Bagaimana mungkin katsudon bisa se-seksi itu? Yuuri Katsuki jawabannya.

Begitu pintu banquet di buka. Dia bukanlah Yuuri setahun silam. Para hadirin berkagum melihat Yuuri bermetamorfosis sempurna, dari seonggok babi lugu menjadi katsudon terseksi.

Tapi bukan ini yang Yuuri mau. Dia ingin memojok, menyatu dengan tembok dan menjadi sandaran orang-orang teler.

"Oi Katsudon, jangan kesambet di sini." Yurio memukul Yuuri yang sedari tadi termenung,

"Yuuri, ayo bersenang-senang!" Chris mengoper segelas White Russian, sejenis koktail manis terdiri dari vodka, kahlua, dan krim. Yuuri masih menyuruk,

"Tidak Chris, hari ini aku tidak bisa." Tolaknya baik-baik tapi Chris memaksa. Diberi juga.

"Yuuri, ingat kau harus menahan diri!" Diingatkan Phichit, Yuuri jadi ingin mengoper kepadanya

"Kalau begitu ini untukmu saj-"

"Upss tanganku penuh." Yuuri merajuk.

"Phichiit~?" Dari kejauhan tampak seorang wanita dengan gaun merah menyahuti, kelihatannya mereka teman dekat. Phichit langsung permisi dan berbincang dengan wanita itu.

Tidak jauh beda dengan Otabek dan Yurio yang sudah menghilang entah ke mana, yang pasti Otabek berhasil menculik si bintang acara . Chris juga mulai menggoda orang-orang. Yang tersisa hanya,

"Its.. JJ STYL--" Yuuri menggeser seribu langkah. Kini dia sendirian memojok bersama tetumbuhan hias.

Akhirnya sang pria tiba di venue. Tatanan rambut lebih rapi dari biasanya, poni menutupi manik kirinya yang indah. Wajah tirus dengan rahang tegas, mata diteduhi bulu mata nan lentik, hidung mancung, bibir tipis yang terlihat nikmat untuk dicumbui, selalu menghiasi wajahnya bak dipahat tuhan secara khusus.

Wangi parfum menthol menyegarkan dipakainya, mampu membikin siapapun yang menghirup minta dinikahi. Jas hitam dan kemeja putih membalut tubuh altetisnya dengan sempurna, menonjolkan dada bidang dan pinggang ramping. Begitu si pria muncul, kerumunan di dominasi wanita berkumpul, menjerit-jerit.

"Kyaaaa!" Si raja fanservice melirik dan mengedipkan mata, beberapa dikabarkan tewas di tempat.

Viktor Nikiforov, Begitu kakinya membelai lantai, berjalan tegap maju, sudah membuat yang melihat menggila.

Yang paling menggila adalah yang sedang memegangi koktailnya di sudut ruang.

Mendengar lengkingan suara para wanita saja sudah memberi tahu bahwa mantan pelatihnya sudah tiba, satu ruangan dengannya. Yuuri sukses menjelma jadi tumbuhan.

Dia kelabakan, canggung, nervous, takut, khawatir, mengumpat, haus. Dia merasa haus. Diteguknya bulat-bulat entah apa yang daritadi di genggamnya, sudah sulit berpikir. Tubuhnya mulai menghangat, kemudian mulai mengumpat lagi.

"Yuuri! Akhirnya aku menemukanmu." Seung-gil yang sejak dimulainya acara sudah celingukan akhirnya menemukan apa yang dicari,

"Oh, Seung-gil."

"Pipimu merah," Seung-gil menatap setiap inci,

"Mabuk?" Tangannya ditaruh di pundak Yuuri,

"Sedikit. Aku merasa sedikit pusing." Keluh Yuuri memegangi gelas kosong. Daya tahan alkoholnya rendah sekali. Seung-gil mengambil gelas dari tangan Yuuri, "Akan kuambilkan air, kau tunggu di sini." Belum menjawab, Seung-gil sudah menghilang.

Terlalu banyak orang, Yuuri berjalan ke pintu samping. begitu di buka tampak lorong kosong, Dia menyenderkan tubuh, memijit-mijit kening sendiri.

"Bukankah kamu sudah dilarang mabuk, Yuuri?"

Orang bilang begitu seseorang masuk dalam mimpimu, berarti dia sedang memikirkanmu.

Mata Yuuri membulat, suaranya bukan delusi pemabukkan, benar-benar terdengar nyata di telinga. Yuuri membanting mukanya ke sumber suara, manusia yang barusan menyita perhatian beribu audiens kini satu nasib dengannya, mojok di lorong.

"Ah, kau datang ya." Yuuri berusaha bersikap acuh,

"Tentu, sebagai pelatihmu aku harus datang."

"Kau bukan pelatihku lagi."

"Aku tidak dengar pembatalan kontrak."

"Kalau begitu sekarang juga aku sudahi kontraknya."

"Tidak mau." Kata Viktor, Yuuri mulai kesal. Apapun yang Viktor lakukan terlihat sangat seksi dan sangat menyebalkan di matanya. Lupakan yang pertama.

"Kau mabuk." Viktor mengulang topik pertamanya,

"Tidak." Yuuri denial. Viktor mengerutkan alis,

"Kemana tunanganmu? tanggal pernikahannya tinggal menghitung bulan. Kenapa tidak urusi itu, kenapa kau malah mampir ke acara-acara begini? Senggang sekali." Sindiran, Yuuri bersorak dalam hati, AKU BISA MEMBUAT SINDIRAN.

Air muka Viktor berubah, "Wow, lihat yang bicara, terakhir ketemu menjerit-jerit tak tahu malu di taman terbuka bilang tidak sudi bertemu denganku lagi. Sekarang bisa-bisanya orang itu masih berbincang denganku." Menohok, sindiran baliknya menusuk sampai rusuk terdalam.

"Tidak akan ku ulangi." Yuuri diam, menepati janji.

"Kau butuh air Yuuri." Viktor masih berani mengajaknya bicara, membuat Yuuri jengkel, Orang ini berisik sekali terlintas dalam hati.

"Sudah di ambilkan."

"Oleh Phichit?" Satu-satunya teman karib Yuuri yang Viktor kenal,

"Oleh Seung-gil." Viktor heran, Yuuri diam sebentar,

"Dia kekasih yang baik." kata Yuuri lagi.

Jeda.

Jeda.

Jeda.

Jeda.

Jeda.

Jeda.

Jeda.

"Oh."

Jeda.

Jeda.

Jeda.

"Sejauh mana kalian berhubungan?" Viktor menatapnya lekat,

"Mungkin lebih jauh daripada kau dan tunangan cantikmu itu. Soal ciuman-"

Entah apa yang membuat gravitasi berpindah kedepan badan, lengannya ditarik, tubuhnya dihantam ke tembok, matanya refleks terkatup, ia meringis. Indera perabanya kini jauh lebih tajam.

Mulai terbesit mimpinya semalam. Kenangan tahun lalu ketika dirinya dilatih Viktor. Di mana mesra-mesraan masih hal wajar. Hari ini bibirnya diingatkan kembali.

Yuuri membuka mata, wangi menthol. Wajah Viktor tidak ada satu jengkal darinya, hembusan napasnya menampari wajah. Bibir menempel miliknya.

Sekejap serasa satu dekade.

Si lelaki terdiam kaku, tidak mengerti cara menggerakkan tubuh. Fungsi otaknya berhenti sampai bibir sang pelatih mulai melumat bibirnya tiada ampun. Kembali ke alam sadar, Yuuri meronta. Tidak diizinkan. Tangannya yang besar menahan leher belakang Yuuri agar tetap dalam jangkauan, kemudian tangan satunya menjelajahi punggung yang meliuk, mendekapnya erat seperti tiada hari esok.

Yuuri kehabisan napas, tidak tahu bagaimana cara menghirup dari hidung,

"Vik-" Baru sekejap bibir terpisah untuk Yuuri mendapat oksigen lewat mulut, otot lunak Viktor mulai menjelajah masuk tanpa permisi, mencumbuinya lagi. Lidahnya saling bertaut, berkelahi, dan dominasi dimenangkan oleh Viktor. Pertama kalinya Yuuri menerima french kiss.

Dalam mulut Yuuri terasa lidah Viktor bergerak-gerak, menyentuh langit-langitnya. Lantas tubuhnya tersentak, nyaris terjatuh. Dengan sigap kaki Viktor menahannya sejajar dengan marmer, membikin kaki Yuuri terbuka lebar, dengan paha Viktor mengganjal di tengah-tengah.

Yuuri tenggelam sepenuhnya, tidak meronta lagi, tangannya yang sedari tadi meronta telah jauh lebih rileks, kini mengalungi leher jenjang sang pelatih. Bibir mulai membalas ciumannya, saliva bercampur saliva, napas menjadi satu. Kenangan masa lalu meledak-ledak dalam ingatan. Membuat hati jadi rindu.

Mereka melumat bibir satu sama lain intens. Tidak memikirkan lingkungan sekitar, kini hanya

bibir pasangan yang perlu diperhatikan. Yuuri meleleh dalam dekapan Viktor. Kadang berhenti, menatap satu sama lain penuh hasrat, kemudian mencumbui lagi.

"Viktor, kau di mana?" Tiba-tiba suara seorang wanita merebak sampai liang telinga, Viktor tersentak, Yuuri langsung di dorong kuat-kuat, membuatnya tidak seimbang. Langit-langit terasa ambruk. Viktor menyadari perbuatannya dan berusaha menangkap Yuuri.

"Yu-"

Sebelum tubuhnya sukses membanting marmer, sepasang tangan cekatan menangkapnya dari belakang.

Yuuri masih tidak bisa berkata, ia mendongak sedikit, tampak wajah Seung-gil yang menghitam. Viktor di hadapannya pun diam seribu kata.

"Sayang, kenapa cari udaranya lama sekali?" tangannya melingkari lengan atas Viktor secara natural, seolah memang dibuat untuknya.

"Mereka siapa?" wanita dengan surai panjang itu pasang mata ke arah Yuuri. Yuuri balas pandangan. Wanita itu tersenyum ramah.

"Bukan siapa-siapa." balas Viktor kepada tunangannya.

"Ah apapun itu. Ayo kembali, kau ingin kukenalkan pada teman-temanku!" sang wanita berjalan menjauh, meninggalkan sang tunangan pria sendirian.

Yuuri tidak percaya apa yang barusan terjadi kepadanya. Saluran pernapasannya menyempit, matanya memburam. Namun Yuuri akan mengutuk dirinya sendiri jika pria itu melihat dia menjatuhkan air mata sekali lagi. Yuuri tegar. Dia mencoba tegar detik itu juga.

Percuma. Rasanya dirajam sekujur badan.

Seung-gil membenarkan posisi mereka. Yuuri jadi terpaksa berdiri dengan kakinya yang kelu.

"Tunggu." Seung-gil berjalan, ke arah Viktor. Sedetik kemudian tinjuan dilayangkan, dibenamkan pada pipi si pria, membuatnya tersungkur.

"Eh.. VIKTOR?!" Sang tunangan yang belum jauh melihat perkelahian itu, langsung berlari kearah mereka.

"Bedebah." Seung-gil mengumpat, satu tinjuan di rasa tidak cukup, tapi dia sudahi sebelum makin ramai. Seung-gil merangkul Yuuri. memberikan dadanya sebagai tempat sandaran. Yuuri bergetar hebat dalam pelukannya. Sebelum orang-orang berkumpul, Seung-gil dengan sigap membawa Yuuri pergi.

Bersambung

_

*Aku gatauuuuuuu kenapa ini bisa panjang

#keasikan nulis dari tadi

hahaha anggep aja hadiah dariku x'D #hadiah apaan

yeyeye lalala

Bagaimana kelanjutannya? tungguuu update selanjutnyaa :D ~

Reffrainbow.