proudly present :
An EXO Fanfiction
KISS ME IF YOU CAN
Main Cast : Oh Sehun, Kim Jongin
Remake dari novel yang berjudul sama karya Charlie Philips
Terjemahan Indonesia : bacanovelonline
.
Happy Reading!
.
Sehun kembali dari kamar mandi dan kembali bersama Jongin. Ia menerima tubuh lelaki itu dalam pelukannya, menikmati rasa hangat kulit Sehun menempel di kulitnya, meski ia nyaris tidak bisa bernapas.
"Sehun." Jongin menepuk pundak Sehun dan dia berguling membawa serta tubuh Jongin.
"Maaf. Tidak bermaksud membuatmu remuk. Kau masih hidup?" tanya Sehun, napasnya masih terengah-engah.
"Nyaris." Jongin menggerak-gerakkan jemari kakinya, seluruh tubuhnya pegal. "Tapi aku merasa nyaman. Aku merasa luar biasa, malah." Ia meringkuk ke pelukan Sehun, dan tanpa disangka, tubuh lelaki itu langsung bereaksi.
"Secepat itu?" tanya Jongin, tidak sanggup menahan tawa. Astaga, ternyata aku berefek dahsyat pada dirinya, pikir Jongin dengan kebanggaan meluap.
"Aku sudah menduga kalau kita akan cocok, tapi tadi itu lebih daripada perkiraanku."
Dengan puas, Jongin melemaskan tubuh ke dalam pelukan Sehun dan menghirup napas dalam-dalam, menikmati aroma lelaki yang maskulin dan percintaan yang masih membekas di kamar itu. Sehun mendekapnya, tubuh lelaki itu berdenyut menempel di tubuh Jongin. Tapi ternyata tubuh dan otak Sehun tidak sepakat, karena lengan lelaki itu bertambah berat dan napas yang makin teratur.
Setelah beberapa menit, Jongin sadar Sehun sudah tidur pulas.
Ternyata dia seperti lelaki pada umumnya, pikir Jongin. Bercinta membuat Sehun merasa santai. Tapi tidak buat Jongin. Hal itu justru membuatnya bersemangat. Ia berbaring memandang langit-langit dan memutuskan jika ia perlu menyalurkan kelebihan energinya.
Sambil bangkit dari tempat tidur ia merenung apakah sebaiknya langsung pergi tapi mengurungkan niat itu. Sehun tidak memberinya alasan untuk menganggap lelaki itu tidak mau Jongin berada di sini saat terbangun nanti. Ia melirik ke tempat tidur tempat lelaki itu berbaring telentang. Kulitnya yang pucat tampak kontras dengan seprai hitam dan Jongin tidak bisa menahan rasa tertariknya.
Dia lelaki yang tampan, murah hati, seksi, dan penyayang. Tidak, pikir Jongin sambil mendengarkan suara napas Sehun, ia tidak akan pergi karena ia belum selesai dengan dirinya.
Jongin tidak kembali memakai blus halter dan celana pendeknya, melainkan hanya celana dalamnya ditambah kaus Sehun, nyaman dan senang saat kaus itu sampai ke tengah pahanya. Lalu ia menuju ke ruangan lain. Dari rak buku, ia mengambil novel misteri pembunuhan karya Sehun yang telah terbit, Street, lalu duduk di sofa untuk bekerja. Sayang, ia tidak bisa memakai Internet di laptopnya karena modem Sehun dikunci dan ia perlu kata sandi untuk bisa masuk. Dan ia tidak berniat membangunkan lelaki itu hanya untuk menanyakan hal tersebut.
Laptop Sehun masih di atas meja seperti saat ditinggalkan dan ia rasa Sehun pasti tak akan keberatan kalau ia bekerja di situ, toh tadi dia sudah mengizinkan Jongin mengutak-atiknya. Tapi saat ia periksa ternyata benda sialan itu masih menjalankan program defrag, jadi ia tidak bisa memakainya.
Jongin memandang sekeliling dan tampak ada komputer di meja di sudut ruangan. Ia pernah melihatnya beberapa hari yang lalu saat membantu membereskan apartemen Sehun. Ia yakin lelaki itu tak akan keberatan jika ia memakainya sebentar.
Ia duduk di kursi, lega karena kursi itu berlapis kain dan bukan bahan kulit yang dingin. Cukup beberapa kali menggeser mouse dan layar monitor yang besar pun hidup.
"Bagus," seru Jongin.
Tapi alih-alih layar desktop, yang muncul di depan wajah Jongin justru sebuah dokumen Word; Catatan tentang Cincin, begitu tulisan paling atas halaman tersebut.
Jongin menggigit bagian dalam pipinya dan terus membaca. Halaman itu menjelaskan dengan rinci seorang perancang perhiasan, Trifari, dengan ciri khas menorehkan inisial di bagian dalam cincin-cincin karyanya. Ia meneliti makin jauh ke bawah dan melihat tulisan tentang perampokan yang disebut sebagai penggelapan perhiasan keluarga Lancaster. Mungkin pekerjaan orang dalam, dilakukan saat berlangsung pesta makan malam di malam yang sama dengan terjadinya pencurian itu. Tersangka awalnya adalah semua orang yang ada di rumah tersebut malam itu, tapi seluruh staf sudah ditanyai polisi, keberadaan mereka sudah diperiksa kebenarannya, dan semua akhirnya dibebaskan dari tuduhan.
Polisi mencurigai adanya sekomplotan pencuri lihai yang berpura-pura menjadi staf pesta malam itu, termasuk seorang sopir. Ketiga orang tersebut lenyap tanpa jejak. Kebetulan, begitu tulis Sehun. Atau mungkinkah sopir itu kakek Jongin?
Lalu satu pertanyaan lagi melompat ke arah Jongin dari bagian bawah halaman itu. Kejahatan sejati atau cerita fiksi—mana yang akan lebih sukses?
Sekujur tubuh Jongin merasa dikhianati.
Yah, persetan dengan niatnya untuk tidak membangunkan lelaki itu. Jongin bergegas masuk ke kamar tidur, menyalakan lampu di samping ranjang, mengambil satu bantal lalu melemparnya ke Sehun.
"Apa-apaan—" Lelaki itu langsung duduk tegak di tempat tidur. "Ada yang salah?"
Jongin bertolak pinggang dan melototi Sehun. "Kau yang salah, kalau kau pikir kau bisa memakai kakekku sebagai umpan kariermu atau batu loncatan untuk status novel terlaris!" Ia menahan air mata yang selalu muncul setiap kali ia marah besar.
Ia tidak akan membiarkan perhatiannya teralihkan oleh tubuh Sehun yang kokoh atau wajah tampan yang mengantuk dan seksi, atau kenyataan bahwa mereka baru saja menikmati keintiman menakjubkan. Dan bisa-bisanya tadi ia meyakinkan diri bahwa ia bisa mempercayai lelaki itu.
"Ayo, jelaskan padaku," desak Jongin.
Sehun berusaha memusatkan pikiran pada apa yang dikatakan gadis itu. Satu menit yang lalu ia sedang tertidur pulas dan menit berikutnya Jongin melemparinya dengan bantal lalu mulai melancarkan tuduhan-tuduhan serta mendesak minta jawaban.
Dia bahkan sama sekali tidak mirip dengan wanita sensual dan pasrah yang bermesraan dengannya di tempat tidur ini beberapa saat lalu.
Sehun menarik selimut menutupi tubuh telanjangnya, bukan karena ia malu tapi karena ia justru menganggap kemarahan gadis itu seksi, dan ia rasa dia tidak akan senang melihat buktinya.
"Bagaimana, kau bisa sampai menyimpulkan itu?" tanya Sehun.
"Aku tidak bisa tidur jadi aku memutuskan untuk mulai mengerjakan situs Web-mu. Karena aku tidak bisa mendapat koneksi Internet di laptopku dan laptopmu masih memeriksa ada tidaknya Virus, jadi kupakai komputer mejamu saja."
Sehun mengerang panjang. Ia tidak bisa menuduh Jongin usil mengintip pekerjaannya. Dirinyalah yang meninggalkan catatannya terbuka begitu saja di layar. "Kalau kau mau tenang dulu, aku bisa jelaskan."
"Oh, pasti kau bisa," tukas Jongin, suaranya sangat sinis.
"Jongin?" tanya Sehun, suaranya tenang penuh maksud.
"Apa?"
"Duduklah dan diam dulu lima menit saja." Ia menunjuk ke tepi tempat tidur sambil melotot, Jongin mengempaskan badannya ke tepi kasur, jauh dari lelaki itu.
Sehun ingin agar Jongin tenang dulu dan berpikir jernih, sesuatu yang tidak bisa dia lakukan jika dia masih marah besar dan menyahut sinis atas apa pun yang ia katakan.
"Kau tahu aku akan menyelidiki sejarah kedua perhiasan itu, masih ingat?"
Gadis itu bersedekap. "Dan menceritakan hasil yang kau dapat. Seingatku kau tidak pernah bilang bahwa aku benar tentang keluarga Lancaster atau bahwa mereka memang benar pemilik perhiasan itu. Apalagi sebelum kau tidur denganku!"
Sehun mengertakkan rahangnya. "Karena aku ingin mencari tahu lebih banyak dulu. Tadinya aku berharap bisa menemukan sesuatu yang akan membebaskan kakekmu dari tuduhan, jadi pada saat kau akhirnya tahu, tidak ada yang perlu kaukhawatirkan." Harusnya Jongin paham bahwa ia ingin melindunginya.
Namun cibiran gadis itu padanya menunjukkan yang sebaliknya. "Aku tidak butuh diperlakukan seperti bayi. Aku bisa mengatasi apa pun yang kautemukan di saat itu juga."
"Wanita keras kepala." Sehun menggeleng dan bersandar di kepala tempat tidur. "Baiklah. Lain kali jika aku menemukan. sesuatu aku akan langsung memberitahumu. Puas?"
Jongin mengangkat alis. "Kau bercanda? Kita bahkan belum sampai ke bagian tentang bagaimana rencanamu untuk menulis kisah ini?"
Sehun memijit puncak hidungnya. "Jongin," katanya, berusaha tetap sabar. "Aku ini reporter. Kau pikir apa yang akan kulakukan dengan misteri kejahatan yang tidak terpecahkan?"
"Yang jelas tadinya aku pikir kau tidak akan memanfaatkan keluargaku untuk menaikkan kariermu!" Suara Jongin pecah akibat emosi, tapi ia jelas tidak mau menunjukkan kelemahan sedikit pun. Ia tetap duduk di tepi tempat tidur, kaku dan marah.
Sebagian diri Sehun tidak menyalahkan gadis itu. Memang keluarga Jongin yang dibahas di sini dan tentu saja gadis itu ingin melindungi mereka. Tapi sisi rasional dalam diri Sehun masih ingin membuatnya sadar akan kenyataan. "Karierku sebagai reporter baik-baik saja dengan atau tanpa cerita ini," ia merasa wajib mengingatkan Jongin.
"Tapi tidak sebagai penulis novel."
Sehun meringis. "Pukulan kotor."
"Ini juga sama!" Jongin mengibaskan tangan keras ke arah ruangan lain, tapi Sehun sempat menangkap sekelebat rasa bersalah di matanya.
Rupanya dia tidak bersungguh-sungguh saat melemparkan hinaan barusan. Walau bukan berarti tidak menyakitkan. "Sebaiknya kita tidur dulu," usul Sehun sebelum salah satu dari mereka mengatakan hal lain yang nantinya akan mereka sesali.
Jongin berpaling untuk memandangnya. "Janjilah padaku kau tidak akan menulis kisah ini kalau ternyata keluargaku terlibat."
Di saat akhirnya Sehun menemukan ide yang bukan hanya cocok untuk fiksi, tapi mungkin juga bisa menjadi pengungkapan satu kejahatan besar. "Aku tidak bisa. Aku harus memeriksa masalah ini dengan saksama sebelum membuat keputusan apa pun."
Jongin melotot padanya.
"Aku bersikap jujur sekarang, dan itu yang kau mau dariku, benar kan?"
Jongin menghela napas. "Yang aku mau adalah semua kekacauan ini pergi dan lenyap."
Sehun mengerti perasaan Jongin. "Bukan aku yang membuat kekacauan ini."
Gadis itu hanya menunduk.
"Kurasa sebaiknya kita tidur dulu dan kita selesaikan masalah ini besok pagi." Ia menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya.
Meski jelas-jelas mengundang Jongin, Sehun yakin gadis itu akan berpakaian lalu pulang. Namun di luar dugaan, gadis itu malah naik ke tempat tidur, ke sebelahnya, meninju bantal, lalu meringkuk seperti bola, memunggunginya.
Sehun mematikan lampu. Ia tidak tahu apakah ini kemajuan atau bukan, dan ia memutuskan akan mencari kepastian besok pagi.
.
Jongin terbangun dari tidurnya jauh sebelum Sehun. Ia tidak terbiasa bangun pagi dan tidak ada gunanya bertengkar sekali lagi saat ia cenderung untuk bertindak berdasarkan emosi daripada fakta. Seperti yang ia lakukan sehabis membaca catatan lelaki itu tadi malam.
Tentu saja ia tahu Sehun seorang reporter sekaligus penulis dan dia akan memakai apa pun yang dia temukan. Tapi bukan berarti ia harus menyukainya atau tidak boleh melakukan apa pun yang ia bisa untuk mencegah Sehun berbuat begitu. Satu demi satu, pikir Jongin.
Langkah pertama adalah mengendalikan diri. Jadi saat pertama kali ia membuka mata dan merasakan Sehun ada di sebelahnya, ia pura-pura masih tidur sampai lelaki itu bangkit, mandi, dan berjalan keluar dari kamarnya. Baru setelah itu ia menggeliat dan membiarkan seluruh tubuhnya terjaga. Ia mandi lalu memakai lagi bajunya yang kemarin. Lantas, sambil berdoa semoga Sehun sudah membuat, kopi, ia menarik napas dalam-dalam dan melangkah menuju dapur untuk menghadapi lelaki itu.
Baru saja keluar dari kamar tidur, aroma sarapan sudah menyergap seluruh indranya. Sekilas memandang ke sekeliling dan Jongin melihat meja sudah ditata dan sekarang Sehun berdiri di depan kompor sedang membalik omelet di penggorengan.
"Dia bisa masak dan juga membuat kopi," ujar Jongin saat melihat seteko penuh kopi panas. "Bagaimana bisa aku seberuntung ini?"
"Cuma kebetulan, aku rasa." Sehun melirik gadis itu waspada, berusaha menilai suasana hatinya. "Silakan duduk."
Satu omelet sudah siap, menantinya di meja dan Jongin pun duduk.
Sehun menaruh omelet yang baru siap ke atas piring, meletakkannya di meja, menuang dua cangkir kopi, dan bergabung dengan gadis itu. "Biar aku makan yang sudah matang dari tadi." Sebelum Jongin sempat membantah, Sehun sudah meraih dan menukar piringnya dengan piring gadis itu.
"Aku tidak apa-apa makan yang itu."
"Aku tidak keberatan makan yang sudah agak dingin. Kau makan yang masih panas saja," tukas Sehun dan mulai menyantap sarapannya.
"Terima kasih." Jongin mengangkat garpu, tapi tidak sanggup menyuap karena perutnya tidak nyaman. Ia pernah mengalami sejumlah pagi yang kikuk sebelum ini, tapi belum pernah dengan. seorang lelaki yang betul-betul ia sukai dan telah menikmati keintiman yang menakjubkan bersama.
Keheningan yang panjang menyiksanya sampai ia tidak tahan lagi. "Maaf aku sudah membangunkanmu tadi malam." Tatapannya tetap tertuju pada omelet yang sudah dengan murah hati Sehun masakkan buatnya meskipun ia bertingkah buruk.
"Bagaimana dengan melempar bantal padaku? Kau minta maaf atas itu juga?"
Dengan malu Jongin mengangkat tatapannya dan mendapati lelaki itu tersenyum lebar padanya.
Simpul kencang dalam perutnya mereda. "Jadi kau tidak dendam?" tanyanya.
"Butuh sesuatu yang jauh lebih parah daripada itu untuk membuatku marah besar," jawab Sehun di sela suapan penuhnya. "Tapi kalau kau tidak makan masakanku mungkin bisa membuatku tersinggung." Ia melambaikan garpu, memberi isyarat pada Jongin agar makan.
Jongin mengedikkan bahu dan mulai menyuap, keheranan saat mendapati telur dadarnya lembut dan lezat. "Astaga, kau hebat."
"Aku ingat kau juga bilang begitu waktu merasakan sesuatu tadi malam." Sehun mengedipkan mata ke Jongin, lalu meneruskan ucapannya. "Sebetulnya, ibu yang mengajariku. Dia bilang, tidak ada salahnya belajar memberi makan diriku sendiri."
Jongin menangkap rasa sayang sekaligus kenangan sedih dalam suara lelaki itu. "Kau sangat rindu ibumu, ya?"
Sehun mengangguk. "Keluargaku bisa dibilang terbagi dua, maksudnya ayahku jauh lebih paham dengan cara berpikir kakakku dibanding aku. Biasanya ibukulah yang mengerti aku."
"Apa yang terjadi, kalau kau tidak keberatan untuk cerita."
"Ibuku kena serangan aneurisma otak sekitar lima tahun yang lalu. Dia meninggal saat sedang tidur. Tanpa peringatan lebih dulu, tanpa apa pun."
Jongin bergidik. Ia mungkin tidak memiliki hubungan yang hangat dengan ibunya sendiri, tapi ia sangat dekat dengan neneknya dan tidak sanggup membayangkan kepedihan Sehun. "Aku ikut berduka cita."
"Terima kasih."
"Sama-sama." Jongin berdeham. "Jadi apa rencanamu hari ini?"
"Aku harus ke kantor, tapi aku berencana menjemputmu di tempat nenekmu sepulang kerja dan kita bisa menemui Siwon berdua."
Jongin sudah selesai makan dan Sehun bangkit untuk membereskan piring kotor. Jongin berdiri dan mengibaskan tangan mengusirnya. "Sudah. Biar aku saja. Kau bisa bersiap pergi kerja. Aku akan bersih-bersih lalu berangkat. Aku harus mampir ke kantor Hot Zone untuk rapat dan lebih mudah berangkat dari sini daripada harus pulang dulu—kalau kau tidak keberatan."
Sehun mengangguk. "Tidak masalah." Sangat tidak masalah, batin Sehun. Ia tadinya tidak tahu bagaimana Jongin akan bersikap pagi ini.
Dari irama napas gadis itu Sehun tahu tadi pagi dia sudah bangun lebih dulu, tapi dia tidak ingin Sehun tahu, jadi ia biarkan saja Jongin pura-pura masih tidur, memberinya lebih banyak waktu dan keleluasaan. Sekarang, meski tatapan gadis itu masih mengandung kewaspadaan, dia bicara dengan nada sopan dan tidak buru-buru ingin pergi dari sini.
Sehun membantu Jongin membawa piring-piring kotor ke dapur, tapi membiarkan gadis itu membilas dan menaruh ke dalam mesin cuci piring karena tampaknya Jongin ingin sedikit membantu. Entah itu atau bersih-bersih adalah cara Jongin menghindari Sehun. Meski mereka tidak membicarakan hal tersebut, Jongin jelas jengkel padanya. Ia tidak terlalu berharap gadis itu bisa mengerti hasratnya untuk menyelidiki kisah ini atau bahkan menulis tentang ini, tapi minimal masalah ini tidak jadi sumber pertengkaran di antara mereka berdua.
"Bolehkah aku ambil novel tulisanmu satu? Aku ingin membacanya. Itu akan membantuku merancang situs Webmu," kata Jongin sambil mengeringkan tangan di handuk.
Sehun mengangguk. "Ambil saja yang di rak buku. Aku masih menyimpan beberapa."
Ia berusaha tidak meringis risih membayangkan gadis itu membaca karyanya. Toh publikasi berarti buku yang ia tulis memang disebarluaskan untuk konsumsi umum. Namun pendapat Jongin tentang diri serta tulisannya sangat berarti, bahkan mungkin lebih dari yang seharusnya.
"Sejak tadi aku berpikir," ujar Jongin, menyela lamunan Sehun. "Karena sekarang kita tahu bahwa cincin itu benar curian, kemungkinan besar kalung pasangannya juga. Dan itu artinya nenekku memiliki barang curian. Aku perlu bicara dengan nenekku dan minimal menyiapkannya atas kemungkinan harus mengembalikan kalung itu ke pemilik sebenarnya." Ia bersandar ke meja dapur tempat ia bermesraan dengan Sehun semalam.
Sehun mengubah posisi berdiri, menyingkirkan kenangan itu dari kepalanya sebelum tubuhnya bereaksi lebih jauh lagi.
Sebetulnya Sehun tidak mau menyinggung kemungkinan nenek Jongin harus kehilangan kalungnya, dan sekarang ia lega karena Jongin sampai pada keputusan itu sendiri.
"Izinkan aku menemanimu saat kau memberitahunya. Mungkin aku bisa membantu menghiburnya."
Jongin menggeleng, matanya tampak sedih. "Kalung itu kesayangan nenekku. Mungkin dia ingin sendirian saja waktu aku memberitahu berita mengagetkan ini."
Sehun menyipitkan mata. Ia sudah pernah bertemu Taeyeon dan meski usianya lanjut, wanita itu tidak rapuh, dia juga bukan orang emosional yang tidak masuk akal. Ia punya firasat Taeyeon tidak akan keberatan Sehun ada di sana, walaupun Jongin bilang sebaliknya.
Dan itu artinya justru Jongin yang tidak mau ia ada di sana.
Gadis itu berusaha mempertahankan dinding emosi yang memisahkan mereka berdua, tapi Sehun tidak akan membiarkan hal itu. "Ayolah, Jong. Nenekmu suka padaku. Dia malah sudah menganggapku anggota keluarga," tukasnya sambil tersenyum lebar untuk meluluhkan hati Jongin. "Aku yakin dia akan senang mendapat dukungan moral."
Kata-kata itu ada benarnya. Tapi Sehun bertujuan lain lagi. Sesungguhnya, ia ingin berada di sana demi Jongin dan bukan Taeyeon. Ia sudah menyakiti hati gadis itu dengan tidak bersedia melepaskan kisah ini, dan seiring kemajuan penelitian dan wawancara mereka, informasi berbahaya mungkin akan bermunculan. Ia ingin berada di samping Jongin melewati semua ini.
Dari sikap tubuh Jongin yang kaku dan keheningan yang tidak nyaman Sehun tahu bahwa gadis itu tidak percaya sepenuhnya lagi pada dirinya seperti sebelumnya. Dan mungkin dia juga belum sepenuhnya memaafkan Sehun. Tapi ia wartawan yang sudah biasa menggali informasi dan berjuang untuk mendapatkan yang ia mau. Ia sangat menikmati tantangan dan tidak akan menyerah terhadap Jongin.
Ia merindukan sosok wanita santai yang memilin-milin lo mein dengan sumpitnya dan bicara panjang lebar di sela suapan makanannya, tertawa dan tersenyum sepanjang waktu. Ia mendambakan sosok wanita lembut dan pasrah yang mencapai puncak kenikmatan di meja dapur dan sekali lagi di tempat tidur Sehun.
Sehun tidak pernah menyerah. Pada akhirnya ia akan mampu membuat Jongin melunak lagi padanya. "Jadi bagaimana? Kita akan bertemu di apartemen nenekmu?"
Gadis itu membuka mulut, siap untuk membantah tapi menutupnya lagi. "Ya sudah, kalau itu maumu. Datanglah sekitar tengah hari. Saat itu rapatku pasti sudah selesai."
Sehun mengangguk, puas karena Jongin akhirnya setuju. Meskipun sebetulnya ia ada janji wawancara tepat tengah hari nanti, ia bisa memajukan atau memundurkan jadwalnya dan memprioritaskan Jongin. "Setelah itu kita bisa sama-sama kembali ke tengah kota dan mampir di Vintage Jewellery untuk bicara pada Siwon. Oke?"
Otot di rahang Jongin mengejang "Baiklah," akhirnya ia menjawab.
Jongin tidak melempar bantal atau telur padanya, tapi dia juga belum berniat untuk melunakkan sikap. Sehun pun sama ngototnya untuk terus berada di samping gadis itu setiap ada waktu luang sampai ia berhasil melewati tembok pertahanan gadis itu.
Sehun melirik jam di atas microwave dan mengumpat pelan. "Aku harus berangkat sekarang." Tanpa ragu, ia merangkul leher Jongin dan menariknya mendekat untuk ciuman selamat tinggal.
Dan itu bukan sekadar kecupan ringan, melainkan jenis ciuman yang panjang, sepenuh hati, dan berarti jangan lupakan apa yang kita bagi tadi malam.
.
Jongin merasa sesak.Tertekan oleh keadaan yang berada, di luar kendalinya, ia butuh waktu dan ruang untuk berpikir tentang malamnya yang luar biasa bersama Sehun dan pengakuan mengejutkan yang ia temukan setelah itu. Ia juga ingin memikirkan cara untuk memberitahu neneknya tentang kalung yang ternyata curian dan kemungkinan peran kakeknya dalam pencurian tersebut. Biasanya saat merasa terperangkap begini, ia akan melompat naik ke dalam pesawat.
Kali ini, itu pilihan mustahil, walau ia tidak bisa memungkiri hasrat untuk melihat tempat lapang terbuka entah di belahan dunia yang mana. Hal itu tidak mungkin karena ia begitu terlibat dalam misteri ini dan… ya, dengan Sehun. Karena tidak bisa memusatkan perhatian pada pekerjaan, ia menunda janjinya di Hot Zone. Alih-alih pulang, ia memutuskan melakukan hal terbaik nomor dua di bawah pergi terbang entah ke mana.
Jongin mendapati dirinya tiba di Empire State Building. Ia melewati petugas keamanan dan membeli tiket. Meski masih cukup pagi, para turis mulai ramai berdatangan, antrean mulai panjang di depan lift berkecepatan tinggi. Jongin tidak keberatan. Dengung suara orang-orang bicara menemaninya saat menuju lantai 86, lantai pandang yang sudah sering ia kunjungi. Tempat yang selalu sepadan dengan lama mengantre dan harga tiket masuk yang harus dibayar.
Jongin memakai tempat ini sebagai alat bantu pribadi untuk berpikir setiap kali ia pulang ke kota ini dan merasa dunia mengimpitnya hingga sesak. Pemandangan di balik jendela menjadi obat untuk akal sehatnya. Ia hafal semua detail tempat ini di luar kepala, namun tetap saja terkagum-kagum. Di hari yang cerah seperti sekarang ia bisa memandang sejauh 128 kilometer. Langit biru dan seolah melayang tanpa akhir di atas puncak-puncak gedung, terus menjangkau jauh sampai ke Connecticut, New Jersey, Pennsylvania, bahkan Massachusetts.
Ia ingat kunjungannya yang pertama kali ke sini bersama neneknya. Di salah satu acara "bolos" rutin menghindari latihan seluncur es, mereka menaiki lift cepat berdua. Nenek selalu menggenggam tangannya dan menyuruhnya menyandarkan kening di jendela yang dingin.
Jongin mengulangi kebiasaan itu sekarang, menyentuhkan kepala di panel kaca dan memejamkan mata. Saat ia membuka mata lagi, seolah ia melayang di udara di atas kota yang indah di bawah sana. Ia menghirup napas dalam-dalam dan menunggu agar semua masalahnya mengambang pergi. Sensasi kehilangan napas yang sudah ia tunggu melanda dirinya selama sesaat, tapi tak lama kemudian pikirannya melayang pada Sehun dan rasa bibir lelaki itu di bibirnya, kenangan saat tubuh mereka betapa ia bereaksi tanpa malu sedikit pun.
Ia tidak boleh membuat dirinya lupa bahwa lelaki itu punya tujuan sendiri. Semakin besar kisah cincin itu nantinya, maka Sehun sang reporter akan semakin gigih menyelidik demi keuntungannya sendiri. Belum lagi Sehun sang penulis fiksi. Minat lelaki itu betul-betul berlawanan dengan Jongin.
Lalu ada Taeyeon. Yang mengarahkan hal lain untuk memenuhi benak Jongin. Bagaimana cara memberitahu Taeyeon bahwa suami tercintanya mungkin terlibat dalam pencurian di sebuah rumah dan kalung berharganya mungkin nanti harus dikembalikan ke pemilik yang sah. Mendadak, langit biru tak bertepi dan besar matahari tidak lagi tampak menarik.
Kenyataan menunggunya dan Jongin tidak punya pilihan lain kecuali mengatasi hal itu sebaik mungkin. Menghadapi secara. langsung. Dan itu membuatnya teringat untuk menegur neneknya karena sudah memata-matainya dan Sehun, memotret mereka diam-diam seperti orang iseng lalu mengirim foto mereka ke Bachelor's Blog untuk konsumsi umum.
Ia menenangkan diri dan berdiri selama beberapa menit, menunggu rasa melayang di kepalanya mereda. Setelah memandang cakrawala yang menakjubkan untuk terakhir kalinya, ia berbalik dan melangkah menuju lift.
Ia ingin tahu apa pendapat Sehun tentang pemandangan ini dan tersadar jika ternyata ia ingin berbagi tempat istimewanya dengan lelaki itu dan melihat reaksi Sehun saat memandangi kota yang mereka cintai. Ide itu membuat sensasi dingin menderas menjalari tubuhnya, ia gemetar sekaligus pening pada saat yang sama.
.
Jongin tiba di apartemen neneknya dan masih punya banyak waktu sebelum Sehun datang untuk makan siang. Ia perlu mandi, ganti pakaian dan mungkin mengajak Taeyeon duduk lalu memulai obrolan canggung yang harus mereka lakukan. Tapi Taeyeon tidak sendiri. Jessica baru saja selesai mengoleskan cat rambut ke kepala wanita itu dan kelihatannya Taeyeon sedang bersiap untuk ganti menolong sahabatnya.
Jongin melirik dua wanita itu. "Bukankah aku sudah menelepon dan bilang aku dan Sehun akan mampir untuk makan siang?" Jongin tadi menyarankan agar lelaki itu membeli roti lapis di restoran kesukaan neneknya dalam perjalanan ke sini dan dia setuju.
Neneknya mengangguk. "Dan kami sedang siap-siap."
"Aku bisa lihat itu." Jongin melirik cat ungu di rambut Jessica.
"Ada yang tidak pulang tadi malam!" seru Taeyeon, matanya berbinar jail.
Meski sudah dewasa, Jongin tersipu malu. Sampai saat ini, tinggal bersama keluarga kesayangannya tidak pernah mengganggu kehidupan sosial Jongin. Ia biasanya selalu ingat untuk mengabari neneknya, hanya agar wanita tua itu tidak cemas. Namun tadi malam ia begitu terlena oleh Sehun sampai semua akal sehatnya hilang entah ke mana. Ia belum pernah dilanda gairah sedahsyat itu sampai tidak pulang semalaman, sama sekali lupa dengan apa yang mungkin dipikirkan neneknya.
Ini juga satu pertanda.
"Kuharap kau tidak khawatir," kata Jongin, prihatin karena sudah membuat neneknya cemas.
Taeyeon mengabaikan kata-kata Jongin dengan dengusan tidak anggun. "Tentu saja tidak. Aku tahu kau bersama orang yang hebat."
Andai saja neneknya tahu betapa hebat Sehun. Ingatan tentang meja dapur mendadak muncul lagi di benaknya dan wajah Jongin memerah panas.
"Nenek aku dengar seorang penggemar Bachelor's Blog mengirim foto yang menarik kemarin. Apa kira-kira Nenek tahu tentang itu?" tanya Jongin, mengganti topik pembicaraan.
Taeyeon dan Jessica diam-diam saling melirik.
"Tentu saja tidak," jawab neneknya.
Jongin mengangkat alis tidak percaya. "Oh, yang benar?"
"Benar. Nenekmu tidak akan pernah mengirim fotomu saat berciuman dengan Sehun." Jessica langsung menutup mulut dengan satu tangan.
"Berciuman? Jadi itu isi blog kemarin? Aku sendiri malah belum sempat membacanya." Taeyeon melirik Jessica dengan jijik sebelum berusaha bersikap tenang.
"Aku juga belum, tapi begitulah kata Sehun padaku," ujar Jongin. "Yang menarik adalah, kami hanya berciuman dua kali. Satu di sini dan satu lagi kami benar-benar hanya berdua." Ia mengarahkan komentar terus terang pada neneknya. "Aku tidak suka Nenek mengintip atau membuat kehidupan pribadiku diketahui oleh umum. Ingat itu baik-baik. Sekarang aku mau mandi." Jongin melangkah mundur meninggalkan ruangan, tatapannya terus mengawasi dua wanita itu.
Tapi hebatnya Taeyeon adalah dia tidak gentar sedikit pun. "Jessica juga akan makan siang di sini, Sayang."
Jongin berhenti. Meski ia juga amat sayang pada sahabat neneknya itu, ada jenis berita yang lebih baik didengar secara pribadi. "Banyak yang harus aku dan Sehun bahas denganmu," kata Jongin pada neneknya, berusaha untuk tidak menyinggung Jessica yang sudah ia anggap seperti keluarga sendiri.
"Jangan khawatir. Apa pun yang akan kaukatakan padaku akan kuceritakan pada Jessica juga nantinya," kata Taeyeon.
Dalam kasus ini, Jongin tidak terlalu yakin, tapi ia memaksakan seulas senyum.
"Tapi kalau kau ingin makan siang yang tertutup, aku mengerti," sahut Jessica sambil berjalan menuju bak cuci piring dan membilas dua tangannya.
"Omong kosong. Kau sahabatku. Kau tahu semua rahasiaku, jadi kau tetap di sini," ujar Taeyeon, berkacak pinggang.
Dan itu artinya dia tidak bisa dibantah lagi, Jongin tahu.
"Kau boleh datang kapan pun kau mau, Jessica," Jongin meyakinkan wanita tua itu. "Sehun akan tiba sekitar pukul dua belas." Dan itu berarti mereka masih punya waktu dua jam untuk menyelesaikan rambut mereka dan bersiap-siap, sedangkan Jongin punya cukup waktu untuk berpikir tentang peristiwa semalam bersama Sehun secara wajar dan tak berlebihan.
Andai saja ia bisa begitu.
.
End for This Chapter
