Sehubungan ada permintaan dari anggraxl-chan saya update chapter 9 ini kurang dari 12 jam setelah chapter 8 di-update.

Awalnya saya masih ragu buat ngepublish chapter ke 9 ini, saya kebingungan mencurahkan isi pemikiran saya di bagian akhir. Tapi akhirmya setelah tidur-tiduran sambil BBM-an saya mendapat ide untuk bagian terakhir chapter 9 ini.

Oh ya cuman mau ngasih warning: chapter kali ini bergenre Mistery dan untuk dua chapter selanjutnya mungkin akan mengandung sedikit unsur kekerasan. Well, tau kan gimana cerita asli naruto?

Oke! Now, please enjoy and review this story XD


"Hei minato cepat lah!" kata Asao tidak sabaran.

"Chotto matte kudasai!" sahut Minato ia masih sibuk memasukan cemilan yang di belinya untuk menginap.

"Kenapa sensei tiba-tiba mengajak kami menginap di pemandian air panas?" tanya Toura.

"Tentu saja untuk reflexing setelah dua minggu latihan terus, aku rasa kalian perlu mendapat hiburan dan kita akan tetap berlatih nanti," jawab Jiraiya.

"Ternyata guru perhatian juga ya!" komentar Minato.

"Aku rasa dia sebenarnya punya maksud lain," sahut Asao.

"Tujuan lain?"

Minato tidak mengerti apa yang dikatakan Asao.

"Nanti juga kau tahu," sahut Toura.

"Yah baiklah akhirnya kita sampai," Kata Jiraiya.

Mereka berhenti di penginapan yang cukup besar. Dengan pemandangan alam yang sangat indah.

"Wow! Sensei mentraktir kita di penginapan semewah ini! Sensei pasti kayaraya," komentar Toura.

"Tentunya sebagai seorang guru aku harus memberi sesuatu yang berkualitas untuk murid-muridku," kata Jiraiya dengan penuh wibawa.

"Sensei memang sangat baik ya," puji Minato.

"Huahahaha, sekarang kau tahu kan sebaik apa gurumu ini," kata Jiraiya dengan bangga. "Penginapan mewah dengan pemandian besar, pastinya banyak gadis-gadis cantik disana. Aku benar-benar tidak sabar melihatnya!."

Jiraiya memperlihatkan tawa mesumnya.

"Sudah kuduga dia punya maksud lain," kata Asao.

"Apa ini yang kau sebut guru yang sangat baik?" tanya Toura.

Minato tahu kalau pertanyaan itu diberikan untuknya.

"Entahlah, kelihatannya aku harus menarik pernyataanku."

"Hei kalian! Sampai kapan kalian ngobrol terus. Ayo masuk! Aku sudah memesan kamar." sorak Jiraiya dari ruang resepsionis.

Mereka masuk ke kamar mereka dan bersiap untuk berendam di kolam air panas. Toura pergi lebih dulu ke pemandian perempuan. Asao dan Minato pegi ke pemandian pria.

"Mana Jiraiya sensei?" tanya Minato.

Jiraiya sudah pergi lebih dulu ke kolam sebelum mereka. Tapi, mereka tidak menemukan sedikitpun jejak Jiraiya di kolam.

"Entahlah. Aku harap dia tidak mencoba menyusup ke pemandian perempuan," sahut Asao.

BRAAK

Mendadak dinding pembatas kolam pemandian perempuan dan pria hancur. Jiraiya muncul bersamaan dengan hancurnya dinding besar itu dengan darah mengalir dari hidungnya.

"Dasar laki-laki otak buaya! Kubunuh kau!" bentak seorang gadis berambut pirang dengan tanda seperti titik ungu di jidatnya.

"Sial, kalau aku tahu ada perempuan berkekuatan monster sepertimu. Aku juga ga bakal masuk kesitu," kata Jiraiya tanpa merasa berdosa sedikitpun.

"Kelihatannya harapanku tidak tersampaikan." kata Asao. "hei Minato, ada apa?"

Minato sama sekali tidak menyahut ucapan Asao. Dia berdiri kaku membelakangi Asao. Asao mencoba melihat apa yang membuat Minato terpaku. Seorang gadis berambut merah panjang berdiri di hadapan Minato tempat pembatas dinding hancur. Wajah mereka sama-sama merah padam.

"Dasar cowok mesum!"

Kushina mengayunkan tinjunya sepersekian detik kemudian. Namun, pukulannya malah mengenai Asao yang berdiri tepat di belakang Minato. Minato menghindari serangan Kushina dengan mencelupkan dirinya ke dalam air. Usaha yang dilakukan Minato malah membuatnya melihat apa yang tidak ingin dilihatnya dan membuat Kushina makin marah karena malu.

"Kuhabisi kau!"

Kushina memperlihatkan tampang monster paling mengerikan yang pernah dilihat Minato.

"Hei tunggu dulu aku sama sekali tidak pernah berniat meli..."

Sebelum minato menyelesaikan kalimatnya Kushina telah menlancarkan serangannya lebih dulu. Lagi-lagi serangan Kushina malah melesat kepada Asao yang baru sempat berdiri.

Minato secepatnya menepi. Beberapa orang yang juga berendam di kolam juga telah menyingkir dari kolam karena keributan tadi. Kushina yang gagal menghajar Minato pun membalikkan badannya memunggungi Asao dan segera memakai handuk mantelnya tanpa mempedulikan Asao yang meringis kesakitan.

"Sialan kenapa aku harus ketemu gadis Monster itu disini?!" gerutu Asao kesal di ruang ganti.

"Entahlah, kalau tahu ada wanita itu, aku gak bakal mengajak kalian kesini," sahut Jiraiya yang kena pukul wanita pirang.

"Ini semua gara-gara sensei tahu!"

"Seperti biasa, kebiasaan burukmu masih tidak hilang ya Jiraiya."

Seorang laki-laki berambut panjang dengan wajah pucat datang menghampiri mereka. Pupil mata laki-laki itu terlihat seperti pupil ular.

"Kau disini juga!" sahut Jiraiya kaget.

"Tidak ada salahnya kan mengeluarkan sedikit uang untuk bersantai di penginapan mewah ini," ujar laki-laki itu. "Tapi kelihatannya aku tidak bisa berendam gara-gara ulahmu."

Jiraiya dan laki-laki berambut panjang itu mengeringkan badannya sambil berbincang-bincang.

"Siapa orang itu?" tanya Minato. "Matanya terlihat mengerikan sekali."

"Kau tidak tahu? Dia itu kan salah satu dari tiga ninja legendaris Konoha," jawab Asao. "Kalau tidak salah namanya Orochimaru-sama."

Minato teringat dengan pembicaraan saat makam malam dua minggu yang lalu di rumah uchiha. Mereka mebicarakan ketiga ninja legendaris itu. Minato penasaran seperti apa anggota trio ninja yang satu lagi.

Setelah mengeringkan badan, dan menggunakan handuk mantel berbentuk seperti kimono. Mereka segera keluar dari ruang ganti mengikuti Jiraiya dan Orochimaru.

"Hei, Tsunade! Kelihatannya kau sudah membuat kerusakan yang sangat parah di pemandian."

Mendadak Orochimaru menyapa wanita pirang yang tadi menghajar Jiraiya.

"Salahkan otak buaya itu, aku gak akan melakukan itu kalau bukan karena otak mesumnya," kata wanita itu dengan tampang judes.

"Pukulanmu jauh lebih kuat dari biasanya tsunade." komentar Jiraiya.

"Sejujurnya itu masih lima persen dari seluruh kekuatanku," sahut tsunade dengan santai, kali ini dia menyungginkan senyum yanderenya. "Jika kau mau mengetahui kekuatannku yang sebenarnya, aku tidak keberatan menunjukannya padamu sekarang juga."

"Oh tentu saja tidak, hahahaha simpan saja tenagamu."

Jiraiya menyunggingkan senyum terpaksanya.

"Dasar sesnsei mesum! Gara-gara sensei aku tidak bisa menikmati air panasnya."

Toura mendadak muncul bersama Kushina.

"Hua! Gadis monster lagi!"

Asao kelepasan berbicara.

"Siapa yang kau sebut gadis monster?"

Untuk kesekian kalinya kushina memperlihatkan tampang yanderenya yang sangat mematikan.

"Eh bu-bukan kok, kau gadis yang sangat c-cantik."

Kata-kata yan keluar dari mulut Asao terkesan sangat di paksakan.

"Gomen ne Kushina-chan, cowok ini memang menyebalkan," sela Toura. "Senang berkenalan denganmu, lain kali kita ngobrol lagi ya."

Minato sangat berterimakasih atas bantuan Toura yang tepat waktu. Dengan begini Kushina tidak bakal mengamuk lagi.

"Ah ga apa-apa kok! Toura-neechan,"

Kushina melambai-lambaikan tangannya. Minato tahu apa yang dikatakan Kushina barusan berbeda dengan apa yang ada di hatinya. Dia bisa melihatnya dari raut Kushina. Mendadak pandangan Kushina teralih pada Minato. Dalam sekejap wajah mereka sama-sama merah padam. Kejadian memalukan itu mustahil mereka lupakan begitu saja.

"Ano.. Go-gomen, aku bersumpah aku sama sekali ga bermaksud..."

"Aku ke kamarku dulu ya Toura-neechan."

Kushina sama sekali tidak memberikan Minato kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya. Dia langsung berbalik meninggalkan mereka.

"Kau kenal Kushina-chan?" Tanya Toura.

"Dia teman sekelasku waktu di akademi dulu." jelas Minato.

"Hei anak-anak waktunya makan siang. Bagaimana kalau kalian makan siang bersama kami," kata Jiraiya, ia mengajak kedua temannya.

"Tidak masalah, kebetulan ada yang ingin aku sampaikan kepada kalian," kata Orochimaru.

"Perintah dari hokage kah?" tanya Tsunade.

"Begitulah."

Hidangan makan siang mereka bisa dikatakan sangat mewah. Minato, Asao, dan Toura melahapnya dengan rakus. Jiraiya, Tsunade, dan Orochimaru sibuk berbincang mengenai misi yang akan ditugaskan untuk mereka.

"Kerajaan Berlian, kalau tidak salah itu adalah kerajaan yang sangat kaya raya," kata Jiraiya.

"Tapi belakangan ini terdengar isu tentang pemberontakan. Kalangan bangsawan dan keluarga kaya-raya dibunuh secara sadis," sahut Orocimaru

"Korbannya keluarga kaya dan bangsawan? Bukankah ini seperti pembantaian dengan modus harta?" tanya Jiraiya.

"Anehnya, tidak ada harta yang diambil dari korban. Utusan dari negara itu akan datang besok untuk menjelaskan lebih lanjut di ruang kerja Hokage."

"Sou, besok kita kembali karena aku akan ada urusan dengan Hokage," Jiraiya memberi pengumuman pada murid-muridnya. Ketiga anak itu sedikit kecewa. Karena Jiraiya berjanji akan mentraktir mereka di penginapan selama tiga hari. "Kalau kalian sudah selesai makan, kalian boleh langsung ke lapangan di belakang penginapan. Kita akan berlatih disana."

"Baik," jawab ketiga muridnya secara bersamaan.

"Minato, besok kau ikut aku menemui Hokage."

Jiraiya menghentikan langkah Minato. Minato baru saja menghabiskan makanannya dan beranjak ke tempat latihan.

"Untuk apa?"

"Jangan banyak tanya! Ikuti saja."

Untuk kesekian kalinya Jiraiya menepuk kepala Minato dan mengacak-acak rambutnya. Membuat Minato menggumankan "Ouch."


"Kau mau Minato masuk ke dalam misi?" tanya Sarutobi.

"Ya, aku rasa dia akan sangat berguna dalam misi ini," jawab Jiraiya.

"Baiklah kau boleh ikut misi."

Sandaime memutuskan tanpa perlu berpikir dua kali.

"Hokage-sama, utusan mereka telah datang."

Seorang pengawal Hokage muncul dari balik pintu kantornya.

"Persilahkan dia masuk!" perintah Sarutobi.

Shinobi pengawal hokage itu menghilang beberapa saat. Setelah itu kembali lagi bersama seorang laki-laki berbadan kecil dan berkacamata setengah lingkaran. Utusan itu memakai jubah panjang tanpa lengan dengan kaus berleher panjang di dalamnya.

"Dia adalah utusan dari negeri Berlian." jelas sang Hokage.

"Hajimemashite, aku Amon Furihasa. Aku yang akan mengantar kalian ke negara Berlian."

Laki-laki itu membungkuk rendah.

"Aku sudah memberi tahu misi kalian, aku rasa kalian bisa pergi sekarang," kata Sarutobi, ia beranjak dari bangku.

"Umm, bolehkah aku pulang dulu? Aku belum memberitahu waliku," kata Minato.

"Nanti aku yang akan memberitahunya," sahut Sarutobi.

Minato mengangguk dan segera mengikuti Jiraiya dan yang lainnya pergi. Mereka memilih melewati jalan tercepat untuk sampai ke tempat tujuan dengan melompati pepohonan hutan.

Dalam perjalanan mereka, Amon bercerita banyak tentang negara Berlian. Tentang putri dan pangeran kembar, permaisyuri yang jatuh sakit semenjak penculikan pangeran mahkota, dan isu pemberontakan yang mengancam kerajaan.

"Kami telah mengundang berbagai tabib dan ninja medis, tapi tak ada satupun yang mampu menyembuhkan penyakit permaisyuri. Anda satu-satunya yang kami harap kan sekarang. Kami dengar Tsunade-sama adalah shinobi medis terhebat," kata Amon pada Tsunade

"Sehebat apapun ninja medis, tidak menjamin kehidupan seseorang. Pengobatan medis kadang justru berisiko pada kematian. Aku tidak bisa menjamin apa ratu kalian bisa selamat atau tidak," sahut Tsunade.

"Setidaknya kau bisa melihat keadaanya dulu, baru memutuskan apa dia masih bisa diselamatkan atau tidak," ujar Jiraiya. " Mengenai pembantaian keluarga bangsawan dan tuan rumah kaya raya, apa motif pelaku jika bukan soal harta?"

"Entahlah, kami masih belum bisa memastikan motif dari pembantaian ini. Beberapa kalangan menduga ini adalah salah satu aksi pemberontakan untuk menggulingkan kerajaan."

"Dan apa penyebab terjadinya pemberontakan itu?" tanya Orochimaru.

"Kami tidak tahu, selama ini motif pemberontakan itu hanyalah isu kerajaan," Amon menghela nafas. "Siapa dan mengapa mereka melakukannya masih menjadi misteri. Karena itu kami meminta kalian memecahkan misteri ini."

Amon lebih cepat satu langkah memimpin di depan mereka.

"Apa ada kesamaan di antara semua kasus?" tanya Orochimaru lagi.

"Ya, salah satu dari anggota keluarga mereka pernah di culik."

"Pernah diculik? Apa maksud nii-san dengan 'pernah diculik'"

Minato merasa ada yang ganjil dengan kata-kata terakhir Amon.

"Salah satu anggota keluarga mereka menghilang dan lalu kembali lagi sebelum pembunuhan terjadi."

"Apa keluarga mereka dimintai tembusan atau semacamnya sebelum kembali."

"Anehnya, tidak ada satupun dari mereka yang dimintai tembusan. Kebanyakan dari mereka yang kembali, keluarganya akan dibunuh dalam jangka waktu satu sampai dua bulan."

"Kebanyakan? Berarti ada kasus penculikan lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pembantaian," sahut Jiraiya.

"Kami ragu akan hal itu. Karena korban penculikan, baik yang keluarganya di bantai atau yang tidak dibantai. Mereka sama-sama pernah mengalami penyiksaan. Dan tidak ada satupun dari keluarga mereka yang dimintai uang tembusan. Mereka kembali begitu saja," jelas Amon.

"Kalau begitu, pelaku memberi peringatan pada keluarga yang kemungkinan akan dibantai dengan penculikan itu," Orochimaru mengambil kesimpulan. "Seharusnya kalian bis mencegah terjadinya pembantaian dengan mengawasi keluarga yang mengalami kasus penculikan."

"Kami sudah berusaha melakukan cara itu. Tapi gagal total, Korban selalu ditemukan di ruang tertutup sempurna."

"Ngomong-ngomong, soal penculikan. Amon-niisan tadi cerita soal menghilangnya pangeran. Apa kejadian itu ada kaitannya dengan kasus ini?" Tanya Minato.

Sedari tadi dia terus mendengarkan mereka berbincang, entah kenapa dia merasa ada yang janggal dengan cerita Amon. Amon bercerita tentang menghilangnya pangeran. Tapi sama sekali tidak mengaitkannya dengan kasus penculikan itu.

"Kasus penculikan itu baru terjadi tiga tahun setelah menghilangnya pangeran. Dan sampai sekarang dia masih belum ditemukan."

"Apa itu bukan unsur pengacau agar terlihat tidak saling berkaitan? Apa ada kasus penculikan atau pembunuhan dalam selang waktu tiga tahun itu?" Tanya Minato lagi.

Amon tersenyum menanggapinya.

"Orang jahat bukan hanya satu di dunia ini. Penculikan, perampokan dan pembunuhan bermodus harta ada dimanapun. Mana aku tahu setiap kriminalitas yang pernah terjadi. Kecuali kasus kriminalitas besar seperti ini. "

Minato sedikit kesal mendengarnya. Nada Amon terdengar sangat meremehkan.

"Aku rasa yang dimaksud Minato adalah: apa ada pembunuhan atau penculikan semacam itu, yang sama sekali tidak berkaitan dengan harta. Namun, tidak terlalu mencolok karena renggang waktu yang jauh atau kondisi korban yang berbeda?"

Jiraiya mencoba memperjelas kalimat Minato.

"Saya tidak begitu mengetahuinya, saya hanyalah pelayan istana. Kriminalitas bukan urusan saya."

"Kau bilang para korban penculikan kembali ke keluarga mereka? Bukankah akan sangat mudah untuk menangkap pelaku dengan kesaksian korban penculikan itu?" tanya orochimaru.

"Sayangnya para korban kehilangan ingatannya saat kembali. Kalau-pun ada yang mengingatnya, mereka tidak bisa menyebutkan siapa yang telah menculik mereka. Sebagian besar dari mereka mengalami trauma parah. Butuh berhari-hari, bahkan berbulan-bulan untuk mereka sembuh dari trauma. Namun beberapa dari mereka, keluarganya malah dibantai."

Amon berbicara kepada mereka seperti berbicara sendiri. Tatapannya menerawang, kesedihan sekaligus rasa bersalah terlihat di matanya. Mendadak Minato merasa simpati.

"Apa keluarga Niisan salah satu korbannya?" tanya Minato.

"Tidak, aku hanyalah pelayan dan utusan istana. Bukankah sudah ku katakan, yang menjadi korban adalah para golongon atas yang kaya raya dan kaum bangsawan," jawab Amon, kali ini dia terlihat sangat merendahkan diri.

Minato mengubah pendapatnya. Amon ternyata bukan orang yang suka mengejek, meskipun nada bicaranya terkadang terdengar mengejek.

"Apa ada keluarga yang selamat?" tanya Tsunade.

"Sejauh ini yang selamat hanyalah para pelayannya, dan mereka yang mengalami penculikan. Tapi ada beberapa korban penculikan yang juga dibunuh."

"Bagaimana dengan para pelayan? Seharusnya mereka memiliki kesaksian," kata Orochimaru.

Jarak antara pepohonan semakin lebar. Minato bisa memprediksi kalau sebentar lagi mereka akan keluar dari hutan.

"Para pelayan mengaku tidak pernah melihat siapa pelaku, mereka bahkan tidak tahu kalau ada pembunuhan di dalam rumah majikan mereka sampai mereka menemukan mayat mereka."

Mereka terdiam beberapa saat. Kasus ini semakin membingungkan. Orang gila macam apa yang memculik orang lain dan membiarkan korbannya kembali begitu saja tanpa meminta uang tembusan sedikit pun? Motif kasus pembunuhannya pun tidak jelas. Ada yang dibiarkan selamat bersama keluarganya, ada yang dibunuh bersama keluarganya dan ada yang hanya selamat namun keluarganya yang lain dibunuh. Dan yang pasti semua kasus itu sama sekali tidak bermotif harta.

Mereka sudah meninggalkan perbatasan negara api. Hari sudah menjelang senja. Tidak terasa mereka sudah berjalan sejauh ini.

Udara terasa semakin dingin, gelap semakin menghampiri mereka. Minato menaikan resliting dan tudung jaket putihnya. Kedua tangannya terus dimasukan di saku jaketnya agar tetap hangat. Dia memaksa matanya untuk melihat dalam kegelapan hutan.

Minato sudah sering berlatih dimalam hari dengan pencahayaan yang kurang. Namun, ini pertama kalinya dia berada di tempat segelap ini. Bulan sedang tak tampak. Bintang-bintang pun bersembunyi di balik awan. Hanya siluet gurunya dan teman-teman gurunya yang terlihat jelas di matanya. Amon berada di paling depan, siluetnya tertutup oleh kegelapan malam. Dia tidak mengerti bagaimana mereka bisa melihat dengan jelas di tempat segelap ini.

"Kita istirahat dulu."

Mendadak terdengar suara orochimaru di tengah kegelapan malam.

Minato bersyukur mendengar ini. Kakinya memang sudah terlalu kelelahan untuk meneruskan perjalan.

"Ada tebing dan padang rumput di depan. Kita bisa mendirikan tenda disana," sahut Amon.

Mereka melompat turun dari pohon-pohon besar begitu melihat padang rumput yang cukup luas. Api ungun dinyalakan dan tenda didirikan.

Minato menunggu Jiraiya dan yang lainnya tertidur pulas. Dia akan melanjutkan rutinitasnya, berlatih di malam hari.

Setelah memastikan mereka sudah tidur di tenda masing-masing, Minato segera meninggalkan tendanya untuk berlatih di hutan. Namun begitu dia keluar tenda, langkahnya terhenti saat melihat siluet seseorang yang berdiri di ujung tebing. Dia berusaha melihat siapa orang di pinggir tebing tanpa mengusik perhatian orang itu.

Ternyata orang itu adalah Amon, dia memegang sesuatu yang tampaknya seperti pedang samurai yang cukup panjang. Amon terus memperhatikan pedang itu. Sorot matanya menyiratkan kesedihan bercampur rasa bersalah. Entah kenapa Minato jadi ingin mengetahui hal apa yang begitu membuat Amon sedih. Dia mencoba untuk melihat lebih dekat. Namun, tanpa sengaja dia justru menginjak ranting pohon patah yang tentunya mengagetkan Amon dengan suara deraknya.

"Siapa itu?"

Amon berbalik melihat siapa yang membuat suara derak di balik pepohonan sambil mengacungkan pedang samurainya.

"Tidak perlu khawatir, ini aku."

Minato menampakkan dirinya.

"Oh kau? Kenapa kau masih belum tidur?"

Amon memasukan pedangnya ke sarung kayu pedang itu.

"Gak bisa tidur," jawab Minato asal-asalan. "Nii-san sendiri kok belum tidur?"

"Sama sepertimu," jawab laki-laki berambut acak-acakan itu singkat. Dia membalikkan badan, memunggungi Minato.

"Sedang apa nii-san disini?"

"Tidak ada, Hanya mengawasi keadaan sambil menghirup udara segar."

Amon duduk di pinggir tebing, pedangnya ditaruh di pangkuannya. Minato melihatnya memegang pedang itu dengan sangat hati-hati, seolah benda itu adalah berlian yang tak ternilai harganya.

"Apa nii-san seorang samurai?"

"Bukan," jawab Amon, ia tahu apa yang sebenarnya ditanyakan Minato. "Pedang ini dari temanku. Dia seorang samurai yang sangat hebat."

"Apa nii-san pandai bermain pedang?"

Gairah yang biasanya muncul jika Minato menemukan sesuatu yang sama sekali baru untuknya, mendadak muncul.

"Tidak, aku belum pernah menggunakan pedang seumur hidupku."

"Lalu kenapa dia memberikannya pada nii-san?"

"Entahlah, Dia hanya mengatakan kalau benda ini akan sangat berguna dalam perjalan ku."

Amon mengelus pedang samurai itu dengan sangat hati-hati. Minato sedikit kecewa mendengar jawaban Amon. Padahal dia berharap Amon mengajarinya cara memainkan pedang samurai. Dia ikut duduk melihat padang rumput di dasar jurang. Beberapa saat mereka terdiam, membiarkan angin malam menerpa mereka.

"Meskipun sederhana, desamu terlihat sangat harmonis dan makmur ya."

Suara Amon memecah keheningan malam. Minato tidak tahu kenapa laki-laki di sampingnya mendadak berkata seperti itu. Dia menatap laki-laki berkaca mata itu. Di balik kacamata setengah lingkarannya, matanya terlihat seperti menerawang entah kemana.

"Ah! Bukan apa-apa, jangan terlalu dipedulikan kata-kata ku barusan."

Menyadari tatapan heran Minato, Amon langsung berusaha mengubah suasana. Dia menggaruk-garuk kepalanya seperti orang bodoh. Setidaknya begitulah yang terlihat di mata Minato.

"Memangnya negara nii-san seperti apa?" tanya Minato.

"Negaraku sangat terkenal dengan tambangnya. Tanah di negara kami mengandung banyak emas dan daerah penghasil berlian terbesar di dunia dan laut kami kaya dengan kerang mutiara."

"Wow! Penduduk di negara Nii-san pasti sangat kaya-raya."

Minato membayangkan negara yang sangat indah, dengan rumah-rumah besar dan pemandangan tambang berlian yang sangat indah.

"Tidak juga, hanya orang-orang tertentu yang memegang kendali pertambangan. Beberapa dari pertambangan penting dipegang oleh kerajaan," jelas Amon.

Untuk kesekian kalinya Minato melihat rasa bersalah, kesedihan dan kekecewaan dari sorot mata Amon.

"Apa kau tidak tidur. Sudah selarut ini, anak kecil tidak seharusnya terjaga saat ini," kata Amon.

'Anak kecil?' Minato sedikit tersinggung mendengarnya.

"Gyaa! Apa yang nii-san lakukan?"

Minato terpekik kaget begitu tubuhnya terangkat ke atas oleh Amon.

"Membawamu kembali ke tendamu."

Amon mengangkat tubuhnya, seperti mengangkat tubuh seorang bayi.

'Baiklah, aku memang kecil' pikir Minato kesal.

Tinggi Minato tidak lebih dari sepinggang Amon. Ketika Amon mengangkat badannya, Kakinya bahkan terlihat sangat jauh dari tanah.

Minato makin kesal melihat senyuman Amon yang membuatnya terlihat seperti anak bayi.

"Hei, turunkan aku! Aku bisa kembali ke tenda sendiri," kata Minato, Ia berusaha melepaskan diri dari dekapan Amon.

"Yah baiklah, cepat pergi tidur ya. Oyasuminasai"

Amon menepuk dan mengacak-acak rambut Minato. Minato semakin merasa diperlakukan seperti anak kecil.

"Nii-san sendiri ngak tidur?" tanya Minato, nada kesal terdengar samar dari suaranya.

"Aku mau menunggu surat balasan dari negaraku."

"Surat balasan?"

"Aku memberi tahu mereka kalau aku sedang kembali bersama kalian," jawab Amon santai. "Sudahlah tidur sana! Kalau kau ngantuk di jalan besok pagi, kami yang repot."

Minato tidak punya pilihan. Malam sepertinya akan berakhir dalam waktu beberapa jam lagi. Artinya, dia tidak punya banyak waktu untuk berlatih. Dia berniat berpura-pura kembali ke tenda dan tidur. Namun karena Amon mengawasinya masuk ke tendanya, mau tidak mau dia harus meninggalkan rutinitasnya.


Sudah empat hari dan lima malam mereka melakukan perjalanan ke negeri berlian. Mereka telah tiba di sebuah pelabuhan dengan kapal-kapal besar bertenger.

Amon menuntun mereka ke kapal besar yang berlabuh di dekat mereka. Menurut perkiraannya. Mereka akan sampai besok.

Minato terbangun oleh silaunya cahaya matahari yang menembus kaca kabin. Dia melihat keluar jendela, hamparan pasir putih terlihat semakin dekat. Minato keluar kabin kapal untuk melihat lebih jelas. Beberapa kapal nelayan bertengger di sepanjang pesisir pantai. Kapal yang dinaikinya perlahan melewati kapal-kapal nelayan yang sepertinya sibuk menangkap kerang.

Jangkar kapal telah diturunkan, Mereka menuruni kapal. Minato melihat para nelayan dengan sangat jelas sekarang. Ternyata keadaan mereka sangat jauh dari bayangannya. Sedari tadi dia terus membayangkan nelayan yang kaya raya. Namun yang dilihatnya hanyalah orang-orang berpakaian lusuh, mereka terlihat merangkul beban yang sangat berat.

Berbeda dengan yang terlihat di luar, kota di dalam pulau terlihat sangat indah. Rumah-rumah besar dengan gaya arsitektur yang mewah berdiri dengan megahnya dikelilingi pagar-pagar tinggi. Toko-toko besar yang memamerkan berbagai barang bagus menghiasi pinggir jalan.

Semakin jauh mereka berjalan, semakin sedikit pemukiman yang berdiri dan beberapa bangunan kokoh yang menyerupai kastil makin banyak terlihat. Sampai akhirnya mereka sampai di gerbang besar yang kelihatannya terbuat dari emas murni. Hamparan taman bunga yang tersusun rapih dan perbukitan hijau menyapa mereka di balik gerbang.

"Selamat datang di istana kerajaan" kata Amon.

Jiraiya, Orochimaru, Tsunade dan Minato sama-sama tercengang melihat Istana kerajaan Berlian. Seperti nama kerajaannya, istana itu dihiasi berlian di setiap dinding, jendela dan ganggang penyangga tangga.

Pemandangan di dalam istana tidak kalah bagusnya dengan pemandangan di luar. Penyangga tangganya terbuat dari emas murni dengan hiasan permata.

"Hei, berapa harga istana ini kalau di jual?" tanya Jiraiya, matanya tidak berhenti bergerak melihat sekitar lorong istana.

"Entahlah, tapi siapapun yang membeli istana ini, dia pastilah orang terkaya di dunia," sahut Orochimaru.

Mereka sampai di sebuah pintu besar, dua orang berbaju zirah berdiri tegak di kedua sisi pintu. Mereka langsung di cegat begitu mendekati pintu.

"Saya membawa shinobi dari konoha untuk menyembuhkan permaisyuri."

Kedua orang itu akhirnya membiarkan mereka masuk setelah mendengar penjelasan Amon.

Mereka masuk ke ruangan luas dengan langit-langit tinggi. Sekumpulan orang mengelilingi sebuah ranjang besar berkelambu sutera.

"Yang mulia raja, aku membawa shinobi dari negara api untuk menyembuhkan permaisyuri."

Amon berlutut memberi hormat pada seorang laki-laki berjenggot panjang dengan kumis lebat. Model pakaiannya terlihat sangat rumit dan berlapis-lapis. Cincin emas bermata berlian mahal berkilauan menglingkari jari-jarinya. Jemarinya sibuk membelai seorang wanita pucat yang berbaring di ranjang besar itu.

"Kalian sudah datang!" suara laki-laki terdengar serak dan basah. "Selamat datang di istana kami. Maaf aku tidak memberi sambutan yang layak untuk kalian."

"Tidak masalah, kelihatannya kondisi di dalam istana anda tidak begitu baik," sahut Jiraiya.

"Istriku sedang dalam masa kritis saat ini. Aku sudah memanggil semua tabib dan shinobi medis tapi kondisinya tidak membaik sama sekali."

"Kami sudah mendengar ceritanya dari Amon. Bisakah aku memeriksanya sekarang?"

Sebelum raja melanjutkan ceritanya, Tsunade buru-buru memotong. Dia ingin secepatnya menyembuhkan penyakit permaisyuri. Ada misi lain yang harus mereka selesaikan di negara ini.

"Hai, douzo."

Raja beranjak dari ranjang besar. Orang-orang yang mengelilingi ranjang besar itu juga menyingkir. Memberi jalan tsunade untuk mendekati wanita yang terbaring lemah di ranjang.

Tsunade menaruh tangannya di dahi permaisyuri, cahaya kehijauan muncul di sekitar tangannya. Dia menggerakan tangannya ke dada tempat dimana jantung wanita itu berada. Mendadak wanita itu meraung kesakitan. Semua yang ada di ruangan segera mendekati permaisyuri untuk melihat apa yang terjadi. Tsunade menyingkirkan tangannya dari tubuh permaisyuri, semburat kehijauan menghilang dalam sekejap.

"Ada racun yang bersarang di dalam tubuhnya," kata tsunade akhirnya.

"Racun? Mustahil! Siapa yang meracuninya?" tanya raja tidak percaya. "Semua makanan yang diberikan pada istriku sudah di-uji dan terjamin dari racun."

Tsunade tidak menghiraukan pertanyaan dan komentar sang raja. Dia terus memberi penjelasan.

"Racun itu sudah bersarang cukup lama dan merusak satu persatu sel yang ada dalam setiap jaringan dalam tubuhnya. Lambat laun saraf dan fungsi organnya akan berhenti bekerja. Dan akhirnya hanya tinggal waktu untuk menemui ajalnya."

"Sou, menurutmu dia masih bisa sembuh?" tanya Jiraiya.

"Aku tidak bisa menjamin, kemungkinan untuk sembuh hanya lima persen. Beberapa organ sudah mengalami kerusakan yang cukup parah," jelas tsunade.

"Orang sekarat yang kemungkinan hidupnya sangat tipis. Kalau dipaksa bertahan hidup, justru akan menanggung kesakitan yang lebih banyak lagi. Mungkin kematian jauh lebih baik untuk mereka."

Orochimaru melontarkan komentar pedasnya.

"Jaga mulutmu! Bukan kau yang berhak memutuskan apakah ibuku pantas mati atau tidak."

Seorang gadis berambut biru gelap mendadak angkat bicara. Nada gadis itu terdengar sangat dingin dan sinis.

"Hentikan itu Orochimaru, setiap orang berhak memiliki kesempatan hidup, sesingkat apapun itu," kata Jiraiya. "Ano, maaf atas kelancangan temanku."

Gadis itu menatap dingin Jiraiya sekilas. Lalu, ia kembali melihat ibunya.

"Aku akan mengeluarkan racun di tubuhnya dulu. Tolong sediakan air bersih."

Tsunade tidak menghiraukan komentar teman-temannya. Dia menatap tajam wanita yang terbaring lemah itu. Keringat mulai membasahi wajahnya. Kelihatannya dia telah mengeluarkan banyak chakra.

Gumpalan air menembus kulit sang permaisyuri. Begitu Tsunade mengangkat kembali gumpalan air itu, air jernih telah berubah menjadi keruh oleh zat berwarna hijau keunguan. Wanita pucat itu kembali merintih kesakitan saat Tsunade mengangkat racun-racun yang bersarang di tubuhnya.

"Setelah racunnya keluar, aku masih harus melanjutkan operasi penyembuhan jaringan sel yang rusak. Mungkin akan membutuhkan waktu dua minggu," Tsunade menyeka keringat di dahinya. "lebih baik kalian selesaikan permasalahan yang lain tanpa aku. Kita harus secepatnya menyelesaikan misi."

"Apakah sekarang istriku masih punya kemungkinan untuk sembuh?" tanya sang raja.

"Bukankah sudah kukatakan, kemungkinan untuk sembuh hanyalah lima persen. Meskipun racunnya telah di keluarkan, efek racun masih akan tetap menyebar. Jika operasi gagal akan berisiko kepada kematian."

"Kau mengatakan itu seolah-olah kesembuhan ibuku hanya harapan palsu. Kau sama saja dengan orang-orang yang mengaku bisa menyembuhkannya tapi kenyataannya tidak. Ini semua hanya omong kosong!"

Putri raja kembali angkat bicara.

"Seira jangan begitu, seharusnya kau mendoakan ibumu agar bisa sembuh," tegur seorang pria yang berdiri di samping gadis cantik itu.

"Apa maksudmu? Aku selalu melakukan itu setiap detiknya. Tapi kalian bersikap seolah mengatakan ibuku sudah seharusnya mati. Aku benci semua ini!"

Sang putri beranjak meninggalkan ruangan dengan cepat dan membuka pintu dengan kasar, para pengawalnya segera mengikutinya.

"Maaf untuk kelakuan gadis itu. Dia sangat mengkhawatirkan ibunya. Dan dia masih belum bisa menerima hilangnya saudaranya," ujar sang raja.

"Aku akan menenangkannya."

Laki-laki berambut putih panjang dengan bola mata Dwi-warna yang tadi berada disamping sang putri berusaha mengejar gadis itu. Begitu dia melewati Minato, Minato baru sadar kalau wajah laki-laki itu di penuhi luka-luka yang nyaris tak terlihat. Minato menebak kalau mereka pasti punya hubungan khusus.

"Serahkan permaisyuri pada Tsunade. Masih ada masalah lain yang harus kita bicarakan," kata Jiraiya. "Bisakah kami bicara dengan yang mulia raja tentang misi yang harus kami selesaikan di luar ruangan ini."

Minato memang sudah menunggu Jiraiya mengatakan kalimat itu. Di bandingkan berdiri diam memperhatikan Tsunade menyembuhkan dan mendengar komentar-komentar yang dianggapnya tidak penting, ia lebih senang mendengar perdebatan masalah penyelidikan.

"Dengan ini kasus yang mesti kita selesaikan jadi bertambah satu, benar-benar merepotkan." komentar Orochimaru.

Mereka menuju ruangan besar dengan empat singgasana di tengahnya. Raja duduk di salah satu singgasana di tengah.

"Hei, kau itu niat tidak sih menjalankan misi ini," cibir Jiraiya.

Orochimaru hanya tersenyum menanggapinya.

"Menurut kalian siapa yang tega meracuni istriku?" tanya Raja.

"Entahlah, kami belum menyelidiki tentang itu dan kalian belum memberitahu kami tentang kasus baru ini sebelumnya."

Lagi-lagi Orochimaru memberi kesan yang menyindir.

"Kemungkinan besar yang melakukannya adalah orang-orang dalam istana."

Minato mengutarakan pendapatnya.

"Bukan mungkin lagi, tapi tidak salah lagi. Musuh ada dalam selimut," kata Jiraiya. Senyum ketertarikan menghiasi wajahnya. "Tujuan utamanya tidak lain lagi untuk menyingkirkan keluarga kerajaan secara perlahan tanpa menarik perhatian."

"Aku tidak begitu yakin dengan hal ini. Kelihatannya isu pemberontakan itu memang benar dan kemungkinan besar kasus penculikan, pembantaian dan kasus ini sendiri berhubungan dengan menghilangnya putra mahkota." Komentar Orochimaru. "Semua kasus ini makin lama makin rumit saja. Aku berharap bisa selesai secepatnya."

Minato tidak mengira kalau Orochimaru akan mengungkapkan pemikiran yang sama dengannya.

BRAAK

Mendadak pintu di belakang mereka terbuka dengan keras.

"Yang mulia raja, gawat!"

Mendadak serombongan orang memasuki ruang singgasana. Mereka terlihat sangat panik dan tergesa-gesa.

"Tuan putri Seira meninggalkan istana."

TBC


Chotto matte kudasai= tunggu sebentar

Oyasuminasai= selamat tidur

Hai, douzo = ya, silahkan

Sensei = guru

Gomen= maaf

TBC


oh iya! saya hampir lupa!

Otanjoubi Omedatou Minato-chi

always be the best!

well, untuk merayakan hari ultah Minato, saya update 2 chapter sekaligus dalam selang waktu kurang dari 24 jam

tettorettoret..

#tiup terompet