Seorang gadis keturunan Tionghoa duduk di sebuah kursi di kelasnya. Tatapannya jauh memandang jendela. Matanya bergerak mengikuti awan-awan yang seakan bergerak searah angin. Hari sudah mulai sore, namun ia belum bisa pulang.
"Hey Ying, aku duduk disini. Boleh?"
Seorang laki-laki bermata hazel dengan rambut violet tua memandangnya. "Haiya, kau ni buat kaget je,ma. Duduk je lah"
Mereka berteman sejak dulu. Eng, Teman?
Sepertinya tidak. Ying sangat membenci Fang. Sejak awal Fang pindah ke pulau Rintis, masuk di kelas mereka. Ying benci gaya Fang yang sangat sombong, seolah-olah dia paling tampan, paling populer, paling hebat. Apalagi keinginan Fang untuk mengalahkan Boboiboy, sahabat Ying. Membuat wanita itu makin sebal saja padanya. Tapi sekarang mereka harus terjebak berdua. Ya, mereka harus mengikuti pelatihan lomba selama satu setengah bulan.
...
"Fang, k-kau..."
Suara Ying terhenti.
Ia bingung. Ia kaget dan ia merasakan lututnya lemas.
Ying merasakan air matanya mulai memenuhi kantung air matanya. Tanpa basa-basi, ia segera berlari keluar rumah Boboiboy.
Fang yang terkejut dengan Ying segera mendorong Boboiboy sesaat Ying meninggalkan rumah itu. Fang segera mencari pakaian yang telah dilucuti Boboiboy tadi. Wajahnya benar-benar panik. Dan Boboiboy benar-benar ingin menonjok wajahnya sendiri.
...
Sebenarnya agak risih Fang ada di sampingnya selama 2 jam setiap harinya sepulang sekolah. Belum lagi dengan sikapnya yang benar-benar membuatnya risih dan kebisingan yang diterimanya sebelum pelatihan dimulai. Ya, suara ribut yang ditimbulkan para anak perempuan fansnya.
"Ying, aku nak pinjam penghapus kau."
Ying memberikan penghapusnya tanpa menatap Fang sedikitpun. Hal ini membuat Fang agak kesal.
"Kau ni. Sejak awal kau kelihatan tak senang aku disini."
"Haiya, perasaan kau je." Jawab Ying malas. "Perasaanku tak pernah salah."
Ying makin sebal dengan jawaban Fang yang seolah-olah mendewakan dirinya sendiri.
"Dah lah diam saja, wo."
Ying menutup percakapan dengan wajah cemberut. Namun, Fang mulai menemukan suatu yang menarik.
...
Fang telah cukup lama berlari mencari Ying. Ia kesal dengan dirinya sendiri. Ia terus berlari ke jalan-jalan dimana kira-kira di lalui oleh Ying.
Boboiboy terdiam di atas sofanya. Ia masih belum mengerti apa yang terjadi. Kejadian bergulir begitu cepat. Sampai ia sendiri bingung. Boboiboy meraih handphonenya. Entahlah tiba-tiba ia menelpon Yaya
"Halo?" Jawab suara wanita di ujung sana.
"Ying ada bersama kau?" Tanya Boboiboy
"Ying? Tak de Ying disini." Jawab Yaya kelihatan sangat heran dengan maksud Boboiboy bertanya Ying padanya.
"Oh. Dah lah. Terimakasih Yaya."
"Nnn...Boboiboy,k-kau sibuk besok?" Suara Yaya sedikit gugup.
"Hmm, sepertinya tak de apa-apa. Kenapa?"
"Kau nak tak temani aku? Dua hari lagi adikku ulang tahun. Kau nak bantu aku pilihkan hadiahnya?"
"Belikan je adik kau tu semacam mainan." Jawab Boboiboy sekenanya.
Boboiboy sedikit terhenti. Sesuatu yang ia lupakan.
"Apa kau cakap? Adikku dah tak main mainan lagi lah."
Boboiboy baru mengingat. Ia telah meninggalkan pulau Rintis cukup lama. Adik Yayapun pasti sudah besar.
"Oh. Iye lah."
"Kau nak temani aku?" Tanya Yaya kelihatannya sangat mengharapkan Boboiboy. "Oke."
...
Ying duduk di kursinya sambil membuka handphonenya yang berisikan pesan dari Yaya, sahabatnya. Senyum menghiasi wajah Ying yang putih lobak.
"Hey, sedang apa kau ni?" Tanya Fang mengambil telepon genggam itu tiba-tiba.
"Haiya, kembalikan, ma!" Ying kelihatan begitu kesal dengan sikap Fang.
Fang mengangkan telepon genggam Ying tinggi-tinggi agar ia tidak dapat menggapainya. Ying mencoba mengambil telepon genggamnya. Dengan postur tubuh Fang yang sangat tinggi, membuat Ying sangat kesulitan mengambil telepon genggamnya. Ying mencoba melompat mengambil telepon genggamnya. Namun, usahanya sia-sia.
"Fang, Kembali-"
Ying yang sedari tadi mencoba mengambil handphonenya tiba-tiba terjatuh. Dengan cepat Fang menangkapnya dan mendekapnya dengan tangan yang satunya.
Mata mereka bertemu beberapa detik. Wajah mereka cukup dekat. Membuat Ying sedikit salah tingkah.
"Kau ni. Tak ape?" Tanya Fang kelihatan terkejut.
"Haiya, sini kembalikan!"
Ying segera merebut handphone itu tanpa menatap wajah Fang dan berjalan menjauhi Fang.
Jantungnya mulai kacau sekarang.
...
Gopal ada di lapangan bola sepak sekarang. Ia menendang-nendang bolanya tanpa arah pikitrannya tertuju pada hal lain. Hal yang menurutnya tidak penting, tapi entah kenapa ia sangat memperdulikannya.
Tentang Yaya dan Boboiboy.
Apakah Yaya benar-benar serius dengan Boboiboy?
...
Hari ini, di sudut kantin benar-benar ramai dengan anak perempuan. Sedangkan Ying duduk di sudut lainnya merasa risih.
"Haiya, ini kerjaan dia lagi." Gerutunya sambil menyantap bekal sandwichnya.
"Dahlah, jangan kau benci-benci macam ni. Nanti kau suka." Yaya yang ada di sebelahnya akhirnya menanggapi gerutuan Ying dari tadi.
Ying sedikit terkejut dengan penyataan sahabatnya sendiri."Tak mungkin, wo."
Yaya hanya sedikit tersenyum lalu kembali fokus pada bekalnya.
"Hai Ying." Sapa seorang pemuda yang tiba-tiba ada di depannya.
"Hai Fang!" Sapa Yaya pada Fang sambil menyenggol siku Ying yang enggan menatap wajah Fang.
"Haiya, Apelah kau datang ke sini?!"
"Macamana kau ni. Memangnya aku tak boleh disini?" Fang akhirnya duduk di kursi tepat di depan Ying. "Aku ingin berbincang je dengan calon lawanku." Senyum nakal Fang berkibar di depan wajah Ying membuatnya semakin ingin memukul Fang.
"Jangan harap kau bisa kalahkan aku, ma." Jawab Ying sekenanya.
Tiba-tiba Fang mengambil sebuah sandwich dari kotak makan Ying dan langsung melahapnya tanpa rasa bersalah. Lalu bangkit berdiri seakan meninggalkan tempatnya.
"Haiya, ini bekalku. Mana kau ada bekal?!" Tanya Ying sengit.
"Ada, tapi dah habis. Aku masih lapar."
"Ish kau ni! " Ying mulai naik darah. Ia mulai ingin benar-benar memukul laki-laki yang ada di depannya, sayangnya Yaya segera menghentikannya.
"Dah, kau jangan cemberut seperti itu. Nanti cantiknya hilang." Kata Fang sembari menyentuh pipi Ying lalu meninggalkan Dua wanita itu terdiam.
...
Boboiboy duduk di atas kursi kedai. Matanya terlihat sangat mengantuk.
Ya. Hari ini ia memiliki janji dengan Yaya dan mereka bertemu di kedai Tok Aba. Namun, sedari tadi ia tidak melihat kenampakan dari sosok perempuanberkerudung itu. Boboiboy telah menunggunya hampir 1 jam disini.
Boboiboy mulai menyerah. Ia perlahan mengangkat badannya dari kursi hendak berjalan pulang. Tiba-tiba seorang anak perempuan dengan kerudung merah jambunya dengan setengah berlari mendekati Boboiboy.
"Hahh... haah.. Sori lah aku telat." Kata Yaya masih agak terbata-bata.
"Iyelah." Boboiboy memaksakan bibirnya untuk memberikan sedikit senyum. Sesuatu berbeda dari perempuan ini. Ya, ia sudah lebih dewasa. Yaya menggunakan rok panjang yang masih anggun, serta make up tipis yang membuat wajahnya terlihat lebih cantik.
"Jom kita berangkat!"
...
Sejak kejadian kemarin, Ying jadi malas duduk berdekatan dengan Fang. Ini bukan karena sandwichnya yang diambil paksa, tapi karena laki-laki itu Ying menjadi bahan pembicaraan hampir satu sekolah.
Hampir semua anak perempuan menatapnya dengan benci. Seolah Ying telah mengambil pacar mereka. Ying meletakkan tasnya di atas mejanya di kelas. Untung dia tidak sekelas dengan Fang. Ying sangat bersyukur untuk hal ini.
Ying menatap ke arah mejanya. Terlihat sebuah kertas berbentuk amplop warna putih . Ying mulai membuka kertas tersebut. 'Maafkan aku.'
Ying melihat sebuah coklat kesukaannya dan sebungkus cookies dalam sebuah plastik yang diikat dengan pita warna merah. Ying mulai duduk, lalu diam dan berpikir.
'Haiya, ini ulah siapa?'
Ying segera menyimpan bungkusan itu ke dalam tasnya. Ia takut nanti timbul fitnah.
Siang ini matahari bersinar begitu terik.
Ying yang baru sampai di kelas pelatihannya segera mencari tempat duduk kesukaannya lalu duduk dan segera mencari air minum dalam tasnya. "Haiya, dah habis, wo" Gerutunya.
Tiba-tiba pipinya terasa dingin. Ying segera menatap sumber dingin tersebut. Terlihat Fang membawa botol air mineral yang dingin dan cukup menggoda menempel di pipi Ying.
"Ish apelah kau ni?!"
"Untuk kau lah." Kata Fang lalu ia segera duduk di kursi sebelah Ying yang kosong.
"Haiya, kau tak boleh duduk disini!" Ying mencoba mendorong Fang agar pindah. "Tak mau."
Ying benar-benar kesal dengan Fang. 'Maunya apa sih Fang ini?' gerutunya dalam hati.
Terjadi peristiwa diam-diaman antara mereka berdua, sampai akhirnya
"Hey, macamana cokelatku tadi? Kau suka tak?"
"HAH? ITU COKELAT DARI KAU, MA?" Ying sedikit terkejut.
"Iyelah. Macamana enak?" Tanya Fang tersenyum.
Ying menggerutu dalam hati. Cokelatnya sudah dihabiskan. Coba saja ia tidak serakus itu.
"Dah kubuang." Kata Ying ketus.
Fang tertawa sambil menatap Ying. Mata mereka bertemu perlahan. Wajah Fang yang tegas dan senyumnya yang manis memang seperti coklat. Tiba-tiba Ying merasakan sesuatu yang aneh.
"Terimakasih cokelatnya." Akhirnya Ying menjawab dengan sedikit ketus sambil menundukkan kepalanya.
...
Ying masih belum dapat menerima kejadian kemarin. Ia tak mau seperti ini, tapi memang kelihatannya tidak ada gunanya mempertahankan hubungan mereka. Ying terdiam di kamarnya sambil memeluk boneka kesayangannya yang di dapat dari Fang sebagai hadiah ulang tahunnya. Disaat mereka belum berpacaran. Bahkan Ying masih menyimpan bungkus cokelat beserta plastik dan pitanya yang diberikan Fang pertama kali.
Ying benar-benar bingung. Ia tidak dapat membenci Boboiboy juga, karena Boboiboy sahabatnya juga. Ying memilih diam dan menumpahkan segala kekesalannya sendirian.
...
Sejak kejadian cokelat itu, perlahan Ying mulai dapat menerima Fang. Mereka mulai dekat. Terutama setelah akhirnya Ying tahu Fang tidak sejahat yang ia pikirkan. Walaupun memang kadang Ying merasa kurang nyaman. Terutama fans Fang membuatnya semakin malas.
"Hey. Kau tahu hari ini hari apa?" Tanya Fang pada Ying siang ini.
"Haiya, hari rabu lah." Jawab Ying polos.
"Nak main ke sehabis balik sekolah ni?" Tanya Fang tiba-tiba. Ying menatap Fang dengan sedikit kaget. Ia punya rencana hari ini. Ying dan keluarganya akan merayakan ulang tahunnya setelah balik dari sekolah.
"Jomlah. Bentar je." Fang memohon sambil mencubit pipi Ying perlahan. Membuat Ying tiba-tiba berdebar lagi. Wajahnya mulai merah diperlakukan seperti itu.
"Iyelah, ma. Sebentar je."
Ying agak menyesal mengiyakan permintaan Fang. Semua mata melihat ke arah mereka. Terutama perempuan-perempuan yang menjadi fans Fang.
"Kita ni mau ke mana, wo?" Tanya Ying perlahan.
"Duduk-duduk je lah di dekat danau. Aku suka lihat matahari terbenam di sana."
Ying berjalan agak sedikit lambat di belakang Fang. Hal ini karena kaki Fang lebih panjang. Fang yang merasa meninggalkan Ying dibelakangnya lalu menoleh dan segera menarik tangan Ying lalu menggandengnya.
Ying sedikit terkejut. Namun ia tetap diam, walaupun sekarang jantungnya kacau. Fang perlahan tersenyum pada Ying. Membuat wanita itu goyah. Namun, Ying masih dapat membalas senyum Fang itu. Entah apa yang dirasakannya saat ini, senang, berdebar-debar dan sedikit menyesal tercampur jadi satu.
Mereka telah sampai di tepi danau. Fang perlahan melepas gandengannya. Mereka diam berdua menyaksikkan matahari mulai memancarkan semburat oranyenya.
"Happy Birthday, Ying." Sebuah kalimat meluncur dari mulut Fang. Ying menatapnya perlahan, entah kenapa ia sangat bahagia Fang mengingat ulang tahunnya. "Terimakasih."
Dibawah semburat oranye itu, Fang tiba-tiba mengeluarkan sebuah boneka teddy bear ukuran sedang dengan pita merah yang tergantung sebuah amplop pink.
...
"Ada seseorang yang kau tunggu?"
"Ada."
"Apakah ia penting untukmu?"
"Entahlah. Mungkin aku yang tidak penting untuknya."
Fang menatap sebuah kertas putih bekas sobekan sebuah buku. Terdapat satu kata yang berarti di atas kertas itu. Bertuliskan 'iya' , satu katanya yang menurutnya berarti. Fang masih belum tahu apa yang harus ia katakan pada Ying.
Boboiboy membuatnya gila. Dan pertanyaan mulai muncul di kepala Fang, 'apa benar aku masih mencintai Ying?'
...
Ying sampai di rumah setelah Fang mengantarkannya. Wajahnya benar-benar merah. Sebuah amplop pink itu membuatnya terkejut.
'Maukah kau jadi milikku?'
Satu kalimat perusak jantung Ying. Ying hanya diam saat itu. Membuat Fang bingung. Sampai akhirnya Fang yang membuka suaranya,
"Tak usah kau jawab dulu sekarang."
"Haiya, kau ni. Masih banyak selain aku."
"Banyak, tapi Cuma k-" Kalimat Fang terhenti lalu ia terdiam sebentar. Kelihatannya ia tak bisa melanjutkan kalimatnya lagi.
"Ada seseorang yang kau tunggu?" Ying bertanya perlahan.
"Ada."
"Apakah ia penting untukmu?" Tanya Ying lagi melihat Fang agak sedikit ragu dengan jawabannya.
"Entahlah. Mungkin aku yang tidak penting untuknya." Jawab Fang lalu menatap matahari yang seluruhnya telah tertelan.
"Tapi, saat ini hatiku hanya untuk kau."
...
Boboiboy dan Yaya berputar-putar di beberapa toko alat musik untuk mencari gitar. Yaya bilang adiknya sangat suka bermain alat musik terutama gitar.
Boboiboy menatap Yaya yang kelihatan sangat cantik hari ini. Yaya mencoba mengambil gitar yang cukup bagus yang juga cukup jauh dari jangkauan tangannya. Dengan sigap, Boboiboy mendekat ke arah Yaya membuat jarak antara mereka semakit dekat. Boboiboy mulai mengambilkan sebuah gitar itu untuk Yaya, sekaligus membuat jantung Yaya semakin keras berdetak.
Boboiboy segera menyodorkan gitar itu pada Yaya. Namun, Yaya hanya diam saja. Ia menunduk dan wajahnya merah. Perlahan ia menatap Boboiboy.
"Boboiboy, aku mau berbicara."
"Cakap je lah." Boboiboy menanggapi Yaya dengan biasa.
"Aku suka pada kau."
Boboboiboy diam terkejut. Matanya membelalak, bagaikan bumerang untuk dirinya. Hal yang diucapkannya hanya untuk menyamarkan perasaannya pada Fang malah kejadian. Ia benar-benar bingung sekarang.
"Maaf, aku cuma menyampaikan." Yaya benar-benar merasa bodoh saat ini.
"Tak apa. Sebenarnya, aku juga suka pada kau."
WOWOWOWOWOWOWOWOWOWOWO
SEBENERNYA MAU SAYA ABISIN
TAPI GA ABIS (?)
Maaf cerita di chapter ini sampahan banget
Tapi kasian ying dihujad mulu dari kemaren. Ya di sela praktikum saya yang padat ini spesial untuk kalian.
Ceritanya nyesek ga? Nyesek ga?
Ya semakin ajaib semoga kalian masih sabar menunggu cerita sampahan saya. Tetaplah setia~~~
Maapin lama apdet ya, seperti yang kalian ketahui, saya sybuc kuli. Maafkan juga segala kesalahan saya typo, ooc, plot yang makin ga jelas, cerita yang kepanjangan dan sampahan, kesalahan diksi, dan yang lainnya.
Untuh chp selanjutnya ya ditungguin aja kalau lama ya maap
Mohon kritik dan sarannya komen ya komen, kasi dukungan byar aq cemungud teyus (ngemis)
Makasih semua yang mendukung saya diantara lautan jurnal dan praktikum :""""""""""""""""""
Disclaimer : Animosta Studio
