"kalian hanya akan mati ditangan Gato jika kalian terus meneurkan hal tidak berguna itu! Lebih baik kalian berhenti!"

"Apa katamu, Gaki?" Pertengkaran kecil antara Menma dan Inari terjadi di ruang tengah, terdapat Tsunami yang duduk termenung di kursi meja makan, Tazuna yang hanya memandang lurus pertengkaran keduanya dan Team Seven yang hanya memperhatikannya tidak ada yang mencoba menginterupsi keduanya. Terlihat Menma yang mencengkram kerah baju milik Inari dan mengangkatnya sejajar dengan tubuhnya.

"Kubilang kalian berhenti, kalian akan mati seperti pecundang itu jika kalian tetap melakukannya." Jawab Inari keras sambil memberontak berusaha melepaskan dari dari Menma. Namun hal itu nampaknya sia-sia karena Menma malah mencengkram lebih keras lagi.

"Kau tampak menyebalkan Gaki. Jika kau tahu, Impianku selama ini adalah menjadi seorang Hokage seperi ayahku dan ini adalah salah satu rintangan yang harus ku hadapi. Aku tidak peduli walaupun aku akan mati, karena ini sudah menjadi teror dimana-mana. Kau seharusnya sangat mengerti jika ada orang yang ingin membantumu kau harus menghormatinya, Kaparat!" Teriak menma persis di hadapan muka Inari, sontak membuah wajah anak kecil itu menjadi wajah yang menahan tangis, desertai sebuah air mata yang mengajak di sudut matanya.

Melihatnya membuat Menma melepaskan cengkramannya, kemudian Inari berlari menuju lantai dua dan terdengar sebuah tangisan di atas sana. Mendengarnya membuat Menma mendecih sebal. Karena baginya, Inari merupakan bocah ingusan yang tidak tahu apa apa.

"Kakashi-sensei, aku izin keluar terlebih dahulu." Naruto tidak kuat lagi dengan suasana didalam ruangan ini yang mendingin. Dirinya hanya ingin segera keluar dan mencari udara segar. Tanpa banyak alasan, Kakashi langsung mengangguk memperbolehkan Naruto keluar.

...

Naruto duduk dipinggiran danau tempat ia berlatih kemarin. Ia sangat menyukai susasana disini, sangatlah tentram dan menyejukkan. Bersama seekor burung keemasan yang berada di bahunya. Ia mengambil kaca tipis di kantongnya, ia arahkan kaca itu kesinar matahari meski remang-remang karena kabut yang menghalangi. Kaca itu terlihat seperti berwarna pelangi ketika di tembus oleh cahaya matahari.

Kemudian ia berfikir kembali untuk berlatih sebentar sebelum melakukan pengawalan terhadap Tazuna untuk membangun jembatan.

...

Sudah seminggu sejak Zabuza dulu menyerang seharusnya ini ini adalah waktu yang diperkirakan untuk Zabuza kembali sembuh. Kakashi sudah menyuruh murid muridnya dan pekerja pembangun jembatan ini untuk bersiaga dan bersiap dalam keadaan yang paling buruk. Semua yang dikhawatirkan oleh Kakashi benar adanya. Tepat pada tengah hari, kabut disekitaran jembatan ini semakin menebal. Kakashi membuat beberapa bunshin untuk memindahkan beberapa pekerja ke tempat yang paling aman. Tapi saat giliran Tazuna untuk dipindahkan dengan shushin tiba tiba bunshin Kakashi menghilang semuanya dan terdengar sebuah benturan besi dari arah Tazuna. Semua tim tujuh langsung mengambil posisi siaga, Kakashi yang sedikit terkejut langsung mengalihkan pandangannya. Terlihat Tazuna yang duduk dengan postur kaget, dan depannya seorang yang ia kenal sebagai Naruto menahan pedang besar yang di ayunkan oleh Zabuza dengan pedang cahanyanya.

Naruto kemudian mementalkan pedang besar milik Zabuza dan langsung menebas Zabuza, tapi pedangnya hanya mengenai angin saja. Zabuza menghilang dari tempatnya dan bersatu dengan kabut tersebut.

"Apa anda baik-baik saja, Tazuna-dono?" Tazuna mengangguk pelan sambil sedikit meneguk ludah ketika Naruto menanyainya. Kemudian dirinya berdiri kembali meskipun kakinya sedikit gemetaran. Bagaimana tidak, tubuh dan kepalanya hampir terpisah dari tubuhnya dan itu membuat nafasnya tercekat.

Kakashi mewaspadai daerah sekitarnya, karena Zabuza tidak bisa dideteksi oleh sensornya. Ia memandang curiga ke kabut ini.

"Urgh!" Tiba-tiba Kakashi merasakan sebuah sakit yang teramat dikakinya, kakinya telah mengeluarkan darah. Namun ia harus bertahan, jika ia kalah maka semuanya akan mati.

"Kakashi-sensei!" Menma yang melihat gurunya terkena serangan, ia berlari menuju Kakashi. Sasuke mendecih kesal lalu mengekori Menma menuju Kakashi. Sakura yang bingung dengan keadaan disekitarnya hanya diam sambil memegang kunainya. Namun baru beberapa langkah Menma dan Sasuke melangkah tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kemunculan es tajam yang mengarah ke arah mereka sehingga mau tak mau mereka harus berhenti.

"Akulah lawan kalian." Dibalik es tajam tersebut muncul seorang bertopeng, di sela-sela jarinya terdapat sebuah jarum es. Menma langsung membuat bunshin dan menciptakan Rasengan. Setelahnya ia melompat tinggi melewati tumpukan tombak es dan mengarahkannya ke arah orang bertopeng itu.

"Jangan halangi aku sialan!" Rasengan itu hanya mengenai permukaan beton jembatan yang membuatnya sedikit hancur berantakan. Menma mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah untuk mencari keberadaan orang tersebut.

"Menma, Sasuke. Berhati-hatilah melawan orang itu, dia bukan orang sembarangan. Sakura cepat lindungi Tazuna bersama Naruto." Kakashi sedikit berteriak, ini sudah diluar perkiraannya. Membuatnya menjadi sedikit kesal terhadap dirinya sendiri karena memaksa diri untuk menyetujui meneruskan misi yang jelas jelas bukan untuk genin. Kakashi menaikkan ikat kepala yang menutupi mata kiri, terlihat mata Sharingan yang menyala merah.

Naruto hanya mengeratkan kepalan tangan dengan wajah yang sedikit mebgeras karena dirinya tidak bisa melakukan apa-apa di saat genting ini. Namum prioritasnya adalah melindungi Tazuna. Ia hanya diam saja saat melihat Kakashi dalam keadaan yang terdesak? Tidak, dia tidak akan tinggal diam. Namun salahkan dirinya sendiri yang masih lemah.

"Sakura, tunggu dan lindungi Tazuna." Naruto langsung berlari saat ia melihat Kakashi terkurung dalam sebuah air di udara, dia tidak bisa menggerakkan dirinya. Zabuza tidak jauh dari Kakashi terkurung, ia sedang berkonsentrasi untuk jurusnya itu dan ini waktu yang tepat untuk mengacau.

"Hyaa!"

Cting

Suara dentuman besi terdengar cukup jelas dari sana, mata safir itu sedikit menajam tatapannya dikarenakan Zabuza masih bisa mengkontrol jurusnya dengan bertarung tanpa kehilangan konsentrasi.

Naruto melompat jauh untuk menjaga jarak, ia harus memikirkan cara lain untuk mengacaukan pikiran seorang Zabuza agar Kakashi terbebas dari sana. Merogoh kantong kecil dikakinya dan menyiapkan beberapa buah shuriken.

Dengan tempo yang sangat pendek ia melemparkan empat shuriken dan langsung merangsak maju dengan kecepatan luar biasa hampir menyamai shuriken yang ia lempar. Zabuza dengan tenang hanya menangkis beberapa serangan kecil itu.

"Heh, ini mu—" Zabuza tersadar ada satu lagi yang lebih besar datang kearahnya, lantas terpaksa ia menangkisnya dengan dua tangan, melepas jutsu pada Kakashi.

Suara benturan besi terdengar sangat nyaring sampai sampai hampir seluruh daerah desa ini mendengarnya.

Zabuza menarik pedangnya dan kembali melayangkan sebuah tebasan yang mengarah pada perut Naruto. Dengan reflek baik, Naruto langsung mengarahkan pedangnya untuk menangkis senjata milik Zabuza.

Naruto sedikit terkejut dengan kekuatan yang dilayangkan Zabuza, sangat kuat. Dirinya tidak kuat menahan tebasan kuat itu hingga terpelanting ke pembatas jembatan sampai retak, ia mencoba berdiri lagi. Darah mulai turun dari dahinya membuat surai pirang itu menjadi merah gelap.

Saat Zabusa hendak melayangkan serangan lagi kepada Naruto, Kakashi langsung menghalanginya. Naruto sedikit lega dan membuat sebuah senyuman kecil melihat Kakashi sudah bebas, meski kepalanya sudah sangat pening. Pandangan matanya pun sedikit mengabur, entah mengapa.

Ia mencoba kembali ke Tazuna dan Sakura yang melihatnya dengan raut muka khawatir. Namun saat bebera langkah pandangannya menggelap, tubuhnya lemas sekali tidak bisa digerakkan.

...

Naruto membuka matanya perlahan, ia sedikit mengernyit saat sinar matahari langsung menerpa matanya. Ia melihat sekitarnya yang ia asumsikan ini adalah ruangan yang sebelumnya digunakan untuk timnya beristirahat dirumah milik Tazuna. Naruto juga menemukan Sasuke yang terbaring di sana dengan pakaian yang compang-camping.

Ia menggerakkan badannya untuk bangun dari sini, namun saat berdiri ia merasa sakit dikepalanya. Tak ayal Naruto langsung memegang kepalanya, ia merasakan ada sebuah kain kasa tebal yang membalut kepalanya. Namun ia tidak perduli, tetap melangkah menuju daun pintu.

Saat ia membukanya, ia melihat Kakashi, Menma, dan Sakura sedang makan bersama dengan keluarga Tazuna, yang kelihatannya Inari tidak seperti yang kemarin-kemarin. Ia melihat Tsunami yang melihatnya dengan terkejut dan langsung menghampirinya.

"Naru-chan, sebaiknya kamu istirahat dulu. Kondisimu belum pulih sepenuhnya." Naruto hanya menggeleng lemah dan tersenyum seolah berkata aku tidak apa-apa.

Ia tersenyum senang ketika melihat timnya yang baik baik saja, entah apa yang terjadi saat ia tidak sadarkan diri. Yang pasti dirinya sangat senang.

"Kalau begitu, bergabunglah bersama kami disana." Dengan perasaan senang ini ia kesana. Meski menahan sakit yang teramat dikepalanya.

...

...

...

...