disclaimer. Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime.
warnings. shoujo-ai; fragmentatif, alur aneh, ooc.
Aku bertapa dalam sendu. Rindu melingkupiku dikala aku kaku dan ragu. Begitu kau datang, semua noda di wajahku berubah menjadi rona. Sangsi diriku sendiri pada sikapku yang kini, aku lebih mengerti yang kausebut sebagai arti.
Wahai rupawan, dimanakah gerangan kau simpan wajah aslimu?
Ataukah yang kulihat hanyalah tipu muslihatmu yang ke seribu?
Apakah aku melihat ragu menyeruap dari ulas tipis biru?
Wahai rupawan; bawa aku ke dalam rahasia. Rahasia yang menyusun bingkai demi bingkai wajah ayu nan layu. Layu akan pesona yang tak dapat terperi caci. Caci maki khalayak fana yang bahkan tak bisa kuelakkan dari raga diri.
:hologram summer – kaschunnus.
‹9/17›
halaman baru, dan ketika itu—
.
{IX. Tangan karat}
Ymir mencoba menceritakan porsi kehidupannya sebagai detektif kepada Krista. Wanita itu mendengarkan jelas bagaimana setelah itu kasus tersebut gagal untuk tidak membawa korban—dirinya baik-baik saja karena Bertholdt melindunginya dengan bayaran netranya, Jean yang berusaha mencegah sang teroris bunuh diri dalam ledakan harus kehilangan kedua kakinya, juga sang klien yang harusnya ia lindungi malah menjadi bulan-bulanan bom rakitan karena kalkulasinya yang tidak sempurna. Beruntung kerusakan yang diderita perusahaan tidak terlalu besar dan bahkan sang sekretaris selamat; sempat terjadi kegegeran di berbagai media massa, dan kasus itu cukup riuh-rendah di dunia kriminal tentang siapa teroris tersebut.
Sungguh, ia merasa dirinya bodoh.
Walau Ymir terus mengatai dirinya sendiri, Krista memegangi kedua tangannya dan berisyarat;
["Ini bukan salahmu; ini hanya pelajaran kecil untukmu."]
.
Selepas meneguk teh madu untuk entah berapa kalinya, Ymir mengeluarkan senyum kepada Krista yang tak henti-henti memeluknya dalam diam. Sang pujangga kata tahu bahwa tidak ada yang dapat sang wanita bisu lakukan selain memberikan aksi dan reaksi. Berbicara sepatah kata bukanlah hal yang mampu menenangkannya, ia rasa, dan wanita bersurai pirang itu juga tak bisa memberi aksara.
"Tidak apa-apa, Krista; aku sudah baik-baik saja."
Krista menempelkan jarak wajahnya dengan sang penulis, alih bertatapan mata.
["Benarkah?"]
"Ya, terima kasih atas—" Ymir berdehem. "Kehangatanmu."
Seringai tawanya terlihat bak sinar matahari; terlalu silau untuk dipandang dan juga terlalu berharga untuk dilewatkan. Ymir bertanya-tanya apakah sedari pertama mereka bertemu senyum sang Krista Lenz sudah seperti itu.
Tak lama setelah Krista membereskan cangkir, terdapat suara ketukan di pintu apartemen mereka. Ymir dan Krista saling bertukar pandang sebelum akhirnya Ymir sendiri yang membuka pintu.
.
.
.
Dear Kaschunnus.
Sudah berapa lama kita tidak berbalas sapa lewat kata yang diwakili tinta? Aku selalu merindukan balasan singkat dan menawan darimu.
Apa kau berpikir untuk memulai sesuatu yang baru? Seperti, novel dengan genre dewasa atau romansa picis yang mengundang mata? Aku sudah berulang kali membaca karyamu lagi aku tak puas; apakah aku akan dimanjakan lagi dengan permainan frasa dan nada?
Maaf sekali lagi bila aku banyak bertanya, aku tidak bisa sabar ketika ini menyangkut dirimu. Kutunggu balasmu, juga perkembangan tulisanmu setelah garapanmu yang lalu.
Dari pembaca setiamu,
Rhesus negatif
.
.
.
Sasha Braus, lengkap dengan pakaian semi-formal terkomposisi dengan blus putih yang dibalut blazer hitam dan rok yang sepadan. Tampak tidak ada perubahan signifikan terhadap gayanya menata rambut sejak awal zaman kiprahnya di dunia jurnalis.
"Ikut aku Ymir; ke Holosense." Sasha menawarkan tangannya. "Aku ingin menuntaskan hambatanmu."
.
(tbc.)
