.
.
.
Love U at Our First Meet
JungHona
Jung Hoseok x Kim Taehyung
Other cast : U can find it by Urself ^^
Rate : T
.
.
.
.
Hari semakin menggelap di luar, dan lampu-lampu jalan yang satu persatu mulai menyala semakin menandakan jika malam sudah datang. Beberapa burung gereja pulang berkelompok menuju sarang mereka masing-masing setelah hampir seharian bertengger di untaian kabel listrik.
Tapi mungkin manusia tidak sepenuhnya melakukan apa yang dilakukan burung-burung kecil itu. Penat dengan sesuatu yang mereka lakukan sedari tadi dan memutuskan untuk beranjak bergerak.
Contohnya ya.. si Jung Hoseok ini.
Seperti mati rasa, ia sama sekali tak menghiraukan rasa pegal bahkan kesemutan di area sekitar lengan dan telapak tangannya. Sedari tadi dengan posisi tiarap memeluk seseorang di bawahnya yang mungkin sudah mulai kehabisan nafas karena terhimpit dadanya sendiri "H-hyung.. a-hh.. a-aku tidak bisa bernaff..fas.."
Baru setelah suara putus asa itu ia dengar, Hoseok menjauhkan tubuhnya dari sosok berbadan ramping di bawah kungkungannya itu.
Kim Taehyung..
Kejadiannya seperti ini.
Setelah nekat memanjat balkon kamar seseorang tanpa menggunakan tangga, lalu memeluk orang sembarangan tanpa aba-aba, kemudian mendorong orang itu ke kasur dan memeluknya hingga kurang lebih 46 menit lamanya.
Dia memang sudah kehilangan akal.
"Kenapa hyung bisa ke sini?" Taehyung berbicara, tak acuh pada detak jantung tak normal yang menyerangnya. Hoseok masih diam sambil mengamatinya dari atas. Jika sudah dalam posisi ini, bahkan anak muda berumur 16 tahun seperti Taehyung pun bisa berpikir macam-macam.
Iris gelap Hoseok sama sekali tidak terhalang oleh gelapnya keadaan kamar Taehyung tanpa lampu yang menyala barang sebuah pun, bagaimana ia bisa menyalakan lampu jika sedari tadi ditahan begini? "Kenapa kau pergi selama 2 minggu? Kau sengaja?"
Terdengar nada rendah dan dalam dari si muda Jung. Taehyung dibuat kaget olehnya, bahkan merasa ciut seketika "A-a..aku.. aku.. b-bukan aku yang mau.. e-eo-eomma yang.." Taehyung tidak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya jika terus dipandang oleh iris gelap yang berkilat terang di hadapannya itu.
Tatapan itu semakin mengintimidasinya semakin dalam. Di balik rasa takut yang luas, Taehyung juga merasa malu sebenarnya. Di suasana minim cahaya dengan posisi yang memungkinkan seperti ini, mata tajam milik Hoseok seakan melucuti semua yang ada pada dirinya tanpa sisa.
Bolehkah Taehyung melenguh?
Oh, baiklah.. aku lupa ini untuk fiksi remaja.
Sebenarnya ada yang ingin Taehyung tanyakan, banyak malah. Kenapa Hoseok menemuinya? Kenapa Hoseok jauh-jauh datang ke sini? Kenapa Hoseok memeluknya? Kenapa orang ini terlihat begitu emosi? Kenapa ia menanyakan berapa lama Taehyung sudah tak ada?
Ini lebih seperti..
Untuk apa?
Tapi yang ada ia hanya bisa diam, ia tahu benar jika sudah bersama orang ini.. apapun pertanyaan yang sudah Taehyung susun rapi untuk ditanyakan akan buyar seketika bertatap. Taehyung tidak akan pernah berani untuk membahas apapun yang ia rasakan pada pemuda berwajah tampan ini.
"Apa kau lakukan padaku Kim Taehyung?"
"A-a-ha?"
"Bagaimana bisa kalian katakan untuk pergi seminggu? Kau pikir ini sudah berapa lama hah? Jika kau ingin mengubahku menjadi sosok yang lain katakan langsung padaku!"
Hati Taehyung mencelos melihat wajah khawatir Hoseok yang masih berada di atasnya. Mata itu tak lagi berkilat tajam seperti tadi, lebih terlihat seperti..
Berair?
"H-hyung.."
"Bagaimana bisa sekarang kau mengacaukan hari-hariku, kau tahu apa dengan semua yang kujalani setelah kau pergi hm? K-kau.. "
Hoseok sudah tak sanggup lagi bicara, ia menundukkan wajahnya dalam. Berusaha menahan sesuatu yang mungkin meluruhkan seluruh dinding kuatnya selama ini sebagai lelaki sejati "Kau tahu bagaimana kacaunya aku di sana? Bahkan rasanya aku ingin sekali membakar rumah kalian jika kau juga tak kunjung kembali, Kim Taehyung.."
"..."
"Tapi jangankan membakar, untuk lewat di depan pagar rumahmu saja aku tak sudi.. tidak, aku tidak bisa."
"..."
"Aku terus berpikir tentang hal menyenangkan apa yang terjadi di sini hingga kau sama sekali tidak berniat untuk pulang.."
"..."
"Aku kemari untuk menyelamatkan hidupku karena aku pikir, jika aku tidak melihatmu dalam waktu lebih lama.. hhh.. aku mungkin sudah tidak bisa bernafas.."
"Hyung.."
Hoseok mengangkat wajahnya kembali dan menatap manik coklat indah milik Taehyung yang kini sudah kembali bersinar seperti semula. Ia tersenyum simpul tanpa sadar, mencoba untuk bangkit dari posisinya di atas Taehyung, namun gagal saat kedua tangan Taehyung menangkap kedua bahunya dan menahan tubuh mereka kembali di posisi beberapa detik lalu.
"Aku akan menemanimu menemui eomma mu dan-.."
"Dan apa?"
"..."
"Kau ingin kita menemui eomma ku dan apa? Kau ingin aku kembali ke Seoul dan kembail mejadi bocah yang kau jaga lagi?"
"Kim Taehyung apa kau tidak mengerti setelah apa yang coba kukatakan sedari tadi?"
Taehyung menatap Hoseok penuh rasa kesal dan tuntutan, rasa bahagia yang sempat menguasainya berubah sakit tiba-tiba –dan rasa itu lah yang mendorongnya untuk berbuat di luar pikirnya "Apa? Apa yang coba kau katakan? Yang kudengar kau hanya-.."
"Aku mencintaimu.."
Taehyung langsung membungkang mulutnya sendiri, menatap penuh rasa tak percaya pada sosok lelaki yang kini balik menatapnya teduh. Jari-jari tangannya dingin dan bergetar, ada sebuah aliran kecil pula yang coba ia tahan untuk keluar mulai sekarang "Sebagai apa? Adik kecilmu yang merepotkan kah?"
Hoseok dapat menangkap rasa bergetar dari nada bicara Taehyung begitu pula degan kedua tangan lentik yang mulai meremas bagian atas jaketnya. Tangannya perlahan bergerak untuk menyentuh kedua pipi Taehyung mulai terisi kembali, mendekatkan pula kedua hidung mancung mereka hingga nafas dari masing-masing saling menyahut.
Yang lebih tua tersenyum dalam rasa nyamannya berada di dekat si muda, sesekali terkekeh "Aku mecintaimu sebagai kekasihku, aku mencintaimu sebagai separuh hidupku, aku mecintaimu sebagai orang yang akan menulis cerita hidupnya denganku, aku mencintaimu sebagai Kim Taehyung, orang yang akan tertawa bersamaku hingga panjangnya generasi kita nanti, bukan bocah yang selalu kujaga.. tapi sebagai kekasihku yang harus kulindungi dengan nyawaku.."
"..."
"Aku mencintaimu Kim Taehyung.. Jung Hoseok ini menyerahkan hatinya pada Kim Taehyung.."
"Ughh.. hh.. h-h-hikss.. hh-hikss.."
Usai sudah.
Perjuangan seorang Kim Taehyung untuk pemuda yang dicintainya selama ini selesai sudah. Ia menangis sejadinya sambil meremas kerah jaket kulit milik Hoseok, sedangkan Hoseok? Bukannya panik, ia malah tertawa ringan sembari mengelus rambut coklat keemasan itu bahkan sesekali mencium pucuk kepalanya.
"Shhh.. sekarang tunanganku ini harus berhenti menangis~" goda Hoseok dengan tawa pelannya, ia jadi agak takut jika saja salah seorang pelayan di rumah ini memergoki mereka, apalagi dalam posisi 'menindih' begini "Hei, hei, hei.. sshhh... lihat aku. Hei, lihat sini~ Kim Taehyung~"
Hoseok mennyingkirkan kedua tangan yang menutupi wajah Taehyung, mencoba membuat anak itu menatap lurus padanya "Kau mencintaku kan?" ucap Hoseok dengan senyum cerahnya yang kembali terlihat. Taehyung tak menjawab kalimat pertanyaan itu, tapi kepalanya mengangguk dengan cepat "Kalau begitu berhentilah menangis dan tersenyum!"
Susah payah ia meredakan tangisnya sendiri, lalu mencoba tersenyum selebar ia yang ia bisa sesuai permintaan Hoseok padanya "Nah.. begini baru Taehyung-ku~"
Jung Hoseok kembali merengkuh tubuh ramping itu dalam dekap hangatnya. Menyalurkan segala rasa sayang yang ia miliki dari sebuah kecupan lama di pipi si muda "Aku mencintaimu Tae.."
"A-aku lebih mencintaimu hyu-mmmphhh.. ck, hngghh.."
Belum selesai ia menamatkan kalimatnya, bibirnya sudah keduluan dilahap oleh bibir nakal Hoseok yang langsung menyapu dan menyesap dalam bibirnya. Adapun Taehyung pula yang tak memberikan gestur menolak sama sekali. Ia malahan langsung melingkarkan tangannya sebagai tanda jika ia tak menolak dan memang ini yang ia inginkan.
"Buka mulutmu.."
Hoseok tersenyum saat Taehyung membuka mulutnya pelan-pelan, ia tarik lidah panjang itu keluar dengan bibirnya sendiri –semakin mempererotis adegan, mungkin. Keduanya sama-sama diliputi rasa saling memiliki, baik Hoseok maupun Taehyung. tidak jelas apa ada nafsu atau tidak di dalam diri masing-masing, yang ingin tahu lanjutkan saja.
Keduanya bahkan menjadi semakin memagut bibir dengan penuh ekstasi, walaupun yang lebih dominan ketara sekali pemilik nama Jung Hoseok itu. Taehyung di sini hanyalah sebagai pihak penerima segala sentuhan, dan barang tentu ia menerima selama itu Hoseok –bahkan menikmati.
Jelas sekali anak itu menikmati perlakuan Hoseok atas dirinya dengan mengusak atau mencengkram penuh rangsang pada helai rambut belakang Hoseok –tak perduli dengan umurnya yang bahkan masih jauh dari 'umur legal'untuk melakukan hal 'menjurus' seperti ini, yang ia tahu ia ingin Hoseok sekarang.
Pikir Taehyung, kalau sudah dapat hatinya kenapa tidak dapatkan tubuhnya sekalian saja? Dan kalau ia sudah menyerahkan hatinya pada Hoseok sekalian saja serahkan semuanya.
Ahh.. pikiran anak muda zaman ini..
"Hyung.. ah-hahh.. mnhhhh~" terus saja desahan itu keluar dengan semakin gencarnya Hoseok yang sekarang malah menggoda dua daging kecil di dada Taehyung yang menegang sedari tadi.
Ya, bagus!
Terus saja kalian begitu sampai puas. Dan jangan sampai menyadari kalau ada Jungkook yang sedari tadi berdiri dengan kaki bergetar melihat kelakuan tak senonoh kalian di hadapan anak yang baru masuk SMP itu!.
.
.
.
Ringgg.. Ringgggg...
Bunyi telepon rumah yang berdering nyaring itu membuat suasana canggung di dalam rumah minimalis tapi cukup megah itu menjadi buyar. Yoongi yang pertama kali menoleh ke arah telepon yang tepat berada di sampingnya. Lekas-lekas ia angkat telepon yang memperlihatkan nomor telepon rumah yang tak terlalu ia kenal.
"Ya? Ha-.."
"MIN YOONGIIII..!"
Ngingg...
Yoongi merasa telinganya berdenging nyaring. Baru saja ia mengangkat telepon sudah dapat teriakan gila-gilaan dari si penelpon yang langsung meneriaki nama berserta marga aslinya. Suaranya sih mirip Seokjin.
"Hyung, kau apa-apaan?! Telingaku mendenging!" bentak Yoongi kesal. Mungkin jika mereka berhadapan, Yoongi sudah pasti mencekik pria berwajah menawan itu "Telingamu bisa berdenging! Tapi aku mimisan!" hentak Seokjin balik tak kalah gesit "Hehh.. kalau kau panas dalam kenapa menelpon-.."
"Anakmu itu Yoon! Jung Hoseok!"
Badan Yoongi berubah tegang, duduknya pun menjadi gelisah. Jimin yang ada di hadapannya langsung mengangkat wajahnya khawatir melihat perubahan air muka istrinya yang manis "Hyung.. ada apa dengan Hoseok?"
Suara Yoongi terdengar bergetar, ia benar-benar lebih khawatir sekarang.
Hoseok tidak pulang sedari siang, Yoongi memang tahu jika pulang sekolah, Hoseok pasti tak akan langsung pulang ke rumah. Tapi saat siang hari semakin larut, Jonghyun mengabarkan jika Hoseok pergi ke Ilsan untuk menemui Taehyung.
Sialnya.
Yoongi tak sengaja melihat berita di SNS tentang kecelakaan yang hampir terjadi antara pengendara motor dan sebuah truk gandeng. Dan Yoongi bukanlah orang yang bodoh untuk tak mengenali siapa pengendara motor dengan jaket kulit hitam dan motor Sport berwarna Green Silver itu. Ditambah lagi ponsel Hoseok sama sekali tak dapat dihubungi.
"Ada apa dengan Hoseok?" Jimin pun terpaksa ikut turun tangan saat mendengar nama anaknya disebutkan oleh Yoongi. Pria manis itu sama sekali tidak bergerak sedikitpun –masih menunggu balasan Seokjin "Anakmu berada di rumah mertuaku di Ilsan, Yoon.. tapi.."
"Hyung.. jangan bercanda. Katakan apa yang terjadi dengan anakku?"
"Dia.. ughh.. aku sulit menjelaskannya Yoon.. mungkin kau dan Jimin bisa ke sini untuk melihatnya sendiri.."
Yoongi semakin dibuat tegang oleh pria cantik itu. Tak lama, Seokjin pamit menutup sambungan telepon mereka duluan karena suara ibu mertuanya yang memanggilnya dari jauh sudah menginterupsi percakapan keduanya.
Clak.
Jimin memutar tubuh istrinya setelah Yoongi meletakkan kembali ganggang telepon pada tempatnya. Ia menetap Jimin tanpa ekspresi. Belah bibir tipisnya mulai bergerak kecil, Jimin masih setia memperhatikan gelagat istrinya yang hampir mirip seperti seorang ayah yang mencoba untuk menuntun anaknya untuk mengatakan 'appa'.
"Kita ke Ilsan sekarang, Jimin."
Dan Yoongi berlalu begitu saja memasuki kamar untuk mengambil ponselnya. Sementara Jimin yang masih bingung dengan perilaku Yoongi hanya bisa berjalan tak paham menuju garasi di samping rumah mereka.
.
.
.
Bagian lain dari kota Seoul..
Ilsan.
Di mana Hoseok kini duduk diam di dalam sebuah rumah bergaya tradisional milik keluarga besar Kim. Berhadapan dengan Seokjin, nenek Taehyung, dan.. Jungkook?
Sebenarnya Jungkook tidak terlalu bisa dikatakan sedang menghadapi Hoseok, karena yang ia lakukan hanya duduk sambil mengompres matanya yang katanya ternodai.
Sedangkan Taehyung duduk tepat di belakang Hoseok yang duduk bersimpuh di lantai dengan berani. Entah apa yang di pikirkan pemuda itu sekarang, yang pasti.. Seokjin maupun ibu mertuanya itu sama sekali tidak berani menanyakan apa-apa tentang apa yang terjadi.
Tap! Tap! Tap!
Langkah cepat dari arah ruang utama semakin jelas terdengar memasuki area ruang keluarga. Sosok gagah Kim Namjoon terlihat setelahnya dengan masih mengenakan jas kerja mahalnya. Berjalan dengan wajah penuh raut khawatir dan penasaran saat berjalan menghampiri istrinya "Apa yang terjadi?" ucapnya untuk pertama kali.
Melihat Seokjin yang diam, keadaan konyol putra bungsunya yang masih sibuk menutup matanya dengan kain basah, juga sosok berapi-api putra seorang Min Yoongi yang memandangnya penuh semangat 'Anak ini kenapa?' batinnya lalu mengambil tempat di antara ibu dan istrinya.
"Ada apa ini? Kenapa diam semua?" tegurnya lagi, ia menoleh pada ibunya, tapi dijawab gelengan dari wanita tua itu. Menoleh pada istrinya tapi malah dijawab tunjukan jari kepada Jungkook "Kookie.. ada apa ini? Dan kenapa kau menutupi matamu dengan kain basah?"
"Biar saja aboji.. aku ingin menetralkan.. hahhh.. mataku yang malang sudah ternodai~" rengek Jungkook masih dalam posisi menengadah di sandaran sofa "Ternodai? Apa maksudmu hm?" tanya si kepala keluarga lagi. Jungkook lagi-lagi mendengus sambil merengek "Aku tidak ingin membahasnya, abojhi.."
"Kookie.."
"Hngg.."
"Jungkookie~"
"Hnggg..."
"Kau akan dapatkan PSP terbaru~"
Seketika kain basah yang sedari tadi menutupi mata Jungkook sontak jatuh dan mengenai pahanya. Agak lucu melihat Jungkook yang tiba-tiba bangun dengan mata menatap lebar dan mulut menganga. "Maaf hyung.." gumamnya sebentar.
Namjoon masih menunggu jawaban dari anak bungsunya itu dengan penuh harap "Hahh.. abojhi.. aku melihat Hoseok-hyung dan Taetae-hyung berciuman, tadi. Kalau saja aku tidak berteriak entah apa yang akan terjadi. Aku pergi, dan aku menagih janji abojhi!"
Hanya sekali nafas Jungkook mengungkapkan semuanya di hadapan orang-orang yang lebih tua darinya lalu melengos pergi menuju kamar neneknya.
Setelah kepergian Jungkook, baik Seokjin, Namjoon, juga ibunya sama-sama memutar pandang pada dua sosok muda di hadapan mereka. Yang paling di perhatikan adalah yang duduk bersimpuh di lantai "H-Hoseok-ah.." Namjoon menganga tak percaya.
"Ho-Hoseok-ah.. kau lewat mana? Aku tidak melihatmu dari pintu depan. Eomma, apa Hoseok lewat pintu belakang?" tanya Seokjin menoleh pada ibu mertuanya yang duduk di samping Namjoon. Wanita tua itu menggeleng pelan "Tidak, aku tidak melihat Hoseok lewat pintu belakang.." sambil jawabnya pelan dengan raut wajah bingung pula.
"Hoseok-ah, kau lewat mana sebenarnya?" tegur Seokjin pada Hoseok "A-aku.. memanjat balkon.."
"Memanjat?!"
"Kau gila?!"
"Bagaimana jika kau terluka, sayang?"
Hoseok menggaruk tengkuknya gugup. Sambil semakin memantapkan diri untuk membuka mulut keduanya "Aku.. aku tahu ini mungkin sangat tidak sopan dengan bagaimana caraku bertamu dan bersikap di rumah orang lain tapi.. jika boleh kita kesampingkan hal itu.. ada yang ingin aku katakan pada kalian."
Sontak semua orang yang berada di ruang keluarga itu melemparkan arah pandang mereka pada Hoseok yang balas menatap mereka dengan mata berbinar terang.
Tapi kemudian mereka dibuat memekik tertahan ketika Hoseok secepat kilat membungkuk dalam duduknya hingga dahi mulusnya itu terkena permukaan halus karpet berwarna beludru itu. "Aku tahu jika semua yang terjadi dan apa yang Taehyung alami adalah karena ku tapi, aku ingin bersungguh-sungguh kali ini.. aku.." Hoseok menjeda sedikit kalimatnya untuk sekedar mengambil nafas sebentar dan memantapkan jiwanya.
"Aku mencintai anak kalian dengan bersungguh-sungguh. Dan dengan senang hati jika tidak terlambat dan kalian masih mempercayaiku, aku akan menerima perjodohan ini.. menerima Taehyung. Aku akan menjaganya dan terus mencintainya hingga kalian tidak perlu khawatir lagi dengan anak kalian yang cengeng ini."
Suasana menjadi hening setelah Hoseok mengungkapkan semuanya. Seokjin yang diam sambil menutup mulutnya sendiri, Namjoon yang menaruh pandang lekat pada sosok anak SMA ditahun akhir itu, dan si ibu yang hanya bisa menggeleng tak mengerti.
"Hihi.."
Tapi suasana hening itu tak berlangsung lama setelah terdengar suara Seokjin yang tertawa sendiri, lalu berdiri dan berjalan menuju Hoseok yang masih setia bersujud. Ia genggam kedua lengan itu dan menuntun Hoseok untuk berdiri. Seokjin mengelus kedua pipi Hoseok dengan wajah tersenyum-senyum geli "Lain kali jangan lewat balkon.." bisiknya.
Hoseok mengernyit bingung masih menatap bingung ada Seokjin yang kini hilang di balik punggung Namjoon. Pria dengan jas hitam itu pun merentangkan tangan sambil tersenyum lebar pada Hoseok, sementara Hoseok masih pada mode blank nya.
Mungkin tertular Taehyung?
"Kau tidak ingin memeluk ayah mertuamu ini?" kelakar Namjoon dengan senyum lebar yang tak kunjung luntur jua. Di belakang sana, Seokjin dan ibunya sudah tertawa geli melihat ekspresi Hoseok yang tak juga paham.
Karena agak kesal sendiri, akhirnya Namjoon mengalah dan memeluk Hoseok lebih dulu lalu menepuk-nepuk punggung si 'calon mantu'.
Setelah agak lama, akhirnya Hoseok ngeh juga. Ia pun membalas pelukan Namjoon sama senangnya "Abojhi.." bisiknya terharu dan Namjoon pun tertawa lepas.
Tapi kita kembali lagi bersama Kim taehyung yang lebih parah dari Hoseok. Ia masih saja diam melengo sendiri mentap sebuah euforia di hadapannya. Hoseok yang melihat itu langsung kembali bersujud di hadapan Taehyung dan mengusap kedua pipinya "Hai, tunanganku.." bisiknya rendah sambil tersenyum.
Binar mata Taehyung pun mulai kembali menyeruak. Ia mengedarkan pandang pada semua yang ada di hadapannya dengan wajah polos "WAAAHHHH...!" dan berteriak seperti orang gila lalu memeluk Hoseok erat-erat hingga hampir kedua tubuh itu terjungkal ke lantai.
"Kita berhasil, sayang!" pekik Seokjin lalu merangkul lengan kiri Namjoon, Namjoon pun ikut tersenyum dan mengangguk. Hoseok sedikit menjauhkan diri dari Taehyung sebentar lalu mengambil posisi berdiri begitu pula dengan Taehyung. Mereka memandang penuh heran pada sepasang suami-istri itu "Berhasil? Berhasil tentang apa eommo-nim?"
Seokjin terkekeh lalu menepuk kedua bahu Hoseok, menilik raut wajah polos putra sulungnya lalu berkata "Kami dan orang tua mu sepakat menjauhkan kalian untuk waktu lama. Kami hanya ingin menguji perasaanmu, Hoseok-ah.. Bahkan kalau kau tidak datang kemari pun, 2 hari lagi kami juga akan pulang."
"APA?!"
"HAH?!"
Seakan tak merasa berdosa, Seokjin malah anteng-anteng saja tersenyum manis seperti biasa.
Drap! Drap! Drap!
"Ada apa?!"
Atensi mereka kemudian teralih pada sosok anak SMP yang terengah-engah di ujung tangga dengan mata menatap mereka khawatir. Tapi yang didapati remaja kecil itu hanya keadaan ruang tengah yang nampak biasa saja 'Lalu kenapa Taetae-hyung berteriak?' batinnya.
"ADIK IPARKU~!" seru Hoseok dengan nada menggoda Jungkook dengan tangan direntangkan lebar-lebar berjalan kepada Jungkook. Sementara Jungkook sendiri terlihat berusaha menghindari Hoseok sebisanya "Apa ini? Kenapa sikapnya jadi aneh?!" keluh Jungkook saat sudah bersembunyi di balik punggung ayah dan ibunya.
Semuanya hanya tertawa, namun saat neneknya memintanya untuk duduk dan mendengarkan bisikan wanita tua itu, Jungkook merasa bahwa mulai sekarang hidupnya tidak akan berjalan normal, tapi tak juga memungkiri ada rasa bahagia karena ini juga hari bahagia.. ahh sangat membahagiakan malah, bagi Taehyung.
Tapi ya.. tetap saja..
"ORANG MESUM INI AKAN JADI KAKAK IPARKU?!"
.
.
.
Seminggu setelahnya.
Semua berjalan dengan baik seperti semula, terkecuali fakta berbeda bahwa sekarang Jung Hoseok dan Kim Taehyung telah resmi bertunangan walau acara peresmian mereka baru diadakan 3 hari lagi.
Fakta pula bahwa semakin banyak saja mungkin orang-orang yang tidak menyukai Taehyung karena dianggap telah merebut mutlak idola mereka. Tapi toh, apa peduli Taehyung? Mereka juga tidak bisa melakukan apa-apa. Silahkan saja celakai Taehyung kalau kau berani menghadapi kemurkaan Hoseok.
Taehyung licik?
Biasa saja.
Taehyung manja?
Memang. Lagipula Hoseok yang menyuruh untuk selalu mengadu jika terjadi sesuatu padanya.
Hoseok tidak akan bosan, karena Hoseok mencintainya.
Taehyung bahkan lebih mencintainya.
Tapi kesampingkan hal-hal itu sekarang karena yang Taehyung pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya untuk bisa keluar dari kelas membosankan ini. Di depan kelas sana sudah berdiri seorang wanita menyebalkan yang sempat menghadiahi tengkuk mulus Taehyung dengan sebuah pukulan sa-yang kapan lalu.
Huft, membayangkan saja sudah kerasa lagi sakitnya.
Sambil mengusap tengkuknya, ia hanya dapat berharap supaya keajaiban terjadi sekarang juga. Entah kejadian apa yang penting bisa membuatnya keluar dari suasana super suntuk ini.
BRAK!
"SONGSAEM-.. ah maaf, Lee-saem.. ada yang berbuat keributan di lapangan basket outdoor!" itu si Song Minho yang terengah-engah dan ia juga yang barusan mendobrak pintu kelas sembarangan.
Beberapa murid perempuan memekik pelan saat melihat wajah tampannya lah yang muncul, sedangkan yang lelaki lebih tertarik pada topik perkelahian, sama dengan Lee-saem –si guru wanita galak itu.
Sebagai seorang guru kedisiplinan, Lee-saem tidak bisa diam saja mendengar topik seperti ini. Apalagi jika yang melapor adalah Mino –nama akrab Minho, karena anak ini adalah anggota kelas 3A-1 –dan kelas ini tidak pernah terlibat masalah apapun.
Secara tegas wanita itu meminta Mino untuk mengantarnya ke lapangan basket outdoor –tempat di mana perkelahian itu terjadi sesuai laporan Mino. Dan seisi kelas pun juga ikut mengekor di belakang guru mereka yang berjalan cepat hingga bunyi hentakan high heelsnya begitu terdengar jelas di sepanjang koridor.
Pun di belakang sana Taehyung terlihat ogah-ogahan ikut kalau bukan karena ia diseret paksa oleh Minki. Alibinya karena pemuda berambut pink itu takut jika yang berkelahi adalah pacarnya –Jonghyun, karena anak itu sekelas dengan Mino.
Sampai di area lapangan basket outdoor, Lee-saem agak dibuat heran dengan keadaan yang terlihat tenang-tenang saja. Terlihat segerombolan murid 3A-1 sedang berdiri melingkari sesuatu, dan beberapa dari mereka bahkan terlihat tertawa.
"Minggir! Siapa yang berkelahi di sekolah?" tegur Lee-saem galak. Namun murid-murid itu hanya melihatinya datar, lalu membuat formasi lingkaran yang lebih luas.
"Kim Taehyung!"
Kemudian terdengar suara yang cukup familiar bagi semua penghuni sekolah yang sengaja dikeraskan dengan bantuan to'a. Sosok itu berdiri pada sebuah meja dengan beraninya "Kim Taehyung! Maju ke depan!"
Suara itu terdengar lagi, malah sekarang bukan lagi mendapat atensi dari yang ada di lapangan saja, tapi juga seluruh kelas sudah memperhatikan mereka lewat jendela kelas masing-masing. Lee-saem yang melihat itu langsung berjalan maju untuk membatalkan entah niat apapun dari pemuda nekat itu.
"Jung Hoseok! Turun sekarang! Atau aku a-.."
"Songsaengnim kami yang cantik~"
Jung Hoseok menyunggingkan senyum nakalnya saat guru muda yang cantik-namun-galak mereka berjalan semakin mendekat "Wuuu~" dan teriakan menggoda dari seluruh kelas menggiring suara kekehan kecil Hoseok "Tolong berikan aku waktu untuk bicara hm?" lanjutnya lagi.
Alih-alih merasa kagum atau tersentuh, seluruh kawannya malah merasa ingin muntah detik itu juga "Oh, aku tadi mencari Kim Taehyung. Hei bocah! Maju kau!" seru Hoseok lewat to'a yang ia pegang sambil menunjuk-nunjuk seseorang di bagian paling belakang kerumunan.
Pun Taehyung di belakang sana jadi enggan untuk maju. Melihat bagaimana gilanya Hoseok saat ini, jadi agak merutuki sendiri kenapa telat menyadari jika tunangannya ini sekarang berubah menjadi orang yang nekatan?
"Sudah sana!" Minki berusaha mendorong Taehyung maju setelah sadar jika yang dimaksud Hoseok pasti lah sahabatnya ini. Lalu hal itu dilanjutkan oleh sekawannya yang lain, saling mendorong Taehyung semakin maju ke depan mengahadap tameng yang dibuat sekumpulan siswa kelas 3A-1.
Dari dalam lingkaran tubuh-tubuh itu, keluar lah Jonghyun yang memintanya untuk masuk ke dalam lingkaran. Ditariknya Taehyung masuk dan berhenti tepat di depan Hoseok yang masih setia berdiri di atas meja "Hei, turun.." itu Chanyeol yang menarik lepas ikat tali sepatu Hoseok.
Hoseok pun turun dari 'podium'nya. Ia tak berdiri saat melihat Taehyung sudah ada di hadapannya, tapi mengambil posisi duduk di pinggiran meja yang tadi sempat menjadi podium dadakannya.
Cukup lama mereka tenggelam di dalam suasana saling pandang seperti ini sampai membuat yang ada di sekitar agak jengah dan mual juga.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Hoseok menyuara pada Taehyung. Remaja berambut coklat itu langsung memasang wajah masam "Kau norak!" serunya kesal lalu mendesis singkat. Hoseok pun ikut mendesis lalu melipatkan kedua tangan di dada tanpa melepas sedikit saja pandangan dari sosok remaja manja di hadapannya "Sss.. jadi kau tidak suka?" ujarnya mengintrogasi dengan tatapan tajam yang dibuat-buat.
Taehyung memicingkan matanya tajam sembari menggigit bibir bawahnya "Hehehe.. suka!" lalu tiba-tiba tertawa aneh.
Jung Hoseok pun dibuat gemas olehnya, ia acak surai coklat keemasan itu lalu kembali meraih to'a berwarna merah yang ia ambil dari kelas renang tadi pagi. "Hanya ingin menyampaikan, dan singkat saja. Jadi dengarkan baik-baik karena aku hanya akan mengatakan ini sekali."
Suasana yang tadi hening menjadi semakin hening hanya untuk mendegarkan pidato Hoseok nantinya.
"Sekarang! Aku resmi bertunangan dengan Kim Taehyung asal kalian ingin tahu!"
"WOAAAHH..!"
Suara riuh penjuru sekolah terdengar begitu menggelikan bagi Hoseok, apalagi teriakan kecewa dari beberapa murid yang memang ia ketahui memang menyukainya. Ia berdiri dan menuntun jari-jari lentik Taehyung untuk terikat dengan kelima jari tangan kanannya, lalu mengangkat kedua tangan mereka tinggi-tinggi.
"Dan kami mengadakan acara peresmian kami 3 hari lagi. Aku mengundang kalian semua di acara itu. Jangan datang jika kalian sakit hati dengan ini, aku tidak ingin kalian mengacau dan dianggap rendah di sana sebagai pengacau!"
Tepat saat kalimat terakhir, Hoseok semakin gencar menerima keluhan protes dari beberapa pihak dan teriakan mengejek dari kawan-kawan sekelasnya.
Ia menurunkan tangannya dan Taehyung lalu tertawa. Ia pun menyodorkan to'a itu pada Taehyung kemudian, yang di balas bingung oleh Taehyung "Kau ingin katakan sesuatu?" tawar Hoseok padanya. Pelan-pelan Taehyung mengambil to'a dengan ukuran agak besar itu sambil menunduk memikirkan sesuatu hingga ia tersenyum lebar dan mengangkat tinggi-tinggi pengeras suara itu di depan mulutnya.
"JUNG HOSEOK INI MILIKKU..!"
Ngingg...!
Ceh! Dasar aneh.
Suasana riuh semakin menjadi setelah Taehyung berteriak kencang demikian. Dan itu jadi mengingatkan Hoseok tentang sesuatu "Hei, ayo lakukan!" serunya pada kawan-kawan sekelasnya. Murid-murid kelas 3A-1 yang semula berdiri melingkar membelakangi mereka kini membalik posisi dan menghadap pada Hoseok juga Taehyung di tengah mereka.
Hoseok pula memutar tubuh Taehyung untuk berdiri menghadapinya yang sejujurnya merasa gugup sendiri. Dari arah lain, Chanyeol sudah siap dengan handy-cam di tangan sambil tertawa-tawa nista, mengira-ngira jika VLOG nya kali ini pasti akan banjir viewers lebih banyak.
"KIM!"
Murid 3A-1 mulai berteriak lantang ke arah sepasang kekasih baru di tengah mereka. Hoseok tersenyum kikuk dan semakin meremas jari-jari kecil yang ada dalam genggamnya. Ia menarik nafas halus sebentar, baru setelahnya kembali menatap Taehyung dengan mata berbinar tajam dan penuh akan keseriusan.
"Kim Taehyungie.."
"TAE!"
"Taetae-ah.."
Semuanya berusaha sebisa mungkin untuk tidak menertawakan panggilan imut dari Hoseok pada remaja 16 tahun itu, dan jangan lupakan si guru wanita-galak yang entah sejak kapan sudah merona sana-sini menyaksikan peristiwa di hadapan matanya ini.
"HYUNG!"
"Hyung sangat mencintaimu.."
Riuh eluhan menguasai pendengaran semua orang yang ada di sana. Entah eluhan tersentuh atau kesal benar-benar tidak bisa dibedakan karena saling meredam satu sama lain. Semakin memperparah detak jantung Taehyung saat ini.
Rasanya ia seperti terserang sengatan listrik dari 3 tiang penyangga kabel listrik. Seluruh wajahnya berubah merah hingga ke telinga sekalipun. Rasanya ingin sekali ia mencakar-cakar atau menggigit meja di belakang Hoseok itu, sayang saja tubuhnya kaku.
"A-aku bahkan memang sudah menyukai.. ah tidak.."
Taehyung menarik nafas dalam lalu setelahnya menilik dalam iris onyx milik Hoseok dengan senyuman manisnya yang jarang ia tunjukkan pada orang =dia terbiasa tersenyum aneh atau bodoh di depan orang.
Ia merengsek masuk seketika memeluk tubuh Hoseok, menyandarkan kepalanya pada dada yang dicintai dan menemukan detak jantung yang memiliki ritme detak yang sama dengan yang ia rasakan.
Sungguh sama dan beriringan..
"Aku mencintaimu di pertemuan pertama kita.."
.
.
.
.
END
.
.
A little bit bonus
Baekhyun mengambil langkah mundur dari kerumunan kawan-kawan sekelasnya yang berkerumun di jendela kelas yang menghadap langsung pada lapangan basket luar. Ia menyandarkan diri pada dinding koridor yang sepi –agak jauh dari kelasnya.
"Kau lihat itu? Dia tidak sebodoh yang kau kira." Kekehnya pada seseorang di balik video call yang ia lakukan. Terlihat sosok yang nampak ada di layar ponselnya tersenyum miring kemudian tertawa pelan "Kau benar, Baek. Baguslah jika begitu. Setidaknya aku sudah tidak terlalu merasa bersalah sekarang."
Baekhyun pun mengangguk singkat dan tersenyum.
Ada sedikit jeda diantara percakapan mereka, mungkin saling tenggelam pada kejadian tak lama barusan yang sama-sama mereka beri judul 'Romansa picisan di lapangan basket sekolah'.
"Ah ya, beberapa bulan dari ini setelah kelulusan SMA. Aku akan mengirimkan kalian tiket dan undangan pernikahanku. Untukmu, Chanyeol, dan pasangan baru itu." lanjut yang wajahnya terlihat di ponsel. Baekhyun tentu saja kaget mendengar kata 'pernikahan' keluar dari mulut kawannya ini.
"Penikahan? Kau?!" pekiknya kaget. Yang di seberang hanya mengangguk singkat sambil tersenyum malu-malu "Bukankah kalian putus? Lalu bagaimana bisa menikah?" selidik Baekhyun seakan sudah tahu siapa calon pasangan kawannya ini "Ternyata dia meninggalkanku hanya agar aku benci dan melupakannya setelah ia pergi ke Kanada bersama hyung ku untuk bekerja. Dia tahu aku tidak suka berhubungan jarak jauh."
Baekhyun memijit pangkal hidungnya untuk mungkin sedikit membuatnya tenang "Kalian ini.. terserah kau saja. Asalkan setelah menikah nanti kawan sekelasku ini tetap melanjutkan pendidikannya. Kau dengar aku Oh Sehun?!"
"Kau mengkhawatirkanku? Aw~ manisnya!"
"Kau ingin ku jitak kepalamu? Hah?!"
"Silahkan saja! Yang ada layar ponselmu yang retak, hahaha.."
"Ishh.."
Orang yang di panggil Sehun itu tertawa geli tanpa menghiraukan rauh membunuh di wajah mengemaskan Baekhyun "Terakhir.. sampaikan saja salamku pada semua di sana. Aku masih tidak enak menghubungi Hoseok sejak terakhir kali aku menghubunginya sebelum terbang ke Kanada.."
"Aku titip salam ya, Baek?"
Mau tak mau, Baekhyun juga luluh mendengar suara rendah Sehun setelah ia menyebutkan nama Hoseok dalam pesan salamnya. Ia mengangguk sebagai alternatif dari kata 'iya' sebelum Sehun mematikan sambungan video call mereka lebih dulu karena alasan kelasnya akan di mulai.
Baekhyun pun menyimpan kembali ponselnya dalam saku celana seragamnya dan kembali menuju kelas "Yahh.. setidaknya aku, Chanyeol, dan Hoseok bisa merayakan kelulusan di Kanada, kalau mengajak Taehyungie.. sekalian saja liburan!" pekiknya senang di sepanjang koridor sepi itu.
"Tapi ngomong-ngomong.. apa yang di cintai Luhan-ssi dari si pembuat onar itu? Eihh.."
.
.
Ulala trulala Ulala~
Chapter 9! WUH! CHAPTER 9! END! E! N! D! END! THE END! FIN! FINISH! TAMAT!
Wahh~ ini chapter 9 dan tamat juga akhirnya~ gimana nih dengan ending yang kayak gini? Dan gimana ama jalur cerita yang gini? Aku siapin hati kalo kalian rasa ini boring dan absurd karena aku sebenernya masih setengah terkena Writers Block.
Jadi yah..
Makasih banyak buat yang udah baca hingga chapter akhir. Aku tahu cerita ini kurang menarik deh kayaknya dari Just Feel kemaren tapi.. I'm still glad that theres people who still want to waiting this absurd fanfic.
So, see U guys in the other fanfiction from me. As always, aku pengen liat daftar kehadiran kalian di kolom riview buat tahu seberapa jauh ilmu penulisanku, dan seberapa keren atau buruk ceritaku ini. Btw, makasih buat yang udah kasih semangat ku untuk UN ^^
Salam
JungHona ^^
