9. Jalan dan Lari!
Akhir liburan musim dingin seakan meluncur setelah Natal. Nagisa tidak merasakan suasana Natal maupun Tahun Baru; baginya saat itu Natal adalah Ulang Tahun Karma, dan Tahun Baru adalah sesi belajar jalan Karma.
Bayi berambut merah itu belajar cepat sekali. Ia masih harus berpegangan dinding atau kursi, atau meja saat berjalan, namun sudah bisa tiga langkah tanpa pegangan. Yang tidak terkira, tiga langkah itu adalah tiga level baru keributan di rumah.
"Na—NAAA!" seperti biasa, Karma selalu rewel kalau tahu akan diseret ke kamar mandi. Sementara Nagisa melepaskan popoknya, bayi bandel itu mengambil kesempatan! Dia bertumpu, berpegangan pinggiran bak mandi, lalu berjalan tiga langkah ke pintu keluar sebelum merangkak dengan gesit.
"Kaaarmaaaa!" keluh Nagisa sebal, nyaris terpeleset celana adiknya, tapi cukup gesit membuang popok adiknya di tong sampah. Untung saja Karma belum bisa berlari—entah bagaimana dia harus menyeret bayi itu ke kamar mandi kalau dia sudah bisa berlari? Menyeret Karma yang menjerit-jerit kembali ke kamar mandi, Nagisa tanpa ampun menjeburkan adiknya dan menyiraminya dengan gayung air.
"NAAAAA! NAAAA! AABFFUUUHHH!"
"Makanya jangan nakaaaal!" seru Nagisa sebal.
Memang dia pernah baca di internet cara memandikan bayi yang benar, tapi Nagisa juga masih anak-anak, dan kadang emosi membuatnya bertindak bodoh juga. Untungnya Karma tidak pernah menangis kalau urusan mandi atau keramas, hanya mengambek.
Mengambek Karma adalah semacam tarik tambang antara ingin diperhatikan tapi tidak ingin diperhatikan. Nagisa sih mengerti saja maksudnya. Pertama, bayi itu akan merangkak ke arah Nagisa, memukul-mukul kakinya sambil berceloteh keras. Setelah itu dia merangkak pergi, cukup jauh, sampai dia sadar Nagisa tidak memperhatikannya. Baru dia kembali untuk memukul-mukul kaki kakaknya lagi, dan begitu terus berulang-ulang.
Sampai waktunya makan malam, akhirnya Nagisa memperhatikannya. Karma segera saja merangkak kabur, jelas menikmati kalau kakaknya mengejar-ngejar dirinya.
"Karmaaa...mamam dulu siniiii!" seru Nagisa, mondar-mandir di koridor mengikuti adiknya yang merangkak begitu cepat sambil tertawa-tawa. Akhirnya Nagisa, berusaha bersabar, mengikuti adiknya pelan-pelan di belakang agak jauh dan lambat.
"Ya sudah, aku pergi ya?" ujar Nagisa, meskipun ia masih mengikuti Karma pelan-pelan. "Bai-bai, ya...? Aku nggak mau main sama Karma ya..."
Karma berhenti merangkak dan berbalik, melihat Nagisa pura-pura mau pergi, berjingkat ke dapur. Ia merengut, dan duduk di lantai.
"Nyaagiii?" panggilnya.
"Hnn, aku nggak mau ah, Karma nggak mau mamam," kata Nagisa pura-pura marah, semakin lama semakin menjauhi Karma. Bayi berambut merah itu paling tidak suka jika ditinggal Nagisa dengan sengaja.
"Hnnnggg!" rengeknya, lalu diam sejenak, beringsut ke dinding. Karma berdiri. Nagisa terdiam dan dengan was-was mengawasi adiknya, berjalan berpegangan dinding. Kakaknya malah melangkah menjauh saat Karma hampir meraihnya.
Dan akhirnya, tidak ada pilihan bagi Karma—ia harus berjalan menyeberang ruangan kalau ingin menangkap kakaknya. Bayi berambut merah itu meringis kesal, memukul-mukul dinding.
"Hnnnn...Nyaagiiiii..." rengeknya, satu tangan berusaha meraih Nagisa, yang hanya berdiri di sana, tidak tersenyum, masih memegangi mangkuk makanannya. "Apbaa..."
Tapi Nagisa tidak bergerak meskipun Karma sudah setuju mau makan. Menggembungkan pipinya, akhirnya Karma melepas satu tangan dan mulai melangkah menjauh dari dinding.
Satu langkah. Karma sedikit oleng, tapi ia berhasil berdiri. Ia terdiam sejenak, mengernyit ke arah Nagisa, sepertinya tidak yakin bisa berjalan satu langkah lagi. Namun, kecemasannya berkurang. Nagisa melangkah satu kali juga.
Karma pun mencoba melangkah satu kali lagi. Matanya berbinar melihat kakaknya juga melangkah mendekatinya satu kali. Ia menggembungkan pipinya lagi, lalu cepat-cepat melangkah. Satu, dua, tiga langkah! Ia hampir terjatuh, tapi dengan keras kepala, ia menjejakkan kaki kecilnya ke lantai, sedikit lebar, agar bisa berdiri tegap.
Nagisa juga melangkah tiga kali ke arahnya, dan Karma sedikit lagi bisa meraih kakaknya.
"Ny...Nyaagii..." gumam Karma, dan melihat Nagisa tersenyum, ia terdiam. Tiba-tiba kakaknya berlutut dan merentangkan tangannya ke arah dirinya. Rasanya dekat sekali, dan Karma tanpa takut lagi melangkah ke arah kakaknya. Satu, dua, tiga, empat langkah. Satu langkah lagi, nyaris terjatuh, tapi tiba-tiba kedua tangan kakaknya menangkapnya.
Karma sudah sampai!
"Heehee! Ffuuuf!" soraknya.
"Waah, anak pintaar! Karma sudah bisa berjalan yaa?" puji Nagisa bangga, menggendong adiknya yang tergelak riang dan memeluk kakaknya erat dengan tangan kecilnya. Karma terkikik senang ketika Nagisa mengusap-usap kepalanya gemas.
Nagisa merekam Karma berjalan mengelilingi ruang tengah setelah itu. Semuanya senang.
Sayangnya, setelah itu, yang ditakutkan Nagisa menjadi kenyataan.
Setelah yakin sekali dirinya bisa berjalan, Karma langsung saja bisa berlari. Baru sehari ia bisa berjalan, besoknya ia sudah lari-lari memutari isi rumah, menabrak kursi, tersandung bantal duduk, jatuh berguling menabrak kotatsu—rumah berisi suara gemuruh mengerikan dan Nagisa merasa dia harus memasung adiknya dan mengusir makhluk jahat di dalamnya.
BRUAKK!
Karma terdiam, baru saja kepalanya membentur lemari dan ia jatuh terduduk. Nagisa menarik napas menguatkan diri.
"Dasar nakal," gumamnya, lalu menghampiri adiknya, memeriksa lebam di kepalanya—untungnya tidak tampak terlalu parah. "Sakit?"
"Akit," Karma mengangguk.
"Mau lagi?"
"Naa," bayi berambut merah itu menggeleng.
"Yaudah, berarti nggak apa-apa, kan?" Nagisa menepuk kepala Karma. Bayi itu mengerjap, lalu menjulurkan kedua tangan kecilnya ke kakaknya. "Kenapa? Gendong?"
"Ennn!" ujarnya riang dan penuh harap, dan terkikik geli ketika kakaknya menggendongnya. Dan meskipun Nagisa bilang dia 'nggak apa-apa', kakaknya yang berambut biru langit itu mencium keningnya, dan Karma kecil tahu ia tidak perlu takut merasa sakit atau terluka. Kakaknya akan selalu ada untuk menyembuhkannya.
HNNNYHHHHNGGH #gigirontok
BTW maaf ternyata nggak bisa update tiap hari soalnya mau pindahan TvT)v jadinya updatenya borong gini. BTW lagi tiga chapter ini update gegara dua orang setan *lirik Nana sama mbk Kiri*
Kindly review if you have the time.
