Yahoo~ Gomen nee karena telat lagi udpate chapternya. Sama dengan alasan yang sebelumnya, ada banyak banget hal yang harus diurus didunia nyata. Sampe kadang - kadang lupa buat ngelanjutin chapter fanfic ini hehehe.

Tapi, tidak usah khawatir. Meski sibuk, aku tentu akan selalu menyempatkan diri buat melanjutkan fanfic ini. Oh iya, karena aku nggak maen gamenya dan hanya bergantung pada review beberapa temen, jadinya tidak terlalu tahu pasti mengenai chapter yang bakal aku udpate kedepannya. Jadi, harap dimaklumin ya :)

Okeh. Selamat membaca.

Warning : karakter OOC, ada OC, typo, dan segala macam kesalahan yang terkadang luput dari pandangan Author

Disclaimer : Diabolik Lovers bukanlah milik Author, hanya meminjam karakternya untuk membuat fanfiction ini~


Tanda Seorang Kriminal

Ruki mengerjapkan matanya, berusaha sadar dari mimpi aneh yang ia lihat barusan. Ia mencoba mengingat mimpinya itu, tapi tak bisa. Hanya potongan – potongan kecil yang bisa ia ingat. Termasuk sosok seorang gadis berambut hitam panjang yang belum pernah ia lihat. Namun, ia justru merasa pernah melihat gadis itu... tidak, lebih tepatnya mengenalnya dengan sangat baik.

"Ruki nii."

Suara gadis itu yang memanggil dirinya masih terngiang dalam benaknya. Sekeras apa pun Ruki mencoba mengenyahkan bayangan gadis itu dalam pikirannya, semakin sering ia melihat gadis itu dalam mimpinya.

Akhirnya, karena pusing juga memikirkan hal yang tak jelas, Ruki memutuskan untuk bangun dari ranjanganya. Matanya tak sengaja melihat kaca yang memantulkan bayangan punggungnya. Ia tersenyum masam ketika melihat luka lama yang ada dipunggungnya. Sungguh luka lama yang sampai sekarang ingin ia hapus dari ingatannya namun tak bisa.

xxx

Suara piring pecah menggema diseluruh ruangan, bahkan sampai terdengar dari luar ruangan itu. Tak hanya itu saja, suara anak lelaki yang sedang membentak pun tak kalah kencangnya dengan suara piring pecah. Pelayan yang tadi tak sengaja memecahkan piring pun hanya bisa menunduk dalam – dalam dan mendengar bentakan si anak lelaki.

"Hanya membersihkan peralatan saja kau tidak bisa?!" serunya. "Bagaimana caranya kau membersihkan rumah yang luas ini?!"

"Aku minta maaf, tuan muda," sesalnya.

"Apa kata "maaf" bisa mengembalikan piring yang pecah?" tanyanya tajam.

"Aku minta maaf, tuan muda," ucapnya lebih pelan. Suaranya bergetar dan pelayan itu nyaris menangis. Ia takut akan hukuman yang akan diberikan oleh majikannya apabila tahu kesalahan yang ia perbuat hari ini.

Tuan muda itu menyuruh pelayan yang ada didalam ruangan itu untuk membersihkan kekacauan yang ada, sementara dirinya pergi dari sana. Ketika berada diluar, dirinya tertawa cukup keras mengingat kejadian tadi. Jelas sekali kalau kekacauan tadi adalah ulahnya untuk mengomeli pelayan yang ada dirumahnya. Walaupun memang sedikit keterlaluan mengingat piring yang pecah itu milik ibunya dan cukup berharga. Tapi, toh bukan dirinya yang akan diomeli dan diberi hukuman, melainkan si pelayan tadi. Tidak, kemungkinan terbesar dan yang amat ia sukai adalah pelayan tadi akan diusir oleh ibu atau ayahnya.

"Menyenangkan sekali," ujarnya geli. "Mereka memang pantas kuperlakukan seperti itu. Aku tuan muda disini, majikan mereka."

Ya, ia selalu berpikir seperti itu. Menggunakan statusnya untuk mendapatkan dan melakukan apa yang ia inginkan. Tidak peduli ia harus membuat orang lain membenci dirinya. Karena baginya, orang yang berada dibawah statusnya hanyalah pion yang bisa digunakan dan dibuang sesuka hati. Begitulah pikirnya.

Sampai kejadian mengerikan itu.

Entah apa yang membuatnya terbangun malam itu, ia sama sekali tidak tahu. Ia hanya merasa aneh dan perlu menyelidiki sesuatu. Dengan cepat ia meraih mantel tidurnya dan keluar dari kamarnya yang hangat dan juga nyaman. Koridor didepannya sangat sepi dan sunyi. Tak ada suara apa pun selain gesekan dahan yang tertiup angin diluar. Ia merasakan firasat buruk.

Kakinya terus berjalan, menaiki tangga menuju lantai 3, dan berdiri didepan ruangan dengan pintu ganda yang diukir sedemikian rupa. Kamar orang tuanya. Sesuatu membawanya kemari dan tanpa pikir panjang lagi, ia memutar kenop pintu dan melongokan kepalanya kedalam ruangan.

"Ayah? Ibu?" panggilnya pelan.

Tak ada jawaban dari mereka. Ia memberanikan diri masuk kedalam kamar orang tuanya dan melihat kedalam. Tak ada orang disana, bahkan diatas ranjang besar yang selalu digunakan orang tuanya. Ia menangkap sebuah cahaya samar dari ruangan sebelah yang merupakan ruang kerja ayahnya. Firasat buruk yang ia rasakan semakin menjadi – jadi. Dengan susah payah ia meneguk ludahnya dan berjalan kesana.

Didalam ruang kerja ayahnya yang penuh dengan buku dan benda – benda lainnya, ia melihat ayahnya duduk diam diatas kursinya. Awalnya ia kira ayahnya tertidur karena kelelahan bekerja. Namun, ada yang mengganjal hatinya. Biasanya, ayahnya akan pergi keatas ranjangnya apabila merasa lelah. Tapi, kali ini tidak. Ia mencoba mendekati ayahnya dengan pelan, takut membangunkan beliau.

Ia mengerutkan kedua alisnya karena mencium bau anyir darah. Begitu ia melihat ada darah yang mengalir dari tangan ayahnya, ia segera menghampiri. Baru saja ia ingin menyadarkan beliau, sebuah pisau tertancap didadanya. Ia mundur beberapa langkah, tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan.

Pagi, berita kematian ayahnya langsung tersebar. Dengan segera kerabat dan saudara jauh berkunjung untuk pemakaman sang ayah. Isak tangis terdengar dimana – mana. Akan tetapi, dirinya sama sekali tidak menangis. Ia sudah berjanji pada ayahnya untuk tidak menitikkan air matanya meski keluarganya meninggal sekalipun. Ia juga tidak menangis ataupun kesal pada ibunya yang ternyata melarikan diri bersama kekasih gelapnya.

Saat ini, ia tidak merasakan apa pun. Hanya hampa yang meliputi dirinya.

Tapi, kehampaan itu tak selamanya menyelimuti dirinya. Usai pemakaman, kumpulan orang – orang tak dikenal yang terkesan jahat datang kemansionnya. Mereka mengatakan akan menyita seluruh benda berharga yang ada dimansion.

"Kenapa harta keluargaku harus kalian sita?!" bentaknya.

"Jangan sombong anak kecil! Kau sudah bukan lagi tuan muda disini," tukas orang asing itu tak kalah kencangnya. "Perusahaan ayahmu bangkrut dan meninggalkan hutang yang besar. Satu – satu cara untuk membayar hutangnya adalah dengan menyita semua harta keluargamu!"

Tanpa bisa mengelak karena ia lebih kecil, orang – orang itu langsung masuk dan menyita semua benda berharga. Semuanya, tanpa ada yang terlewatkan satu pun.

Belum selesai dengan kejadian itu, ia mulai merasa aneh dengan sekelilingnya. Terutama para pelayan rumahnya. Ia sadar kalau dirinya sudah tidak memiliki apa – apa untuk membayar para pelayannya. Tapi, meski kondisinya sudah bukan seperti dulu, ia akan tetap menjadi majikan mereka.

"Aku lapar," serunya. "Buatkan aku makanan."

Tak ada yang bergerak. Semuanya diam mematung ditempat mereka berdiri, tak mempedulikan perintah tuan mereka.

"Apa yang kalian lakukan? Cepat buatkan aku makanan," perintahnya.

Salah satu dari mereka maju kedepan, menghadap tuan mudanya. Ia melemparkan jas pelayan yang ia pakai kearah tuannya, menutupi pandangannya.

"Apa yang kau lakukan?!" tuntutnya.

"Sekarang, kau bukan siapa – siapa kami lagi," tukasnya. Tak hanya pelayan yang ada dihadapannya saja saat ini, pelayan yang ada didalam ruangan itu pun melepaskan semua pakaian pelayan mereka. Melemparnya kelantai dengan jijik.

"Kami berhenti," seru pelayan yang ada dihadapannya. Pelayan itu kemudian menatapnya dengan tatapan yang tidak mengenakan. Meski sebenarnya ia tahu apa arti tatapan itu, ia tidak memelas kasihan atau meminta maaf segera. Ia justru kembali menatap pelayan itu dengan tatapan mengintimidasi yang sama.

Pelayan yang ada dihapannya mendengus kesal. "Ayo kita lihat apa kau masih bisa menatapku dengan tatapan menyebalkan itu."

Mimpi buruk yang seperti deja vu. Semua perbuatan yang ia lakukan pada pelayan dimasa lalu, diungkit kembali. Tentunya dengan dirinya sebagai mangsa dari amukan mantan pelayan rumahnya. Tak ayal, bahkan ada yang melempari dirinya dengan sebuah buku tebal hingga pelipisnya berdarah. Caci makian, hinaan, serta tawa puas membanjiri ruangan itu. Ia tahu ia harus segera pergi dari amukan mereka. Dengan kekuatanya yang masih ada, ia lari secepat yang ia bisa, menghindari semua serangan itu.

Karena tak memiliki tujuan yang jelas, ia hanya bisa berputar – putar ditengah kota. Menatap kehidupan dari kejauhan.

Sebenarnya, banyak sekali warga kota yang merasa kasihan dan iba padanya. Saking kasihannya, mereka sampai memberikan sedikit makanan yang mereka punya. Tapi, ego dan harga dirinya terlalu tinggi hingga ia menolaknya dengan lumayan kasar. Ia lebih baik mati jika harus hidup dalam belas kasihan orang lain.

Beberapa hari kemudian, ia ditemukan oleh aparat keamanan ketika dirinya berada ditaman kecil yang tidak terawat. Melihat petugas itu, ia sama sekali tidak gemetar atau takut. Justru terlihat bersyukur karena mungkin meraka akan mengurungnya didalam tahanan. Dan mungkin saja, ia bisa mengakhiri hidupnya didalam tahanan.

Akan tetapi, semua pikiran itu langsung ditepis ketika dirinya dibawa kesebuah gedung yang ternyata adalah panti asuhan. Kedua alisnya berkerut, tanda tak mengerti. Tapi, ia cukup menerimanya saja. Toh, dimanapun dia berada, dirinya sudah terlanjur mati sejak hari itu.

Hari pertama ketika ia datang, dirinya disambut hangat oleh anak – anak panti yang lain. Namun, begitu keesokkan harinya, semua sifat mereka berubah drastis. Tak ada yang mau mengajaknya bermain. Bahkan berbicara saja pun tak ada yang mau. Hingga ada beberapa anak yang dulu berstatus sama dengannya menyerang dirinya hingga babak belur. Meski begitu, ia masih bisa melawan diri dan selamat. Anehnya, tindakan anak – anak panti terhadap dirinya sama sekali tidak digubris oleh penjaga panti. Mereka justru hanya diam saja ketika melihat dirinya diserang.

Tapi, ternyata tidak semua anak panti bertindak sama terhadapnya. Setidaknya ada 3 anak yang masih mau mengajaknya berbicara bahkan bermain. Awalnya, ia menaruh rasa curiga pada ketiga anak itu. Namun, ia justru benar – benar melihat ketulusan yang dipancarkan oleh mereka. Hingga akhirnya, ia menerima keberadaan mereka bertiga. Dan sejak saat itu, mereka semua selalu bersama layaknya saudara.

Sampai suatu hari, mereka kembali kedatangan pendatang baru. Kali ini seorang anak perempuan yang kira – kira berumur 5 tahun. Ia memandangi anak perempuan itu dengan cukup seksama. Rambut hitam panjangnya sangat hitam, nyaris sehitam langit malam. Mata birunya juga bukan warna yang biasa. Karena warnanya yang cukup terang sangat kontras dengan rambutnya yang gelap.

Reaksi yang sama seperti yang ia dapatkan ketika berada dipanti asuhan itu. Tapi, ia justru mengerutkan keningnya. Anak perempuan itu justru tidak mempedulikan sambutan mereka. Ia justru terus menerus mencari kesempatan untuk melirik kearah dirinya juga ketiga temannya. Sampai akhirnya anak perempuan itu memutuskan untuk menghampiri dirinya dibanding mengamatinya terus menerus.

Begitu sampai dihadapannya dan ketiga temannya, wajah datar dan dingin tadi langsung berubah digantikan dengan senyuman lebar. "Watashi wa Yuki. Yoroshiku ne," katanya sambil mengulurkan tangannya.

"Kenapa kau mendatangi kami?" tanyanya tajam.

Anak perempuan yang bernama Yuki itu kembali menoleh, melihat anak – anak panti yang lain. Tapi, tidak terlalu lama karena ia sendiri tidak tahan melihat mereka.

"Aku tidak suka mereka," jawabnya jujur. "Aroma mereka sangat busuk seperti mawar yang sudah mati berhari - hari."

Yuki kembali memamerkan senyum polosnya. "Aku lebih suka aroma kalian yang sangat manis namun sedikit pahit," ucapnya. "Lagipula, aku berani bertaruh mereka tidak sebaik kalian."

"Kenapa kau berkata kami baik?" tanyanya bingung. "Bisa saja kami menjahatimu."

Yuki menggelengkan kepalanya mantap. "Tidak akan. Firasatku selalu tepat jika menilai sifat seseorang."

Hanya dengan alasan yang tak masuk akal, Yuki masuk kedalam lingkaran kehidupannya didalam panti itu. Awalnya, ia memang masih waspada terhadap anak perempuan itu. Namun, lambat laun, sama seperti ketiga temannya, ia mulai menerima kehadiran Yuki. Kehadiran tawa dan komentar jujur dari mulut Yuki selalu menghiasi harinya. Ia bahkan sampai lupa dengan kekejaman yang ada dipanti asuhan itu karena tawa Yuki yang tak pernah hilang.

Akan tetapi, ia juga tahu kalau mereka tak bisa tinggal dipanti itu selamanya. Jika terus berada disarang itu, ia bisa menjamin bahwa mereka tak akan pernah selamat. Akhirnya diputuskan bahwa mereka akan keluar dari panti asuhan. Mereka sudah cukup lama tinggal dipanti asuhan itu hingga tahu kapan penjagaan akan mengendur. Jadi, mereka akan menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan rencana tersebut.

Malam pelaksanaan rencana pun datang. Mereka semua sudah siap mental untuk keluar dari panti asuhan itu. Ketika waktunya tidur, mereka semua menyelinap keluar kamar dan memperhatikan langkah agar tidak menarik perhatian penjaga panti. Ketika sampai dipekarangan panti, mereka berusaha berjalan sepelan mungkin agar tidak terdengar penjaga yang berjaga diarea itu. Beberapa hari yang lalu, mereka berhasil menemukan jalan keluar yang tak jauh dari pintu gerbang, sebuah lubang yang mirip dengan lorong dan ukurannya tidak terlalu besar. Tapi, cukup jika dilewati oleh anak kecil. Beruntungnya lagi, lubang itu tertutup oleh semak – semak liar yang tumbuh jadi tidak terlihat oleh orang lain.

Yuki berhasil masuk dan berjalan terlebih dahulu didalam lubang. Merasa yakin Yuki sudah berada cukup jauh dari mulut lubang, ia dan ketiga temannya justru tidak segera masuk.

"Jangan pedulikan kami dan terus saja berjalan, kau pasti akan menemukan jalan keluar," ujarnya didepan lubang, berharap anak perempuan itu mendengarnya. "Kita pasti akan bertemu lagi."

Sebenarnya, ia mempunyai dua rencana dalam hal ini. Karena rencana awalnya cukup berbahaya bagi Yuki, ia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada anak itu. Maka dari itu, ia menyuruh Yuki untuk keluar dari lubang dinding yang tak lain adalah lorong yang mereka buat sebelum Yuki hadir kepanti asuhan itu.

"Aku sebenarnya tak yakin dengan rencana ini," ujarnya pada ketiga temannya. "Tapi, aku bisa pastikan kita berempat akan bebas dari penjara ini."

"Kau tau, Ruki-kun. Satu hal yang selalu kukagumi darimu adalah pemikiranmu sungguh luar biasa jika membuat rencana. Yakin tak yakin, aku menaruh kepercayaanku padamu."

"Benar," sahut temannya yang satu lagi. "Kalau kau mengucapkan seperti itu, bukan seperti Ruki yang kukenal."

Teman ketiganya mengangguk setuju dengan ucapan kedua temannya.

Ia tersenyum lebar. "Baiklah, ayo jalankan rencana kita."

Mereka hendak menjalankan rencananya ketika sesuatu yang cepat menempa dada mereka masing – masing. Sedetik itu juga, cipratan cairan merah keluar dari dada mereka juga mulut mereka karena memuntahkan sejumlah darah. Ketiga temannya langsung tersungkur diatas tanah. Berbeda dengan dirinya yang masih berusaha menahan rasa sakit didadanya.

Tak lama kemudian, beberapa penjaga yang ada disana menyeret mereka berempat keluar dari semak – semak. Penjaga itu membawa mereka ketengah lapang, menatapnya dengan jijik seolah mereka adalah bangkai hewan yang sudah mati berhari – hari.

Ruki masih tetap berusaha agar kesadarannya tidak hilang. Ia ingin sekali membangunkan ketiga temannya itu, tapi ia sendiri juga tahu kalau itu adalah hal yang mustahil. Tangannya mencoba meraih ketiga temannya yang berbaring tak berdaya tak jauh dari tempatnya. Namun, sesuatu menghentikannya. Ia menjerit sekencang yang ia bisa karena panas yang ia rasakan dipunggungnya. Panasnya luar biasa hingga ia tahu kalau kulitnya pasti sudah meleleh dan meninggalkan luka bakar yang cukup parah.

"Luka ini akan mengingatkanmu bahwa kau adalah seorang penjahat, seorang kriminal," ujar penjaga yang ada dihadapannya. "Ini bukti bahwa kau tidak bisa bebas meski kau sudah mati."

xxx

Sebuah petikan jari yang entah sudah berapa kalinya dibunyikan, akhirnya berhasil membuat Ruki sadar dari lamunan panjangnya. Ia menatap sekeliling dan segera beralih pada sipenyadar lamunan yang tak lain adalah Kou.

"Kau baik – baik saja, Ruki-kun?" tanya Kou.

Ruki mengangguk kepalanya sambil memijit pelan pelipisnya. "Jangan khawatirkan diriku," ucapnya pelan.

"Apa kau sedang memikirkan sesuatu, Ruki-kun?" tanya Kou.

"Entahlah. Aku tidak terlalu ingat," ujar Ruki. "Rasanya seperti mengalami deja vu."

Ruki kembali memusatkan perhatiannya pada buku yang sedang ia baca. Namun, pikirannya justru melayang pada lamunannya itu. Ia seolah merasa ada sesuatu yang hilang sejak hari itu. Entah apa pun itu, Ruki merasa sesuatu atau seseorang yang hilang adalah sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupannya.