Chapter 9 update !
Balasan review :
Misaki Shaoran : Maaf ya kalau sudah membuatmu bingung. Terima kasih ya…
Devilojoshi : Iya, Naruto telah muncul kok. Yup, tebakanmu untuk pairing tepat semua. Cuma yang tidak ada itu ItaFemNaru. Terima kasih ya… ga papa kalo baru review.
Yon : Maaf ya kalo kelamaan sampe Chapter 8. Biar ceritanya jelas. Terima kasih ya…
Kiyoko Yukishiro : Terima kasih. Ini sudah di update.
Swilder : Terima kasih. Di Chapter ini panjang kq. Hehehe….
Minna, Happy Reading~
Fandom :
Naruto
Disclaimer :
Masashi Kishimoto
Author :
MC Shirayuki
Genre :
Romance / Hurt / Comfort
Rating :
T
Pairing :
Uchiha Sasuke and Namikaze Naruto
Warning :
AU, Typo, OOC, Gaje
DON'T LIKE ? DON'T READ !
Uchiha Sasuke : 16 tahun
Namikaze Naruto : 15 tahun
Akasuna Sasori : 17 tahun
Uzumaki Kyuubi : 16 tahun
Uchiha Itachi : 15 tahun (Flashback)
Namikaze Minato : 30 tahun (Flashback)
Namikaze Kushina : 29 tahun (Flashback)
Namikaze Naruko : 7 tahun (Flashback)
Namikaze Tsunade : 52 tahun (Flashback)
Chapter 9 : Naruto's Story
Teng, Teng
Bel istirahat berbunyi. Naruto yang sudah beberapa saat memperhatikan Sasuke, akhirnya memulai percakapan.
"Ehm… hai" Naruto menyapa Sasuke dengan senyuman.
Sasuke hanya melihat Naruto sebentar dengan tatapan datarnya. Tanpa mengucapkan apapun, Naruto berdiri dari tempat duduknya. Dia ingin pergi. Namun dengan penasaran, Naruto kembali berkata.
"Perkenalkan, namaku Namikaze Naruto." Naruto mengulurkan tangannya.
"Ya, aku sudah tahu. Kan tadi sudah disebutkan." Sasuke tidak menerima tangan Naruto, dia hanya melirik sekilas tangan Naruto sebelum perhatiannya tertuju kembali pada bukunya.
"Hahaha, betul juga ya. Apa aku boleh tahu namamu ?" Naruto menarik kembali tangannya.
"Kan tadi guru sudah memberitahumu. Namaku Sasuke. Uchiha Sasuke."
"Hei, jaga ucapanmu terhadap nona Naruto ya…" Sasori menatap Sasuke dengan tatapan yang menyeramkan.
"Memangnya siapa kamu ?" Sasuke membalas tatapan Sasori.
"Kamu ini… nama nona bisa kau ingat, tapi namaku tidak. Tadi kan sudah disebutkan. Namaku Akasuna Sasori"
"Karena hal yang seperti namamu tidak penting, jadi tidak diingat juga tidak apa-apa" Sasuke menatap datar Sasori.
Sasori menjadi marah. Kini, mereka saling menatap. Menyebalkan sekali perilaku bocah ini. Huh, hanya karena dia berasal dari keluarga Uchiha, bukan berarti semua berada di bawah kekuasaannya. Aku tidak akan pernah membiarkan nona dekat-dekat dan berteman dengannya.
"Sudah, hentikan Sasori" Naruto menggenggam tangan kiri Sasori.
Seketika ekspresi dan tatapan mata Sasori berubah menjadi lembut.
"Baik, nona" Sasori menoleh kearah Naruto dan tersenyum.
"Uchiha ya… oh, pantas saja. Wajahmu mengingatkan aku dengan seseorang yang aku kenal. Apakah kamu kenal dengan…"
Belum selesai Naruto berbicara. Kyuubi memanggil Naruto sambil menghampirinya."Naruto, ayo kita makan bersama. Sasori juga."
"Ya, benar. Ayo makan, nona. Aku tidak mau kamu telat makan dan akhinya sakit."
"Ah… baiklah. Maaf ya Sasuke, kita selesaikan percakapan kita nanti. Apa kamu mau ikut makan bersama Sasuke ?" Naruto manatap Sasuke.
Sasori menatap Sasuke dengan tatapan mengintimidasi. Sasuke membalas tatapan Sasori dengan tatapan yang datar.
Sasuke berdiri. "Tidak" Sasuke menjawab sambil berjalan. Sasuke hanya menjawab tidak karena tidak ingin mencari masalah dengan Sasori. Takut ? Tidak, Sasuke tidak takut dan tidak akan pernah takut dengan Sasori.
Naruto hanya menatap punggung Sasuke dari belakang. Naruto hanya memandangnya dalam diam. Sebenarnya Naruto ingin sekali bisa berteman dengan Sasuke. Namun, melihat sifat dan sifatnya yang seperti itu, mungkin akan makan waktu yang cukup lama. "Hah…" Naruto menghela nafas.
"Ayo nona" Sasori menarik tangan Naruto dan Naruto menarik tangan Kyuubi.
Sasuke yang mengingat kejadian tadi langsung berpikir dalam hati. Pembicaraan tersebut berhasil menarik minat Sasuke untuk mengetahui kelanjutan dari percakapan tersebut. Entah karena hal apa, tapi Sasuke menjadi sangat penasaran akibat perkataan menggantung dari Naruto.
"Apa yang sebenarnya ingin dibicarakan anak itu ? tapi… kenapa aku jadi penasaran dengan apa yang mau disampaikan dia ? wajahku… mirip dengan seseorang ? tapi… siapa ? apa mungkin…".
Tanpa diketahui, ada sepasang mata yang sudah agak lama memperhatikan gerak-gerik dan percakapan mereka. Sosok tersebut memperhatikan mereka dengan sangat rinci. Perlahan sosok tersebut tersenyum kecil. Senyum yang licik. "Hm… menarik" batinnya. 20 menit kemudian.
Teng, Teng.
Bel menandakan jam istirahat telah selesai. Para murid kembali kekelas masing-masing. Sasuke masih memikirkan apa yang mau dikatakan Naruto tadi. Tapi, Naruto tidak terlihat ingin melanjutkan pembicaraan tadi. Naruto hanya fokus kepada pelajaran yang diterangkan oleh guru yang sedang mengajar saat itu. Tanpa disadari, sepanjang pelajaran berlangsung, Sasuke menatap Naruto yang sedang belajar. Sasori menoleh sedikit kearah Naruto tanpa diketahui, dan tanpa sengaja dia melihat Sasuke yang sedang memperhatikan Naruto. Ekspresi wajah Sasori pun berubah. Pelajaran pun berlangsung dengan tenang, tak lama…
Teng, Teng
Bel istirahat kedua berbunyi. Guru yang sudah selesai mengajar, berjalan keluar ruangan. Naruto yang tidak sengaja melihat kearah Sasuke, saat ingin merapikan buku pelajarannya, terkejut. Dia melihat Sasuke yang sedang menatapnya.
"Sasuke… Sasuke…?" Naruto mendekatkan wajahnya ke wajah Sasuke dan melambaikan tangannya di depan wajah Sasuke.
Sasuke yang tersadar dari lamunannya, seketika wajahnya merona karena ketahuan sudah memperhatikan Naruto sepanjang pelajaran berangsung. Sasori pun menoleh kearah Sasuke.
"Ada apa ?" Sasuke mulai memasang tatapan datar lagi.
"Sasuke, kamu sedang melamunkan apa ?"
"Tidak. Bukan apa-apa"
"Oh… ya sudah" Naruto mengangguk pelan.
"Pasti kamu sedang memperhatikan betapa cantiknya nonaku ini kan…?" Sasori menatap Sasuke dan menyipitkan matanya.
Seketika, wajah Sasuke dan Naruto merona.
"Tidak. Jangan bercanda ya" Sasuke berusaha mengelak. Ketahuan telah memperhatikan seorang wanita ? Bagaimanapun, bagi Sasuke hal ini benar-benar memalukan. Sangat menyebalkan baginya karena telah bertemu dengan orang seperti Sasori.
"I-iya. Benar. Kamu ini bagaimana Sasori ? masa ada laki-laki yang memperhatikanku ?" Naruto juga ikut mengelak.
"Aku tidak bercanda, nona… Nona itu sangat cantik. Aku seorang laki-laki. Dan aku juga suka memperhatikan nona." Sasori tersenyum penuh arti kearah Naruto.
"A-aku tidak yakin kalau aku cantik. Tentu saja kamu memperhatikanku. Kamu kakakku kan…"
"Ya, tentu… Aku kakakmu. Dan juga pelayanmu"
"Hah ? pelayan ? kamu pelayannya ?" Sasuke yang bingung dengan percakapan Naruto dan Sasori akhinya membuka suaranya.
"Ya, benar. Maka dari itu, jangan macam-macam dengan nonaku." Sasori menatap Sasuke dengan tatapan tidak suka.
"Sudahlah, Sasori." Naruto memegang bahu kiri Sasori. Lalu menoleh kearah Sasuke. "Hah… sifatnya memang seperti itu."
"Naruto…"
"Ya ?"
"Tadi waktu istirahat pertama, kamu bilang… wajahku mengingatkanmu dengan seseorang. Kalau boleh aku tahu… siapa itu ?" ekspresi Sasuke berubah menjadi serius.
"Wajahmu… mirip dengan pangeran masa laluku. Tadinya sempat aku berpikir dia adalah kamu. Tapi, memang tidak mungkin. Karena dia itu…"
Flashback
8 tahun lalu, ditaman
Langit berwarna kejinggaan menampakkan pemandangan sang mentari yang sebentar lagi akan turun dari singgasananya. Burung-burung terbang dan berbunyi seolah mengatakan bahwa sebentar lagi langit akan kehilangan cahaya besarnya. Saat itu sudah jam 5 sore. Tapi masih ada seorang gadis kecil berumur 7 tahun, yang memiliki rambut berwarna blonde dan mata yang berwarna sapphire, yang duduk sendirian dibangku taman tersebut. Gadis ini memiliki warna kulit tan yang sangat indah dan tidak lupa dengan tiga garis yang berada di pipinya menambah kesan imut padanya. Gadis ini memakai sebuah terusan polos tanpa lengan yang berwana biru. Dan dia juga memakai sepasang sepatu flat berwarna biru. Tak lama, lewat seorang pria berumur 15 tahun. Pria itu mempunyai rambut hitam panjang yang di ikat satu di belakang dan mata berwarna onyx yang indah. Dia memakai seragam sekolah anak SMA khas Emerald International High School. Kemeja lengan panjang berwarna biru muda, jas berwarna hitam dengan lambang sebuah diamond dan dua buah bintang di kiri jasnya, dasi bermotif kotak-kotak berwarna biru tua, celana panjang berwarna hitam, kaus kaki putih dan sepatu pantovel berwarna hitam. Dia membawa tas slempang berwarna hitam. Pria itu berjalan sambil melihat kearah pemandangan langit sore yang indah itu. Secara tidak sengaja, dia melihat gadis kecil itu dan berjalan menghampirinya.
"Hai, anak manis. Nama kamu siapa ? kenapa kamu berada disini jam segini ? ini sudah mau malam, nanti orang tuamu khawatir padamu."
"Kakak siapa ? aku tidak boleh memberitahu namaku kepada orang yang mencurigakan. Dan aku… sudah tidak punya orang tua. Mereka meninggal dalam kecelakaan yang terjadi 3 bulan yang lalu. Aku tinggal dengan nenekku sekarang. Tapi karena aku berasal dari keluarga Namikaze, nenekku menyuruhku belajar terus. Aku bosan. Aku juga mau bermain seperti anak- anak yang lainnya." Anak tersebut menatap pemuda itu lekat-lekat.
"Hahaha… aku tampak seperti orang jahat ya… Hm, Maafkan kakak ya… kakak tidak tahu orang tuamu sudah tak ada." Pemuda tersebut menunjukkan ekspresi menyesal.
"Ya, tidak apa-apa. Hm… namaku Naruto. Namikaze Naruto."
Pemuda tersebut sedikit terkejut. "Hm… kamu percaya padaku ? hahaha… namaku Uchiha Itachi. Dan kalau kakak pikir, nenekmu sayang kepadamu. Dia mau kamu belajar, karena ingin kamu pintar. Kamu kan anggota keluarga bangsawan Namikaze. Karena keluarga Namikaze pasti membutuhkan seorang pewaris yang dapat diandalkan. Nah, sekarang kamu pulang ya… jangan buat nenekmu khawatir. Sini kakak antar. Kakak tahu di mana mansion-mu." Itachi berjongkok membelakangi Naruto.
"Ya, aku percaya. Dan terima kasih kakak… Oh iya, aku kenal nama keluarga Uchiha. Itu nama keluarga bangsawan terkaya se-Eropa. Apa kakak juga akan menjadi pewarisnya ?" Naruto berjalan mendekati Itachi dan melingkarkan lengannya peda leher Itachi.
Kedua tangan Itachi digerakkan ke belakang untuk menahan berat tubuh Naruto. Itachi berdiri dan mulai berjalan. "Iya, seluruh keluargaku sangat percaya bahwa aku bisa mewarisi tanggung jawab keluargaku."
Naruto tertegun sejenak. "Begitu ya… apa kakak selalu belajar ?"
"Tentu. Aku tidak ingin membuat kepercayaan yang diberikan kepadaku terurai dan hancur begitu saja."
"Baiklah kalau begitu ! aku akan rajin belajar supaya bisa menjadi pewaris juga." Naruto merasa rasa semangatnya untuk belajar tiba-tiba saja muncul.
"Baguslah. Kalau begitu, ketika kita sudah sama-sama sah menjadi pewaris, kita akan membangun kerjasama yang baik antara perusahaan kita. Bagaimana ?" Itachi menoleh dan tersenyum kearah Naruto.
"Iya ! Kakak janji ya akan menjadi pewaris bersama denganku."
"Iya, kakak janji. Kamu juga ya…" Itachi tersenyum lembut.
"Ya" Naruto tersenyum. Naruto merasa sangat senang. Dia dapat membayangkan sekilas masa depannya. Dimana dia dan Itachi sudah sah menjadi seorang pewaris dan mereka melakukan berbagai kerjasama antar perusahaan. Naruto akan bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan Itachi.
Tak lama, terlihat sebuah gerbang berwarna silver dengan ukiran khas bergaya Eropa dan di dalamnya terdapat sebuah bangunan mewah bergaya Eropa. Beberapa pria berpakaian serba hitam berada di dekat gerbang tersebut. Bangunan tersebut berwarna putih dan bertingkat tiga. Disekeliling rumah tersebut masih terdapat lahan luas yang ditumbuhi oleh rumput hijau yang terawat. Terdapat berbagai jenis bunga dan pohon yang tersusun rapi di sekitar bangunan tersebut. Akhirnya, mereka tiba dimansion keluarga Namikaze.
Itachi berjongkok dan Naruto melepaskan tangannya dari leher Itachi. "Sampai jumpa ya, kak…" Naruto melambaikan tangannya kepada Itachi.
"Iya, sampai jumpa." Itachi melambaikan tangannya kepada Naruto.
Naruto yang sudah berlari beberapa langkah tiba-tiba membalikkan tubuhnya. "Apa aku bisa bertemu dengan kakak lagi ?"
"Aku tidak tahu. Tapi kalau kamu tidak ada kegiatan di tiap hari Sabtu, kamu bisa menungguku ditaman tadi. Hanya hari Sabtu aku tidak ada kegiatan sepulang sekolah. Tapi mungkin, tidak setiap hari Sabtu aku akan melewati taman itu lagi"
Naruto menempelkan jari telunjuk tangan kanannya ke dagunya dan berpikir sejenak. "Baiklah, aku tidak ada pelajaran tambahan setiap hari Sabtu, aku akan menunggu kakak."
"Tapi, kenapa kamu mau menungguku ?" Itachi menjadi heran. Mengapa gadis ini mau menungguinya ? apakah dia tidak ada kerjaan ? atau dia memiliki alasan ? Itachi benar-benar tidak bisa membaca pikiran anak kecil.
"Rahasia… tapi mungkin suatu saat aku akan memberitahu kakak alasannya." Naruto tersenyum.
"Hahahaha… anak kecil memang sulit dimengerti. Cepat masuk kerumahmu…"
"Iya" Naruto pun melangkahkan kakinya memasuki mansion Namikaze. Hari ini dia merasa sangat senang. Mungkin setelah ini hari-harinya akan kembali menyenangkan seperti saat keluarganya masih hidup.
Setelah hari itu. Setiap hari Sabtu. Saat tak ada pelajaran tambahan, Naruto selalu datang ketaman itu untuk bertemu dengan Itachi. Dia dan Itachi suka bermain ditaman itu.
Tapi, setelah 2 bulan, Itachi sudah 2 kali tidak datang ketaman itu lagi. Naruto hanya berpikir bahwa Itachi tidak bisa datang. Namun, Naruto sangat terkejut dan tidak percaya pada kenyataan ketika mendengar kabar bahwa Itachi sudah meninggal. Sejak saat itu, Naruto menjadi pemurung seperti dulu sesudah keluarganya meninggal dan sebelum bertemu dengan Itachi. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamarnya. Pagi hari yang cerah di mansion Namikaze. Tepatnya di sebuah kamar yang luas yang mempunyai perabotan bergaya Eropa. Dinding kamar tersebut berwarna sapphire. Atau lebih tepatnya kamar tersebut di dominasi oleh warna sapphire. Di dalam kamar tersebut terdapat sebuah ranjang berukuran queen size. Di atas ranjang tersebut terdapat seorang anak perempuan yang sedang duduk sambil memeluk kedua lututnya. Anak perempuan tersebut sedang menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya. Dia merasa kesendiriannya sangat menakutkan. Dia benci. Dia benci kalau teru-terusan harus kehilangan orang-orang yang disayanginya. Kemudian terdengar langkah kaki seseorang yang perlahan mendekat dan berhenti tepat di depan kamar tersebut. Tak lama, terdengar suara ketukan dari pintu kamar tersebut.
Tok, Tok, Tok
"Ya, silahkan masuk." Anak perempuan tersebut mengangkat wajahnya dan menoleh kearah pintu.
"Permisi, nona muda." Terlihat seorang maid yang sedang berdiri di pintu tersebut.
"Ada perlu apa ?"
"Nyonya memanggil anda untuk segera menemuinya di ruang tamu. Katanya, ada sesuatu yang ingin diberikan kepada anda."
"Baiklah, aku akan segera menemuinya."
Lalu anak perempuan tersebut bangun dari tempat tidurnya dan pergi keruang tamu untuk menemui neneknya.
"Apa yang ingin nenek kasih kepadaku ? sampai memanggilku kesini." Anak tersebut duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu.
"Naruto, kamu pasti sudah tahu kan kalau 7 bulan yang lalu ayahmu Minato, ibumu Kushina, dan saudara kembarmu Naruko mengalami kecelakaan yang telah di duga kemungkinan besar telah di rencanakan. Aku sangat khawatir kepadamu. Karena itu, nenek telah mencarikan kamu pengawal yang umurnya sama atau tidak jauh berbeda denganmu supaya dapat terus melindungimu. Memang sangat sulit mencarinya. Tapi nenek menemukannya disebuah panti asuhan. Umurnya 8 tahun, dia anak yang kuat dan pintar dan dia juga juga setuju untuk menjadi pelayanmu dan melindungimu." Tsunade menoleh kearah seorang pelayan yang sedang berdiri di sebelah kanannya. "Tolong kamu bawa Sasori kesini."
"Baik, nyonya" Pelayan itu segera pergi.
Naruto hanya terdiam. Tak lama, pelayan itu datang bersama dengan seorang anak laki-laki yang memiliki rambut berwarna merah dan mata yang berwarna cokelat yang indah.
"Naruto, perkenalkan. Namanya Akasuna Sasori. Sasori, perkenalkan. Ini cucuku, namanya Namikaze Naruto. Mulai sekarang kamu harus melindunginya sebagai seorang pelayan dan sebagai seorang kakak."
Lalu, Sasori berjalan perlahan kearah Naruto. Dia berhenti tepat didepan Naruto dan dia memegang tangan Naruto layaknya seorang putri.
"Aku, Akasuna Sasori. Mulai sekarang akan melindungimu." Sasori menatap Naruto dengan pandangan yang lembut.
"Senang berkenalan denganmu." Naruto tersenyum. Dia merasa mungkin kesepiannya selama ini bisa terisi dengan keberadaan Sasori di sisinya.
End of Flashback
"…sudah meninggal." Naruto kembali melanjutkan kalimatnya yang tadi sempat terputus. Sasuke terkejut saat dia mendengar kata-kata Naruto. Tiba-tiba Sasori berbicara menyela percakapan Sasuke dan Naruto.
"Nona, mau temani aku kesuatu tempat tidak ?"
"Tapi, kemana Sasori ?"
"Ayolah, nona ikut saja. Ya…?" Sasori memasang wajah memohon.
"Hm… baiklah. Kyuubi kemana ?" Naruto mengedarkan pandangannya kepenjuru kelas.
"Kyuubi tadi keluar kelas. Kayaknya dia mau keperpustakaan. Dia juga kan sering keperpustakaan saat disekolah lama kita. Baiklah… Ayo, nona…" Sasori dan Naruto keluar kelas.
Saat Naruto dan Sasori sudah keluar. Sasuke masih memikirkan kata-kata Naruto sejenak. Lalu Sasuke memutuskan untuk pergi kehalaman belakang sekolah. Sasuke berjalan perlahan, saat hampir sampai dihalaman. Dari kejauhan, Sasuke melihat ada 2 orang disana. Ternyata mereka adalah Naruto dan Sasori.
Naruto dan Sasori tampak seperti sedang membicarakan sesuatu. Mereka terlihat sangat akrab ketika berbicara. Lalu Sasori membicarakan sesuatu yang membuat wajah Naruto merona.
Manis
Itulah yang ada dipikiran Sasuke saat melihat ekspresi Naruto yang merona. Kemudian Naruto tertawa, bercanda, marah dengan wajah merona ketika Sasori mulai membicarakan sesuatu. Tanpa disadari oleh Sasuke, wajahnya ikut merona dan jantungnya berdetak lebih kencang.
"Apakah aku telah jatuh cinta ? apa mungkin hidupku akan kembali seperti saat Sakura masih hidup ?" Sasuke berpikir sambil melihat kearah Naruto.
Tanpa disadari oleh siapapun, ada seseorang di taman itu juga. Dia memperhatikan Sasuke, Naruto, dan Sasori dalam diam.
"Sasuke…" Orang tersebut bergumam.
Lalu, Sasuke berjalan pergi menjauhi taman dan pergi menuju kelas. Saat ini perasaan hatinya benar-benar membuatnya bingung.
Thanks for read
Mind to review ?
