YOU STILL DO NOT UNDERSTAND

.

.

.

Disclaimer : Tadatoshi Fujimaki

Warning : BL, Suasana aneh, dan apalah itu

Eoo0O0ooS

27_01

Part 9

Semoga Kau Ingat...

.

.

.

"Eh?" iris madu membelalak, melihat sosok pendobrak dengan tampang ngos-ngosan di balik bangsal yang ditempati.

"Maaf, mungkin kau harus tahu ini." Pemuda tan, dengan manik cobalt nampak mengatur nafas.

"Aku?" telunjuk mengarah pada wajah, sementara mata tak bisa diajak kompromi untuk tak nyalang.

Aomine mengangguk. "aku yang membuat kekacauan ini." kepala spontan menunduk. "termasuk yang membuatmu menderita alzheimer." dan seluruh kalimat yang ingin diutarakan bergulir begitu saja.

Menuai berbagai mimik tak menentu.

.

.

.

Selepas terkungkung dalam suasana salju nan berbau zat-zat kimia. Kise merasa lebih rileks, otot-otot dibalik kemeja orange dikerahkan. Memompa beberapa bagian agar lebih terasa.

"Besok kita ketemuan, yuk!" senyum merekah, mengerling pada yang lebih pendek.

Kuroko menggeleng, alhasil untainya bergoyang-goyang lucu.

"Kise-kun 'kan baru keluar dari rumah sakit." Mimik datar seperti biasa. Meski begitu mengutarakan rasa khawatir.

Kise menghela nafas. Di sisi lain karena maklum dengan emot si biru yang tiada kentara dengan batin berkepedulian, pada hal lain merasa kecewa. Ngomong-ngomong si model ditolak mentah-mentah.

"Aku hanya demam, Kurokocchi." Ada penekanan, anggaplah berfungsi untuk menjelaskan pada si kecil kesayangannya.

Kuroko menggeleng lagi. "tetap saja, Kise-kun harus memulihkan diri dulu." Dan Kuroko memang selalu kukuh pada pendirian.

"Ck, keras kepala." Penuturan Kise tidak dibarengi dengan ekspresi kesal, kok. "ini tak ada hubungannya sama sekali dengan penyakitku yang disebut-sebut Hakutocchi. Lagian aku rindu, Kurokocchi-ssu." Pura-pura merengut. Kuulangi : Yah, jikalau berfungsi untuk seorang Kuroko.

"Aku juga." Kuroko masih mendongak, tahulah mereka ngobrol sambil jalan-jalan di sepanjang koridor rumah sakit. Dan sebenarnya masih ada sosok-sosok yang membuntuti dari belakang, yang satu tengah bersiul tak jelas sebab jengkel, satunya tengah membawa tas berisi pakaian sang model.

"Nah, kalau begitu Kurokocchi sepakat untuk kencan-ssu!" putus Kise riang.

"Umm." Bola mata agak bergulir untuk berpikir sejenak. "hai!" dan diiringi dengan anggukan.

"Yeay~"

.

.

.

Untuk kesekian kali, permata biru merenungi jam yang melingkari pergelangan tangan, peluh turun dari pelipis, tetapi tak berkehendak sedikit pun untuk mengeluh bahkan mendengus.

Matahari sudah terbenam sejak 1 jam yang lalu. Corak sakura yang begitu cepat bertransformasi menjadi hitam. Menghalau kepak burung yang berbaris, diganti dengan cicit hewan nocturnal.

Grep. Aquamarine membeliak.

"Hai, manis?" dan batin berasa merajam.

"Kau mau masuk untuk menghiburku 'kan?" hingga seringai tertuju ke wajah. Peluh panas tergantikan dengan keringat dingin.

"Bukan." Gelengan kuat, tetap gentar untuk memasok raut datar.

"Ah, masa?" jemari kecoklatan mulai meraih dagu Tetsuya, tak lupa dengan seringai yang makin terlihat mengerikan.

Glek. Teguk saliva, namun lumayan kentara mempertahankan ketenangan.

Persetanan! Desaunya dari lubuk.

Kuroko melayangkan tendang, berusaha mengincar selangkangan si pria.

"Dhuuk!" kali ini tak halnya kaki menerjang, tetapi sikut ikut menonjok wajah. Perangai datar sedikit berubah, alis menukik ke atas. Menyiratkan betapa seriusnya si bocah.

"Heh?"

Teguk itu kembali terdengar. Kedua pergelangan tangan dikunci ke atas.

"Bahkan sebelum menghiburku, kau sudah memberiku rangsangan yang kuat." Ekspresi hewan buas makin melebar.

Kuroko bergetar.

"Lepas!" kaki berusaha menendang lagi, tetapi justru tendangan putaran itu membuat tubuh Kuroko direngkuh bersama tangan kiri nan kekar.

Memasuki jemari ke dalam baju kaos. Menyentuh perut kerempeng dengan halus.

"Kau akan bermain-main denganku." Usai senyum jahat terpoles, area belakang punggung dipukul. Membuat si biru hilang kesadaran.

Flashback berhenti, namun ingatan tak mampu berhenti menari, melainkan terus menjalari isi otak. Alhasil, pemuda yang lahir dipenghujung bulan januari itu memegangi bagian kepala. Merasakan nyeri yang sangat.

"Huh... huh... huh..." bagai disadarkan dari mimpi buruk di tengah malam, nafas seketika berhembus beruntun. Padahal baru saja ia mengumpulkan perangko-perangko terkait kejadian silam. Eh, beberapa jam yang lalu, ding!

"Ah, sudah bangun ya? Padahal aku ingin melucutimu dahulu." Seringai yang tadi.

Kuroko menyipitkan mata dan mendapati kaki dan tangannya diikat dengan kain. Memuat rona merah pada kulit putih.

"Apa-apaan tatapan jelek itu?!" bibir merajau, meludah ke pipi putih berseri. "fufufu." Tentu saja disambut kekeh nyaring dan sengaja didekatkan pada telinga si biru.

"Aku tak takut denganmu, Oji-san." Kedua alis biru muda menyatu, sedangkan sepasang bola aqua menatap tajam.

"Begitu?" bibir yang menghitam akibat rokok dijilat, membuat untai saliva bersarang. "bagaimana dengan..." tandas digantung, sementara jemari-jemari kekar mulai menggelitik betis yang tertutupi celana jeans.

"Ini?" sebelah alis naik, dengan cepat menarik bagian celana pada lingkar pinggang, menariknya ke bawah.

"Hentikan!" kepala menggeleng keras, sedangkan kaki menendang-nendang tubuh pria yang mencondong.

"Hahahaha," sebab Tetsuya membuat ekspresi ketakutan, pria tersebut makin menarik celananya ke bawah.

Tangan yang terikat berusaha untuk dilepas. "hentikan! Hentikan! Hentikan!" mulai menjerit histeris.

"Dari awal kau memang sudah membuatku tertarik, lihatlah! Kau bahkan menggoyangkan kakimu." Lidah menjilati jemari, membasahi jemari sendiri dengan air liur, kemudian mulai menjilati paha putih, sementara tangan merengkuh hati-hati paha mulus yang kurus.

"Oji-san tak bisa melakukan ini!" gerakan terhenti, tetapi sudah sepenuhnya membuat celana jeans terlucuti. Alhasil, Si Biru Langit hanya mengenakan kaos lengan pendek dan hotpants putih.

"Ya, ya! Tak adil bermain-main dengan tubuh terikat seperti ini 'kan?" pria itu berdiri, mengambil sesuatu dibalik laci.

Si Pria menyeringai, mulai mengangkat pisau lipat lantas memain-mainkannya di depan wajah Kuroko.

Kuroko mengigit bibir bagian bawah. "Oji-san aneh!" terdengar menantang.

Pria itu mengernyit, menajamkan indera pendengaran, kemudian menjambak surai babyblue, agar kepalanya lebih mendongak.

"Apa-apaan?" mata terbeliak, ujar skeptis itu membuat bilah pisau terus dimain-mainkan seantero wajah Kuroko.

"Anda berani menyentuh saya, padahal kita sama-sama lelaki."

"Heh?" Pria itu makin terlihat jengkel, tetapi tangan dengan gesit menyayat untai kain dengan pisau lipat.

"Meski dalam kondisi stabil, kau tak akan menang dariku." Tangan bergerak liar untuk menyentuh sesuatu lagi, kali ini meyentuh perut Kuroko.

Kuroko mendorong jemari si pria, kemudian menyeret bokong untuk mundur.

"Khukhukhu~" sebelah tangan menutup bilabial, sedangkan tangan yang lain mulai menyentuh pipi putih yang terkena ludah.

"Tadinya kupikir, aku akan meluangkan sedikit waktu untukmu, nona kecil." Tatap evil.

Syung.

Tendang dari kaki putih nan mulus kembali dilayangkan.

Ckiit.

Dan ditangkap dengan mudah oleh si pria.

Sungguh, di saat-saat seperti inilah ia berharap hawa tipis pada diri dapat berfungsi, tetapi pria ini terlalu jeli untuk menilai gerakannya.

Kaki berusaha dilepas dari cengkraman, tetapi gerakan telaten Kuroko kembali dikunci, membuat lidah kembali menjilati kaki.

"Ukh." Ketika tangan berniat menonjok, justru membuat tubuh kurus itu ditangkap.

"Ini memang indah," desir halus.

Wajah dihadapkan ke meja, sedangkan kedua tangan diikat dengan dasi ke belakang punggung.

Tatap pemangsa mulai terangsang, mengamati kaki kurus yang hanya terbalutkan celana pendek.

"Siapa sangka, tubuh ini bisa menjual."

.

.

.

"Ini sudah sangat terlambat." Kise hampir menangis ketika menadapatinya, apalagi si biru kesayangan sudah tak ada lagi dilokasi janjian.

Wut. Wut.

Kepala diteleng kanan-kiri kalau saja bocah serupa makhluk astral itu tengah menyeruput milkshake. Namun naas, bukannya mendengar suara srap-srup-srap-srup dari cairan putih justru sang siput menangkap cekikikan di arah berlainan.

Iris madu mengernyit. Menatap intens bar modern dari atas ke bawah.

"Masa, sih Kurokocchi minum di sana?" telunjuk menggaruk-garuk pipi. Sementara gerak bola mata nampak ke atas seraya berpikir.

"Yah, bisa jadi milkshake di jual di sana." Pikirnya sambil manggut-manggut.

Kaki jenjang berderap cepat memasuki bar bernuansa merah marun. Berusaha menepis pikiran-pikiran kotor dengan beribu mantra yang tak jelas. Seorang Ryouta terlalu takut, sampai-sampai tak sadar sedang mengepalkan tangan terlalu kuat.

Tap. Tap. Tap.

Nafas diatur sedemikian rupa, pemandangan di sini benar-benar tak baik buat mata, melirik bagaimana kelakuan para pria hidung belang, juga wanita-wanita penghibur dengan pakaian minim. Sebenarnya, Kuroko benar-benar tak pantas berada di sini, Kise juga tak tahu menahu kenapa bisa yakin kalau makhluk super polos itu bisa berada di tempat muluk-muluk begini. Tampang macam anak SD yang imutnya kebangetan. Doh, masa iya batin Kise bisa mengatakan si putih pucat ada di tempat remang-remang, tetapi bernuansi bling-bling!

Kegiatan berlari-lari kecil berhenti sampai di sini.

"Ah, bocah berambut biru itu?" Pemuda tersebut menyesap anggurnya perlahan. "ada dua pria yang membawanya ke dalam." Ekor mata melirik tangguh sosok Kise yang terus-terusan menarik nafas gelisah. Akibat perihal yang dinyatakan si pemuda.

"Yah mungkin anak itu sudah tak tertolong." Lirik mata mengenyam pada dessert lain.

"Apa maksudmu?!" Kise mengepalkan jemari kuat.

"Aku berpikir, bagaimana bisa bocah sepertimu masuk ke sini?" cercah si pemuda penuh selidik, tetapi begitu melihat sikap tubuh Kise sama sekali tak woles, basa-basi perlu ditanggalkan.

"Dengar ya anak muda," telunjuk memain-mainkan tubuh gelas, kemudian si pemuda berdiri dari duduk, memejamkan mata sesaat. Ngomong-ngomong soal 'anak muda' tampaknya pemuda yang mejadi lawan Kise ini cukup tua jika dikatakan berusia 20 tahun, tetapi Kise tak mau ambil pusing. Toh, ada yang harus jadi prioritas untuk sekarang ini. "bocah biru itu pasti sudah dilecehkan."

Deg.

Dilecehkan?! Kelereng madu mengecil.

"Di mana mereka membawanya?!" tanya berang seraya mengebrak meja yang tak bersalah.

Pemuda itu mengerlingkan mata, kemudian menggunakan dagu untuk menunjuk sebuah lorong.

"Jadi pemain bayangan itu pacarnya, ya?" gumam pada diri sendiri, sehingga tak dapat ditangkap Si Pirang yang sudah berlalu.

"Kurokocchi!" Kise langsung berlari, menerobos atmosfir masyarakat yang gelap gempita.

"Kurokocchi!" ia berteriak di sepanjang lorong sepi dengan nuansa merah marun.

Padahal sebelum dia masuk lorong ini, ruangan sebelumnya dipenuhi lautan animo yang berdesak-desakan.

"Kurokocchi!" mata Kise menyipit, begitu melihat sosok yag dicarinya dibalik dinding kaca.

Deg.

Iris pirang menangkap bayang nyata, si empu tengah menutupi selangkangan sembari menarik ujung kaos dengan kedua tangan.

Deg.

Mata biru nan besar yang selalu cemerlang menurut Kise mengecilkan pupil dengan derai air mata.

"BRAAK!" pintu ditendang brutal, kedua tangan terentang bebas.

"Brengsek!" tanpa aba-aba kaki menerjang pria yang tengah mengatasi keterkejutan.

"Krak!" sama seperti nasib Kuroko, kakinya berhasil ditangkap, tetapi tak hanya untuk menahan guna menamengi diri, melainkan diputar kasar. Kekeh remeh mengiringi.

"Ada tikus lagi yang masuk perangkap." Bukan lagi diiringi kekehan, tetapi benar-benar terbahak.

"Kau tak bisa mengehentikanku hanya dengan begini?!" kaki yang lain menerjang.

"Dhuuak!" dan berhasil mengenai dada si pria, membuat partisipan sedikit terdorong sembari memegangi area yang dipukul.

Adu sengit itu terus berlanjut, sampai ada pihak lain yang merengsek.

"Cukup." Pembawaan tenang, tetapi tetap saja perawakan menyeramkan di balik wajah tampan itu tercuat.

Aktivitas adu tonjok berhenti, dua sosok menoleh ke arah sumber suara.

Pupil Kise mengecil merasa pernah bertemu pada pemuda ini sebelumnya, bukan hanya karena pemuda tadi sudah menunjukkan lokasi kekasihnya, tetapi ia benar-benar pernah bertemu pemuda ini, jauh-jauh hari.

"Hai, generasi keajaiban?" seringai, tangan kanan diangkat guna melambai-lambai sarkas.

Dia pemuda yang telah menyakiti kakinya.

"Haizakicchi?!"

"Mau duel denganku, heh?" kaki meleggang lebih jauh ke dalam ruangan.

Kise tak langsung menyetujui tawaran sang kawan lama, lebih memilih mendekati sosok yang tengah dilindungi.

"Kurokocchi~" wajah cemberut, menatap nanar sosok yang membeku. "tak apa," ulas senyum dirangkai cepat. Menyentuh pelan bagian pipi yang tersayat atau mungkin sengaja disayat pisau lipat.

"Eh?" pemuda berkemampuan perfect copy tersebut buru-buru melepas jaket, kemudian melerai kedua tangan Kuroko. Kuroko menggeleng-gelengkan kepala, kemudian menarik ujung kaosnya lagi untuk menutupi selangkangan.

"Apa pria itu sudah menyentuh Kurokocchi, hmm?" berusaha disebutkan dengan nada lembut, tetapi tetap saja, hal begini tak harus ditanyakan sekarang.

Sementara menunggui jawaban, Kise keburu melepas jaket, kemudian melingkarkan ke pinggang Kuroko.

"Ha-hai." Diiringi dengan sesegukan.

Kise membelalak, meratapi tubuh bocah biru dari atas sampai ke bawah.

"Tunggu sebentar, O.K?" berusaha untuk tersenyum riang.

Kuroko bungkam. Bukan bermaksud tak mengizinkan, hanya saja ia takut untuk menunggu lagi.

Kise beranjak dari posisi duduk, kemudian membungkukkan badan. Mencium pucuk aquamarine dengan mata tertutup. Ia tak mau menunggu pinta Kuroko atau mendengar interupsi Tetsuya-nya.

Bergegas!

Dan kata itu terus bergema.

Sampai pada akhirnya kaki berputar telak, menendang area kepala dengan brutal.

Dia sering melihat ini dalam Taekwon-do.

"PLAAK!" bukan tinju yang merajam selanjutnya, melainkan tamparan keras.

"Cih, hasratmu tinggi juga." Ucap skeptis sembari mengelap setitik darah di ujung bilabial.

Kise menyipitkan mata seolah ingin membidik musuh dari kejauhan, persetananlah dengan diksi yang dipilih Haizaki. Hasrat! Hasrat! Ngomong-ngomong dia memang sedang berhasrat sekarang, tetapi bukan untuk melakukan hal intim, melainkan...

"BRAAK!" kaki meja yang disinyalir kuat patah.

"BRUUK! BRUUK!" tubuh besar jatuh beruntun di atas ubin.

"KRAAK!" hingga engsel patah sebab diinjak-injak.

"Kise-kun?" tubuh yang sejak tadi membeku mulai merangkak perlahan.

"Kise-kun!" kali ini dipanggil dengan bertenaga dan sedikit tekanan diikuti gelengan kepala.

"KRAAK!" bunyi tulang yang terjadi pada bagian lainnya.

"Sudahlah, bodoh!" pemilik surai raven itu menarik paksa lengan Kise.

"Tidak! Tidak akan kulepaskan!" tolak mentah-mentah, sementara kaki terus menendang.

"Kise-kun!" Kuroko kembali memanggil dengan posisi merangkak berusaha menggapai kaki Ryouta.

"Ck, kau terlalu berlebihan." Racau Haizaki, kali ini sengaja menendang tulang kering Kise.

Deg.

Kise menoleh ke arah Haizaki.

Deg.

Haizaki tahu benar tatapan apa ini, ia pernah mengalami aura mencekam, namun pada situasi yang beda. Saat ia berhadapan dengan Kise sesama small forward.

...membunuh.

"Aku akan membunuhnya!"

Haizaki cukup sadar kalau dirinya kejam, tetapi aura Kise cukup kuat untuk membuatnya ikut bergidik.

Apa ini zone? Haizaki menggeleng-geleng kuat. Apa yang bisa ia lakukan untuk menghentikan hewan yang sedang mengamuk?

Grep.

Pupil hitam mengecil, kemudian menoleh ke sumber suara.

Ah, benar juga.

Membuat Si Onyx memarkan senyum tulus dibalik wajah kaku.

"Jangan, Kise-kun." Kepala menggeleng-geleng dibalik punggung Si Pirang, sedangkan kedua tangan memeluk erat Ryouta.

"BRAAK!" hantam lain dari arah berlawanan.

Dua sosok yang tengah berpelukan bergeming, termasuk pelaku pencabulan. Ah, atau bisa disebut korban penganiayaan.

"Ada apa ini?"

"Biar aku yang urus." Haizaki menepuk pundak Kise yang masih diam di tempat.

Pemuda itu melenggang, membawa pria dengan tampang babak belur bersama paman pendobrak tadi.

"Kise-kun," panggil lirih, tetapi kepala Kuroko tak lagi bersembunyi di balik punggung Si Kemuning. Ia menyentuh kepalan tangan Kise yang gemetar.

"Kurokocchi," Tubuh itu menatap mata sang kekasih dalam kalut. "maafkan aku." kepala menunduk menahan air mata.

Kuroko bungkam, bersyukur Kise bisa balik ke dirinya semula, tetapi ada hal lain yang mengganjal.

"Huh, mau keluar dengan kondisi seperti ini?" Kise menyentuh paha mulus Si Biru.

Pipi Kuroko memerah. "aku malu," ia menggigit bibir bagian bawah.

Kise mengedarkan pandangan, kemudian mengambil celana jeans yang teronggok. Ia berlutut, lalu mulai memakaikan celana ke kaki Kuroko.

"Hehe, rasanya aku tengah memakaikan Kurokocchi sepatu kaca." Kise tertawa kecil.

Kuroko tertegun. Ia ingat kejadian ala cinderella ini pernah terjadi sebelumnya.

"Rasanya aku pernah melakukannya, deh."

Apa Kise-kun ingat? Tanya batin membuat senyum tipis pada wajah datar, sedangkan bayangan kisah berhujan itu terus menyalak bagai reka adegan.

"Tapi kapan, ya?" lontaran bodoh dilayangkann seraya menggaruk-garuk untai pirang dengan telunjuk.

Huh, benar juga. Kise-kun mengindap alzheimer.

Sreet!

"Eh, Kurokocchi!" Kise mendongak, menyelesaikan kegiatannya dalam memasangkan resliting celana Kuroko.

Kuroko menunduk, memadu mata mereka dalam diam.

"Aku akan menghukummu, lho." Kise memberengut.

"Habis kau membiarkan dua pria melihat kakimu." Kise berdiri, kemudian melipat kedua tangan dengan tampang sebal.

"Uh~"

.

.

.

To Be Countinued...

.

.

.

Bingung mau nulis apaan -_-

Umm, ya makasih udah mau baca. Semoga suka ^^