"Ada yang ingin kubicarakan denganmu, bisakah kita bertemu?"
Baekhyun menghentikan kegiatan menulisnya setelah ia membaca pesan masuk pada ponselnya. Pesan yang mulai ia terima sejak kemarin saat ia tiba di Seoul, pesan yang sama dari pengirim yang sama. Entah Baekhyun harus senang atau apa, nyatanya Baekhyun hanya terdiam saat netra coklatnya membaca nama sang pengirim pesan,
Sehunnie
Baekhyun tidak pernah membalas pesan singkat itu, bahkan saat ponselnya bergetar menandakan panggilan masuk dari nomor yang sama, Baekhyun tidak pernah mengangkatnya.
Baekhyun tidak berani.
Pada akhirnya Baekhyun kembali meletakan ponselnya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya seraya menatap ponselnya yang masih menyala pada fitur pesan. Memainkan jemarinya, ia terus menatap ponsel dengan case merah muda yang terletak diatas buku yang sedang dibacanya. Badannya sedikit menegak saat ponselnya kembali bergetar namun dengan frekuensi yang cukup lama.
Incoming Call..
Sehunnie
Kira-kira itulah yang terbaca saat ponselnya terus bergetar menunggu sang pemilik untuk segera mengangkat panggilan masuk pada ponselnya.
Bingung harus melakukan apa, Baekhyun akhirnya beranjak dari kursi belajarnya dan segera melenggang keluar dari kamarnya, meninggalkan ponselnya yang masih bergetar, mengabaikan panggilan masuk pada ponselnya.
"Oh- hai sayang, kau menginginkan sesuatu?"
Baekhyun membuka pintu kulkas saat ia mendapat sapaan dari eomma nya yang sedang membuat sesuatu didapur. Tangan rampingnya kemudian mengambil air mineral dan segera menegaknya, kemudian ia duduk pada meja makan dan menyaksikan eommanya yang sibuk berlalu lalang pada ruangan dapur yang cukup luas dengan membawa beberapa bahan makanan.
"Eomma sedang membuat sesuatu?"
Bukan sebuah jawaban yang Baekhyun ucapkan, gadis cantik itu malah menjawab pertanyaan eommanya dengan sebuah pertanyaan lain.
"Hmm.. kau ingin kue?"
Eommanya berbalik lalu tersenyum pada Baekhyun, sebuah senyuman yang sama seperti dirinya.
"Tentu! Apa eomma butuh bantuan?"
Dengan semangat Baekhyun segera beranjak dari duduknya, menghampiri eommanya yang sedang menyiapkan beberapa telur, meskipun ia sadar tidak ada yang bisa ia lakukan, tapi tetap saja Baekhyun ingin mencoba untuk mebantu, setidaknya ia bisa menemani eommanya mengobrol.
"Boleh sayang, bisakah kau memasukan telur itu pada adonan terigunya?"
"Itu gampang! Aku hanya harus memecahkan nya saja kan eomma?"
Tanya Baekhyun riang, ia kemudian mengambil sebutir telur, namun saat ia melihat tepung terigu yang telah berada pada sebuah wadah, ia bingung bagaimana ia memecahkan telurnya,
Apa ia langsung pecahkan saja dan memasukannya pada wadah, atau ia harus pecahkan telurnya kemudian memisahkan nya?
"Eung- eomma.. apa aku harus memecahkan telurnya lalu aku masukan pada wadah, atau aku harus memecahkan telurnya lalu dipisahkan?"
"Langsung saja masukan sayang.."
Eommanya hanya menjawab tanpa menoleh, lalu kembali sibuk dengan bahan lainnya.
"Ohh- oke, langsung masukan.."
Baekhyun mengigit bibir bawahnya, mengambil sebuah sendok lalu mengetukkan sendok itu pada cangkang telur, membuat retakan kecil disana, lalu dengan hati-hati meregangkan cangakang telur supaya isinya dapat keluar,
Pelan..
Pelan..
"Wuhh! Eomma lihat! Aku berhasil melakukannya!"
Eomma nya kemudian meghampiri anak bungsunya, melihat terigu yang mulanya utuh kini telah tercampur dengan sebutir telur yang menghiasinya, ia tersenyum lembut kemudian mengelus surai panjang putrinya.
"Kau pintar sayang, bisa lakukan lagi untuk sisanya?"
Meskipun itu hanya 'memecahkan telur' ia senang melihat putrinya yang setidaknya ingin mencoba membantu. Karna ia tau sekali jika Baekhyun bukanlah seseorang yang ahli dalam urusan dapur, meski ia memang terlahir sebagai perempuan, Baekhyun tidak terlalu akrab dengan pekerjaan dapur, Baekhyun bilang itu telalu merepotkan. Dan sebagai eomma nya, ia tidak akan memaksa Baekhyun untuk melakukan pekerjaan dapur jika gadis itu tidak ingin, karna pada dasarnya, semua perempuan memiliki sisi wanita nya, untuk sekarang Baekhyun mungkin belum tertarik pada urusan dapur, namun kelak, ia yakin kemampuan memasaknya akan menurun pada putri bungsunya yang cantik itu.
"Eomma ingin aku memecahkan kelima telur itu? Semuanya? Tidakkah itu terlalu banyak?"
Nyonya Byun kemudian terkekeh ringan dan kembali mengelus surai anaknya, Baekhyun memang polos..
"Tentu saja sayang, memang seperti itu membuatnya, apa kau ingin mencetaknya juga hm?"
"Mencetak? Apa itu seperti membuat bentuk kue menjadi strawberry dan juga boneka?"
Lagi-lagi Nyonya Byun hanya terkekeh kemudian tersenyum lembut, ia tidak menyangka jika anaknya ini masih terlihat seperti anak sekolah dasar, padahal dalam seminggu lagi putrinya itu akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.
"Eomma bahkan memiliki banyak cetakan selain dari strawberry dan juga boneka."
"Benarkah? Kalau begitu aku akan membantu eomma membuat kue! Serahkan saja semuanya padaku, akan membuatnya sebagus yang ada di tv!"
Ucap Baekhyun dengan raut wajah serius dengan sebelah tangannya yang menepuk-nepuk dada kirinya.
"Baiklah, haruskah kita mulai sekarang putri?"
"Kkk, ne!"
Ibu dan anak itu kemudian tertawa bersama dan memulai kegiatan pertamanya dipagi hari.
"Kau tidak belajar hm?"
"Ini masih terlalu pagi eomma, lagipula aku sudah belajar sebelum aku kemari tadi, aku ingin istirahat sebentar lalu menikmati kue bersama eomma.."
Baekhyun tersenyum memperlihatkan lengkungan bulan sabit yang diturunkan eommanya. Sejenak ia melupakan alasan mengapa ia berada didapur dan membuat kue bersama eommanya, mungkin panggilan pada ponselnya telah benar-benar berakhir sekarang.
Pukul sepuluh pagi akhirnya kue dengan berbagai bentuk dan warna itu akhirnya selesai.
Baekhyun mengusap pelipisnya yang sedikit berkeringat dengan tangannya yang dikotori oleh adonan kue yang mulai mengering. Sedangkan tampilan eommanya lebih rapih daripada dirinya dengan apron yang penuh dengan warna putih dari tepung terigu maupun warna lain yang digunakan nya untuk mengias kue.
"Ini keren! Eomma bukankah aku berbakat dalam hal ini?"
Baekhyun menatap hasil kue yang telah dipanggang bersama, bentuk yang indah dengan warna yang cerah, terlihat lucu dan juga enak. Eommanya kemudian memindahkan kue-kue itu pada sebuah toples bening berbahan kaca.
"Menyenangkan bukan? Apa Baekhyunnie ingin membuat kue lainnya bersama eomma?"
"Apa eomma bisa membuatnya?"
Mata sipit itu kembali berbinar saat ia mendengar sebuah tawaran menyenangkan dari eommanya. Baekhyun rasa ia telah menemukan hobi barunya sekarang,
Membuat kue bersama eomma.
"Apa kau tidak tau? Eomma mu ini koki paling hebat dirumah ini."
"Eiyyy- eomma percaya diri sekali, sebentar lagi posisi eomma akan tergantikan oleh ku, aku akan menjadi koki terhebat dan akan mengalahkan kue buatan eomma."
Baekhyun memeletkan lidahnya kemudian segera melepaskan apron kotor yang melekat pada tubuhnya. Selama dua jam yang lalu, Baekhyun tidak perah mengeluh dengan pekerjaannya, meskipun memang jauh dari kata sempurna dan ia masih mendapatkan bantuan dari eommanya, ajaibnya, Baekhyun tidak pernah menyerah dan terus melanjutkan hobi barunya yaitu mencetak kue.
"Eomma bagaimana jika aku mengantarkan kue buatanku pada oppa? aku yakin oppa akan sangat senang."
Sepintas hal itu terpikir olehnya, Baekhyun ingin 'memamerkan' karya pertamanya pada oppanya. Padahal jelas-jelas oppanya sedang tidak ada dirumah, melainkan berada dikantor dengan setumpuk pekerjaan.
"Dasar putri licik, kau sengaja mencari alasan agar bisa main dan keluar rumah bukan? Kau harus belajar sayang."
Baekhyun tetaplah Baekhyun. Gadis licik yang pintar.
"Eo- aku tidak berpikiran seperti itu, aku benar-benar ingin mengantarkan kue ini pada oppa eomma.. ayolah, hanya sebentar, aku janji akan langsung pulang.."
Baekhyun mulai mendekati eommanya yang mulai membereskan peralatan dapur yang terlihat seperti usai peperangan.
"Tidak, eomma tidak mengijinkannya, kau bisa menunggu oppa mu pulang nanti sayang."
"Ahh eomma.. ayolah.. hanya sebentar, aku janji.."
Baekhyun mulai melancarkan rayuannya, memohon seperti anak anjing yang selalu menjadi senjata ampuh untuk dirinya.
"Hanya sebentar eomma.. datang, memberikan kue, kemudian pulang.."
Sorot matanya mulai memelas, dengan bibir bawah yang dimajukan serta kedua tangan yang terkatup didepan dada,
"Hanya sebentar."
Siapapun pasti akan luluh..
"Ayey! Hanya sebentar!"
Dengan ajaib, raut memelas itu lenyap begitu saja tergantikan dengan sorot mata bahagia dan sebuah cengiran lebar.
Cup
Satu kecupan dipipi Baekhyun hadiahkan untuk eommanya yang sangat baik itu.
"Apa eomma ingin sekalian menitipkan bekal makan siang untuk oppa? aku bisa sekalian memberikannya."
Baekhyun menyomot kue berbentuk bintang kemudian memasukan pada mulut kecilnya, sedangkan eommanya sedikit mengernyit, karna sebuah peristiwa langka yang tidak pernah terjadi, Baekhyun menawarkan dirinya untuk mengantarkan bekal makan siang untuk oppanya. Padahal saat masih sekolah dulu, Baekhyun tidak pernah mau jika ia disuruh untuk memberikan bekal makan siang untuk oppanya.
"Kau tidak keberatan? Eomma akan membuatnya terlebih dahulu kalau begitu."
"Eun! Buatkan saja eomma, aku akan beriap-siap sekarang."
Baekhyun kemudian melenggang pergi dengan sebuah kue yang kembali dicomotnya sebelum ia melangkahkan kakinya kembali kedalam kamar.
Moodnya entah kenapa menjadi sangat bagus setelah ia menghabiskan waktu berdua bersama eommanya.
Namun netranya kembali melirik keberadaan ponselnya yang masih terletak diatas buku seperti terakhir kali ia meninggalkannya. Namun kali ini layar ponselnya telah mati. Dengan ragu, Baekhyun kembali mendudukan dirinya pada kursi belajarnya, memegang ponselnya lalu menghidupkannya,
3 Missed Call, 1 Message
Sehunnie
Dengan ragu Baekhyun kembali membuka kotak masuk pada ponselnya, terdapat satu pesan yang masuk, itu satu jam yang lalu,
"Baek apa kau sibuk? Kenapa kau tidak mengangkat telpon ku? Kumohon balas pesanku, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."
Dan lagi-lagi Baekhyun enggan untuk membalasnya. Jadi ia hanya membiarkannya dan teringat bahwa ia akan menemui oppanya siang ini, jadi yang Baekhyun lakukan sekarang adalah mencari kontak oppanya dan memanggilnya.
Namun pandangannya berhenti pada nama kontak yang berada pada posisi paling atas dalam ponselnya,
Ahjussi
Seperti sihir, entah kenapa satu kata yang terbaca olehnya berhasil menciptakan sebuah senyuman simpul pada wajah mungilnya.
"Mungkin sedikit mengerjainya tidak apa-apa kan?"
Hingga senyum simpul itu beruabah menjadi sebuah seringaian yang penuh arti.
Sementara itu dilain pihak,
Seorang lelaki dengan postur tegap mengakhiri panggilan pada ponselnya. Saat ia akan meletakan kembali ponselnya, tanpa diduga benda pipih itu kembali bergetar, bukan sebuah panggilan dari client nya, melainkan sebuah pesan singkat yang ia terima dengan nama kontak
Byun
Yang tertera dilayar ponselnya.
Tanpa menunggu lama, lelaki dengan tubuh tegap itu segera membuka isi pesan singkat yang masuk pada ponselnya, dan setelah membaca sederet kalimat yang tertera, wajah tampannya dihiasi dengan kerutan dari kedua alisnya
"Selamat siang ahjussi! Apa yang sedang kau lakukan?"
Sebuah panggilan yang mungkin akan terus melekat pada dirinya, karna seseorang bernama Byun itu selalu memanggilnya dengan sebutan itu, padahal ia seumuran dengan kakak nya, tapi kenapa hanya dia yang mendapatkan sebutan ahjussi sementara kakak gadis itu dipanggil dengan sebutan oppa?
Mungkin tidak ada salahnya jika ia membalas pesan yang masuk pada ponselnya, karna jujur, ia juga membutuhkan sedikit hiburan sekarang.
"Menunggu jam makan siangku. Kenapa kau malah bermain ponsel? Bukankah seharusnya kau belajar?"
SEND
Tidak memakan waktu satu menit, ponselnya kembali bergetar, ia kembali mendapatkan sebuah pesan dari nomor yang sama
"Aku bukan robot oke? Aku sedang beristirahat, kurasa otakku panas, terasa sungguh sakit T – T"
Lelaki itu berdecih, ia tidak akan pernah percaya dengan apa yang dikatakan gadis licik yang sedang bertukar pesan dengannya sekarang.
Namun.. Bagaimana jika itu benar?
Raut wajah kaku nya segera berubah, tergantikan dengan semburat rasa khawatir disana, jemari besarnya kemudian segera memencet ponsel touchscreen nya yang sedari tadi digenggamnya, mengetik sebuah kalimat lalu dengan cepat mengirimnya.
"Tidak usah memaksakan kerja otakmu yang memang lamban, makanlah sesuatu bocah."
Iris tajamnya tidak pernah terlepas dari layar ponselnya yang masih tetap sama, menandakan belum ada pesan baru yang masuk pada ponselnya, padahal itu hanya berjalan beberapa detik sejak ia mengirimkan balasan terakhir pesan singkatnya.
Hingga pada getar pertama yang bersumber dari ponsel pintarnya, lelaki itu segera membuka pesan yang lagi-lagi dari nomor yang sama.
"Itu dia! Kau benar sekali ahjussi, bagaimana dengan membelikanku sebuah icecream?"
Dan sekarang ia menyesali perlakuan khawatirnya, harusnya ia benar-benar tau dengan siapa ia berbicara sekarang.
"Sayang sekali, ada rapat penting setelah makan siang nanti."
Tanpa menunggu lama, sebuah balasan kembali ia dapatkan,
"Rapat apa? Ceritakan padaku!"
Satu seringaian kemudian tercipta menghiasi wajah tampannya, kenapa bocah ini penasaran sekali?
Dengan sengaja lelaki itu tidak meneruskan membalas pesan singkatnya, ia kemudian mematikan ponselnya dan kembali meletakannya pada meja kerjanya. Meja kerja yang terlihat begitu besar dan mahal. Meja seorang pemimpin perusahaan ternama di Korea Selatan. Meja dengan sebuah Name Desk terbuat dari logam dengan sebuah ukiran nama didalamnya.
Park Chanyeol.
Pengusaha muda yang sukses. Pewaris perusahaan yang tampan, dengan aset dimana-mana.
Tidak heran jika banyak wanita diluaran sana yang rela mengemis demi mendapatkan cintanya. Namun sayang sekali lelaki mapan itu telah memiliki tambatan hati.
Seorang wanita cantik dan glamor dengan bakatnya yang cemerlang pada bidang designer.
Jung Jaemin.
Wanita pilihan orangtua Chanyeol, yang dalam waktu dekat akan menjadi tunangannya. Hanya tinggal menghitung hari. Seharusnya pesta pertunangan itu telah berlangsung kemarin saat ia pulang dari masa liburannya di Jeju, namun siapa sangka, ia segera dihadapkan dengan setumpuk laporan dan pekerjaan yang harus Chanyeol kerjakan karna absennya selama semiggu, tidak salah jika setiap malam ia akan pulang lembur karna banyak hal yang harus ia urus.
Sebenarnya orangtuanya sudah mendesaknya agar segera menyelesaikan semua pekerjaan agar mereka bisa segera menggelar upacara pertungannya. Ibunya bahkan selalu menelponnya agar Chanyeol bisa mengosongkan jadwalnya sehari saja, ia telah berjanji untuk mengadakan makan malam dengan keluarga Jaemin setelah ia kembali dari Jeju, namun ia masih belum sempat mengatur jadwalnya karna masih banyak yang harus ia kerjakan terlebih dahulu.
Disisi lain,
Chanyeol bingung dengan situasi yang terjadi pada dirinya. Tidak dipungkiri memang selama ini ia tidak memiliki perasaan lebih pada calon tunangannya itu, ia pikir dengan berjalannya waktu ia bisa membalas perasaan wanita yang akan segera menjadi tungannya, namun ternyata perkiraannya saalah.
Hatinya menolak.
Sekeras apapun Chanyeol mencoba, ia tidak pernah merasakan perasaan yang ia yakini sebagai cinta itu datang padanya. Ia tau bagaimana perasaan cinta itu, seperti cinta pertama yang ia rasakan saat masa sekolah menengah atasnya.
Ia tidak pernah merasakan perasaan itu lagi saat bersama Jaemin.
Namun perasaan mendebarkan itu kembali ia rasakan seminggu yang lalu, lebih tepatnya saat ia bersama seorang bocah yang baru saja lulus sekolah menengah atas. Bocah menyebalkan yang selalu menyusahkannya. Namun siapa sangka bocah itu yang telah berhasil merebut hatinya?
Byun Baekhyun.
Gadis tujuh belas tahun yang membuatnya penasaran. Bagaimana gadis mungil itu bisa membuatnya merasakan kembali perasaan yang ia sebut cinta?
Gadis polos yang selalu tersenyum dengan lengkungan matanya yang indah seperti bulan sabit.
Bagaimana bisa Park Chanyeol terjatuh pada seorang gadis seperti Byun Baekhyun?
"Sajangnim?"
Sebuah ketukan dipintu kantornya, diiringi dengan masuknya sosok lelaki yang ternyata adalah sekertarisnya.
Kim Jongdae.
Lelaki itu membawa beberapa dokumen kemudian menyerahkannya dan segera diterima oleh Chanyeol yang tersadar dari lamunannya.
"Apa sajangnim ingin makan siang diluar sekarang?"
Chanyeol membaca scanning dokumen yang berada dihadapannya, membuka lembaran kertas itu kemudian menanda tangani pada akhir halaman dari dokumen yang berisi sederet huruf kecil yang menyakitkan mata,
"Tentu, setelah itu rapat pada pukul dua, bukan begitu?"
"Ya sajangnim."
Jongdae kemudian mengambil kembali dokumen yang telah ditandatangani oleh atasannya, lalu ia menunggu instruksi selanjutnya,
"Aku akan keluar sendiri, hanya siapkan saja ruangannya, dan pastikan semua orang datang tepat waktu nanti."
"Baik sajangnim."
"Kurasa hanya itu, kau bisa makan siang sekarang."
Chanyeol tersenyum singkat, dibalas dengan sebuah bungkukan yang diberikan oleh Jongdae lalu sekertaris kepercayaan nya itu segera meleggang pergi.
Menyisakan Chanyeol yang kembali sendiri.
Ia kemudian melihat jam yang melingkar sempurna pada pergelangan tangannya yang kokoh, ia harus makan siang sekarang. Tubuh tingginya kemudian segera beranjak dan mengambil ponselnya, saat ia sadar ada pesan lain yang masuk pada ponselnya.
"Aku akan ke kantormu siang ini, makan siang bersama?"
Chanyeol menghela nafasnya sesaat, kemudian ia segera mengetik sebuah balasan disana.
"Tentu, datanglah kemari."
Sepertnya ia tidak jadi mencari makan siang diluar, karna calon tunangannya akan datang berkunjung dan mungkin membawakan bekal makan siang yang enak.
.
.
.
.
.
-Be Mature With Me-
.
.
.
.
.
Tepat pada saat jam makan siang, seorang perempuan melangkahkan kaki nya mamasuki ruang kerja seseorang. Tidak ada yang melarangnya masuk meskipun perempuan itu tidak memiliki janji untuk menemui pemilik ruangan, karna sebagian besar pekerja perusahaan telah mengetahui siapa perempuan ini.
Langkah kakinya terhenti, kemudian sebelah lengannya terulur untuk meletakan bekal makan siang pada meja kerja pemilik ruangan. Seorang lelaki yang sudah sangat dikenalnya sejak dulu.
Perempuan itu kemudian tersenyum manis seraya melihat lelaki yang tengah menatapnya sejak ia mamasuki ruang kerjanya.
"Kau benar-benar membawakan bekal makan siang untukku? Tidak biasanya."
Lelaki itu kemudian membuka bekal makan siangnya, berisi makanan rumah yang masih hangat dan terlihat sangat enak.
"Apa kau hanya mencari-cari alasan agar bisa keluar rumah dan tidak belajar Baek?"
Perempuan itu kemudian memajukan bibirnya dan menyilangkan kedua lengannya didada.
"Kenapa oppa dan eomma mengatakan hal yang sama? Bukankah harusnya oppa berterimakasih padaku karna aku dengan senang hati mengantarkan makan siang untukmu? Aku bahkan rela naik bus dan berjalan dari halte menuju kantor mu demi mengantarkan itu."
Perempuan bernama Baekhyun itu memajukan dagunya menujuk bekal makan siang dihadapan oppanya. Kenapa pula oppa dan eommanya selalu memiliki pikiran negatif tentang dirinya? Padahal yang dilakukan oleh Baekhyun merupakan perbuatan yang baik bukan?
"Kalau begitu seharusnya kau tidak usah membuang-buang waktu mu dengan keluyuran kesana kemari Baek, pergunakan waktu mu untuk belajar, kau tidak lupa bukan? Ujian masuk perguruan tinggi itu minggu-"
"Aku tau aku tau.. Aku harus belajar dengan giat karna ujian masuk perguruan tinggi itu minggu depan, dan ini kesempatan ku satu-satunya jika aku ingin kuliah disini benar kan?"
Baekhyun memotong ucapan oppanya, karna demi apapun, oppa nya itu selalu berbicara panjang lebar mengenai hal ini. Tidak dirumah, tidak dikantor selalu saja menyuruhnya untuk belajar. Oppa nya bilang ia senang karna tiba-tiba Baekhyun berkata bahwa ia tidak jadi berkuliah diluar negeri dan memilih melanjutkan sekolahnya disini, tentu saja dirinya dan kedua orang tuanya merasa senang, lebih tepatnya lega. Meskipun tidak ada yang tau apa yang menyebabkan bocah manja itu merubah keinginannya, tetap saja mereka merasa bersyukur jika Baekhyun membatalkan rencananya melanjutkan study di negeri orang.
"Betul sekali. Lalu apa yang sedang kau lakukan disini sekarang? Cepat pulang dan kembali belajar. Aku akan menemanimu belajar saat aku pulang nanti."
"Ishh kau benar-benar tidak seru! Aku ingin memperlihatkan kerja kerasku membuat kue bersama eomma tau. Aku sengaja membawakannya langsung untukmu."
Baekhyun yang masih memajukan bibirnya kemudian membalikkan badannya dan menduduk kan dirinya pada sebuah sofa yang tersedia diruangan itu.
"Kue?"
Baekboom menaikan sebelah alisnya karna ia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan adik satu-satunya itu.
"Iya kue. Aku dan eomma membuatnya bersama tadi pagi. Dan aku ingin memamerkan nya padamu, makanya aku datang kesini, sekalian memberikan bekal makan siang untukmu. Puas?"
Baekhyun mendelikan matanya kemudian menyenderkan punggung sempitnya pada sandaran sofa dengan mukanya yang masam.
Baekboom kemudian membuka topless lainnya yang dibawa oleh Baekhyun. Didalamnya terdapat beberpa kue kering dengan berbagai warna dan bentuk yang berbeda.
Ia tersenyum lebar dan ia merasa sedikit tersentuh dengan kelakuan adik perempuannya itu.
"Oh maksud mu ini?"
Jemarinya kemudian mengambil salah satu kue berbentuk nanas dan memakannya. Terasa renyah dan juga manis.
"Wahh, enak sekali. Sejak kapan adikku pandai membuat kue hm?"
"Benarkah? Apa itu benar-benar enak?"
Baekhyun segera mengakkan badannya lalu menatap oppanya dengan penuh harap.
"Mm, sangat enak, kurasa aku akan menghabiskan semuanya seorang diri."
Baekboom kembali tersenyum. Bagaimana bisa mood adiknya itu berubah dengan sangat cepat? Padahal beberapa saat yang lalu mukanya terlihat masam, namun sekarang kedua matanya terlihat berbinar dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah cantiknya.
"Sudah pasti itu enak! Aku dan eomma membuatnya dengan sepenuh hati. Oppa tau? Aku yang memecahkan telur dan mencetak sebagian dari kuenya, dan itu sangat banyak! Aku hebat bukan?"
Baekboom membawa topless kue dan juga bekal makan siangnya, kemudian ia menghampiri Baekhyun dan mendudukan dirinya tepat disebelah adiknya.
"Itu hebat. Sering-sering lah membantu eomma membuat kue, aku akan menjadi orang pertama yang akan mencicipinya."
Baekboom mengelus surai adiknya sayang kemudian menyuapi adiknya dengan sepotong kue. Meski yang dilakukan oleh adiknya tidak lebih dari membantu, setidaknya ia telah berusaha. Tidak jarang juga Baekhyun ingin terlibat dengan pekerjaan dapur, makadari itu Baekhyun terlihat sangat senang dan ingin segera memarekan hasil yang telah ia kerjakan pada dirinya.
"Tentu. Eomma mengajakku untuk membuat yang lain nanti lalu setelah itu aku akan memamerkan nya padamu lagi."
Baekhyun nyengir seraya mengunyah potongan kue kecil didalam mulutnya. Baekboom hanya tersenyum menanggapi adiknya kemudian segera mengambil bekal makan siangnya.
"Dan juga buatkanlah oppa mu ini makan siang, oppa akan senang jika adik oppa yang cantik ini membawakan bekal makan siang yang dimasak sendiri oleh adik oppa."
Baekboom menyumpit sepotong telur gulung kemudian menyuapakan nya kepada Baekhyun yang dilahap dengan senang hati olehnya.
Siang itu, kedua kakak adik menikmati makan siang bersama dikantor dengan perbincangan ringan diselangi tawa dari sang adik maupun sang kakak.
"Kau sudah kenyang? Pulanglah, aku akan melanjutkan perkerjaan ku setelah ini."
Baekboom kembali duduk dan menyerahkan segelas air putih untuk Baekhyun, bekal makan siang mereka telah habis lima menit yang lalu, dan Baekboom bersyukur memiliki ibunya yang pandai memasak, karna meskipun ia dikantor, ia masih bisa merasakan makanan rumah ditambah dengan ditemani adik kesayangannya.
"Kau lagi-lagi mengusirku? Hei aku barusaja selesai makan tuan sibuk, perutku harus mencerna makanan ku terlebih dahulu setelah itu baru boleh meneruskan kegiatanku."
Baekhyun menggerutu namun tetap menerima air minum yang dibawakan oppanya.
"Tapi.. oppa, sebenarnya aku menginginkan sesuatu.."
Baekhyun kemudian menaruh gelas kosong pada meja kaca dihadapannya kemudian menatap oppanya yang sedang membereskan wadah bekas makan siang mereka.
"Hm?"
"Aku ingin membeli ice cream.."
Baekhyun mengigit bibir bawahnya, dengan mata sipitnya yang terus memperhatikan oppanya.
"Satu ice cream setelah itu pulang, deal?"
"Deal!"
.
.
.
Nyonya Byun membuka pintu rumah saat ia mendengar bel rumahnya ditekan sebanyak tigakali dari luar. Berhubung ia telah meliburkan maid dirumahnya, ia sendiri yang akan membukakan pintu rumah jika ada tamu.
Tidak diragukan lagi jika tamu itu bukanlah putri satu-satunya yang telah keluar rumah beberapa jam yang lalu, karna Baekhyun akan langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu jika putrinya itu telah pulang dari suatu tempat.
"Sehun?"
Sang tamu –Sehun menegakkan tubuh tingginya lalu segera membungkuk untuk memberi hormat pada sang pemilik rumah, karna tidak biasanya Nyonya Byun yang membukakan pintu.
"Ommonim, apa kabar?"
Sehun bertanya sedikit ragu kemudian kembali menegakkan tubuhnya dan tersenyum ramah, sedangkan Nyonya Byun membalas dengan senyuman lembut sembari mempersilahkan tamunya untuk masuk.
"Seperti yang kau lihat, aku sehat, masuklah."
Tidak enak menolak tawaran pemilik rumah, akhirnya Sehun pun melangkahkan kaki panjangnya, memasuki rumah yang sudah dikenalnya.
Sehun kemudian duduk pada sofa ruang tamu, Nyonya Byun meletakkan segelas air putih pada meja yang sebelumnya telah ada topless kaca yang berisi kue kering warna-warni.
"Ini, minumlah, Baekhyun membuat itu bersamaku tadi pagi, kau boleh mencobanya."
Nyonya Byun kembali tersenyum dan menunjuk topless kaca dihadapannya, membuat Sehun canggung dan mengusap tengkuknya pelan.
"Ah benarkah? Baekhyun.. yang membuatnya?"
Sebenarnya Sehun ragu untuk membuka topless kaca itu, namun lagi-lagi ia tidak ingin membuat pemilik rumah tidak enak hati, maka dari itu, Sehun membuka topless kaca dan mengambil sebuah kue kering berwarna orange lalu memakannya.
"Ini enak sekali."
Sehun tersenyum kemudian segera meminum air putih yang telah disajikan untuknya. Ia tidak berbohong karna rasa kue itu memang benar-benar enak, namun suasana yang tercipta disekeliling nya benar-benar membuatnya canggung. Ia memang sering mengobrol dengan Nyonya Byun, namun ia lupa kapan terakhir kali ia mengobrol dengan ibu mantan kekasihnya ini.
"Kau ingin menemui Baekhyun?"
"Oh itu.. ya. Aku ingin menemui Baekhyun ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya, apa Baekhyun ada dirumah ommonim?"
"Sebenarnya Baekhyun pergi mengantarkan bekal makan siang untuk Baekboom tadi, namun ia belum kembali lagi sampai sekarang, padahal aku sudah menyuruhnya untuk segera kembali dan belajar, anak itu benar-benar susah diberi tau."
Nyonya Byun terkekeh sesaat kemudian kembali memfokuskan pandangannya pada Sehun.
"Apa Baekhyun sudah memberitau mu? Baekhyun tidak akan melanjutkan kuliahnya di Prancis, entah apa yang mengubah keinginan anak itu, tapi aku bersyukur sekali jika Baekhyun memutuskan untuk tetap melanjutkan kuliah nya disini."
"Ba-baekhyun.. tidak jadi kuliah di Prancis?"
Sehun sedikit terbata saat mengucapkannya. Sebetulnya Sehun sudah memiliki feeling jika setelah ini Baekhyun akan pergi menjauhi dirinya dengan berkuliah di Prancis, namun ini sungguh diluar dugaannya,
Baekhyun akan tetap di Seoul?
Hal itu semakin membuatnya penasaran, ia benar-benar harus bertemu dengan gadis mungil itu dan segera membereskan masalah yang telah ia buat,
Tapi- tunggu..
"Kalau begitu.. bukankah ujian masuk nya seminggu lagi?"
"Hmm.. anak itu sulit sekali diberitau, aku bahkan sudah mengatakannya berkali-kali agar ia terus belajar, tapi tetap saja ia mencari-cari alasan dan berkeliaran keluar rumah."
Ingin sekali rasanya Sehun menyusul Baekhyun dan menemani gadis itu untuk belajar. Namun saat ia tau jika Baekhyun sedang berada di tempat kerja Baekboom, ia segera mengurungkan niatnya. Sehun masih malu jika dirinya harus bertemu dengan Baeboom lagi.
"Kalau begitu kurasa aku akan pergi sekarang ommonim, maaf telah merepotkan anda, aku akan kembali jika Baekhyun ada dirumah, aku permisi kalau begitu."
Sehun segera berdiri dari duduknya, diikuti oleh Nyonya Byun yang mengantarnya hingga depan rumah. Sehun kembali membungkuk dan berjalan keluar dari gerbang rumah kediaman Byun.
Didalam mobil, Sehun terdiam cukup lama. Masih dalam posisi duduknya, pikirannya melayang dan bercampur aduk. Banyak sekali pertanyaan dalam kepalanya.
Kenapa?
Adalah pertanyaan yang paling besar yang tidak bisa Sehun jawab, karna satu-satunya yang bisa menjawab pertanyaan itu adalah Baekhyun. Dan sampai sekarang gadis mungil itu sulit dihubungi bahkan ditemui, entah ini sebuah kebetulan atau bukan, setiap kali Sehun pergi kerumah Baekhyun, gadis itu selalu tidak ada dirumah, pertama empat hari yang lalu, Sehun datang kerumah ini disambut oleh Baekboom, karna saat itu Baekhyun sedang berada di Jeju, lalu hari ini, Sehun kembali mengunjungi rumah Baekhyun namun kali ini ia disambut oleh Nyonya Byun karna Baekhyun sedang berada dikantor Baekboom.
Apa jika diwaktu selanjutnya saat ia berkunjung dirinya akan disambut oleh tuan Byun?
Oke itu konyol.
Masalah lainnya adalah Sehun sudah terlalu malu jika ia tetap memakasa untuk bertemu Baekhyun dengan mendatangi tempat kerja Baekboom. Terlebih Baekboom telah memberinya beberapa petuah empat hari yang lalu. Meskipun Baekboom sendiri yang menyarankannya agar bertemu dengan Baekhyun dan menyelesaikan masalah yang telah dibuatnya, entah mengapa Sehun merasa enggan jika ia harus bertemu Baekboom apalagi dengan tujuan untuk menemui Baekhyun.
Jadi apa yang harus ia lakukan sekarang?
Seolah menyadarkannya dari lamunan, getar ponsel dalam saku celananya membuat Sehun kembali pada dunia nyata, ia segera mengambil ponselnya yang bergetar menandakan panggilan masuk.
"Hallo?"
"Hey.. kupikir kita sekelas untuk mata kuliah hari ini, apa kau tidak akan masuk Sehun?"
Sehun mengerutkan kedua alisnya, mengingat-ngingat jadwal kuliahnya dan melihat jam yang melingkar pada lengannya.
Lalu setelahnya ia merutuki dirinya yang lupa jika ia mengambil kelas tambahan untuk semester atas dan itu adalah hari ini.
"Sial, aku akan segera kesana, bisakah kau menyisakan satu kursi untukku noona?"
Sehun sedikit mengumpat dalam ucapannya, lalu ia segera menyalakan mesin mobilnya dan segera meninggalkan kawasan perumahan di daerah Gangnam itu.
"Hahaha, kau ini ada-ada saja, tak masalah, aku memiliki satu kursi kosong disebelahku."
Disebrang sana Sehun dapat mendengar kekehan lembut dari lawan bicaranya, membuatnya ikut tersenyum tanpa alasan.
"Terimaksih Luhan noona, kau memang bisa diandalkan."
.
.
.
.
.
-Be Mature With Me-
.
.
.
.
.
Jam yang sama ditempat yang berbeda, sepasang kekasih tengah menikmati makan siang mereka disebuah cafe dengan menu utama berbahan daging.
"Jadi, bagaimana pekerjaan mu selama di Jeju? Apa itu lancar?"
Si wanita membuka pembicaraan diantara mereka, mencoba memecah suasana yang terlalu sunyi,
Sedangkan si lawan bicara hanya menganggukan kepalanya seraya memotong kecil daging yang berada diatas piringnya.
"Itu lancar, tidak banyak yang harus kuurus, tinggal menunggu semuanya beres, dan kurasa aku harus kembali kesana beberapa bulan lagi."
Wanita itu menatap lelaki yang menjawab pertanyaan nya tanpa melihat kearahnya kedua matanya hanya terfokus memotong daging dihadapannya.
Sebenarnya itu hanya sebuah basa-basi, ada suatu hal yang ingin sekali wanita itu tanyakan pada lelaki dihadapannya ini, sesuatu yang mengganjal dikepalanya sejak kemarin.
Perempuan yang bersama lelakinya yang ia lihat dibandara hari lalu membuatnya bertanya-tanya siapa sebenarnya sosok itu. Jika ia tidak salah ingat, perempuan itu adalah perempuan sama yang ia lihat saat lelakinya datang ke butiknya beberapa waktu lalu.
Perempuan yang berada didalam mobil lelakinya, dan perempuan yang ia lihat kemarin dibandara, bukankah itu orang yang sama?
Lalu apa yang sebenarnya terjadi?
Tidak mungkin kan jika perempuan yang dilihatnya kemarin ikut bermalam di Jeju bersama lelakinya?
Itu tidak mungkin.
"Lalu, hmm.. bagaimana dengan rencana makan malam kita? Eoma mu sudah menanyakannya lagi padaku, sebenarnya aku memiliki waktu luang akhir-akhir ini karna semua pekerjaan ku sudah selesai dan pameran nya akan dilaksanakan bulan depan."
Lelaki itu kini menghentikan kegiatannya memotong daging, kali ini ia menatap lawan bicaranya dan meletakan pisau dan garpu disebelah piringnya dengan apik.
"Mengenai itu, sebenarnya aku ingin sekali segera melaksanakannya, eomma ku juga sudah sering menanyakan tentang itu padaku, tapi perkerjaan ku masih menumpuk setelah aku libur satu minggu yang lalu, kupikir aku bisa langsung menyelesaiknannya, tapi tidak kusangka itu lebih banyak dari yang ku bayangkan, jadi kurasa aku tidak bisa segera mengadakan makan malam itu untuk sekarang, maafkan aku."
Lelaki itu berujar dengan raut wajah yang sedikit muram. Ia tidak bohong karna memang benar ada banyak yang harus ia garap sekarang.
Mata bulatnya menatap lawan bicaranya yang menunduk lesu. Sebenarnya ia tidak enak mengatakan hal ini, ia tau pasti perempuan ini sangat menginginkan makan malam yang akan menjadi awal dari cerita kehidupan mereka kelak.
Namun ada hal lain yang mengganjal dihatinya.
Ia tidak merasakan perasaan senang yang wanita itu rasakan. ia bahkan tengah bingung sekarang. Jika saja makan malam itu dilaksanakan, itu berarti ia sudah siap mempersunting wanita dihadapannya menjadi istri untuknya dimasa depan.
Setelah pesta pertunangan itu dilaksanakan, dua perusahaan akan bertemu dan setelah itu pesta pernikahan akan segera berlangsung.
Dan ia semakin sadar dengan perasaan nya, bagaimana ia akan menghadapi semua ini?
"Jaemin-ah aku akan membicarakan ini pada eomma ku nanti, tidak usah terlalu dipikirkan, jika perlu aku akan menjelaskan kepada orangtua mu juga, biarkan aku menyelesaikan pekerjaan ku terlebih dahulu, setelah itu kita susun rencana kita bersama-sama. Kau mengerti?"
Lelaki itu kemudian menggenggam lengan si wanita yang ia panggil Jaemin.
Perlakuan kecil itu membuat si wanita menyinggungkan senyum kecilnya, mengelus punggung tangan si lelaki dan menganggukan kepalanya pelan.
"Aku mengerti, terimakasih Chanyeol."
Lelaki bernama Chanyeol itu balas tersenyum dan mengeratkan pegangan tangannya pada tangan si wanita.
Namun jauh didalam hatinya, ia semakin bingung dengan apa yang diucapkannya.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Seperti sebuah film, sosok gadis lain terus berputar dalam kepalanya, gadis mungil yang ia inginkan, sosok yang telah mendaptakan hatinya.
Mungkin benar jika ia harus berbicara dengan eomma nya mengenai ini.
Malam ini ia akan pulang kerumahnya, dan mungkin membicarakan apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya.
Malamnya Chanyeol benar-benar pulang kerumah orang tuanya. Disambut dengan perasaan senang dari ibu dan ayahnya dan segera menanyakan kabarnya.
Malam itu mereka kembali makan malam bersama, ditempat yang sama dengan suasana yang selalu sama.
"Eomma.."
Chanyeol mulai membuka mulutnya saat makan malam mereka telah habis.
"Mengenai makan malam dengan keluarga Jung, bisakah eomma tidak dulu menanyakannya?"
Eomma nya terdiam beberapa saat setelah ia meminum segelas jus berwarna oranye.
"Maksudmu Jaemin?"
"Ya, Jaemin."
"Kenapa? Eomma pikir kau sudah setuju dengan makan malam itu, lagipula eomma merasa kasihan pada Jaemin, apa kau tidak memikirkan perasaan nya hm? kurasa sudah terlalu lama Jaemin menunggu mu sayang, tidak baik jika kau membiarkan seorang wanita menunggu mu."
Wanita yang telah berumur itu tersenyum lembut, membuatnya mengurungkan niatnya untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Bagaimana respon eomma nya saat ia mengatakan jika Chanyeol tidak memiliki perasaan lebih pada wanita yang telah dijodohkan dengannya selama tiga tahun lebih? Dan kenapa ia baru mengatakannya saat mereka telah merencankan pesta pertunangan untuk keduanya?
Selain itu bagaiamana perasaan Jaemin jika wanita itu mengetahui hal ini? Sudah pasti Chanyeol akan menyakiti hatinya,
Namun bagaimana dengan perasaannya sendiri?
Apa ia harus mengorbankan perasaannya untuk ini? Apa dengan begitu ia harus menghabiskan sisa hidupnya dengan orang yang tidak dicintainya?
Lalu bagaimana dengan pilihan hatinya?
Apakah ia bisa merelakan Baekhyun begitu saja?
Ia tidak bisa memaksakan hatinya untuk Jaemin, terbukti selama tiga tahun ini perasaannya tidak lebih dari seorang teman atu mungkin ia sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri, berbanding terbalik saat ia bersama Baekhyun, hanya membutuhkan waktu seminggu hingga ia tau jika gadis itulah yang diinginkan hatinya,
Bukan Jaemin.
"Eomma.. sepertinya aku tidak bisa segera mengadakan makan malam itu sekarang, masih banyak pekerjaan yang belum kuselesaikan, dan kupikir tidak akan sopan jika aku mengadakan pesta pertunangan saat pekerjaan ku belum selesai."
Kini bukan saja Nyonya Park yang terdiam, namun Tuan Park pun ikut terdiam dalam duduknya.
"Apa pekerjaan dikantor terlalu memberatkan mu Chanyeol-ah? Ayah bisa membantu jika kau memerlukan bantuan."
Tuan Park berujar, namun sepertinya Chanyeol salah berbicara, karna bukan itu maksud dari arah pembicaraan nya.
"Tidak ayah, aku tidak apa-apa dengan semua itu, aku bisa mengatasinya, namun aku memang memerlukan sedikit waktu untuk bisa menyelesaikan nya."
Chanyeol tersenyum berusaha meyakinkan ayahnya agar pria setengah paruh baya itu tidak usah ikut memikirkan urusan perusahaan yang semakin hari semakin bertambah dan Chanyeol sendiri mengakui setiap hari pekerjaannya semakin terasa berat.
Semakin banyak cabang perusahaan yang dimilikinya, semakin banyak pula hal yang harus digarap olehnya, namun selama Chanyeol bisa mengatasinya, ia tidak akan pernah mempermasalahkan itu semua, karna demi apapun, yang ia inginkan hanyalah kebahagiaan kedua orang tuanya.
"Sebenarnya ada hal lain yang ingin kusampaikan, namun aku tidak terlalu yakin dengan keinginanku sendiri, dan kupikir jika aku mengatakannya sekarang ibu atau ayah bisa memberikan ku saran, karna kupikir ini bukanlah sesuatu yang sepele."
Akhirnya Chanyeol mulai memberanikan diri untuk membahas hal yang menjadi tujuannya pulang malam ini, meski ia tidak yakin orangtua nya akan menerima kepututsanya, setidaknya Chanyeol sudah berusaha menyampaikan keinginannya, dan mungkin ia tidak akan menyerah dengan hanya sebuah penolakan yang diberikan oleh orangtuanya jika ini sudah menyangkut masa depannya.
"Tentu sayang, apa itu? Eomma harap eomma bisa membantu."
Nyonya Park kemudian meraih lengan Chanyeol dan menggenggam nya, seolah memberikan kekuatan pada Chanyeol yang terlihat bingung.
"Aku, sebenarnya.. aku tidak yakin dengan perasaanku pada Jaemin eomma."
Suasana diruang makan itu terlihat lebih hening dari sebelumnya sebelum sebuah suara lain memecah keheningan disana,
"Apa yang membuatmu merasa seperti itu hm?"
Itu Nyonya Park, setelah ia bisa mengatasi rasa terkejutnya, Nyonya Park akhirnya mengajukan pertanyaan itu, karna jujur, ia sendiri bingung kenapa anak satu-satunya tiba-tiba berkata demikian.
"Sebenarnya selama ini aku memang tidak memiliki perasaan lebih pada Jaemin eomma, aku telah menganggapnya sebagai taman dekatku sejak dulu, dan kupikir jika saat itu aku belum mencintainya, mungkin seiring berjalannya waktu rasa cinta itu akan muncul pada diriku, tapi kupikir aku salah."
Chanyeol mengeratkan jemarinya pada jemari eomma nya, dan eomma nya hanya mengelus punggung lengannya pelan,
"Setelah aku bertemu gadis itu, dan sejak hari itu, aku sadar bu, bukan Jaemin yang kucari-cari selama ini, tapi gadis itu, dan aku semakin yakin dengan perasaanku saat aku bertemu Jaemin siang tadi, bukan perasaan sama yang kurasakan saat menemui gadis yang kucintai, tapi perasaan bersalah karna sepertinya aku telah menyakiti perasaan Jaemin selama ini."
Chanyeol sedikit menundukan kepalanya, ia siap menerima apapun yang akan dikatakan orangtuanya setelah ini, yang ia lakukan memang salah, namun siapa yang bisa menyalahkan perasaan cinta yang datang padamu?
"Bukankah eomma sudah bilang agar tidak memaksakan perasaan mu hm?"
Satu kata itu berhasil membuat Chanyeol kembali mengangkat kepalanya, ia tidak salah dengar bukan?
"Eomma.. tidak salah bicara bukan?"
Oke ia terlihat seperti orang idiot yang memiliki gangguan pendengaran sekarang.
Itu berhasil membuat Nyonya Park terkekeh dan mengelus pipi anaknya yang tampan sayang.
"Tidak sayang, eomma tidak salah bicara. Bukankah dari dulu eomma sudah mengatakannya padamu hm? kau boleh untuk tidak melanjutkannya, dan jangan memaksakan perasaanmu. Eomma malah akan merasa menjadi orang yang paling bersalah jika mengetahui anaknya menikahi orang yang tidak dicintainya."
Chanyeol benar-benar tidak bisa menghilangkan ekspresi idiotnya sekarang, ia benar-benar tidak menyangka jika eommanya akan mengatakan hal seperti itu, tapi bukankah eommanya menyukai Jaemin? Mereka bahkan telah dekat satu sama lain selama ini, bagaimana bisa eommanya mengatakan sesuatu itu dengan mudah?
"Tapi- kupikir eomma menyukai Jaemin, kenapa.. kenapa eomma berkata seperti itu?"
"Eomma memang menyukai Jaemin, eomma bahkan sudah menganggap Jaemin seperti putri eomma sendiri, namun kau harus tau sayang, kau tidak bisa menyembunyikan perasaanmu seorang diri.."
Eommanya kembali tersenyum membuat Chanyeol sedikit bingung, apa itu berarti selama ini eommanya telah mengetahui perasaannya?
"Eomma tau jika selama ini kau tidak benar-benar mencintai Jaemin, maka dari itu eomma selalu bilang agar tidak memaksakan perasaanmu bukan? Eomma tau jika kau ingin membahagiakan eomma dan appa, tapi bagi kami, sebagai orangtua yang terpenting adalah kebahagiaan mu sayang. Sudah terlalu lama untukmu harus berpura-pura selama tiga tahun, jadi sekarang, kau boleh menghentikannya, eomma dan appa akan selalu mendukung keputusan mu."
Kini bukan hanya telapak tangannya yang digenggam oleh eommanya, tetapi kini sebelah pundaknya mendapat remasan lembut dari Tuan Park, lelaki paruh baya itu berusaha memberi kekuatan untuk anaknya yang terlihat begitu berantakan.
"Appa dan eomma hanya bisa membantu dengan berdiskusi dengan keluarga Jung, selebihnya, tetap kau yang harus memutuskan, terlebih memberitau Jaemin, itu mungkin akan sulit, pikirkanlah baik-baik semoga Jaemin bisa mengerti dengan keputusan yang kau ambil."
Kini Tuan Park yang memberikan semangat untuk Chanyeol,
Yang harus ia lakukan sekarang adalah, bagaimana ia memberitau perihal ini pada Jaemin? Itu pasti akan sulit sekali..
"Tapi- katakan pada eomma, siapa gadis yang berhasil mengambil hati anak eomma yang tampan ini hmm?"
Senyuman lebar kini menghiasi wajah Chanyeol yang sebelumnya terlihat muram, entah kenapa bayangan sosok bocah mungil itu kembali muncul dikepalanya,
Ahhh apakah ia harus segera berjuang untuk mendapatkan gadis mungilnya itu sekarang?
"Eomma akan segera mengetahuinya nanti."
.
.
.
.
.
-To Be Continue-
.
.
.
.
.
Bohong deng wkwkwkw masih ada kelanjutannya, monggo lanjut ;;)
Tidak terasa seminggu berlalu begitu cepat. Baekhyun tidak terlalu yakin dengan apa yang sudah ia pelajari selama seminggu terakhir, hanya mempelajari beberapa pelajaran semasa sekolah dan juga mengerjakan beberapa soal, karna Baekhyun yakin meskipun ia belajar segiat yang ia bisa, tetap saja otaknya akan menolak, karna yang benar saja?
Ia harus belajar semua yang sudah ia pelajari sebelumnya dalam waktu seminggu?
Itu gila oke.
Maka dari itu ia hanya akan percaya pada kemampuan nya sendiri dan mengerjakan semampu yang ia bisa.
Baekhyun berdiri seorang diri didepan rumahnya, masih ada waktu setengah jam lagi, dan ia merasa sangat gugup sekarang, dan dimana orang itu? Orang itu tidak lupa dengan janjinya bukan?
Taklama, sebuah mobil yang sudah sangat dikenalnya berhenti tepat dihadapannya. Kaca mobil itu terbuka, menampilkan sosok lelaki tempan dengan aroma tubuh yang langsung tercium oleh hidung kecil Baekhyun.
"Menunggu lama?"
"Ya, hingga kaki ku mati rasa dan kurasa sebentar lagi kakiku akan lepas dari tempatnya."
Lelaki itu terkekeh, seperti biasa, bocah ini memang selalu berlebihan, ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ia bahkan datang tepat waktu, bagaimana bisa bocah itu menunggunya begitu lama hingga kakinya mati rasa?
Ia kemudian membuka kunci mobilnya, sehingga gadis mungil itu bisa segera memasuki mobilnya.
"Sudah sarapan?"
"Sudah."
"Kau sudah memberitau eomma mu jika kau berangkat dengan ku?"
"Ya."
"Sudah belajar?"
"Astaga- kenapa ahjussi ini cerewet sekali?! Sudah, sudah, dan sudah! Aku sudah melakukan semuanya, jadi bisakah ahjussi segera menjalankan mobil sialan ini dan biarkan aku mengerjakan soal-soal menyebalkan itu lalu pulang?!"
Baekhyun berujar emosi, sungguh! Ia sedang gugup sekarang, tidak bisakah orang disebelahnya ini tidak banyak bicara dan antarkan saja ia kesekolah agar Baekhyun bisa segera mengerjakan soal-soal itu lalu pulang?
"Hahaha, kau lucu sekali, ini minumlah dulu."
Ahjussi bernama Chanyeol itu kemudian memberikan susu kemasan rasa strawberry yang ia beli sebelum datang kemari, meski kesal Baekhyun tetap menerima pemberian darinya dan segera meminumnya.
"Kudengar meminum susu dipagi hari sangat baik untuk kesehatan dan itu bisa menghilangkan stress."
"Lagipula kenapa ahjussi ini ingin sekali mengantarku? Ini hari minggu, aku bisa berangkat bersama oppa ku."
"Memangnya tidak boleh? Harusnya kau berterimakasih padaku karna dengan senang hati aku meluangkan waktuku agar bisa mengantarmu tanpa bayaran atau imabalan lainnya."
Chanyeol kemudian menyalakan mesin mobilnya dan segera melajukan mesin beroda empat itu kesekolah gadis yang duduk disebelahnya.
"Baiklah terserah ahjussi saja. Tapi- ahjussi tidak lupa kan dengan perjanjian yang ahjussi katakan waktu itu kan?"
Chanyeol menyeringai, tentu saja ia tidak akan lupa dengan kejadian malam itu,
"Ka-kau.. kau menciumku lagi.."
"Bukankah aku sudah meminta ijin padamu sebelumnya? Lagipula sepertinya kau tidak menolak."
Chanyeol menyeringai, telapak tangannya yang besar mengelus pipi mulus gadis yang sedang tersipu menatapnya. Ibu jarinya mengusap lembut sudut bibir si gadis yang sedikit basah akibat perbuatannya.
"Tinggallah disini."
"A-apa maksudmu?"
Maksudku adalah, tetap tinggal lah disini bersamaku Baekhyun,
Kau pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik, jadi tinggalkan dia,
Dan mari kita mulai dari awal, bersamaku..
Chanyeol menatap mata yang lebih sipit darinya, sepasang mata yang kini menatapnya dengan penuh tanya. Ia pun tidak mengerti kenapa ia mengatkan hal yang ambigu seperti sebelumnya, Chanyeol hanya tidak bisa menahan sesuatu yang ingin diungkapkan oleh hatinya. Kalimat itu keluar begitu saja, dan Chanyeol tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya untuk sekarang,
"Kau pikir hidup dinegeri orang seorang diri itu hal yang mudah? Apa yang bisa kau lakuan seorang diri disana eh? Tebakanku kau bahkan tidak bisa membersihkan beras yang akan kau masak nantinya, lagipula diluar sana sangatlah berbahaya, kau bahkan tersesat saat berjalan-jalan seorang diri, jadi tidak perlu banyak tingkah, lanjutkan saja kuliah mu disini."
Pada akhirnya hanya itu yang bisa Chanyeol ungkapkan, karna mungkin gadis dihadapannya akan merasa tidak nyaman dengan pengakuan sebenarnya, atau bisa jadi hal buruknya, mungkin Baekhyun akan menjauhi dirinya, jadi untuk sekarang, biarkan Chanyeol menyimpannya seorang diri untuk beberapa waktu kedepan.
"Maksudmu aku harus mengikuti ujian masuk perguruan tinggi disini? Apa ahjussi tidak salah bicara? Ujian itu bahkan seminggu dari sekarang! Dan ahjussi ingin aku mengikuti ujian itu? Itu gila! Aku tidak akan bisa melakukannya!"
Baekhyun berujar tidak percaya, melupakan sesuatu yang ingin ia ketahui sebelumnya, tentang kenapa ahjussi ini menciumnya dan mengatakan sesuatu yang membuatnya penasaran, namun kenyataan yang ia ketahui saat ahjussi ini memintanya untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi yang berarti ujian itu hanya berjarak satu minggu dari sekarang, semua pertanyaan yang memenuhi kepalanya lenyap entah kemana.
"Memang ada yang salah dengan itu? Kau hanya harus kembali belajar dan berlatih beberapa soal, apa bedanya mengikuti ujian sekarang atau nanti? Bukankah sekarang lebih baik? Dengan begitu kau tidak usah belajar hal lain dan kau bisa menikmati liburanmu lebih lama."
"Woahh ahjussi ini benar-benar.."
Baekhyun membuang nafasnya dan memalingkan kepalanya tidak percaya, bagaimana mungkin ada orang seperti ini didunia?
"Ahjussi tau? Ujian masuk perguruan tinggi itu lebih sulit dari Ujian Nasional, dan ahjussi tau yang lebih buruk dari itu? Aku bahkan membutuhkan satu tahun selama aku menjadi siswa tingkat akhir dan selama itu aku selalu belajar untuk menghadapi Ujian Nasional, dan ahjussi menyuruhku untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi sekarang? Seminggu lagi? Ahjussi pikir aku ini robot?"
"Lagipula siapa suruh kau ikut kemari? Jika kau tidak ikut kemari kau mungkin memiliki waktu luang lebih banyak untuk belajar, kau menghabiskan waktu disini seminggu, jika kau tidak ikut oppa mu kemari, kau bisa menggunakan waktu seminggu yang lalu untuk belajar, lagipula seharusnya kau bersyukur, karna ujian masuk itu tidak berjarak jauh setelah Ujian Nasional mu, dengan begitu kau tidak akan dengan mudah melupakan pelajaran yang telah kau pelajari sebelumnya, kau hanya perlu mempelajari beberapa hal yang mungkin akan membantu mu saat mengerjakan ujian masuk nanti."
Chanyeol tersenyum bangga seolah petuah yang diberikan olenya adalah sebuah nasehat yang dapat memotivasi gadis pendek yang sedang menatapanya nyalang. Sayangnya, Baekhyun bukanlah seseorang yang dengan mudahnya mendapatkan semangat belajar hanya dengan diberitau hal seperti itu. Chanyeol harusnya tau bagaimana malasnya ia saat belajar.
Menanggapi hal itu, Baekhyun menggelengkan kepalanya tidak percaya, ia bahkan seratus persen yakin bahwa dirinya tidak akan mampu jika ia harus mengikuti ujian masuk seminggu lagi.
"Lupakan saja, aku tidak akan bisa melakukannya."
Pada akhirnya Baekhyun berniat untuk meninggalkan ahjussi gila itu seorang diri dan bermaksud kembali kekamarnya dan tidur karna pagi hari sekali ia harus berangkat ke bandara karna jadwal penerbangan mereka telah ditentukan sebelumnya.
"Aku akan mengabulkan seluruh permintaan mu jika kau ingin mengikuti ujian masuk itu."
Didepan anak tangga Baekhkyun menghentikan langkahnya. Membalik tubuhnya dan menatap seseorang yang masih berdiri didepan lemari pendingin.
"Kau boleh berlibur kemari setelah kau mengikuti ujian masuk, selama yang kau mau, kau boleh tinggal dirumahku dan aku akan dengan senang hati mengantarmu pergi kepantai kapanpun kau mau."
Penawaran yang cukup membuatnya tergiur, dan Chanyeol menyeringai melihat respon yang diberikan oleh gadis yang berada beberapa meter darinya.
"Selama yang aku mau?"
"Selama yang kau mau."
"Kapanpun aku ingin pergi kepantai?"
"Kapanpun kau ingin pergi kepantai."
"Bagaimana dengan tambahan kau menjadi pelayan ku selama waktu yang kutentukan?"
Kini Chanyeol yang terdiam, dan Baekhyun yang menampilkan seringaian licik pada ujung bibir tipisnya.
"Setuju."
"Baiklah, deal."
Dan itulah yang menjadi saksi dimana Baekhyun setuju untuk mengikuti ujian masuk yang akan berlangsung beberapa menit lagi. Mobil mahal Chanyeol berhenti tepat didepan gerbang sekolah Baekhyun. Didalam mobil, Baekhyun dapat melihat siswa-siswa lain yang berjalan memasuki gerbang sekolahnya untuk mengikuti ujian masuk seperti yang akan dilakukan olehnya.
Perasaan gugupnya kembali muncul, meskipun Baekhyun masa bodoh dengan apa yang akan dikerjakannya nanti, tetap saja ia merasa tidak percaya diri, mengira-ngira bagaimana bentuk soal yang akan muncul, apakah ia bisa mengisinya atau tidak, apakah soal-soal itu sulit dan masih banyak lagi yang membuat perutnya melilit dan jantungnya yang berdebar.
Chanyeol yang melirik wajah Baekhyun yang sedikit pucat berdehem, membuat Baekhyun yang melamun tersadar dan segera melepaskan seatbelt, bersiap keluar dari mobil.
"Tidak ada yang tertinggal?"
"Kurasa tidak."
Baekhyun sedikit merapihkan bajunya dan membenahkan tasnya lalu segera membuka pintu mobil.
"Aku akan menjemputmu nanti, dan kita akan membeli ice cream saat pulang."
Baekhyun menghentikan sebelah kakinya yang telah berada diluar mobil lalu menatap Chanyeol yang sedang melihat kearahnya.
"Bukankah itu yang kau inginkan? Kau memintaku untuk membelikanmu ice cream bukan?"
Entah kenapa itu membuat jantung Baekhyun bergetar semakin kencang. Baekhyun memang ingat ia meminta Chanyeol untuk memberikannya ice cream saat ia mengirim pesan singkat pada orang itu beberapa hari yang lalu, namun bukankah Chanyeol tidak membalas pesan singkatnya? Dan kenapa kini lelaki itu mengatakan bahwa ia akan membelikannya ice cream?
"Hanya kerjakan yang bisa kau kerjakan, jangan terlalu memaksakan diri jika kau tidak bisa mengerjakannya, aku percaya padamu Baek, semoga beruntung."
Chanyeol tersenyum begitu tampan dengan telapak tangannya yang besar mengusak poni Baekhyun asal. Baekhyun hanya terdiam ditempatnya karna ia tidak tau harus memberi respon seperti apa dengan apa yang barusaja lelaki itu lakukan padanya.
Chanyeol memang tidak mengucapkan kalimat semangat atau sejenisnya, tapi perlakuan dan yang ia ucapkan tadi tidak lebih dari suatu hal kecil yang dapat membuat hati Baekhyun berdebar senang.
Namun Baekhyun sadar jika ia sudah membuang banyak waktu dengan berdiam diri seperti orang bodoh didalam mobil orang lain, maka dari itu Baekhyun benar-benar keluar dari dalam mobil dan menutup pintu mobil itu pelan.
"Pokoknya aku tidak mau tau, ahjussi harus sudah berada disini saat aku selesai mengerjakan ujian masuk itu. Jika ahjussi belum datang aku akan marah dan akan memberitau eomma kalau ahjussi berbohong dan meninggalkan ku sendirian disini."
Dasar berlebihan.
"Aku akan berada disini bahkan sebelum kau menyadari nya."
Itu lebih berlebihan.
Dan akhirnya Baekhyun melangkahkan kaki rampingnya kedalam sekolah, dengan perasaan yang gugup ia berdoa semoga ia bisa mengisi soal-soal itu dan segera pulang.
Chanyeol belum menjalankan mobil mahalnya sebelum sepasang matanya benar-benar kehilangan sosok Baekhyun yang mulai terlihat samar seiring gadis itu melangkahkan kakinya semakin jauh.
Hingga ia benar-benar kehilangan sosok itu, Chanyeol segera menyalakan mesin mobilnya dan tersenyum menatap kedalam sekolah yang dipenuhi oleh siswa yang berlalu lalang,
"Semoga beruntung, Baekhyun.."
Mobil mengkilap itu kemudian berlalu, disusul oleh mobil lainnya yang sedari tadi menunggu dengan jarak beberapa meter dibelakangnya.
Chanyeol menyalakan mp3 player didalam mobilnya, membuka sebelah kaca mobilnya dan menikmati hembusan udara pagi. Hingga saat lagu yang didengarnya tergantikan oleh lagu lainnya, ponselnya bergetar didalam saku jaketnya. Tanpa berpikir apapun, ia segera mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dengan bibirnya yang bergumam mengikuti alunan lagu, ternyata ada sebuah pesan singkat yang ia terima,
"Apa kau bisa menemaniku hari ini?"
Setelah membaca satu kalimat itu, Chanyeol berhenti bergumam mengikuti alunan lagu, matanya terfokus pada nama pengirim pesan yang tertera dilayar ponselnya,
Jaemin
Tidak langsung membalas pesan singkat itu, Chanyeol memfokuskan pandangannya pada jalanan dan menepikan mobilnya pada pinggiran jalan, diikuti oleh mobil lain yang berhenti beberapa meter dibelakang nya.
Chanyeol kembali meraih ponselnya, dan kembali membaca pesan singkat yang belum sempat dibalas olehnya.
Sekarang pikirannya melayang, mengingat perkataan eomma nya seminggu yang lalu, Chanyeol belum memberitau Jaemin yang sebenarnya. Ia masih memikirkan cara terbaik agar Jaemin bisa mengerti dengan keputusannya, jika boleh jujur, ini sangat sulit bagi Chanyeol.
Bagaimana ia akan memberitau calon tungangan nya bahwa mereka harus membatalkan acara pertunangan mereka karna ia mencintai sosok lain? Bagaimana Chanyeol mengatakan jika hatinya telah dimiliki oleh orang lain pada seseorang yang telah menaruh hati padanya kurang lebih selama tiga tahun?
Terkadang Chanyeol tidak tega dengan keputusannya, bagaimanapun Jaemin adalah wanita yang baik dan mungkin Jaemin telah menaruh perasaan lebih padanya. Chanyeol juga pernah mengalami hal yang sama, menaruh perasaan pada seseorang yang ia cintai, namun orang itu pergi berasama orang lain yang dicintainya.
Itu sangat menyakitkan. Chanyeol tidak akan melupakan bagaimana rasa sakit itu.
Tetapi Chanyeol juga tidak bisa terus seperti ini, ini akan semakin menyakitkan, apalagi saat ini ia sudah mulai mengisi hari-harinya bersama Baekhyun, tidak mungkin jika Chanyeol menyakiti gadis baik seperti Jaemin.
Maka dariitu Chanyeol meyakinkan dirinya bahwa setelah ini ia akan memberitau yang sebenarnya pada wanita itu.
Ibu jarinya segera menekan tombol send setelah ia mengetik kan sebuah pesan balasan pada nomor yang mengirimnya pesan singkat beberapa menit yang lalu.
"Maafkan aku Jaemin-ah, aku memiliki beberapa urusan hari ini, sepertinya aku tidak bisa menemanimu, aku akan segera menghubungi mu nanti."
Karna untuk saat ini Baekhyun lah yang paling penting untuknya. Ia sudah berjanji pada gadis mungilnya bahwa ia akan menjemputnya dan setelahnya mereka akan membeli ice cream berama-sama.
Lalu, mobil itu kembali berjalan menyusuri jalanan seperti sebelumnya, tanpa diikuti oleh mobil lain yang masih terparkir disisi jalan.
Pengemudi itu mencengkram kan telapak tangannya pada setir kemudi, dengan tangan lainnya yang menggenggam erat ponselnya.
Layar ponsel itu menampilkan sederet kalimat seperti sebuah balasan pesan singkat,
"Maafkan aku Jaemin-ah, aku memiliki beberapa urusan hari ini, sepertinya aku tidak bisa menemanimu, aku akan segera menghubungi mu nanti."
.
.
.
.
.
-Be Mature With Me-
.
.
.
.
.
Sehun berada didalam mobilnya. Terhitung sudah limabelas menit ia menunggu didalam mobilnya.
Menurut perhitunganya, jika benar maka ia akan menemui seseorang yang sengaja ia tunggu sekitar limabelas menit lagi. Kini ia bingung apa yang harus ia katakan terlebih dahulu saat ia bertemu dengan orang itu.
Menyapanya?
Menanyakan kabarnya?
Ia tidak pernah beripikir akan secanggung ini jika bahkan sebelumnya saat mereka bertemu, Sehun tidak akan segan-segan mengecup bibir orang itu lalu mengajaknya berkencan.
Tapi situasi yang dihadapinya sekarang benar-benar diluar kuasanya. Ia bahkan gugup jika harus bertemu kembali dengan orang itu. Padahal mereka hanya tidak bertemu selama dua minggu lebih ditambah tidak saling bertukar sapa karna orang itu tidak pernah menjawab panggilan nya, bahkan membalas pesan singkatnya.
Itu membuatnya semakin gugup saja.
Sehun akui keputusan yang ia ambil memanglah salah. Namun apa daya? Semuanya telah berjalan diluar kendalinya. Dan Sehun pikir ia tidak bisa mengembalikan semuanya pada keadaan semula dengan keadaan hatinya yang tengah bimbang.
Dirinya bahkan telah mendapat beberapa masukan dari dua orang namun tetap saja, hatinya tidak bisa melepaskan orang itu begitu saja. Seperti yang dikatakan seorang lelaki padanya,
'Karna kau tidak bisa begitu saja melepaskan seseorang yang telah lama bersamamu, seindah apapun itu, Baekhyun telah menjadi bagian dalam hidupmu, dia ikut andil dalam hari-hari mu.'
Hatinya berteriak setuju. Seindah apapun yang ia dapatkan sekarang, tetap saja orang itu masih memenuhi rongga hatinya, orang itu masih saja memenuhi pikirannya. Namun ada sesuatu yang hilang dari sana.
Perasaan cinta.
Apakah itu masih ada?
Pikirannya lalu terhenti pada saat ia bertemu dengan sosok baru yang ia temui beberapa hari yang lalu. Sosok baru yang ia yakini telah memberikan perasaan berbeda yang membuatnya terjebak dalam situasi saat ini.
"Noona, kau tau? Akhir-akhir ini aku benar-benar bingung harus berbuat apa, kepalaku bahkan terasa sakit jika aku terus memikirkannya. Ini benar-benar membuatku bingung."
Saat itu Sehun telah menyelesaikan kelas siangnya. Saat keluar kelas, ia ditemani oleh sosok wanita cantik dengan perawakan kecil yang kedua tangannya memeluk beberapa buku yang didekap didadanya.
Orang yang dipanggil noona itu kemudian mengalihkan pandangannya pada lelaki tinggi dengan raut wajah yang begitu kusut, entah karna pelajaran yang baru saja diterimanya, atau entah karna hal lain yang tidak ia ketahui.
"Kau terlihat kacau, apa ini tentang kekasihmu? Apa kalian bertengkar?"
Sebenarnya itu hanya tebakan asal yang ia lontarkan, namun ia begitu terkejut dengan jawaban yang lelaki itu berikan.
"Kami bahkan telah berakhir sejak seminggu yang lalu."
Kedua mata kecilnya sedikit membola tidak percaya, well, mungkin ia memang tidak mengetahui tentang bagaimana hubungan lelaki ini dengan kekasihnya, namun sedikit informasi tantang keduanya, lelaki yang tengah berjalan menuju cafetaria kampusnya mengatakan bahwa mereka telah menjalin hubungan kurang lebih selama tiga tahun sejak dirinya berada disekolah menengah atas. Hubungan yang lama, maka dari itu ia sedikit terkejut saat lelaki jangkung ini mengatakan hal itu padanya.
"Astaga- benarkah? Kenapa bisa? Apa kalian bertengkar hebat?"
Ia kemudian mendudukan tubuhnya pada sebuah meja kosong, meletakan buku yang didekapnya keatas meja, dan kembali menatap wajah kusut lelaki yang duduk berhadapan dengannya.
"Aku bahkan tidak tau itu termasuk bertengkar hebat atau bukan. Ia tidak ingin melihatku. Ia bahkan pergi menjauh dariku, tidak mejawab panggilanku dan tidak membalas pesanku. Oppa nya memberitauku untuk tidak kembali dan menyakitinya dan sampai sekarang aku tidak bisa bertemu dengannya, apa itu sangat buruk?"
Sehun menatap putus asa wanita yang balik memandangnya iba. Wanita itu kemudian mengelus lengannya dengan raut wajah menyesalnya.
"Itu sangat buruk, Sehun-ah aku turut bersedih dengan apa yang terjadi pada kalian. Apa kau sejahat itu hingga kekasihmu terlihat begitu terluka?"
Jahat.
Kata itu terus terngiang dalam kepalanya,
Apa ia begitu jahat?
"Apa aku benar-benar sejahat itu noona?"
"Sebenarnya aku tidak bisa mengatakan sejahat apa dirimu Sehun-ah, karna aku tidak tau apa yang terjadi diantara kalian, ingin bercerita?"
Mata berkilau itu menyipit lucu dengan senyuman indah menghiasi wajahnya.
Untuk beberapa saat, Sehun merasa tenang, dan perasaan itu kembali datang. Jika ia bersama sosok ini ia begitu yakin dengan keputusan yang ia ambil saat itu, namun, saat hatinya teringat orang yang telah mengisi hari-harinya selama tiga tahun terkhir, perasaan bimbang kembali menyelimutinya.
Kenapa ini sungguh rumit untuknya?
"Sebenarnya aku tidak tau sejak kapan aku merasakan perasaan aneh ini. Namun setiap hari aku bertemu orang itu, dan kurasa aku semakin dekat dengan orang itu. Hingga aku merasakan hubunganku dengan kekasihku semakin renggang karna kesibukannku-"
"Apa kau berselingkuh?!"
Wanita itu menyipitkan kedua matanya, menatap tajam lawan bicaranya, memberikan tatapan intimidasi.
"Tidak noona! Tentusaja tidak. Aku tidak berlaku sejauh itu- hanya saja.. orang itu begitu baik padaku, ia begitu memperhatikanku, mungkin memang aku yang menganggap perlakuan itu secara berlebihan, namun entah kenapa, aku merasa nyaman dengan semua perlakuan orang itu padaku. Hingga pada hari itu kekasihku melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihatnya."
"KAU BERCINTA DENGAN ORANG ITU?!"
Wanita itu memekik dengan suaranya yang terbilang tidak pelan, membuat beberapa orang yang berada disana memalingkan pandangannya menatap meja yang ditempati olehnya,
"Tidak noona- astaga kecilkan suaramu-"
Sehun sedikit tidak nyaman dengan pandangan orang-orang yang berada di cafetaria hingga ia membungkuk kan sedikit badannya dan tersenyum canggung, mebuat oarang-orang kembali melanjutkan apa yang mereka kerjakan.
"Aku tidak bercinta dengan siapapun noona, itu hanya sebuah ketidaksengajaan yang aku lakukan, dan kekasihku melihatnya. Aku tidak bisa berpikir apapun saat itu, dan yang ada dalam otak ku adalah apa yang harus kulakukan agar kekasihku tidak semakin terluka, maka dari itu, saat itu, aku mengakhiri hubungan kami."
"KAU GILA OH SEHUN!"
Wanita itu kembali memekik kan suaranya, membuat Sehun menundukan kepalanya pasrah, sekaligus malu. Seharusnya ia tidak bercerita ditempat umum seperti ini.
"Kenapa kau bisa melakukan hal seperti itu?! Bagaimana bisa kau mengambil keputusan sesingkat itu?! Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan kekasihmu?! Bagaimana mungkin kau bisa begitu saja mengakhiri hubunganmu hanya karna kau merasa nyaman dengan orang yang baru saja kau kenal?!"
Pertanyaan-pertanyaan itu Sehun terima dengan jelas, ia bahkan bingung harus menjawab bagian mana dulu,
"Itu hanya keluar begitu saja dari mulutku noona, dan aku tidak bisa melihat kekasihku terluka lebih dalam lagi jika aku tidak segera mengakhirinya, saat itu bahkan ia tidak mau melihatku, akupun merasakan sakit yang sama, makadari itu- aku bahkan begitu yakin dengan apa yang kurasakan saat itu, aku yakin dengan perasaanku pada orang itu, lalu akupun mengakhiri hubunganku, dan keesokan harinya, kekasihku pergi menjauhiku, ia pergi ke Jeju selama seminggu, tidak menjawab panggilanku dan tidak membalas pesanku, hingga sekarang aku tidak bisa menemuinya."
Tidak disangka wanita yang duduk berhadapan dengannya tersenyum remeh padanya, padahal yang ia ceritakan adalah sesuatu yang membuatnya sakit kepala hingga sekarang.
"Itu bagus, kau pantas mendapatkannya."
Sehun tidak salah dengar kan?
"Kenapa noona berkata seperti itu?"
"Karna aku juga akan melakukan hal yang sama jika aku menjadi kekasihmu. Kau pikir aku ingin menjawab panggilan darimu dan membalas pesan darimu setelah apa yang telah kau lakukan padanya? Kau menyakiti perasaanya, kau bahkan memutuskan hubunganmu secara sepihak, dan kau masih ingin menemuinya? Whoaa- aku bahkan setuju dengan apa yang dilakukan oppa kekasihmu, kau bahkan telah mandapatkan penolakan darinya, dan biar kutebak apa sekarang kau merasa bingung dengan perasaan mu Oh Sehun?"
Mendengar penuturan panjang itu, Sehun hanya mengangguk kan kepalanya lemas, tidak disangka noona yang dikenal seperti orang ramah dengan senyum indah itu memiliki sisi lain jika dihadapkan dengan hal seperti ini, atau mungkin..
Apa semua wanita memiliki sifat yang sama jika dihadapkan dengan keadaan seperti sekarang?
"Kau harus tau Sehun, itulah yang akan kau dapatkan, menurutku kau terlalu cepat dalam mengambil keputusan, setidaknya kau memiliki tujuan lain agar tidak lebih menyakiti kekasihmu, tapi yang harus kau ketahui disini adalah, tidak semua orang itu seperti yang kau pikirkan Sehun, bagaimana mungkin kau bisa begitu yakin dengan perasaanmu pada orang yang baru saja kau kenal?"
Wanita itu terdiam untuk sesaat, kembali menatap lelaki yang terdiam dalam duduknya,
"Kau mungkin merasa nyaman dengan perlakuan orang baru itu terhadapmu, tapi yang harus kau pikirkan adalah, bagaimana perasaan orang itu terhadapmu? Apa kau pikir orang itu merasakan hal yang sama seperti yang kau rasakan? kau bahkan merelakan orang yang sungguh-sungguh mencintaimu demi orang baru ini, tapi apa orang itu sebaik yang kau kira? Bagaimana jika orang itu tidak memiliki perasaan yang sama seperti mu? Bahkan kekasih mu menolak untuk kembali bertemu denganmu, dan kau sudah mendapat penolakkan dari oppanya, apa kau akan menyesal saat mengetahui kenyataan itu?"
Kini Sehun benar-benar terdiam, semua yang dikatakan wanita itu adalah benar.
Apa ini yang disebut dengan egois?
Mungkin Sehun terlalu egois dengan hanya mementingkan perasaan nya, perasaan yang belum tentu mendapatkan balasan. Sekarang, ia telah kehilangan seseorang yang sangat dicintainya demi sosok baru yang bahkan belum tentu memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.
Bonusnya, ia masih belum bisa sepenuhnya melepaskan sosok lama yang masih mengisi setengah dalam hatinya.
"Wajar jika kau masih belum bisa melepaskan kekasihmu, karna keputusan yang kau buat saat itu tidak benar-benar sesuai dengan keinginan hatimu. Wajar jika kau masih memikirkan kekasihmu, karna sosok itulah yang selalu menemanimu, mengisi sebagian besar hari-hari mu."
"Lalu.. apa yang harus aku lakukan sekarang noona?"
Kini wanita itu tersenyum, senyuman lembut yang mulai bisa menenangkan hatinya. Inilah yang membuat perasaan nya kembali bingung. Mungkin ia sudah terjatuh pada pesona wanita ini, karna bagaimanapun, sosok inilah yang telah membuatnya mengambil keputusan itu, karna sosok inilah yang membuat ia terjebak pada perasaan nya sendiri.
"Tentukan siapa orang yang akan kau pilih, mantapkan hatimu, jika kau sudah mnegetahui siapa yang akan kau perjuangkan, maka yakinkan orang itu. Buat orang itu mengerti dengan apa yang kau rasakan, hingga orang itu bisa menerima dan bisa mempercaimu. Tapi siapapun itu orangnya yang akan menjadi pilihanmu, bukankah tetap saja, ada seseorang yang harus kau pintai maaf sekarang?"
Mungkin Sehun memang belum mengenal seperti apa wanita ini sebenarnya, mungkin Sehun belum tau sebaik apa wanita ini sebenarnya, dan mungkin Sehun belum tau bagaimana perasaan wanita ini sebenarnya,
Yang ia tau adalah, bagaimana wanita ini begitu peduli padanya, bagaimana wanita ini begitu memperhatikannya, bagaimana wanita ini menasehati nya, saat ini itu sudah cukup untuknya,
Jadi.. untuk sekarang,
Hatinya telah memilih siapa orang yang akan diperjuangkan olehnya,
Luhan noona.
Tubuhnya menegak saat mata tajamnya melihat beberapa siswa yang mulai berjalan keluar melalui gerbang sekolah dimana ia sedang menunggu sekarang.
Well, saat itu ia memang sudah memantapkan niatnya untuk berjuang memantapkan hatinya dengan memilih Luhan, karna ia cukup tau diri bahwa ia tidak mungkin kembali pada Baekhyun, jika memang pada saat itu keputusan yang ia ambil adalah dengan mengakhiri hubungan mereka demi tidak menyakiti hati gadis mungil itu, maka itulah yang akan ia lakukan sekarang.
Dan ia lagi-lagi setuju dengan apa yang dikatakan Luhan padanya tempo hari, setidaknya ia harus meminta maaf pada gadis mungil yang akan ditemuinya, karna ia sangat yakin Baekhyun pasti tidak ingin bertemu lagi dengannya, namun tetap saja, ia ingin meminta maaf pada gadis yang telah menemaninya selama tiga tahun terakhir.
Sehun segera keluar dari dalam mobilnya setelah ia menunggu selama tigapuluh menit lamanya, ia kemudian berdiri disamping mobilnya, tepat dimana ia selalu menjemput Baekhyun dulu, matanya menelisik setiap orang yang berjalan keluar dari dalam sekolah, dan saat sepasang matanya melihat tiga orang perempuan berjalan melewatinya, ketiga perempuan itu menghentikan langkahnya, dan berjalan mendekatinya,
"Sehun oppa?"
Ucap salah satu dari mereka yang berdiri di tengah-tengah,
Sehun yang merasa namanya terpanggil kemudian menolehkan wajahnya, pandangannya menelisik kearah tiga perempuan yang barusaja memanggil namanya. Sehun mengenal gadis-gadis ini,
Mereka teman Baekhyun.
"Oh, hallo.."
"Wahh, apa Sehun oppa datang kemari unutuk menjemput Baekhyun?"
Sehun sedikit gelagapan saat mendengar penuturan itu, ia mengelus tengkuknya canggung.
"Uh- iya, apa Baekhyun masih didalam?"
Karna akan sangat panjang urusannya jika ia mengatakan yang sebenarnya, maka Sehun hanya memberikan jawaban palsu agar semuanya cepat selesai, lagipula jika teman Baekhyun telah keluar, bukankah seharusnya Baekhyun sudah keluar juga?
Seingatnya, Baekhyun bukanlah orang yang akan keluar paling akhir bahkan saat ujian test pun, Baekhyun akan menjadi orang pertama yang akan keluar kelas,
Ahh- kenangan lama,
Lalu dimana Baekhkyun sekarang?
"Ohh kulihat tadi Baekhyun, berlari kembali kedalam kelas saat aku berpapasan dengannya diujung koridor, entahlah terlihat seperti buru-buru."
Sehun mengernyit mendengar ucapan gadis yang berada ditengah-tengah kedua gadis lainnya
Kenapa Baekhyun kembali kedalam kelas?
Seperti terburu-buru?
Apa Baekhyun mengetahui jika ia datang kemari? Lalu apa Baekhyun berusaha menghindarinya lagi?
"Wahh aku sangat iri pada kaiian berdua, hubungan kalian bertahan lama sekali, pasti menjadi Baekhyun sangat menyenangkan, apalagi memiliki kekasih setampan oppa."
Gadis itu sedikit terkekeh diikuti oleh kedua temannya setelah mereka memandangi Sehun yang terdiam seorang diri.
Menyenangkan eh?
Mungkin mereka tidak tau bagaimana perasaan dan keadaan Baekhyun sekarang,
Mengenai hubungannya yang bertahan lama, sepertinya Baekhyun tidak banyak bicara pada teman-temannya, hubungan mereka telah berakhir selama kurang lebih dua minggu yang lalu, dan sepertinya teman-temannya tidak mengetahui tentang kenyataan itu.
"Kalau begitu kami permisi dulu oppa, senang bisa melihat oppa disini, semoga hari oppa menyenangkan."
Gadis yang berada ditengah lagi-lagi memulai permbicaraan, setelahnya mereka membungkuk memberi hormat kemudian tersenyum dengan pandangan tak lepas dari Sehun,
"Senang bisa bertemu dengan mu juga Yerim."
Sehun tersenyum ramah membalas perkataan gadis ditengah yang seingatnya bernama Yerim, ketiga gadis itu kemudian berlalu dengan berbisik-bisik yang masih bisa Sehun dengar meski samar,
"Astaga dia masih mengingat namaku!"
Begitulah kira-kira yang Sehun dengar.
Kini ia kembali pada kegiatan awalnya, menunggu sosok itu keluar dari gerbang sekolah, meski beberapa perkiraan nya tadi membuatnya sedikit cemas,
Baekhyun tidak benar-benar menghindarinya kan?
Disisi lain, seorang gadis berusaha membenarkan deru nafasnya dan sedikit membenarkan tatanan rambutnya yang sempat berantakan karena berlari. Ia menatap id card yang berada dalam genggaman nya, sambil berjalan, gadis itu merutuk dengan menatapi id card yang tertera nama dan foto dirinya.
"Jika saja aku terlambat beberapa detik saja, kau akan dalam masalah nyonya tanda pengenal, lagipula kenapa kau tidak berteriak saat aku melupakanmu? Kau membuatku berlarian seperti orang gila dan kau berhasil membuatku berkeringat. Jika saja kau bukan sesuatu yang penting, aku tidak akan mau menjemputmu."
Ucapnya kesal lalu segera memasukkan id card miliknya pada tas gendongnya. Padahal jika dilihat-lihat, itu adalah murni akibat kecerobohan nya, dirinya sendiri yang tidak teliti dan meninggalkan tanda pengenalnya saat ia menyelesaikan soal ujiannya lalu berlalu begitu saja tanpa memerikasa kembali mejanya. Untung saja saat diujung koridor tadi, ia segera ingat saat ia akan mengambil ponsel didalam tas nya, saat itulah ia segera berlari menuju kelasnya, berharap tidak ada orag lain yang mengambil tanda pengenalnya.
Well setidaknya semuanya telah berakhir, saatnya melupakan soal-soal mengerikan itu dan mari menghubungi supir pribadinya,
Itulah yang berada dalam pikirannya sekarang, ia menundukan kepalanya dan memfokuskan pandangannya pada ponsel yang digenggamnya, ia telah besiap untuk mengetikan sesuatu untuk seseorang yang akan membelikannya ice cream, sebelum sebuah suara menghentikan pergerakan jemari lentiknya.
"Baekhyun?"
Suara itu,
Baekhyun sebenarnya enggan untuk menolehkan kepalanya, namun saat ia merasakan pemilik suara itu melangkah mendekati dirinya, saat itu pula Baekhyun menolehkan kepalanya.
Tubuhnya serasa menegang, berbanding terbalik dengan kedua kakinya yang terasa lemas seperti jelly,
"S-sehun.."
Sepertinya sudah lama sekali, ini seperti pertama kalinya bagi Baekhyun bertemu kembali dengan orang ini.
"Baekhyun- ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Sehun semakin melangkah mendekat dan Baekhyun merasa hatinya berdegup kencang,
Bukan karna perasaan senang, bukan.. tapi ia
Takut..
Entah kenapa situasi seperti ini kembali mengingatkannya pada saat itu, saat dimana semua begitu menyakitkan bagi Baekhyun,
Dan entah kenapa saat lelaki itu mengatakan bahwa ia ingin membicarakan sesuatu padanya, pikirannya secara otomatis tertuju pada kejadian itu,
Baekhyun takut jika Sehun akan mengatakan sesuatu yang menyakitkan, padahal sudah jelas-jelas Baekhyun telah mendengar kata berakhir itu dua minggu yang lalu, namun entah kenapa ia hanya merasa takut jika lagi-lagi Sehun akan mengatakan kalimat menyakitkan itu.
Ia merutuki kerja otak dan ototnya, karna demi apapun saat ini ia tidak tau harus berbuat apa, ia tidak bisa mengendalikan otak dan otot nya agar berkerja sama, otaknya menyuruhnya untuk segera pergi dari sana, namun Baekhyun seperti lupa bagaimana cara menggerakan kakinya, karna dari tadi ia hanya terdiam menatap Sehun yang semakin mendekat,
Baekhyun ingin menangis..
"Baekhyun?"
Hatinya mencelos saat ia mendengar suara lain yang berada disana, Baekhyun sangat berterima kasih karna orang itu datang pada waktu yang sangat tepat.
Baekhyun segera menolehkan kepalanya, menatap lelaki yang lebih tinggi yang berajalan menghampirinya.
"A-ahjussi.."
Suaranya sedikit bergetar, Baekhyun merasa lega karna akhirnya ia menemukan seseorang yang bisa menolongnya.
Kedua kakinya segera melangkah mendekati si lalaki jangkung, sedangkan si lelaki jangkung mengertnyitkan dahinya saat ia melihat gadis mungil yang menghampiri dirinya dengan kedua mata yang memerah dan sedikit berair,
Pandangannya kemudian ia alihkan pada lelaki lain dihadapannya,
Ia mengenal lelaki ini,
"Sesuatu terjadi?"
Sorot itu memperlihatkan betapa ia tidak menyukai apa yang lelaki ini lakukan pada gadis mungilnya, meskipun ia sendiri tidak tau apa yang terjadi diantara keduanya, tapi bukan ini yang ingin ia lihat saat dirinya menjemput gadis mungil yang baru saja menyelesaikan ujian tes masuknya itu.
"Aku datang untuk menemui Baekhyun, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya."
Sehun menatap lelaki jangkung yang berdiri menghalangi Baekhyun, bukan menghalangi lebih tepatnya Baekhyun yang sengaja bersembunyi dibalik tubuh lelaki didepannya.
Park Chanyeol eh?
Sehun tidak menyangka jika mantan kekasihnya itu akan semakin dekat dengan orang ini.
Dirinya bahkan masih ingat dulu ia sempat merasakan cemburu pada orang ini, bahkan Baekhyun telah berjanji padanya supaya tidak menemui lelaki ini lagi,
Tapi apa yang dilihatnya sekarang? Sehun semakin percaya jika yang dikatakan Baekboom memang benar.
Baekhyun pergi ke Jeju bersama orang ini,
Entah kenapa Sehun merasa tidak suka melihat orang ini berada disekitar Baekhyun, bahkan sekarang Baekhyun bersembunyi pada orang itu, bersembunyi untuk mengindarinya.
Sedangkan si lelaki jangkung –Chanyeol tersenyum puas menyadari situasi yang ia alami sekarang.
Sedikit ironis, ini mengingatkannya pada saat pertama kali ia bertemu dengan Baekhyun, saat itu Baekhyun berada pada sisi Sehun, memeluknya manja dan menatapnya tak suka,
Kini, apa yang terjadi?
Baekhyun malah bersembunyi dibalik tubuhnya, menghindari seseorang yang dipeluknya dulu.
"Tapi sepertinya Baekhkyun sedang tidak ingin berbicara apapun dengan mu, sebaiknya kami permisi, karna kami memiliki hal lain untuk dikerjakan."
Chanyeol menyeringai puas sebelum akhirnya ia menarik lengan Baekhyun agar segera meninggalkan tempat itu, Baekhyun bahkan tidak menolehkan kepalanya saat lengannya ditarik oleh Chanyeol dan berlalu pergi meninggalkan Sehun.
Sehun menatap kepergian mantan kekasihnya dalam diam. Apa Baekhyun begitu membencinya?
Sebenci itukah?
Sehun masih terdiam meski mobil yang dinaiki Chanyeol dan Baekhyun telah melaju pergi,
Dan perasaan aneh itu muncul kembali.
Apa ia harus mengambil Baekhyun nya kembali?
Sedangkan didalam mobil, Baekhyun menangis tersedu, menyumpal hidungnya dengan tissue dan berbicara dengan nafasnya yang tercekat
"Hkk- a..ahjussi lihat kan? Sehun.. Sehun datang menemui ku- hkk.. aku bahkan tidak bisa berbuat apapun saat ia kembali menemui ku hkk- bagaimana aku menghadapi semua ini? Huwee.. eommaa.."
Setelah ia masuk kedalam mobil dan Chanyeol yang melajukan mobilnya, Baekhyun mulai sedikit terisak, dan mulai menangis dalam diam, hingga saat Chanyeol bertanya apa ia baik-baik saja, bocah itu malah menangis semakin kencang dan mengatakan sesuatu yang sama setiap kalinya,
"Kenapa.. kenapa Sehunnie ku semakin tampan? Ahjussi.. ahjussi juga lihat kan? Sehunnie semakin tinggi, dan juga- dan juga.. tampan- hkkk eommaa.."
Chanyeol memutar bola matanya malas, ia juga mendengus kesal,
Kenapa bocah disebelah nya malam memuji lelaki tidak tau malu itu? Kenapa pula ia bersembunyi dibalik tubuhnya jika akhirnya ia menangis tersedu dan malah memuji lelaki menyebalkan itu?
Tampan darimana?
"Tidak bisakah kau berhenti menangis Baek? Sebenarnya kau itu kenapa? Kupikir mantan kekasih mu itu mencoba untuk menyakiti mu tadi, lagipula kenapa kau menangisi seseorang hanya karna orang itu semakin tampan? Ia tidak lebih tampan dari lelaki lain menurutku."
Tentu saja Chanyeol kesal, ia bisa saja mendorong lelaki tadi untuk menjauh, atau mungkin memukulnya jika dirinya melihat Baekhyun nya diapa-apakan,
Baekhyun nya..
"Aku hanya- hanya.. hkk, aku hanya kaget, setelah itu, aku takut, lalu.. aku tidak tau harus berbuat apa, aku ingin sekali berlari dari sana, tapi- tapi.. aku tidak bisa menggerak kan kakiku saat Sehunnie semakin mendekat, karna dia.. dia sangat tampan- huwee.."
Konyol..
Chanyeol hanya memasang wajah ketusnya dan tidak memberikan komentar apapun saat Baekhyun masih sibuk dengan air mata dan juga ingusnya.
"Ahjussi kenapa diam? Apa ahjussi marah? Ahjussi tidak akan membatalkan jatah ice cream ku kan?"
Baekhyun akhirnya bisa menenangkan dirinya sendiri, ia mengusap air matanya dan menghentikan liquid bening yang terus mengalir dari dalam hidungnya, ia melirik Chanyeol yang hanya memfokuskan pandangannya pada jalanan dan mengabaikannya.
"Ahjussi.."
Baekhyun memajukan bibir bawahnya, ia tidak suka diabaikan, dan Baekhyun pun tidak tau dimana letak kesalahannya sehingga ahjussi disebelahnya mengabaikannya,
"Hm?"
"Apa ahjussi benar-benar marah?"
Baekhyun berujar pelan dalam duduknya. Chanyeol memparkirkan mobilnya saat mereka telah sampai ketempat tujuan mereka.
"Tidak, kenapa aku harus marah?"
Chanyeol melepaskan seatbelt nya kemudian menyampingkan badannya, menghadap Baekhyun yang juga sedang menghadapnya, ujung hidungnya merah dan kedua matanya sedikit sembab, harusnya Chanyeol merasa kasihan pada gadis yang telah menangis itu, tapi yang ia lakukan adalah menahan tawanya, karna Baekhyun terlihat begitu lucu,
Apa ia takut jika dirinya marah?
"A-ahjussi mengabaikanku, kupikir.. kupikir ahjussi marah padaku."
Baekhyun menarik kedua ujung bibirnya hingga membentuk sebuah lengkungan kebawah, ia melirik Chanyeol dalam diam dengan perasaan takut dihatinya, meski Baekhyun tidak tau kenapa ia merasakan hal seperti itu,
"Aku tidak marah, dan tidak mengabaikanmu, maka dari itu berhentilah menangis, bukankah kau ingin membeli ice cream?"
Sebelah tangan Chanyeol terulur untuk mencubit hidung kecil Baekhyun gemas, dan ia bisa dengan cepat melihat perubahan pada wajah gadis itu.
"Baiklah! Aku tidak akan menangis lagi!"
Ucapnya senang dengan lengkungan lucu dimatanya saat gadis itu tersenyum.
"Baiklah tuan putri, ice cream apa yang kau inginkan sekarang?"
"Aku ingin waffle dengan ice cream oreo!"
Matanya berbinar saat mengatakan hal itu, Chanyeol tidak bisa menahan tangannya untuk tidak mencubit pipi putih itu dengan gemas. Ia pun segera keluar dari dalam mobil, berjalan memutari sisi lain mobilnya dan membukakan pintu disusul dengan Baekhyun yang segera keluar dari dalamnya.
Namun saat mereka akan memasuki toko ice cream, Baekhyun menghentikan langkahnya, saat sepasang matanya melihat penjual permen kapas disebrang jalan.
"Ahjussi sisakan satu kursi untukku, aku ingin membeli itu dulu."
Tanpa menunggu jawaban Chanyeol, Baekhyun segera membalik tubuhnya dan berjalan menyebrangi jalan kemudian mendekati penjual permen kapas demi mendapatkan gulungan berwarna merah muda yang terasa lembut dan juga manis,
"Yaish- Byun Baekhyun! Cepatlah aku akan menunggumu disini."
Chanyeol berteriak kaget karna bocah itu selalu melakukan apapun yang ia inginkan tanpa mempedulikan hal lain, bocah itu malah sedikit berlari saat akan menyebrang, terkadang sikap gegabahnya selalu membuat Chanyeol khwatir, maka dari itu ia tidak akan masuk terlebih dahulu sebelum memastikan Baekhyun kembali padanya dengan selamat.
Ditempat lain, seseorang masih terduduk dalam kursi kemudinya didalam mobil. Orang itu memperhatikan interaksi antara lelaki jangkung yang berdiri didepan toko ice cream yang sedang menunggu seorang gadis yang membeli permen kapas disebrang jalan.
Orang itu telah mengikuti mobil si lelaki jangkung sejak tadi pagi, lelaki itu mengantarkan gadis yang sedang membeli permen kapas kesalah satu sekolah, setelahnya lelaki jangkung itu melajukan mobilnya dan berhenti pada sebuah cafe untuk membeli beberapa makanan,
Apa lelaki itu melewatkan sarapan paginya demi mengantar gadis yang sedang membeli permen kapas?
Orang itu kembali mengikuti mobil si lelaki jangkung saat ia menyadari lelaki jangkung itu kembali kesekolah dimana ia mengantarkan sigadis,
Lelaki jangkung itu menjemput gadis pendek bermbut coklat.
Nafasnya semakin memburu saat lagi-lagi ia kembali mengikuti kemana mobil si lelaki jangkung pergi.
Dan betapa terkejutnya ia, saat orang itu mengetahui si lelaki jangkung tidak langsung mengantar gadis itu pulang, melainkan mereka mendatangi sebuah toko ice cream.
Telapak tangannya mencengkram erat setir kemudi. Nafasnya seperti terkumpul diujung tenggorokannya, dan hatinya seperti terperas sakit.
"Apa ini yang kau maksud dengan urusan lain Chanyeol-ah?"
Orang itu tertawa remeh, mentertawakan dirinya sendiri seperti orang bodoh.
Ia kembali menatap kedua orang diluar sana dari kaca mobilnya.
Jika saja ia tidak melihat mobil kekasihnya berlalu tadi pagi, mungkin ia tidak akan mengetahui apa yang sebenarnya kekasihnya lakukan.
Tapi mungkin ia sedang beruntung saat ini, karna pagi ini, orang itu –Jaemin berniat untuk memberikan kekasihnya kejutan, dengan datang kerumahnya tanpa memberi kabar terlebih dahulu dan berniat untuk memasakkan sesuatu untuk calon tungangan nya itu dan menikamti sarapan pagi mereka bersama.
Namun apa yang dilihatnya adalah mobil calon tunangan nya yang keluar pagi hari sekali dihari libur.
Awalnya Jaemin hanya ingin memastikan kemana kekasihnya pergi, tapi sepertinya yang dilihatnya sekarang lebih menarik,
Kekasihnya bahkan berbohong padanya,
Demi bocah itu?
Ia bahkan jarang bertemu karna kekasihnya memiliki hari-hari yang sibuk, tapi yang ia lihat sekarang adalah kekasihnya yang pergi bersama bocah pendek pada hari libur.
"Hah- lucu sekali.. kaupikir siapa dirimu?"
Mata cantiknya menatap benci pada gadis pendek yang sedang melambaikan tangannya pada lelaki yang sangat dicintainya disebrang jalan, dengan sebelah tangannya yang menggenggam permen kapas berwarna merah muda.
Ia berdecih dan segera menyalakan mesin mobilnya, mengoper gigi dan segera menginjak gas pedal pada mobilnya saat melihat gadis pendek itu sedang menunggu jalanan sepi untuk segera menyebrang.
Chanyeol tercekat ditempatnya, matanya membulat dengan sempurna saat ia melihat bagaimana tubuh ramping itu terpental saat sebuah mobil menabraknya dengan kencang. Tubuh mungil itu terlempar beberapa meter dan jatuh menyentuh kerasnya apal sesaat tubuh rapuh itu berguling dan akhirnya berhenti disusul dengan lelehan kental berwarna merah pekat yang mengalir dari sudut kepalanya.
"BYUN BAEKHYUN!"
.
.
.
.
.
-ToBeContinue-
.
.
.
.
.
Lalalala- /beresenin baju/otw kabur/ :"v
JANGAN DULU BUNUH BIKU :"33
Biku udah siapin pembelaan diri dan permohonan maaf jadi simpen dulu alat alat tajamnya oke :")
Jadi begini, uhm- hahahaha.. oke ini udah keterlaluan karna udah ehm, dua bulan ya? :"v
Iya dua bulan lebih maksudnya :") biku bingung sebenernya mau bilang apaan, jujur biku males ngerjain lagi ini ff.. udah tuh biku pusing ngurusin tugas yang seabreg- ini beneran loh bukan alesan :") biku udah nyerah sebenernya gamau lanjutin kuliah, mau nikah aja /lah :"
Jadi ya gituu.. biku sibuk sama tugas yang tiap hari bikin kepala biku sakit, udah gitu yang kedua yang paling penting, biku males ehehe, terus yang ketiga mood biku abstrak jadi disaat malesnya ilang ehh moodnya ikut ilang jadi gamaju maju, yang keempat yang ga kalah penting, yaitu ide :") biku suka buntu, disaat buntu itu si males sama si mood ngajakin ngumpul, jadi gamaju lagi hehehe :")
Mungkin kalian bosen denger biku minta maap terus, yaudah deh biku gabakalan minta maap lagi.. /digorok
Terus seminggu yang lalu biku baru beres UTS biku tuh niatnya mau update dua sekaligus sama Unfortunately Soul ehh namanya juga ekspetasi, satu aja lama beresnya hehehe-
Nahh sekarang bahas chapter ini, udah jelas kan sekarang gimana? Ketebak dong siapa yang bakalan diilangin dari ff ini..
Yang bakalan diilangin dari ff ini adalah...
BYUN BAEKHYUN
Yeayyyy! /disayat Baekhyun/ :")
Baekhyun nya ilang jadinya Chanyeol nikahnya sama biku :")
Boong deng wkwkwk, tau lah ya siapa yang bakalan diilangin.. nahh ada juga yang minta Biku buat bikin Sehun nyesel, well sebenernya biku udah kasih sesuatu yang spesial buat Sehun, karna selain yang bikin nyesel ada hal lain yang bisa nyiksa orang, yaitu memilih..
Milih itu nyiksa bro.. karna sometimes "The most difficult thing is Choosing something."
Jadi biku biarin aja Sehun pusing sama perasaan nya biar dia bingung harus milih siapa wkwkwk /dikroyok Sehun stan/ lagian Sehun udah dimarahin sama kakak tingkat cantik, iyakan? :")
Yahh itulah pembelaan biku dan permohonan maaf nya (?) gapapa kalo kalian udah lupa sama biku juga, biku mah pasrah :") tapi biku tetep bakalan pegang janji biku, biku tetep bakalan tamatin ff ini, tapi buat yang minta fast update dan yang nanya jadwal update itu sungguh gabisa biku jawab :"v awal-awal mah biku bisa update ff seminggu sekali, sekarang?
Dua bulan sekali :")
Semoga biku bisa lebih tangung jawab dalam membagi waktu deh ya.. biku tetep usahain kok, cuman ya gitu.. biku labil gatau bisa ngetik laginya kapan,
Tapi biku terharu sama kalian yang masih nungguin dan nanyain kapan update lagi, kadang biku ingin buru-buru ngetik terus update, oke ini bullshit :"33
Pokonya makasih buat kalian yang masih mau nyimak kisah yang semakin gajelas ini, biku malu lama-lama hahahaha :"
Tapi biku gamalu buat minta kritik san saran atau mungkin hujatan wkwkw, jadi ayok reviewww.. karna biku selalu baca dan itu lah yang menyemangati biku buat ngetik lagi, ini panjang lhooo- terpanjang dari semua chapter sebelumnya panjang = banyak typo, jadi ayok review lagii ahahaha /dijambak
FOLLOW IG BIKU JUGA : biikachu_
Kita ngobrol ngobrol disana kuyzz, masih sepi tapi ig nya :vv
Yaudah dehhh, semoga biku bisa cepet balik lagi kesini, terimakasih semuanyaa... maafin biku juga.. wkwkw,
Mind to review? See you soonn! I LOVE YOU!
