Permisi… saya numpang memperkenalkan diri. Saya temennya Relya, pernah review dengan nama 'beside you' di beberapa fic dia. Berhubung dia lagi sakit cacar dan nggak bisa ke warnet, jadi saya yang update. Itulah alasan keterlambatannya update, yang seharusnya hari minggu kemarin jadi molor parah. Tidak ada bagian apa pun yang saya ubah dari fic ini. Semuanya asli yang dia ketik pada waktu hari jumat seminggu yang lalu, sebelum dia sakit. Saya hanya bantu mengetik balesan review yang baru dia tulis di kertas, belum sempet dia ketik.
Mulai dari setelah garis sampai kata terakhir, semuanya asli kerjaan relya schiffer.
Berikut balesan untuk para ripyu dari reader yang baik hati.
Arisa Yuki-kyutsa : Yuhu, risa-san… Ya ampun. Tak usah sampe segitunya, say. Gak papa, kok. Kamu pasti sibuk toh? Makasih ya udah sempet ripyu.
Nah, met menikmati chap 9, ya. Semoga terhibur…^^
Karin Fuuka : hai, hai, fukaa-chan… makasih ya ats ripyumu…
Aku juga seneng ulqui diledekin. Yuk kita ledekin bareng-bareng. Hehehe
Mari kita saksikan sama-sama apa yang akan dilakukan Tia*garing, dihajar berjamaah*. Apdet sering? Well, hahaha, pengennya sih gitu. Tapi waktunya susah say. Maaf ya Cuma bisa seminggu sekali. Semoga sabar nunggu deh.*nunduk dalem-dalem*
Marianne der Marionettenspieler : Yoo, rinne-sama…apa kabar anda? Ulqui yang di avatar anne-san manis banget deh, sumpah! Kalo aku cowok, pasti langsung naksir. Pose-nya juga menggairahkan gitu. Ups!*di death glare ulqui. Jika death glare bisa membunuh, aku pasti sudah mati*
Good job! Hahaha.
Nee, sudah saatnya Tia untuk nggak main kucing2an lagi. Tuh, dia udah berani menunjukkan diri di depan Grimm. Hiks, aku juga sedih, Ulqui-kun di tuduh pembunuh. Dannnn tebakan Anda benar, rinne-sama. Penjelasannya ada di chap ini.
Well, ulqui emang nggak suka ngerepotin orang. Makanya dia pinter banget nyembunyiin semuanya. Pengaruh jadi anak tunggal yang sering ditinggal ortu kali, ya. Jadi kebiasaan nge-handle semuanya sendiri. Kalo stark kayaknya nggak akan nyatronin rumah grimm deh. Dan pertemuan stark-ulqui akan ada di chap 10. Harap sabar ya, rinne-sama.
Makasih atas ripyu Anda. Selamat menikmati (?) chapter 9…^^
4youMmy dL4tz ANGEL kuu-chan : Holla, kuu-chan.. Makasih udah ripyu. Hehehe.
Yosh, gpp kok baru ripyu sekarang. Yup, si Tia emang kubikin jadi antagonis di sini (gomenne buat Tia fc). Dan Orihime kubikin lebih dari sekedar depresi. Errr, apa ya? Mungkin trauma besar kali ya.
Okeh, sekali lagi makasih udah ripyu. Selamat membaca chapter 9.^^
Vida Tranquilla : Yoo, Vida. Tak usah teriak2 aku denger panggilanmu kok. Hehehe. Makasih atas ripyumu loh.
Tia nggak akan ngapa-ngapain Ulqui kok, say. Tenang aja. Sasaran Tia bukan Ulqui. Yang mau bikin perhitungan sama Ulqui kan bukan Tia.*smirked*
Ulqui mati nggak ya?*ketawa nista*
Ikutin aja terus ya, say…^^
Scarlett Yukarin : Yosh, gpp gak login, Yuka. Gak masalah kok.
Eh, jangan-jangan kamu punya 6th senses? Tuh, nalurimu tepat. Hualah, banyak typo ya? Err, iya mungkin kamu bener, say. Aku lagi stress nian gara-gara kalkulus (lagi-lagi). Semoga di chap ini typo berkurang deh.
Hahaha, si kalong mati kutu diledekin. Aku seneng banget pas lagi nulis bagian itu. Hm, syukurlah yuka suka soi-ggio yang kemaren.
Okeh, makasih udah ripyu…^^
aam tempe : Makasih atas ripyunya, aam…
Hmm dosa? Tuh, udah kujelasin di chap ini. Silahkan baca, monggo…
Jiah, jangan takut, am. Yang jahat nggak selamanya jahat kok. Hohoho. A-ara…pukulanmu sakit juga. Berbakat jadi tukang pukulkah dirimu?*senyum gaje*
Hahaha, syukurlah Aam suka sama moment ulquihime yang kemaren. Maaf kedikitan. Habis kalo kebanyakan nanti yang lain nggak kebagian donk. Ibarat kata orang,'dunia milik berdua, dan yang lain ngontrak.*garing pisan euy*
Wokeh, once again, thank you very much…^^
Koizumi nanaho : Yoha, Zumi… Nee, I'm so sorry, dear. Aku tak ada maksud membuat Tia-mu jadi begitu. Err, dia chara paling memungkinkan untuk jadi antagonis yang cool, sih (versiku, hehe).
Ciye, ciye…ulqui…hime…*ikut2 Zumi, dilempar lanza de relampago*. Nah, stark dengarkan nasihat zumi tuh, jangan bales dendam, itu perbuatan tercela*jadi inget pelajaran KWN*. Terus Soifon, tuh dengerin wejangan kak Zumi, boong itu nggak baik lho…
Errr…Rate M untuk gore bunuh-bunuhan? Hhehe, mungkin bukan di sini. Tapi aku punya niat bikin yang kayak begitu juga kok.*ketawa setan*
Makasih atas ripyunya ya…^^
Ararancha : Kyaaaa, ada cha… Akhirnya ada namamu muncul juga. Hhehehe. Makasih udah ripyu ya, say. Iya, gpp kok baru ripyu di chap yes, hallibel memerankan tokoh psikopat.*di tiburon*
Yosh, ni udah apdet. Met baca…^^
Chai Mol : hohoho, yuk, kita ledekin ulqui bareng2 yuk, chai-san…*di cero oscuras*
Kata-kata Tia yang mana nih? Trus, orang yang ketemu Griim, itu ada di chap ini. Jadi, met baca aja deh. Makasih untuk ripyunya, ya…^^
Galathea Dertov Refferlark : Aih, salam kenal juga Gala-san… Harus panggil apa nih diriku? hehehe…
Terima kasih sudah meripyu fic gaje saya ini. Saya tak menyangka dirimu suka fic abal seperti ini. hehehe. Iya, typo emang susah banget dikendalikan. Duh…
Okeh, chapter baru sudah update. Semoga gala-san berkenan untuk ripyu lagi…^^
Okeh, arigatou gozaimasu untuk semua reader yan g telah meripyu, login atau pun gak login. Juga para silent reader yang sudi mampir ke fic abalku ini. Welcome to the ninth chapter. Bear with me and happy reading….^^*tetep senyum meskipun tampang udah kusut*
Disclaimer : Bleach punya Om Tite Kubo. Err, boleh kutanya Om tite? Anak kecil di chapter 426 itu siapa ya? Kayaknya mirip seseorang deh. Reinkarnasi Ulqui-kah?*ngarep*
Warning : AU, OOC, abal, gaje, nista, typo bertebaran, EYD berantakan, alur gak jelas, dan err…masih banyak keanehan lain yang akan ditemukan dalam fic ini.
Rate : T, gak percaya? Buktikan dengan membaca…^^
.
.
.
WHERE EVER YOU ARE
By
Relya Schiffer
.
.
.
Mata kelabu itu terbuka, menatap langit-langit kamar yang gelap. Temaram. Cahaya yang masuk melalui ventilasi dan celah jendela menimbulkan bayang-bayang di dinding. Pemiliknya bangkit dan terdiam dalam keadaan duduk. Rambut senjanya jatuh lurus, lalu terbelah di bahunya. Gadis itu menatap kosong ke arah dinding di hadapannya, kedua tangannya mengepal kuat. Perlahan tapi pasti, dia turun dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar, menuju dapur. Beberapa saat kemudian ia menuju ruang tamu sambil memegang benda di tangannya.
Langkah gadis belia itu terhenti ketika ia menyadari bahwa ada orang lain di rumah itu selain dirinya. Di ruang tamu, tepatnya di sofa, seorang pemuda berkulit putih agak pucat sedang tertidur. Sepertinya tidur pemuda itu cukup lelap, sehingga ia tak menyadari bahwa jaket army coklat mudanya terjatuh ke lantai. Mata pemuda itu terpejam erat. Wajahnya tampak damai, sedikit tertutupi rambut hitamnya yang berantakan. Satu kata : tampan.
Gadis berambut panjang yang sedang mengamati itu menghampiri pemuda itu, lalu duduk di lantai, tepat di sisi orang yang sedang tertidur itu. Kehadirannya sama sekali tak disadari. Tangan mungil gadis itu terulur, menyibak beberapa helai rambut hitam di wajah tampan itu, membuat ia bisa melihat pemilik wajah itu dengan lebih jelas. Sebuah senyum kecil tersungging di bibirnya. Dengan hati-hati, dia meraih jaket yang terjatuh dan menyelimuti sahabat kakaknya itu.
Dia mengenal sosok itu dengan baik, sebaik ia mengenal kakaknya. Jari-jari rampingnya menyusuri garis wajah di hadapannya. Dengan sangat perlahan, tak ingin membuat 'dia' terbangun. Senyumnya―senyuman tulus pertama sejak ia terpenjara dalam kenangan paling tragis seumur hidupnya―kini kembali. Dan―meskipun tak bisa lagi benar-benar membedakan kenyataan atau ilusi―kebaikan sosok ini tetap bisa ia rasakan. Membuatnya merasa nyaman saat mereka menghabiskan waktu bersama. Membuatnya percaya, merasakan sayang, pada orang selain Grimmjow―kakaknya.
"Hontou ni arigatou, Ulquiorra,"
Bulan sabit bersinar di langit, mengiluminasikan cahaya pucatnya. Seolah menjadi saksi mata saat seorang gadis berusia 16 tahun keluar dari rumahnya. Dengan langkah yang tergesa, seperti ada yang memburu, dia berlari menembus kegelapan.
Pukul 02.00, di Café Tobiume Hyorinmaru.
"Griim, kau mau kubuatkan sesuatu? Wajahmu aneh,"
Teguran rekan sesama waiter di café itu membuat Grimmjow menoleh. Mata birunya menatap pemuda berambut pirang yang sedang menatapnya khawatir.
"Boleh. Aku ngantuk. Buatkan hot cappuccino saja. Jangan lupa choco granule-nya yang banyak." cengiran kecil muncul di wajah Grimmjow.
"Yah, asal kau tidak bersikap seperti anjing rabies begitu, pasti kubuatkan."
Grimmjow merengut,"Hei, kalau aku rabies, kau orang pertama yang akan kugigit, Tesla."
Laki-laki muda bernama Tesla itu cekikikan kecil, sebelum akhirnya menghilang di balik dinding menuju dapur.
Grimmjow menghela nafas panjang. Pengunjung café masih cukup ramai, tapi sudah tidak sebanyak beberapa jam lalu. Kebanyakan dari mereka adalah golongan orang yang terbiasa menghabiskan malam weekend dengan hang out ke luar, dan baru pulang saat fajar menyingsing di ufuk timur.
Untuk kesekian kalinya pemuda bertubuh tinggi itu menatap ke arah pintu masuk, seolah tak ingin ada sosok yang 'familiar' baginya berdiri di sana. Seperti beberapa jam yang lalu.
Ya, benar. Beberapa jam yang lalu. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, namun menyisakan efek yang signifikan terhadap Grimmjow.
.
.
.
.
.
"Hai, Grimmy, lama tak berjumpa. Apa kau merindukanku?"
Mati-matian, Grimmjow Ichimaru berusaha agar sepasang matanya tidak melebar melihat orang yang tiba-tiba saja berdiri di hadapannya. Saat itu ia merasa bahwa semua yang ada di sekitarnya membeku, lalu lenyap. Menyisakan dimensi berbeda baginya, hanya berdua dengan sosok itu.
Dia merasa khawatir, dan di antara rasa khawatir itu mulai timbul ketakutan. Memorinya bergerak cepat, melintas-lintas. Lalu tanpa di minta, menghadirkan potongan-potongan kenangan, bergantian seperti slide dari sebuah film. Tak ada siapa-siapa di dalamnya. Hanya mereka―Grimmjow dan wanita berambut kuning itu.
"Kau tampak tidak terkejut? Neliel hebat juga,ya… Bisa 'memperbaiki'mu sejauh ini."
Grimmjow ingin berteriak bahwa ia terkejut. Namun akal sehatnya masih berfungsi. Dia tidak akan lagi hidup dalam bayang-bayang sosok ini. Tidak, setelah ia mendeklarasikan cintanya pada perempuan yang saat ini sangat berharga baginya setelah Orihime.
"Harusnya kau tanyakan bagaimana kabarku, Tia Hallibel," Grimmjow tersenyum kecil, "karena dengan begitu, aku bisa mengatakan padamu bahwa aku baik-baik saja."
"Oh, begitu?" wanita berambut kuning itu―Tia―pura-pura terkejut. Sesudahnya ia kembali tersenyum, "Kau hebat sekali." pujinya.
Grimmjow tahu makna di balik pujian itu. Pemilik rambut biru terang itu menegakkan wajahnya, tak mau tunduk pada orang yang hampir saja menghancurkannya―membunuhnya.
"Terima kasih atas pujianmu. Kau juga tetap cantik dan sensual seperti biasa. Tak banyak berubah, tetap seperti dulu."
"Aku hargai niatmu memuji, meskipun aku tahu bahwa kau lebih ingin melihatku pergi dari sini. Bukan begitu, Grimmjow Ichimaru?"
Grimmjow hanya tersenyum. Ini jelas bukan keinginannya. Tapi lokasi yang tidak tepat membuat ia harus menjaga sikap. Ketika dilihatnya seorang waitress melintas, pemuda itu pun memanggil.
"Hei, Isane."
Perempuan bertubuh tinggi dan berambut agak perak menoleh.
"Kau memanggilku?" tanyanya memastikan.
"Haaahhh…. siapa lagi orang di sini yang bernama Isane, hah?" Grimmjow mengeluh jenaka membuat perempuan bernama Isane Kotetsu itu tertawa kecil. Ia tak sadar bahwa sepasang mata hijau terang tengah menatapnya tajam, tak menyukai keakrabannya dengan Grimmjow.
"Aku ada perlu sebentar dengan temanku. Kira-kira kalau kutinggal repot tidak?"
Isane menoleh pada sosok yang berdiri di hadapan Grimmjow. Saat matanya bertatapan dengan mata hijau sosok itu, ia segera mengalihkan pandangan sambil beberapa kali mengerjap. Entah kenapa, tatapan tajam wanita bergaya feminim itu membuatnya takut.
"Yah, kurasa tak masalah. Sebentar lagi Hisagi-san datang menggantikan shift-ku. Kira-kun juga sedang dalam perjalanan menuju ke sini."
"Bagus. Aku minta waktu sebentar." cetus Grimmjow. Dan ketika Isane mengangguk, tatapannya teralih pada Tia.
"Ikut aku." perintahnya singkat.
Tia tersenyum. Tanpa banyak kata dia mengekor di belakang Grimmjow. Isane hanya memamndangi dua sosok itu dalam diam. Hingga seruan seorang pelanggan menyadarkannya akan pekerjaan yang menunggu.
Sementara itu, Grimmjow membawa Tia melintasi lorong pendek café. Mereka menuju bagian belakang, sebuah areal parkir khusus bagi pekerja di café itu. Suasana yang cukup sepi membuat Grimmjow lebih bebas bicara―meskipun agak berbahaya.
"Katakan apa maumu, Tia?"
Keramahan yang tadi sempat ditunjukkan hilang sekejap. Grimmjow menatap lawan bicaranya dengan serius.
"To the point sekali. Kau mirip dengan Ulquiorra." Tia tetap bersikap santai.
"Pekerjaanku masih banyak. Jadi cepat katakan apa maksudmu datang, dan cepat pergi dari sini." kesabaran Grimmjow mulai menipis.
"Kau tidak sopan, Grimmy,"
"Grimmy sudah mati, Tia!" sentak Grimmjow tiba-tiba. "Orang bernama 'Grimmy' sudah kau bunuh dengan tanganmu sendiri. Dan yang ada di hadapanmu sekarang adalah Grimmjow, Grimmjow Ichimaru!"
Mendengar nada suara Grimmjow yang meningkat, senyuman Tia surut. Wajah seriusnya kembali. Dia menatap pemuda berambut biru di hadapannya dengan tajam. Aura di sekitar mereka pun menjadi berat.
"Kau tahu, hubungan kita sudah berakhir. Kau tahu ki―"
"Aku belum mengatakan apa pun tentang kita," Tia menyelak kata-kata Grimmow, "aku belum melepaskanmu sampai sekarang." rambut kuningnya tersibak angin malam, melambai dengan gemulai.
Grimmjow menggeleng, lalu tertawa aneh. Tawa paksaan.
"Kau bermimpi. Kau harus mengakui bahwa semua tentang kita sudah tidak ada lagi."
Grimmjow memang laki-laki. Dia kuat. Tapi kali ini dia kalah gesit dibandingkan wanita dari masa lalunya itu. Ia tak bisa melihat―bahkan memprediksi―bahwa gerakan Tia akan begitu cepat. Sepersekian detik setelah Grimmjow selesai bicara, Tia langsung mendorongnya hingga menabrak dinding di belakang mereka. Tangannya menahan kepala pemuda itu, menekannya hingga menengadah. Dia menyingkirkan helaian rambut biru di dahi Grimmjow hingga memperlihatkan pelipisnya, memperjelas garis rahang pemilik mata sapphire yang indah itu.
Wajah Tia mendekat ke wajah Grimmjow, membuat hidung mereka hampir menyusuri guratan samar―seperti bekas luka―yang nampak di pelipis serta rahang bawah Grimmjow.
Dengan tatapan tajam dan suara desis berbahaya, Tia berkata pelan.
"Selama bekas luka ini masih ada, kau terikat padaku."
Sunyi. Tak ada sahutan. Nyanyian binatang malam pun terhenti,seolah bisa merasakan ketakutan. Kata-kata itu membuat Grimmjow terpaku. Seperti ada sihir yang membuatnya lumpuh seketika.
"Aku yang telah melukaimu, dan tak ada yang bisa menyembuhkannya selain aku. Tidak ada, bahkan Neliel pun tak akan bisa. Ingat itu baik-baik!"
Tatapan mata biru Grimmjow menyorot muak. Wanita ini boleh memperlakukannnya dengan bebas. Tapi Grimmjow tidak terima jika nama Neliel ikut terseret, bahkan diremehkan seperti itu. Semua orang boleh mencacinya, menghinanya, tapi tidak untuk Neliel.
Tanpa mempedulikan fakta bahwa Tia adalah perempuan, dia menyentak tangan yang berada di wajahnya. Mereka memang masih berhadapan. Tapi Grimmjow mampu mengembalikan kesadarannya secara penuh.
"Psikopat!" cercanya tanpa takut.
"Hanya jika berkaitan denganmu, karena kau adalah milikku. Dan jika aku tak bisa memilikimu, maka tak akan ada yang bisa." mata hijau Tia menyorotkan sesuatu yang sulit dipahami. Dia mundur beberapa langkah.
"Jadi, mulailah pikirkan, siapa di antara 'kalian' yang harus 'mengalah'."
Dalam sekejap mata, Tia telah berlalu. Menyisakan Grimmjow yang menghantamkan punggungnya ke dinding tempat Tia tadi menahannya. Seluruh kekuatan pemuda bertubuh tinggi itu terasa menyusut jika berada di dekat sosok itu. Dia memejamkan mata erat-erat dan beberapa kali mendesah frustasi. Semilir angin malam yang dingin tak bisa lagi memberi efek tenang baginya.
Ya, karena dia paham benar, pihak yang dimaksud Tia dengan 'kalian' serta arti dari 'mengalah' versi wanita berkulit gelap itu. Grimmjow mengusap wajahnya, putus asa. Dia tak peduli jika sesuatu yang buruk menimpanya, paling tidak masih ada Ulquiorra sebagai tempat menitipkan Orihime. Namun jika sesuatu yang buruk menimpa Neliel, Grimmjow tak tahu lagi apa yang bisa ia lakukan. Dia bahkan tak yakin bahwa ia bisa bisa bangkit kembali dan bertahan untuk kedua kalinya.
.
.
.
.
.
"Ini kopimu, Grimm,"
Suara teguran dari Tesla membuat Grimmjow menyudahi kegiatan flashback-nya. Aroma khas Cappucino cukup mengalihkan perhatian pemuda berambut biru itu. Dia tersenyum kecil.
"Arigatou,"ucapnya.
Tesla hanya menganguk lalu kembali duduk di sebelah Grimmjow. Dia menatap si rambut biru yang sedang menyuruput minuman yang baru saja ia buat itu.
Terasa hangat. Kepulan uap menyebarkan aroma kopi ke segala arah.
"Kau sedang memikirkan sesuatu, ya?" Tesla memberanikan diri bertanya.
Grimmjow mengangkat bahu sambil meletakkan cangkir di meja. Bukannya dia tak mau berbagi, bercerita. Tapi ia hanya tidak ingin disebut laki-laki melankolis. 'Curhat' bukan salah satu kegiatan favoritnya. Kecuali pada Ulquiorra yang punya kelebihan untuk memaksa.
"Begitulah."
"Hm, ngomong-ngomong apa kabarnya adikmu?"
Raut suram di wajah Grimmjow hilang. Sebuah petunjukia dapatkan dari pertanyaan Tesla barusan.
"Baik. Kenapa?"
"Aku hanya bertanya. Tidak boleh?"
"Haha, aku tahu maksudmu." cetus Grimmjow riang. Hobi usilnya kadang membuat ia mudah melupakan semua masalah yang ada.
Ketika Tesla mengerutkan kening kebingungan, Grimmjow justru tertawa.
"Tesla, kau tidak pandai menyembunyikan perasaan. Hei, aku mau tanya. Kau suka pada Orihime, kan? Ayo mengaku!"desaknya.
Tanpa dijawab pun Grimmjow sudah tahu apa yang akan dipilih Tesla sebagai jawaban. Wajah pemuda berambut pirang itu sudah cukup memberi petunjuk. Ya, berupa semburat merah di kedua pipinya.
"Jangan menuduh sembarangan!" cetus Tesla panik. Dan kepanikan itu membuat Grimmjow makin terbahak. Tesla pun mendengus sewot, bertingkah seperti orang yang rahasia besarnya telah bocor.
Sebenarnya Tesla adalah pemuda yang baik, Grimmjow telah mengenalnya. Dia adalah orang yang sopan dan sedikit lugu. Kalau saja tidak punya rencana, pasti Grimmjow akan membiarkan Tesla mendekati adiknya.
Ya, dia mempunyai rencana sendiri, bahkan sejak Orihime masih SMP. Mungkin lebih tepat, sejak Grimmjow sadar bahwa ia mendapatkan anugrah terindah berupa sahabat-sahabat yang selalu mendukungnya. Dan salah seorang di antara mereka telah ditetapkannya sebagai 'target'.
Memikirkan ini, seringai kecil kembali muncul di wajah peemuda bertemperamen cukup tinggi itu. Ia kembali menghirup cappuccino hangat buatan Tesla dan menghela nafas pendek.
"Kau hanya perlu membuka matamu lebih lebar, kawan," dia berkata pelan, "maka kau akan tahu bahwa ada orang yang sedang memperhatikanmu dari jauh."
Kerutan di kening Tesla kini bertambah. Grimmjow tak menanggapinya, dan malah beralih meninggalkan rekannya yang sedang sibuk berpikir. Mata birunya melirik sosok perempuan pendek dengan rambut ungu ikal yang sedang berada di balik tembok, tak jauh dari tempatnya dan Tesla duduk tadi. Dia menyeringai dan menepuk bahu perempuan itu―yang sepertinya―tak menyadari kehadirannya.
Jeritan kecil realisasi dari kaget pun terlontar dari bibir itu―satu-satunya waitress café yang bersedia pindah shift kapan pun, asalkan bisa satu shift dengan orang yang telah lama diperhatikannya.
"Grimmjow," desis perempuan itu, sedikit kesal karena dikagetkan.
Grimmjow masih menyeringai, bahkan tambah lebar.
"Kau penguntit, Cirucci! Kalau memang suka, bilang saja padanya. Jangan sampai kau menyesal setelah dia direbut orang,"
Usai mengatakan kalimat itu, Grimmjow berlalu. Seringai di wajahnya berubah menjadi senyuman. Dia memang usil, jahil. Dan malam ini, sifatnya itu telah sukses membuat dua orang rekannya ber-blushing ria dalam waktu yang berdekatan.
"Aku tidak mau tahu. Pokoknya kau harus mengajakku jalan-jalan, Q-chan!"
"Kau sedang sakit, Lily. Starrk-san pasti tidak mengijinkanmu."
"Tapi kau sudah janji! Kau tidak boleh bohong, karena aku tidak mau punya calon suami yang pembohong!"
"Hei, hei, ocehanmu itu bukan ocehan anak berusia 7 tahun, Lilynette."
"Jangan tertawa, Starrk. Jangan ikut campur! Ini urusanku dengan dia. Dia sudah janji mau mengajakku jalan-jalan. Dia tidak boleh melanggar janjinya itu. Aku tidak mau, aku tidak peduli."
"Ah, ketampananmu telah membuat Lilynette dewasa sebelum waktunya, Q-chan."
Pemuda berambut hitam itu mendesah pendek menanggapi rengekan bocah dihadapannya. Belum lagi senyuman meledek dari pria berambut coklat yang merupakan tetangganya ini. Benar-benar merepotkan.
Mau tak mau, remaja berusia 17 tahun itu merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan bocah perempuan berambut hijau muda itu. Mata pink-nya yang mulai berair menunjukkan bahwa dia siap menangis. Dan jika dia menangis, butuh waktu lama untuk membujuknya agar diam.
"Lilynette," panggil remaja itu pelan, "badanmu panas. Kau sakit. Kalau kau tak mau beristirahat hari ini, kau bisa tidak masuk sekolah besok."
"Hiks… tapi… hiks… kau sudah janji… hiks… Ulquiorra…"
Pria berambut coklat yang masih berdiri cukup terkejut mendengar ucapan sepupu jauhnya itu. Belum pernah ia mendengar bocah perempuan yang periang itu memperdengarkan suara seperti ini sebelumnya. Suara yang begitu meminta, begitu memohon. Seperti tak ada lagi hari lain baginya untuk menagih 'janji' yang terus-menerus diungkit.
Kekagetan yang sama juga muncul di wajah remaja berambut hitam itu. Mata hijaunya bahkan melebar. Sementara bocah dihadapannya terus terisak. Kali ini isakannya semakin jelas. Remaja itu pun akhirnya berdiri. Dia menatap satu-satunya keluarga bocah itu yang ia kenal.
"Starrk-san, boleh aku ajak Lilynette keluar sebentar?"
"Tapi kau juga sedang tidak sehat, Ulqui-kun. Wajahmu pucat."
"Sakit atau tidak, aku memang selalu pucat. Aku janji, hanya sebentar. Aku juga tidak ingin Lilynette tambah sakit."
"Yah, dia memang keras kepala, tak bisa dilarang."
"Jadi?"
Sejenak pria bermata kelabu terang itu tampak ragu. Kecemasan terukir jelas di wajahnya. Ia manatp pada bocah perempuan yang masih menangis, lalu beralih pada remaja bertatapan datar. Setelah mempertimbangkan cukup lama, ia pun mengangguk
"Baiklah. Aku percaya padamu."
"Terima kasih, Starrk-san."
Pria itu masih mengamati dua sosok berbeda umur yang cukup jauh itu. Ia bisa melihat bagai mana si remaja meraih sepupunya dan menggendong tubuh mungil bocah itu dengan tangannya. Pria itu juga bisa melihat bagai mana tangisan anak kecil yang sempat terdengar kini bertransformasi menjadi lonjakan gembira.
Dan yang pasti, pria itu bisa melihat dengan jelas―bagai mana dua sosok itu melangkah menuju pintu. Tepat sebelum bayangan mereka lenyap dari pandangan, anak perempuan itu menatap pria berambut coklat yangmasih berdiri lugunya berbinar lembut saat ia mengucapkan beberapa kata dengan suara samar.
"Arigato, Starrk-nii… Sayonara…"
.
.
.
.
.
Hari libur kali ini dilewati dua orang itu dengan banyak kegiatan. Bocah kecil itu―meskipun dalam keadaan sakit―namun tetap kelihatan riang. Mereka menghabiskan waktu di taman bermain, membiarkan setiap detik terlewat tanpa mereka menyadarinya. Satu-satunya yang mampu memanggil kesadaran yang tengah dibuai keriangan adalah warna langit. Biru telah digantikan orange, khas senja. Lembayung jingga itu membuat lampu-lampu di seluruh taman menyala. Keceriaan masih berlangsung, tapi remaja berambut hitam itu tak terpengaruh. Ia memfokuskan perhatian pada anak kecil yang tidur di pangkuannya, menjadikan pangkuannya sebagai bantal.
Lelap.
Senyuman kecil terukir. Dibelainya rambut hijau yang berjatuhan dengan penuh kasih sayang. Bocah ini, sekalipun berisik, tapi telah menjadi penyemarak hari-hari sepinya―yang tidak bisa dijangkau sahabat-sahabatnya. Anak ini telah menjadi musim semi yang menghangatkan musim dingin―keseharianya sebagai anak tunggal yang selalu ditinggalkan.
Kelopak mata anak perempuan itu terbuka perlahan saat ia merasakan belaian lembut di kepalanya. Senyuman di wajah mungilnya memancarkan kebahagiaan.
"Terima kasih, Q-chan…"
Remaja itu balas tersenyum, sangat tipis.
"Sama- sama. Kau mau pulang?
Anak perempuan itu mengangguk. Dia mengulurkan tangan, meminta agar tubuhnya yang terasa lemah untuk diangkat. Remaja itu pun memenuhinya. Mereka berjalan dalam senja yang lebih gelap dari biasanya.
Ketika tiba di tempat penyeberangan jalan, remaja itu melihat ke bawah. Ia mendapati tali sepatu kets-nya terlepas. Tali itu bisa membuat langkahnya terhambat, bahkan terjatuh saat ia menyeberang. Dan itu berbahaya. Lebih berbahaya lagi saat ia mengingat bahwa ia tidak sendirian, ada seseorang yang bergantung padanya, menyerahkan seluruh keselamatan di punggungnya. Pemuda berambut hitam itu pun menoleh pada sosok yang bersandar di bahunya.
"Lilynette, bisa turun sebentar?"
"Kenapa?" anak itu menyahut malas. Matanya setengah terpejam.
"Tali sepatuku lepas. Aku maumengikatnya dulu."
"Aku pusing…"
"Aku tahu, tapi ini berbahaya. Nanti aku akan menggendongmu lagi."
Bocah berambut hijau muda itu akhirnya mengangguk. Dia merosot turun dari punggung orang yang menggendongnya. Kaki mungilnya yang terasa lemah berpijak dengan gontai.
Detik berikutnya terasa begitu cepat. Lampu pejalan kaki masih menyala merah. Anak perempuan itu tiba-tiba limbung dan terjatuh ke depan. Tubuh mungilnya segera tersambar oleh sebuah mini bus yang melintas dengan kencang, membuat tubuh mungil itu terlempar dan terseret beberapa meter, sebelum akhirnya membentur marka jalan dengan sangat keras. Orang-orang menjerit, darah berceceran, klakson kendaraan bersahutan panik. Keadaan berubah kacau. Tak butuh waktu lama hingga daerah itu dikerumuni orang banyak.
Korban langsung tewas seketika, dengan retakan memanjang di bagian kepala akibat membentur jalan. Tubuh mungilnya yang pucat bermandikan darah : dari hidung, dari mulut, dari telinga, dari mata, juga dari luka-luka lain di tubuhnya.
Sementara orang-orang sibuk berseru riuh rendah, sosok berambut hitam itu terpinggirkan. Mata hijaunya menyorot datar. Ia tak mengerti situasi. Kepalanya terasa ringan. Dia menoleh pelan, hanya untuk mendapati kekosongan di tempat yang ditatapnya. Tempat itu, di sebelahnya, adalah tempat seorang anak kecil berdiri beberapa detik yang lalu. Tapi sekarang tempat itu kosong. Anak perempuan kecil bermata merah muda terang yang sempat berdiri di sana sudah tidak ada. Tempatnya sudah berganti dengan aspal jalan raya yang telah berganti warna, dilukis dengan warna merah darahnya sendiri.
Hari itu senja tampak lebih gelap, seperti menjadi latar belakang datangnya kematian. Rupanya langit telah lebih dahulu tahu bahwa hari itu akan ada duka. Bahwa akan ada malaikat maut yang menjalankan tugasnya untuk mencabut nyawa seorang manusia.
Ulquiorra terbangun dari tidur dengan gerakan menyentak. Seluruh jiwanya terasa seperti dilempar dari langit dengan sangat keras, lalu jatuh berdebam di tanah. Nafasnya memburu dengan detak jantung yang berdegup puluhan kali lebih cepat. Keringat dingin menetes dari dahinya, menghiasi sepasang mata emerald yang terbelalak lebar.
Sadar bahwa ia masih berada di rumah Grimmjow, Ulquiorra mendesah berat. Ia memejamkan mata setelah mengusap wajahnya perlahan. Ia sadar bahwa tangannya gemetar. Ia juga sadar bahwa apa yang baru saja ia mimpikan bukanlah mimpi yang dia inginkan.
Merasakan kondisinya yang kacau balau, Ulquiorra bersandar ke dinding sambil memejamkan mata. Ia lelah. Sangat lelah. Pemuda tampan itu butuh waktu lama untuk menenangkan dirinya sendiri. Setidaknya sampai ia merasakan sesuatu yang hangat menetes.
Dalam diam, Ulquiorra meraba hidungnya dengan jari. Mata hijau pemuda itu tak menyiratkan apa pun saat ia melihat warna merah di jarinya yang putih pucat. Lagi, dia hanya bisa mendesah pendek. Tangannya yang besar menyusuri rambut hitamnya ke belakang, lalu mencengkeram bagian belakang lehernya dengan cukup kuat.
Jangan sekarang. Setidaknya jangan sekarang…
Tiba-tiba mata Ulquiorra teralih pada daun pintu. Dia tersentak saat melihat daun pintu terbuka sedikit, mengindikasikan bahwa baru saja ada orang yang melintasi pintu itu. Pikirannya pun tertuju pada satu nama.
"Orihime!"
Sayang usahanya terlambat. Karena saat Ulquiorra bergegas menuju kamar gadis manis itu, dia tak menemukan siapa pun di sana. Kamar Orihime telah kosong…
.
.
.
.
.
#TBC#
Fiuh… selesai juga. Maaf ya kalo pendek banget. Aih, nggak kerasa udah sampe chap-9. Udah banyak. Jujur, aku sendiri masih nggak tahu fic ini mau sampe berapa chapter. Tapi alur sampai ending sih udah kutentuin. Jadi, kalau readers mulai jenuh, aku minta maaf.
Fiuh, jumat ini adalah hari kelabu.
Saat ini aku lagi di kampus, ngantri dari jam sebelas sampe sekarang ( jam tiga sore) hanya untuk bayar UTS dan uang kuliah. Bener-bener kayak orang mau -bener kurang kerjaan. Yah, salah diriku memang, coz baru bayar di hari terakhir dari batas waktu pembayaran. Untung nyambi sambil ngetik fic, kalo nggak bisa garing abis.
Udah gitu, karena ditinggal makan siang, nomor antrianku kelongkap. Dari 569 harus ngantri lagi dg nomor antrian baru, nomer 749! Arrggghhh, punggungku sakittt…
Hiks…mana kehujanan, baju basah,dingin, ngantuk, pusing. Terus nanti malam juga ada jadwal kuliah dari setengah tujuh sampe setengah sepuluh. Tidur siang yang kudambakan hancur. HIKs..hiks… Lengkap sudah penderitaan hari ini…
*Lap ingus*
Maav readers, sampe curcol gaje begini. Habisnya aku ngerasa nelangsa banget. Hiks, hiks…*nangis bombay*
Nee, seperti biasa, lemparkan keluhan ke kotak ripyu. Yang tak suka dengan curcol gajeku ini juga boleh protes. Duh, gak tau mau ngomong apa. Badan gak fit ditambah capek nunggu.
Mind to ripyu, readers?^^
