Light On My Darkness
Special Chapter
.
.
Author : Clou3elf
Main Cast : Jeon Jungkook, Kim Taehyung and others
Pairing : KookV
Genre : Drama, Romance
Rate : T-M (sesuai kebutuhan)
Warning : BxB, Seme!Kook, typo, membosankan, dll
A/N : Anggap aja sebagai satu tahunannya Light On My Darkness, juga sebagai ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya buat kalian yang udah mau baca, vote, dan komen ff ini. Saya ngga akan sesemangat ini buat lanjutin ff yang sejujurnya berat ini jika ngga ada support (ditambah teroran) kalian. Awalnya ini sebagai sogokan biar dibikinin ff dan setelah dipikir-pikir mungkin ini juga bisa untuk apresiasi ke kalian semua, kesayanganku xD
Dan warning lagi..ini full fluff. Tanpa garem. Jadi maafkan saya kalo nanti kalian gumoh gumoh.
.
.
Hope U Like
.
.
Happy Reading
.
.
Seorang wanita berusia 40-an tampak membuka pintu kamar sang putra yang sejak dua jam lalu tak mengeluarkan suara apapun. Mata yang mulai lelah itu melihat bagaimana orang yang dibawa sang putra tampak mendekap dengan penuh kelembutan dan keposesifan. Seakan tak membiarkan putra manisnya pergi dari sisinya.
Wanita itu tau dengan pasti jika Kim Taehyung putranya sudah melalui masa-masa sulit di tempatnya bekerja. Namun dia juga bangga, karena ternyata Taehyung-nya bisa melalui semua itu dengan tenang. Bahkan mendapat kepercayaan sebegini besar dari pasien yang dirawatnya. Dan dia yakin, pasien putranya kali ini tidak akan menyakiti sang putra.
Ibu Taehyung memutuskan untuk keluar dari kamar anaknya. Niatnya tadi ingin melihat keduanya. Senyumnya tersemat sedih saat melihat raut lelah di wajah kedua namja itu. Tentu mereka lelah dengan alasan yang berbeda.
"Istirahatlah kalian" ucap Nyonya Kim sebelum menutup pintu kamar putranya.
Semenit kemudian Jungkook membuka matanya. Dia terbangun saat Nyonya Kim membuka pintu kamar Taehyung tadi. Tak berniat membuka matanya hanya untuk mengetahui apa yang akan dilakukan orang itu padanya, pada mereka. Begitu beliau keluar, barulah Jungkook mau membuka matanya.
Mengetahui jika Nyonya Kim tidak melakukan apa-apa membuat Jungkook sempat bingung. Dia ingin tau apa yang Nyonya Kim pikirkan. Tapi sejauh ini, wanita yang dipanggil ibu oleh Taehyung itu tidak berniat menjauhkan Taehyung darinya. Jadi, bolehkah Jungkook berharap jika kedua orang tuanya menerimanya sebagai teman Taehyung?
Kemudian mata hitam Jungkook beralih ke wajah Taehyung yang luar biasa dekat dengannya. Sengaja. Jungkook sengaja mendekap Taehyung dengan erat hingga membuat wajah mereka sangat dekat. Dan diperparah dengan Taehyung yang balas memeluknya –entah sengaja atau tidak- dan semakin membuat wajah mereka dekat.
Jarak antara wajah mereka hanya seperti tiga lembar kertas. Hidung mereka sudah saling menempel. Jungkook hanya perlu sedikit memajukan wajahnya untuk dapat mencapai bibir merah Taehyung yang sangat menggoda.
Hell, kemana saja dia selama ini. Jungkook baru tau jika wajah Taehyung luar biasa menarik dengan bibir merah yang begitu mengundang. Belum lagi tubuh semampai Taehyung yang nyaris menyerupai tubuh wanita.
Jungkook pernah melihat hampir keseluruhan tubuh polos namja yang ada di dekapannya ini. Dan baru sekarang Jeon Jungkook menyadari jika Taehyung itu paket komplit jelmaan Aphrodite yang penuh godaan.
Salahkan obat-obatan yang sering dikonsumsinya itu. Semua obat-obatan itu membuat gairah seksualnya semakin menurun. Jungkook sangat jarang merasakan dirinya tergoda oleh sesuatu. Dan dia baru merasakannya sekarang.
Karena Kim Taehyung.
"Kau. Kim Taehyung. Siapa kau sebenarnya?" gumam Jungkook.
Jungkook memperhatikan dengan tenang dan dalam semua lekukan wajah Taehyung. Alis yang memiliki kurva lengkungan yang menawan, dahi polos yang tertutupi poni, mata kucing yang cantik saat terbuka, bulu mata panjang dan lentik, hidung mancung yang manis, pipi yang sedikit chubby, dan bibir tipis yang merah menggoda.
Merah adalah warna kesukaan Jungkook. Dan Jungkook makin menyukai warna merah saat itu dipasangkan dengan bibir Taehyung.
Mungkin Tuhan sedang bahagia saat menciptakan Kim Taehyung. Paras yang sungguh luar biasa menawan. Tubuh indah semampai. Dan sifat yang luar biasa baik. Jungkook sempat berpikir jika Taehyung ini malaikat berwujud manusia yang ditugaskan untuk menemaninya dan menyembuhkannya.
Dan Jeon Jungkook akan sebisa mungkin menjaga Kim Taehyung-nya.
.
.
Light On My Darkness – Special Chapter
.
.
Tepat pukul 11 siang Taehyung terbangun. Dia terbangun karena mendengar ponselnya berbunyi nyaring. Tadinya Taehyung ingin mengabaikan jeritan ponselnya itu, tapi sungguh dia terganggu dengan suaranya. Ditambah hembusan nafas hangat yang menerpa wajahnya.
Begitu Taehyung membuka mata, pemandangan Jeon Jungkook yang terlelap adalah hal pertama yang tertangkap matanya. Taehyung hanya bisa berkedip lucu melihat sosok di depannya. Taehyung tak ingat kapan Jungkook memeluknya, tapi sejujurnya Taehyung merasa nyaman dan terlindungi.
Taehyung tersenyum begitu manis saat memperhatikan Jungkook yang tidur. Mereka sering tidur berdua namun Taehyung baru benar-benar memperhatikannya hari ini. Dia merasa Jungkook itu lucu saat sedang tidur.
Walau ada segurat kelelahan di wajah tampan itu tapi Taehyung masih merasa Jungkook itu luar biasa tampan. Alis yang sangat cocok dengan wajahnya, dahi yang membuat Taehyung sering menahan nafas jika melihatnya, hidung mancung sempurna, bekas luka di pipinya yang justru menambah kadar ketampanan namja ini, dan bibir lembut yang menawan. Belum lagi tubuh atletis dan proporsional milik Jungkook.
"Kau itu tampan Jungkookie" Taehyung menyingkirkan poni Jungkook yang menjuntai sampai mata. "Sangat tampan, bahkan"
Taehyung terlonjak saat deringan ponselnya kembali terdengar. Dia sampai lupa apa alasannya terbangun tadi. Dengan perlahan Taehyung menggerakkan dirinya berusaha keluar dari kungkungan hangat Jungkook.
Semakin Taehyung berusaha lepas dari kungkungan Jungkook, maka namja itu akan semakin membuatnya terperangkap. Jungkook sedang tidur, tapi bahkan alam sadarnya tak mengijinkan dia untuk melepas Taehyung begitu saja. Sungguh luar biasa.
Taehyung masih berusaha menyingkirkan tangan Jungkook dari tubuhnya. Ponselnya terus menjerit dan Taehyung tak mau ambil resiko Jungkook terbangun. Namja itu baru tidur selama beberapa jam. Jungkook perlu istirahat lebih banyak. Well, istirahat lebih banyak sebelum Taehyung mengajak anak itu pergi bersamanya hari ini.
Tubuh kurusnya menegang saat mendengar geraman kesal dari Jungkook. Geraman kesal karena tidurnya terusik.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Jungkook seraya mengeratkan pelukannya tanpa membuka matanya.
"Po-ponselku berdering. Dan aku harus mengangkatnya" ucap Taehyung. "Biarkan aku bangun dan kau bisa lanjutkan tidurmu"
Jungkook melepas Taehyung. Membiarkan Taehyung bangkit dan meraih ponselnya. Setelah Taehyung mendapatkan benda itu, Jungkook langsung memeluk pinggangnya dan mengunci kakinya seperti guling. Taehyung hanya melongo sebelum kemudian memilih segera mengangkat teleponnya.
"Yoboseyo"
"Kau dimana? Apa kau akan menjenguk Minjae? Dia menanyakanmu terus kalau kau mau tau"
Taehyung terkekeh. Tangan kanannya yang bebas mengelus rambut Jungkook yang ada di pahanya. Posisi Taehyung sekarang adalah duduk menyandar pada headbed dan menyelonjorkan kakinya. Sedangkan Jungkook meletakkan kepalanya ke paha Taehyung. Berbaring miring dan memeluk kaki panjang Taehyung.
"Ne, noona. Eum, mungkin pukul 4 sore aku akan kesana menjenguk Minjae"
"Dasar. Baiklah. Minjae di rawat di ruang nomor 96. Pastikan kau benar-benar datang, Tae. Atau aku akan sakit kepala mendengar omelan Minjae"
Taehyung tertawa kecil seraya memainkan rambut halus Jungkook. Dia suka rambut Jungkook yang sekarang. Lebih lembut dan lebih terawat. Tidak lagi kusam, kusut, dan kotor. Ah, rambut Jungkook juga wangi. Wangi menthol yang maskulin.
"Arraseo. Aku janji akan datang tepat pukul 4 sore" Taehyung memasang wajah serius yang lucu.
Jungkook tersenyum saat mendongak memandang semua ekspresi namja manis yang sudah sudi merawatnya selama ini dengan baik. Wajah Taehyung sungguh cantik. Jungkook menyukainya.
"Baiklah jaga dirimu noona. Dan salamkan salamku pada yang lain"
Dan sambungan telepon itu pun terputus. Jungkook memandangi saat Taehyung kembali meletakkan ponselnya di meja nakas. Merasa dipandangi, Taehyung balas memandang polos ke arah Jungkook.
"Ada apa?"
Jungkook merubah posisinya menjadi duduk menghadap Taehyung. Memandang namja itu serius dengan lekat. Membuat Taehyung bingung sekaligus membuat jantungnya berdegup kencang.
"Kau akan pergi lagi?"
Taehyung mengangguk, "Aku akan menjenguk temanku di rumah sakit. Dia terluka parah"
"Apa-"
"Aku akan pergi bersamamu kalau kau mau tau itu" Taehyung tersenyum melihat wajah Jungkook mulai melunak.
"Kau pergi bersamaku?" Jungkook balas tersenyum.
Taehyung mengangguk sekali lagi, "Tapi sebelum itu, aku akan membawamu jalan-jalan keliling Daegu. Kau mau?"
"Bukankah sudah kukatakan" Jungkook menjeda ucapannya hanya untuk melihat wajah penuh tanda tanya dari Taehyung. "Kemana pun Tae. Kemana pun asal itu bersamamu, denganmu, hanya kau dan aku, aku akan ikut. Jadi, aku akan ikut kemanapun kau membawaku. Aku pasti menjagamu kemanapun kau membawaku"
Taehyung merutuki jantungnya yang berdebar mendengar ucapan Jungkook. Apalagi Jungkook mengatakan semua itu dengan mata yang tak berkedip menatap ke bola matanya dan tangan besar yang menggenggam tangannya secara pasti. Meyakinkan Taehyung jika Jungkook akan benar-benar menjaganya kemanapun dia membawa Jungkook.
Itu membuat tekad Taehyung untuk membantu kesembuhan Jungkook semakin besar. Dia sangat ingin melihat Jungkook bahagia dengan hidup tenang, tanpa bayangan ketakutan dan kecemasannya. Tanpa halusinasi-halusinasi berlebihan yang menghantuinya. Taehyung benar-benar ingin melihat Jungkook hidup seperti itu.
Ah, Taehyung juga ingin melihat Jungkook tersenyum lembut seperti ini selamanya. Taehyung juga ingin melihat Jungkook melanjutkan hidupnya, mengenyam pendidikan, dan menikah dengan orang yang dicintai dan mencintainya seperti yang pernah Jungkook katakan padanya waktu itu.
Semua usaha Taehyung selama ini. Semua pengorbanan Taehyung selama ini akan terbayar lunas saat melihat Jungkook bahagia. Semua kelelahannya akan terbayar begitu melihat Jungkook tertawa puas.
"Jungkookie" Taehyung maju kemudian menangkup pipi kiri Jungkook dengan tangan kanannya. Mengusap bekas luka Jungkook dengan lembut. Sadar atau tidak, tatapan mata Taehyung saat ini benar-benar lembut yang tertuju pada Jungkook.
"Eum?" Jungkook masih tersenyum. Kebahagiaan membuncah di dadanya saat melihat sikap Taehyung yang sangat lembut padanya. Jungkook tak ingin memikirkan apapun sekarang. Dia hanya ingin menikmati setiap waktunya dengan Taehyung.
Hanya dengan Kim Taehyung.
"Berjanjilah untuk sembuh. Dan berjanjilah kau akan bahagia" Taehyung mengucapkan itu dengan nada yang sangat lirih namun lembut.
Jungkook mengangguk kemudian kedua tangannya balas menangkup wajah Taehyung dengan luar biasa hati-hati. Seakan takut Taehyung akan tergores jika dia tidak memperlakukan Taehyung dengan sangat lembut. Tatapan mata mereka masih bertemu dengan telak.
Sejujurnya semua ini mengantarkan friksi asing yang menelusup ke sanubari Taehyung. Membuatnya hangat sekaligus berdebar. Dia bisa merasakan jika dirinya sangat berharga bagi Jungkook. Dia bisa merasakan sebesar apa Jungkook membutuhkannya hanya melalui sentuhan rapuh namja di hadapannya.
"Aku akan sembuh, Tae. Aku benar-benar akan sembuh. Dan aku juga akan bahagia. Bersamamu" suara Jungkook yang rendah justru membuat Taehyung ingin menangis. Suara itu luar biasa lembut dengan keyakinan kuat di dalamnya.
"Aku akan meraih kebahagiaanku denganmu. Aku akan sembuh dan meraihmu" Jungkook berbisik lembut.
Taehyung tersenyum manis begitu matanya menangkap keyakinan, kelembutan, dan tekad kuat yang terpancar di mata Jungkook. Mata hitam yang menyimpan kekhawatiran, kegelisahan, ketakutan, dan kesakitan itu kini terpancar begitu hangat padanya. Semua itu sirna begitu saja. Hanya menyisakan tekad kuat Jungkook untuk sembuh dan menjemput bahagianya.
Bohong jika Taehyung mengatakan dia merasa biasa saja menerima semua perlakuan Jungkook padanya hari ini. Itu mutlak kebohongan. Karena nyatanya sekarang Kim Taehyung ingin menangis penuh haru dan memeluk namja di depannya ini. Taehyung benar-benar leleh. Dia meleleh karena ucapan dan perlakuan Jungkook.
"Aku bersamamu, Jungkookie. Aku akan membantumu sembuh dan meraih bahagiamu. Aku janji" Taehyung berucap penuh kesungguhan. Bukan lagi sebagai perawatmu, tapi sebagai teman. Lanjutnya dalam hati.
Jungkook tersenyum lega mendengarnya. Dia percaya pada Taehyung. Kepercayaan Jungkook sudah dimiliki Taehyung sepenuhnya. Jungkook tak percaya pada siapapun selain Kim Taehyung.
Jemari Jungkook masih mengelus pipi Taehyung dengan lembut. Dan secara perlahan jarak diantara mereka berdua semakin terkikis bersamaan dengan kewarasan Taehyung yang semakin menguap. Mata Taehyung semakin sayu seiring dengan jarak mereka yang kian terpangkas.
Hingga akhirnya, untuk pertama kalinya, Jungkook mempertemukan kedua belah bibirnya dengan bibir Taehyung. Merasakan dengan khidmat bibir lembut Taehyung yang sedari tadi sangat ingin dia rasakan. Dan Jungkook merasa jika bibir Taehyung sangat luar biasa.
Dengan gemetar dan ritme yang sangat lamban, Jungkook menggerakkan bibirnya. Melumat bibir Taehyung dengan penuh kehati-hatian. Menyesap dan menyimpan baik-baik kelembutan tekstur bibir Taehyung dan rasa manis yang dirasakannya.
Taehyung sudah memejamkan matanya saat pertama kalinya bibir mereka bersentuhan. Tertatih mengikuti permainan bibir Jungkook yang menakjubkan. Jantungnya bergemuruh menyakitkan tapi Taehyung menyukai sensasinya. Namja itu merinding saat tangan Jungkook yang tadi di kedua pipinya kini merambat pasti ke tengkuknya. Kedua tangannya pun kini mengalung dengan pasti ke leher Jungkook.
Jungkook mendorong lembut tubuh Taehyung hingga terbaring kembali tanpa melepas ciuman mereka. Jungkook menggunakan kedua lengannya sebagai penyangga tubuhnya. Membuat Taehyung merasa sesak nafas karena gairah yang dirasakannya.
Tautan mereka terlepas. Jungkook menggunakan kesempatan itu untuk kembali memandangi wajah cantik Taehyung yang tak pernah membuatnya bosan. Taehyung masih memejamkan matanya. Masih terlalu gugup untuk balas memandang Jungkook yang berada di atasnya.
Jungkook tersenyum kecil melihatnya. Dia bisa melihat wajah Taehyung kini merona parah. Ternyata warna kesukaannya jika disandingkan dengan Kim Taehyung akan menghasilkan hasil yang luar biasa menakjubkan seperti saat ini. Jungkook suka melihatnya.
Kedua bibir itu kembali bertemu. Tak terlalu lama. Hanya lumatan kecil yang kemudian berlanjut dengan bibir basah Jungkook yang menelusuri rahang Taehyung hingga ke leher jenjang namja itu. Jungkook menelusupkan wajahnya ke leher Taehyung hanya untuk menghirup dalam-dalam aroma alami tubuh Taehyung. Tanpa aroma sabun dan parfum yang menempelinya.
Dan Jungkook sudah mematrikan dalam hati dan otaknya jika aroma tubuh Taehyung adalah aroma kesukaannya mulai saat ini. Taehyung sendiri tampak menikmati saat Jungkook sesekali mengecup lehernya.
Namja bermarga Kim itu baru berani membuka matanya saat lengan kekar Jungkook memeluknya. Membuatnya kembali merasakan perasaan aman dan hangat. Tiba-tiba Taehyung merasa malu. Luar biasa malu.
Ini pertama kalinya Taehyung melakukan itu. Ciuman pertamanya terenggut namja tampan yang tengah menelusupkan wajah ke lehernya dan memeluknya erat. Taehyung menggigit bibir bawahnya, menahan diri untuk tidak tersenyum berlebihan.
"Ka-kau, tti-tidak lapar, Kookie?" tanya Taehyung terbata.
Taehyung bisa merasakan jika Jungkook mengangguk di lehernya. Membuatnya mati-matian tidak memekik kegelian.
"B-baiklah, a-a-aku akan mengambilkan makanan untukmu" setelah mengatakan itu, Taehyung langsung bangkit dari posisinya setelah menyingkirkan tangan Jungkook terlebih dahulu.
Dia merasa dia harus segera keluar dari kamar. Ternyata berdua dengan Jungkook itu berbahaya bagi jantung dan dirinya.
Jungkook hanya membiarkannya. Taehyung sudah berjanji padanya kan? Jadi Jungkook akan menunggunya disini. Dia tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan Kim Taehyung yang baru dilihatnya. Ingatkan Jungkook untuk sering melakukan hal itu. Menyenangkan sekali bisa melakukan itu pada Taehyung dan melihat sisi menggemaskan perawat manis itu.
.
.
Light On My Darkness – Special Chapter
.
.
Di dapur, Taehyung sibuk mondar-mandir tak karuan. Sesekali dia menggigit bibirnya dengan gugup. Demi Tuhan! Kemana akalnya tadi? Kenapa rasanya Taehyung justru menikmati moment itu?
"Kau bodoh, Tae" omelnya. Taehyung merengut lucu saat memikirkan kelanjutan hubungan mereka.
Pasti akan terasa sangat canggung untuk saat ini. Setidaknya itu pikiran Taehyung. Jungkook juga pasti merasa aneh. Aneh dengan dirinya sendiri dan aneh dengan diri Taehyung juga. Kenapa Jungkook melakukan itu? Dan kenapa Taehyung justru tak menolak atau menegurnya?
"Lalu bagaimana aku menghadapi anak itu nanti~~" Taehyung merengek pelan. "Astaga menyebalkan"
Taehyung masih menggerutu saat akan membuka kulkas. Matanya memicing melihat note berwarna ungu yang tertempel manis di pintu kulkas.
'Eomma sudah memasakkan makanan kalian. Hangatkan saja. Dan eomma pergi dulu. Mungkin eomma akan pulang sore. Take care'
Taehyung berkedip tiga kali sebelum akhirnya menghela nafas panjang. Kurang lengkap apa lagi hari ini? Eomma-nya pergi entah kemana dan akan pulang sore. Otomatis dia hanya berdua dengan Jungkook. Adik-adiknya sekolah dan ayahnya sedang bekerja.
"Baiklah lebih baik cepat hangatkan makanan dan beri Jungkook makan. Anak itu harus minum obat" entah sejak kapan Taehyung jadi suka bermonolog ria.
Taehyung masih sibuk dengan urusannya. Menghangatkan makanan dan menyiapkan sarapan –yang terlambat- untuk dirinya dan Jungkook saat namja itu berjalan menuju dapur. Taehyung terlalu fokus sampai tidak melihat Jungkook yang sudah duduk manis di meja makan, memperhatikannya.
Jungkook tersenyum kecil saat melihat Taehyung bekerja sambil menyenandungkan berbagai macam lagu. Hanya beberapa bait kemudian berganti lagu lain, begitu seterusnya.
"Omo!" Taehyung melonjak kaget saat melihat Jungkook sudah ada di dapur. Untung saja makanan yang dibawanya tak jatuh. "Kau mengejutkanku" ucapnya.
"Aku sudah disini sejak tadi, Tae" oh? Jeon Jungkook sudah bisa membuatnya kesal sekarang.
"Terserah. Tunggu sebentar lagi" Taehyung mempercepat gerakannya.
Meletakkan nasi di meja. Kemudian piring, mangkuk, sendok, makanan yang sudah dimasak ibunya, dan terakhir air minum. Kemudian tanpa mengatakan apapun, Taehyung mengambilkan nasi untuk Jungkook. Beserta lauk dan sebagainya.
Terlihat seperti pengantin baru.
"Nah makanlah. Setelah itu segera minum obatmu dan segera mandi. Kita akan pergi" Taehyung masih tersenyum.
"Kemana?"
"Aku akan mengajakmu jalan-jalan. Mengenalkan Daegu padamu" ucap namja itu ceria.
Jungkook tersenyum. Dia baru melihat sisi Taehyung yang seperti ini. Ceria dan menggemaskan. Selama ini Jungkook selalu melihat sosok Taehyung yang sedikit kaku karena beban pekerjaannya. Sekarang, Taehyung terlihat lebih santai.
"Baiklah" Jungkook mengangguk. "Tae, apa aku bisa tidak meminum obatku?"
Alis Taehyung menukik lucu, "Tidak. Kau harus tetap meminum obatmu"
"Efek samping obat itu membuatku mengantuk, Tae. Dan aku tak mau tidur saat sedang jalan-jalan denganmu. Aku harus menjagamu"
Tangan Taehyung yang hendak menyuapkan nasi ke mulutnya jadi terhenti. Bibirnya mengatup begitu saja. Jungkook ini, suka sekali membuatnya tercengang.
"Obat ini tidak akan membuatmu mengantuk. Antipsikotik dan obat penenang yang kuberikan nanti tak memberikan efek samping berlebihan. Well, aku hanya ingin kau bisa menikmati perjalanan kita nanti. Tanpa khawatir berlebihan dan tanpa mengantuk berlebihan pula. Adil kan?" jelas Taehyung.
Jungkook tersenyum lebar. Setuju dengan yang Taehyung lakukan. Jungkook seratus persen percaya jika Taehyung tidak akan membuatnya kecewa. Namja manis itu akan memberikan apapun yang terbaik untuknya. Apapun.
"Cepat habiskan makananmu"
Setelah itu tak ada lagi percakapan diantara mereka. Mereka menikmati makanan dengan tenang. Oh, tentu saja tidak sepenuhnya tenang karena Jungkook sedari tadi memperhatikan perawat manisnya. Membuat Taehyung nyaris tersedak berulang kali karena merasa gugup.
Mereka masih terjebak dalam keheningan sampai Taehyung selesai membersihkan peralatan yang tadi dia gunakan. Jungkook masih disana. Dia menunggu Taehyung sekaligus memandangi namja menggemaskan itu.
"Kau mau minum obat disini atau ke kamar?" tanya Taehyung.
"Sejujurnya aku ingin ke halaman belakang, Tae"
"Oh?" Taehyung membulatkan matanya, "Baiklah. Kau pergilah kesana. Akan kusiapkan obatmu"
Jungkook hanya mengangguk. Dia berjalan menuju halaman belakang rumah Taehyung yang sejak kemarin menarik perhatiannya. Jungkook selalu ingin pergi kesana jika saja Taehyung tidak membuatnya khawatir semalam.
Tujuh menit kemudian, Taehyung datang sambil membawa nampan yang berisi obat-obatan dan segelas air mineral untuk Jungkook. Namja itu sedang duduk di ayunan yang dibuat sendiri oleh ayah Taehyung. Matanya menatap kolam ikan kecil dan bunga-bunga yang ditanam ibu Taehyung. Taehyung tersenyum melihat wajah tenang Jungkook.
"Jungkookie, waktunya minum obat"
Jungkook menoleh kemudian menggeser tubuhnya agar Taehyung bisa duduk disana. "Apa aku harus minum obat?"
Taehyung mengangguk, "Kau harus. Kau bisa tetap bersamaku sampai kapanpun hanya jika kau tidak melepas obatmu"
"Kau akan tetap bersamaku jika aku tetap minum obatku?"
Taehyung mengangguk mantap. "Anggap saja ini seperti perjanjian diantara kita. Kau minum obatmu dengan teratur, dan aku akan tetap bersamamu"
Jungkook memperhatikan Taehyung dengan seksama. Matanya menatap lekat ke wajah manis yang selalu dilihatnya selama kurun waktu ini. Taehyung sedang sibuk dengan obat-obatan yang akan diminum Jungkook. Tapi dia tau jika Jungkook memperhatikannya.
"Aku akan membuatmu tetap bersamaku apapun alasannya dan bagaimanapun caranya" ucap Jungkook.
Taehyung menghentikan gerakannya. Jika diperhatikan lagi, wajah Taehyung sedang menunjukkan ekspresi blank yang lucu. Semenit kemudian Taehyung membalas tatapan Jungkook dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku berharap alasan dan cara yang kau gunakan tidak merugikan dan menyakiti siapapun Jungkook-ah"
Taehyung tersenyum kemudian memberikan beberapa butir obat untuk segera dikonsumsi oleh Jungkook. Taehyung memberikan obat Risperidone dan Hexymer yang masing-masing 1 mg. Taehyung juga menambahkan obat penenang jenis Alprazolam sebanyak 0.5 mg agar Jungkook merasa nyaman tanpa khawatir merasa mengantuk.
Selama ini Taehyung selalu memberi obat dengan dosis rendah mengingat Jungkook yang belum menunjukkan gejala Skizofrenia yang parah. Namun Taehyung tetap berkonsultasi dengan dokter yang menangani Jungkook dulu. Dan perawat itu tetap mencari cara agar bisa membawa Jungkook menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Taehyung tidak berani bertindak gegabah jika menyangkut pasiennya ini. Dia hanya sebagai perawat yang bertugas merawat dan memastikan Jungkook meminum obatnya dengan rutin. Namja itu juga berniat mencari dokter pribadi untuk Jungkook. Dan setelah berkonsultasi dengan Dokter Kang, Taehyung jadi berniat memberikan Jungkook terapi jiwa.
Baiklah itu urusan nanti.
.
.
Tepat pukul dua belas lewat sepuluh menit, Taehyung dan Jungkook siap. Taehyung membawa tas ransel yang memuat beberapa makanan dan minuman serta obat milik Jungkook, juga dua buah mantel tebal. Tanyakan saja pada Taehyung bagaimana barang sebanyak itu muat di tas ranselnya.
"Sudah siap?" tanya Taehyung.
Jungkook mengangguk mantap. Namja itu terlihat sangat tampan sekarang. Jungkook mengenakan pakaian berwarna putih yang dipadukan dengan jaket berwarna hitam, sepatu Puma berwarna putih, celana berwarna abu-abu, dan tatanan rambut dengan poni berdiri. Menampilkan dahi mulus yang sangat pas dengan wajah tampannya. Dan itu membuat Jungkook berjuta kali lebih tampan dari biasanya.
Sedangkan Taehyung sendiri mengenakan kaos lengan panjang berwarna cokelat susu yang dipadukan dengan coat berwarna cokelat cappucino, celana berwarna hitam dengan sobekan artistic di lutut dan sepatu sport berwarna hitam pula. Di mata Jungkook, namja itu tampak sangat menggemaskan dan juga cantik. Ah, Taehyung memang selalu terlihat sempurna.
"Kemari, biar kubawakan ranselnya" ucap Jungkook.
"Apa tidak apa-apa?" Taehyung bertanya dengan tampang polos.
Mengundang Jungkook untuk terkekeh dan mengacak tatanan sempurna surai cokelat namja manis ini. Membuat Taehyung merengut kesal karena usahanya menata rambut jadi sia-sia.
"Tentu saja tidak apa-apa. Cha, kemarikan ransel itu" Jungkook berucap lembut.
"Baiklah. Kalau kau merasa lelah membawa ransel itu, bilang padaku. Kita bergantian" Taehyung tersenyum.
"Arraseo. Jadi kajja kita berangkat" Jungkook langsung menggenggam tangan kurus Taehyung.
Taehyung sempat terkejut tapi dia hanya membiarkan. Hanya saat mereka di Daegu Taehyung akan melupakan status Jungkook yang notabene pasiennya. Lagipula ini juga untuk Jungkook. Asal Jungkook senang maka Taehyung akan lega.
"Jadi, kemana kau akan membawaku hari ini?" tanya Jungkook.
"Aku sebenarnya memiliki banyak tujuan. Sangat banyak sampai aku bingung harus kemana. Kau tau Kookie, di Daegu itu banyak sekali tempat menyenangkan yang bisa dikunjungi. Kau harus mendatangi tempat itu satu persatu. Aku yakin kau akan menyukainya"
Jungkook memandang penuh puja ke wajah Taehyung. Menyaksikan sendiri bagaimana wajah manis itu tampak semakin cantik saat tersenyum dengan sorot mata penuh binar dan senyum kotak menggemaskan. Jungkook yang sudah jatuh dalam pesona Taehyung jadi semakin jatuh. Pesona Kim Taehyung itu tidak main-main.
Perasaan hangat dan nyaman menelusup kuat ke dalam diri Jungkook. Melihat Taehyung yang berucap ceria seperti anak kecil yang sedang menceritakan pengalaman barunya membuat Jungkook senang. Hal sesederhana itu yang sebenarnya Jungkook butuhkan agar tetap merasa tenang. Singkatnya, cukup sinar bahagia dari wajah Taehyung yang dia butuhkan.
"Oke. Oke. Bawa aku kemanapun. Tapi yang terpenting, transportasi apa yang akan kita gunakan?" tanya Jungkook menyela.
Mata Taehyung membulat lucu, "Kau benar! Transportasi. Astaga aku terlalu sibuk memilih tempat yang bagus untukmu sampai melupakan transportasi yang harus kita gunakan"
Jungkook tertawa kecil kemudian memegang kedua pundak Taehyung. Menghadapkan tubuh kurus semampai itu tepat di depannya. Menatap mata cokelat yang sangat dia kagumi. "Kemanapun dan apapun transportasi yang akan kau pilih, aku tidak apa-apa. Jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Percayalah, aku akan baik-baik saja"
Berkedip sekali dua kali, Taehyung akhirnya tersenyum, "Baiklah. Aku percaya padamu dan kau percaya padaku. Kita naik bus. Apa itu oke?"
Jungkook mengacungkan kedua jempolnya ke depan wajah Taehyung, "Call!"
Taehyung tertawa melihat tingkah lucu Jungkook. Ah, rasanya menyenangkan.
.
.
Tujuan pertama Taehyung adalah Duryu Park. Sebuah taman yang menjadi tempat relaksasi favorit warga Daegu. Begitu masuk ke dalam kawasan sebesar empatpuluh hektar itu, otak Taehyung sudah merancang kegiatan apa saja yang akan mereka lakukan sampai pukul 4 sore nanti.
Jungkook berdecak kagum saat memasuki area taman yang dikelilingi banyak bunga ini. Di depannya juga terpampang sebuah menara yang cukup tinggi. Jungkook membayangkan pemandangan yang dihasilkan apabila dia berada di atas sana.
"Kau tertarik dengan itu? Itu adalah Daegu Tower yang dibangun sekitar tahun 1992. Tingginya mencapai 202 meter. Dan kau tau Kookie, dari atas sana kita bisa melihat pemandangan kota Daegu dan kota sekitarnya. Bentuknya meniru dari pagoda Tabot'ap Bulguk-sa. Menara ini juga mempunyai ruang untuk pengembangan ilmu pengetahuan, ruang komunikasi dan PR dan juga sebuah ruang pertunjukkan yang berukuran kecil" jelas Taehyung layaknya pemandu wisata.
Jungkook lagi-lagi dibuat kagum dengan menara di depannya. Rasanya semakin tidak sabar untuk mencicipi melihat pemandangan dari atas sana.
"Kajja kita kesana"
"Kau mau langsung kesana? Tidak berkeliling dulu?" tanya Taehyung memastikan.
"Kita kesana dulu kemudian berkeliling" jawab Jungkook semangat.
Taehyung tertawa. Jika begini, Taehyung merasa Jungkook terlihat sesuai dengan usianya, 19 tahun. Usia dimana namja itu masih bisa menikmati masa mudanya dengan penuh keceriaan dan pengalaman menarik.
"Baiklah kajja" sekarang Taehyung yang terlihat seperti anak kecil dengan mengamit lengan Jungkook dan menariknya.
Sesuai permintaan Jungkook tadi, mereka langsung menuju lantai tertinggi. Tempat dimana mereka bisa melihat pemandangan menakjubkan dari ketinggian 202 meter.
"Wow, Tae. Ini benar-benar menakjubkan. Indah sekali" Jungkook tersenyum lebar.
Taehyung memberikan ponselnya pada Jungkook. Membiarkan namja itu memonopoli ponselnya dengan sibuk mengabadikan pemandangan itu. Taehyung sendiri sibuk dengan teropong yang disediakan oleh pihak pengelola.
Sudah lama dia tidak kemari. Seingatnya, terakhir kali Taehyung kemari bersama dengan teman-temannya saat kelulusan dulu. Ah, namja itu jadi merindukan teman-temannya.
"Tae"
Taehyung menoleh dan…
Ckrek!
Taehyung berkedip selama kurang lebih dua puluh detik. Sebelum kemudian dia berteriak heboh begitu sadar Jungkook memotretnya saat dia tidak sedang dalam posisi yang bagus untuk difoto.
"Ya! Jungkookie! Kemarikan ponselku"
Jungkook tertawa melihat hasil jepretannya. Taehyung terlihat sangat menggemaskan dengan ekspresi blanknya. Jungkook mengangkat tangannya tinggi-tinggi saat Taehyung hendak meraih ponselnya. Membuatnya sampai harus berjinjit agar Taehyung tidak bisa meraihnya.
"Kemarikan Jeon!"
"Tidak mau"
"Jung-" Taehyung terpaku.
Mereka berdua sama-sama terdiam saat menyadari jarak diantara mereka terkikis. Tubuh keduanya sudah menempel. Jungkook menyelami kedua manik indah milik Taehyung. Begitu pun Taehyung. Dia sibuk memperhatikan keseluruhan wajah Jungkook.
Tangan kanan Jungkook masih berada di atas. Mengantisipasi agar Taehyung tidak merampas kembali ponselnya. Kemudian tangan kirinya menarik pinggang Taehyung agar semakin menempel padanya. Kedua tangan Taehyung reflek bertengger di kedua pundak lebar nan kokoh milik Jungkook. Wajahnya merona.
"Wajahmu merah" Jungkook berbisik lembut. Oh Jeon, perlukah kau memperjelas semua itu?
"Mw-mwo?! Ti-tidak mungkin" Taehyung mendadak gugup.
Chu~
Jungkook mencium kening Taehyung dengan lembut. Sepenuhnya mengabaikan pengunjung lain yang memekik heboh melihat kemesraan mereka. Sedari tadi Jungkook benar-benar mengabaikan sekelilingnya. Di depannya dan yang menjadi fokusannya hanya Taehyung.
Setelah membuat Taehyung blank untuk yang kesekian kalinya, Jungkook berlari menjauh. Taehyung hanya bisa berkedip melihat kilat jahil dari binar hitam itu. Belum lagi cengiran menyebalkan dan raut wajah mengejek dari namja tampan yang berulang kali membuatnya jumpalitan itu.
"Ya! Jeon Jungkook!" Taehyung akhirnya sadar jika Jungkook mengerjainya. Alhasil mereka malah kejar-kejaran di atas menara.
Sekilas tingkah mereka tampak seperti sepasang kekasih atau seperti adegan romantic dalam sebuah drama yang sering ditonton. Tampak benar-benar bahagia. Walau memang kenyataannya demikian. Mereka sedang berbahagia saat ini.
Setelah menghabiskan sepuluh menit bermain kejar-kejaran, Taehyung dan Jungkook akhirnya duduk di bawah salah satu pohon rindang yang ada disana. Tak jauh di depan mereka ada air mancur yang bernama air mancur Osaek. Nafas keduanya masih memburu.
Taehyung bersandar sambil menyelonjorkan kakinya. Kepalanya menengadah menikmati hembusan angin musim panas yang bertiup lembut. Sedangkan Jungkook yang awalnya ikut bersandar pun memilih membaringkan dirinya dengan menggunakan paha Taehyung sebagai bantal. Mereka berniat hanya beristirahat untuk menetralisir pernafasan mereka yang mulai terengah karena berlarian.
Well, hanya Taehyung sebenarnya. Karena Jungkook tak masalah sama sekali dengan pernafasannya. Jungkook sering berolahraga, ingat. Sedangkan Taehyung bisa dipastikan jarang melakukan olahraga hingga daya tahannya sedikit lemah dan mudah lelah.
"Kau lelah?" tanya Jungkook sambil memandangi Taehyung.
Taehyung menunduk guna balas memandang Jungkook, "Sedikit. Biarkan aku istirahat lima menit lagi, oke"
Jungkook mendadak bangkit kemudian menyamankan diri bersandar di batang pohon. Dan tanpa aba-aba membawa kepala Taehyung untuk bersandar di bahu tegapnya. Taehyung yang memang lelah itu hanya menurut.
"Istirahat disini saja" gumam Jungkook.
Taehyung malah menyamankan posisinya di bahu Jungkook. Tangan Jungkook bergerak mencari tangan Taehyung yang terletak di atas paha. Digenggamnya secara pasti tangan kurus itu. Menyalurkan ketenangan dan kenyamanan diantara mereka.
Padahal tadinya mereka berniat untuk beristirahat sebentar. Nyatanya justru keduanya tertidur tanpa sadar. Hembusan angin yang lembut dan matahari yang tertutup awan hingga membuatnya tidak terlalu terik itu justru membuat keduanya mengantuk. Taehyung tertidur di atas bahu Jungkook dan Jungkook tidur dengan kepala yang menyandar di kepala Taehyung.
Manis bukan.
.
.
Light On My Darkness – SC
.
.
Taehyung dan Jungkook berjalan di lorong rumah sakit menuju ruang rawat Minjae. Taehyung sedikit merutuki kebodohannya karena sempat tertidur hingga membuat mereka memangkas banyak rencana menarik. Setelah mereka bangun, mereka hanya sempat berjalan ke Kuil Daeseongsa dan berkeliling sebentar.
"Kita jenguk temanku sebentar lalu kita makan ne"
Jungkook tersenyum kemudian mengacak rambut Taehyung, lagi. "Terserah kau saja, Tae"
Tak banyak yang mereka lakukan disana. Taehyung sibuk berbincang dengan rekan-rekannya. Dan Jungkook yang memilih duduk di sofa seorang diri. Dia hanya akan bicara saat Taehyung mengajaknya bicara. Selebihnya tidak ada yang dilakukan Jungkook selain memandangi Taehyung.
Suasana hangat itu sedikit rusak karena Jungkook yang tiba-tiba bertanya tentang Min Yoongi. Walaupun dia sedari diam dan memperhatikan Taehyung, tapi telinganya dengar. Teman Taehyung menyebut nama Min Yoongi dengan nada yang serius. Dari situ Jungkook merasa ada sesuatu yang salah dengan Min Yoongi.
Apalagi saat dia melihat raut wajah tegang dari Taehyung. Perasaannya semakin berkecamuk.
Taehyung tidak menjawab pertanyaannya sampai mereka keluar dari tempat itu. Dia malah mengalihkan pembicaraan dengan mengajak ke tempat makan. Jungkook penasaran. Dua kata itu tidak boleh berdampingan atau Taehyung akan repot sendiri nanti.
"Taehyungie, jelaskan padaku siapa Min Yoongi itu" Jungkook masih memaksa.
"Setelah kita makan. Aku janji akan menjawab pertanyaanmu itu, oke" Taehyung mengambil jalan tengah. "Ayolah~ aku lapar" rengeknya lagi.
Jungkook menghela nafasnya kemudian menggenggam tangan Taehyung, "Baiklah setelah makan aku akan bertanya lagi padamu"
Mereka makan di kedai sederhana yang menurut teman-teman Taehyung enak. Taehyung terlihat sangat lahap. Jungkook tertawa karena melihat Kim Taehyung yang sedang sangat kelaparan.
"Aigu, berapa umurmu? Kenapa berantakan sekali" Jungkook berucap lembut sambil mengusap dagu Taehyung yang entah bagaimana bisa terdapat noda makanan.
"Maklumi saja. Aku sedang lapar" Taehyung tampak tidak perduli dengan perlakuan Jungkook. "Oh? Kau sudah selesai?"
Jungkook mengangguk kalem. "Sudah selesai beberapa menit yang lalu"
Taehyung melanjutkan makannya. Sedikit susah menelan saat menyadari tatapan Jungkook terpaku lurus padanya. Astaga, kenapa Jungkook hari ini suka sekali menatapnya begitu.
"Kookie" cicitnya.
"Eum?"
"Ja-jangan memandangku begitu. Kau membuatku susah menelan" ucap Taehyung gugup.
Jungkook menaikkan alisnya sebelah kemudian tertawa, "Lalu aku harus bagaimana? Aku benar-benar tidak bisa mengalihkan mataku darimu. Apa aku harus memejamkan mataku?" Jungkook memejamkan matanya di depan Taehyung.
Taehyung tertawa ribut. Entah sudah berapa kali Jungkook membuatnya tertawa hari ini. "Cukup pandang apapun asal bukan aku. Setidaknya biarkan aku menyelesaikan makananku dulu"
"Kenapa? Kau malu? Jantungmu berdebar?" Jungkook itu kurang ajar sekali.
Taehyung mendengus kemudian mengeluarkan obat-obatan milik Jungkook. Mengambil satu persatu dan menyerahkannya sekaligus pada namja itu. "Ini. Minumlah obatmu dulu. Itu lebih baik menurutku"
Jungkook hanya tersenyum tampan kemudian menuruti Taehyung. Sudah cukup dia menggoda Taehyung. Atau jika tidak maka namja itu akan semakin lama menyelesaikan makannya.
Setelah semua selesai, Taehyung dan Jungkook melanjutkan perjalanan mereka. Kali ini Taehyung membawa Jungkook ke Observatorium Gunung Apsan. Perjalanan ini membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit.
Mereka tiba saat waktu menunjukkan pukul 19.10 waktu setempat. Lampu-lampu sekitar jalan menuju puncak sudah dinyalakan. Menambah nuansa menyenangkan sepanjang perjalanan masuk. Jungkook lagi-lagi sibuk dengan ponsel Taehyung di tangannya. Sibuk memotret apapun yang menurutnya bagus.
Termasuk memotret Taehyung.
"Apa kau tidak lelah memotretku terus?" tanya Taehyung.
"Kau cantik. Kau menarik. Jadi tidak ada alasan apapun yang membuatku tidak memotretmu"
"Apa kau sadar, kita hanya sedikit mengambil selfie tadi" ucap Taehyung.
"Jadi kau mau berfoto denganku?"
"Ap-tidak. Bukan begitu" elak Taehyung.
Jungkook berhenti kemudian menarik tangan Taehyung agar mendekat. Mengubah kamera menjadi mode selfie dan memposisikan ponsel itu di depan mereka. Taehyung menempelkan kepalanya pada kepala Jungkook. Jungkook sendiri langsung melingkarkan tangannya ke belakang seolah memeluk kepala Taehyung.
"Say cheese"
Ckrek!
Keduanya tersenyum melihat hasil foto mereka. Jungkook memiliki tangan yang berbakat untuk menjadi fotografer. Hasilnya semua memuaskan.
"Cha, cepat. Tempat ini akan tutup pukul 20.30" ucap Taehyung kemudian menarik Jungkook ke loket kereta gantung.
Untuk menuju puncak observatorium memang harus naik kereta gantung. Taehyung mengeluarkan uang 18.000 won untuk dua tiket. Setelahnya mereka masuk ke dalam salah satu kereta gantung yang sudah stand by. Beruntunglah tidak terlalu ramai.
"Wow, indah bukan" gumam Taehyung begitu kereta itu mulai bergerak.
Jungkook mengangguk menyetujui. Kemudian matanya menatap ke arah Taehyung. Tatapannya luar biasa lembut. Dan Taehyung merasakannya. Dia merasakan tatapan Jungkook menghujaninya.
"Kau tak kalah indahnya dengan pemandangan itu, Tae" gumam Jungkook.
Taehyung balas menatap Jungkook. "Aku yakin kau tidak akan berkata begitu jika sudah melihat keseluruhan kota Daegu saat malam dari atas observatorium" ucapnya tersenyum.
"Mari kita buktikan"
Tak ada lagi percakapan setelahnya. Mereka sibuk mengagumi view yang terpampang di depan kedua mata indah mereka. Begitu tiba di atas, Jungkook langsung menggandeng Taehyung. Mereka berjalan mencari spot yang sedikit jauh dari orang lain.
Setelah menemukan spot yang tepat, jauh dari orang lain dan pemandangan Daegu terlihat jelas, barulah mereka berhenti. Taehyung menatap wajah Jungkook yang menunjukkan raut kepuasan. Mungkin ini pertama kalinya Jungkook melihat hal semenakjubkan ini.
"Ini indah, Tae"
"Kau benar. Tempat ini sangat indah" Taehyung tersenyum lebar.
Sebenarnya ini juga kali pertamanya datang kemari. Dia sering mendengar dari teman-temannya tentang keindahan Daegu dari puncak Observatorium Gunung Apsan. Dan Taehyung merasa sama sekali tidak rugi membawa Jungkook kemari.
Grep~
Tiba-tiba Jungkook memeluknya dari belakang. Taehyung memiringkan kepalanya agar bisa menatap Jungkook. Dia heran mengapa Jungkook melakukan ini.
"Dingin"
"Kau kedinginan?"
"Bukan aku. Tapi kau. Makanya aku memelukmu"
Taehyung bahkan tak sadar jika dia tadi bergidik kedinginan. Dan pelukan Jungkook cukup menghangatkannya.
"Apa itu menara yang kita datangi tadi?" tanya Jungkook sambil menunjuk sebuah menara yang menjulang tinggi dan dikelilingi lampu-lampu yang menambah keindahannya.
"Kau benar. Itu Daegu Tower" jawab Taehyung.
Setelahnya kembali hening. Mereka lebih memilih menikmati pemandangan menakjubkan ini dalam sepi yang menyenangkan. Bagi Jungkook tidak ada yang sesempurna ini. Pemandangan indah di depannya ditambah Taehyung di pelukannya.
Ingin rasanya Jungkook menghentikan waktu agar kebersamaannya dengan Taehyung tidak akan pernah berakhir. Tapi bukankah Taehyung sudah berjanji untuk selalu bersamanya? Jungkook berjanji dalam hati untuk membalas semua yang sudah dilakukan Taehyung padanya. Semuanya.
"Apa kau senang?"
Taehyung kembali menoleh hanya untuk mendapati wajah Jungkook yang terlalu dekat dengannya, "Seharusnya aku yang mengatakan hal itu padamu"
"Jawab saja" bisiknya.
"Tentu saja aku senang"
"Kalau begitu aku juga senang. Aku bahagia melihatmu bahagia, Tae"
Ucapan lembut yang sarat akan ketulusan itu membuat Taehyung sekali lagi tertampar secara halus. Jungkook ini benar-benar.
Detik selanjutnya Taehyung hanya bisa menahan nafas saat Jungkook mencium keningnya dengan gerakan yang teramat halus. Seakan Taehyung adalah mahakarya Tuhan yang harus dia jaga dan dia perlakukan dengan penuh kelembutan dan kehati-hatian. Tolong selamatkan jantung Taehyung.
.
.
Tepat pukul 20.30 mereka keluar. Tangan keduanya masih saling bertautan. Taehyung dan Jungkook sudah mengganti jaket dan coat mereka dengan mantel tebal yang dibawa tadi. Suhu Daegu di malam hari juga tak kalah dingin dengan Seoul.
"Tae, apa perjalanan kita berakhir disini?"
Taehyung tersenyum manis, "Ada satu tempat lagi yang ingin kutunjukkan padamu. Tempat favoritku"
Jungkook menggosokkan kedua telapak tangannya dengan sedikit brutal. Kemudian menempelkan kedua telapak tangannya pada kedua pipi Taehyung. Mengalirkan kehangatan menyenangkan bagi Taehyung.
"Sudah hangat?" tanya Jungkook.
Taehyung mengangguk, "Aku lupa membawa sarung tangan. Maafkan aku"
"Tidak masalah. Aku bisa menggenggam tanganmu jika kau kedinginan"
Taehyung tertawa kecil, "Berhenti menggombaliku. Hari ini kau suka sekali melakukannya"
Jungkook ikut tertawa. Memamerkan gigi kelinci menggemaskan yang sejujurnya sangat Taehyung sukai. "Aku jujur saat mengatakannya tau"
"Terdengar seperti gombalan di telingaku" gumam Taehyung.
Jungkook menyentil hidung mancung Taehyung main-main, "Kau benar-benar tidak bisa membedakan mana gombalan dan mana yang jujur ya"
"Bukan salahku jika aku tidak bisa membedakannya" Taehyung merengut kemudian matanya membulat setelah mengingat sesuatu. "Kau tidak lapar?"
"Lapar tentu saja"
"Ayo makan dan segera minum obatmu"
"Apa aku boleh meminumnya saat kita sudah di rumah?"
Taehyung bergeming. Sibuk memikirkan segala keuntungan, kerugian, dan kemungkinan jika Jungkook meminum obatnya terlambat. Sedangkan namja itu sudah memandanginya penuh permohonan.
"Baiklah jika aku mulai merasakan aneh pada tubuhku aku akan minum obat" tawar Jungkook sekali lagi.
"Kenapa kau suka sekali tawar menawar?"
"Ayolah hanya kali ini saja"
"Baiklah" Taehyung mengalah.
Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan ke tempat favorit Taehyung.
.
.
Light On My Darkness – SC
.
.
Untuk ke sekian kalinya Jungkook tidak bisa menahan decakan kagumnya saat melihat apa yang ada di depannya. Sebuah danau yang amat sangat menarik. Mereka belum memasuki area danau itu tapi semuanya seolah memanggil Jungkook untuk segera menghampiri hamparan lampu dan bunga sakura yang bermekaran dengan manis.
"Taraaaa~ ini Danau Suseong. Tempat favoritku untuk kabur saat aku sedang suntuk" Taehyung merentangkan tangannya. Menikmati angin malam yang disertai aroma khas air danau yang begitu dia rindukan.
Jungkook hanya bisa memandang penuh kekaguman saat berjalan di bawah rimbunan pohon sakura yang disinari lampu hingga terlihat seolah kelopak-kelopak bunga itu mengeluarkan cahaya. Sementara Taehyung sendiri malah berlarian seperti anak kecil. Beruntunglah tempat ini lumayan sepi mengingat ini sudah pukul 22.00.
"Seharusnya aku mengajakmu kesini sore hari. Pemandangannya akan jauh lebih bagus. Kau bisa melihat pegunungan yang berjejeran disana" Taehyung menunjuk salah satu spot yang agak remang karena sinar yang minim.
Jungkook mengangguk paham, "Tapi begini saja sudah indah, Tae"
Taehyung mengiyakan dengan semangat, "Tentu saja. Kim Taehyung tidak pernah salah mencari tempat menarik untuk dikunjungi" ujarnya bangga.
Jungkook mengacak-acak rambut Taehyung dengan gemas. Membuat Taehyung berteriak heboh seraya memukuli tangan Jungkook. Namja asal Busan itu tertawa melihat raut merengut Taehyung yang dihiasi rambut acak-acakan tidak beraturan.
"Kau menyebalkan" sungutnya.
"Baiklah-baiklah maafkan aku" Jungkook bergerak merapikan rambut Taehyung dengan lembut. Membuat Taehyung sedikit merona karenanya.
"A-aku bisa sendiri"
"Tidak. Biarkan aku yang merapikan" Jungkook masih keukeuh.
Taehyung menunduk. Membiarkan Jungkook melanjutkan kegiatannya sekaligus menyembunyikan wajahnya yang merona. Jungkook tau jika wajah namja di depannya sudah merah bahkan sampai telinga. Hanya saja Jungkook memilih tersenyum kecil daripada menggoda Taehyung lagi.
"A-ayo kita pergi cari spot yang bagus untuk melihat pertunjukkan air mancur yang dipadu dengan sinar lases. Kau pasti akan menyukainya" ajak Taehyung sedikit gugup.
Jungkook mencuri satu ciuman di pipi Taehyung sebelum kembali menggenggam tangan Taehyung yang terasa sangat pas di tangannya. Taehyung kembali merutuki jantungnya dan tubuhnya yang bereaksi memalukan.
'Kau terlalu lama single Tae. Hanya diperlakukan seperti itu saja kau sudah merona, norak'
"Jadi, dimana spot yang bagus Kim Taehyung?" pertanyaan Jungkook membuyarkan lamunan Taehyung dari kegiatan mari-merutuki-diri itu.
"Oh? A-ah kemari" giliran Taehyung yang memimpin.
Mereka berjalan melalui jalanan yang terbuat dari kayu. Tiap langkahnya menimbulkan decitan atau ketukan dari sepatu mereka yang membuat suasana semakin canggung. Canggung yang memalukan.
"Kita duduk disini" ucap Taehyung kemudian mendudukkan dirinya di tanah.
Jungkook mengikuti setelah meletakkan ransel mereka di depannya. Taehyung tampak sangat antusias menunggu pertunjukan air mancur yang dia maksud. Sesekali dia akan mengecek jam tangannya. Seakan memperkirakan kapan air mancur yang dipadu sinar lases itu muncul.
"Biasanya air mancur itu akan muncul tiap sepuluh menit sekali. Dan dua menit lagi air mancur itu akan keluar" Taehyung berujar heboh.
Jungkook hanya tertawa. Hari ini dia melihat sisi lain dari perawatnya yang manis. Taehyungie tetap terlihat manis dalam situasi apapun. Hanya saja hari ini Jungkook melihat sisi menggemaskan perawat itu. Ah, juga sisi lembutnya.
"Ah kau mau makan? Roti persediaan kita masih banyak omong-omong"
"Baiklah kurasa aku mulai lapar" ucap Jungkook.
Taehyung mengeluarkan semua roti yang dibawanya. Juga sebotol besar air mineral yang masih tersegel. Taehyung meringis saat menyadari jika sedari tadi Jungkook membawa beban yang berat.
"Kenapa tidak meminta bergantian?"
"Apa?"
"Kau. Kenapa kau membawa tas ransel itu sedari tadi tanpa meminta bergantian? Padahal kan tas ini berat" Taehyung berucap pelan. Merasa gagal menjaga Jungkook karena ketidakpekaannya.
Jungkook mengigit roti yang sudah dibuka Taehyung untuknya. Mengunyahnya dengan khidmat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Taehyung tadi. "Pertama, aku masih kuat membawa tas ini. Kedua, aku tak ingin kau kelelahan. Mengajakku jalan-jalan, memastikan aku tetap merasa nyaman selama perjalanan, mengoceh sepanjang hari, itu pasti lebih melelahkan"
Taehyung hanya melongo mendengar ucapan Jungkook. Jadi Jungkook memperhatikannya seharian tadi?
"Aku juga ingin membuatmu nyaman sama seperti kau berusaha membuatku nyaman. Aku berterima kasih untuk itu"
Taehyung tersenyum kemudian kembali memandang jam tangannya. Tersenyum lebih lebar sambil menghitung mundur. "Tiga… Dua… Satu"
Zrash~~
Muncullah air mancur dengan berbagai tinggi hingga membentuk gelombang disertai sinar hijau yang berpendar begitu cantik. Baik Jungkook maupun Taehyung sibuk mengagumi semuanya. Begitu pun pengunjung lain yang langsung mengabadikan moment itu.
Taehyung juga tak mau kalah. Dia sibuk memotret sambil sesekali terdengar pekikan 'wah' saat air mancur itu muncul saling bersahutan. Pertunjukkan itu berlangsung selama dua menit. Setelahnya tenang kembali.
"Apa kau selalu menghitung mundur seperti itu?"
"Yeah! Aku selalu melakukannya. Rasanya menyenangkan saat menghitung mundur untuk sesuatu yang menakjubkan"
Jungkook menyimpan informasi ini dalam otaknya. Kemudian dia melanjutkan acara makan rotinya yang sempat terhenti selama dua menit untuk mengagumi pertunjukkan air mancur. Setelah menghabiskan dua bungkus roti dan setengah botol air mineral, Jungkook duduk memeluk lututnya.
Matanya menatap lurus ke arah danau yang tampak berkelip. Membayangkan betapa bahagianya dia jika bisa melakukan hal ini setiap hari dengan Taehyung. Membayangkan betapa beruntung dirinya jika Taehyung terus ada di sisinya. Membayangkan hidupnya yang jauh lebih mudah bersama Taehyung.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Tidak ada. Hanya memikirkan tentang kau dan aku"
Taehyung mencibir, "Kau mau menggombaliku lagi? Memangnya apa yang kau bayangkan?"
Jungkook menyeringai jail, "Rahasia"
"Ya!" Taehyung memukuli pundak Jungkook dengan satu pukulan main-main. Dia masih bisa menahan diri untuk tidak memukul Jungkook secara brutal. "Aku tidak mau bicara padamu"
Jungkook terkekeh geli melihat Taehyung yang merajuk. Namja itu memeluk lututnya dan enggan menatapnya. Jungkook berusaha merebut atensi Taehyung dengan menusuk-nusuk pinggang ramping namja itu menggunakan telunjuk. Taehyung memang sesekali memekik geli tapi dia tetap enggan menatap Jungkook.
Jungkook terus mengganggu Taehyung agar namja itu mau menatapnya lagi. Dia tau Taehyung tidak benar-benar tidak ingin bicara padanya. Tapi tetap saja hasrat menjaili Taehyung itu terlalu menggebu. Terlalu sayang untuk dilewatkan.
"Tae"
"…"
Taehyung"
"Oh, Tiga.. Dua..Satu"
Zrash~
Sret~
Chu~
Taehyung tak siap saat Jungkook tiba-tiba menarik tengkuknya dan memegang pipinya. Dan sedetik kemudian kedua belah bibir itu menyapa bibirnya, lagi, kedua kalinya untuk hari ini. Hanya menempel tapi tetap memberikan efek luar biasa bagi Taehyung.
Blank. Wajah memerah. Dan jantungnya yang mendadak berdegup seperti genderang perang. Taehyung merasa jantungnya akan copot dan jutaan kupu-kupu beterbangan imajiner di dalam perutnya. Membuatnya geli sekaligus melilit tapi menyenangkan.
Ciuman itu berlangsung selama dua menit. Begitu pertunjukkan selesai, maka Jungkook melepas tautan bibir mereka. Mengusap dengan lembut bibir bawah Taehyung yang baru saja dia cicipi.
"Terima kasih untuk hari ini, KimTae"
.
.
Mereka tiba di rumah saat waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Sesampainya di kamar, Taehyung langsung berlari menuju kamar mandi. Membersihkan diri sekaligus ganti pakaian.
Jungkook sadar jika Taehyung menghindari tatapannya. Tapi dia juga tau alasan dari sikap Taehyung itu. Taehyung-nya seperti kucing yang malu-malu.
"Cepat mandi. Aku akan menyiapkan baju dan obatmu. Kau harus minum obat" Taehyung mengucapkan itu dalam satu tarikan nafas. Terlalu gugup untuk kembali menghadapi Jungkook.
Jungkook tertawa kecil kemudian menuruti Taehyung. Tapi tidak, dia tidak mandi. Hanya mencuci mukanya juga menggosok gigi. Begitu dia keluar, pakaiannya sudah siap beserta obat dan minumnya. Sedangkan namja manisnya sudah bergelung di dalam selimut.
"Selamat tidur, Tae" Jungkook mengecup kening Taehyung sebelum berganti pakaian dan meminum obatnya.
Taehyung bisa merasakan beban berat di sampingnya. Kemudian sepasang lengan melingkupinya dari atas dan dari bawah. Memeluknya dengan erat dan lembut. Taehyung juga merasakan hembusan nafas hangat di tengkuknya.
"Sekali lagi terima kasih untuk hari ini" Jungkook mengecup belakang telinga Taehyung kemudian memejamkan matanya.
Taehyung tersenyum malu kemudian memilih segera memejamkan matanya. Tubuhnya sudah terlampau lelah dan dia ingin segera tidur.
Selamat tidur Kim Taehyung dan Jeon Jungkook. Hari-hari yang panjang masih menanti kalian.
.
.
.
END
.
.
UWAAAAAA~
APA INI APAAAAAA. Sesuai janji, chapter full fluff 3k+. Dan ini bahkan sampe 7k+. entah kenapa saya bisa bablas lagi muehehehe.
This is special for you. special tapi ngga pake telor /woe
Edisi kookv jalan-jalan yekan.
Special thanks to reader yang udah sumbangin rekomendasi tempat yang bisa dipake buat dating. Dan maaf kalo ngga sesuai ekspektasi. Referensi yang saya dapet terbatas jadi yaaaa gitu deh. Dan say thanks to calon bu dokter muda yang udah ngasih tau obat penenang apa yang bisa dipake Jungkook biar dia bisa nikmatin jalan-jalannya. Jangan bosen-bosen kurecokin yaa oma xD
Dan mungkin, mungkin loh, chapter depan mulai konflik. Tapi jangan terlalu berharap karena saya ngga ahli munculin, ngembangin dan selesaiin konflik. Jadi antisipasi aja nih biar chapter depan ngga kecewa gitu.
Okeee dari pada saya bikin drabble di a/n ini kan ngga lucu, jadi saya pamit dolooo
Big love, clou3elf
