Nasuverse Play FGO

Nasuverse Nasu Kinoko & TYPE-MOON

Fate/Grand Order TYPE-MOON and DelightWorks

Chapter IX


29. Emiya Lily Plan

"Um…"

Emiya tak perlu mengatakan apa-apa.

Dia mendapatkan Jeanne yang sedang ada di ruang belajar Chaldea, menariknya keluar di tengah pelajaran matematika sederhana dari Charles Babbage dan mengajaknya ngobrol di café. Wanita berambut pirang itu hanya bisa menoleh sana-sini menghindari tatapan tajam sang Counter Guardian.

Meskipun sering dijadikan candaan bahwa wajah mereka mirip dan berasal dari 1 cetakan, semua orang di Chaldea tahu kalau Arturia Pendragon (Saber) dan Jeanne d'Arc (Ruler) adalah sahabat karib (hanya dua versi ini sih, versi yang lain sepertinya saling membenci). Sepertinya karena sifat dan rasa tanggung jawab mereka yang mirip, atau kalau menurut Shakespeare, "karena mereka sama-sama karakter utama."

Saking akrabnya mereka sudah seperti saudara; dan apa yang dilakukan seorang pasti diketahui seorang yang lain. Persahabatan antar wanita yang manis dan indah… yang kini sepertinya akan jadi bomerang untuk rencana Arturia.

"Kamu pasti tahu apa yang akan kutanyakan bukan, wahai Gadis Suci Orleans?"

Jeanne menelan ludah.

Ia tak bisa berbohong, karena ia seorang Santa, dan Emiya memanfaatkan ini untuk menanyainya.

…..

Beberapa hari lalu…

"Aku kesal," kata Arturia, sebelah tangannya berpangku di atas meja sementara ia menyesap milkshake blueberry-nya dengan malas. Sungguh sikap yang tak pantas ditunjukkan seorang Raja Para Ksatria.

Jeanne dan Nero, yang duduk di seberangnya, hanya bisa tertawa kecil.

"Masih memikirkan masalah Valentine kemarin, sahabatku, Arturia?" tanya Jeanne. "Seorang raja sepertimu tak pantas jika menyimpan amarah."

"Umu! Lagian chapter Valentine kan udah lamaaaa banget. Tahun lalu, kalii," sambung Nero. Ini membuat kedua wanita pirang itu menatapnya bingung, "Ahh, sayang sekali kalian berdua tak diberkahi kemampuan menembus fourth wall." Ia geleng-geleng.

Biasanya sih Arturia takkan pernah mau mengundang Nero ngobrol karena sikap mereka yang terlalu berbeda, tapi untuk masalah ini mau tak mau ia harus meminta pendapatnya. Masalah yang tak lain tak bukan, soal kepopuleran Emiya waktu Valentine kapan hari.

Simpelnya, Arturia merasa… sedikit cemburu. Ia takkan pernah mau mengakui ini, sih.

"Yah, tapi aku paham kok perasaanmu. Padahal kamu yang pertama 'menemukan' dia, tapi para kucing pencuri itu berebutan mendekatinya, umu," Nero mengangguk-angguk. Dari tiga orang di meja itu, memang ia yang paling berpengalaman soal cinta.

"Si-siapa bilang aku cemburu?" Arturia bangkit berdiri, memprotes tuduhan itu. Namun, rona merah di pipinya tak sesuai dengan ucapannya.

"Aku tidak bilang kamu cemburu loh…" Nero menyeringai, dan Arturia duduk kembali dengan wajah semakin memerah. "Untungnya ada aku, sang Kaisar Bunga Roma di sini! Aku sudah sering menghadapi masalah seperti ini, dan lawannya selalu yang itu-itu saja!" Tanpa sadar Nero menggenggam gelas wine-nya terlalu kencang. "Miko dengan telinga rubah, idol palsu bertanduk, dan gadis robot peradaban buruk itu… grrrrrrr!"

Gelas malang itu kini retak.

"Um, nona Nero, sepertinya anda sudah keluar pembahasan," Jeanne mencoba menenangkan.

"Oh? Umu, aku sepertinya terbawa emosi… mungkin memang lebih baik aku menyelesaikan segala urusanku dengan mereka, sekali untuk selamanya. Mumpung Extella masih hangat perilisannya-" dan sekalinya sang Kaisar Kelima Roma membuka mulut, celotehannya akan terus mengalir…

Arturia menghela napas panjang. Nero memang lebih berpengalaman, namun ia sering keluar dari topik. Lalu Jeanne… ia sahabat yang baik, sungguh. Tapi soal ini, maaf, ia tak bisa diandalkan.

Walaupun sebenarnya ini salah Emiya sendiri. Kenapa sih dia sok playboy seperti itu?!

"Bahkan Master Gudako juga terjerat olehnya…" gumam Arturia.

Ini menghentikan ceramah (baca: protes) Nero, dan membuat Jeanne tersedak minumannya.

"Master?!"

"Praetor?!"

Arturia menjauhkan diri dari mereka, dan berkedip, "I-iya? Master Gudako memberikan coklat Valentine pertama kepadanya, bahkan lebih dulu dari tuan Nikola Tesla dan tuan Arjuna…"

"Kalau praetor juga sampai kena, wah, ini pelanggaran namanya!" Nero menghantam meja.
"Aku mulai berpikir kalau masalah sebenarnya ada di monsieur Emiya…" komentar Jeanne.

Arturia bangkit dan menuding sahabatnya dari Perancis itu. "Nah, itu dia! Kamu benar sekali, Jeanne! Jika saja dia tidak tebar pesona seperti itu…!"

"Kalau begitu, gampang kan. Sembuhkan dari pusat masalahnya."

Terdengar suara berat yang tidak sesuai dengan badan kecilnya. Hans Christian Andersen, yang berdiri di dekat mereka dengan senampan makanan, berkomentar.

"Ehem. Maaf, aku tak sengaja mendengar perbincangan kalian para gadis," kilah Andersen. Padahal, dia dan Shakespeare (yang duduk di belakang meja ketiga wanita itu) sudah mencuri dengar sejak awal. Mereka pun berniat membantu Arturia menyelesaikan masalahnya… semua demi kejadian yang menarik – ehem, maksudnya, demi kebaikan Emiya juga.

"Dan yang tertangkap olehku adalah bahwa semua ini terjadi karena Emiya ini tidak setia pada pasangannya, yaitu nona Arturia di sini. Benar?"

Mendengar itu wajah Arturia menghangat, "P-pasangan? Tunggu dulu, apa maksud-"

"Aku sudah dengar dari si Cu Chulainn dan beberapa Servant dari Fuyuki soal hubungan kalian, percuma berkilah," mengabaikan si Saber biru yang semakin merona, sang pengarang melanjutkan, "Dengan kata lain, dia harus dihukum."

"Um, monsieur Andersen, kenapa anda justru yang paling semangat soal ini?"

"Karena aku pernah melihat si Emiya itu memperagakan kemampuan playboy-nya dengan mataku sendiri, dan ya ampun, aku ingin mencabut keduanya. Uegh," Andersen menjulurkan lidahnya. "Lagipula, aku paling tidak suka protagonis serial harem."

Arturia mengangkat wajahnya, dan mengangguk amat kencang seperti sedang menumbuk kentang.

"Aku sangat setuju soal itu,tuan Andersen!" katanya. Ia kemudian memandang Jeanne dan Nero, yang hanya bisa mengangkat bahu mereka. "Jadi, apa ada yang punya ide?"

…..

Mengabaikan hatinya yang berdegup kencang karena mengetahui Arturia cemburu karenanya, Emiya memelototi Jeanne, "Jadi, idenya adalah memberiku ramuan yang membuatku setia, tapi kalian meminta pada orang yang salah, sehingga dia memberi Arturia ramuan pengurang usia?!"

Jeanne memain-mainkan ujung jarinya dengan gugup. Emiya yang marah itu menyeramkan, tapi tetap ganteng, "I-iya. Monsieur Gilgamesh sendiri dengan senang hati menolong Arturia, karena dia tidak menyukaimu."

"Dengan kata lain, pelaku utamanya tetap kinpika sialan itu. Beruntung dia sudah dikalahkan Lily-kun, atau aku akan mengulang episode 24 'Fate/stay night UBW'…" geram Emiya. "Lalu, bagaimana cara Arturia membuatku meminum ramuan itu? Mustahil dia bisa melakukannya tanpa bantuan, dia bukan Assassin dengan 'Presence Concealment'!"

"Uh, itu… sebenarnya, Arturia juga meminta bantuan rekannya yang lain-"

Sring…!

Sesuatu yang bercahaya (dan amat tajam) melesat di dekat leher Emiya, memaksanya merunduk menghindarinya... tapi tak bisa sempurna. Dia yakin beberapa helai rambutnya jadi lebih pendek. Jeanne hanya bisa melongo dan menoleh ke arah sumber serangan barusan.

Nampak Arturia, yang mengenakan jaket biru dan celana (super) pendek, dengan wajah terhalang topi yang tertembus ahoge, menghunuskan Excalibur yang menyala-nyala.

"Akhirnya aku menemukanmu, penjahat!"

"Ee-eeh? Heroine X?!" Jeanne langsung berganti ke kostum tempurnya.

Kemunculan karakter misterius itu, tak salah lagi, untuk memburu semua Servant yang berwajah mirip Arturia Pendragon!

Dan sekalinya si X muncul, perang sipil bisa pecah di Chaldea ini!

"Ge-gencatan senjata dulu, monsieur Emiya!"

"Cih, ini perubahan plot yang terlalu tiba-tiba!" Archer menghunus Kanshou dan Bakuya, siap tempur untuk melindungi Jeanne. "Hentikan kebodohan ini, Saber!"

Ia hanya muncul saat mood-nya Arturia sedang buruk gara-gara ejekan Saberface, sih. Seperti saat event tidak jelas, Saber Wars, tahun lalu.

"… turunkan senjatamu, wahai Ruler. Saat ini, kau bukan targetku," kata X dengan tenang. Ia lalu memalingkan wajahnya ke Emiya, dan memelototinya amat tajam, dia bersumpah bisa melihat tiruan Mystic Eyes of Death Perception di sana!

"Targetku adalah kau! Kelas Archer harus dimusnahkan, terutama yang bernama Emiya!"

Emiya berkedip sekali, lalu dua kali. Dia lalu menepuk-nepuk telinganya, tak percaya dengan apa yang didengarnya. Alisnya naik sebelah.

"Aku serius!" X mencak-mencak kesal karena tidak dipercayai.

"APAAAA?!" Emiya dan Jeanne berteriak kompak.

Heroine X, sang senjata pembasmi Saber (dan Saberface) itu… mengabaikan misinya?!

Belum selesai dia protes, sebuah kilatan merah melesat menembus udara, menuju target yang tadinya adalah jantung. Namun Emiya juga berhasil menghindarinya mengandalkan teknik Clairvoyance.

"Ow, aku setuju soal ini, nona X. Pria brengsek sepertinya harus dilenyapkan dari dunia ini," sambung seorang pria, yang muncul dari wujud roh di samping X. Mengenakan paduan jaket dan celana training biru gelap, dengan topi terbalik yang menampakkan sepasang mata merah, dia memanggul sebuah tombak merah yang sepertinya cukup familier. "Mysterious Hero CCN, muncul dari masa depan yang telah musnah!"

"Apa namamu tidak kepanjangan?" komentar X.

"Kalau aku pakai nama 'C' saja kesannya jelek banget. Namamu kan masih keren, pakai X!"

Emiya meneteskan keringat dingin. "Kau pikir apa yang kau lakukan, doge? Kupikir kau tak terlibat!"

"Aah? Jelas karena aku tidak menyukaimu! Dan lagi…" CCN menoleh dan menyunggingkan seringai haus darah. "Kapan hari shishou mengajakmu makan malam bareng! Demi nama baik perguruan Land of Shadows, kau harus dimusnahkan!"

"Whoa, kau menyalahkan aku?! Dasar murid manja! Padahal shishou-mu sendiri sadar dirinya tante tapi masih doyan daun muda-"

Jawaban yang salah.

Sebuah kilatan merah muncul dari belakang Emiya, tepat menuju urat nadi di lehernya. Dia pun merasakan hawa dingin luar biasa dari arah belakang…

"Hmm? Bisa kamu ulang kata-katamu tadi, bocah?!" tanya Scathach, dengan nada luar biasa dingin yang sukses membuat CCN merinding disko. Ia tak pernah berkata sedingin itu kepadanya! "Setanta! Apa kataku soal pilih-pilih rekan? Di masa kehidupanmu, kau mati konyol karena ulah temanmu juga, kan?"

"Shi-shishou! Aku protes! Dia bukan temanku!" belum pernah Cu Chulainn terlihat sesopan itu sebelumnya.

"Tetap saja kau salah. Malam ini, akan kuajari caranya berteman dengan baik dan benar."

"Yang benar saja! Tadi pagi 4 sesi masih belum cukup juga?!"

"Oi! Jangan saling menggoda di sini! Ingat tujuan utama kita, CCN!" protes Arturia, yang semakin tidak nyaman dengan arah pembicaraan dua orang di depannya itu.

"CCN…? Ah, kalau begitu, izinkan aku ikut, Raja Para Ksatria. Panggil aku Nona SC," kata Scathach.

Cring!

Karena shock dan tak bisa bergerak dengan tombak di urat nadinya, Emiya tak bisa menghindari serangan rantai yang segera membelenggu tubuhnya. Kemudian, dia merasakan hembusan angin hangat di telinganya… yang membuat bulu kuduknya berdiri.

"Mysterious Heroine M ini, akan memangsamu sampai habis," bisik si penyerang dengan sensual. Dengan setelan yang sama dengan kedua Servant 'Mysterious' di sana, namun berwarna ungu dan lebih terbuka di bagian dadanya yang sesak, wanita itu muncul begitu saja di belakang Emiya.

"Oi M! Kenapa kamu malah merayunya?!" X berteriak kesal.

M mengacuhkan X, dan menolehi Scathach, "Nyonya Penyihir Dun Scaith, kenapa anda ada di sini? Anda… harus antri kalau mau menyergap pria ini."

"Tenang saja, aku hanya ingin memasukkan satu-dua serangan karena ucapan kurang ajarnya tadi," jawab Scathach dengan santai, seolah dia ingin memberikan jabatan tangan saja, bukan menikam Emiya dengan tombak monster laut, Gae Bolg.

"FUHAHAHAHA! Kalian para anjing kampong, jangan lupakan Great Emperor Cosmo Gilgames ini!"

Muncul lagi seseorang yang merepotkan. Kembali dari takhta pahlawan, Gilgames (tanpa h) kini hanya mengenakan armor bawah, menampakkan badannya yang di luar dugaan berotot dan cukup gangsta (dengan tato orisinal Uruk). Ea menari-nari liar di tangannya.

"… Jeanne, boleh aku trace La Pucelle milikmu untuk menghilang dari dunia ini?"

"Monsieur Emiya, bunuh diri itu dosa besar, aku tak menyarankannya…"

"KALAU BEGITU, BUNUH AKU SEKARANG!"


30. I'm Really Sorry

"Aku minta maaf sebesar-besarnya," kata Archer sambil melakukan dogeza.

Gudako, yang masih mengenakan seragam SMU Tsukumihara, mendengus dan menyilangkan lengannya. Ia, dibantu akang Arjuna dan om Tesla, juga beberapa Servant terkuatnya, berhasil menggagalkan acara eksekusi publik Emiya. Dengan ancaman pembakaran menjadi mana prism, massa pun bubar dan kembali ke kesibukan masing-masing.

Lalu, sebagai seorang Master yang bertanggungjawab, ia memanggil provokator tindakan keji itu, Arturia. Rupanya ia memang meminta bantuan rekan-rekannya dari Fuyuki untuk memberi pelajaran kepada Emiya. Cu Chulainn dan Gilgamesh setuju karena mereka memang membenci Archer itu, sementara Medusa ikut karena ada motif lain. Scathach ikutan karena Emiya telah mengatakan hal tabu (soal umurnya). Sungguh rencana yang kejam.

Namun, setelah mendengar alasan sang Raja Ksatria, ia jadi bersimpati padanya…

Kini, mereka ada di kamar utama Master. Di samping Gudako berdirilah Shakespeare(menggantikan Mashu), dan Arturia yang dahinya masih berkedut; jaksa pada pengadilan kali ini.

Di tangan sang Master ada sebuah botol kaca berisikan cairan hijau, yang pastinya ramuan penawar. Arturia memaksa Medea membuatnya, dengan bayaran foto-foto rahasia Saber Lily (yang dirampasnya dari Blackbeard).

"Jadi, ini balasan dari para gadis gara-gara Valentine kemarin?" Shakespeare tergelak. Arturia mengangguk kesal. "Hahahaha! Sungguh, panasnya api neraka tak sebanding dengan kemarahan seorang wanita!"

"Om William..." Gudako meneteskan keringat dingin. Ia lalu menolehi Emiya, yang belum mengangkat wajahnya dari lantai, dan mendesah. "Kamu… benar-benar menyesal, Emiya-san?"

Archer mengangkat wajahnya, dan mengangguk dengan wajah serius seperti hendak meluncurkan Unlimited Blade Works. Wajah seorang Counter Guardian yang telah melihat berbagai tragedi di dunia ini, wajah yang tak mungkin berbohong.

"Sungguh. Aku menyesal atas sikapku selama ini dan berjanji untuk lebih berhati-hati," jawabnya kemudian.

"… begitu katanya. Bagaimana menurutmu, Arturia-sama?" tanya Gudako.

Sang raja hanya bisa menghembuskan nafas panjang. "Master. Dia mengatakan itu bukan sebagai seorang pria, melainkan sebagai seorang Servant dan ksatria. Maka, aku memilih untuk mempercayainya."

"Om William?"

"Yaaa… sebenarnya aku tidak terima ini berakhir semudah ini-" tatapan dingin sang Master dan Arturia membungkamnya. "Tapi, jika Master dan Yang Mulia sudah berkata demikian, aku hanya bisa setuju."

Archer mengelus dada. Bagaimanapun, dia selamat dari perburuan penyihir kali ini. Dalam hati, dia pun berjanji untuk menjauhi Servant wanita, kecuali yang sudah terbiasa dengannya seperti Tamamo, Nero, dan Boudica (mereka bertiga ini sepertinya sudah kebal akan pesonanya).

"Baiklah," Gudako bangkit dan membersihkan pangkuannya. Ia pun menjulurkan tangannya yang memegang ramuan penawar, berniat memberikannya. "Paling tidak, dengan ini kamu sudah sadar, Emiya-san. Bahwa mempermainkan perasaan seorang gadis itu tidak baik-"

Cling!

Sebuah kilatan muncul dari tengah bayangan, dan tiba-tiba saja Kiyohime muncul dari sana... untuk meloncat ke pangkuan sang Master.

"K-kyaaaa?!"

"Anchin-sama, apa kamu sendiri pantas berkata begitu? Karena, Anchin-sama kan menolak hadiah Valentine-ku!" katanya dengan sorot mata berapi-api.

"La-Lady Kiyohime! Apa maumu?!" teriak Arturia.

Karena Gudako panik, dia melepaskan ramuan dari tangannya, sementara Arturia berusaha menolong sang Master. Mata Archer yang tajam menangkap kesempatan itu, dan meraihnya.

"Maaf aku memanfaatkan momen ini, Master. Tapi aku sudah putus asa," Archer memiringkan kepalanya, hendak meminum ramuan itu, tapi berhenti karena menyadari tatapan seseorang. "Shakespeare. Kau tidak berniat menghentikanku?"

Si pengarang besar menggosok janggutnya, "Ohoho. Tidak perlu. Aku ingin menyaksikan perkembangan cerita ini. Semakin menarik, bukan, Sir Emiya?"

"Heh, tapi aku takkan jadi karakter utamanya lagi," Archer menenggak ramuan itu, dan dia berkilau! Dalam hati dia akan memberi hadiah Kiyohime karena sudah membantunya...

Saat Archer membuka matanya, dia melihat... kaki mulus sang Master dan Kiyohime yang mengenakan zettai ryouiki, rok panjang Arturia, dan kaki Shakespeare (oke, yang terakhir ini menjijikkan).

Tunggu.

"A-apa ini?!" Archer – Shirou Emiya kecil – berteriak dengan suara kekanakannya. Dia rupanya semakin menciut, kali ini penampilannya tak lebih dari anak berusia 7 tahun. "MEDEAAAAA!"

Gudako dan Arturia pingsan karena mimisan. Kiyohime hanya tertawa misterius, kemudian kabur membawa tubuh sang Master. Shakespeare tertawa terbahak-bahak sambil menulis apa yang dilihatnya dengan detail.

…..

"Mysterious Witch MDA ini masih belum menunjukkan kemampuan aslinya, fufufu."

"Caster, seleramu sungguh buruk."

"Diam, Savior of F."


A/N

Dua chapter ini ditulis Februari 2016 lalu, ohohohoho :ngacir: