Disclaimer :

Detektif Conan milik Gosho Aoyama.

Catatan Penulis :

Akhirnya bisa balas komen lagi!

Ebisawa-san : Oh, Conan memang seperti open book buat Ai, makanya Ai bisa tahu apa yang dipikirkan Conan. Dan punya teman seperti itu baik bagi Conan karena Conan suka menyimpan semuanya sendiri. Ai pun juga suka menyimpan semuanya sendiri dan di fic ini, Subaru berhasil membuat Ai menjadi terbuka padanya sehingga Ai selalu merasa ringan karena Subaru akan selalu menghiburnya ketika dia susah. XD

Fujita-san : Ai bakal berpaling setelah Conan dan Subaru tahu kalau Ai suka sama Subaru. XD

Rawr-san : Tentu saja nanti ada bagian Conan tahu kalau Ai suka sama Subaru dan Conan juga akan mendengarnya dari mulut Ai sendiri. XD

Vina 'apple' liana : Begitu ya? Maaf sudah mengecewakanmu. Kalau begitu bisa minta tolong kasih tahu dimana letak ke-sue-an Ai itu? Soalnya seperti yang kamu tahu sendiri, aku sebagai penulisnya, akan selalu bersikap subyektif dan memandang tulisanku sebagai tulisan yang sudah sempurna. Kalau tentang tokoh pria yang gila, sebenarnya bukan hanya aku saja, bahkan Gosho pun juga melakukannya dengan tokoh Gin. Kalau kamu membaca kasus di Hotel Haido dengan jeli, kamu akan bisa melihatnya. Apalagi yang bagian Gin mengenali Ai hanya dari selembar rambut padahal Gin itu pelupa soalnya dia tidak pernah ingat wajah orang-orang yang dibunuhnya. Gin benar-benar terobsesi pada Ai. Tapi kalau gila yang kamu maksud adalah Shinichi di JBT saat dia belum minum penawar, ya alasannya karena Shinichi masih dalam pengaruh LOVE4869. XD

Atin-san : Lho, itu kan memang sengaja dihiperbolakan. Namanya juga gosip, yang kemungkinan besar disebarkan oleh klub PKK sendiri dengan persetujuan Ai, soalnya Ai mengakuinya dengan menjawab "Begitulah". Lagipula Ai tidak mungkin membuat cake dengan ikhlas untuk kepentingan Conan jika dia tidak mendapat keuntungan, bukankah begitu? Coba tebak kira-kira keuntungan apa yang didapat Ai dari kejadian ini? XD

Septi-san : Tenang, jangan sebel dulu, karena Subaru akan lebih menyebalkan lagi di chapter-chapter depan. XD

Misyel : Huh? Conan cemburu sama Subaru? Di bagian mana? Conan kan belum tahu apa-apa karena dia tidak begitu memperhatikan hubungan Ai dan Subaru. XD

Miss Seul Phiet : OKE... OKE...

Aiwha-san : Err... sebenarnya Ran naksir yang lain...

moist fla : Kalau mau Conan sadar, coba suruh dia lebih memperhatikan hubungan Ai dan Subaru jadi dia bisa segera tahu kalau Ai suka sama Subaru. XD

Lollytha-chan : Oke ~

Phantom : Kalau begitu kamu harus membaca cerita ini dengan lebih jeli karena Ai sama sekali tidak dipuja oleh para seniornya. Karena fanfic ini adalah fanfic DC, selain membaca tulisan, kamu pun juga harus membaca pesan yang tersirat di dalam tulisan ini. Yang pertama, sudah jelas bahwa kata-kata "Ai Haibara yang semua anak laki-laki di sekolah bersedia mati hanya untuk makan cake buatannya" adalah gosip yang tersebar di sekolah. Dari semua senior Conan, hanya satu orang yang mengenali Ai dan yang seorang lagi pernah mendengar gosip itu. Selain itu, Conan sendiri tidak pernah dengar, mungkin karena dia tidak suka bergosip. Yang kedua, gosip itu kemungkinan besar disebarkan oleh klub PKK sendiri dengan persetujuan Ai karena Ai mengakuinya dengan menjawab "Begitulah". Ai juga tidak mungkin membuatkan cake untuk senior-senior Conan tanpa ada untungnya bagi dirinya. Jadi dari situ bisa didapatkan keuntungan apa yang diperoleh Ai dengan membuatkan cake untuk senior-senior Conan. Yang ketiga, gosip itu sendiri adalah tentang cake buatan Ai Haibara, bukan kecantikan Ai Haibara yang seperti dewi. Senior-senior Conan lebih memperhatikan cake-nya daripada betapa cantiknya Ai Haibara. Mereka juga bersikap baik pada Conan setelah makan cake, bukan setelah melihat kecantikan Ai Haibara yang seperti dewi. Dan cake itu adalah hasil kerja keras Ai, bukan cake yang rasanya langsung enak di percobaan pertama. Jadi coba tebak kira-kira keuntungan apa yang akan didapatkan klub PKK dengan menyebar gosip seperti itu? Aku belum nonton movie 15, karena belum sempat, tapi aku sudah lihat screenshot adegan pelukannya dan ku-upload di fesbuk. XD

Ali-san : Golongan 'mereka' siapa? Yang pernah nyadap rumahnya Profesor Agasa cuma Vermouth. Terus rumahnya Dr. Araide disadap sama FBI biar mereka bisa ngawasin Vermouth.

Shu no Tsuki : Semangat UAS-nya!

Lan-san : Sepertinya Conan akan terus galau sampai dia tahu kalau Ai suka sama Subaru. Dan saat itulah dia baru menyadari perasaannya pada Ai. XD

Momo ShinkaI : Sabar, ini udah update! XD

Hattori Yimei : Aku nggak tahu apa aku bisa mencarikan jodoh untuk Ran soalnya aku harus lebih fokus sama cerita tokoh utamanya. Mungkin nanti adegannya cuma Ran ketemu sama siapa gitu, tapi aku nggak janji. Dan maaf, aku nggak bisa menerima request-mu karena aku nggak suka ShinRan. XD

Waktunya curcol!

Setelah hari-hari sibuk, akhirnya penulis bisa bernafas lagi di akhir pekan. Ternyata kata-kata itu memang benar, kuliah itu masuknya susah, keluarnya juga susah, padahal kuliahnya sendiri nggak susah.

Tidak disangka, ternyata cerita ini sudah mencapai chapter 9. Penulis pun berharap chapter depan, penulis sudah bisa menulis tentang Conan yang menemukan bahwa Ai menyukai Subaru. Kira-kira menurut pembaca apa itu terlalu cepat atau memang sudah waktunya?

Selamat membaca dan berkomentar!


Tanpa Batas

By Enji86

Chapter 9 – Berubah

Dalam perjalanan pulang dengan mobil, Ran menyadari satu hal yang membuatnya terkejut, heran sekaligus senang. Dia melihat orang tuanya yang biasanya tidak akur dan selalu bersikap angkuh satu sama lain, mengobrol dengan santai. Itu membuatnya berharap orang tuanya akan segera rujuk dan tinggal bersama lagi.

"Hei, Conan-kun," panggil Ran dengan suara pelan sambil mendekatkan wajahnya pada Conan.

"Hmm?" sahut Conan sambil menoleh ke Ran.

"Kelihatannya hubungan ayahku dan ibuku menjadi sangat baik ya?" ucap Ran.

Conan mengalihkan pandangannya ke Kogoro dan Eri yang sedang mengobrol.

"Aku pikir begitu," ucap Conan.

"Apa kau tahu sejak kapan hubungan mereka jadi membaik seperti ini?" tanya Ran.

Conan terdiam sejenak untuk berpikir.

"Kalau tidak salah, sepertinya sejak tahun baru," jawab Conan.

"Begitu ya? Kira-kira apa ya, yang membuat hubungan mereka jadi membaik seperti ini?" tanya Ran dengan heran.

"Entahlah, Ran-neechan. Aku juga tidak tahu," jawab Conan.

"Baiklah kalau begitu. Itu tidak jadi soal. Mulai sekarang aku akan mencoba membuat Ibu pulang ke rumah," ucap Ran dengan wajah berseri-seri.

"Oi! Oi! Apa kau tidak ingat kalau setiap kali kau membuat rencana untuk menyatukan mereka, hasilnya selalu berantakan," batin Conan dengan wajah sinis.

"Aku pikir lebih baik kau membiarkan mereka berdua, Ran-neechan," ucap Conan.

"Kenapa?" tanya Ran.

"Karena hubungan mereka sepertinya berjalan mulus selama ini, jadi kalau tiba-tiba dipercepat, nanti malah tidak mulus lagi. Begitulah menurutku," jawab Conan.

"Begitu ya?" ucap Ran dengan nada ragu.

"Mmm," ucap Conan sambil tersenyum meyakinkan.

"Baiklah kalau begitu," ucap Ran kemudian dia mengalihkan pandangannya ke depan sambil berpikir. Meskipun dia berkata begitu pada Conan, dia tetap menyusun rencana di kepalanya untuk membuat ibunya pulang ke rumah. Conan adalah anak SMP jadi dia beranggapan bahwa Conan tidak mengerti hal-hal seperti itu walaupun Conan sangat cerdas sehingga pendapat Conan tidak mungkin benar.

Sesampainya di kantor detektif, mereka berempat langsung pergi ke lantai tiga. Ran pergi ke kamarnya untuk menaruh kopernya dan ganti baju. Conan pergi ke kamar mandi untuk mandi. Kogoro duduk di ruang tengah dan menghidupkan TV. Eri bolak-balik dari dapur ke ruang tengah untuk menata makanan yang tadi diantar Ai untuk makan malam.

Makanan yang dikirim Ai untuk makan malam kali ini lain dari biasanya karena Ai menyiapkannya untuk penyambutan Ran jadi makanannya terlihat mewah dan jumlahnya lebih banyak dari biasanya. Apalagi Ai tidak akan mengirim masakan lagi mulai besok, jadi Ai membuatnya lebih spesial dari biasanya. Dan Subaru juga banyak membantu Ai dalam menyiapkan makan malam ini karena Ai tidak mungkin menyiapkannya sendirian.

Sesampainya di ruang tengah, Ran menatap hidangan yang tersedia di meja dengan kagum.

"Wah, kelihatannya enak. Ibu benar-benar pintar memasak, iya kan Ayah?" ucap Ran yang sudah memulai rencananya untuk membuat ibunya kembali tinggal bersama ayahnya.

Conan yang tahu niat Ran hanya bisa facepalm karena Ran ternyata sama sekali tidak mendengarkan sarannya sementara Kogoro langsung tertawa terbahak-bahak. Eri yang keluar dari dapur sambil membawa piring lauk terakhir yang dikirim Ai langsung menaikkan alisnya ketika melihat Kogoro tertawa terbahak-bahak.

"Apa ada hal yang lucu sehingga ayahmu tertawa seperti itu?" tanya Eri pada Ran.

Namun sebelum Ran bisa menjawab pertanyaan Eri, Kogoro sudah bicara duluan dengan masih sambil tertawa.

"Kau tahu, Ran berkata kalau semua ini adalah masakanmu. Makanya aku tertawa terbahak-bahak. Oh, ini lucu sekali," ucap Kogoro sehingga Eri langsung merasa marah.

"Memang apanya yang lucu kalau Ran berkata bahwa ini semua adalah masakanku?" tanya Eri dengan nada berbahaya tapi Kogoro tidak menyadarinya karena terlalu sibuk tertawa.

"Tentu saja itu lucu. Kau tidak mungkin memasak semua ini. Masakanmu kan selalu kelihatan buruk dan rasanya sangat tidak enak sehingga bisa membuat orang keracunan. Jadi kata-kata Ran itu lucu sekali," ucap Kogoro dan dia terus tertawa.

Eri pun bertambah marah dan Ran yang melihat ini langsung memperingatkan ayahnya.

"Ayah, jangan begitu pada Ibu," omel Ran.

"Lebih baik aku pulang," ucap Eri dengan dingin sambil bangkit berdiri.

Ran pun langsung mengalihkan perhatiannya pada ibunya lalu meraih tangan ibunya.

"Ibu, kumohon jangan pulang dulu. Temani aku makan malam dulu. Aku kan baru kembali dari Hokkaido," bujuk Ran.

Sementara itu, Kogoro yang sudah menyadari situasinya segera mengendalikan diri dan berhenti tertawa.

"Ran benar, Eri. Makanlah di sini dulu," ucap Kogoro kemudian dia membuang muka. "Dan maafkan kata-kataku barusan," lanjutnya sehingga kemarahan Eri langsung reda.

Eri pun duduk kembali sehingga Ran menatap ayahnya dengan penuh penghargaan. Sementara itu, Conan menghela nafas lega karena dia sebenarnya juga ingin orang tua Ran kembali bersama. Conan mencuri pandang ke Kogoro sambil tersenyum karena Kogoro sudah mulai bersikap dewasa pada Eri.

Lalu makan malam pun dimulai.

"Wah, ini benar-benar enak. Ibu beli di restoran mana?" tanya Ran setelah dia makan beberapa sendok.

"Untuk apa Ibu beli sementara istri seseorang yang tinggal di sini sangat pandai memasak?" jawab Eri sambil balik bertanya dan melirik Conan dengan lirikan penuh arti.

"Huh? Istri seseorang yang tinggal di sini? Siapa?" tanya Ran dengan bingung.

"Tentu saja istrinya Conan-kun. Ya kan, Conan-kun?" jawab Eri sambil menggoda Conan.

"Hah? Conan-kun sudah punya istri? Apa itu benar, Conan-kun?" tanya Ran sambil menatap Conan dengan kaget. Dia tidak tahu kenapa, tapi hatinya terasa sangat tidak nyaman ketika dia mendengar bahwa Conan sudah punya istri.

Conan sudah akan menjawab tapi Kogoro sudah membuka mulutnya duluan sambil mengacak-acak rambut Conan.

"Kau tidak boleh meremehkan anak ini, Ran. Meskipun dia masih kecil begini, dia sudah mampu mencari istri yang bisa diandalkan," ucap Kogoro sambil tertawa.

"Itu tidak benar, Ran-neechan. Haibara bukan istriku," ucap Conan yang mencoba membela diri dari godaan Kogoro dan Eri.

Ran pun langsung menghela nafas lega setelah mendengar ucapan Conan, meskipun dia tidak tahu kenapa.

"Ayah, Ibu, berhentilah menggoda Conan-kun," ucap Ran untuk membela Conan.

"Siapa yang menggoda? Bukankah nama Ai Edogawa terdengar sangat bagus? Bagaimana menurutmu, Conan-kun?" tanya Eri sambil nyengir.

Entah kenapa wajah Conan langsung memerah ketika dia mendengar nama Ai Edogawa. Eri yang melihat ini langsung tertawa.

"Wah, wah, wajahnya sampai merah begitu. Bukankah itu sangat manis, Suamiku?" ucap Eri pada Kogoro.

"Sudahlah, Conan. Berhentilah menyangkal dan mengaku saja kalau kau ingin menjadikan nama belakang Ai menjadi Edogawa, ya kan?" ucap Kogoro sambil nyengir pada Eri.

"Itu tidak benar," ucap Conan masih dengan wajah memerah sehingga Kogoro dan Eri kembali tertawa. Sangat menyenangkan melihat Conan yang biasanya kelihatan sangat superior itu tidak berdaya seperti ini.

"Oh ya, kenapa Ai tidak ikut makan malam bersama kita? Bukankah aku sudah mengajaknya kemarin?" tanya Kogoro.

"Katanya dia ada urusan penting, jadi dia tidak bisa datang," jawab Conan sambil bersyukur dalam hati karena Ai tidak datang.

"Tch. Anak itu. Memang dia ada urusan penting apa?" tanya Kogoro.

"Minggu depan dia akan ikut kompetisi jadi dia mungkin sedang sibuk berlatih," jawab Conan.

"Oh begitu. Sayang sekali Ai-chan tidak bisa makan malam bersama kita. Ai-chan benar-benar pekerja keras. Kau harus mengawasi istrimu itu agar dia tidak bekerja terlalu keras dan kau juga harus mengajaknya bersantai sekali-sekali, kau mengerti, Conan-kun? Jangan mencontoh seseorang di rumah ini yang sama sekali tidak mempedulikan istrinya," ucap Eri sehingga Kogoro meliriknya dengan kesal. Tapi meskipun begitu, Kogoro setuju dengan ucapan Eri.

"Eri benar. Kau harus lebih perhatian pada istrimu itu," ucap Kogoro dengan angkuh.

"Uh, baiklah," ucap Conan karena dia sudah capek untuk menyangkal. Tapi meskipun dia bilang begitu, dia tahu menyeret Ai keluar dari dapur adalah hal yang hampir mustahil dia lakukan karena dia tidak pernah berhasil menyeret Ai keluar dari laboratoriumnya dulu.

Sementara itu, sejak melihat wajah Conan memerah, Ran hanya duduk dalam diam. Rasa tidak nyaman di hatinya kembali muncul. Rasa tidak nyaman yang hampir sama seperti rasa tidak nyaman yang dirasakannya jika melihat Shinichi dekat-dekat dengan wanita lain. Dia juga merasa ditinggalkan karena orang tuanya membicarakan Ai seperti membicarakan anak mereka sendiri. Selain itu, selera makannya juga hilang setelah dia tahu bahwa makanan di depannya adalah makanan buatan 'istri Conan'.

"Ayah, Ibu, aku mau ke supermarket sebentar. Ada yang harus aku beli," ucap Ran dan tanpa menunggu jawaban orang tuanya, dia pergi ke kamarnya untuk mengambil dompet dan jaketnya lalu melangkah ke pintu. Dia berniat menghirup udara segar untuk menenangkan diri dan membeli beberapa botol bir untuk ayahnya karena ayahnya berhasil mencegah ibunya pergi.

Kogoro dan Eri menaikkan alisnya dengan bingung tapi mereka tidak mencegah Ran pergi keluar. Conan menawarkan diri untuk ikut, tapi Ran menolaknya dan pergi sendiri.

XXX

Di sebuah kafe yang nyaman di dekat stasiun Beika, Ai dan Subaru sedang makan malam bersama. Ai mentraktir Subaru makan malam sebagai imbalan karena Subaru sudah membantunya menyiapkan makan malam untuk penyambutan Ran. Selain itu, Profesor Agasa juga sedang pergi keluar bersama teman-temannya sehingga mereka berdua bisa pergi makan malam di luar. Oleh karena itu, Ai tidak bisa ikut makan malam di kantor detektif. Setelah makan malam, Subaru mengajak Ai berjalan-jalan di taman sebentar sebelum pulang.

"Jadi apa yang akan kau buat pada kompetisi yang akan kau ikuti minggu depan?" tanya Subaru.

"Puding, sepertinya. Kemarin aku surfing di internet dan menemukan beberapa bahan yang menarik untuk puding. Sekarang yang kuperlukan adalah mencoba bahan-bahan tersebut," jawab Ai.

"Wah, aku jadi tidak sabar untuk mencoba pudingmu itu. Aku pikir kali ini kau pasti menang," ucap Subaru sambil tersenyum.

"Benarkah? Aku harap juga begitu," ucap Ai dengan nada lesu.

Subaru pun menghentikan langkahnya sehingga Ai juga ikut berhenti. Subaru melepaskan tangan Ai kemudian memegang kedua bahu Ai agar Ai menghadap kepadanya.

"Hei, kenapa kau lesu begitu?" tanya Subaru.

"Beberapa juri selalu bilang padaku bahwa cake atau puding buatanku sempurna dari segi rasa maupun nutrisi. Tapi dari sisi keindahan, masih banyak kekurangan, makanya sulit sekali bagiku untuk merebut juara satu. Kau tahu kan, dari beberapa kompetisi yang kuikuti, aku hanya mampu mendapatkan juara pertama di satu kompetisi. Selain itu, aku hanya meraih juara dua, tiga atau tidak sama sekali," jawab Ai dengan murung.

Subaru pun tersenyum kepada Ai.

"Aku tahu kau ingin selalu menjadi yang terbaik. Tapi sebenarnya yang lebih penting dari itu semua adalah kau menikmati apa yang kau kerjakan. Lagipula kalau kau merasa terbebani dan lesu seperti itu, kualitas makanan buatanmu pasti akan terpengaruh dan kau malah tidak akan dapat juara lagi, iya kan?" ucap Subaru.

"Aku rasa kau benar," ucap Ai masih dengan agak murung sehingga Subaru kembali membuka mulutnya.

"Tentu saja aku benar. Sekarang kau tidak boleh lesu lagi. Ai-chan yang penuh percaya diri lebih cocok untukmu. Lagipula kau terlihat paling cantik saat membuat makanan," ucap Subaru sambil nyengir sehingga pipi Ai langsung memerah dan senyum mulai muncul di bibir Ai.

Subaru pun tidak bisa menahan dirinya sehingga dia menggerakkan salah satu tangannya untuk membelai rambut dan pipi Ai, membuat jantung Ai berdetak tak karuan sekaligus membuat Ai bingung setengah mati. Ai pun menatap Subaru dengan tatapan penuh tanda tanya sehingga Subaru langsung sadar dan menghentikan aksinya.

"Ada debu yang menempel di rambut dan pipimu," ucap Subaru sambil tersenyum.

"Oh. Terima kasih," ucap Ai. Dalam hati dia merasa kecewa karena dia sempat mengharapkan sesuatu.

"Dasar bodoh! Tentu saja itu tidak mungkin terjadi," omel Ai pada dirinya sendiri.

Subaru kembali menggenggam tangan Ai dan mereka berdua meneruskan langkah mereka sambil membicarakan hal-hal yang lain.

XXX

Saat Ran kembali dari supermarket, dia hanya menemukan Conan yang sedang menonton TV di ruang tengah sambil makan puding.

"Ayah dan Ibu kemana?" tanya Ran sambil meletakkan belanjaannya di meja lalu duduk di sebelah Conan.

"Paman mengantarkan Bibi pulang. Besok Bibi ada sidang penting jadi Bibi harus segera pulang," jawab Conan kemudian dia kembali menyuapkan sesendok puding ke dalam mulutnya.

Melihat Conan yang sangat menikmati puding yang dimakannya membuat Ran tersenyum. Dia jadi teringat pada Shinichi sehingga Conan jadi terlihat seperti Shinichi yang sedang makan puding. Ran pun tertegun tapi kemudian Shinichi yang dilihatnya berubah kembali menjadi Conan karena Conan bicara padanya.

"Ran-neechan, ada apa? Kenapa Ran-neechan terus menatapku?" tanya Conan dengan bingung.

"Ah, tidak ada apa-apa. Maaf, Conan-kun," jawab Ran.

"Kalau Ran-neechan ingin puding, Ran-neechan bisa mengambilnya di kulkas," ucap Conan.

"Iya, aku akan mengambilnya nanti. Ngomong-ngomong, kelihatannya kau sangat menikmati puding itu. Apa kau sangat menyukai puding itu, Conan-kun?" tanya Ran.

"Mmm," jawab Conan sambil mengangguk. "Puding ini sangat enak. Ran-neechan harus mencobanya. Dan bukan hanya puding ini saja, semua puding dan cake buatan Haibara rasanya sangat enak dan aku sangat menyukainya," lanjutnya sambil tersenyum.

"Eh?" ucap Ran dengan kaget. Rasa tidak nyaman di hatinya pun muncul lagi.

Conan pun langsung sadar pada apa yang baru saja dikatakannya sehingga wajahnya langsung memerah.

"Uh... aku memang sangat menyukai puding dan cake buatan Haibara, tapi aku tidak ingin mengubah nama Haibara menjadi Edogawa. Percayalah padaku, Ran-neechan," ucap Conan karena dia tidak ingin Ran ikut-ikutan menggodanya seperti Kogoro dan Eri.

Ran terdiam sejenak kemudian dia tersenyum.

"Tentu saja aku percaya padamu, Conan-kun," ucap Ran sehingga Conan tersenyum lega karena Ran tidak akan ikut-ikutan menggodanya.

"Terima kasih, Ran-neechan," ucap Conan kemudian dia kembali mengalihkan perhatiannya ke pudingnya yang belum habis. Namun saat dia menyendok pudingnya, dia merasakan Ran memeluknya dari belakang sehingga wajahnya kembali memerah.

Ran kemudian menghela nafas di leher Conan sehingga Conan merasa agak merinding dan merasa sangat tidak nyaman.

"Err... Ran-neechan...," ucap Conan dengan ragu-ragu.

"Sebentar saja. Kau tahu kan, aku baru saja putus dengan pacarku," ucap Ran sehingga Conan akhirnya hanya diam saja.

Ran bertanya-tanya dalam hati kenapa memeluk Conan terasa seperti sedang memeluk Shinichi. Dia pun kembali melihat Conan sebagai Shinichi sehingga dia menggerakkan kepalanya, membuat bibirnya menggesek leher Conan dan itu sukses membuat Conan tersentak. Betapa inginnya dia membuat Shinichi tersentak dan mengerang karena sentuhannya, sama seperti pacar-pacarnya.

Ran memang tidak sadar, tapi semua laki-laki yang dipacarinya selalu mempunyai kemiripan dengan Shinichi. Dan ketika Ran melihat bahwa laki-laki itu ternyata tidak sama seperti Shinichi, dia akan putus dengan pacarnya itu atau pacarnya itulah yang akan memutuskannya karena pacarnya itu merasa Ran ingin mengubahnya menjadi orang lain.

Sementara itu, Conan mulai merasa ada yang salah dengan ini. Apalagi dia benar-benar merasa tidak nyaman setelah bibir Ran menggesek lehernya. Dia sudah akan membuka mulutnya agar Ran melepaskannya, tapi suara Kogoro sudah mendahuluinya.

"Ada apa ini?" tanya Kogoro sambil menaikkan alisnya.

Mendengar suara ayahnya, Ran pun langsung melepaskan Conan.

"Tidak ada apa-apa. Aku hanya sangat rindu pada Conan-kun makanya aku memeluknya," jawab Ran sambil tersenyum.

"Kau ini! Conan itu sudah SMP jadi kau jangan memperlakukannya seperti anak kecil lagi. Dia bisa ditertawakan oleh teman-temannya nanti," ucap Kogoro setelah dia duduk di atas tatami. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke Conan. "Kau juga begitu. Kau sudah SMP jadi berhentilah menjadi anak manja. Kalau kau manja begitu, istrimu akan berpaling pada laki-laki lain yang lebih jantan," ucap Kogoro.

"Oi! Oi!" ucap Conan dalam hati. Dia tidak tahu bahwa ucapan Kogoro memang ada benarnya karena Ai memang sudah berpaling ke laki-laki lain yang lebih jantan.

"Oh iya, aku tadi membelikan beberapa botol bir untuk Ayah di supermarket," ucap Ran sambil mengeluarkan botol-botol bir itu dari kantong belanjaan yang ada di atas meja.

Mata Kogoro langsung terbelalak dan dia langsung memasukkan kembali botol-botol bir itu ke dalam kantong belanjaan sehingga Ran menatapnya dengan bingung.

"Ayah, ada apa...," ucapan Ran langsung terhenti karena ayahnya menyodorkan kantong belanjaan itu ke Conan.

"Segera singkirkan benda ini dari sini. Kalau Ai sampai melihatnya saat dia mengambil kotak makanannya, dia akan mengirimku ke neraka," ucap Kogoro dengan agak panik.

"Baik, Paman," ucap Conan. Dia pun segera keluar sambil membawa kantong belanjaan itu lalu memberikan kantong belanjaan itu pada teman main mahjong Kogoro yang rumahnya tidak begitu jauh dari kantor detektif.

Saat Conan kembali, dia hanya menemukan Ran yang kelihatan bingung di ruang tengah.

"Hei, Conan-kun, sebenarnya ada apa ini? Aku sudah bertanya pada Ayah tapi Ayah tidak menjawab pertanyaanku?" tanya Ran dengan bingung.

Conan pun langsung duduk dan bercerita pada Ran bagaimana Kogoro sudah berhenti minum setelah Ai mulai 'mengawasinya'. Meskipun cerita Conan tentang cara Ai 'mengawasi' Kogoro sangat lucu, Ran tidak sanggup tertawa dengan tulus. Dia merasa tidak suka. Dia tidak terima melihat orang lain berhasil membuat ayahnya berhenti minum sementara dia tidak pernah berhasil.

Ran pun merasa dia mulai tidak menyukai Ai.

Bersambung...