A Mafia Bride.
An SEVENTEEN Fanfiction.
Cast : SEVENTEEN's Kim Mingyu & SEVENTEEN's Jeon Wonwoo.
Other Cast : SEVENTEEN Members.
Rated M. Criminal Life, School Life & Marriage Life. Violence. Romance. Drama.
WARN! Maybe it has lil hardsex contens. Under 17? Jangan mendekat. Maksa? Tanggung sendiri akibatnya.
Note : disini Mingyu lebih tua daripada Wonwoo. Jika ada beberapa member yang masuk ke dalam scene Mingyu, berarti mereka lebih tua juga daripada Wonwoo. Jika masuk scene Wonwoo, mereka seumuran anak SMA pada umumnya—termasuk Wonwoo.
© SEVENTEEN. Pledis Entertainment.
"Sungguh kisah cinta yang tragis.."
Wonwoo menoleh, menatap Harold yang sekarang sedang memutar-mutar ponsel miliknya di tangannya setelah ia menelfon Mingyu tadi. Peluh membanjiri tubuhnya, ia tidak tahu ada dimana ia sekarang. Yang jelas, Wonwoo dibawa oleh seorang lelaki yang pernah memergokinya bersama Jun. Wonwoo tahu bahwa itu adalah tanda bahaya, karena itulah dia menurut.
Dan sekarang, ia berada di sebuah ruangan gelap dengan kondisi tangan serta kaki terikat di kursi yang didudukinya.
"Apa maumu?" tanyanya dingin, Wonwoo tak ingin menunjukkan rasa takutnya. Ia bersumpah ia akan melindungi dirinya serta bayinya tanpa bantuan siapapun.
"Aku? Aku ingin membalaskan dendam kematian kedua bawahan kesayanganku." jawab Harold. "Aku sengaja menculikmu dan aku sangat ingin membunuhmu agar Kim Mingyu tahu bagaimana rasanya kehilangan." lanjutnya sembari mendekat. Wonwoo masih menatapnya dingin, meski Harold sudah memegang sebuah pisau di tangannya.
"Ah.. ngomong-ngomong, kau sedang mengandung, huh?" Harold menjambak surai kecoklatannya. Seringai tercipta di ujung bibirnya, "bagus. Jadi aku bisa membunuh dua orang sekaligus. Bukankah itu impas?"
Wonwoo sedikit meringis saat surainya ditarik oleh lelaki itu, peluhnya mengalir semakin banyak. Tidak, ia berjanji ia akan melindungi dirinya dan juga bayinya pada Mingyu. Ia tidak akan mati begitu saja.
"Aku tidak akan mati semudah itu," ucap Wonwoo. Harold terkekeh, "berani juga hm? Ah~ kau dan Kim Mingyu memang cocok. Kalian sama sama sombong."
Pisau yang berada di tangannya pun bergerak, memberi sedikit goresan di pipinya. Mati-matian Wonwoo menahan rintihannya, tanpa sadar air mata pun mengalir lagi dari kedua mata sipitnya—dan sekarang itu bercampur dengan darahnya yang mulai mengalir.
"Kenapa? Sakit?" tanya lelaki itu. Ia terkekeh lalu mengarahkannya pisaunya pada leher Wonwoo, "sudah kubilang kau itu sombong. Sekarang rasakan dampak dari kesombonganmu—"
"Tuan!"
Harold menoleh pada salah satu penjaga yang masuk ke dalam ruangan. Ia menurunkan pisaunya, sementara Wonwoo terengah karena menahan sakit dari goresan di pipinya.
"Ada apa?"
"Pimpinan dari Ohio ingin bertemu denganmu. Dia ada di ruang tamu sekarang."
"Ck," Harold berdecak. Ia melepas jambakannya dan menatap Wonwoo, "urusan kita belum selesai. Lebih baik nanti kau siapkan saja kata-kata terakhirmu."
Ia pun pergi, meninggalkan Wonwoo sendirian diantara kegelapan dan kesunyian yang sebetulnya sangat dibencinya. Air matanya mengalir semakin deras, membuat beberapa tetesannya yang bercampur darah jatuh mengenai sweater putihnya.
"Mingyu, aku takut.."
Seungcheol menutup laptop miliknya dan menjabat tangan para Mafia yang hendak pulang. Rapat baru saja selesai—rapat yang sebetulnya dinilai membosankan oleh Seungcheol.
Namun, sejak rapat dimulai tadi, Mingyu tidak kunjung kembali. Tentu Seungcheol heran, apalagi Mingyu berkata jika ia hanya akan menghubungi Wonwoo.
Apakah selama itu?
Lamunan Seungcheol pun terusik oleh getaran dari ponselnya. Ia merogoh saku coatnya, mengambil ponsel itu dan nampaklah nama Jeonghan di layar.
"Halo?" Seungcheol menjawabnya sembari berjalan keluar dari ruangannya mengadakan rapat tadi. Sesekali matanya bergerak untuk mencari Mingyu—tapi tidak ada.
Kemana dia?
"Cheol, kau sudah pulang?!" tanya Jeonghan dengan nada paniknya. Seungcheol kontan mengerutkan keningnya heran—kenapa suara Jeonghan terdengar seperti itu?
"Baru saja selesai, sayang. Ada apa? Kenapa kau terdengar panik?"
"Wonwoo diculik!"
Langkah pemuda bersurai hitam itu terhenti seketika. Ia mengulang pernyataan Jeonghan dengan pertanyaan, "Wonwoo diculik?" ada jeda sejenak, "bagaimana bisa?"
"Iya Cheol. Tadi kami pergi berbelanja ke New York Times Square. Lalu, aku dan Jisoo pergi ke toko mantel sementara Wonwoo dan Lee Chan pergi mencari sweater. Tapi tiba-tiba, Lee Chan menghampiri kami dan berkata bahwa Wonwoo menghilang. Sekarang kami hanya menemukan kalung yang diberikan Mingyu untuknya kemarin."
Seungcheol terdiam. Mungkinkah ini alasan Mingyu menghilang—tapi dia tahu dari siapa?
Oh!
Dia tahu.
Dia tahu jelas siapa yang berani menculik Wonwoo.
"Aku tahu siapa yang menculiknya." ucap Seungcheol. "Sekarang, kau pulang dan suruh para penjaga untuk meningkatkan keamanan Mansion. Aku akan menyelamatkan Wonwoo."
"Ba.. Baiklah." jawab Jeonghan. Seungcheol hendak mematikan panggilan—tapi Jeonghan mengintrupsinya, "Cheol!"
"Ya? Kenapa?"
"Ha.. Hati-hati. Aku mencintaimu."
Seungcheol kembali terdiam. Tak lama, ia tersenyum lalu membalasnya, "aku juga mencintaimu, Yoon Jeonghan."
Dan panggilan itupun terputus. Seungcheol menggerakan jarinya untuk mencari nomor lain. Seseorang yang mungkin bisa menolongnya untuk saat ini.
"Hello?"
"Jonghyun Hyung, I need your help."
Mingyu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi di sepanjang jalan menuju Mansion milik Harold yang sudah dihafalnya. Beberapa kali dia melanggar lampu lalu lintas—tapi sungguh Mingyu tidak peduli.
Ia lebih memperdulikan Wonwoo.
Apalagi sekarang.. ada bayi di dalam perut Wonwoo. Mingyu benar-benar hampir gila karenanya.
"Brengsek," gumamnya. Kepalanya panas, Mingyu ingin cepat-cepat sampai. Jika saja Harold berani melukai Wonwoo dan juga bayinya, Mingyu bersumpah dia akan memotong leher lelaki itu.
"Jangan Gyu, kumohon. Kau harus tetap disana. Aku akan baik-baik saja.. aku.. aku sangat mencintaimu, Mingyu-ya.."
Kata-kata Wonwoo tadi kembali melintas di pikirannya, membuat mata Mingyu berkaca-kaca. Tapi tak lama ia menggeleng dan mengusap air mata yang hampir saja menetes di pipinya.
Aku tidak akan menangis.
Mingyu pun menolehkan kepalanya pada kursi penumpang yang ada di sampingnya. Disana sudah ada 3 jenis pistol, topi berwarna hitam, masker, serta pakaian lainnya yang juga berwarna hitam.
Dialah yang menyiapkan—hanya untuk menyelamatkan Wonwoo.
"Bersabarlah sayang, aku akan datang sebentar lagi.."
Wonwoo membuka sepasang matanya yang terasa berat. Tadi ia tidak sengaja tertidur—entah kenapa rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya. Tapi suasana disini masih sama.
Sepi, sunyi dan gelap.
Hanya ada dirinya saja disana.
Pemuda itu terdiam beberapa saat, memikirkan apa yang akan terjadi padanya nanti. Tiba-tiba saja matanya terasa panas—
Tidak.
Wonwoo tidak akan menangis.
Ia sedikit menggerak-gerakan tangan serta kakinya—setelah kesadarannya akibat tertidur tadi benar-benar sudah terkumpul. Harold tidak kunjung kembali, dan Wonwoo harus memanfaatkan kesempatan ini.
"Talinya sudah longgar," gumamnya saat ia menyadari bahwa tali di tangan kirinya sudah melonggar. Rupanya bawahan Harold tadi tidak mengikatnya terlalu kencang.
Wonwoo pun menggerakan tangannya lagi, berusaha untuk melonggarkan tali itu. Berhasil, dia bisa melakukannya. Sekarang ia bergerak membuka tali di tangan kanannya—yang ternyata tidak diikat terlalu kencang juga.
Dan Wonwoo telah selesai melepas semua tali yang mengikat tangan serta kakinya. Dengan perlahan, ia bangkit. Berjalan menuju pintu—tunggu.
Matanya tidak sengaja menemukan pistol yang tergeletak di meja yang ada di pojok ruangan.
Mungkinkah dia harus menggunakannya?
"Yeah, I'm—hey! You!"
Wonwoo terperanjat saat ia melihat dua orang bertubuh lebih besar darinya berdiri tepat di depan pintu setelah membukanya. Tanpa banyak berpikir, Wonwoo berlari menuju meja tadi lalu meraih pistol dengan tangan yang bergetar hebat.
Jujur saja, Wonwoo sangat takut pada pistol.
"Kau harus terbiasa, Wonwoo."
Kata-kata Mingyu dulu tiba-tiba melintas di pikirannya. Ia ingat, dulu Mingyu pernah mengatakan itu saat ia telah menembak David serta Joseph. Mingyu berkata bahwa dia harus terbiasa melihat pistol dan orang yang tertembak.
Benar.
Wonwoo tidak akan takut lagi sekarang.
Meski dia harus menanggung dosa karena sudah membunuh dan menembak—tapi ini demi perlindungan dirinya serta bayinya.
"Letakkan pistol itu!" bentak salah satu penjaga. Wonwoo mengangkat tangannya dan mengarahkannya pada penjaga itu, "tidak."
"Baiklah, kau yang—"
Dor!
Penjaga itupun ambruk tepat setelah Wonwoo menembaknya di dada kirinya. Wonwoo ingat bahwa dulu Mingyu menembak David dan Joseph disana—ia tahu alasannya.
Disana ada jantung sebagai organ yang vital.
"Y.. You.." penjaga lainnya yang masih hidup geram. Ia mengeluarkan pistolnya, "you must pay for that—aarghhh!"
Ia pun ambruk, sama seperti penjaga tadi. Wonwoo terengah, jantungnya berdebar kencang. Sungguh, ia tidak menyangka jika ia harus melakukan ini semua.
Tapi kondisi memaksanya untuk demikian—Wonwoo tidak akan mundur meski ia akan menyesalinya nanti.
Eomma, Appa, maaf karena aku sudah membunuh orang..
Wonwoo mengusap air mata yang tiba-tiba mengalir di pipinya. Tentu ia tahu jika ibu dan ayahnya melihat kejadian tadi—pasti mereka kecewa.
Demi Tuhan, Wonwoo akan pergi ke gereja nanti dan meminta pengampunan.
Tak ingin berpikir apapun lagi, Wonwoo kembali berjalan menuju pintu. Ia membukanya, mendapati sebuah kebun luas dengan bangunan megah di hadapannya.
Ini pasti Mansion Harold—rupanya dia disekap di gudang.
Wonwoo melanjutkan aksi penyelamatan dirinya—dengan berjalan mengendap. Sesekali ia bersembunyi di semak-semak, pohon, ataupun sesuatu yang bisa ia gunakan untuk bersembunyi. Walaupun ia memiliki pistol, tetap saja Wonwoo harus memanfaatkannya dengan baik karena pelurunya terbatas.
"Ada mobil disana," gumamnya lagi saat ia mendapati sebuah mobil yang terparkir di dekat gerbang. Ia bisa menggunakannya untuk kabur—dulu Wonwoo sempat belajar menyetir di Seoul dan dia tidak terlalu buruk dalam urusan itu.
"Hei!"
Sepasang mata rubah Wonwoo melebar ketika ia mendengar suara seorang penjaga yang sepertinya berhasil memergokinya. Dan benar saja, ada 4 penjaga yang sekarang sedang mendekatinya.
"Kau kabur ha?! Sial—"
Dor! Dor! Dor! Dor!
Tangan Wonwoo semakin bergetar hebat dan peluh membasahi seluruh tubuhnya. Orang-orang tadi sudah ambruk karena ulahnya, Wonwoo sudah membunuh 6 orang.
Ya Tuhan maafkan aku..
"Ada apa ini?!"
Suara Harold pun terdengar menggelegar di depan pintu utama Mansion. Wonwoo buru-buru menurunkan tubuhnya, bersembunyi dibalik semak dengan nafas terengah karena panik serta takut.
Kenapa ia mendadak takut?
"Oh.. kau kabur rupanya?" suara Harold terdengar lagi. "Dimana kau sekarang?! Keluar atau aku akan mencarimu dan langsung membunuhmu detik itu juga!"
Wonwoo meremas gagang pistolnya. Ia mencoba memeriksa sisa pelurunya—habis.
Bagaimana ini?
"Baiklah, kau yang meminta." ucap Harold. "Aku akan menemukanmu dan—"
"Aku disini!"
Harold menolehkan kepalanya pada Wonwoo yang berdiri dari balik semak tempatnya bersembunyi tadi. Seringai angkuh tercipta di ujung bibirnya. Ia menurunkan pistolnya, "bagus. Kemarilah."
Wonwoo menghela nafasnya dengan berat, lalu melangkah menuju Harold dengan langkah yang juga berat. Air matanya mulai mengalir membasahi pipinya—ia sudah kalah.
Maafkan aku, Gyu.
Dor!
Suara tembakan tiba-tiba terdengar dari arah gerbang dengan sebuah mobil berwarna hitam yang masuk. Langkah Wonwoo terhenti saat itu juga.
Bukankah itu—
"Mingyu?"
Namun tiba-tiba, Wonwoo merasakan ada seseorang yang menahan lehernya.
Mingyu menuruni mobilnya begitu ia tiba di Mansion Harold. Sebagian wajahnya yang tertutupi masker terlihat begitu dingin dan tegas. Namun sesungguhnya, Mingyu sedang menahan emosinya.
"Mana istriku?!" tanyanya sembari mendekati Harold dan mencengkram kerah jasnya. Harold menyeringai, "lihatlah kesana."
"G-Gyu!"
Mingyu menolehkan kepalanya pada bagian kebun dan mendapati Wonwoo yang ditahan oleh seorang penjaga. Pakaiannya terlihat begitu lusuh, ada noda darah serta goresan juga di pipinya.
Brengsek.
"Sudah kubilang jangan lukai dia atau AKU AKAN MEMOTONG LEHERMU!" bentak Mingyu penuh amarah. Harold masih menyeringai santai, "oh? Maaf, aku hanya gemas saja melihat pipinya yang begitu putih."
"KURANG AJAR—"
"Gyu!"
Mingyu kembali menoleh. Sekarang, penjaga itu sudah mengeluarkan pisaunya dan mengarahkannya pada leher Wonwoo.
"Dia sudah membunuh 6 penjagaku," ucap Harold. "Dan kau sudah membunuh 2 anak buah kesayanganku. Totalnya ada 8 dan kalian harus menggantinya."
"Persetan dengan itu semua!" sahut Mingyu. Harold menyeringai lagi, "kau mau begitu? Baiklah, biar istrimu yang membayar semuanya."
Penjaga itupun semakin mendekatkan pisaunya pada leher Wonwoo—Mingyu bisa melihatnya. Wonwoo berusaha untuk meronta, namun percuma. Air matanya mengalir semakin deras.
Mingyu tidak bisa diam saja.
"Lepaskan dia!" Mingyu mengarahkan pistolnya pada pelipis Harold. Harold menggeleng, "lepaskan? Tidak semudah itu. Kau harus membayar dulu untuk semuanya."
Mingyu menurunkan pistolnya. Sesekali ia melirik pada Wonwoo—dan tiba-tiba saja matanya terasa panas.
Jika tidak Wonwoo yang mati, itu berarti dia yang harus mati, 'kan?
"Lepaskan dia dan kau boleh membunuhku!" ucap Mingyu. Harold terkekeh, "akhirnya kau menyerah juga."
"JANGAN GYU!"
Wonwoo kembali berusaha untuk meronta dari penjaga yang menahan lehernya. Ia menggeleng kuat dengan air mata yang mengalir semakin deras, "JANGAN GYU! KUMOHON!"
"Sungguh akhir kisah cinta yang tragis." Harold tertawa. Ia mengeluarkan pistolnya dan menempelkannya pada pelipis Mingyu yang sekarang sudah pasrah—demi Wonwoo, "jadi, apa kata-kata terakhirmu untuk istrimu?"
Mingyu mengangkat kepalanya. Ia menatap Wonwoo yang sekarang sudah tak meronta lagi—matanya berkaca-kaca.
Percuma saja membawa 3 senjata jika akhirnya dia tidak bisa menyelamatkan Wonwoo.
Haruskah seperti ini akhirnya?
Mingyu merasa dia adalah pecundang.
"Gyu.." lirih Wonwoo. "Kumohon.. jangan lakukan itu.. demi bayi kita.."
"Baiklah, kita akhiri saja sekarang." Harold bersiap menekan pelantuknya. "Say goodbye, Mr. Kim."
"TIDAK! JANGAN!"
Wonwoo meronta lagi, menggigit lengan penjaga itu dengan kuat hingga cengkramannya terlepas. Ia mendorong sang penjaga, merebut pisau yang ada di tangannya dan bergegas berlari menuju Harold—
Dor!
Suara tembakan pun terdengar menggelegar di seluruh penjuru Mansion. Setelahnya, suasana pun mendadak hening. Tergantikan oleh suara deru nafas memburu dibawah salju yang berturunan.
Bruk!
Disusul oleh suara seseorang yang terjatuh.
Harold.
Tepat setelah Wonwoo menusukkan pisau yang dipegangnya di dada kiri lelaki itu.
"Wonwoo.." Mingyu menatap Wonwoo tak percaya. Pisau itu terjatuh, diikuti oleh tetesan darah yang perlahan mulai mengalir di jas Harold serta bagian pisaunya. Bahkan Wonwoo sedikit terkena darah itu.
Tubuh serta tangannya bergetar hebat saat itu juga.
"G.. Gyu.." Wonwoo terpaku. Mingyu segera menarik Wonwoo ke dalam pelukannya dan menenangkannya. Tubuhnya masih bergetar—diikuti isakan lirih yang perlahan keluar dari belah bibirnya.
"Gyu.. aku sudah membunuh banyak orang.." lirihnya. Mingyu mengangguk dan mengusap bagian belakang kepalanya, "tidak apa-apa Wonwoo, tidak apa-apa.."
"Tuhan pasti akan menghukumku Gyu. Appa dan Eomma juga pasti membenciku.."
Mingyu terdiam. Dia paham jika Wonwoo belum terbiasa dengan hal ini, wajar jika Wonwoo merasa bersalah. Mungkin jika Mingyu, dia tidak akan peduli. Pekerjaannya memang seperti ini.
"Tidak apa-apa sayang. Yang penting kau selamat sekarang.." bisiknya menenangkan. Wonwoo masih menangis di pelukannya, jemarinya yang terkotori oleh darah bergerak meremas jaket kulit berwarna hitam milik Mingyu.
Malam itu—salju begitu terasa hangat bagi Mingyu.
Tapi tidak dengan Wonwoo yang merasa kedinginan.
"Maaf aku datang terlambat.."
Seungcheol melirik pada spion tengah untuk menatap Mingyu serta Wonwoo yang duduk di jok belakang mobilnya. Mereka baru saja pulang setelah membereskan segala hal yang terjadi di Mansion Harold—dengan bantuan Jonghyun, salah satu Mafia yang terkenal juga di Amerika. Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang menuju New York.
"Tidak apa-apa Hyung." ucap Mingyu dengan senyuman tipis. Seungcheol kembali fokus menatap jalanan sembari memanggil Mingyu, "Mingyu-ya."
"Ya?"
"Apa benar Wonwoo yang menghabisi Harold dan seluruh penjaganya?"
Mingyu terdiam. Ia melirik pada kepala Wonwoo yang sedang terlelap di pangkuannya. Matanya begitu sembab, pipinya terluka dan keadaannya begitu lusuh.
Sejak kejadian tadi, Wonwoo sama sekali tidak bicara. Dia terus menangis, menatap tangannya yang berlumuran darah. Meski Mingyu sudah berkata bahwa hal yang dilakukannya sama sekali tidak apa-apa, Wonwoo tetap merasa sangat berdosa.
Ia paham akan hal itu.
Wonwoo berbeda dengan dirinya.
"Iya Hyung." jawab Mingyu. "Tapi.. karena itu dia merasa sangat berdosa. Bahkan dia tidak berkata apapun sejak tadi."
Seungcheol kembali melirik Mingyu sembari menghentikan laju mobilnya karena lampu merah yang menyala. Ia menghela nafas pelan, "begitu?"
"Aku sudah mengatakan bahwa yang dilakukannya sama sekali tidak akan berdampak apa-apa. Tapi dia tetap menangis dan menatap tangannya, meski aku sudah membersihkan darahnya."
"Wonwoo pasti sangat tidak menyangka jika dia harus melakukan itu semua," sahut Seungcheol. "Dia berbeda dengan kita, Mingyu-ya. Dia hanyalah manusia biasa yang mengenal dosa. Sedangkan kita?" ia melajukan mobilnya disaat lampu berubah menjadi hijau. Suasana kembali hening, baik Seungcheol dan Mingyu sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Ini salahku," gumam Mingyu kemudian. "Andai aku datang lebih cepat, pasti Wonwoo tidak akan melakukan itu semua.."
"Jangan ikut menyalahkan dirimu, Kim." ucap Seungcheol. "Wonwoo hanya kaget, kau harus menenangkannya dan menjelaskan semuanya."
Mingyu menghela nafasnya dengan berat. Jemarinya bergerak menyingkirkan surai Wonwoo yang menghalangi sepasang mata sipitnya—
Nafasnya berhenti.
Saat ia sadar bahwa sedaritadi pipi Wonwoo telah basah oleh air mata.
3 hari berlalu sejak kejadian itu.
Wonwoo sekarang berada di kamarnya—menjalani perawatan akibat mentalnya yang terganggu karena 'pembunuhan' yang dilakukan olehnya. Ia selalu melamun, berbicara sendiri, bahkan terkadang tubuh Wonwoo akan bergetar ketakutan tanpa sebab. Sudah banyak psikiater yang datang untuk menolongnya—namun nihil.
"Wonwoo-ya?"
Jisoo berjalan masuk ke dalam kamar Wonwoo yang begitu gelap—karena Wonwoo menutup seluruh jendelanya. Ia menutup pintunya, melangkah mendekat pada ranjang setelah meletakkan nampan berisi makan siang Wonwoo.
"Wonwoo-ya, ayo makan." bujuk Jisoo lembut sembari mengusap bahu Wonwoo yang terduduk di ranjang dan menatap kosong—entah pada pada apa. Tapi Wonwoo sama sekali tidak bereaksi.
Jujur saja, Jisoo, Jeonghan, serta Lee Chan pun merasa sangat sedih dengan hal yang menimpa Wonwoo sekarang. Mereka juga merasa sangat bersalah—terutama Lee Chan. Seandainya mereka tidak meninggalkan Wonwoo, pasti Wonwoo tidak akan seperti itu 'kan?
"Makanlah Wonwoo-ya. Sudah 3 hari kau tidak makan dan meminum susumu." bujuk Jisoo lagi. "Ingat, kau sedang hamil. Kasihan bayimu."
Wonwoo masih tak bergeming, membuat Jisoo menghela nafasnya dengan berat. Namun, Jisoo bisa melihat pipinya basah oleh air mata.
Dia menangis.
"Hyung, aku sudah membunuh." lirihnya. "Tuhan pasti akan membenciku lagi. Eomma dan Appa juga, aku—"
"Tuhan tidak akan pernah membenci umatnya meskipun dia membuat kesalahan besar sekalipun." sela Jisoo. "Kau bisa meminta ampun Wonwoo-ya, kau bisa."
Air mata Wonwoo mengalir semakin deras. Jisoo yang tidak tega lantas menariknya ke dalam pelukannya, membiarkan Wonwoo membasahi bagian bahu sweaternya dengan air matanya. Tanpa sadar kedua mata Jisoo pun berkaca-kaca.
"Kau tidak salah selama kau meyakini bahwa hal yang kau lakukan adalah benar." bisik Jisoo. "Kau melakukannya demi melindungi Mingyu 'kan? Kau melakukannya demi melindungi bayimu 'kan?"
Wonwoo menangis semakin kencang. Tiba-tiba ia teringat kejadian itu, tubuhnya kembali bergetar hebat. Jisoo menyadari itu—tapi dia tidak melepaskan pelukannya.
"Hiks Hyung.."
"Kau tidak salah, Wonwoo-ya. Kau tidak salah.."
Mingyu berjalan menuju ruang tengah Mansion setelah pulang dari rapat mendadak di Ohio pagi tadi. Disana sudah ada Jisoo, Jeonghan serta Lee Chan—yang menonton TV namun pandangan mereka kosong.
"Hyung," panggilnya pada Jeonghan dan Jisoo. "Bagaimana Wonwoo selama aku pergi?"
Jeonghan dan Jisoo saling berpandangan sejenak sebelum menatap Mingyu dengan tatapan—
Ah, Mingyu paham.
Masih sama.
Sejak kejadian itupun, Mingyu sama sekali tidak lepas dari Wonwoo. Dia selalu ada di Mansion, mengawasinya sambil sesekali berusaha menolongnya dengan memanggilkan psikiater terkenal.
Tapi itu sama sekali tidak berpengaruh—dan jujur saja itu membuat Mingyu sangat sedih.
"Kau sendiri yang harus menenangkannya," Seungcheol—yang baru saja masuk setelah melepas mantelnya—menepuk bahunya. "Kau adalah suaminya, kau lebih mengetahui dia dibanding psikiater itu. Jangan tunjukkan kesedihanmu."
Mingyu terdiam sejenak setelah mendengar perkataan Seungcheol. Akhirnya—setelah menghela nafas berat, Mingyu berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Beberapa hari ini Mingyu tidak pernah tidur—mengingat dia harus mengawasi Wonwoo selama 24 jam penuh. Jadi selama itupun ia masuk ke kamar hanya untuk memeriksa keadaan Wonwoo.
"Wonwoo?" panggilnya sembari membuka pintu kamar. Suasana gelap masih mendominasi, Mingyu tahu. Ia lalu masuk dan menutup lagi pintu kamar—kemudian menatap Wonwoo.
Nafasnya sedikit berhenti saat itu juga.
"Wonwoo sayang.." panggilnya lagi sembari mendekati Wonwoo yang tengah duduk di depan pintu balkon dengan posisi memeluk kedua lututnya. Matanya yang berkaca-kaca menatap keluar balkon, tapi entah menatap apa.
"Kenapa disini?" tanyanya lembut. "Disini dingin, ayo kita pindah ke ranjang—"
"Hiks.."
Mati-matian Mingyu menahan air matanya yang akan mengalir juga setelah mendengar suara isakan Wonwoo. Ia pun ikut mendudukan dirinya, mengusap matanya kemudian memandang keluar pintu balkon yang sedikit terbuka.
"Sayang," panggil Mingyu untuk yang ketiga kalinya. "Kau tahu? Di Central Park sedang ada pameran. Aku sangat ingin pergi kesana bersamamu.."
"Gyu.."
"Apa? Apa yang ingin kau katakan?"
"Apakah yang aku lakukan kemarin adalah hal yang benar?"
Mingyu tersenyum tipis sebelum menjawab, "kau benar, sayang. Jika kau tidak melakukan itu, mungkin aku sudah mati. Atau.. mungkin kau sudah mati?"
"Tapi aku sudah membunuh, Gyu. Tuhan membenciku.."
Sekali lagi Mingyu menghela nafasnya. Ia mendekati Wonwoo lalu membawanya ke dalam pelukannya, "aku tahu kau merasa sangat bersalah karena telah membunuh. Itu adalah dosa, Tuhan sudah jelas membencinya. Tapi kau harus melihat dari sisi lainnya, sayang. Seandainya kau tidak melakukan itu, kaulah yang akan terbunuh. Apakah itu tidak termasuk dosa? Kau melanggar janjimu padaku untuk melindungi dirimu dan bayi kita." jelasnya. Wonwoo menangis di pelukannya, membasahi mantel Mingyu dengan air matanya.
"Aku sudah mengecewakan Eomma dan Appa.."
"Eomma dan Appa lebih kecewa jika kau pergi menyusul mereka dengan keadaan mati yang percuma."
Seketika Wonwoo mengangkat kepalanya dan menatap Mingyu. Mingyu pun melanjutkan ucapannya, "terkadang kita harus melihat sesuatu dari sisi yang berbeda. Tapi jika kau memang masih merasa bersalah, pergilah ke gereja besok bersama Jisoo Hyung."
"Hentikan Gyu."
"Hah?"
"Hentikan semuanya," jelas Wonwoo. "Berhentilah melakukan pekerjaan ini, aku mohon. Aku tidak mau kau berbuat dosa yang lebih dalam lagi, aku juga tidak mau kau terluka. Masih banyak hal yang bisa kau kerjakan selain ini.."
Mingyu terdiam untuk mencerna kata-kata Wonwoo. Apakah maksudnya dia harus berhenti menjadi seorang Mafia?
"Aku mohon, Gyu. Aku hanya 2 kali memohon kepadamu 'kan?" pinta Wonwoo lagi. "Aku mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu dan aku tidak ingin Tuhan membencimu lebih dalam. Selain memikirkan diriku, aku juga memikirkan ini."
"Baiklah." jawab Mingyu. Ia tersenyum—yang menandakan bahwa ia setuju, "jika kau yang meminta, mana bisa aku menolaknya? Besok kita pergi ke gereja bersama-sama."
Wonwoo ikut tersenyum dan kembali menghambur ke pelukan Mingyu. Sekarang tak ada lagi beban yang dipikirkannya, semuanya sudah berakhir.
"Kita akan pindah ke Korea." ucap Mingyu—yang membuat Wonwoo mengangkat kepalanya lagi. "Kupikir aku ingin menikmati hidupku di negaraku sendiri. Selain itu.. kau pasti merindukan Bohyuk, nenekmu dan teman-temanmu kan?"
"Aku sangat mencintaimu, Gyu." Wonwoo menangis lagi—kali ini karena terharu. Mingyu terkekeh dan mengecup bibirnya sekilas, "aku lebih mencintaimu, sayang. Terimakasih sudah menyelamatkan hidupku untuk yang kedua kalinya. Aku tidak pernah menyesal pernah bertemu denganmu dan menikah denganmu walau kau sempat terpaksa."
Wonwoo mengangguk dan memeluk Mingyu lagi dengan sangat erat. Mungkin awalnya dia terpaksa dan dia membenci Mingyu. Mungkin awalnya Wonwoo berpikir bahwa Tuhan membencinya. Mungkin awalnya Wonwoo merasa bahwa dia tidak akan bahagia—
Tapi tidak.
Kim Mingyu adalah takdir paling indah dari Tuhan yang pernah diberikan kepadanya—dan Wonwoo bersumpah dia akan menjaganya.
Suasana di sebuah rumah tua yang dikelilingi oleh tanaman hijau nampak begitu sepi siang itu. Hanya ada seorang wanita tua—dengan lelaki yang tengah mengerjakan tugasnya sembari menemani wanita tua itu menonton TV.
"Bohyuk-ah," panggilnya pada Bohyuk, nama lelaki itu. Bohyuk mengangkat kepalanya, "ya, Halmeoni?"
"Bagaimana kabar Wonwoo sekarang ya?"
Bohyuk terdiam. Sudah hampir satu bulan berlalu sejak Wonwoo menghilang begitu saja setelah membebaskannya dari penjara. Neneknya selalu menanyakan dimana keberadaan Wonwoo, bagaimana kabarnya dan keadaannya. Bohyuk tahu bahwa dia merindukannya.
Tapi sungguh dari lubuk hati yang paling dalam, Bohyuk lebih merindukannya.
"Entahlah, Halmeoni." jawab Bohyuk. Ia tersenyum hambar, "kuharap dia baik-baik saja. Aku sangat merindukannya."
"Besok tahun baru.." ucap sang nenek lagi. "Aku membeli banyak daging, kuharap itu akan membuat Wonwoo pulang karena memikirkan kita. Kakakmu itu sangat menyukainya kan?"
"Iya, Halmeoni."
Tok Tok Tok!
Bohyuk dan nenek Jeon pun menoleh pada pintu. Siapa yang datang?
"Biar aku saja yang membukanya," Bohyuk bangkit. Ia berjalan menuju pintu, membuka kenopnya lalu—
Sepasang mata rubahnya membulat seketika.
"..H-Hyung?"
"Bohyuk-ah.."
"Sebenarnya aku memaksa Wonwoo untuk menikah denganku karena dia memergokiku membunuh orang. Aku membawanya ke Amerika, dengan jaminan Bohyuk akan bebas dan kembali mengenyam pendidikan sampai kuliah nanti. Awalnya aku selalu menyiksanya, tapi semuanya berubah begitu saja. Aku sangat mencintainya sekarang.."
Bohyuk dan nenek Jeon nampak terkejut setelah mendengar penjelasan Mingyu. Wonwoo yang duduk di sampingnya hanya menunduk, meremas tangan Mingyu berharap itu akan menenangkannya karena tidak mungkin Bohyuk dan sang nenek mau menerima penjelasan Mingyu begitu saja.
Terlalu banyak yang terjadi—dan itu menjadi sebuah pertanyaan besar.
"Aku adalah seorang Mafia di Amerika." lanjut Mingyu lagi. "Tapi dulu, orangtuaku juga adalah Mafia di Korea. Tapi mereka tewas, karena itulah aku pergi ke Amerika bersama Seungcheol Hyung."
"Kami terpaksa melakukan pekerjaan ini. Sebenarnya kami tidak menginginkannya." kali ini Seungcheol yang melanjutkannya. "Mungkin kalian terkejut dan tidak menerima pekerjaan kami, tapi sungguh. Kami sudah berhenti menjadi Mafia.."
"Karena Wonwoo." sela Mingyu. "Kemarin Wonwoo sudah menyadarkanku, dia juga menyelamatkanku dari orang yang akan membunuhku padahal dia sendiri sedang terancam. Wonwoo sudah 2 kali menyelamatkan hidupku. Tanpanya mungkin aku sudah mati percuma sekarang. Jadi kumohon, maafkan aku. Kalian boleh membenciku karena asal usulku, pekerjaanku, dan juga perlakuanku selama ini. Tapi sungguh, jangan pisahkan aku dari Wonwoo. Maafkan aku.."
Mingyu pun bangkit dari kursinya lalu berlutut di bawah kaki nenek Jeon serta Bohyuk. Wonwoo menundukkan kepalanya, menahan air mata yang siap keluar dari pelupuknya. Apapun yang akan dikatakan neneknya dan Bohyuk, dia harus menerimanya.
Meskipun dia mencintai Mingyu.
"Mingyu-ssi," panggil nenek Jeon. Mingyu mengangkat kepalanya, menatap wajah wanita tua itu. Ada jeda sejenak—
Sebelum akhirnya ia menarik bahu Mingyu lalu mengusap rambut kehitamannya dengan sebuah senyuman.
"Aku akui apa yang kau lakukan itu adalah sebuah kesalahan." ucapnya. "Tapi kau sudah menyelamatkan kedua cucuku dari takdir yang tak seharusnya menimpa mereka. Kau membuat Bohyuk bebas, kau juga menyekolahkannya. Dulu aku selalu takut jika Bohyuk akan terus-terusan menderita, tapi ternyata.. kaulah yang menyelamatkannya."
"Itu adalah permintaan Wonwoo, aku hanya mengabulkannya saja." jawab Mingyu. Nenek Jeon menggeleng, "ya aku tahu itu adalah permintaan Wonwoo. Tapi jika kau jahat, kau tidak akan mengabulkannya 'kan meskipun kau sudah mendapatkan cucuku?"
Mingyu terdiam. Wanita itupun melanjutkannya, "lalu.. kau juga berkata bahwa kau mencintai cucuku. Terimakasih banyak, itu adalah takdir paling membahagiakan dari Tuhan yang pernah kudengar. Sejak kedua orangtua mereka meninggal, mereka selalu menerima takdir yang menyedihkan. Aku tidak pernah bisa membahagiakan mereka, bahkan sampai mereka besar.."
"Halmeoni.." Wonwoo ikut berlutut dengan air mata yang sudah mengalir deras. Nenek Jeon tersenyum, "apapun hal yang menimpa kalian dan apapun yang terjadi pada kalian di masa lalu, aku tidak akan mengungkitnya. Asalkan kalian bahagia, aku akan menerimanya."
"Terimakasih banyak Halmeoni, terimakasih.." ucap Mingyu sembari menundukkan kepalanya. "Aku berjanji aku akan menjaga Wonwoo dan membahagiakannya. Aku akan mengubah takdirnya."
"Buktikanlah, Mingyu-ssi. Aku akan melihatnya sendiri sampai aku tidak bisa melihatnya lagi."
Mingyu mengangguk dan menatap Wonwoo yang juga sedang menatapnya. Mereka saling melempar senyum bahagia—
Baru kali inilah Mingyu dan Wonwoo merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.
"Besok aku mau menemui Jihoon,"
Mingyu menolehkan kepalanya pada Wonwoo yang berbaring di sampingnya sembari menatap langit-langit kamar mereka. Saat ini, mereka masih berada di rumah nenek Wonwoo—lebih tepatnya di kamar Wonwoo saat ia masih SMP. Seungcheol dan Lee Chan tidur di ruang tamu bersama Bohyuk, sementara Jisoo dan Jeonghan menempati kamar Bohyuk.
Sebenarnya Mingyu sudah membeli satu rumah sederhana di Seoul—dengan uang yang didapatnya dari hasil menjual Mansion di Amerika. Mingyu benar-benar serius untuk berhenti menjadi Mafia. Dia akan membuat bisnis kecil di Korea dengan sisa uangnya.
"Yakin? Kau tidak lelah?" Mingyu menghadapkan tubuhnya ke arah Wonwoo. Wonwoo mengangguk, "hmm. Aku sangat merindukannya. Aku juga merindukan Soonyoung dan Seokmin. Bagaimana ya kabar mereka sekarang? Apa mereka masih berisik?"
Mingyu terkekeh. Rupanya teman-teman Wonwoo memiliki sifat yang agak berbeda daripada dirinya yang pendiam.
Ia jadi penasaran, bagaimana rupa teman-temannya?
"Aku ingin ikut kalau begitu," ucap Mingyu. "Dulu aku hanya mengetahui wajah Soonyoung saja. Bagaimana dengan Jihoon dan Seokmin?"
"Jihoon itu sama sepertiku, sedangkan Seokmin berisik seperti Soonyoung. Ngomong-ngomong, Soonyoung sudah lama berpacaran dengan Jihoon."
"Seokmin?"
"Hmm.. entahlah dia tidak jelas. Siapa juga yang mau berpacaran dengan makhluk berisik seperti Seokmin?"
Sekali lagi Mingyu terkekeh. Ia membawa Wonwoo ke dalam pelukannya—setelah mengubah posisi Wonwoo menjadi menyamping. Lalu, ia menempelkan keningnya dengan kening Wonwoo sembari memberi satu kecupan di bibirnya, "kalau begitu, ayo kita cepat-cepat tidur agar kau bisa bertemu dengan mereka."
"Um!" Wonwoo mengangguk. Ia semakin merapatkan pelukannya, "selamat malam Mingyu-ya."
"Selamat malam juga sayang.."
Wonwoo pun memejamkan matanya, begitupula dengan Mingyu. Namun tiba-tiba—
"Gyu,"
"Hmmm?"
"Aku mencintaimu."
Mingyu tersenyum dalam tidurnya.
"Aku juga mencintaimu, sayang."
END.
Halo.
Saya membawakan ending dari ini. Maaf jika tidak memuaskan, saya sedang mumet :") happy ending kan? Hehehehe.
Btw, nanti saya akan publish satu chapter spesial yang nyeritain bulan madu sama lahiran anak mereka. Kan kalian pasti pengen tau dan ga terima ini end begitu aja? Mana endingnya gaenak banget :") maaf yaaa /bow
Terimakasih banyak buat 143 favs dan 174 follow serta para reviewers yang baik hati. Nanti deh saya sebutnya di chapter spesial, kalian banyak juga ya ternyata? :") makasih banget. Tanpa kalian saya gabisa nyelesain ini, esp "ichinisan1-3" yang reviewnya panjang banget, mungkin ngalahin panjang ffnya .ga
Tapi setelah ini, saya mau publish ff baru. Meanie tentunya, saya lagi gemes-gemesnya sama mereka. Genrenya fantasy /oke ini sedikit spoiler. Tunggu aja yaaa xD
Sekian, kaxo.
