Author : Hueeeeeeeeeee… Dompet gue ilaaaang… Mana mau ke dupan lagi…
Samwan: Woy cepetan terusin ceritanya!!
Author : Hueeeeeeeeee… Dompet Juju iiiilaaaaaanggg…
Samwan : Bodo. Cepetan terusin!!
Author : -masi sibuk nangis- Hueeeee…. Dompetnya kewren tau…
Disclaimer : Juju tidak memiliki Death Note karena dia sekarang sibuk meratapi nasib sehingga dia ga bakalan sempet bikin cerita Death Note.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Chapter 9 : Truth
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
-Flashback-
Light Yagami sedang berjalan sendirian. Bukan karena ia tidak mempunyai teman, tetapi karena ia tidak peduli. Remaja SMU yang lain berjalan pulang sembari tertawa dan bercanda-canda dengan teman-temannya sedangkan ia hanya berjalan hampa. Bila ia ingin, banyak sekali orang yang ingin menjadi temannya. Akan tetapi, ia merasa mereka semua tidak cocok untuknya. Tidak cocok untuk seorang dewa seperti ia.
Light melewati jalan Tsuguya dengan tenang. Entah mengapa ia merasa ada yang mengikutinya namun ia menganggap mungkin salah satu fangirl nya. Light berjalan tanpa mampir ke tempat lain terlebih dahulu. Ia berhenti saat ia berada di perempatan jalan. Bersama para pejalan kaki lainnya, Light menunggu agar lampu penyebrangan berubah menjadi hijau bagi para pejalan kaki.
Light menunggu dengan sabar. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Beberapa saat setelah menunggu, akhirnya lampu penyebrangan berubah menjadi hijau. Light baru berjalan beberapa langkah saat tiba-tiba ada yang menabraknya kuat dari belakangnya sehingga ia terjatuh.
Light mendongak dan dilihatnya beberapa murid SMUnya berlari sembari memandangnya benci. Light menghela napas, mereka adalah murid-murid SMU nya yang cemburu kepadanya. Kebanyakan karena gadis yang mereka sukai menyukai Light. Light berdiri dan merapikan pakaiannya. Ia tidak mempunyai waktu untuk meladeni mereka. Saat ini pikirannya hanyalah pulang kerumah dan menulis lebih banyak nama lagi di Death Note.
Light tidak menyadari lampunya sudah berubah menjadi merah kembali. Sayup-sayup ia mendengar suara yang memanggilnya. Saat ia sadar, sebuah van merah melaju kencang ke arahnya. Entah mengapa kakinya tidak bisa bergerak. Mobil van itu melaju kencang sekali saat ia berpikir sudah tidak ada harapan lagi untuknya, tiba-tiba saja tubuhnya didorong oleh seseorang.
Mereka jatuh terguling di trotoar jalan namun Light selamat. Light yang masih terpaku sempat mencium bau strawberry dari penyelamatnya. Beberapa saat kemudian, orang itu berdiri dan berjalan pergi tanpa mengatakan apapun kepada Light. Seakan-akan ia tidak ingin Light melihatnya namun Light sempat melihatnya dengan jelas.
Rambut hitam berantakan, mata yang dilingkari oleh lingkaran hitam disekitarnya, kaus putih panjang dan celana jins biru. Light segera bangkit dan berusaha mengejar orang itu. Entah mengapa hal yang dipikirkannya saat itu hanyalah mengejarnya dan berterima kasih kepadanya. Orang itu berjalan semakin cepat dengan cara jalannya yang aneh dengan tangan di dalam saku.
Light berusaha terus mengejarnya namun akhirnya ia kehilangan jejak orang itu. Light menghela napas lalu ia berjalan kembali ke rumahnya dengan pikirannya dipenuhi oleh orang tersebut.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Saat itu hari sudah sore menjelang malam. Light berjalan sedikit terhuyung. Dia lelah, sangat lelah. Semalam dia harus belajar hingga larut karena ujian yang akan dihadapinya. Belum lagi dia harus menyempatkan diri menulis di Death Note nya. Hari ini ia harus melatih teman-temannya bermain tennis atas permintaan gurunya.
Entah mengapa kepalanya terasa pusing. Namun ia mengacuhkannya. Ia memutuskan untuk melewati jembatan penyebrangan karena ia tidak mau kejadian hari itu (saat ia nyaris ditabrak) terulang kembali.
Sejak saat itu Light tidak pernah berhenti memikirkan wajah orang yang menyelamatkannya. Entah mengapa wajah orang itu selalu menghantui pikirannya. Padahal pikirannya sudah cukup berat dibebani oleh ujian dan L. Light sendiri kebingungan hingga ia mencapai keputusan bahwa ia tertarik pada orang itu. Mungkin bukan tertarik, tidak ada yang mampu membuatnya tertarik. Mungkin ia jatuh cinta kepada orang itu.
Light disibuki oleh pikirannya hingga tanpa sadar ia jalan terhuyung-huyung saat menuruni tangga. Saat keseimbangannya tidak tertahankan lagi, Light nyaris jatuh dari tangga jembatan penyebrangan saat tiba-tiba ada sepasang tangan menahan pinggangnya.
Light menoleh dan melihat penolongnya yang tak lain tak bukan adalah orang yang sama yang telah menolongnya sebelumnya. Light membeku, entah mengapa ia tidak mampu bicara. Light menatap lurus ke wajah penolongnya yang sekarang memasang senyuman dan berbicara lembut.
" Hati-hati…," katanya sambil melepaskan Light. Lalu seperti sebelumnya ia berjalan cepat menghilang dari pandangannya. Light membeku, kini ia 98 yakin kalau ia jatuh cinta.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Light memandang jam tangannya dengan bosan. L telah memasang kamera di kamarnya dan ia memutuskan untuk pergi ke upacara perpisahan lebih cepat. Hasilnya, ia harus menunggu 3 jam lagi hingga upacara pembukaan dimulai. Light menghela napas, pikirannya melayang kepada penolongnya. Beberapa hari ini Light merasa diikuti. Namun ia sama sekali tidak merasa terganggu seperti saat FBI bodoh Raye Penber itu mengikutinya, ia malah merasa sebaliknya. Ia merasa aman.
Ia melihat sekali lagi ke jam tangannya dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamar mandi merapikan pakaiannya. Light beranjak ke toilet sekolah. Disana ia merapikan dirinya yang tentu saja sudah rapi untuk yang keberapa kalinya. Ia harus tampil rapi di hadapan seluruh penghuni sekolah karena ia akan berpidato sebagai siswa teladan yang mendapat nilai hasil ujian tertinggi se-Jepang.
Light baru saja akan pergi dari sana saat tiba-tiba ia di dorong membentur tembok oleh salah seorang anggota geng pembencinya. Dalam sekejap mereka mengerubunginya dan menariknya paksa ke gudang sekolah. Pemimpin mereka melempar Light ke tanah dengan kasar.
" Hey! Dasar anak sombong! Bukan karena kau anak kepala polisi maka kita tidak bisa memukulimu ya!! Kita ini capek melihatmu yang sok kecakepan itu!!," teriak pemimpin mereka. Light menghela napas secara terang-terangan tampak sama sekali tidak peduli dengan kata-kata mereka. Tiba-tiba saja salah satu dari mereka menendang perutnya. Light mengerang kesakitan.
" Rasakan!! Ini karena kau sudah merebut gadis-gadis yang kami suka!!," kata pemimpin mereka saat menendang Light. Saat itu Light mulai merasa khawatir. Ia tidak ingin terlambat pada saat upacara perpisahan nanti. Tapi pada saat itu ia merasa sebuah tendangan melayang ke punggungnya.
" Ini karena kau telah merebut perhatian semua gadis-gadis dan guru-guru!!," terdengar suara tawa mengiringi suara pemimpin mereka. Light yang sudah habis kesabarannya berdiri dan memandang mereka dengan tatapan kematiannya. Ia berjalan menuju pintu keluar gudang saat mendadak jalannya ditutupi oleh orang-orang tadi.
" Minggir…," katanya tenang namun tiba-tiba pada saat itu sebuah pukulan melayang ke wajahnya. Light mengusap darah di bibirnya dengan tenang. Sedetik kemudian dilayangkannya pukulan ke wajah pemimpin mereka. Light tersenyum sadis. Ia tahu ia pasti akan kalah jika melawan mereka sekarang tetapi, ia adalah Kira. Setidaknya ia harus melawan.
Tiba-tiba tangannya di pegangi oleh beberapa anak buah mereka. Pemimpin mereka maju dengan pemukul baseball di tangannya. Matanya penuh kemarahan. Dia mengayunkan pemukulnya kuat-kuat kearah wajah Light.
" Hey!! Kalian sedang apa?!," tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu gudang. Disana berdirilah salah satu guru sekolah mereka. Serentak mereka semua kecuali Light berlari kabur. Guru itu berjalan kearah Light.
" Yagami-kun, kau tidak apa-apa?," tanyanya simpati. Light menggeleng kepalanya perlahan.
" Siapa yang memberitahu Anda?," tanya Light. Gurunya tersenyum mendengar pertanyaan Light.
" Tsk…tsk…tsk… Memang murid yang pintar… Orang biasa pasti akan bertanya dulu bagaimana saya disini tetapi kau langsung tepat sasaran bertanya mengapa saya bisa disini…."
" Hmm… Saya pikir tidak akan ada guru yang kesini disaat mereka semua sedang sibuk mempersiapkan upacara perpisahan. Dan gudang ini debunya lebih banyak dari gudang biasa jadi saya mengetahui bahwa gudang ini sudah tidak pernah dimasuki lagi. Lagipula peralatan disini tak ada yang berguna untuk upacara nanti jadi tidak akan ada orang yang masuk kesini karena membutuhkan peralatan-peralatan untuk upacara nanti."
" Ya ya ya… Kalau kamu memang ingin tahu, ada seseorang yang tidak menyebutkan namanya yang mengaku bahwa ia melihat seorang murid sedang dipukuli di sini," katanya sembari membantu Light berdiri. Light menyadari pakaiannya kotor dan tidak rapi. Tidak mungkin ia berpidato di depan seluruh sekolah dengan pakaian ini.
" Siapa ya, yang menolong kamu?," gumam gurunya sementara Light tersenyum karena ia tahu dengan jelas siapa penolongnya. Saat Light keluar dari pintu gudang, ia menyadari penolongnya sedang memperhatikannya dari jarak yang cukup jauh. Light tersenyum, dia membuka mulutnya dan dengan jelas mengatakan sesuatu tanpa suara.
' Thank you….'
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Light berdiri di panggung di tempat dimana perpisahan sekolahnya di adakan. Pidatonya yang berbobot mencerminkan intelegensinya. Light berpidato dengan penuh percaya diri. Pakaiannya yang kotor tadi sudah digantinya. Rambutnya yang berantakan dan luka di bibirnya sudah ditutupinya. Ayahnya tidak hadir karena sibuk dengan pekerjaannya dengan L.
Hampir di setiap bagian ia tersenyum. Gadis-gadis memandanginya dengan penuh kagum sementara pandangannya jatuh kearah lain. Di sela-sela penonton berdirilah penyelamatnya yang sedikit tersembunyi dengan penonton lain akan tetapi Light mampu melihatnya dengan jelas. Ia tersenyum kepadanya untuk menandakan terimakasihnya. Dalam hati Light tahu, ia benar-benar jatuh cinta kepada orang itu.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
-Markas L-
" Mengapa Light-kun menatap ke satu arah sering sekali…," kata L kepada dirinya sendiri. L meng-hack ke computer sekolah Light dan sekarang menonton upacara perpisahannya dari kamera sekolah. L menyadari hari itu Light tampak sedikit lebih ramah dan sering sekali tersenyum sembari menatap ke satu arah.
L memindahkan perhatiannya ke kamera lain yang menunjukkan arah yang dilihat Light. L memincingkan matanya untuk mencari apa yang menarik perhatian Light. Sedetik kemudian L terkejut. Tentu saja ia menemukan orang yang menarik perhatian Light. Sepertinya ada kemungkinan 76 bahwa Light jatuh cinta kepada orang tersebut dilihat dari tatapan mata Light. Diangkatnya telepon genggamnya lalu ia memencet nomor Watari.
" Watari, aku sudah menemukan B. Kirim bantuan beberapa orang polisi Jepang untuk menangkapnya diam-diam, segera…," kata L. L menutup teleponnya dan kembali menatap monitor yang menunjukkan gambar B diantara para penonton. L mengangkat kakinya ke kursinya dan menggigit jempolnya. Sebuah seringai muncul di bibirnya.
' Akhirnya aku menemukan cara untuk menangkap Kira….'
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Author : Huahahhaahahahahahahahahah akhirnya selese jugaaaa….
Bagi orang" yang penasaran sebenarnya siapa yang jahat atau salah?
Dianjurkan jangan berprasangka lebih dahulu. Liat aja!!
Ripyu yakh!!
