Untuk jarang update, mian readerdeul..

Untuk selalu menunggu FF remake ini, gomawo readerdeul..

Untuk semua yang sudah meninggalkan jejak kakinya, jeongmal gomapta readerdeul..

Untuk besok2nya lagi, mungkin FF remake ini akan lebih sering diupdate di blogspot baru mizuki, mungkin juga akan diupdate disini, Cuma gak janji kapan ne.. oke langsung aja ya..

.

.

_Mizuki Kitahara_

.

.

Present

.

.

Bittersweet Rain

© Sandra Brown

.

.

Masitge deuseyo..


Jaejoong bangun lebih lambat daripada yang diinginkannya. Ia memakai mantel dan turun ke dapur untuk mengambil secangkir kopi sebelum mulai bekerja di perpustakaan. Boa bersenandung sambil mencuci piring. Ia tidak suka memakai mesin pencuci piring.

"Selamat pagi. Kau kelihatan senang sekali."

"Yunho sarapan banyak," jawab Boa dengan wajah berseri-seri.

Jaejoong tersenyum. Cara Boa menyebut nama Yunho seperti menyebut nama anak namja berusia empat tahun. "Ia sudah bangun dan pergi?"

"Ah, ne." Boa mengiakan sambil mengarahkan pandangan ke pintu belakang. Jaejoong melangkah ke pintu belakang sambil menghirup kopi. Tampak Yunho berdiri di samping salah satu kuda terbaik milik keluarga Jung, berbicara dengan Kyuhyun. Jaejoong melihat Yunho melompat naik ke atas pelana, kakinya yang panjang terentang di badan kuda, dan ia membetulkan letak kakinya yang memakai sepatu boot di sanggurdi. Kuda jantan itu berjingkrak-jingkrak sebelum Yunho menarik tali kendali kuat-kuat. Yang langsung direspon si kuda. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Kyuhyun, Yunho dan kudanya berpacu menuju tanah lapang yang mengarah ke jalan raya.

Jaejoong memandanginya sejauh matanya mampu memandang. Rambut Yunho yang hitam berkilat di bawah sinar matahari pagi. Otot paha dan punggungnya tampak menonjol ketika tanpa kesulitan ia melompati pagar dan mengarahkan kudanya ke pepohonan.

Waktu Jaejoong membalikkan badan, Boa memandanginya dengan sorot mata penuh ingin tahu. Jaejoong yang gugup memegang tenggorokannya. "Aku harus menelepon beberapa orang, aku akan ke perpustakaan," gumam Jaejoong sebelum meninggalkan dapur dengan tergesa-gesa. Ia memang tidak mampu menahan diri untuk tidak hanyut bersama Yunho, tetapi ia harus sangat berhati-hati jangan sampai ada yang menyadari sikapnya itu.

.

.

_Mizuki Kitahara_

.

.

Perawat rumah sakit yang bertugas jaga tidak banyak memberikan informasi baru ketika Jaejoong meneleponnya.

"Ia belum bangun. Ia tidur nyenyak hampir semalaman. Ia bangun sekali, tapi segera kami beri obat penenang."

"Gamsahamnida uisanim," katanya sebelum memutus hubungan telepon dan memutar nomor telepon Yoochun.

"Apakah ada hal yang harus kulakukan tetapi belum kuselesaikan?" tanyanya pada pengacara itu. "Bukannya aku mau lancang, ikut campur soal kesepakatan kerja maupun urusan pribadi Siwon, aku hanya ingin membantu sebatas yang aku mampu."

"Aku tidak pernah menganggapmu lancang," kata Yoochun lembut. "Lagi pula itu hakmu untuk memerhatikannya."

"Aku bukan memikirkan diriku. Aku hanya ingin kepastian segala yang menyangkut Sungmin sudah diatur dengan baik. Juga Yunho, tentu saja."

Pengacara itu terdiam. Jaejoong tahu ia tengah mengingatkan dirinya akan kerahasiaan dalam profesinya. "Aku tidak tahu semua keinginan Siwon, Jae. Sumpah, aku tidak tahu. Ia membuat surat wasiat baru beberapa tahun lalu, tetapi ia meminta aku mengurusnya. Aku yakin akan ada beberapa pasal yang ia buat untukmu. Aku rasa tidak akan ada kejutan."

Jaejoong juga sangat berharap demikian, tetapi ia tidak mengungkapkan kecemasannya kalau-kalau ada kejutan. Setelah selesai bertukar pikiran tentang beberapa masalah bisnis, mereka saling mengucapkan selamat tinggal.

Begitu diletakkan, telepon itu langsung berdering.

"Yoboseo?"

"Nyonya Jung?"

Suara hiruk-pikuk yang terdengar di telepon jelas menunjukkan telepon itu datang dari pabrik pengolahan ginseng. "Ne."

"Saya Changmin, Shim Changmin. Ingat mesin penumbuk yang pernah saya ceritakan beberapa hari lalu? Pagi ini suara mesinnya berisik sekali, karena itu kami matikan."

Jaejoong mengusap dahinya. Kerusakan semacam ini tidak boleh terjadi, sebab sekarang sedang musim panen ginseng. Mesin itu digunakan untuk menumbuk ginseng. Meski hanya satu mesin yang rusak pada masa panen, mereka bisa kehilangan berjam-jam masa produksi.

"Aku segera ke sana," jawab Jaejoong cepat.

.

.

_Mizuki Kitahara_

.

.

Buru-buru Jaejoong menghabiskan sisa kopinya yang sudah dingin, lalu lari naik ke lantai dua. Setengah jam kemudian, ia sudah mandi dan berpakaian rapi. Mengenakan rok dari bahan poplin dan blus dari bahan rajut berkerah. Ia memakai sepatu berhak rendah. Rambutnya diikat asal, dililit pita warna cerah. Jaejoong tidak pernah memakai baju mewah ke pabrik. Alasannya, tidak praktis. Alasan lainnya, ia ingin para pekerjanya menganggap dirinya bagian dari mereka, bukan sekadar istri si bos.

Ia pamit pada Boa, menjelaskan ke mana ia akan pergi. Kemudian ia mengambil dompet, lalu lari ke pintu depan. Yunho baru saja menarik kudanya. Ketika melihat Jaejoong, Yunho menyerahkan kudanya pada Kyuhyun yang menunggunya, lalu lari menghampiri Jaejoong.

"Mau ke mana, terburu-buru? Ke rumah sakit?"

Dari ekspresi wajahnya, Jaejoong tahu Yunho mengira ketergesa-gesaannya karena kondisi appanya yang memburuk. Kendati keduanya tidak pernah rukun, batin Jaejoong, Yunho peduli juga pada appanya dan tidak suka melihatnya menanggung penderitaan. Cepat-cepat Jaejoong menenangkannya,

"Ani. Aku menelepon ke rumah sakit tadi pagi. Siwon belum bangun, tetapi mereka bilang sepanjang malam ia tenang. Aku mau ke pabrik pengolahan ginseng."

"Ada masalah?"

"Ne. salah satu mesinnya rusak."

Yunho mengangguk. "Parah?"

"Mungkin, Changmin terpaksa harus mematikannya." Jaejoong melihat Yunho berpikir keras dan sebelum mempertimbangkan lebih jauh, ia berkata,

"Mau menemaniku ke sana, Yun?" Pandangan mata Yunho beralih ke Jaejoong, membuat Jaejoong harus menelan ludah. "Barangkali, bila kau melihatnya, kau tahu apa masalahnya. Aku butuh bantuanmu. Kalau minta bantuan orang lain, ia mungkin saja akan menarik keuntungan dalam situasi seperti ini."

Yunho menatap Jaejoong begitu lama dan tajam, membuat Jaejoong berpikir pria itu akan menolak ajakannya. Kemudian Yunho mengulurkan tangan. "Aku yang mengemudi."

Jaejoong meletakkan kunci mobil Lamborghininya ke telapak tangan Yunho, lalu berlari ke mobil, mengambil sisi yang berlawanan. Cara Yunho mengemudikan mobil sama seperti ia mengerjakan pekerjaan lainnya, agresif. Terdengar suara ban mobil mencicit nyaring ketika dibelokkan, kerikil beterbangan dan debu mengepul.

"Mesin ini sering mogok?" tanya Yunho pada Jaejoong.

"Beberapa kali, ya."

"Baru-baru ini?"

"Ya."

Jaejoong berharap mereka bisa terus bercakap-cakap. Dekat dengan Yunho mengacaukan perasaannya. Aroma tubuh Yunho bak udara pagi yang menyegarkan, seperti angin, seperti bau kuda, wewangian, dan aroma namja. Gambaran Yunho yang duduk di kuda muncul kembali dalam benaknya.

.

.

_Mizuki Kitahara_

.

.

Masih segar dalam ingatannya, Yunho yang datang ke tempat pertemuan mereka dengan berkuda. Jaejoong merasa tubuhnya menciut melihat kuda yang demikian besar. Yunho tertawa melihat ia gugup dan memaksanya naik kuda bersamanya. Dengan enteng Yunho mengangkat tubuh Jaejoong ke punggung kuda. Untunglah hari itu Jaejoong memakai rok lebar sehingga ia bisa duduk mengangkang.

Bahkan sampai saat ini Jaejoong masih ingat bagaimana rasanya bulu-bulu kuda itu menyentuh pahanya yang telanjang, perut Yunho yang menyentuh pinggulnya ketika pria itu duduk di belakangnya, gerakan naik-turun paha Yunho yang menyentuh pahanya, kekokohan lengannya yang memegang tali kendali ketika mengajaknya berkeliling. Tubuh Yunho terasa hangat dan agak basah karena keringat. Yunho meletakkan dagunya di rambutnya. Bahkan ia masih bisa merasakan napas Yunho di pipinya, di kelopak matanya. Ia mencium bau yang sama hari ini seperti dua belas tahun lalu.

Tidak banyak yang ia ingat ketika menunggang kuda di bawah pepohonan pendek yang rindang. Yang ia ingat hanyalah dadanya yang berdebar-debar ketika Yunho meletakkan tangannya di bawah dadanya. Ia ingat, saat itu tak ada yang ia takutkan kecuali khawatir Yunho tidak suka ketika pria itu menyenggol payudaranya. Ia tidak mampu membeli pakaian dalam cantik berenda seperti yang dipakai yeoja-yeoja sebayanya. Branya hanya bra biasa, berwarna putih, sekadar fungsional dan tak menarik. Jaejoong ingin merasa lembut, memikat, dan seksi di tangan Yunho. Ia takut ia tidak terasa seperti itu.

.

.

_Mizuki Kitahara_

.

.

Kini ia mengamati tangan Yunho yang memegang kemudi. Tangan yang indah. Berwarna gelap dan kokoh, ramping dan terawat. Kukunya dipotong pendek. Bulu-bulu hitam halus tumbuh pada buku-buku tangan, punggung tangan, dan pergelangan tangan.

"Ayo kubantu turun," kata Yunho, sambil mengulurkan tangan kepada Jaejoong.

Jaejoong menurunkan kakinya dari punggung kuda, tubuhnya agak dimiringkan dan tangannya di pundak Yunho. Tangan Yunho memegang lengan bagian bawahnya ketika Jaejoong perlahan turun dari punggung kuda. Namun, kendati kaki Jaejoong sudah menyentuh tanah, Yunho tidak melepaskan genggamannya, tangannya menyenggol payudara Jaejoong. Saat itu Yunho mendesahkan namanya.

"Jae. Boo?"

Jaejoong tersentak, panggilan Yunho bukan hanya ada dalam angan-angannya tetapi betul-betul terjadi.

"Wae Yun?" Ia menatap Yunho, kecemasannya tak dapat disembunyikan. Matanya bagai berkabut dan sendu, teringat ciuman yang memabukkan yang pernah mereka lakukan. Dadanya naik-turun dengan cepat, seperti yang terjadi pada hari itu ketika tangan Yunho menggenggam payudaranya, memijatnya perlahan, mengusapnya sampai payudaranya menegang.

Yunho menatap Jaejoong penuh keheranan. "Aku bertanya apakah ada tempat parkir khusus untukmu."

"Oh. Ya..ya. Dekat pintu. Ada tandanya." Yunho mengarahkan mobil ke tempat yang bertuliskan nama Jaejoong di aspal dan mematikan mesin mobil. Setelah itu Jaejoong kembali melihat Yunho menghunjamkan tatapan heran lagi. "Sudah siap masuk?" Yunho seperti tidak yakin Jaejoong siap.

Jaejoong merasa harus segera menjauhkan diri dari mobil, dari kenangan manis itu. Hampir meneriakkan kata ya, ia membuka pintu mobil dan hampir terjatuh karena terburu-buru menjauh dari mobil.

.

.

_Mizuki Kitahara_

.

.

Suara hiruk pikuk dan debu yang mengepul di pabrik pengolahan ginseng adalah sambutan selamat datang yang sudah akrab. Jaejoong melangkah masuk bersama Yunho menuju kantor Siwon.

Yunho melihat tak banyak yang berubah. Para pekerja yang datang mengerumuni mereka adalah orang-orang yang sudah dikenalnya.

"Changmin!" serunya. "Masih di sini?"

"Sampai mati." Ia menggenggam tangan Yunho. "Senang berjumpa lagi denganmu, Yun."

Yang lain pun menyalami Yunho dengan gembira. Yunho menanyakan kabar keluarga mereka, mengingat nama-nama yang mungkin sudah dilupakan orang lain. Namun orang-orang ini sudah seperti keluarga Yunho. Mereka bagian dari dirinya bak darah yang memberi kehidupan selama hidupnya.

"Apa masalahnya?" tanya Yunho pada Changmin, sambil berjalan ke mesin pengolahan yang rusak di deretan mesin.

"Tua, umumnya," jawab mandor itu resah. "sudah terlalu tua, Yunho. Tak tahu apakah masih bisa dipakai. Terutama kalau panen tahun ini sebaik tahun lalu. Harus dihidupkan siang dan malam."

Yunho menjumput ginseng yang mencuat keluar dari mesin dan mengelusnya dengan jari-jarinya. Ada serpihan daun dan pasir terselip di antara serat-seratnya. Changmin dan Jaejoong menghindari pandangan mata Yunho ketika memerhatikan ginseng itu dengan saksama. "Kualitas apa ginseng ini?"

"Menengah," jawab Jaejoong, akhirnya, ketika melihat Changmin terdiam.

"Keluarga Jung selalu memproduksi ginseng kualitas terbaik. Apa yang terjadi di sini?"

"Ayo keruanganku Yun," ajak Jaejoong lembut. Ia langsung berbalik dan berjalan lebih dulu, berharap Yunho mengikutinya dan tidak berargumentasi dengannya di depan karyawan.

.

.

_Mizuki Kitahara_

.

.

Jaejoong duduk di kursi kulit di belakang meja ketika Yunho masuk ke ruangan dan membanting pintu, sampai membuat kacanya bergetar.

"Dulu ini pengolahan ginseng terbaik di Korea," kata Yunho marah tanpa basa-basi.

"Sekarang pun masih."

"Tidak mungkin bila kualitas ginseng yang diproduksi seperti itu, tidak mungkin. Andai aku petani ginseng, hasil panenku pasti akan kuolah di pabrik pengolahan yang lain. Tidak bisakah kita mengolah ginseng yang lebih baik?"

"Sudah kubilang, yang jadi persoalan adalah peralatannya. Mesin-mesin itu..."

"Sudah kuno," potong Yunho. "Brengsek, apakah Appa tidak ingin memperbaiki atau memperbaruinya?"

"Ia merasa tidak perlu," jawab Jaejoong, pelan.

"Tidak perlu?" ulang Yunho dengan suara nyaring. "Lihatlah tempat ini. Lebih mirip kandang dinosaurus ketimbang pabrik pengolahan ginseng modern. Kita tidak jujur pada diri kita, juga pada para penanam ginseng. Aneh mereka tidak membawa ginseng mereka ke pabrik pengolahan ginseng yang lain…" Mendadak Yunho berhenti bicara, matanya disipitkan. "Atau banyak yang sudah pindah?"

"Kita kehilangan beberapa tahun lalu, beberapa dari mereka memutuskan untuk pindah."

Yunho mengaitkan ujung sepatu botnya ke kaki kursi, lalu menarik kursi itu ke dekatnya. Yunho, setelah duduk di kursi, mencondongkan tubuh ke meja dan berkata dengan nada yang tidak bisa diterima Jaejoong. "Ceritakan semua yang terjadi padaku."

"Beberapa penanam ginseng yang biasa menjual panennya pada Jung Gin memang ada yang membawa ginseng mereka ke pabrik lain. Mereka hanya membayar biaya pengolahan kemudian menjual langsung ke pedagang."

Jaejoong duduk resah di kursi kulit yang berderit sementara Yunho memandanginya. "Jadi mereka lebih suka repot-repot mengusung panen ginseng mereka ke tempat lain dan membayar ongkos mengolahnya ketimbang menjualnya kepada kita, mengolahnya, mengepaknya, dan menjualnya ke pedagang ramuan herbal." Jaejoong mengangguk. Yunho menyuarakan apa yang masih terpendam dalam benak mereka. "Mereka mendapat lebih banyak uang dengan cara itu, daripada mengolahnya di tempat kita, karena mereka hanya membayar dengan ongkos lebih murah untuk ginseng yang kualitasnya lebih rendah."

"Kurasa begitulah cara berpikir mereka."

Yunho bangkit dari kursi dan berjalan ke jendela. Ia membalik tangannya, lalu memasukkannya ke saku jins. Kelihatannya ia sedang memandang alam sekitar, tetapi Jaejoong tahu bukan pemandangan itu yang tengah dilihatnya. "Kau tahu akar persoalan ini, bukan? Tahu, kan?" ulang Yunho, langsung membalikkan badan ketika Jaejoong tidak cepat menjawab pertanyaannya.

"Ya."

"Tetapi kau tidak melakukan apa-apa."

"Apa yang bisa kulakukan, Yunho? Pertama-tama, tugasku hanya mengurus pembukuan. Aku belajar tentang proses pengolahan ginseng, pemasarannya, hanya dengan mendengarkan, mengamati, menjengkelkan diriku sendiri dengan berada di antara para pekerja. Aku bukan pengambil keputusan."

"Kau kan istrinya! Tidakkah itu membuatmu punya hak untuk melakukan sesuatu?" Yunho mengangkat kedua tangannya. "Kutarik kembali ucapanku. Mereka yang menjadi istri Jung Siwon tidak akan mengkritik, melakukan apapun yang dikerjakan Siwon, mereka hanya pasrah melakukan perintah... istri-istri yang tugasnya menyenangkan suami."

Jaejoong mengangkat dagu, mengepalkan tangan, dan berkacak pinggang. "Aku pernah mengatakan padamu aku tidak akan pernah bicara soal hubunganku dengan Siwon padamu."

"Dan aku pernah mengatakan padamu aku tidak peduli apa yang kaulakukan dengan Siwon di ranjang."

Keduanya tahu apa yang mereka katakan sebetulnya tidak benar. Yunho merasa agak malu karena menyadari ia berbohong. Jaejoong dengan bijaksana memilih tidak menantangnya. "Andai menghinaku adalah hal terbaik yang bisa kau lakukan untuk memecahkan masalah ini, kurasa kau tidak usah ikut campur."

Yunho mengumpat dan menyibakkan rambut dengan jari-jarinya dengan kesal. Mereka saling pandang sampai akhirnya diam-diam mengalah. "Aku akan menolong semampuku," gumam Yunho.

"Kau bisa memperbaiki mesinnya?" tanya Jaejoong, menekan kesombongannya.

"Aku butuh beberapa peralatan, tetapi kurasa bisa kuperbaiki. Aku pernah membongkar mesin pesawat terbang dan memperbaikinya. Pasti mesin ini tidak lebih rumit daripada mesin pesawat terbang. Tetapi aku tidak berani menjanjikan apa-apa, Jae. Perbaikan yang kulakukan bukan jawaban atas masalahmu."

"Aku paham." Jaejoong melunak, tubuhnya tidak setegang tadi ketika ia tersenyum malu-malu, meminta maaf atas perilakunya. "Apa pun bantuanmu, sangat kuhargai."

.

.

Kali ini umpatan Yunho makin kasar, tetapi hanya dalam hati. Umpatan itu ditujukan kepada dirinya sendiri karena perasaan bersalah. Tak ada hal yang lebih diinginkannya saat itu kecuali memeluk Jaejoong, melindunginya, mengecup bibirnya, merapatkan tubuh yeoja itu ke tubuhnya. Betapa tololnya dirinya dulu. Pikiran itu membawanya membayangkan tubuh Jaejoong berpelukan dengan appanya. Oh, Tuhan! Terkadang ia merasa seperti akan gila bila membayangkan hal itu.

Kendati demikian ia tidak bisa menyalahkan Jaejoong, seperti yang ingin ia lakukan. Tiap kali menatap Jaejoong, ia makin menginginkan wanita itu. Ia harus segera meninggalkan tempat ini. Segera. Sebelum ia melakukan sesuatu yang bisa mempermalukan dirinya sendiri. Namun itu pun tidak bisa ia lakukan, apa pun alasannya. Sungmin. Appanya. Tetapi terutama karena Jaejoong. Berjumpa lagi dengan Jaejoong dua belas tahun kemudian membuat Yunho tidak bisa serta merta meninggalkannya.

.

.

.

To Be Continue