Maaf ya update-nya gak secepet chapter kemaren! Abis kan kemaren-kemaren saya UTS dari tanggal 3-6 Oktober
Reader: "Ya.. terus?"
Author: *pundung* "Kan cuma sekedar memberi tahu, kalian suka sensi-an begitu ah!"
Hiru'Na' Fourthok'og: Hai, saba baru pertama nulis namanya Hiru-san nih di sini! XD makasih udah ngikutin sampai sejauh ini *nunduk*. Kapan, ya? Jawabannya… khusus kali ini saya bocorin deh… mungkin bentar lagi #plak. Thanks bgt dah review!
Tachi Edogawa: Gak papa kok ^^a, yg penting… review *digampar Tachi gara-gara ngikutin gaya ngomongnya kemaren*. Arigatou reviewnya, nih dah di update ya ^_~
RethaHatake . SeptiKiyo-chan: Maaf namanya harus dispasiin gitu soalnya kalau gak dispasiin bakal ilang pas di publish m(_._)m. Woaa makasih dah mau menyempatkan waktunya buat review ya.. :D. Dah panjang, ya? Oke deh, yang chap ini bakal lebih panjang #mungkin. Sorry kemaren di potong habisnya dah nyampe 3000-an word #alasan. Ini dia bagian full-nya ^o^b
Yamanaka Chika: Tsunade emang gak adil tuh, guru pilih kasih, udah gebukin aja *ancang-ancang mau ngegebukin*. Hehe ._.v supaya Chika-chan gak penasaran lagi, nih udah ku update. Thanks ya :*
Maehime: Ii desu yo! Wow, kayak sinetron di TV? Kalo gitu besok judulnya jadi "Ino yang tertukar" dong? wkwk kidding.. Huaa makasih udah nginget hint-hint pelit yang saya selipin di cerita itu! Arigatou!
el Cierto: Thanks el-san! Yah, entah kenapa saya merasa senang menulis tentang 'two faces' ._.v #rasenganed. Makasih dah mau nunggu, ini udah di update! XD
Mau kok, batas waktu ShiNoMe sampai akhir tahun kan? Udah rencana mau bikin fic buat itu sih, hehe
Anasasori29: Mungkin kapan-kapan Anasasori yang mau nemenin Ino bolos? *muka polos* #plak. Makasih atas review-reviewnya selama ini!
vaneela: Gak papa kok ^^a. Udah~ relain aja Gaa-chan jadi maho, tetep imut kok #eh. Huwaa makasih banget atas pujiannya! *loncat-loncat girang sambil nangis terharu*. Ah, menurut saya Naruto emang selalu ngeselin #rasenganed. Ini udah di update, makasih banget, banget ya *masih ngelap air mata*.
Minami22: Nih manusia selalu protes masalah kalau gak 'lama update' 'ficnya kurang panjang'. Balikin kata-kata lu ah: "lama amat sih reviewnya cepetan ya reviewnya! Komennya mana nih? Dikit! Review!" -jangan ditiru ya anak-anak di rumah sekalian- #eh.
Oh, ya jangan lupa menominasikan fanfiksi berbahasa Indonesia untuk IFA 2011 yang sedang berlangsung ini, ya! (dan maaf kalau masih ada typo)
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Can You Feel This? © Hime Uguisu
Pairing:
Itachi – Ino,
Slight:
ShikaTema (sedikit-banget-tapi), SasuNaru, ItaDei (chotto, ii?), NejiGaa, maybe NejiShion? ^^a
Summary:
Chap. 9! Dia membuatku patah hati, tapi kini semua luka itu hilang tak berbekas karena kehadiran Itachi. Jujur aku menyayanginya, namun aku takut ia akan sama dengan adiknya. B'day fic for Minami22, 22 Mei 2011, RnR please.
Can you feel this?
A
Naruto Fanfic
By
Hime Uguisu
Birthday Fic For
Minami22
22 Mei 2011
Penjelasan tambahan
(biar Authornya juga gak lupa, ingetin saya kalau saya pernah nyantumin kelas mereka dan beda sama yg saya sebut sekarang, ya!):
Kelas 1:
Ino, Sasuke, Naruto, Shion, Tenten, Gaara
Kelas 2:
Neji, Temari, Shikamaru
Kelas 3:
Itachi, Deidara, Sasori
Info bisa berubah sewaktu-waktu (?)
Ino's POV
Akhirnya mobil ini tiba juga di parkiran sebuah mall terbesar di konoha ini. Aku membuka pintu dan turun dari mobil duluan saat mobil ini akhirnya terparkir di bagian basement mall. Itachi juga ikut turun dan mengunci pintu mobilnya dengan tombol kunci otomatis. Tas sekolahku kutinggalkan di dalam mobil.
"Wow, ini pertama kalinya aku kesini," ucapku saat kami mulai memasuki bagian dalam mall ini. Benar-benar besar. Toko yang berjajar di sini pun dari merk ternama. Aku masih sibuk melihat ke kanan kiri saat kurasa tanganku digenggam. Aku segera menoleh ke arah Itachi yang tampak santai saja. Lalu pandanganku ku alihkan pada tanganku yang benar saja, kini digenggam oleh Itachi.
"Err.. Itachi senpai?" aku bermaksud untuk menegurnya, namun ia malah tersenyum.
"Kan kalau begini lebih enak dilihat. Jadi seperti sepasang kekasih, kan?" ucapannya barusan membuatku malu. Aku hanya membuang muka untuk menutupi pipiku yang merah. Mulai mengalihkan perhatianku kembali pada berbagai outlet pakaian di sini. Ah, rasanya aku ingin sekali membeli salah satu dari baju manis-manis itu! Tapi begitu menyadari uang di dompetku tidak akan cukup sekalipun hanya untuk membeli ikat pinggang membuatku menghela nafas pasrah. Hey, bukan aku yang miskin, tapi ikat pinggangnya saja yang mahal! Jangan ilfil begitu dong!
"Sepertinya kita harus mengganti pakaian sekolah ini deh. Sekarang kan belum jam pulang sekolah," ujar Itachi. Astaga, aku baru ingat! Nanti kalau orang yang melihat kami mengira kami membolos bagaimana? Ok, aku mengaku, kami memang membolos. Puas kalian?
"Benar juga sih. Tapi kan aku tidak bawa baju ganti," jawabku.
"Itu gunanya kita ke mall. Kalau tidak bawa, ya beli saja.. ayo!" ajaknya. Ia menarik tanganku memasuki sebuah toko pakaian. Dengan hanya melihat merk yang tertulis jelas di sini saja sudah membuatku lemas. Bagaimana jika aku melihat harga yang tergantung di salah satu baju di sini? Bisa sakit perut nanti. Pelayan toko ini tersenyum begitu melihat Itachi. Itachi juga tersenyum melihatnya. Apa mungkin aura orang kaya dapat terpancar, ya? Fine, aku semakin terlihat seperti gadis desa yang baru pertama ke kota.
"Mencari pakaian yang seperti apa, Uchiha-sama?" Tanya pelayan itu sambil menghampiri Itachi. Wow, bahkan dia tahu namanya! Apa semua pelayan toko diharuskan menghafal nama keluarga orang kaya? Apa sih aku ini, kenapa jadi norak begini? Uuh..
"Ah, aku mencari pakaian untuk ukuran gadis ini. Bisa tunjukkan pilihan yang tersedia?" ucapan Itachi barusan membuyarkan lamunanku. Membuatku tercengang. Aku pun mencubit perutnya dan membuatnya sedikit tersentak.
"Jangan ngaco deh! Aku tidak mungkin sanggup membelinya! Melihat harganya saja aku sudah sakit perut!" bisikku di telinganya. Membuat pelayan toko ini bingung. Itachi mencubit pipiku dan sedikit menariknya. Lalu tertawa.
"Kau ini, sudah kubilang aku yang traktir. Sudah ikut saja dengan pelayannya dan pilih baju apapun yang kau mau," Itachi lalu mendorongku mendekat ke pelayan toko itu. Aku hanya bisa melotot ke arahnya yang hanya dibalas dengan tawanya. Sebelum akhirnya tanganku ditarik pelan oleh pelayan itu. Ia mengeluarkan senyumannya yang menurutku menyebalkan.
"Ayo kesini, nona. Kami punya berbagai model terbaru yang pas untuk ukuran tubuh Anda," dan aku pun hanya bisa pasrah saat diajaknya melihat-lihat baju yang terpajang di sini. Sumpah, rasanya tanganku sudah gatal untuk mengambil semuanya. Modelnya benar-benar lucu. Mengikuti naluri, tanpa sadar aku mengambil sebuah baju yang digantung. Baju lengan pendek dengan tambahan sedikit aksen pita kecil dan didominasi oleh warna soft pink.
"Anda ingin mencoba yang ini?" Tanya pelayan itu tiba-tiba. Aku sedikit terkaget dan hanya bisa tertawa hambar. Dengan memberanikan diri, kulihat harga yang menggantung di baju itu. Astaga! Ini seharga uang jajanku selama seminggu! Pemborosan sekali. Baru saja aku ingin meletakan kembali baju itu, Itachi keburu merebutnya dariku. Ia memberikan baju itu pada pelayan yang dengan sigap memegangnya.
Tangan Itachi senpai mulai memilih-milih beberapa baju dan mengambil beberapa baju yang membuatku ingin sekali memakainya. Namun kutahan, dan mencoba terlihat tidak tertarik. Padahal seandainya saja aku tidak punya malu, pasti sudah kuambil semua dan menyuruh Itachi membayarnya. Beberapa baju pilihan Itachi kini sudah dipegang oleh pelayan itu.
"Ino, cobalah satu-persatu dan ambil yang kau suka. Aku akan menunggu di sana," Itachi menunjuk sebuah bangku yang langsung menghadap ke ruang ganti. Merasa melawan pun tak akan mempan.. ok, dan aku pun memang tak mau melawan lagi, aku pun segera mengambil baju dari pelayan itu dan berjalan menuju kamar ganti. Di sana Itachi sudah duduk dengan santai, menunggu aku keluar dari kamar ganti. Haaah.. sudah biarkan sajalah.
Aku membuka pintu kamar ganti itu. Menatap pantulan diriku di cermin yang masih memakai seragam sekolah ini. Perlahan kubuka blazer-ku. Mencoba mengambil salah satu baju dan mulai melepas bajuku yang lain untuk mengenakan baju yang akan ku coba. Sesekali aku melihat ke atas, yah.. siapa tahu ada kamera iseng. Kalian jangan mengintip, ya!
Kini aku sudah memakai salah satu baju itu. Entah kenapa aku jadi merasa cantik. Aku tersenyum menatap diriku, lalu membuka pintu kamar ganti. Niatnya sih untuk meminta pendapat Itachi seperti di komik-komik shoujo itu lho! Itachi yang sedang membaca majalah entah dari mana langsung meletakan majalahnya dan menatapku. Ditatap seperti itu membuatku malu juga.
"Cocok tidak?" tanyaku. Dan kemudian hening. Itachi masih tetap menatapku. Uuh.. jawab dong, aku kan ingin cepat-cepat mencoba yang lain juga.
"Cocok sekali untukmu. Kau terlihat tambah manis dengan itu," jawabnya. Aku rasa pipiku merah seketika. Hanya seulas senyum yang kuberikan sebagai ganti ucapan terima kasih. Ia menyuruhku untuk mencoba baju lain lagi. Dan seterusnya begitu. Mencoba dan menanyakan pendapatnya. Asal kalian tahu, rasanya percuma aku mencoba satu-persatu dan meminta pendapatnya, toh semuanya dia bilang "cocok" dan akhirnya ia membeli semua. Aku jadi merasa tidak enak.
"Sudah, kau tidak usah ganti lagi. Pakai saja bajunya daripada pakai seragam," cegahnya saat aku hendak masuk ruang ganti lagi untuk mengganti pakaianku. Aku hanya angkat bahu lalu melirik ke arah tas belanjaan yang berisi baju, celana, rok, dan.. ikat pinggang! Aku beli ikat pinggangnya dong! Ralat deh, bukan aku yang beli, tapi Itachi.
"Aku jadi benar-benar tidak enak kalau begini! Itachi senpai sendiri bagaimana? Tetap memakai seragam?" tanyaku. Tidak enak juga kan kalau hanya aku yang memakai baju bebas.
"Tentu saja aku juga akan ganti pakaian. Aku sudah membelinya saat kau sedang di ruang ganti," jawabnya lalu masuk ke dalam ruang ganti itu. Oh ya, ia mengeluarkan kartu ATM untuk membayar pakaian tadi! Sekali lagi pertanyaan itu muncul di benakku..
'Memangnya berapa uang jajannya? Uchiha memang bukan orang sembarangan'
.
.
.
Sekarang kami sudah keluar dari boutique tadi. Itachi melarangku untuk membawa tas belanjaanku. Ya sudahlah, percuma kutentang juga ia akan tetap keras kepala kok.
"Jadi sekarang kau mau ke mana? Mau makan dulu?" tanyanya tiba-tiba. Aku yang sedang melamun memikirkan total belanjaanku tadi langsung menoleh padanya.
"Hah? Jangan deh.. pulang saja. Nanti hutangku sama senpai jadi tambah banyak," jawabku lemas. Itachi menghela nafas panjang. Ia menepuk bahuku dan pasang tampang sok bijak.
"Aku tak menganggap kau berhutang kok. Jadi santai sajalah, anggap saja kau sedang kutraktir habis-habisan," ucapnya santai.
"Tak perlu pakai 'anggap saja' juga memang kenyataannya begitu kok! Kau memang mentraktirku habis-habisan, aku tidak bisa kalau begini terus," protesku. Tanpa berkata apa-apa, ia menarik tanganku memasuki sebuah restaurant yang tanpa melihat daftar harganya pun aku sudah bisa menebak harga makanan di sini pasti mahal! Terasa sekali dari berbagai orang dengan gaya elite yang makan di sini.
"Kenapa lagi harus makan di sini? Aduh!" keluhku sambil menepuk dahi. Itachi hanya tertawa lalu berbisik pelan,
"Karena ini mall yang paling sering kukunjungi, jadi wajar kan kalau aku mengajakmu ke tempat langgananku? Bersenang-senang sajalah,"
"Tapi.. tapi kan aku jadi.." ucapanku terpotong saat ia meletakan telunjuknya di depan bibirku. Menyuruhku untuk berhenti berbicara. Aku pun hanya terdiam saja. Ia mengajakku duduk di salah satu meja untuk berdua. Setelah duduk, ia melihat-lihat daftar menunya. Aku hanya bisa gigit jari. Rasanya gugup sekali kalau begini, aku jadi terbayang ucapan Sasuke sampai membuatku semakin risih.
"Jadi.. putus denganku, kau langsung menggandeng kakakku begitu? Apa keluarga Uchiha segitu hebatnya sampai kau ingin mendapatkan marga dan harta kami yang berlimpah?"
Ukh, rasanya hatiku selalu sakit setiap mengingatnya. Dan entah kenapa berapa kalipun aku mencoba untuk melupakan kata-kata Sasuke barusan.. rasanya kalimat itu selalu terngiang lagi. Tanpa terasa aku jadi melamun sendiri. Itachi pun menepuk bahuku untuk menyadarkanku.
"Jadi kau pesan apa, Ino?" Tanya Itachi. Aku sedikit gelagapan dan mengambil daftar menu yang disodorkan oleh Itachi. Mataku meneliti setiap menu yang ada. Dengan melihat namanya aku baru sadar, ini restaurant masakan barat. Ok, mari kita lihat harganya. Aku sibuk mencari makanan dengan harga yang masih agak murah lah. Err.. kok tidak ada makanan yang harganya sama dengan semangkuk mie di pinggir jalan, ya?
"Aku.. aku tidak mengerti. Mungkin aku pesan hmm.."
"Bagaimana kalau chicken cordon blue? Menurutku itu lumayan enak dan sederhana. Dari tadi kau mencari yang sederhana, kan?" JLEB, pertanyaan Itachi tepat mengenai sasaran. Bagaimana ia tahu aku mencari menu yang sederhana? Tambah kelihatan norak saja aku ini. Kalian jangan tertawa ataupun menatap ilfil begitu padaku dong!
"Hehe, itu saja deh. Terserah Itachi senpai saja," jawabku sambil menyengir paksa. Itachi hanya geleng-geleng kepala lalu memanggil pelayan untuk mencatat pesanan kami. Aku bahkan tidak tahu ia pesan apa. Aku pun kembali murung. Larut dalam perasaan tidak enak yang terus mengganjal di hatiku.
"Hey, kau kenapa sih dari tadi diam terus? Aku tidak dianggap ada nih?" tegur Itachi yang sudah pasang tampang kesal. Yah, walau aku tahu tampangnya itu dibuat-buat sih.
"Maaf deh," hanya itu yang kuucapkan. Ia menatap lurus padaku. Kali ini tidak dengan tampang kesal yang dibuat-buat olehnya.
"Ada apa sih? Soal Sasuke lagi? Jujur saja padaku," ujarnya. Merasa tak bisa bohong padanya, aku pun memutuskan memberi tahu hal yang sejak tadi mengganjal di pikiranku.
"Sejujurnya, hal yang membuatku tidak enak ditraktir seperti ini olehmu adalah kata-katanya yang mengatakan aku hanya menginginkan harta. Tidak, sungguh aku bukan orang yang seperti itu. Jadi bagaimana kalau ia tahu kau mentraktirku seperti ini? Bisa-bisa ia berfikir aku memeras hartamu, aku tidak mau seperti itu dan memang tidak pernah seperti itu kan?" jelasku panjang lebar.
"Tidak, aku tahu kau bukan orang seperti itu kok. Tak usah pikirkan dia. Toh aku sendiri yang memaksa ingin mentraktirmu, kan? Jadi aku akan marah sekali kalau sampai kau tak menikmatinya," ia berkata sambil sedikit tersenyum. Tak lama kemudian pesanan kami pun datang dan kami memakannya dalam hening. Yosh! Lupakan penat sesaat dan bersenang-senanglah, Ino!
.
.
.
Aku sudah kenyang deh sekarang. Kulihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Ternyata baru pukul 12 siang. Kami masih berjalan-jalan di mall ini. Melihat-lihat berbagai tempat menarik. Sekarang aku sudah berbeda dengan beberapa jam yang lalu. Sejak dari tempat makan tadi aku berusaha melupakan soal 'makhluk itu'. Seperti yang Itachi bilang, aku harus bersenang-senang sekarang.
"Hey Ino, kau mau lihat ke tempat game?" Tanya Itachi seraya menunjuk sebuah game center. Jujur, sebenarnya aku tidak terlalu suka main game, tapi lumayanlah untuk hiburan. Aku pun mengangguk dan kami berjalan menuju game center itu. Mencoba berbagai permainan yang membuat kami seperti anak SMP saja.
"Coba game mobil saja yuk, sekalian duduk nih," ajakku sambil menunjuk sebuah permainan mobil di mana kita dapat berlaku seperti sedang mengendarai mobil lengkap dengan stir, gas, rem, dan apalah itu. Itachi hanya mengangguk dan kami duduk bersebelahan. Walau berkali-kali mobilku malah jadi menabrak pembatas jalan, toh itu menyenangkan juga kok. Itachi juga menertawakanku saat melihat mobilku jadi urutan paling akhir.
"Yah kau payah nih!" ejeknya. Aku mendengus kesal lalu melihat ke layar game-nya. Iih.. mobilnya ada di urutan pertama! Envy!
"Ini tidak adil! Itachi senpai kan memang sudah mahir menyetir! Aku saja masih bingung membedakan mana rem mana kopling!" keluhku. Aku menyandarkan tubuhku pada sandaran kursi mobil-mobilan ini. "Capek nih," ujarku tiba-tiba.
"Capek? Kalau gitu kita ke mana lagi nih?" tanya Itachi yang mulai beranjak dari tempatnya. Aku pun ikut berdiri dan kami berjalan beriringan. Aku melihat-lihat ke sekitar. Memikirkan apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Mataku pun tertuju pada mesin untuk mengambil boneka itu, entah apalah namanya. Aku pun mengajak Itachi ke sana.
"Kau mau kuambilkan boneka yang mana, Ino?" ia mulai memasukan koin dan bersiap menekan tombol untuk menggerakan mesin itu. Aku menunjuk sebuah boneka babi berwarna merah jambu. Dan kemudian hening. "Ino…pig?" tanyanya hati-hati. Mendengarnya aku langsung sensi. Kucubit saja perutnya sampai ia terlihat kesakitan.
"Jangan sebut-sebut kalimat tabu itu! Ya sudah, aku mau boneka kelinci yang warna putih itu saja!" ucapku ketus sambil menyilangkan tangan di depan dada dan membuang muka. Aku tidak suka diejek seperti itu. Ia hanya meminta maaf dan mulai menggerakan dan menurunkan pencapit untuk mengambil boneka kelinci yang kuinginkan. Kulihat ia cukup berkonsentrasi, mungkin karena takut bonekanya terjatuh. Dan akhirnya boneka itu berhasil didapatkannya.
"Kau tidak akan menyimpan boneka itu kan?" tanyaku iseng saat melihatnya memegang boneka kelinci itu. Ia memukul kepalaku pelan dengan boneka itu, lalu menyerahkan boneka itu padaku. Aku menerimanya dan kini memeluk boneka itu.
"Tidaklah.. aku tidak hobby menyimpan boneka seperti itu. Lagipula, itukan untukmu!" jawabnya. Aku hanya tertawa kecil dan kami mulai berjalan lagi. Meninggalkan game center itu. Berkeliling mall untuk melihat-lihat dan sekedar cuci mata. Oh ya, sekedar info untuk kalian, Itachi juga menggenggam tanganku. Awalnya memang agak gugup, tapi lama-lama aku terbiasa juga dan sudah tidak risih lagi.
"Ino, melihat sepatumu itu membuatku ingin menangis sejak tadi. Kita cari sepatu lagi, ya?" Itachi bertanya sambil menatap nanar ke arah sepatuku yang dulu putih tapi sekarang sudah berwarna hitam. Tanpa sadar semburat merah muncul di wajahku. Aku malu sekali, kesannya hidupku miskiiiin.. sekali. Padahalkan tidak sampai sebegitunya juga. Aku kan tidak enak jika memberi tahu ayah soal kejadian kemarin.
Ya ampun kenapa tak kupikirkan sebelumnya, bagaimana aku harus memberi tahu ayah kalau aku diskors 3 hari? Ayah pasti akan bertanya apa alasannya! Lalu aku harus jawab apa, ya? Masa aku jawab 'karena aku dituduh memfitnah anak orang kaya yang dibela oleh guru pilih kasih'? Gak etis banget deh..! Atau aku harus bohong saja? Jadi aku tidak usah bilang pada ayah kalau aku diskors dan tetap berpura-pura berangkat ke sekolah? Haah..
"Kau kenapa melamun Ino? Jadi kan kita beli sepatunya?" suara Itachi membangunkanku dari lamunanku lagi. Aku hanya menggeleng pelan. Memberikan senyuman seakan tak terjadi apapun. Tapi Itachi tetap menatapku, seakan memaksaku menjawab jujur. Aku hanya menghela nafas menyerah.
"Fine, aku sedang memikirkan bagaimana memberitahu ayah soal ini. Dan.. hey masa beli sepatu? Sudah berapa tas belanjaan yang isinya belanjaanku nih? Masa belanja lagi?" jawabku sekaligus bertanya. Itachi hanya mengangguk-angguk. Aku kembali menatap ke lantai dan berjalan mengikuti Itachi. Tapi langkahku langsung terhenti saat kulihat Itachi menghentikan langkahnya. Aku segera menenggak dan menatapnya.
"Toko sepatu?" tanyaku kaget. Aku kira tadi ia mengangguk karena mengerti. Tapi kenapa masih tetap ngotot ke sini sih? Huh dasar Itachi. "Kenapa kita ke sini sih? Aku kan tadi sudah bilang kalau aku.." Itachi meletakan jari telunjuknya di depan bibirku lagi.
"Sst.. kau tadi sudah janji untuk menikmati hari ini kan? Jadi kenapa masih cerewet dan protes? Sudah, ayo ikut saja!" dan Itachi tetaplah Itachi, ia menarik tanganku dan membawaku masuk ke dalam toko sepatu ini. Awalnya sih aku masih cemberut, tapi begitu melihat model-model terbaru sepatu yang terpajang di sini.. mendadak aku tersenyum lagi. Kugigit bibir bawahku sambil terus membatin 'fokus cari sepatu sekolah, Ino! Bukan sepatu lain!'.
"Jadi kau mau sepatu yang seperti apa Ino?" Tanya Itachi. Aku segera memalingkan tatapanku padanya. Padahal tadi kan aku sedang asik menatap sepatu-sepatu lucu di sana! Aku pun berfikir dan melihat-lihat sepatu yang sekiranya cocok dipakai untuk ke sekolah. Tadinya aku ingin mengambil sepatu berwarna putih lagi, tapi tak jadi. Habisnya aku takut seperti sepatu yang sedang kukenakan lagi nantinya.
"Menurut senpai cocoknya warna apa, ya?" aku meminta pendapat Itachi. Ia berjalan mendekatiku yang masih melihat-lihat sepatu yang terpajang rapih ini.
"Sepertinya sneakers warna hitam yang ini bagus juga. Design-nya simple, hanya motif berwarna putih yang terlihat manis," jawabnya. Aku pun mengambil sepatu yang dimaksud Itachi tadi. Kuperhatikan baik-baik, lalu aku pun tersenyum. Benar juga, sepatunya lucu. Jarang sekali kan aku pakai sepatu sneakers seperti ini. Aku pun mengangguk.
"Aku juga suka yang ini," ucapku sambil memegang sepatu itu. Itachi mengeluarkan dompetnya lagi.
"Kalau begitu kita ambil yang itu. Ada lagi?" tanyanya.
"Tidak! Ini sudah lebih dari cukup!" jawabku cepat. Fuh, kau harus lihat 7 tas belanjaanku ini. Ditambah lagi sepatu ini, jadi total 8 tas. Sekarang sih aku membawa 2 tas. Itu juga setelah berdebat dengan Itachi. Tadinya ia tetap ngotot untuk membawakan semuanya. Dan satu fakta yang kuketahui lagi tentang Uchiha Itachi yang sebenarnya. Orangnya pemaksa, keras kepala, sulit dimengerti, dan sifat khas Uchiha.. sok cool, so hebat! Ok, cukup, kenapa aku jadi menghinanya? Ini gara-gara kalian sih!
"Setelah ini kita pulang ya.. kakiku pegal sekali. Tidak apa-apa kan?" akhirnya ia mengajakku pulang juga. Aku pun mengangguk dan kami berjalan menjauh dari toko ini. Menuju tempat Itachi memarkir mobilnya tadi.
.
.
.
Singkatnya, aku sudah sampai rumah sekarang. Kalian jangan protes kenapa aku menyingkat bagian perjalanan kami menuju rumah. Ya.. seperti yang kalian tahu, itu adalah bagian tidak penting dan membuat mulutku pegal. Ok, lebih tepatnya membuat tangan penulisnya pegal. Kenapa jadi curhat? Kita kembali lagi ke rumahku.
Aku pun turun dari mobil itu. Itachi juga ikut turun. Dan saat kami berdua hendak mengambil belanjaan yang ada dibagasi, tangan kami sama-sama memegang tas belanjaan yang sama. Dan kemudian hening sampai akhirnya kami berdua menarik tas belanjaannya secara bersamaan.
"Biar aku yang turunkan semuanya," ujar Itachi masih tetap menariknya. Aku pun tak mau kalah.
"Aku saja! Aku kan sudah banyak merepotkan senpai! Jadi aku saja yang turunkan semuanya!" seruku. Jadilah kami berebut seperti anak kecil. Itachi yang keras kepala dengan aku yang tidak mau merepotkannya lagi. "Iiih.. aku saja!" paksaku. Sebelah tanganku kini memukul tangannya yang memegang erat paperbag berisi belanjaan itu. Membuatnya terlihat gemas.
"Ino, kau buka pintu saja sana!" perintahnya. Aku menggeleng.
"Tidak mau!"
"Ino! Biar aku yang bawa!"
"Tidak! Tidak! Tidak! Zettai ni iie da!" seruku tetap keras kepala juga. Kutarik tas belanjaan itu dengan kuat. Lalu kulihat Itachi menghela nafas dan melepaskan pegangannya. Membuatku terjatuh karena tadi menarik tas itu kuat-kuat lalu dilepas begitu saja oleh Itachi. Dia jahat sekali! Aku meringis kesakitan. Ia segera membantuku berdiri.
"Ah, maaf! Aku tidak tahu kalau kau akan jatuh!" ucapnya penuh sesal. Aku mendengus kesal. Ia menahan bahuku. "Mana yang sakit?" tanyanya khawatir. Aku segera melepaskan diri darinya dan berjalan untuk membuka pintu pagar rumahku. Hari sudah mulai sore nih. "Hey, belanjaannya bagaimana nih?" Tanya Itachi lagi. Aku tak menengok padanya. Masih kesal sih. Punggungku sakit, tahu!
"Kau saja yang turunkan sana!" teriakku. Kini aku membuka pintu rumah dan melepaskan sepatuku. Meletakannya di rak lalu berjalan semakin masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian muncul Itachi yang sudah membawa tas belanjaanku beserta tas sekolahku.
"Ini kuletakan di mana?"
"Di sofa saja. Terima kasih ya," ucapku masih dengan nada sedikit ketus. Mendengarnya, Itachi hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala. Ia pun meletakan semuanya di atas sofa. Berpamitan padaku lalu kembali masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkanku sendirian di rumah. Aku terdiam memandang seluruh belanjaan di atas sofa. Sepatu baru. Banyak baju baru juga. Lalu ada boneka. Di antara semuanya, yang membuatku menggigit bibir bawahku adalah belanjaan bajuku. Entah ada berapa baju, rok, celana dan lainnya di sana.
"Huft… apa yang harus aku bilang pada ayah kalau ia melihat barangku yang serba baru ini?" tanyaku pada diri sendiri.
TBC alias つづく
Yup, yup, yup, akhirnya chap ini kelar juga entah bagaimana caranya. Pas saya meriksa ulang chap. kali ini, saya bener-bener dalam keadaan ngantuk. Akhirnya berkali-kali saya nampar pipi sendiri pas mata dah mau nutup. Ini demi kalian semua para reader tercinta! *hug*
Memang agak-agak gaje sih. Teruss.. sisi istimewa dari chap kali ini adalah..
Adegannya FULL ITAINO, lho! Buat para reader sekalian, tuh Shion kali ini gak ganggu mereka! Shion udah saya usir supaya gak ujuk-ujuk muncul di antara mereka! Nyahaha.. #plak
Sekedar bocoran nih, ya.. buka-bukaan(?) konflik-nya ada di chapter 10, lho! So, tetep baca terus ya!
Reader: "Jadi abis chapter 10 kita gak usah baca lagi nih?"
Author: "Eeeh! Gak gitu juga maksudnya! Kan maksudku chap 10 dah serius(?)" *hening* "Anou, chap 10 tuh abis ini, ya?" *gubrak*
Oh, ya soal pertanyaanku kemaren, ternyata kalian menyadari kalau saya masukin hint-hint yang amat pelit itu. Hiks.. senengnya.. terharu! tunggu jawaban kuis itu di chapter-chapter berikutnya ya #GUBRAK
