Aloha, saya update nih :D #mumpungmasihlibur

makasih ya yang sudah baca cerita abal saia, juga terima kasih yang sudah mereview #saiasangatmenhargainya

Oke, daripada lama, mendingan langsung baca ya

Title : Beautiful Mistake

:

:

:

Disclaimer : JK Rowling

:

:

:

If you don't like, don't read, just leave...

Normal POV

"Hei Lily, tunggu aku!" Seru seorang gadis berambut merah semak pada seorang gadis berambut merah lurus. Merasa terpanggil Lily menolehkan kepalanya, melihat fitur Rose berlari mendekatinya.

"Rose?" Menatap heran pada sepupunya, "Darimana saja kau! Aku dan Hugo mencarimu!" Bentak Lily tiba-tiba. Rose hanya bisa menutup kupingnya karena sakit mendengar teriakan Lily yang lumayan keras.

"Hell, pelankan suaramu Lily. Ada yang harus aku katakan padamu." Tukas Rose tak bersemangat, sungguh-sangat-tidak-Rose.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" Kali ini Lily mencoba bersabar, merasa aneh dengan gelagat sepupunya yang tidak biasa

"Tidak bisa aku katakan di sini, bagaimana kalau kau ke Hogsmeade sore ini?" Mohon Rose sedih.

Mata Lily membulat, "Apa? Mengapa aku harus ke sana?"

Tiba-tiba sebulir air mata menetes membasahi pipi Rose, membuat Lily tersentak kaget. "Rose! A..ada apa denganmu? Mengapa kau menangis?"

Tangan Rose segera menyeka air matanya, "Aku tidak bisa merahasiakan, Lily. Akan kuceritakan segalanya sore ini. Kumohon kau datang."

Lily menatap iba pada Rose, "Baiklah, sore ini aku akan datang. Kebetulan Blizh mengajaku pergi membeli sapu baru." Ucap Lily agak ragu.

Rose tersenyum mendengar jawaban Lily, "Terima Kasih Lily, kau memang sepupu terbaikku." Ujarnya sambil memeluk Lily. Setelah berpelukan, Rose pergi meninggalkan Lily yang masih merasa aneh dengan sifatnya.

"Sebenarnya apa yang terjadi? Jarang sekali Rose mau menceritakan masalahnya." Gumam Lily pelan kemudian mengangkat bahu, menyerah dengan keanehan Rose hari ini.

Sementara itu sosok Rose memasuki toilet wanita yang sudah tidak terpakai, sekujur tubuhnya bergelembung seperti gelambir, kemudian berubah bentuk menjadi seorang pria tampan berambut pirang keperakan. Pemuda itu menatap sebuah botol kaca dalam genggamannya sambil tersenyum penuh kemenangan. Ya, satu rencana Malfoy Junior ini berjalan dengan lancar, dengan begini Rose akan menceritakan apa yang terjadi malam itu.


Malam ini terasa sangat dingin, bintang yang biasanya menemani malam tampak menghilang, hanya menyisakan bulan purnama yang bersinar terang. Kepala Rose terangkat memandang bulan dengan pandangan sendu. Sesekali dirinya menghela napas panjang, kemudian mengusap kedua tangannya untuk mengurangi rasa dingin. Tanpa Rose sadari, seorang gadis berambut merah datang tanpa suara lalu meraih bahunya, membuatnya tersentak kaget.

"Lily!? Kau membuatku terkejut." Desah Rose lega melihat Lily tengah tersenyum padanya.

"Benar, maafkan aku membuatmu terkejut." Jawab Lily singkat.

Rose menepuk bahu Lily ramah, "Apa yang sedang kau lakukan di sini? Tidak biasanya kau datang kemari."

Entah mengapa perlahan raut wajah Lily berubah sedih, "Sebenarnya apa yang terjadi saat malam pesta dansa, Rose?" Mengabaikan sepenuhnya pertanyaan Rose

Kening Rose berkerut tidak mengerti, namun sedetik kemudian wajahnya berubah memucat. " Ma-malam pesta dansa? A-aku tidak mengerti apa maksudmu?" Bantah Rose gugup.

Mata Lily berubah dingin, kini tangannya meraih pundak Rose kasar, "Jangan berbohong padaku, Rose. Katakan padaku apa yang terjadi!"

Air mata Rose menetes perlahan, ekspresinya di penuhi dengan penyesalan, "Maaf." Desis Rose pelan.

"Maaf? Apa yang dilakukan Albus hingga membuatmu seperti ini?!" Desak Lily marah.

Kepala Rose tertunduk, "Di-dia menciumku, dia me-mengatakan bahwa ia men-cintaiku.." Akhirnya Rose membongkar semua rahasianya, mengakui segalanya.

Lily memandangnya tidak percaya, "Lalu apa kau mencintainya?"

Rose mendongak kaget mendengar pertanyaan Lily, "Tidak, aku tidak mungkin mencintai Albus! Bagaimanapun ia adalah sepupu kandungku, ini tidak benar." Jawab Rose tegas.

Mendengar jawaban Rose, secara tiba-tiba Lily memeluknya erat. "Jangan pernah jatuh cinta padanya, berjanjilah padaku."

Rose mengangguk perlahan, "Ya, aku berjanji padamu Lily. Aku Rose Hermonie Weasley tidak akan pernah mencintai Albus Severus Potter."

Tanpa Rose sadari, Lily menyeringai licik sebelum melepaskan pelukannya, "Terima Kasih, Rose. Aku mempercayaimu." Ibu jari Lily menghapus air mata Rose lalu perlahan mengeluarkan tongkat dalam sakunya. "Maafkan aku. Obliviate!"

Seketika itu tubuh Rose terkulai jatuh menuju lantai, namun dengan cepat Lily menahannya. Jemari kurus Lily membelai pipi Rose pelan kemudian menggendong tubuh Rose ke atas tempat tidur. Perlahan mata merah Lily berubah menjadi abu-abu, rambutnya yang panjang mulai memendek menjadi warna pirang platina. Kini kita mengetahui siapa sebenarnya sosok Lily malam ini, tidak lain adalah Scorpius Malfoy. Sebenarnya apakah tujuan Scorpius melakukan semua ini?


Seorang pemuda berparas tampan berjalan angkuh melewati lorong-lorong Hogwarts yang hanya diterangi cahaya api. Iris hijaunya memandang malas ketika menangkap sesosok bayangan yang kian lama kian mendekat. Bayangan itu bukan hanya terdiri dari satu orang, tetapi terdiri dari banyak orang. Perlahan terlihat banyak sekali sosok dengan jubah hitam dan topeng silver menutupi identitas masing-masing dari mereka. Pemuda itu menyeringai puas setelah semua dari mereka menunduk hormat padanya.

Keadaan hening mencekam, tidak satupun dari mereka berbicara. Keheningan terpecah saat sang pemuda mengeluarkan sebuah batu kecil berwarna hitam pekat.

"Apakah kalian mengerti mengapa aku mengumpulkan kalian semua di sini?" Pemuda beriris hijau yang tak lain Albus Severus Potter, anak dari The Choosen One mulai berbicara sambil sibuk memandang batu yang ada di genggamannya. Salah satu alisnya terangkat ketika batu hitam yang ada di genggamannya menghilang.

"Tidak, My Lord." Jawab mereka semua serempak.

"Selama ini kalangan keluarga Pure Blood selalu merendahkan dan berlaku sombong di hadapan kita. Mereka-..." Albus menatap tajam satu persatu pada mereka, "Mereka semua pantas mati. Mereka semua tidak pantas di maafkan." Ujar Albus terkekeh pelan.

"Para Auror kini tengah menyelidiki kita, bukankah berbahaya jika kita menyerang malam ini?" Sahut salah seorang dari mereka, membuat seringaian Albus melebar.

"Apa kau takut, Christine?" Tanya Albus malas.

Christine tertegun namun beberapa detik kemudian menggelengkan kepalanya, "Tidak, My Lord."

Mereka semua tersenyum sinis mendengar jawaban Christine.

"Malam ini bunuh semua Pure Blood yang kalian temui." Perintah Albus disertai senyuman sadis. "Dan buatlah terror sehingga mereka takut kepada kita!"

"Yes, My Lord."

Mereka semua bangkit serentak kemudian mulai melancarkan kutukan kepada siapa saja yang mereka kenal sebagai darah murni. Menebarkan terror yang mungkin akan sangat membekas dalam sejarah Wizarding Worlds. Sebagaian mereka memasuki masing-masing asrama dan mulai melancarkan kutukan pada Pure Blood. Suara jerit kesakitan mulai menggema di seluruh kastil Hogwarts, diiringi suara tawa kepuasaan dari seorang Albus Severus Potter. Para Death-Eather pengikut Albus tidak hanya menyerang dan membunuh Pure Blood saja, tapi siapapun yang membela mereka.

Keadaan semakin kacau dan tidak terkendali, banyak genangan darah berceceran di lantai Hogwarts. Bau amis darah begitu menyengat, membasahi jas hitam Albus dan para Death-Eather. Sedikit darah terciprat di wajah Albus ketika sedang menyiksa seorang Pure Blood asramanya sendiri dengan kutukan-terlarang. Keadaan itu tidak berlangsung lama saat Prof McGonnagal datang dan menatap horror pada dirinya.

"Albus-.." Gumam Prof McGonnagal tidak percaya.

Merasa terpanggil, wajah Albus berpaling, memperlihatkan seringaian sadis dengan cipratan darah yang menempel.

"Kau rupanya Head Master." Albus melangkah ringan mendekati Prof McGonnagal dengan para Death-Eather nya,seolah-olah tak terjadi apapun, sedangkan Prof McGonnagal dengan para guru -yang entah sejak kapan dibelakangnya- meraih tongkat mereka masing-masing, bersiap melawan Albus.

Melihat ketakutan dari para guru dan Prof McGonnagal sendiri, membuat Albus terkekeh geli, "Jangan terkejut begitu Professor, kita dapat membicarakan ini baik-baik."

"Kau-...bagaimana bisa kau melakukan hal mengerikan seperti ini!?" Lirih Prof McGonnagal.

"Heh...mengerikan katamu? Aku hanya mengulang apa yang terjadi di saat Voldemort berkuasa."

"Dia benar Professor-.." Sebuah suara lelaki menginterupsi pembicaraan mereka, mata hitam kelamnya berkilat geli melihat ekpresi Prof McGonnagal yang jarang terlihat.

"Teddy Lupin-.."

"Ya Professor, ini murid kebanggaanmu, Teddy Lupin." Jawab Teddy tersenyum palsu.

"Kalian semua tidak bisa lolos dari ini semua, para Auror akan kemari beberapa menit lagi!" Geram Prof McGonnagal marah. "Aku akan melindungi semua murid yang tersisa sebelum Auror datang dan menangkap kalian semua!"

Albus menghela napas lelah, "Well, aku lupa memberitahu kalian semua, Hogwarts berada di bawah kendaliku. Kalian tidak bisa menggunakan Portkey atau ber-Apparate. Jadi dapat disimpulkan kalian semua merupakan tahanan kami."

Semua mata terbelalak mendengar ancaman Albus yang terdengar seperti main-main. Sedangkan Teddy mendekati telinga Albus, "Apa kau sudah mengamankan Lily, Rose,dan juga Hugo?"

Albus menatap sepupunya datar, "Sudah kuperintahkan Blizh Wood dan Alicia Vane melakukan tugasnya. Dan kuperintahkan tiga Death-Eather berjaga di depan Asrama Ketua Murid."

"Tapi bagaimana dengan Alvin dan Scorpius? Kau belum membereskan mereka!" Ujar Teddy cemas, namun Albus menanggapinya tenang.

"Aku sengaja membiarkan mereka hidup. Mereka berdua masih berguna untuk kita." Seringaian kejam kembali terpampang di wajah Albus, "Malam ini waktunya kita bersenang-senang."


Scorpius memperhatikan ketiga Death-Eather yang berjaga di depan Asrama Ketua Murid lewat mata-terjulur terbaru buatan Toko Lelucon George , sudut matanya menangkap sesosok pemuda seusianya tengah mengirimkan Patronus kepada Departement Sihir dan juga Auror. Namun entah mengapa Patronus-nya menghilang tanpa bisa terkirim, membuat pemuda itu mengumpat pelan.

"Sepertinya memang tidak berguna, mate. Seluruh Hogwarts sudah terpasang entah-mantera-apa yang membuat seluruh manteraku tidak berguna."

Yah, memang tidak berguna, Albus sudah memperkirakan ini sebelumnya.

"Broken-Spell, dia pernah menggunakannya di tahun keduanya." Jelas Scorpius pada Alvin.

"Aku tidak menyangka Albus menjadi seperti ini, kita tidak pernah membuat kesalahan apapun padanya." Kesedihan terpancar dari mata Alvin.

"Dia sudah bukan sahabat kita lagi, Alvin. Obsesinya terhadap Rose membuatnya mudah mengambil tindakan ini."

"Kau sudah memperhitungkan ini bukan?"

Scorpius memandang wanita yang dikasihinya tergeletak tak sadar dihadapannya. Dia memang sudah memperhitungkan cepat atau lambat Albus akan membuka topengnya dan membunuh mereka semua, keturunan Pure Blood. Terpaksa Scorpius harus menggunakan rencana yang dia utarakan pada ayahnya tadi pagi.

Flashback

Kaki Scorpius melangkah mantap menuju sebuah ruangan yang dikenalnya sebagai Head Master Room. Dilihatnya kedua orang tuanya tengah berbicara dengan Prof McGonnagal. Pembicaraan mereka terhenti saat Scorpius melangkah mendekati mereka.

"Puteraku-.." Ujar Astoria memeluk Scorpius erat. Merasa sedikit tak nyaman, Scorpius berusaha melepaskan pelukan ibunya.

"Sebenarnya ada apa kalian kemari?" Tanya Scorpius tanpa basa-basi, terlalu heran karena tidak biasanya kedua orang tuanya datang tanpa pemberitahuan.

Draco menatap Prof McGonnagal dan Astoria bergantian, "Kami ingin membawamu pulang, nak. Sekarang."

Kening Scorpius mengerut tidak mengerti, "Pulang? Apa maksudmu, Dad?"

"Death-Eather pemburu Pure-Blood sudah semakin mendekati Hogwarts, sebagian siswa dan siswi keturunan Pure-Blood mulai pulang hari ini." Jelas Prof McGonnagal memijit keningnya kecil. " Kau bisa tetap di sini hanya sampai besok, uruslah segala barang-barangmu dari Hogwarts."

"Aku tidak akan pergi." Jawab Scorpius singkat dan tegas, tentunya membuat Draco ,Astoria, dan Prof McGonnagal sendiri terkejut.

"Jangan membantah Scorpius! Kau harus ikut kami ke Malfoy Manor, di sana aman untukmu, nak." Cemas Astoria membujuk Scorpius.

Berbeda dengan istrinya, Draco menatap anak semata wayangnya curiga. "Apa yang kau rencanakan Scorpius? Kau tahu siapa dalang dibalik semua ini?"

"Ya, Dad, aku tahu. Tapi aku belum bisa memastikan apa benar 'dia' dalang dibalik semua ini. "

Semuanya terdiam mendengar penuturan Scorpius, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Baiklah, akan ku biarkan kau tetap di sini." Ujar Draco tenang.

"Draco!"

"Yah, terima kasih, Dad."

"Scorpius!"

Wajah Astoria terlihat marah dengan keputusan sepihak kedua lelaki yang disayanginya, "Tidak! Kau tetap ikut dengan kami, sweetheart. Aku tidak bisa percaya Hogwarts bisa melindungimu!"

Ucapan Astoria membuat Prof McGonnagal menghela napas panjang, " Kami bukan tidak bisa melindungi murid-murid disini, namun kami hanya mengantisipasi kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Untuk itu mengapa kami memberika pilihan kepada kalian."

Scorpius menatap ibunya lembut, "Percayalah padaku, Mom. Aku akan baik-baik saja di sini. Kalau benar 'dia' adalah dalang dari semua ini, aku bisa segera mengakhiri semua terror ini dan Wizarding World akan kembali damai."

Flashback End


Sementara itu di sebuah ruangan seorang lelaki beriris hijau tengah duduk di kantornya, matanya menatap gelisah foto dirinya serta anak-anaknya. Dirinya memikirkan tindakan apa yang harus dilakukannya menghadapi Death-Eather yang semakin mendekati Hogwarts. Ada informasi terbaru seputar pemuda yang mengaku sebagai Half Blood Prince dari bawahannya. Mereka mengatakan pemuda tersebut mempunyai sebuah batu-entah-apa-namanya. Batu tersebut mempunyai kekuatan besar dan pastinya berbahaya. Jauh lebih kuat dari Avada Kedavra, Cruciatus, dan mantera terlarang lainnya.

Lamuan Harry buyar saat seseorang memasuki kantornya dengan tergesa-gesa, dilihatnya Draco dan Ron bertengkar sedikit sebelum akhirnya berhenti saat Harry memberi tatapan kesal.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Harry pelan berusaha bersabar dengan tindakan kekanak-kanakan dari kedua laki-laki di hadapannya.

Ron mendelik kesal pada Draco, "Bloody Hell, si Pirang-Arrogant ini ingin bertemu denganmu. Padahal aku sudah memperingatkannya bahwa kau sedang tak ingin bertemu dengan siapapun."

"Berhenti sampai di situ,Weasley. Atau aku tidak segan-segan memukulmu." Desis Draco marah.

"Cukup kalian berdua!" Bentak Harry keras, merasa usahanya untuk bersabar sangat sia-sia.

Harry menarik napas dalam-dalam, mencoba melemaskan sarafnya yang tegang, "Sebenarnya ada keperluan apa sampai kau datang kemari?"

Merasa Harry bertanya padanya, Draco menjawab, "Hogwarts telah di serang-.."

"Omong kosong. Sedari tadi dia hanya berkata hal yang tidak masuk akal Harry. Jika Hogwarts di serang, kami akan segera mendapatkan informasi." Potong Ron tanpa rasa bersalah, membuat Draco ingin sekali mencekiknya.

"Tapi aku benar, Harry. Aku mendapatkan pesan dari anakku bahwa Hogwarts telah diserang."

Harry menatap Draco ragu, "Tapi...benar apa yang dikatakan Ron. Memang ada isu yang mengatakan Death-Eather mulai mendekati Hogwarts, tapi jika memang Hogwarts telah di serang, pasti McGonnagal akan memberitahu pihak Departement Auror."

Ron tersenyum penuh kemenangan mendengar penuturan Harry, "Dan lagipula, apa benar anakmu tidak berbohong?"

"Diam kau, Redhead!"

"Kau yang diam, Ferret!"

"Cukup! Tidakkah kalian merasa seperti anak kecil?" Ujar Harry sarkastis, membuat keduanya kembali terdiam.

"Jadi bagaimana anakmu memberi pesan padamu, Malfoy? Bukankah kau mengatakan padaku hari ini Scorpius akan tinggal di Malfoy Manor untuk sementara?"

Ekspresi Draco tiba-tiba berubah mengeras, "Dia...tidak ikut denganku. Kami tidak membawanya."

Kening Ron berkerut heran, "Bloody Hell, apa kau sudah gila? Kami sudah memberi batas waktu pada murid keturunan Pure Blood untuk pergi sementara waktu dari Hogwarts sampai besok, bukan?"

"Katakan padaku, Malfoy. Apa yang sebenarnya terjadi?" Ucap Harry curiga, mana mungkin Draco tidak perduli pada anaknya sendiri?

Ekspresi Draco mengerut tak suka, "Jangan memandangku seperti itu, Potter. Yang terpenting sekarang segera panggil para Auror untuk pergi. Sepertinya Death-Eather mengetahui rencanamu mengamankan para Pure Blood."

"Hei, hentikan omong kosong ini! Sudah ku bilang para Death-Eather tidak mungkin menyerang Hogwarts!"

Harry menatap Draco tajam, "Baiklah, aku percaya padamu. Kami akan segera pergi untuk memastikan."

Mata Ron membulat tidak percaya, bagaimana bisa sahabatnya percaya semudah itu? Namun Ron tidak kembali mengemukakan protesnya. Yang berhak memutuskan di sini adalah Harry.

"Aku ikut denganmu, Harry." Sahut Ron tanpa ragu.

Harry mengangguk pelan sebelum akhirnya mengirimkan Patronus kepada para Auror.

Gimana menurut kalian? Semakin bagus atau semakin aneh?

Saia sangat tidak sabar menulis pertarungan antara ayah-anak nanti #emangnyabakalseru?

Dan tentang broken-spell itu ciptaan saia lho, hehe

Review Please