Disclaimer: I own nothing but the plot.
Chapter 9
"Oke. Kita menemukan Horcrux yang lain—well, semoga—tapi kita masih belum bisa menghancurkan Horcrux yang ada," gumam Hermione.
Senyum yang tadi mengembang di wajah Harry runtuh seketika. "Oh. Benar,"
"Kalau begitu cari caranya. Kau sudah menghancurkan salah satunya kan?" kata Draco, bersandar di tembok dengan kedua tangannya terlipat di dada.
"Tidak semudah itu Malfoy," keluh Harry, bangkit dari kursi dan mengusap wajah dengan kedua tangannya. "Dulu aku menggunakan racun Basilisk. Dan sekarang, jika aku menginginkan racun Basilisk aku harus pergi ke Hogwarts!" Harry kini bersandar di tembok, di samping Draco.
"Dan kami yakin Hogwarts dijaga ketat," lanjut Hermione.
"Yah kalian benar. Hogwarts dijaga sangat ketat. Alarm apparate dimana-mana!" Draco mengangkat bahu. "Suruh saja si peri rumah itu. Dia bisa kabur dari Hogwarts dan datang kemari ketika kau memanggilnya,"
Semua orang kini menoleh pada Draco. Mata mereka semua terbuka lebar dan ekspresinya takjub. Semua kecuali Luna, yang hanya tersenyum memandangi Draco.
"Oh. Ternyata kau pintar juga Draco," kata Luna, memecah kesunyian.
"Brilian Draco!" puji Hermione yang kini tersenyum lebar.
"Wow. Siapa sangka kau ternyata cukup pintar, eh?" goda Harry, terkekeh dan menepuk bahu Draco pelan. Draco mendengus. "Oh. Tapi bagaimana kalau kita pergi besok?"
"Besok? Kenapa tidak sekarang kalau kita bisa, Potter?"
"Aku rasa, Luna dan yang lainnya membutuhkan perawatan lebih, Draco," jawab Narcissa.
"Mrs Malfoy—"
"Harry. Tolong. Narcissa,"
"Oh benar. Maaf Narcissa, kebiasaan," Harry nyengir polos. "Seperti—Narcissa katakan tadi, kita harus mengawasi mereka. Seperti Mr Ollivander yang benar-benar membutuhkan perhatian,"
"Bawa saja mereka ke teman-temanmu!" seru Draco. "Maaf Loony, tapi aku rasa kalian akan mendapatkan perawatan lebih baik dengan teman-temanmu. Kalian tahu, kelompok kalian waktu kelas lima itu,"
"Tidak apa-apa. Draco benar. Mungkin Orde bisa membantu. Dan kami bisa meyakinkan mereka bahwa Draco dan Narcissa tidak lagi di pihak dia," kata Luna tenang.
Harry berpikir sesaat. Ide Luna tidak buruk, tapi apa mereka benar-benar bisa menerima Draco dan Mrs—oke, Narcissa, seperti Harry dan Hermione? Harry ingat betul bahwa Keluarga Weasley sangat tidak menyukai keluarga Malfoy. Dan Dean yang bahkan bisa diselamatkan karena campur tangan Draco masih tidak mempercayainya. Mrs Weasley tidak akan menyukai ini.
"Bagaimana kalau kalian modifikasi ingatan kami supaya kami bisa meyakinkan Orde bahwa Draco dan Narcissa menyelamatkan kami," kata Luna lagi. Harry mematung. Luna selalu seperti itu, bersikap dam berbicara seakan dia mengetahui isi pkiran orang.
Hermione menghela nafas. "Modifikasi ingatan itu berbahaya. Salah-salah, kita bisa menghapus seluruh ingatan kalian. Kalian bisa tidak mengingat siapa diri kalian lagi,"
"Tapi kamu bisa melakukannya dengan lancar. Maksudku dengan kedua orangt—" Hermione mendelik tajam pada Harry, yang langsung berhenti bicara dan menggaruk-garuk kepalanya. "Oke aku akan diam,"
Luna menghampiri Hermione dan menggenggam kedua tangannya erat. "Tidak apa-apa Hermione. Aku mempercayaimu. Kamu tidak akan menghapus seluruh ingatan kita. Lagipula, lebih aman begini. Dean dan Mr Ollivander masih tidak percaya pada Draco dan Narcissa seperti kita. Jika kamu membuat mereka percaya, akan lebih mudah meyakinkan Orde tentang Draco dan Narcissa,"
Hermione menghela nafas lagi. Luna benar. Semua orang akan diuntungkan dengan ini. Hermione bisa memodifikasi ingatan mereka jadi Draco dan Narcissa bisa berada di bawah perlindungan Orde.
"Oh dan pastikan kalian menghapus ingatan tentang Horcrux," kata Luna lagi.
"Err—kenapa?" tanya Draco.
"Gampang saja. Jika kita tahu, seluruh anggota Orde akan tahu. Jika suatu hari nanti salah satu dari kami tertangkap oleh komplotannya," Luna mengangkat bahu. "Dia akan tahu. Dan mungkin dia malah akan membuat lebih banyak Horcrux lagi,"
Harry dan Hermione saling pandang. Mereka berdua sadar kalau apa yang Luna katakan benar adanya. Terlalu beresiko jika mereka tahu. Beresiko untuk mereka dan juga beresiko untuk Harry dan Hermione. Seluruh rencana mereka bisa gagal dan lebih parahnya lagi, dia akan merajalela lebih lama. Tidak ada seorang pun yang menginginkan hal itu, terutama Harry. Dia sudah menginginkan hidup yang tenang bersama Hermione.
"Oke. Kita ambil suara. Siapa yang setuju dengan ide Luna tadi?" tanya Hermione.
Luna langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Draco mengacung. Begitu pula dengan Narcissa. Tidak lama, Harry ikut mengangkat tangannya.
"Oke kalau begitu. Sudah kita putuskan. Kami akan menghapuskan ingatan kalian,"
0oooo0oooo0
Dobby membawa Luna, Dean, Mr Ollivander dan Griphook si Goblin ke Grimmauld Place lalu langsung kembali ke tempat persembunyian Draco untuk membawa Harry, Hermione dan Draco ke Hogwarts. Tapi sesuatu terjadi.
Hermione merasa tidak enak badan sejak pagi. Dia merasa sangat lemas dan juga terlihat pucat. Jadi Harry bersikeras meminta Hermione untuk tinggal sementara ia pergi dengan Draco. Tentu saja, Hermione menentang keras hal itu.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?!" kata Hermione keras. Dia duduk di atas ranjang rusak sementara Harry berdiri di depannya dengan kedua tangan terlipat di dada.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?! Demi celana dalam Merlin! Hermione! Kamu sedang sakit!"
Draco yang sejak tadi berdiri di mulut pintu hanya menggeleng-geleng pelan. "Panggil aku jika kalian sudah memutuskan kalau ini hanya membuang-buang waktu," ujar Draco sambil melangkah pergi.
Hermione mendelik ke arah Draco dan mendengus kesal. Dia benar-benar tergoda untuk menyumpal mulut Draco kali ini.
Harry menghela nafas. "Hermione, aku mohon. Jangan lakukan ini," Harry berlutut di depan Hermione, menggenggam kedua tangannya. "Aku ingin kamu tinggal disini dengan Narcissa. Aku ingin kamu tetap aman. Jika sesuatu terjadi padamu, aku tidak punya alasan untuk tetap berjuang,"
"Jika sesuatu terjadi padamu Harry, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri. Aku sudah berjanji untuk selalu berjuang disisimu. Kamu ingat itu?"
"Aku ingat itu dengan sangat jelas. Tapi kamu sedang tidak sehat. Lagipula aku tidak pergi sendirian, aku bersama Draco dan Dobby. Jika sesuatu terjadi, Dobby bisa langsung membawa kami pergi,"
Hermione sadar kondisinya sedang tidak baik. Dia juga sadar, kalau ia bersikeras ikut, dia hanya akan jadi beban bagi Harry dan Draco. Dan jika Hermione memaksa Harry untuk tetap tinggal, dia akan semakin tidak terkendali. Harry harus pergi. Tapi terlalu banyak pikiran buruk melintas di benak Hermione saat ini.
Seandainya dia tidak pernah ada….
"Berhati-hatilah. Harry," bisik Hermione.
Harry tersenyum kecil. Ia mencodongkan tubuhnya, mencium Hermione pelan dan lembut. Merasakan kedua tangan Hermione mengalung di lehernya.
"Aku pasti kembali. Aku berjanji,"
0oooo0oooo0
Satu jam berlalu setelah Dobby membawa Draco dan Harry pergi. Dan setiap detik, kekhawatiran Hermione semakin besar. Bahkan buku tidak bisa mengalihkan perhatiannya. Hermione bangkit dari kursi, tiba-tiba kedua kakinya terasa lemas dan kepalanya pening. Beruntung, Narcissa ada di sana. Dia menangkap Hermione sebelum terjatuh.
"Merlin Hermione. Kamu baik-baik saja?" tanya Narcissa, membantu Hermione kembali duduk di kursi.
"Ya. Umm—terima kasih Narcissa," ucap Hermione lemah.
"Biarkan aku memeriksamu, ya? Hanya untuk memastikan,"
"Terima kasih. Tapi aku rasa tidak usah—"
"Hanya untuk memastikan Hermione. Perjalanan kita masih sangat panjang,"
Hermione menggigit bibir. Tidak yakin.
Narcissa tertawa pelan. "Tenang, sebelum aku menikahi Lucius aku mengikuti pelatihan menjadi Healer,"
Hermione menyerah dan membiarkan Narcissa melancarkan beberapa mantra ke tubuhnya. Hermione tidak merasakan apapun, tidak seperti sewaktu dia pergi ke dokter Muggle.
Mungkin ini rasanya diperiksa oleh Healer, pikir Hermione.
Pikiran Hermione berkelana. Apa yang akan dia lakukan jika semua ini berakhir? Mungkin menjadi Healer? Mengingat Harry sangat hobi pulang dengan luka di sekujur tubuhnya dari bermain Quidditch. Dan mungkin Harry akan menjadi pemain Quidditch professional. Atau Auror? Hermione ragu dia masih mau jadi Auror setelah semua ini. Tapi yang pasti, Hermione yakin Harry menginginkan beberapa mini-Harry berkeliaran di rumah—
"Hermione. Bisa aku bertanya sesuatu padamu?" pertanyaan Narcissa membuyarkan lamunan Hermione.
"Tentu saja. Ada yang salah?"
"Tidak ada yang salah. Tapi apa kamu—kamu tau—aktif secara—seksual. Dengan Harry?"
Wajah Hermione langsung memerah. "Apa—Narcissa! Apa hubungannya—itu!—dengan kesehatanku!"
Narcissa mengulum senyum. "Oh Hermione. Tentu saja itu ada hubungannya,"
Dan sekarang Hermione sangat bingung.
0oooo0oooo0
Draco menggerutu. Kenapa?
Karena Myrtle terus saja menempel di sampingnya sambil mengikik. Draco merasa sangat terganggu. Ditambah dengan senyuman lebar di wajah Harry yang sesekali meliriknya dengan tatapan 'aku-sangat-menikmati-melihatmu-terganggu'.
"Diam Potter," gerutu Draco.
"Apa? Aku tidak mengatakan apapun Malfoy," kata Harry takjub.
Dobby membawa mereka dengan selamat ke dalam Hogwarts. Dan sekarang dia sedang kembali ke dapur Hogwarts, sementara Harry dan Draco pergi ke Kamar Rahasia.
$buka pintunya$
Mata Draco terbuka lebar ketika ia melihat jalan menuju Kamar Rahasia. Tentu dia sering mendengar cerita tentang Kamar Rahasia di asramanya. Bagaimana Salazar Slytherin membangunnya sebagai tempatnya memelihara monsternya. Monster yang bisa 'membersihkan' Hogwarts dari Kelahiran Muggle.
"Ayo Draco. Kita segera selesaikan semua ini," kata Harry sambil melangkah masuk.
"Aku akan selalu disini ketika kalian kembali. Hihihihihi," Myrtle berbisik di telinga Draco.
Draco merinding dan cepat-cepat mengikuti Harry masuk ke dalam. Menghiraukan Myrtle yang masih terkikik-kikik di belakangnya. Harry menoleh dan tertawa begitu melihat ekspresi Draco.
"Seandainya aku punya kamera," kata Harry di sela tawanya.
"Satu tawa lagi dan aku bersumpah akan mengumpankan kamu ke dementor!"
"Tenanglah Draco. Ah kita sampai,"
Mata Draco mengikuti arah pandang Harry. Dia terpaku di tempatnya begitu menyadari pemandangan di depannya.
"Demi Salazar…itu basilisk,"
0oooo0oooo0
Harry selesai memasukkan beberapa taring Basilisk dan mengekstrasi racunnya ke dalam beberapa tabung yang disediakan Hermione di tasnya. Draco hanya memandang ke sekeliling dengan takjub, bagaimana pun itu adalah ruangan favorit Salazar Slytherin, ruangan yang menjadi legenda di antara para siswa Slytherin. Dan sekarang dia berdiri di dalamnya!
"Sudah cukup. Kita bisa pergi,"
Draco tersadar dari transnya. "Oh sudah selesai? Ayo kita segera pergi,"
Harry dan Draco kembali ke kamar mandi, dimana Myrtle—Harry mendengus geli, Draco menghela nafas keras—sudah menunggu Draco. Mereka keluar dari kamar mandi—Draco bernafas lega karena Myrtle tidak lagi mengikutinya. Harry tetap nyengir—dan mendapati lorong Hogwarts sangat sepi. Maklum, sudah hampir tengah malam.
"Mana teman kecilmu itu?" bisik Draco.
"Entahlah. Mungkin kita harus—ummphh!"
Draco membungkam Harry dengan tangannya dan menariknya ke dalam sebuah lemari sapu.
"Malfoy! Apa yang kau lakukan! Aku tidak mau bermesraan denganmu di lemari sapu!" desis Harry.
Draco memutar matanya. "Jangan kegeeran. Sst! Seseorang datang,"
Harry dan Draco mengintip dari celah kecil di lemari sapu itu. Mendengarkan suara langkah kaki semakin mendekat. Mereka mengira itu mungkin salah satu murid atau guru yang sedang berpatroli. Tapi yang mereka lihat adalah seorang pria dengan jubah hitam. Harry bisa melihat potongan tato ular di balik lengan jubahnya. Harry dan Draco saling menatap.
Itu seorang Pelahap Maut.
a/n: hai!...lagi.
maaf baru sempat update. benar-benar maaf.
