Fifty Shades of Darker
HAEHYUK
.
FIFTY SHADES OF DARKER
© E. L. James
REMAKE
senavensta
Genre: Romance/Drama
Cast:
Lee Hyukjae
Lee Donghae
Kim Jongkook Lee Sungmin
Cho Kyuhyun Kim Hyuna
Choi Minho Kim Jaekyung
Ahn Chilhyun(Kangta) Kwon Boa
Hangeng Kim Heechul
Kim Taeyeon Tiffany Hwang
Kim Youngwoon Kim Jungmo
Jang Hyunseung Kim Ryeowook
Jessica Jung Park Jungsoo
Shin Donghee Choi Siwon
Taylor Martini Gail Jones
yang lain nyusul
.
Warn: Remake, BL/Boys Love, OOC, Typo(s).
Perubahan nama keluarga (marga) dan tempat, langsung didalam cerita, sengaja gak aku tulis dicast satu-satu karena kepenuhan hahaha
Yang tidak suka hal-hal berbau remake, gak perlu maksain diri buat baca(?).
Daftar istilah ada dibagian paling akhir –kalo ada(?).
.
Wanna RnR?
.
.
Fifty Shades of Darker
.
Para tamu sedang berkumpul di lantai dansa. Donghae menyeringai pada Hyukjae, mereka datang tepat pada waktunya dan Donghae menuntun Hyukjae menuju lantai kotak-kotak.
"Dan sekarang, ladies dan gentlemen, saatnya untuk dansa pertama. Mr dan Dr Lee, apakah anda sudah siap?"
Kangta mengangguk setuju, lengannya di sekitar Boa.
"Ladies dan gentlemen dari Lelang Dansa Pertama, apakah anda sudah siap?"
Mereka semua mengangguk setuju. Hyuna dengan seseorang yang tidak Hyukjae kenal. Hyukjae jadi ingin tahu apa yang terjadi dengan Taecyeon.
"Sekarang kita bisa mulai. Silahkan, Sam!"
Seorang pemuda berjalan menuju panggung di tengah riuhnya tepuk tangan, berbalik kearah band belakangnya dan menjentikkan jari.
Lagu familier "I've Got You Under My Skin" memenuhi ruangan.
Donghae tersenyum ke arah Hyukjae, membawanya dalam pelukan, dan mulai bergerak. Donghae berdansa dengan sangat anggun, mudah untuk diikuti. Mereka saling menyeringai seperti orang idiot saat Donghae iseng-iseng memutar Hyukjae di lantai dansa.
"Aku suka lagu ini," bisik Donghae, menatap ke arah Hyukjae.
"Sepertinya sangat pas," Donghae tidak lagi menyeringai, tapi serius.
"Kau berada di bawah kulitku juga," Hyukjae menanggapi. "Atau kau berada di kamar tidurku," lanjutnya.
Donghae mengatupkan bibirnya tapi ia tak bisa menyembunyikan rasa gelinya.
"Tuan Lee Hyukjae," Donghae menegur Hyukjae dengan menggoda, "Aku tak tahu kau bisa begitu kasar."
"Mr. Lee, begitu juga aku. Aku pikir semua itu karena pengalaman baru-baru ini. Mereka telah sangat mendidik."
"Untuk kita berdua," Donghae serius lagi, dan itu bisa jadi seakan hanya mereka berdua dan band. Mereka seperti berada di dalam gelembung pribadi mereka sendiri.
Saat lagu selesai mereka berdua bertepuk tangan. Penyanyinya Sam membungkuk anggun dan memperkenalkan pemain band-nya.
"Bolehkah aku menggantikan?"
Hyukjae mengenali pria yang sempat menawarnya di lelang, selain wanita asing dan Donghae tentunya.
Dengan enggan Donghae membiarkan Hyukjae, tapi ia juga merasa geli.
"Silahkan. Hyukjae, Ini Choi Siwon, nama asli keluarganya Flynn. Siwon, ini Hyukjae," Donghae menyeringai ke arah Hyukjae dan meninggalkannya bersama Siwon. Mereka menuju salah satu sisi lantai dansa.
"Bagaimana kau melakukannya, Hyukjae?" kata Dr. Choi lancar, dan Hyukjae menyadari kalau dia pasti berasal dari Inggris.
"Halo," Hyukjae tergagap.
Bandnya membawakan lagu lain, dan Dr. Choi menarik Hyukjae ke dalam pelukannya. Ia jauh lebih muda daripada yang Hyukjae bayangkan, meskipun Hyukjae tak bisa melihat mukanya.
Siwon mengenakan topeng mirip dengan Donghae. Dia tinggi, tapi lebih tinggi dari Donghae, dan ia bergerak tidak seanggun Donghae.
"Aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu, Hyukjae. Apakah kau menikmati acara ini?" tanya Siwon.
"Ya," bisik Hyukjae.
"Oh. Aku harap aku tidak bertanggung jawab atas perubahan hatimu," Siwon memberi Hyukjae senyum singkat hangat yang membuatnya sedikit lebih nyaman.
"Dokter Flynn ah apa Choi, aku tak tau, anda seorang psikiater. Ceritakan padaku."
Siwon menyeringai, "Choi saja, nama keluarga buatanku sendri haha. Masalahnya itu, bukan? Sekelumit tentang psikiater?"
Hyukjae tertawa.
"Aku khawatir apa yang mungkin akan aku ungkapkan, aku hanya sedikit menyadari dan merasa terintimidasi. Tapi sebenarnya aku hanya ingin bertanya tentang Donghae."
Siwon tersenyum.
"Pertama, ini adalah pesta jadi aku sedang tidak praktek," bisik Siwon penuh konspirasi.
"Dan kedua, aku benar-benar tak bisa membicarakan Donghae. Selain itu," Siwon menggantung kalimatnya, menggoda, "kami membutuhkan biaya sampai Natal."
Hyukjae terkesiap kaget.
"Itu lelucon seorang dokter, Hyukjae."
Muka Hyukjae memerah, merasa malu, kemudian merasa sedikit kesal. Siwon membuat lelucon biaya yang dikeluarkan Donghae.
"Anda hanya menegaskan apa yang sudah aku katakan pada Donghae. Bahwa anda adalah seorang penipu yang mahal," tegur Hyukjae.
Dr. Choi itu mendengus dengan tertawa, "Donghae bisa tahu tentang rasa humor burukku."
"Anda dari Inggris?"
"Ya. Lahir di London."
"Bagaimana anda bisa tinggal di sini?"
"Situasi yang menyenangkan."
"Anda tidak memberikan banyak jawaban, benarkan."
"Tak banyak yang bisa diceritakan. Aku benar-benar orang yang sangat membosankan."
"Itu sangat merendahkan diri sendiri."
"Ini adalah ciri khas orang Inggris. Bagian dari karakter bangsa kami."
"Oh."
"Dan aku mungkin bisa menuduhmu dengan hal yang sama, Hyukjae."
"Bahwa aku orang yang membosankan, Dr. Choi?"
Siwon mendengus, "Tidak, Hyukjae, kau hanya tidak banyak omong."
"Tak banyak yang bisa diceritakan," balas Hyukjae sambil tersenyum.
"Aku sangat meragukannya," respon Siwon tiba-tiba mengerutkan kening.
Hyukjae memerah, tapi musik sudah selesai dan Donghae tiba-tiba sudah berada disisinya. Dr. Choi melepaskan Hyukjae.
"Sangat menyenangkan bertemu denganmu, Hyukjae."
Siwon memberi senyum hangat lagi, dan Hyukjae jadi merasa bahwa dirinya baru saja melewati beberapa jenis pakaian idamannya yang tersembunyi. Senyuman Siwon menenangkan.
"Siwon," Donghae mengangguk pada Siwon.
"Donghae," Siwon balas mengangguk, berbalik, berjalan dan menghilang melewati kerumunan.
Donghae menarik Hyukjae ke dalam pelukannya untuk dansa berikutnya.
"Dia jauh lebih muda dari apa yang kubayangkan," gumam Hyukjae pada Donghae. "Dan sangat tidak bijaksana," lanjutnya tiba-tiba.
Donghae memiringkan kepalanya ke satu sisi.
"Tidak bijaksana?"
"Oh ya, dia menceritakan semuanya," kata Hyukjae bercanda.
Donghae menegang.
"Nah, kalau seperti itu, aku akan kembali ke meja sebentar untuk ambil minum. Aku yakin kau tak ingin berhubungan lebih lanjut denganku," kata Donghae lembut.
Hyukjae berhenti.
"Dia tidak mengatakan apa-apa!" suara Hyukjae terdengar panik.
Donghae berkedip sebelum wajahnya dibanjiri dengan perasaan lega. Ia menarik Hyukjae ke dalam pelukannya lagi.
"Kalau begitu mari kita nikmati dansa ini," gumam Donghae manatap kebawah, meyakinkan Hyukjae, kemudian melingkarkan lengannya pada pinggang kecil Hyukjae.
Hyukjae jadi berpikir kenapa Donghae berpikir bahwa Hyukjae ingin meninggalkannya. Sangat tidak masuk akal.
Mereka berdansa sampai dua lagu lagi, dan akhirnya Hyukjae menyadari kalau ia butuh ke kamar kecil.
"Aku tidak akan lama."
.
Fifty Shade of Darker
.
Saat Hyukjae berjalan ke kamar kecil, ia ingat kalau ia meninggalkan ponselnya di meja makan, jadi ia berbalik menuju tenda. Saat Hyukjae masuk, ruangan masih menyala tapi sangat sepi, kecuali satu pasangan di ujung sana, dan mereka tampaknya benar-benar butuh kamar.
Hyukjae meraih ponselnya.
"Hyukjae?" Sebuah suara lembut mengejutkan Hyukjae, dan saat ia berbalik, ia melihat seorang wanita mengenakan gaun panjang yang ketat, beludru warna hitam.
Topengnya unik. Menutupi wajah dan hidungnya, juga menutupi rambutnya. Menakjubkan dengan ikatan yang rumit warna emas.
"Aku sangat senang kau sendirian," kata wanita itu lembut.
"Aku sudah ingin bicara denganmu sepanjang malam," lanjutnya dengan nada bersungguh-sungguh.
"Maaf, aku tak tahu anda siapa."
Wanita itu menarik topeng dari wajahnya dan melepaskan rambutnya.
Mrs. Stephanie Hwang.
"Maaf, aku mengejutkanmu."
Hyukjae menganga pada Tiffany, bertanya-tanya apa yang diinginkan wanita itu. Hyukjae masih tak tahu aturan sosial apa yang berlaku ketika bertemu dengan penganiaya anak-anak yang terkenal.
Tiffany tersenyum manis dan memberi isyarat bagi Hyukjae untuk duduk di kursi. Karena Hyukjae yang tidak memiliki lingkup referensi, Hyukjae melakukan seperti apa yang Tiffany katakan demi kesopanan, masih terkejut, bersyukur bahwa Hyukjae masih mengenakan topengnya.
"Aku akan singkat, Hyukjae. Aku tahu apa yang kau pikirkan tentang aku. Donghae sudah mengatakannya kepadaku."
Hyukjae menatap Tiffany tanpa ekspresi, tidak memberikan jawaban, tapi Hyukjae senang kalau wanita ini tahu. Menghemat waktu dan suara untuk memberitahu wanita itu. Tiffany memburu Hyukjae hanya karena ingin bicara. Sebagian dari diri Hyukjae sangat penasaran ingin mendengar apa yang bisa wanita itu katakan.
Tiffany berhenti sejenak, melirik ke arah atas jas bagian bahu Hyukjae.
"Taylor mengawasi kita."
Hyukjae mengintip sekitar untuk melihatnya mengamati depan pintu tenda. Minho bersamanya. Mereka sedang mencari-cari di mana saja kecuali kearahnya dan Tiffany.
"Dengar, kita tak memiliki banyak waktu," kata Tiffany buru-buru.
"Pasti jelas bagimu bahwa Donghae jatuh cinta kepadamu. Aku tak pernah melihatnya seperti ini, tidak pernah," Tiffany menekankan kata terakhir.
Hyukjae terkejut karena itu, rasanya sangat mustahil, tidak mungkin. Dan kenapa Donghae tak mengatakannya langsung pada Hyukjae untuk meyakinkan Hyukjae. Hyukjae jadi tak mengerti.
"Dia tidak akan memberitahumu karena ia mungkin tak menyadarinya, meskipun aku sudah mengatakan kepadanya, tapi itulah Donghae. Dia sangat tak terbiasa dengan perasaan positif dan emosi yang mungkin dia miliki. Ia terlalu banyak tinggal dengan hal yang negatif. Tapi agaknya kau akan mengetahuinya. Dia berpikir bahwa dia tidak layak."
Baiklah, perasaan Hyukjae jadi terguncang. Ia memikirkan Donghae yang mencintai dirinya, tapi ya Donghae tidak mengatakan itu, dan justru Tiffany yang sudah mengatakan padanya bagaimana perasaan Donghae. Betapa anehnya.
Seratus bayangan menari-nari di dalam kepala Hyukjae sekarang, teringat akan barang-barang yang diberikan Donghae padanya, seperti iPad, gliding, terbang untuk menemui Hyukjae, semua tindakan Donghae, sifat posesifnya, seratus ribu dolar untuk sebuah dansa.
"Apakah itu namanya cinta?"
Dan Hyukjae mendengarnya dari wanita itu, setelah wanita itu mengkonfirmasikan pada Hyukjae, terus terang, tak menyenangkan. Hyukjae lebih suka mendengarnya dari Donghae sendiri.
Hati Hyukjae juga jadi mengkerut. Ia mengingat persoalan Donghae yang merasa tidak layak.
"Aku belum pernah melihatnya begitu bahagia, dan jelas kau juga memiliki perasaan untuk dia," Seulas senyum singkat melintas di bibir Tiffany.
"Itu bagus sekali, dan aku berharap yang terbaik untuk kalian berdua dalam segala hal. Tapi apa yang ingin aku katakan adalah jika kau menyakitinya lagi, aku akan mencarimu, tuan, dan tak akan menyenangkan ketika aku melakukannya."
Tiffany menatap Hyukjae, mata hitamnya dingin menembus masuk ke dalam benak Hyukjae, mencoba mencapai di balik topeng.
Ancaman Tiffany begitu mencengangkan, begitu aneh, yang menyebabkan tanpa sengaja, tawa tak percaya lolos dari Hyukjae. Dari semua hal yang bisa Tiffany katakan pada Hyukae, yang barusan adalah yang paling tidak terperkirakan.
"Kau pikir ini lucu, Hyukjae?" Tiffany berdesis dengan cemas. "Kau tidak melihatnya Sabtu lalu."
Raut wajah Hyukjae seketika berubah suram dan menjadi gelap. Pikiran bahwa Donghae tidak bahagia bukanlah salah satu hal yang enak untuk diingat, dan Sabtu lalu Hyukjae meninggalkan Donghae. Donghae telah pergi dengan Tiffany? Gambaran itu membuat Hyukjae mual.
Perlahan-lahan Hyukjae berdiri, memandang Tiffany dengan saksama.
"Aku tertawa pada kelancanganmu, Mrs. Hwang. Donghae dan aku tak ada hubungannya denganmu. Dan jika aku meninggalkan dia dan kau datang mencariku, aku akan menunggumu, jangan ragukan itu. Dan mungkin aku akan memberikan pelajaran padamu mewakili anak lima belas tahun yang kau lecehkan dan mungkin jadi lebih kacau bahkan lebih dari sebelumnya."
Mulut Tiffany langsung menganga tak percaya.
"Sekarang permisi, aku punya hal yang lebih baik untuk dilakukan daripada membuang waktuku denganmu," Hyukjae berbalik dengan tumit sepatunya, memacu adrenalin dan kemarahan mengalir melalui tubuhnya, berjalan menuju pintu masuk tenda di mana Taylor sedang berdiri bersamaan dengan kedatangan Donghae, yang tampak bingung dan khawatir.
"Rupanya kau disini," gumam Donghae, lalu mengerutkan kening saat ia melihat Tiffany.
Hyukjae melangkah melewati Donghae, tidak mengatakan apa-apa, memberinya kesempatan untuk memilih, antara Tiffany atau Hyukjae.
Dan Donghae membuat pilihan yang tepat.
"Hyukkie," Donghae memanggil Hyukjae.
Hyukjae berhenti dan pasrah saat Donghae menangkap tangannya.
"Ada apa?" Donghae menatap ke arah Hyukjae, kepedulian terukir di wajahnya yang tampan.
"Kenapa kau tak bertanya saja pada mantanmu?" desis Hyukjae ketus.
Mulut Donghae sedikit berputar dan matanya dingin.
"Aku bertanya padamu," kata Donghae, suaranya lembut tapi dengan suara rendah sedikit mengancam.
Akhirnya Donghae dan Hyukjae saling melotot. Oke, Hyukjae bisa melihat hal itu akan berakhir menjadi pertengkaran jika Hyukjae tidak memberitahunya.
"Dia mengancam akan mendatangiku jika aku menyakitimu lagi, dan mungkin itu dengan sebuah cambuk," bentak Hyukjae didepan wajah Donghae.
Berkedip, wajah Donghae terlihat lega, mulutnya melembut dengan humor.
"Tidak bisakah ironi itu hilang darimu?" kata Donghae, dan Hyukjae bisa mengatakan kalau Donghae sekarang berusaha keras untuk menahan rasa geli.
"Ini tidak lucu, Donghae!"
"Tidak, kau benar. Aku akan bicara padanya," Donghae membuat wajahnya serius, meskipun ia masih menekan rasa gelinya.
"Kau tak akan melakukan hal seperti itu," Hyukjae melipat tangan, amarah dalam dirinya muncul lagi.
Donghae berkedip pada Hyukjae, terkejut oleh ledakan kemarahannya.
"Lihat, aku tahu kau terikat dengannya secara finansial, memaafkan permainan kata-katanya, tapi–" Hyukjae berhenti berkata. Ia jadi bingung dengan dirinya sendiri, lantas apa yang ia inginkan jika memberitahu Donghae? Lagipula Hyukjae tak suka Donghae mendatangi Tiffany.
"Aku ingin ke kamar kecil," Hyukjae melotot kearah Donghae, dengan mulut cemberut.
Donghae mendesah dan memiringkan kepalanya ke satu sisi. Terlihat lebih panas. Entah itu karena topengnya atau hanya dirinya.
"Tolong jangan marah. Aku tak tahu dia ada di sini. Dia mengatakan dia tidak datang," Nada suara Donghae menenangkan seolah-olah ia sedang bicara dengan anak kecil.
Ibu jari Donghae menelusuri sepanjang bawah bibir Hyukjae yang cemberut.
"Jangan sampai Tiffany merusak malam kita, kumohon, Hyukjae. Dia benar-benar sudah basi."
Saat Donghae mengangkat ujung dagu Hyukjae dan dengan lembut mencium bibir penuhnya. Basi menjadi kata yang ada diotaknya, Hyukjae pikir itu kata tanpa kenal belas kasihan, tapi cocok juga berlaku untuk Tiffany.
Hyukjae menghela napas menyetujui perkataan Donghae, berkedip menatapnya.
Donghae meluruskan dan mengambil siku Hyukjae.
"Aku akan menemanimu ke kamar kecil hingga kau tak mendapat gangguan lagi."
Donghae membawa Hyukjae menyeberangi halaman menuju toilet temporarer yang mewah. Hyukjae mengingat Hyuna yang mengatakan keluarganya memang sudah memesan ini itu untuk acara, tapi Hyukjae tak tahu kalau toiletnya akan mewah juga.
"Aku akan menunggumu di sini, sayang," bisik Donghae.
Saat Hyukjae keluar, suasana hati Hyukjae telah berubah. Ia telah memutuskan untuk tidak membiarkan Mrs. Tiffany merusak pikirannya, merusak malamnya karena mungkin itulah niat Tiffany yang sesungguhnya.
Donghae sedang menelepon, agak jauh dan di luar jangkauan pendengaran segelintir orang tertawa dan mengobrol di dekatnya. Saat Hyukjae mendekat, Hyukjae bisa mendengar Donghae.
Donghae sangat tegas.
"Mengapa kau berubah pikiran? Aku pikir kita sudah sepakat. Ya, jangan ganggu dia… Ini adalah hubungan reguler pertama yang pernah kumiliki, dan aku tak ingin kau mengacaukannya dengan kepedulianmu yang tidak pada tempatnya untukku. Biarkan. Dia. Sendiri. Aku serius, Tiffany." Kemudian Donghae berhenti sebentar, mendengarkan.
"Tidak, tentu saja tidak," Donghae mengerutkan kening begitu dalam saat ia mengatakan itu.
Melirik ke atas, Donghae melihat Hyukjae yang sedang menatapnya.
"Aku harus pergi. Selamat malam." Donghae menekan tombol off.
Hyukjae memiringkan kepala ke salah satu sisi dan menaikkan alis pada Donghae. Sekarang ia jadi bingung kenapa Donghae menelepon Tiffany.
"Bagaimana kabarnya si basi?"
"Dongkol," jawab Donghae sinis.
"Apa kau ingin dansa lagi? Atau ingin pulang?" tanya Donghae melirik sekeliling. "Kembang api akan dinyalakan lima menit lagi," lanjutnya.
"Aku suka kembang api."
"Baiklah, kita akan tinggal dan menontonnya."
Donghae meletakkan lengannya pada pinggang Hyukjae dan menariknya mendekat.
"Jangan biarkan dia menyela di antara kita, kumohon."
"Dia peduli padamu," gumam Hyukjae.
"Ya, begitu juga aku terhadapnya, sebagai seorang teman."
"Aku pikir itu lebih dari persahabatan dengannya."
Alis Donghae mengkerut.
"Hyukjae, Tiffany dan aku itu rumit. Kami memiliki sejarah bersama. Tapi hanya itu, sejarah. Seperti yang sudah pernah aku katakan kepadamu berulang-ulang, dia hanya teman baik. Itu saja. Tolong, lupakan dia," jelas Donghae mencium rambut Hyukjae.
Untuk kepentingan agar hal itu tidak merusak malam mereka, Hyukjae pasrah membiarkan saja. Hyukjae hanya mencoba untuk memahaminya.
Mereka berjalan bergandengan tangan kembali ke lantai dansa. Bandnya masih memainkan lagu.
"Hyukjae."
Hyukjae berbalik melihat Kangta berdiri di belakangnya dan Donghae.
"Aku bertanya-tanya, apa kau akan memberiku kehormatan untuk berdansa yang berikutnya denganmu," Kangta mengulurkan tangannya kepada Hyukjae.
Donghae mengangkat bahu dan tersenyum, melepaskan tangan Hyukjae, dan membiarkan Kangta membawanya ke lantai dansa.
Sam memimpin band memainkan lagu "Come Fly with Me ", dan Kangta melingkarkan tangannya di pinggang Hyukjae dan dengan lembut dan iseng seperti Donghae, memutar Hyukjae ke dalam kerumunan.
"Aku ingin berterima kasih atas sumbangan yang murah hati untuk acara amal kami, Hyukjae." Dari nada suaranya, Hyukjae menduga secara tak langsung Kangta bertanya entah kenapa Hyukjae mampu melakukannya.
"Mr. Lee–"
"Panggil aku Kangta, kumohon, Hyukkie."
"Aku senang bisa menyumbang. Aku tiba-tiba mendapat uang. Aku tidak membutuhkannya. Dan itu sepertinya untuk tujuan mulia."
Kangta tersenyum ke arah Hyukjae, dan Hyukjae menggunakan kesempatan itu untuk beberapa pertanyaan polos. Carpe diem (menikmati hari ini tanpa memikirkan masa depan), alam bawah sadar Hyukjae mendesis dengan tangan belakangnya.
"Donghae menceritakan sedikit tentang masa lalunya, jadi aku pikir itu tepat untuk mendukung pekerjaan anda," tambah Hyukjae, berharap bahwa itu mungkin mendorong Kangta untuk memberi Hyukjae sedikit pandangan tentang misteri yang ada pada anaknya.
Kangta terkejut.
"Apakah dia melakukan itu? Itu tidak biasa. Kau tentu memiliki efek yang sangat positif pada dirinya, Hyukjae. Aku tak penah berpikir aku melihatnya begitu, begitu, ceria."
Hyukjae memerah.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu malu."
"Yah, menurut pengalamanku yang terbatas, dia orang yang sangat tidak biasa," gumam Hyukjae.
"Dia memang seperti itu," Kangta setuju dengan tenang.
"Waktu kecil Donghae terdengar amat sangat traumatis, dari apa yang dia ceritakan kepadaku."
Kangta mengerutkan kening, dan Hyukjae khawatir jika ia sudah melewati batas.
"Istriku adalah dokter yang sedang bertugas ketika polisi membawa dia masuk. Dia hanya tinggal kulit dan tulang, dan mengalami dehidrasi yang sangat parah. Dia tidak mau bicara," jelas Kangta mengerutkan kening lagi, tersesat pada ingatan yang sangat mengerikan, meskipun dengan musik yang temponya bertambah cepat mengelilingi mereka.
"Sebenarnya, dia tidak bicara selama hampir dua tahun. Ia memainkan piano yang akhirnya membawa dia keluar dari dirinya sendiri. Oh, dan kedatangan Hyuna, tentu saja," Kangta tersenyum menatap Hyukjae penuh kasih sayang.
"Dia bermain piano dengan sangat indah. Dan dia sangat berbakat, anda pasti sangat bangga padanya," ucap Hyukjae, dengan nada seperti bingung. Ia masih tidak habis pikir pada Donghae. Banyangkan saja, bisa-bisanya dia tidak bicara selama dua tahun.
"Amat sangat. Dia, sangat tekun, sangat pandai, pemuda yang sangat cerdas. Tapi antara kau dan aku, Hyukjae, melihat dia seperti malam ini, ceria dan dia bertindak seperti usianya, benar-benar menggetarkan hati ibunya dan aku. Kami berdua mengomentari hari ini. Aku percaya kami harus berterima kasih padamu untuk itu."
Hyukjae pikir dirinya mulai merasa malu sampai ke akar-akar. Ia makin bingung harus berkata apa lagi.
"Dia selalu menyendiri. Kami tidak pernah berpikir kami akan melihat dia dengan seseorang. Apa pun yang kau lakukan, jangan berhenti. Kami suka melihat dia bahagia." Tiba-tiba Kangta berhenti. Seolah-olah dia sudah melewati batas. "Maaf, aku tak bermaksud membuatmu tidak nyaman."
Hyukjae menggelengkan kepala.
"Aku juga suka melihat dia bahagia," gumam Hyukjae, tak yakin harus berkata apa lagi.
"Yah, aku sangat senang kau datang malam ini. Kami benar-benar senang melihat kalian berdua bersama-sama."
Saat lagu berakhir "Come Fly with Me" berangsur menghilang, Kangta melepaskan Hyukjae dan membungkuk, dan Hyukjae juga membungkuk memberi hormat, mencerminkan kesopanan.
"Sudah cukup dansanya dengan orang tua," ucap Donghae yang tiba-tiba sudah berada di sisi Hyukjae lagi.
Kangta tertawa.
"Kurang dari 'tua', nak. Aku sudah memiliki momenku," balas Kangta mengedipkan mata pada Hyukjae dengan bercanda dan berjalan ke arah kerumunan.
"Aku pikir ayahku menyukaimu," gumam Donghae sambil menonton ayahnya berbaur dengan orang banyak.
"Apa yang tidak dia sukai?" Hyukjae mengintip genit ke arah Donghae sambil berkedip.
"Pendapat bagus telah dibuat, Tuan Lee Hyukjae."
Donghae menarik Hyukjae ke dalam pelukannya saat band mulai memainkan "It Had to Be You."
"Berdansalah denganku," bisik Donghae menggoda.
"Dengan senang hati, Mr. Lee." Hyukjae tersenyum, malu-malu menanggapi, dan Donghae membawanya melintasi lantai dansa sekali lagi.
.
Fifty Shade of Darker
.
Saat tengah malam, Donghae dan Hyukjae berjalan turun menuju pantai antara tenda dan rumah perahu dimana tamu pesta lainnya berkumpul untuk menyaksikan kembang api. MC, kembali bertugas, sudah diijinkan melepas topeng, lebih baik untuk melihat langsung.
Donghae memeluk Hyukjae, tapi Hyukjae tahu bahwa Taylor dan Minho sangat dekat, mungkin karena mereka berada di kerumunan orang banyak sekarang jadi Minho dan Taylor mengawasi dimana-mana kecuali di dermaga di mana dua teknisi yang mengurusi kembang api berpakaian serba hitam sedang membuat persiapan akhir.
Melihat Taylor, Hyukjae jadi teringat pada Taeyeon. Mungkin wanita pucat itu ada di sini. Pikiran itu membuat darah Hyukjae menggigil, dan Hyukjae lebih mendekat pada Donghae.
Donghae menatap ke arah Hyukjae saat ia menariknya lebih dekat.
"Kau baik-baik saja, sayang? Apa jasnya tidak menahan dingin?"
"Aku baik," Hyukjae melirik cepat ke belakang mereka dan melihat dua pria keamanan lainnya, siapa namanya Hyukjae lupa, berdiri sangat dekat.
Hyukjae pindah di depan Donghae, si tampan itu jadi menempatkan kedua tangannya diatas pundak Hyukjae.
Tiba-tiba, suara klasik boom diatas dermaga dan dua roket melambung ke udara, meledak dengan letusan memekakkan telinga di atas teluk, semua cahayanya sangat mempesona seperti membentuk kanopi berkilau warna oranye dan putih itu tercermin seperti pancuran berkilauan di atas air teluk yang tetap tenang.
Mulut Hyukjae menganga saat beberapa roket ditembakkan lagi ke udara dan meledak dengan serangkaian warna. Hyukjae tidak ingat pernah melihat pertunjukan yang mengesankan ini, kecuali mungkin di televisi, dan tidak terlihat sebagus itu di TV. Mereka semua tepat waktu dengan musiknya. Rentetan demi rentetan, letusan lalu letusan lagi, dan cahaya demi cahaya saat kerumunan orang banyak mengeluarkan suara ooohs dan ahhs dengan terengah-engah.
Di atas dermaga teluk seperti berbagai air mancur cahayanya perak saat ditembakkan keatas dua puluh kaki diatas udara, berubah warna menjadi warna biru, merah, oranye, dan kembali ke perak dan lebih banyak lagi roket meledak saat musik dimainkan semakin keras.
Wajah Hyukjae mulai terasa ngilu dari senyum konyol keheranan yang terpampang di wajahnya. Ia melirik Donghae, dan ekspresi si bos itu sama, mengagumi seperti seorang anak kecil melihat pertunjukan sensasional.
Terakhir rentetan enam roket ditembakkan diatas kegelapan dan meledak secara bersamaan, semua orang disana bermandikan cahaya emas yang kemilau saat kerumunan orang banyak serentak menjadi bingung, tepuk tangan sangat antusias.
"Ladies and gentlemen," teriak MC saat sorakan dan siulan mereda.
"Hanya satu catatan untuk ditambahkan pada akhir acara malam yang indah ini; Total sumbangan anda telah terkumpul sebanyak satu juta delapan ratus lima puluh tiga ribu dolar!"
Tepuk tangan spontan meletus lagi, dan keluar di atas dermaga, pesan menyala di atas sungai perak kembang api warna perak membentuk kata-kata "Thank You From Coping Together", gemerlap dan berkilauan di atas air.
"Oh, Donghae. Itu sangat indah," Hyukjae menyeringai ke arah Donghae.
Donghae membungkuk untuk mencium Hyukjae.
"Waktunya pulang," bisik Donghae, tersenyum lebar diwajahnya yang tampan, dan kata-katanya menjanjikan begitu banyak.
Tiba-tiba, Hyukjae merasa sangat lelah. Donghae melirik ke atas lagi, dan Taylor mendekat, orang-orang pada bubar di sekitar mereka. Donghae dan Taylor tak bicara tetapi ada sesuatu lewat di antara mereka.
"Tinggallah bersamaku sebentar. Taylor ingin kita menunggu sampai semua orang bubar."
"Aku pikir mungkin pertunjukan kembang api itu akan membuat dia bertambah tua seratus tahun," tambah Donghae.
"Apakah dia tidak suka kembang api?"
Donghae menatap ke arah Hyukjae penuh sayang dan menggeleng tapi itu tidak menjelaskan.
"Jadi, masalah Jeju," kata Donghae, dan Hyukjae tahu kalau Donghae mencoba mengalihkan perhatiannya dari sesuatu. Dan itu berhasil.
"Oh. Aku belum membayar untuk tawaranku," Hyukjae terkesiap.
"Kau bisa mengirim cek. Aku punya alamatnya."
"Kau benar-benar marah."
"Ya."
Hyukjae menyeringai, "Aku mengalahkan kau dan mainanmu."
"Dan kau sudah cukup ku atasi tadi, Tuan Lee Hyukjae. Aku ingat hasilnya sangat memuaskan," balas Donghae sambil tersenyum tidak senonoh. "Sebenarnya, di mana mereka?"
"Bola perak? Dalam sakuku."
"Aku ingin mereka dikembalikan," Donghae menyeringai ke arah Hyukjae. "Itu adalah sebuah alat yang terlalu berbahaya bila dibiarkan berada di tangan polosmu."
"Aku khawatir mungkin perlu diatasi lagi, mungkin dengan orang lain?"
Mata Donghae berkilau berbahaya, "Aku harap itu tidak akan terjadi," katanya, suaranya dingin. "Tapi tidak, Hyukkie. Aku ingin semua kenikmatanmu."
"Kau tidak percaya padaku?"
"Tidak diragukan lagi. Sekarang, bisakah aku memilikinya kembali?"
"Aku akan memikirkannya."
Donghae jadi menyipitkan matanya ke arah Hyukjae.
Ada musik sekali lagi dari lantai dansa tapi seorang DJ memainkan jenis tarian yang berdentum, bassnya berdebar keluar dengan irama tanpa henti.
"Apakah kau ingin menari?"
"Aku benar-benar lelah, Donghae. Aku ingin pulang, jika itu boleh."
Donghae melirik Taylor, dia mengangguk, dan Hyukjae maupun Donghae berjalan memasuki dalam rumah, mengikuti pasangan tamu mabuk.
Hyukjae bersyukur saat Donghae menggenggam tangannya karena tubuhnya terasa pegal hampir remuk mungkin, terlalu banyak berdansa dan sedikit olahraga dengan Donghae tadi menghabiskan tenaganya.
Hyuna tiba-tiba datang melompat-lompat kearah mereka.
"Kau tidak akan pulang, kan? Musik yang sebenarnya baru saja dimulai. Ayo, Hyukkie-oppa," Hyuna mengambil tangan Hyukjae.
"Hyuna," Donghae memperingatkan adiknya. "Hyukjae lelah. Kami akan pulang. Selain itu, besok kami punya hari besar."
Mendengar itu Hyukjae menoleh pada Donghae, karena seingatnya ia tak punya rencana apa-apa untuk besok.
Hyuna cemberut tapi yang mengejutkan, ia tidak memaksa Donghae.
"Kapan-kapan kau harus datang, minggu depan. Mungkin kita bisa jalan-jalan ke taman?"
"Tentu, Hyuna," balas Hyukjae tersenyum, meskipun di belakang pikirannya, Hyukjae masih bertanya-tanya bagaimana karena Hyukjae harus bekerja untuk mencari nafkah.
Hyuna memberi Hyukjae ciuman singkat dipipi kemudian berganti memeluk Donghae keras, membuat Hyukjae dan Donghae sama terkejutnya. Sangat mencengangkan, Hyuna menempatkan tangannya langsung pada kerah jas Donghae, dan Donghae sendiri hanya menatap ke arah Hyuna, sabar.
"Aku senang melihatmu bahagia," kata Hyuna dengan manis sebelum mencium pipi Donghae.
"Bye. kalian berdua bersenang-senanglah."
Hyuna melompat meninggalkan Hyukjae dan Donghae. Menghampiri teman-temannya yang menunggu, dan ada Jessica diantara mereka, wajahnya tanpa topeng terlihat jelas sangat masam.
"Kita harus pamit pada orang tuaku sebelum kita pulang. Ayo."
Donghae mengarahkan Hyukjae melewati kerumunan tamu kearah Boa dan Kangta, mengharapkan mereka akan menyukai perpisahan hangat.
"Kumohon, untuk datang lagi, Hyukjae, sangat menyenangkan kau ada di sini," kata Boa ramah. Hyukjae agak kewalahan dengan reaksi kedua orang tua itu, Boa dan Kangta.
Tapi untungnya, orang tua Boa sudah beristirahat karena sudah malam, jadi setidaknya Hyukjae terhindar antusiasme mereka.
Diam-diam, Donghae dan Hyukjae berjalan bergandengan tangan menuju depan rumah tempat mobil-mobil yang tak terhitung jumlahnya sedang berbaris dan menunggu untuk mengumpulkan tamu. Hyukjae melirik Donghae.
Donghae tampak bahagia dan santai. Sangat menyenangkan melihat Donghae seperti ini, meskipun Hyukjae menduga hal itu tidak biasa setelah hari yang demikian luar biasa.
"Apakah kau cukup hangat?" tanya Donghae.
"Ya, terima kasih," Hyukjae mengeratkan jas merah yang membungkusnya sejak tadi.
"Aku sangat menikmati malam ini, Hyukjae. Terima kasih."
"Aku juga, dan beberapa bagian lebih dari yang lain," Hyukjae tersenyum.
Donghae menyeringai dan mengangguk, kemudian keningnya berkerut.
"Jangan menggigit bibirmu," ucap Donghae memperingatkan dengan cara yang membuat darah Hyukjae bernyanyi.
"Apa maksudmu tentang besok adalah hari besar?" Hyukjae meminta untuk mengalihkan perhatian dari dirinya sendiri.
"Dr. Jungsoo, Leeteuk, akan datang untuk menemuimu. Dan, aku punya kejutan untukmu."
"Dr. Leeteuk!" Hyukjae menghentikan.
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena aku benci kondom," kata Donghae pelan. Matanya berkilat diantar cahaya lembut dari lentera kertas, mengukur reaksi Hyukjae.
"Ini adalah tubuhku," gumam Hyukjae, kesal karena Donghae tidak meminta pendapatnya.
"Itu milikku juga," bisik Donghae.
Hyukjae menatap Donghae saat para tamu melewati mereka, mengabaikan mereka. Donghae terlihat begitu sungguh-sungguh.
Ya, tentu saja tubuh Hyukjae adalah milik Donghae. Donghae bahkan tahu lebih baik daripada Hyukjae.
Hyukjae mengulurkan tangan, dan Donghae sedikit mengernyit tapi tetap diam. Memegang sudut dasi kupu-kupunya, Hyukjae menarik itu hingga terbongkar, memperlihatkan kancing atas kemeja Donghae. Dengan lembut Hyukjae melepaskannya.
"Kau tampak panas seperti ini," bisik Hyukjae. Sebenarnya Donghae selalu terlihat panas sepanjang waktu, tapi Hyukjae melihatnya seperti ini sekarang, benar-benar panas.
Donghae menyeringai ke arah Hyukjae.
"Aku harus mendapatkanmu dirumah. Ayo."
.
Fifty Shade of Darker
.
Di depan mobil, Minho memberikan sebuah amplop pada Donghae.
Donghae mengernyit menerimanya dan melirik Hyukjae saat Taylor mengantar Hyukjae masuk ke dalam mobil. Taylor tampak lega untuk beberapa alasan.
Donghae masuk dan mengulurkan amplop ke Hyukjae, belum dibuka, saat Taylor dan Minho mengambil tempat duduk mereka di depan.
"Ini ditujukan untukmu. Salah seorang staf memberikannya pada Minho. Tidak diragukan lagi pasti dari hati seseorang yang terpikat kepadamu," jelas Donghae memutar mulutnya. Jelas itu merupakan konsep yang tidak menyenangkan untuk Donghae.
Hyukjae menatap catatan tersebut. Membayangkan dari siapa, mungkin pada akhirnya akan ada gadis cantik yang tertarik pada dirinya yang manis itu.
Menyobek lalu membukanya, Hyukjae membaca dengan cepat dalam cahaya redup. Matanya langsung terbuka lebar dan mulutnya menganga.
.
Aku mungkin salah menilaimu. Dan kau pasti telah salah menilaiku. Hubungi aku kalau kau perlu untuk mengisi salah satu hari yang kosong, kita bisa makan siang bersama. Donghae tidak ingin aku bicara denganmu, tetapi aku akan lebih senang sekali bisa membantu. Jangan salah paham, aku setuju, percayalah, tapi bantu aku. Jika kamu menyakiti hatinya, ia sudah cukup terluka.
Hubungi aku (206) 279-6261
Mrs. Tiffany
.
Brengsek sekali bagi Hyukjae, bahkan ia bisa melihat tandatangan atas nama Mrs. Tiffany disana. Sudah jelas itu semua pasti karena Donghae menceritakan semuanya pada Tiffany.
"Bajingan itu."
"Kau memberitahunya?"
"Memberitahu siapa, apa sih?"
"Bahwa aku memanggilnya Mrs. Tiffany," tukas Hyukjae.
"Ini dari Tiffany?" Donghae terkejut.
"Ini konyol," lanjutnya mengomel, sambil mengacak-acak rambutnya, dan Hyukjae bisa mengetahui bahwa Donghae kesal karena itu.
"Aku akan mengatasinya besok. Atau Senin," gumam Donghae sengit.
Meskipun Hyukjae malu mengakuinya, sedikit bagian dari diri Hyukjae merasa bangga. Tiffany benar-benar masa lalu Donghae, dan itu semua pasti bisa menjadi lebih baik.
Hyukjae memutuskan untuk tidak bicara apa-apa untuk sekarang tapi menyimpan catatan Tiffany di dalam saku jasnya, dan memberi Donghae isyarat, jaminan untuk meringankan suasana hati Donghae, Hyukjae menyerahkan bolanya kembali.
"Sampai lain kali," bisik Hyukjae.
Donghae melirik Hyukjae, dan Hyukjae sedikit sulit untuk melihat wajah Donghae dalam gelap, tapi sepertinya Donghae menyeringai.
Donghae meraih tangan Hyukjae dan meremasnya.
Hyukjae memandang keluar jendela di kegelapan malam, merenungkan apa yang sudah terjadi sepanjang hari ini. Hyukjae sudah belajar banyak tentang Donghae, memperoleh begitu banyak detail yang hilang seperti salon kecantikan, daerah mana yang tidak dan boleh disentuh, masa kecilnya, tapi masih banyak lagi untuk ditemukan. Dan bagaimana tentang Mrs. Tiffany.
Ya, wanita itu terlalu peduli dengan Donghae, tampak jelas begitu dalam. Hyukjae bisa melihat itu, dan Donghae juga peduli padanya, tapi tidak dengan cara yang sama. Hyukjae tidak tahu harus memikirkannya lagi. Semua informasi itu membuat Hyukjae sakit kepala.
.
Fifty Shade of Darker
.
Donghae membangunkan Hyukjae saat mereka sudah tiba di depan Galleria Foret.
"Apa perlu aku mengangkatmu masuk kedalam?" tanya Donghae lembut.
Hyukjae menggelengkan kepalanya yang masih mengantuk. Ia tidak mau itu terjadi.
Saat mereka sudah berdiri di dalam lift, Hyukjae bersandar kepada Donghae, menempatkan kepalanya di bahu Donghae. Minho yang berdiri di depan mereka, bergeser tidak nyaman.
"Hari ini sangat melelahkan, eh, Hyukjae?"
Hyukjae mengangguk.
"Lelah?"
Hyukjae mengangguk.
"Kau tak banyak bicara."
Hyukjae mengangguk lagi dan kali ini Donghae menyeringai.
"Ayo. Aku akan membawamu ke tempat tidur."
Donghae mengambil tangan Hyukjae saat mereka keluar lift, tapi mereka berhenti di ruang depan ketika Minho mengangkat tangannya keatas.
Dalam sekejap, Hyukjae langsung terjaga.
Minho berbicara ke lengan bajunya sendiri. Hyukjae tidak tahu kalau Minho memakai radio.
"Akan kulakukan, T," kata Minho dan berbalik menatap Donghae dan Hyukjae.
"Mr. Lee, ban Audi Tuan Lee Hyukjae telah disayat dan dicoret memakai cat diseluruh permukaannya."
Dan Hyukjae langsung tahu jawabannya begitu mendengar pernyataan itu muncul dari mulut Minho.
Taeyeon.
Hyukjae melirik Donghae, dan muka Donghae terlihat pucat.
"Taylor khawatir pelakunya mungkin sudah memasuki apartemen dan mungkin masih ada. Dia ingin memastikan."
"Aku tahu," bisik Donghae. "Apa rencana Taylor?" tanya Donghae, melanjutkan perkataannya.
"Dia akan naik lift service dengan Shindong. Mereka akan melakukan pemeriksaan lalu memberi tahu kita kalau semua sudah bersih. Saya akan menunggu dengan anda, Sir."
"Terima kasih, Minho." Donghae mengencangkan lengannya di sekitar Hyukjae.
"Hari ini hanya akan menjadi lebih baik dan lebih baik," desah Donghae dengan sengit, mengendus rambut Hyukjae.
"Dengar, aku tak bisa berdiri di sini dan menunggu. Minho, jaga Tuan Lee Hyukjae. Jangan biarkan dia lepas dari pengawasanmu sampai kau tahu semua jadi jelas. Aku yakin Taylor bereaksi berlebihan. Taeyeon tidak bisa masuk ke apartemen."
"Tidak, Donghae– kau harus tinggal denganku," bujuk Hyukjae.
Tapi Donghae melepaskan Hyukjae, "Lakukan seperti yang aku katakan, Hyukjae. Tunggu disini."
"Minho?" kata Donghae.
Minho membuka pintu serambi untuk membiarkan Donghae memasuki apartemen lalu menutup pintu kembali dan berdiri di depannya, menatap tanpa ekspresi ke arah Hyukjae.
Berbagai hasil akhir mengerikan melintas di dalam pikiran Hyukjae, tapi yang bisa ia lakukan adalah berdiri dan menunggu.
Minho berbicara kearah dalam lengan bajunya lagi.
"Taylor, Mr. Lee telah memasuki apartemen."
Tapi tiba-tiba Minho tersentak dan meraih earpiece, menarik itu keluar dari telinganya, mungkin menerima beberapa makian kuat dari Taylor. Bisa jadi Taylor khawatir.
"Tolong biarkan aku masuk," mohon Hyukjae.
"Maaf, Tuan Lee Hyukjae. Ini tidak akan lama." Minho mengangkat kedua tangannya sebagai suatu gerakan defensif. "Taylor dan pria-pria lain baru masuk ke apartemen sekarang."
Hyukjae merasa begitu tak berdaya. Berdiri terpaku, Hyukjae mendengarkan dengan rajin suara sekecil apapun, tetapi semua yang Hyukjae dengar adalah napasnya sendiri yang semakin kuat. Keras dan dangkal, kulit kepala Hyukjae terasa berduri, mulutnya kering, dan Hyukjae merasa lemas.
"Tolonglah, biarkan Donghae baik-baik saja."
Hyukjae tak tahu berapa banyak waktu berlalu, dan tetap saja ia maupun Minho tak mendengar apapun. Tentunya tak ada suara, tak ada tembakan.
Hyukjae mulai mondar-mandir di sekitar meja di lobi dan memeriksa lukisan di dinding untuk mengalihkan perhatiannya sendiri. Ia tak pernah benar-benar melihat lukisan itu sebelumnya, semua lukisan figuratif, semua lukisan bertema religius seperti contohnya the Madonna and child, semua ada enam belas. Betapa anehnya itu. Donghae bukanlah orang yang religius.
Semua lukisan di ruang besar, lukisan abstrak itu begitu berbeda. Mereka tak mengalihkan perhatian Hyukjae terlalu lama, sehingga ia kembali menatap Minho dan Minho melihat Hyukjae tanpa ekspresi.
"Apa yang terjadi?"
"Belum ada berita, Tuan Lee Hyukjae."
Tapi tiba-tiba, gagang pintu bergerak. Minho berputar seperti gasing dan menarik pistol dari sarung bahunya. Hyukjae membeku.
.
TBC
.
Haiii!
Trimakasih buat yang sudah luangin waktu buat baca dan kasih ripiu, dan welkam buat yang baru baca, kalian penyemangatkuuu ahirrr*plak
Dah mulai kelihatan ya di chap ini gimana aslinya Tiffany.
Dan masalah Hyukjae yang mau-mau aja ditampar buttnya, itu emang bawaan dalam diri kali yaa*plak
Yang nyinggung Fifty Shades of Freed, aku juga ada niatan remake itu tapi kalo soal ngpost kita liat nanti aja ya tunggu ini selesai sama gimana responnya ehehe
Dan yeaaa ini dia chap 9 nyaaa, gimana gimanaaa? Adakah yang takut sama Taeyeon disini? hahaha
Berasa ngomong sendiri akutu wkwk
Oke, see you di chap depan,
aku sangat menerima kritik/saran/curhatan unek-unek segala macem wkwk,
jadi silakan tuangin aja di kotak ripiu yaa,
Ppaiii^^~
Ah iya, adakah yang nunggu ffku yg lain?
Harap sabar yaa, masih proses wkwk aku baru adaptasi soalnya sm lingkungan baru huhu
Ppaii!
