh agak belakangan. Cuma udah saia kasih kode-kode, kok. Yah, namanya juga cerita, pasti ada tokoh atau suasana yang bikin greget dan gemes, kan? Pengen remet-remet gimana gitu, rasanya. Hehehe... saia emang kemarin-kemarin sengaja merahasiakan biar tambah penasaran *digeplak*. Tenang, ya... santai... tunggu tanggal mainnya nanti.

Oh, iya! Mungkin, fic ini bakal tamat bentar lagi. Saia gak mau panjang-panjangin lagi. Cerita kalau makin dipanjangin ntar keliatannya monoton banget. Sekali lagi, saia ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya atas reviewnya yang *alhamdulillah, ya...* udah bejibun begini. Baru pertamakali saia dapet review 70an lebih. Gomawo, ne! Arigatoo! XD XD

Terakhir, saia mohon reviewnya lagi, boleh? Biar saia lebih semangat lanjutinnya. Tanggung dikit lagi. Mungkin sekitar 4 atau 5 chap lagi. Belum dibikin, sih, baru proses. Tapi udah keliatan jalan ceritanya. Okeokeoke? Tapi mohon bersabar, ya? Berhubung libur udah hampir selesai, jadi mungkin apdetnya gak kilat-kilat amat. Sabaarrr... ==d. Saia juga minta maaf kalau masih ada yang kurang-kurang. Hehe... ^^"

Saa, Yeorubeun. Saia tunggu reviewnya! ^^

Ms. Simple :D