Miracle

.

.

.

Lumin slight Hanxing, gs for Minseok, Yixing, and chibi Sehun. Please! Gk suka? Out, don't be hater. Thank u ^^

.

.

Remake dari Lisa Kleypas 'Christmas Eve at Friday Harbour'

.

.

.

Chapter 9

.

.

.

Alarm jam membangunkan Minseok dengan bunyi yang nyaring, dimulai dengan nada yang terputus-putus, kemudian meningkat baik dari segi frekuensi maupun volumenya, hingga terdengar seperti jeritan memekakkan yang memaksanya bangun dari tempat tidur. Sambil mengerang dan terhuyung , Minseok meraih jam weker diatas lemari kecil dan mematikan alarmnya. Ia sengaja meletakkan jam wekernya jauh dari tempat tidur karena sudah belajar dimasa lalu bahwa jika jam weker diletakkan di meja samping tempat tidur, ia mampu mematikan alarmnya saat masih dalam keadaan tertidur lelap.

Suara cakaran menusuk telinga, dan pintu kamar yang berayun terbuka menyingkap sosok Gaho yang besar, wajahnya yang kotak dengan gigi ompong. Ta-ra! Sepertinya ekspresi wajah Gaho berseru demikian, seolah melihat bulldog yang setengah botak, pincang dan ompong adalah cara terbaik untuk memulai hari seseorang. Kebotakan yang dialami oleh Gaho adalah hasil dari penyakit kulit, yang sudah disembuhkan oleh antibiotik dan diet khusus. Tapi sejauh ini bulu Gaho tidak pernah tumbuh kembali. Kakinya yang pincang membuat Gaho terlihat aneh setiap kali anjing itu berjalan atau berlari.

"Selamat pagi, Gaho," sapa Minseok, sambil menunduk untuk membelai anjing itu. "Sungguh malam yang panjang." Tidur yang gelisah, berbalik dan berguling diatas tempat tidur, dan mimpi aneh.

Kemudian Minseok teringat kenapa ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Erangan terlontar dari mulutnya, dan tangannya terdiam diatas kepala Gaho yang botak.

Cara Luhan menciumnya...cara ia merespons ciuman itu...

Dan tidak ada pilihan, ia harus menghadapi Luhan pagi ini. Jika ia tidak datang, Luhan mungkin akan menarik kesimpulan yang salah. Satu-satunya pilihan baginya adalah datang dan bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Ia akan bersikap santai dan tak acuh.

Minseok masuk ke kamar mandi, mencuci wajahnya dan mengeringkannya dengan handuk. Dan ia terus memegangi handuk itu dimatanya, saat ia merasakan air mata yang tidak diharapkannya mulai mengalir. Ia membiarkan dirinya mengingat lagi ciuman itu selama beberapa saat. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali ia dikuasai oleh gairah, dipeluk dengan erat oleh tubuh seorang pria. Dan Luhan terasa begitu kuat dan begitu hangat, sehingga tidak mengherankan jika ia menyerah terhadap godaan itu. Semua wanita pasti akan menunjukkan reaksi yang sama.

Sebagian dari sensasi yang dirasakannya tidaklah asing, tapi sebagian lagi sepenuhnya baru baginya. Ia tidak ingat pernah merasakan gairah yang begitu murni, rasa panas mengejutkan yang menyebar ke sekujur tubuhnya, dan semua itu terasa seperti pengkhianatan—dan sember bencana. Itu lebih dari sekedar situasi yang menggelisahkan bagi seorang wanita yang sudah cukup merasakan pergolakan dalam hidupnya. Tidak boleh ada hubungan yang liar, gila dan membuat jantungnya berdebar-debar...tidak boleh lagi ada rasa sakit, tidak boleh lagi ada kehilangan...yang ia butuhkan adalah ketenangan dan kedamaian.

Tapi semua itu tidak ada gunanya. Minseok memiliki alasan kuat untuk merasa yakin bahwa Luhan akan kembali pada Yixing. Ia hanyalah selingan sesaat, penyimpangan kecil. Tidak mungkin Luhan mau berurusan dengan beban yang dipikulnya; ia sendiri tidak mau membaginya. Semalam tidak berarti apa-apa untuk Luhan.

Dan Minseok harus meyakinkan dirinya sendiri, entah dengan cara apa, bahwa semua itu juga tidak berarti apa-apa untuknya.

Setelah menyimpan kembali handuknya, Minseok menunduk kearah Gaho, yang sedang terengah-engah dan mendengau disampingnya. "Aku wanita yang kuat," tegas Minseok pada Gaho. "Aku pasti bisa mengatasinya. Kita akan pergi kesana, dan aku akan menitipkanmu sepanjang hari ini. Dan kau harus berusaha sekuat mungkin untuk tidak terlihat aneh."

Setelah mengenakan rok denim, sepatu bot berhak rendah, dan jaket santai yang serasi, Minseok memakai sedikit make up diwajahnya. Perona pipi warna pink, maskara, sapuan pelembab bibir, dan bedak untuk menutupi jejak kurang tidur semalam. Apakah itu terlalu berlebihan? Apakah Luhan akan menganggapnya berusaha untuk memikat pria itu? Minseok memutar bola matanya dan menggelengkan kepala saat menyadari kekonyolan pikirannya itu.

Gaho yang suka bepergian, terlihat senang sekali saat Minseok mengangkatnya ke dalam mobil. Gaho berusaha untuk menjulurkan kepalanya keluar dari jendela mobil, tapi Minseok terus menahannya sekuat tenaga, karena takut anjing yang kepalanya lebih besar dari badannya itu terjungkal keluar dari jendela.

Hari itu terasa sejuk dan cerah, langit tampak biru dengan lapisan awan tipis. Minseok merasakan kegugupannya semakin meningkat begitu ia mendekati perkebunan anggur. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri, kemudian mengulanginya lagi, dan lagi, sampai ia nyaris sama melayangnya seperti Gaho.

Minseok melihat Jongin bersama para pekerjanya sedang berada diantara tanaman anggur. Begitu sampai didepan rumah, Minseok menghentikan mobilnya dan menoleh ke Gaho. "Kita akan terlihat santai dan penuh percaya diri," ujarnya pada Gaho. "Bukan masalah besar."

Anjing bulldog itu menyurukkan kepalanya ke Minseok dengan penuh kasih, menuntut agar Minseok membelainya. Minseok membelai Gaho dengan lembut dan menghela napas. "Sekarang saatnya."

Sambil menarik tali Gaho, Minseok membawa anjing itu ke pintu depan, berhenti dengan sabar saat Gaho melompat terpincang-pincang untuk menaiki tangga. Sebelum Minseok mengetuk, ternyata pintu itu sudah terbuka lebih dulu, dan Luhan berdiri disana dengan memakai celana jins dan kemeja flanel. Luhan terlihat sangat seksi dengan kemeja yang sedikit kusut dan rambut gelap yang berantakan, sehingga membuat perut Minseok bergelanyar.

"Masuklah." Suara serak Luhan terdengar seperti alunan musik ditelinga Minseok. Ia membawa anjingnya masuk ke rumah.

Senyuman tampak dimata Luhan yang berbinar-binar. "Gaho," sapa Luhan, kemudian ia berjongkok disamping Gaho. Anjing itu menghampiri Luhan dengan penuh semangat. Luhan membelai Gaho dengan lebih antusias daripada yang biasanya dilakukan Minseok, memeluk leher Gaho, menggosok dan menggaruknya. Gaho menyukai perhatian Luhan. Karena tidak memiliki ekor, Gaho hanya menggoyang-goyangkan bokongnya, hingga terlihat mirip dengan tarian Shakira.

Sambil terengah-engah dengan bersemangat, Gaho menjilat pergelangan tangan Luhan dan berbaring dilantai, kakinya menunjuk ke empat arah utama kompas.

Bahkan dalam keadaan gugup Minseok masih bisa tertawa melihat tingkah polah Gaho. "Kau yakin tidak mau berubah pikiran?"

Luhan menengadah pada Minseok dengan sorot gembira. "Aku yakin." Luhan membuka tali pengikat leher Gaho dan melepaskannya, berdiri untuk menghadap Minseok, dan dengan lembut mengambil tali dari tangan Minseok.

Saat tangan mereka bersentuhan, Minseok merasakan nadinya berdenyut "Bagaimana keadaan Sehun?" Minseok bisa memaksakan dirinya untuk bertanya dengan santai.

"Baik. Dia sedang makan jeli dan menonton kartun. Temperaturnya naik sekali lagi malam tadi, kemudian hilang sepenuhnya. Dia masih sedikit lemah." Luhan mengamat Minseok dengan intens, seolah hendak menyerap setiap detail dirinya. "Minseok...semalam aku tidak bermaksud membuatmu takut."

Jantung Minseok mulai berdetak dengan cepat dan keras. "Aku tidak takut. Aku sama sekali tidak tahu kenapa hal itu bisa sampai terjadi. Pasti karena wine-nya."

"Kita tidak minum wine. Hanya Jongin yang meminumnya."

Permukaan kulit Minseok langsung memerah dan terasa hangat. "Yah, masalahnya adalah kita terbawa suasana. Mungkin karena cahaya bulan."

"Semalam sangat gelap."

"Dan sudah larut. Sekitar tengah malam..."

"Baru pukul sepuluh."

"...dan kau merasa bersyukur karena aku membantu merawat Sehun, dan..."

"Aku tidak merasa bersyukur. Yah, aku memang bersyukur, tapi bukan karena itu aku menciummu."

Suara Minseok sarat dengan keputus asaan. "Intinya, aku tidak merasa seperti itu terhadapmu."

Luhan menatap Minseok dengan sorot skeptis. "Kau membalas ciumanku."

"Hanya sebagai seorang teman. Itu ciuman antar teman." Minseok cemberut saat ia melihat bahwa Luhan tidak mempercayainya. "Aku membalas ciumanmu demi kesopanan."

"Salah satu etika pergaulan?"

"Iya."

Luhan mengulurkan tangan dan menarik minseok ke dalam dekapannya, lengannya melingkari tubuh Minsok yang kaku. Minseok terlalu terkejut untuk bersuara atau bergerak. Kepala Luhan ditundukkan, dan mulutnya sudah melumat mulut Minseok, dalam ciuman yang kuat , perlahan dan memabukkan, yang mengirimkan getaran nikmat ke sekujur tubuh Minseok. Minseok menjadi lemah karena gelombang panas gairah yang menerpanya, tidak berdaya untuk mencegah dirinya membuka diri terhadap ciuman Luhan.

Salah satu tangan Luhan bergerak ke rambut Minseok, dan membelai kepalanya. Dunia terasa menjauh, dan yang Minseok tahu hanyalah kenikmatan, kebutuhan, dan rasa mendamba yang terasa didalam dirinya. Pada saat mulut Luhan melepaskan pagutan mulutnya, Minseok sudah bergetar dari kepala hingga kaki.

Luhan menatap langsung ke dalam mata Minseok yang masih diliputi gairah, dan alis pria itu terangkat dengan gaya menantang, seolah ingin bertanya, sudah jelas?

Dagu Minseok bergerak untuk mengangguk lemah.

Dengan hati-hati Luhan merebahkan kepala Minseok ke bahunya dan menunggu sampai kaki Minseok cukup kuat untuk menopang tubuhnya sendiri.

"Aku harus mengurus beberapa hal," Minseok mendengar Luhan berkata demikian dari atas kepalanya, "dan itu termasuk memutuskan hubunganku dengan Yixing."

Minseok menarik tubuhnya dan menatap Luhan dengan sorot gelisah. "kumohon, jangan putus dengannya hanya karena aku."

"Keputusan itu tidak ada hubungannya denganmu." Luhan menyapukan bibirnya ke ujung hidung Minseok. "Tapi karena Yixing pantas mendapatkan lebih dari sekedar menjadi wanita yang diandalkan oleh seseorang. Aku pikir dia akan menjadi sosok yang tepat untuk Sehun, dan itu saja sudah cukup. Tapi belakangan ini aku menyadari, jika tidak tepat untukku, maka tidak akan tepat juga untuk Sehun."

"Aku tidak siap untuk berhubungan denganmu sekarang," ujar Minseok terang-terangan. "Aku belum siap."

Jemari Luhan terentang dirambut Minseok, menyisirinya dengan perlahan. "Menurutmu kapan kau siap?"

"Aku tidak tahu. Aku membutuhkan sosok transisi terlebih dahulu."

"Aku akan menjadi sosok transisi itu."

Bahkan sekarang, disaat Minseok sedang bimbang, Luhan tetap bisa membuatnya tersenyum. "Kalau begitu, siapa yang akan menjadi pria setelahnya?"

"Aku juga akan menjadi pria itu."

Tawa lepas terlontar dari mulut Minseok. "Luhan. Aku tidak..."

"Tunggu," sela Luhan dengan lembut. "Terlalu dini bagi kita untuk membahas masalah ini. Untuk sekarang, tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Ikuti aku, kita akan menemui Sehun."

Gaho bangun dan mengikuti mereka.

Sehun sedang berada diruang tamu yang menyambung dengan dapur, bergelung disofa dengan selimut tebal dan bantal empuk. Sehun sudah tidak lagi terlihat lemah dan lesu seperti kemarin, tapi masih sedikit pucat. Saat melihat Minseok, Sehun tersenyum dan mengulurkan tangannya.

Minseok menghampiri gadis kecil itu dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. "Coba tebak siapa yang kubawa?" tanya Minseok diatas rambut Sehun. Sehun memang sudah diberitahu Luhan mengenai anjing milik Minseok.

"Gaho!" seru Sehun dengan riang.

Saat namanya dipanggil, bulldog itu langsung ke sofa dengan mata membelalak dan seringaian ompong. Sehun menatap anjing itu dengan kaget, dan terhempas ke belakang saat Gaho meletakkan kaki depannya ke pinggir sofa dan berdiri hanya dengan kakinya yang pincang. "Dia terlihat lucu," bisik Sehun pada Minseok.

"iya, tapi dia tidak mengetahuinya. Dia pikir dia sangat rupawan."

Sehun tergelak dan mencondongkan tubuh kedepan untuk membelai Gaho dengan penuh kasih sayang.

Sambil mendengus, gaho membaringkan kepala besarnya pada Sehun dan memejamkan matanya dengan puas.

"Dia suka diperhatikan," ujar Minseok pada Sehun, yang mulai membelai dan mengajak bicara anjing manja itu. Minseok tersenyum dan mencium kepala Sehun. "Aku harus pergi sekarang. Terima kasih karena kau mau mengasuhnya hari ini, Sehun. Saat aku kembali untuk menjemputnya nanti, aku akan membawakan kejutan untukmu dari toko mainan."

Luhan mengamati dari ambang pintu, tatapannya terlihat hangat dan penuh perhatian. "Kau mau sarapan dulu?" tanyanya. "Kami punya telur dan roti panggang."

"Terima kasih, tapi aku sudah makan."

"Kalau begitu, coba jeli ini," seru Sehun. "Luhan samchon membuatnya dalam tiga warna. Dia memberiku sebagian dan mengatakan kalau itu semangkuk pelangi."

"Oh, ya?" Minseok tersenyum pada Luhan. "Senang sekali mendengar samchon-mu menggunakan imajinasinya."

"Kau belum tahu saja," timpal Luhan. Luhan mengantar Minseok ke pintu depan dan memberinya termos kopi. Minseok merasa senang dengan kenyamanan yang dirasakannya. Anjing, anak, pria dengan kemeja flanel, rumah besar yang belum selesai direnovasi...semua terasa sempurna.

"Rasanya tidak pertukaran yang adil," ujar Minseok. "Kopi istimewa ditukar dengan sehari bersama Gaho."

"Jika itu berarti aku bisa bertemu denganmu dua kali sehari," timpal Luhan. "Aku akan menerima kesepakatan itu setiap saat."

.

.

.

TBC

.

.

.

Hue menboong sama mas cahyo T.T bukan bias tapi serasa memiliki #plaks

Xiurici: ini untuk semangat kamu yang berapi-api walo yg ngetik mata sudah lima watt :v thanks reviewnya, walo ini juga gk panas tapi jangan dibaca pas puasa yeth.

Tobanga garry: aku juga suka banget ni couple tp yang nulis pake pair ini jarang pake banget. Semoga ini bisa ngobati kerinduan couple yang udah karam itu T.T

Lavenderonyxminkmink: gk papa yg penting review :3 thanks ya, ditunggu reviewnya lagi.

Lily levia: iya sama2 ^^ udah bisa ditebakkan hubungan hanxing mo dibawa kemana.

Lu hanmin: yg pas wawancara Yixing pegang Minseok terus ditampik ma Luhan, duh han kamu overprotektif sekali. Bengek inget mereka hiks.

Ayp: aku juga mauuu~~~

Elferani: Lumin fightingggg~~ duh kayaknya Luhan cinta beneran deh say.

Adamas Azalea: kalo nyebut anjing bulldog langsung kepikiran anjingnya bebeb jiyong nih duh, si anjing legendaris :v iya moga Luhan diberi jalan yang mulus semulus pantas Gaho kkkk iya nih semangat juga ya puasanya buat kamu ^^

Naik kapal xiuhan: moga ini gk kelamaan ya, ini udah diluangkan waktunya XD thanks reviewnya.

Yehethun: iye XD

Rlike: moga ya...ini tinggal dikit lagi end kok tenang ajah.

Fansnya Lumin: aku juga cinta kamu ^^

Park eun yeong: iya, thanks udah nunggu, ini update untuk kamu :3

Luminie: konflik dikit, seperti yg aku dah bilang ff ini ceritanya ringan kok ^^

Saya sayya: thanks udah mampir ^^

Alice: pertama baca aku juga nyesek pas interaksi sehun sama paman2nya yg ganteng itu T.T i know what you feel.

Udah ngantuk pake banget. See you next time, review again please. Ketemu lagi habis lebaran ya ^^

Maap lahir batin XD