Judul : Rotten Apple

Author : judalismic

Fandom: BTS

Pairing : Jeon Jungkook/Kim Taehyung (KookV)

Genre : Romance; Drama

Warning: Boys Love, University!AU

NOTE :

Ada yang masih nungguinnn? Selalu ada aja halangan buat ngetik lanjutan Rotten Apple ini (aku cuma bisa ngefic weekend aja, dan belakangan selalu ada acara tiap weekend) TT_TT

Moga masih inget sama fic satu ini, ya. :')

Note 2 : Chapter ini diawali dari timeline saat Sehun menemukan Taehyung di atap dan akan berlanjut ke timeline saat ini (Jungkook minta Taehyung lompat dari atap).

Happy reading! ^ ^

.


Rotten Apple


.

"Sesuai perjanjian bagi siapa pun yang menemukanmu, malam ini, aku, Oh Sehun, menjadi pasangan dansamu."

Taehyung tak menimpali sepatah kata pun. Ada banyak hal yang memenuhi tempurung kepalanya saat ini, dan berurusan dengan Oh Sehun sekarang adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya. Jika ini sebuah permainan dan ia bisa memilih untuk mereset ulang semuanya dari awal setelah deret huruf game over terpampang di layar game consolenya tentu semuanya akan jadi lebih mudah.

Bahkan bunyi langkah pantofel yang kian mendekat tetap membuat Taehyung bergeming. Ia menenggelamkan wajahnya di antara lipatan kedua tangannya di atas lutut.

"Aku membawakan sepatu perakmu, Cinderella." Suara yang lembut dan seolah berbisik itu kali ini terdengar lebih dekat. Dan Taehyung yakin, jika ia mengangkat kepalanya sekarang, ia akan melihat pemilik suara yang renyah itu berada tak kurang dari satu meter di sampingnya, tepat di balik lonceng raksasa tempatnya meringkuk.

Taehyung menarik napas dalam-dalam. Masih enggan menyahut.

Tiba-tiba saja dirasakannya kehadiran Oh Suhan bukan lagi hanya berupa suara tanpa raga, karena kini pemilik suara lembut yang seolah berbisik itu rupanya memutuskan untuk mendudukkan dirinya tepat di samping Taehyung tanpa permisi.

Taehyung sungguh tidak ingin berurusan dengan Sehun saat ini, ia hanya mengerutkan keningnya dan membiarkan pria yang menjadi awal semua ini terjadi itu melakukan apa yang ia mau.

"Aku punya banyak skenario saat menemukanmu." Sehun membuka suaranya lagi, masih dengan intonasinya yang penuh kelembutan dan perhatian. Taehyung tidak bisa tidak berpikir betapa pemuda ini tahu benar apa yang harus dilakukannya untuk membuat orang lain menyukainya.

Tidak seperti seseorang…

"Tapi tidak ada satu pun skenario yang mengatakan bahwa aku akan menemukanmu menangis di bawah sinar bulan," lanjut Sehun, tak mengindahkan fakta bahwa Taehyung mengabaikannya.

Taehyung mendengus. Mau tak mau ia mengangkat kepalanya, mendongak dan menoleh angkuh pada pemuda yang telah menginvasi privasinya itu. Ia ingin Sehun melihat bahwa ia sama sekali tidak sedang menangis.

Sehun tersenyum pada Taehyung, dan Taehyung mulai paham mengapa pemuda yang duduk di lantai kotor berdebu di sampingnya ini dapat begitu mudahnya memikat hati para gadis di kampusnya. Oh Sehun sangat tahu senyum seperti apa yang akan membuat setiap gadis meleleh melihatnya.

"Melihatmu membuatku merasa nostalgia," ucap Sehun lagi, yang kali ini membuat Taehyung membelalakkan matanya dan lekas memalingkan muka.

Boleh saja ia merasa marah pada Jeon Jungkook, merasa lelah dengan semua ini, ingin segera menyudahi semua ini, tapi tentu saja sampai detik terakhir pun ia takkan membiarkan seorang pun menyadari bahwa Venus ini adalah Kim Taehyung!

"Dan ingatanku yang samar menjadi jelas ketika aku mendengar Jungkook menyebutkan namamu." Sehun mulai lagi. "Atau lebih tepatnya, mengumumkan bagaimana kami harus memanggilmu." Yang adalah bukan namanya yang sebenarnya, tentu saja.

Taehyung merutuki Jungkook yang tidak memilih nama samaran yang normal untuk gadis Korea saja alih-alih menggunakan nama Venus ini. Memangnya kenapa kalau Venus adalah pencitraan atas gadis yang sempurna di mata Jungkook?

—Ah, tentu saja.

Karena sejak awal, Jungkook mencari seseorang untuk menjadi Venusnya yang sempurna. Bukan sebaliknya.

Bahkan Taehyung berpikir bahwa tidaklah mungkin ia ada di sini jika ini semua bukan karena ide dan obsesi gila Jungkook pada sosok Venus.

"Apa kau tahu, di mansionku ini ada sebuah galeri yang memajang banyak sekali benda-benda seni?" Sehun tak terlihat merasa tak diacuhkan sama sekali. Jika ini adalah perlombaan menguji kesabaran, Taehyung rasa Oh Sehun layak jadi juaranya. Diabaikan seperti apa pun pemuda itu sama sekali tak gentar dan tetap ngotot mengajaknya bicara. Duh.

Dan soal galeri itu, tentu saja Taehyung tahu benar. Dan sejujurnya ia tidak ingin mengingat apa pun yang berkaitan dengan galeri seni itu. Tidak dengan ingatan segarnya mengenai apa yang didengarnya dari Luhan di sana.

"Kami memiliki banyak koleksi benda seni bernilai tinggi, termasuk juga lukisan. Dari mulai karya seniman terkenal hingga seniman-seniman tanpa nama yang melukis dengan hati mereka hingga melahirkan karya yang begitu memikat keluarga Oh dan memajangnya di galeri seni kami," terang Sehun lagi.

Taehyung mengerutkan keningnya samar. Entah apa yang hendak dikatakan Oh Sehun, namun rasanya ia tidak sedang tidak berminat membicarakan soal karya seni di atas atap, dalam kondisi pakaian berantakan dan kotor, tak beralas kaki, dan pikiran sekusut gulungan benang.

"Di antara semua lukisan itu, ada sebuah lukisan yang dibuat oleh seorang seniman tanpa nama dengan judul The Morning Star. Sang Bintang Fajar." Sehun memoleskan senyum tipis tanpa mengalihkan tatapannya dari Taehyung yang sama sekali tak terlihat tertarik dengan apa pun yang dikatakannya. Namun Sehun tahu benar bahwa gadis yang duduk di sampingnya itu menyimaknya dengan baik.

"The Morning Star adalah lukisan yang luar biasa," ujar Sehun lagi. "Ukurannya tidak lebih kecil dari pintu gerbang mansionku. Dan ia memiliki dua sisi kanvas yang keduanya memiliki lukisan yang berbeda dengan makna yang juga berbeda, namun keduanya sama-sama disebut Sang Bintang Fajar."

Seketika Taehyung mengerjap. Tunggu, apa maksud Sehun…

"Lukisan pertama menggambarkan Fallen Angel Lucifer, malaikat tertinggi yang jatuh ke neraka karena menentang Tuhan. Lukisan kedua adalah Goddess of Love, Sex, and Beauty, Venus."

Taehyung mengerjap lagi. Kali ini ia memutar kepalanya menatap Sehun.

"Sekarang kau mengerti?" Sehun mengembangkan senyumnya. "Saat aku mendengar namamu, yang terlintas dalam kepalaku adalah betapa kau memang sangat persis seperti seorang Dewi Cinta, Seks, dan Kecantikan."

Taehyung tersedak air liurnya sendiri. Sungguh pun ia berkecimpung di dunia pentas drama, tak pernah ia tahu soal yang satu itu jika bukan Jeon Jungkook yang memberitahunya. Tapi rupanya bukan cuma Jungkook yang tahu soal kisah roman macam itu? Bahkan Oh Sehun juga tahu? Menggelikan.

"Dan kau akan lebih terkejut lagi jika kukatakan bahwa seniman tanpa nama yang membuat lukisan itu adalah ayahku." Sehun membuka suaranya lagi.

Taehyung mengerutkan keningnya. Kenapa ia mesti terkejut? Konglomerat memang terkadang memiliki hobi dan bakat yang tak biasa.

"Ayah dari Jeon Jungkook." Sehun menatap Taehyung lekat.

Dan kali ini Taehyung benar-benar terkejut bukan kepalang.

Ada apa ini?

Apa maksudnya?

Ia yakin ia tak salah dengar. Bahwa Oh Sehun mengatakan ayahnya adalah ayah dari Jeon Jungkook. Bahwa mereka memiliki ayah yang sama. Demi Tuhan, kejutan apa ini.

"Aku dan Jungkook bersaudara," jelas Sehun menjawab keraguan Taehyung. "Dengan ibu yang berbeda."

Taehyung tidak tahu bagaimana ekspresinya saat ini. Yang jelas, ia tahu bahwa ia sangat terkejut dan ia tak menyembunyikannya sama sekali.

"Aku selalu membencinya, kau tahu." Sehun mengalihkan pandangannya dari Taehyung, mendongakkan kepalanya menatap hamparan bintang di galaksi yang gelap gulita di atas sana. "Karena ia selalu mendapatkan apa yang tidak kudapatkan."

"Kau pernah mengaguminya." Taehyung tidak bisa tidak menyela. Ia masih ingat betul Jimin berkata bahwa pernah ada kala di mana Sehun dan Jungkook tidak saling bersaing, dan bahkan Sehun mengagumi Jungkook.

Sehun menarik sudut bibirnya. "Bukankah itu hal yang wajar dilakukan otak manusia ketika ia telah sampai pada titik tertentu karena terlalu membenci seseorang?"

Taehyung mendengus, menggelengkan kepalanya. "Itu tidak wajar."

"Aku ingin menyukainya. Dia adalah adikku. Dalam tubuh kami mengalir darah yang sama. Dan yang terjadi antara orang tua kami bukan uruanku. Itu adalah masalah mereka, dan aku tidak punya masalah dengan Jungkook." Tak ada kebimbangan sama sekali dalam rentetan kata yang keluar dari mulut Sehun.

Dan Taehyung tidak mengerti mengapa putra tunggal keluarga Oh itu mengungkapkan ini semua padanya.

"Semakin aku berusaha menyukainya, semakin aku membencinya." Sehun melirik pada Taehyung melalui sudut matanya. "Tidak sulit untuk menyukainya, karena ia memiliki begitu banyak hal hebat dalam dirinya. Prestasinya, bakatnya, semuanya. Namun tidak sulit juga bagi orang lain, bagiku, untuk membencinya karena semua itu."

"Pikiranmu kacau." Taehyung merasakan keningnya berlipat.

"Aku tidak ingin berhubungan terlalu dekat dengannya, tidak ingin melewati garis pembatas antara aku dan dia. Tidak ingin mengakuinya sebagai saudaraku, tapi aku ingin bersamanya. Bersama saudaraku. Apa kau pernah merasakannya? Perasaan yang membara ini, kau mencintainya namun kau membencinya? Kau membencinya namun kau mencintainya?"

Kerutan di kening Taehyung kian menjelas. "Jika sebelumnya aku ragu dengan pengakuanmu bahwa kau dan Jungkook bersaudara, sekarang aku sangat yakin. Kalian sama-sama punya masalah dengan pola berpikir kalian."

Sehun terkekeh. "Kupikir kau akan bilang kau percaya karena kami sama-sama punya tampang yang bisa membuat siapa pun terduduk lemas jika menerima tatapan kami."

Taehyung memutar bola matanya. "Dan sisi narsis kalian. Mirip."

"Aku dan dia sangat berbeda." Sehun mengulaskan senyum. "Aku tahu bagaimana menggunakan wajah ini dengan baik dan membuat siapa pun tidak mungkin membenciku. Dan dia tahu cara paling efektif untuk membuat orang lain tidak bisa membencinya seburuk apa pun ia memperlakukan mereka."

"Bagiku terdengar sama." Taehyung mendengus kecil. "Kalian membodohi orang lain."

"Tidak membodohi," ralat Sehun. "Kami hanya melakukan apa yang menurut kami benar."

Taehyung menatapnya untuk beberapa saat, sebelum kembali berkata, "Kau bicara seolah kau membelanya."

Dan tak ayal membuat Sehun terhenyak.

"Aku tidak mengerti perasaan kompleksmu pada saudaramu itu, tapi yang kupahami dengan baik di sini adalah sekalipun kau bilang kau membencinya, kau tidak senang saat orang lain berkata atau berpikiran jelek tentangnya." Taehyung bertutur dengan hati-hati, mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia harus menggunakan suara alto wanitanya.

Sehun tertegun menatapnya tanpa berkata-kata.

"Itu artinya kau menyayanginya. Kau mencintai saudaramu." Taehyung berujar tanpa keraguan. "Boleh saja kau berpikir kaumembencinya, merasa tidak puas dengan apa yang ia peroleh dan tak kaumiliki, namun faktanya kau mencintainya karena bagaimanapun, apa pun yang terjadi, kalian bersaudara. Kau menyayangi saudaramu."

Sehun masih menatapnya tanpa berkedip, kali ini dapat Taehyung tangkap bagaimana iris matanya mengecil dalam pupil mata cokelat segelap kayu ek.

"Dan kau tahu apa yang lucu?" Taehyung mengulum senyum. "Memang benar, Jeon Jungkook tahu benar caranya bagaimana agar orang tidak bisa membencinya apa pun perlakuannya pada mereka. Karena hal itu juga berlaku untukmu. Kau tidak bisa membencinya seperti kau ingin membencinya."

Sehun mengerjap. Sekali, dua kali.

Dan ia tertawa terbahak-bahak.

Taehyung baru sadar bahwa ia tengah tersenyum melihat Sehun terbahak begitu lantang, teringat bahwa seharusnya saat ini ia pun sedang membenci Jeon Jungkook. Dengan bagaimana Jungkook menganggapnya tak lebih dari sebuah boneka yang menjadi citra bagi sosok Venus yang sempurna dalam imajinasi tertinggi dan terliarnya.

"Kau tahu," ucap Sehun di sela tawanya. "Kurasa aku akan sungguh-sungguh menyukaimu."

Taehyung menautkan kedua alisnya.

"Kupikir kau sangat mirip dengan Baekhyun. Tapi rupanya kalian sangat berbeda." Sehun menambahkan saat tawanya telah reda.

Baekhyun?

"Sepupumu?" Taehyung tak berniat menyembunyikan fakta yang telah diketahuinya dari Ketua Klub Dramanya itu beberapa saat sebelumnya.

Sehun menarik sudut bibirnya. "Dan cinta pertamaku."

Oke, jika di dunia ini ada hari di mana semua kejutan muncul di saat bersamaan, maka Taehyung yakin benar hari ini adalah hari yang dimaksud. Terlalu banyak kejutan yang datang bertubi-tubi padanya malam ini, demi Tuhan!

"Mungkin kau tidak ingat," ujar Sehun lagi, "kita pernah bertemu setengah tahun lalu."

Taehyung menatapnya lekat. Sepertinya ia akan mendengar apa yang mengusik pikirannya mengenai masa lalu Jungkook dan Sehun, yang entah mengapa terdengar seperti ada hubungannya dengan Baekhyun. Taehyung antara merasa ingin mendengar dan tidak.

"Aku sama sekali tidak tertarik dengan pentas drama. Jika bukan karena Baekhyun memintaku menjadi pangeran baginya, aku akan menolak. Aku tidak bisa menolak permintaan Baekhyun, dan ia tahu itu." Sehun memulai ceritanya. "Aku memerankan peranku setengah hati. Tentu saja aku tidak mau menampilkan penampilan yang memalukan, karena itu akan mencoreng nama keluarga Oh yang mengalir keras dalam tubuhku untuk melarangku melakukan kegagalan macam apa pun. Aku melakukannya dengan baik, dan aku tahu itu, namun aku tidak menikmatinya."

Taehyung terdiam mendengarkan cerita Sehun dengan seksama.

"Jika bukan karena Baekhyun, aku takkan melakukannya. Aku tidak bisa menolak permintaan Baekhyun karena aku menyukainya. Saat itu." Sehun memberi penekanan pada kata 'saat itu', yang Taehyung tidak mengerti mengapa dilakukannya.

"Lalu tiba-tiba saja kau muncul setelah pertunjukan selesai, dengan penuh antusias memuji peran dan penampilanku—yang sesungguhnya tak kupedulikan sama sekali." Sehun menoleh pada Taehyung, memoleskan senyum terbaiknya di wajah tampannya. "Aku sangat terkejut, karena kau begitu mirip dengan Baekhyun."

Taehyung mengerjap.

Memang benar, banyak (catat: banyak sekali) orang yang mengatakan bahwa ia dan Baekhyun memiliki wajah yang sangat mirip. Ia menyadari hal itu, namun merasa bahwa ia tidak semirip itu dengan ketua klubnya itu jika orang memperhatikan dengan baik. Baekhyun memiliki bentuk wajah lebih runcing dan mungil, dengan pahatan feminin yang lebih kental daripada Taehyung.

"Saat itu aku sedang tidak dalam suasana hati yang bagus, jadi aku tidak berbicara padamu." Sehun tertawa kecil. "Pagi itu, sebelum pentas drama dimulai, Baekhyun mengatakan bahwa ia menyukai Jungkook dan ingin agar Jungkooklah yang menjadi Raja Syahryar baginya. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku saat itu?"

Taehyung terkejut bukan main.

Tunggu. Apa maksudnya ini?

Baekhyun mengenal Jungkook?

Baekhyun menyukai Jungkook?

Baekhyun ingin Jungkook memerankan Raja Syahryar dalam pentas drama tahun lalu? Dan Jungkook menolaknya? Sehingga Baekhyun meminta Sehun melakukannya?

Demi Tuhan, kejutan apa lagi yang malam ini akan didengarnya.

Tapi, Baekhyun sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia mengenal Jungkook! Bahkan Baekhyun berkata bahwa ia tidak tahu-menahu soal Jungkook saat ia melihat Taehyung mencorat-coret nama Jungkook dalam rapat klub mereka. Bahkan saat Baekhyun bicara mengenai masa lalu yang pelik antara Sehun dan Jungkook pun, Baekhyun bersikap seolah ia tak mengenal Jungkook!

Semua orang menyimpan rahasia.

Taehyung menelan ludah.

"Apa kau tahu mengapa ia memilih Kisah Seribu Satu Malam itu pada pentas tahun lalu itu? Karena ia ingin menjadi Scheherezade bagi Jungkook, tentu saja. Ia ingin melumerkan hati Jungkook yang dingin, yang tidak peduli pada cinta, yang tidak menganggap hal di dunia ini begitu berharga untuk dipertahankan." Sehun melanjutkan ceritanya. "Dan apa kau tahu bahwa saat itu Jungkook juga menonton drama itu sepertimu?"

Tidak, Taehyung tidak tahu.

"Aku memerankan peran yang seharusnya dimainkannya di atas panggung itu dengan perasaan marah. Aku begitu membencinya. Membenci Jeon Jungkook yang selalu mendapatkan apa yang kuinginkan." Terbersit nada pahit saat Sehun mengucapkan kalimat barusan, dan Taehyung hanya bisa terdiam.

"Dan ketika kau datang ke ruang ganti saat itu, ketika kau dengan berbinar dan bersemangat memuji aktingku, aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa." Sehun terkekeh geli. "Kuharap belum terlambat untuk meminta maaf sekarang karena saat itu aku tidak mengucapkan terima kasih untuk semua sanjunganmu itu? Bahkan kurasa aku tidak mengatakan sepatah kata pun."

Taehyung menggeleng. "Aku sudah ingat."

Kali ini giliran Sehun yang memasang air muka tak mengerti.

"Saat mendengar suaramu di pesta ini untuk pertama kalinya, aku merasa sepert pernah mendengarnya di suatu tempat. Suara yang sangat lembut dan khas, seolah setengah berbisik. Dan sekarang aku ingat di mana aku mendengarnya. Tentu saja saat kau memainkan peranmu sebagai Raja Syahryar dalam drama itu."

Sehun tak menimpali.

"Kau tidak mengucapkan terima kasih untuk pujian-pujianku, aku ingat itu," tambah Taehyung lagi. "Tapi aku ingat kau mengatakan sesuatu sebelum aku pergi."

Sehun menaikkan sebelah alisnya.

Taehyung terbatuk, mengalihkan tatapannya dari Sehun untuk melihat ke mana saja selain pada lawan bicara di sampingnya itu. "Kau bilang suatu saat kau ingin menjadi pangeranku."

Sehun mengerjap.

Taehyung lekas mengibaskan tangannya di udara. "Aku tahu itu hanya bercanda. Omong kosong. Dan aku juga heran mengapa kau mengatakannya, padahal sesaat sebelumnya kau mengabaikan semua antusiasmeku. Jadi karena merasa hal itu sangat ganjil makanya aku melupakannya sampai barusan kau kembali mengungkit hal yang terjadi setengah tahun lalu itu." Jelas sekali Taehyung berusaha menahan rona malu di wajahnya saat ia bertutur cepat.

"Aku bilang begitu?" Sehun mengabaikan total celotehan Taehyung.

Taehyung mendengus. "Yah, kalau mendengar ceritamu sekarang, kurasa aku mengerti sekarang. Kau bilang begitu karena kau berpikir aku mirip dengan Baekhyun-hyung. Orang yang kausukai."

Makanya dia sendiri lupa pernah mengatakan hal menggelikan seperti itu. Kan?

Sehun mengurut punggung lehernya sendiri, memiringkan kepalanya dan memasang air muka bahwa ia sedang berpikir. "Aku tidak ingat pernah mengatakannya. Mungkin kau benar, aku mengatakannya karena aku sangat menyukai Baekhyun dan baginya aku hanya nomor dua setelah Jungkook. Aku marah karena menjadi cadangan di mata Baekhyun, dan saat melihatmu yang begitu mirip Baekhyun tanpa sadar aku mengatakan hal yang tak bisa kukatakan langsung pada Baekhyun."

Taehyung mengangguk.

"Atau mungkin," ucap Sehun seraya menoleh pada Taehyung dengan kuluman senyum di wajah tampannya yang tanpa cela. "Tanpa sadar aku telah menyukaimu bahkan sebelum otakku dapat memprosesnya.

Taehyung memutar bola matanya. "Aku tidak sedang dalam suasana hati ingin mendengar gombalan yang konyol."

Sehun tertawa.

Dan tiba-tiba Taehyung tersadar.

TUNGGU.

Semua pembicaraan ini…..

Taehyung memutar lehernya cepat ke arah Sehun dengan kedua bola mata membulat dan iris mata yang mengecil, terkejut bukan kepalang. "K-Kau…. Tahu?"

Sehun meninggikan sebelah alisnya. "Apa?"

Taehyung masih tergagap, membuka dan menutup mulutnya beberapa kali tanpa suara.

"Oh, bahwa kau adalah Kim Taehyung?" Sehun bertanya santai. "Tentu saja."

Rasanya ingin Taehyung terjun ke bawah sana detik ini juga jika ia tak merasa tubuhnya oleh berkat rasa malu yang luar biasa hebatnya hingga membuat sekujur tubuhnya lemas dan tulang-tulangnya kehilangan daya topangnya.

Taehyung menutup wajahnya yang kini semerah tomat dengan kedua telapak tangannya.

Sehun tertawa geli. "Kau baru sadar sekarang? Menurutmu kenapa aku membicarakan semua ini denganmu?"

Oh, tentu saja.

Sejak awal Sehun sudah tahu bahwa ia adalah Taehyung. Bahwa Venus dan Taehyung adalah orang yang sama. Karena itulah sejak awal ia bercerita mengenai perjumpaan pertamanya dengan Taehyung, walaupun ia tengah berbicara dengan Venus.

Taehyung mendadak merasa jadi orang terbodoh sedunia.

Semua kejutan dan kekacauan yang terjadi malam ini membuat otaknya buntu dan ia tak bisa berpikir dengan jernih.

"Jangan sembunyikan wajahmu," goda Sehun sembari mengulum senyum. "Bahkan bulan yang terang pun tak dapat menandingi kecantikanmu malam ini."

Taehyung menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya, menggumamkan aneka kalimat koheren tentang betapa semua sandiwara mengenai Venus ini konyol sekali, karena ternyata semuanya sudah terbongkar dari awal.

"Siapa lagi yang tahu?" tanya Taehyung dalam gumamannya, kini telah menanggalkan atribut suara alto wanitanya, tanpa mengangkat kepalanya.

Sehun masih mengulum senyum, menikmati rona merah jambu yang kini merambati telinga dan leher Taehyung. "Luhan."

Seketika Taehyung kembali teringat pada dialog antara Jimin dan Luhan di galeri seni. Taehyung tak bertanya lagi.

"Saat Luhan berkata bahwa Jungkook datang padanya dan memintanya menyamar sebagai perempuan untuk datang ke pestaku malam ini, bohong jika kukatakan aku tidak merasa senang. Karena itu artinya Jeon Jungkook berpikir bahwa Luhan, pacarku, adalah orang yang sangat cantik dan menarik." Sehun mengangkat bahunya tak acuh.

…. Apa katanya?

Pacar?

Pacar? ?

"Dan tentu saja, aku tidak mau membuang kesempatan emas untuk mempermalukannya. Aku ingin Luhan menerima tawaran itu, lalu kemudian ia meninggalkan Jungkook untukku dan itu akan membuat harga dirinya jatuh. Tapi di sisi lain, aku juga tidak mau meminjamkan pacarku untuknya. Jadi kupinta Luhan untuk menolaknya, dan aku teringat padamu. Aku tidak mungkin meminta Baekhyun melakukannya, jadi aku mencari nomor ponselmu dari teman-temanmu dan aku menghubungimu. Kau ingat? Aku memintamu datang bersamaku dan jadi pasangan dansaku malam ini. Sayangnya kau tidak memberi kabar sama sekali, dan kudengar dari Luhan bahwa Jungkook punya kandidat lain untuk jadi pasangan dansanya selain Luhan, dan itu adalah kau, Kim Taehyung, dan Hong Jisoo.

Aku merasa seolah takdir sedang menertawakanku dan Jungkook. Bagaimana bisa ia memilihmu yang juga telah kupilih. Dan ia memilih Luhan yang juga telah kupilih sebagai pacar rahasiaku. Kemudian aku tersadar bahwa seleranya selalu sama denganku." Sehun menarik sudut bibirnya.

"Dan aku mulai berpikir, jika ia punya selera yang sama denganku, mengapa ia tidak tertarik pada Baekhyun setengah tahun lalu saat aku mabuk kepayang padanya? Dan jawaban yang muncul membuatku muak." Sehun memberi jeda pada ucapannya. "Jeon Jungkook tahu aku menyukai Baekhyun, karena itu ia menolak Baekhyun. Ia mungkin tertarik pada Baekhyun, tapi ia tak menyukai Baekhyun seperti aku menyukainya. Apa pun itu, tetap saja mencoreng harga diriku."

Taehyung mengerjap tak percaya.

Sehun mendengus. "Aku ingin membuatnya merasakan perasaan dipermalukan seperti itu, dan kuputuskan untuk merebutmu darinya. Aku tahu sekali bahwa ia payah dalam hubungan antar manusia, dan aku yakin benar ia tidak memperlakukanmu dengan baik. Aku berbeda darinya, aku akan memberimu apa pun yang kaumau. Perhatian, senyuman, pujian, semua yang diinginkan seseorang dari pasangan dansanya."

Taehyung mengangkat kepalanya, menatap Sehun tak percaya dengan kedua pupil mata melebar.

"Dan ketika aku bilang aku tak menyangka akan melihatmu menangis di atap mansionku seperti ini karena apa pun yang telah Luhan katakan padamu, itu memang benar. Aku tidak tahu kau akan sesedih ini." Sehun menoleh pada Taehyung, menatapnya simpatik.

Dan Taehyung naik pitam.

Dengan kasar ia beranjak bangkit dari tempatnya duduk, menunjuk Sehun dan berseru lantang, "Apa kau dengar apa yang barusan kaukatakan?"

Sehun terkejut menatap Taehyung yang tiba-tiba saja meledak.

"Kau sangat kekanakkan!" Taehyung berteriak menudingnya dengan gusar. "Kau dan Jeon Jungkook sama saja! Kalian menganggap orang lain tak lebih dari boneka yang menari di telapak tangan kalian hanhya untuk memuaskan ego dan harga diri kalian sendiri!"

Sehun bangkit dengan kedua tangan di depan dada. "Ak—"

Belum sempat ia bicara, Taehyung memotongnya cepat, masih dengan nada gusarnya, "Kau memanfaatkan pacarmu, kau menggunakannya untuk membuatku membenci Jungkook, dan pada saat bersamaan kau berpikir untuk mendapatkanku. Apa itu jika bukan kekanakkan? Kau hanya memikirkan keinginamu sendiri. Kau tidak berpikir sedikit pun apa yang ada dalam kepala pacarmu itu? Apa yang akan kurasakan dengan semua rencana konyolmu itu?!"

Sehun terbelalak saat ia menyadari tempat Taehyung berada saat ini adalah tepat di bibir atap mansion. "Hei, Taehyung, tenang. Perhatikan langkahmu, mundur sedikit saja dan kau akan—"

"Taehyung!"

Sehun dan Taehyung terkesiap, membeku saat seruan yang lantang itu membelah angkasa dari arah pekarangan di bawah sana. Taehyung menoleh melalui celah bahunya, dan dapat Sehun lihat din bawah sana Jeon Jungkook tengah berlari menghampiri bagian bawah atap tempat mereka berdiri di puncaknya saat ini.

"Loncat!" seru Jungkook dari bawah sana.

Dan Sehun menertawakan saudara seayahnya itu, karena hei, orang bodoh mana yang melompat dari ketinggian sepuluh meter tanpa pengaman? Orang bodoh yang cari mati!

"Hanya orang tidak waras yang melompat dari ketinggian sepuluh meter tanpa pengaman apa pun," ujar Sehun masih dengan tawa gelinya. "Lalu bagaimana? Dia akan menangkapmu? Konyol sekali."

Taehyung berdeham, menegakkan tubuhnya dan mengerjap sebelum mengangkat dagunya dan berkata, "Mungkin aku akan patah tulang, tapi Jungkook akan menangkapku dan bukan cuma aku yang akan masuk Rumah Sakit."

Sehun menghentikan tawanya, menatapnya tak percaya. "Kau gila."

Seolah tak menggubris ucapan Sehun, Taehyung berbalik dan mengangkat kedua sisi gaun panjangnya. "Pastikan kau menangkapku!" teriaknya pada Jungkook.

"Kau akan mati!" desis Sehun tak percaya dengan apa yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri itu. "Sekalipun Jungkook menangkapmu, kepalanya akan membentur tanah dan tengkorak kepalanya bisa pecah. Tidak ada jaminan juga kepalamu akan baik-baik saja."

"Oh? Bukankah terdengar romantis?" Taehyung menengok ke arahnya melalui celah bahunya, seringai mengejek tampak jelas di wajahnya. "Romeo & Juliet?"

Sehun tak sempat berkedip saat Taehyung kembali memutar kepalanya membelakanginya dan…. melompat!

"KIM TAEHYUNG!"

Gemerlap bintang yang terhampar bagai permadani hitam berhiaskan permata di atas sana tampak seolah berputar. Angin dingin yang menyapu kulit yang tersingkap dari gaunnya membuat Taehyung menggigil.

Dan mungkin karena efek sensasi antara hidup dan mati yang baru saja dirasakannya.

Dirasakannya pelukan erat di pinggangnya melonggar, namun tak cukup longgar untuk membuat tubuhnya yang terkekang di balik korset dan gaun yang sangat ketat di bagian pinggangnya itu merasa bebas bergerak.

Dapat Taehyung rasakan hangatnya hembusan napas yang memburu di ceruk lehernya yang tak tertutupi helaian gaun, dan ia menyadari betapa dekat tubuhnya bersentuhan dengan pemuda yang kini masih melingkarkan kedua tangannya di pinggang dan dadanya, merengkuhnya dengan segala kekuatan yang dimilikinya, seolah begitu ketakutan Taehyung akan terlepas darinya. Entah telah berapa lama ia berada dalam posisi itu bersama pemuda yang tak sedikit pun menunjukkan tanda-tanda akan melonggarkan pelukannya dari tubuh ramping Taehyung yang semampai.

Taehyung mau tak mau merasakan pipinya memanas dengan kedekatan jarak mereka, dan ia berusaha menggeliat dari rengkuhan pemuda berparas tampan itu namun tubuhnya terasa seolah selembek agar-agar.

"Mau sampai kapan kau memeluk Venusku." Terdengar suara jengkel yang menyeruak, bercampur dengan napas yang memburu seolah yang bersangkutan baru saja mengikuti lomba maraton yang mempertaruhkan nyawanya pada setan. "Kim Taehyung adalah Venusku."

Taehyung tidak tahu lagi siapa yang membuat wajahnya semerah kepiting rebus saat ini. Oh Sehun yang tengah memeluknya dari belakang dengan erat dalam posisi terjerembab di lantai atap karena pemuda itu baru saja menariknya secepat yang bisa manusia lakukan sepersekian detik sebelum ia terjun dari bibir atap, atau Jeon Jungkook yang berlari bagai orang kesetanan saat melihat Sehun menarik lengan Taehyung dan menghentikannya untuk terjun.

Jangan ungkit bagaimana Jungkook dengan penuh amarah dan posesifnya menatap Sehun yang tengah memeluk Taehyung dengan tajam. Tidak pernah Taehyung bayangkan bahwa ia akan pernah melihat betapa kobaran api dalam dua kolam mata air di pupil mata Jungkook dapat terlihat begitu membara sekaligus sedingin es.

Oh Sehun menarik sudut bibirnya. "Aku tidak akan menyerahkan Kim Taehyung pada orang gila yang menyuruhnya mati konyol dengan melompat dari atap."

Taehyung menelan ludah.

.

.

.

.

.

.

.

.

~* TBC *~


Author's Note:

Naaah hampir semua fakta udah terkuak. Jadi begitu, ternyata. Hm, hm. XD

Hayo, siapa yang mikir Taetae bakalan beneran lompat? XDD Masa sih aku bikin dia mati, ngga dooong, hehehe. X3

Hubungan antara Jungkook dan Sehun memang kompleks (dalam fic ini), benci karena bersaudara, sekaligus saling sayang karena bersaudara. Mungkin ini yang namanya kebencian terhadap sesama ras. ;D

Chappie depan ayo kita lihat dari sentries Jungkook. Dia lagi dibakar api cemburu, tuh. Sehunnie peluk-peluk Taetae. XD Makanya ngaku doong, kalau suka. Ga usah gengsi atau keras kepala lagi. XDD *pukpuk Kookie*

Moga minggu depan bisa update Ch 10. See ya soon! :D

.

.


Special Thanks to: (diurutkan berdasarkan urutan review)

Macchiato Chwang, shipyon, outout, Im A Whale, TaeKai, purplesya, salsabila, sabila, HyeraSung, babydeer, Dania754, exoinmylove, Ntaetae, Kyubear9597, dila kim, senalee, Icha744, Guesteu, CutieVie, V-Taebaby, Dororong, overflakkie, tryss, TyaWuryWK, sxgachim, gahee28, utsukushii02, VJ, shashasha, bities, Yuko348, iistaetae, Idayati KookieV, SheravinaRose, Cutebei, hyemi270, Dedee5671, Sky Onix, Strawbaekberry, viertwin, ayalien, Sugahoney, NotYou002, tae's, ame jung, kk, kahisairawan, busaneseo, siskap906, chann17, vrnsafitri, 94shidae, PurpleLittleCho, Park Rinhyun-Uchiha, , HilmaKins, Jell-ssi, 1, hiluph166, yoitedumb, Leetlestar, fangurlxx, alv, Shin RanRan, Nevinna Lea, salsabila, maymayun5, Sugapheromone, Kittyheow, Yozora-MKline, Mrs. EvilGameGyu, kanataruu, aokis, risaawaw, Mayorinchan760, Taellme57, bulatbulatmanis, Guest, Tikha Semuel RyeoLhyun, kwon carat, kimahhyun, Guest, happysunflowers, jibooty, sanaa11.

Mian nggak balas satu per satu. Tapi feedback dari kalian semua bener-bener bikin aku seneng banget. Mamaciiih ya udah baca dan menikmati Rotten Apple ampe sejauh ini. Seneng deh kalau kalian suka. :'D

Jangan bosen-bosen, stay tuned terus buat lanjutannya! Love you all! ^ ^