Ahaha… *ketawa garing*

Mohon maaf, minna. Chapter ini agak telat.

Dan berhubung udah mulai sekolah lagi…update bakal tersendat-sendat. Saya juga kayaknya mau fokus dulu ke UN mulai sekarang. Tapi saya nggak bakal mengabaikan fic ini. Saya update tergantung kesibukan, sih. Kalo minggu-minggu yang full ulangan dan tugas, saya bakal break dulu… u_u

Dan makasih untuk yang sudah mengikuti fanfic ini yah. :)))

Enjoy!


KHR! © Akira Amano / Amano Akira

Final Fantasy XII © Square Enix

Beberapa anime yang disinggung di sini juga bukan milik saya.

.

.

Chapter 9: Mission Accomplished

.

.


Atas komando Tsuna, Gokudera—dengan senang hati—mendekat, sementara Hibari…dengan tidak senang hati pun, akhirnya mendekat.

"Echo Herb, adalah sebuah ramuan obat yang katanya dapat menyembuhkan kebisuan…bukan begitu?" Gokudera memulai rapat singkat mereka. Tsuna mengangguk membenarkan.

"Sebelum itu…" Tsuna merogoh sesuatu dari balik jubahnya, kemudian mengeluarkan benda mirip PSP yang telah diputuskan untuk berada dalam genggaman si Boss. "Ingat benda ini?" Tsuna mengibas-ngibaskan benda itu di depan wajah Gokudera.

"Y-Ya…Atau tidak. Aku benar-benar lupa dengan benda itu!" teriak si Storm Guardian kesal. "Kenapa tidak digunakan dari tadi! Kita bisa menggunakannya untuk menganalisa musuh, kan?"

Tsuna kembali mengangguk. Dinyalakan olehnya benda itu. Dalam beberapa detik, muncul tulisan 'AeroNav'—yang entah apa artinya tidak Tsuna ketahui, sebelum benda itu sepenuhnya menyala. Tanpa menunggu apapun, pemuda itu mengarahkan AeroNav kepada Thextera yang sedang sibuk sendiri di sana. Entah, Tsuna tak tahu hewan itu sedang apa, yang jelas situasi ini memberi mereka kesempatan bagus untuk memikirkan rencana.

Muncul kata 'Scanning…' pada layar benda itu. Tak perlu menunggu lama, data-data tentang Thextera muncul. Gokudera mendekat untuk melihat—bukan untuk cari kesempatan dengan Boss-nya lho, ya. Hibari hanya menatap mereka dari jarak yang cukup jauh, masih berpegang teguh pada prinsipnya yang berbunyi 'I hate crowding'.

"Thextera," baca Tsuna. "Buruan Rank I. Rasnya adalah Mutant Wolf. Ia adalah makhluk yang tidak terlalu peduli dengan keadaan sekitarnya. Karena kelemahannya terhadap angin, ia cenderung hidup di tempat yang terjaga dari badai pasir."

"Kelemahannya adalah angin? Kalau begitu, kenapa kita tidak memancingnya ke tempat yang penuh badai pasir?" usul Gokudera yang otaknya memang paling encer.

"Itu…aku rasa tidak bisa," tanggap Tsuna, menggelengkan kepalanya. Melihat raut wajah kebingungan Gokudera, Tsuna buru-buru menyambung, "Makhluk itu tidak peduli dengan keadaan sekitarnya, seperti yang dijelaskan di benda ini. Selain itu, lihat saja…meski kita bergerombol di sini, ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerang."

"Begitu…Jadi usul dariku barusan tidak bisa," Gokudera menyimpulkan. Pemuda itu kemudian melongokkan kepalanya agar bisa melihat layar benda mirip PSP di tangan Tsuna. "Juudaime, apakah masih ada informasi lagi tentangnya?"

Seraya mengangguk, Tsuna lanjut membaca data di tangannya, "Ia terkenal dengan suaranya yang tergolong infrasonik, sehingga banyak orang terkadang mengiranya bisu."

"…Seperti kita…" Gokudera menghela nafas singkat.

Pemuda dalam Hyper Dying Will Mode tersebut melanjutkan, "Dulu sekali, karena muncul berbagai komplain tentang bunyi infrasonik Thextera, ada sekelompok orang yang pernah meneliti makhluk itu. Mereka memberinya Echo Herb, dan hasilnya, mereka berhasil membuat Thextera bisu. Efek Echo Herb hanya akan bertahan selama dua puluh menit."

"NAH. ITU DIA!" teriak Gokudera dengan keras, tiba-tiba ia berdiri. Tsuna sempat terlonjak kaget karenanya. "Argh! Tuh, kan. Ada info penting di dalamnya, kenapa aku tidak ingat soal benda ini sedari tadi!?"

Dengan butiran keringat di dahinya, Tsuna menepuk bahu Gokudera pelan. Sebagai seorang Boss yang baik, ia memberitahu, "Sudahlah, Gokudera. Ini bukan salahmu. Aku juga lupa."

Gokudera lantas mengelap air mata frustasinya. "Terima kasih, Juudaime…kau sungguh baik…"

'Err, sama-sama,' balas Tsuna di dalam hati.

"…Daripada itu, lebih baik kita mulai membuat rencana."

Yang membuatnya kaget adalah, Gokudera yang tiba-tiba berbalik dan berteriak "SIAP, JUUDAIME!" di depan wajahnya persis, dengan wajah berseri-seri yang sangat kontras sekali dengan ekspresi suramnya barusan.

"…"

Tsuna sendiri tak tahu harus merespon bagaimana. Kekagetannya bertambah ketika sebuah tonfa hendak mengenai pipi kanannya, jika saja ia tidak cepat menghindar. Di luar kepala saja, Tsuna tahu kalau pelaku tindak kekerasan ini adalah pemuda itu, pemuda yang benci bergerombol dan yang sedari tadi tidak berbicara sedikit pun.

Dengan perasaan was-was, Tsuna menoleh ke belakang. "Hi…bari?" Benar saja, di belakang pemuda itu, berdirilah seorang Hibari Kyoya yang tengah memasang wajah sebal, marah, 'kamikorosu', dan sejenisnya.

"Cepat selesaikan ini."

"…Hm?"

Selesaikan apanya?

Ia baru mengerti ketika Hibari menunjuk Thextera dengan dagunya.

Oh…Oh, begitu. Dia ingin cepat-cepat menghajar si Thextera. Tsuna sweatdrop akan ketidaksabaran si skylark.

"Um, baiklah," jawab Tsuna seraya menggaruk pipinya canggung. "Aku sudah ada ide. Aku tahu ini menyebalkan bagimu, tapi…tolong dengarkan, Hibari."

Meski deathglare-lah yang didapat oleh Tsuna, Hibari Kyoya akhirnya menjawab, "Hn. Katakan."

.

.

Ukh.

Tsuna mengernyitkan keningnya. Selama ini, ia memang tidak terlalu tahan dengan bau obat-obatan. Memang, ia bisa menahan diri. Tapi, untuk yang satu ini…Baunya sungguh keterlaluan.

"Sial…"

Tak disangka-sangka olehnya kalau Echo Herb akan berbau sangat tidak enak seperti ini. Tidak enak yang seperti apa, Tsuna bingung menjelaskannya. Pokoknya, campuran antara bau-bau paling tidak enak yang pernah ia temui.

Tsuna memijit batang hidungnya.

"Tahan…Sebentar lagi selesai…"

Dalam genggamannya, terdapat sebuah dagger berwarna perak dengan sedikit warna hijau di sisi luarnya. Di dekatnya lagi, terdapat sebotol cairan berwarna ungu—Echo Herb. Tangan Tsuna yang satunya—yang tidak memakai X-Gloves, sedang melumuri dagger tersebut dengan Echo Herb, sesuai apa yang direncanakannya tadi. Kadang-kadang, ia harus menahan nafas akibat bau obat tersebut yang sungguh menyengat.

"Tinggal sedikit lagi…Yosh."

Di sisi lain, Gokudera dan Hibari sedang bertarung dengan Thextera dan kawanannya. Sepertinya, terlalu aneh kalau menyebut mereka berdua bekerja sama. Sebab, mereka berdua terlihat sibuk dengan lawannya masing-masing.

Saat ini, Gokudera bertugas untuk menjalankan Plan A.

"Uri!" Seekor kucing bermata merah menyala muncul dari Buckle of The Storm Version X milik Gokudera. Sebagai pertanda kerinduannya kepada Gokudera, Uri tidak menunggu lama lagi untuk mencakar wajah si majikan—dan seperti biasa, Gokudera mencoba melepaskan Uri dari wajahnya.

"Sialan…" geram pemuda berambut silver itu. Kucing berkacamata dan ber-armor tersebut hanya mendesis galak, yang hanya membuat Gokudera semakin jengkel. "Hoi, Uri," Gokudera mengangkat Uri pelan-pelan, takut ia dicakar lagi. "Kita harus bisa melengahkan makhluk itu," Tangannya menunjuk Thextera yang berada tak jauh darinya, "demi Juudaime. Mengerti?"

"…Meow."

Uri merespon dengan nada datar. Gokudera semakin frustasi.

"Woiii, dengar, Uri. Kumohon, dengar…Untuk kali ini saja—"

Kata-katanya terhenti ketika sebuah bayangan menimpa badannya—serta badan Uri dalam genggaman tangannya. Dengan horror, ia mendongak, dan benar saja. Thextera ada di depannya—bukan. Di atasnya, karena dia berukuran raksasa.

"Mati aku…" Gokudera menampar wajahnya sendiri. Uri yang sudah terlepas dari tangannya dengan sigap nemplok ke wajah Gokudera, mencakarnya sekali lagi di dalam keadaan genting itu—aduh, kucing yang pintar, ya.

"Apaan sih, Uri!?" bentak si majikan kesal. Tanpa diminta, Uri—tumben, menghentikan aksi brutal pada majikannya, menatap mata Gokudera secara langsung. Pandangan manik emerald si majikan bertemu dengan manik merah Uri. Benar-benar pemandangan yang mengharukan di antara pasangan master dan hewan ini.

"…Betapa bodohnya diriku, Uri…Kau benar. Kita masih bisa berjuang!"

"Meow!"

Bagaimana Gokudera Hayato dapat memahami maksud Uri, entahlah.

"Selain itu, kita tidak boleh kalah dari prefek sialan itu," desis Gokudera, matanya melirik Hibari yang tengah sibuk menggeplak beberapa serigala ukuran sedang di hadapannya. Merasa semangatnya kembali, Gokudera meneriakkan, "Cambio Forma: Version X!"

Sosok Uri menghilang, menjadi satu dengan dirinya melalui Cambio Forma. Kini, Gokudera memiliki dynamite dalam jumlah besar di sekitar badannya. Ia menggunakan Storm Sunglasses, yang digunakannya untuk menganalisa cuaca, bidang magnetik, dan gravitasi untuk memudahkannya menarget musuh dengan dynamite-nya. Di bibirnya, terselip sebuah benda slinder. Sekilas terlihat seperti rokok, namun sebenarnya itu adalah korek berbentuk silinder, digunakan untuk menghidupkan dynamite miliknya.

"Baiklah…Ayo mulai, Uri."

Dengan itu, Gokudera merogoh dynamite di tubuhnya dalam jumlah besar.

"Rocket Bomb: Version X."

Rocket Bomb dengan kecepatan serta kekuatan yang telah meningkat itu melesat menuju Thextera. Seperti yang diduga, muncul beberapa serigala yang merupakan anak buah Thextera. Mereka berbondong-bondong datang entah dari mana. Ah, Thextera pasti sempat mengaum lagi. Dynamite-dynamite itu akhirnya bergesekan dengan tubuh para serigala, menyebabkan senjata itu meledak. Suara dentuman keras terdengar.

"Masih belum."

Kumpulan dynamite yang ia luncurkan dengan sangat cepat, tentu sama sekali tak disadari oleh kawanan serigala itu. Sebelum para serigala itu dapat bertindak, beberapa dynamite yang menarget Thextera pun mengenai tubuh induk serigala itu.

Gokudera tersenyum puas.

Asap yang diakibatkan oleh bom-bom itu perlahan menghilang, menampakkan Thextera yang masih dapat berdiri—meski dengan kesulitan. Gokudera sendiri sudah tahu, kalau Rocket Bomb barusan hanya akan menimbulkan dampak kecil pada monster besar itu.

"Uri, kuserahkan padamu!"

Di belakang Thextera, Uri sudah bersiap dengan keempat kaki yang terlentang, terbuka lebar—postur yang menandakan kalau ia sudah siap hinggap di suatu tempat. Dan hinggaplah ia di punggung Thextera. Ekornya yang berfungsi sebagai sumbu bom, perlahan mulai memendek—sebentar lagi ia akan 'meledak'.

Seolah ingin melindungi 'ibu' mereka, beberapa serigala kecil mulai mendekati Uri. Dari kejauhan Gokudera menyingkirkan mereka satu per satu dengan dynamite-nya, tidak membiarkan mereka melindungi Thextera. Ketika Uri mengeong panjang, Gokudera pun tidak bisa menahan diri untuk berteriak, "Gooo, Uri!"

Sekali lagi, terdengar suara dentuman—kali ini lebih keras.

Gokudera mengacungkan kedua ibu jarinya.

"Good joob, Uri! Nanti akan kubelikan catnip yang banyak, oke?"

Uri sudah berada di bahu Gokudera, dengan ukuran badannya yang telah mengecil—akibat menggunakan teknik 'Uri Bomb' barusan. Mungkin butuh waktu tiga hingga empat hari sampai ia kembali normal. Mendengar perkataan Gokudera barusan, Uri mencakar-cakar bahu Gokudera brutal, membuat si majikan merasa geli—tidak sakit, berhubung ukuran tubuhnya saat ini kecil sekali.

"Oi, oi! Aku tahu, jangan brutal begitu—"

"Idiot."

Gokudera kenal betul suara itu. Ia cepat-cepat memulangkan Uri kembali ke dalam Vongola Gear-nya yang berupa ikat pinggang, sebelum dengan muka preman ia berbalik menghadap si komentator sadis berambut hitam itu.

"Aah!? Ada perlu apa kau, Hibari?" Suaranya ia buat-buat seperti preman. "Heh. Terkagum dengan pertunjukanku barusan, hah? Bagaimana denganmu? Pasti kau kewalahan—"

…Tidak.

Gokudera melotot tidak percaya ketika pandangannya menangkap beberapa warna merah pada seragam dan kedua tonfa Hibari.

"Idiot," Hibari mengulang perkataannya barusan.

"Ap—"

"Lihat."

Tanpa banyak bertanya, Gokudera menolehkan kepalanya ke samping.

"…Mampus."

Thextera masih hidup. Dengan sedikit luka pada tubuhnya.

"Ta-Tapi—tidak mungkin. Bagaimana—"

Hibari yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan menjelaskan panjang lebar, memejamkan mata dengan keren.

"Ekor."

"…"

Beneran, deh. Lama kelamaan Hibari jadi tidak jelas seperti ini, gaya ngomongnya juga seperti Dante dari anime Sket Dance. Ngomongnya sekata dua kata, tidak ada penjelasan. Tapi bedanya, Hibari langsung to the point, tidak pakai kata kiasan segala—Gokudera masih bersyukur akan hal itu.

Jadi…ekor, ya? Apa maksudnya ekor?

Pemuda berambut silver itu sekali lagi melihat Thextera di depan mereka. Sulit dipercaya kalau serangan Uri barusan tidak menimbulkan dampak yang besar. Mata Gokudera kemudian tertuju pada ekor Thextera yang tengah mengibas-ngibas dengan brutal.

Sebuah lampu bohlam muncul di atas kepala Gokudera.

"Jangan-jangan…sesaat sebelum meledak, Uri diterbangkan menjauh oleh ekor Thextera?"

"Hn."

"Parah."

Gokudera melakukan facepalm. Padahal ia sudah joget-joget senang tadi. Padahal niatnya tadi adalah menghabisi Thextera dalam satu serangan dan membuat Juudaime bangga. Padahal—

"Plan B. Kita masuk ke Plan B."

Lagipula, ukuran tubuh Uri mengecil. Ia tidak mungkin menggunakan Uri yang sekecil itu saat ini.

"Hn."

Rasanya Gokudera ingin menggeplak kepala Hibari yang sedari tadi hanya menanggapi dengan 'hn-hn' melulu. Belum sempat ia melakukan hal itu—menggeplak Hibari, ia sudah dikejutkan oleh sebuah bayangan yang jatuh di atasnya. Ketika ia mendongak, Gokudera menganga lebar.

Juudaime terbang…terbang di atasnya.

"Juu-Juudaime!"

Memang begini rencana mereka. Jika Gokudera gagal menghabisi Thextera dalam satu serangan, mereka akan masuk ke Plan B, di mana Tsuna akan membuat Thextera bisu dengan caranya sendiri. Gokudera mengadu gigi-giginya ketika ia melihat masih ada banyak kawanan serigala di bawah Thextera.

"Juudaime, hati-hati! Ada banyak serigala kecil di sana!" teriaknya kepada Tsuna. Pemuda yang berada di udara itu memberikan acungan jempol pada Gokudera, seolah itu merupakan isyaratnya yang berbunyi, 'Oke, aku mengerti'.

Untuk mengalihkan perhatian para serigala kecil—supaya mereka tidak mengganggu Tsuna, Gokudera menembakkan beberapa dynamite ke arah mereka.

Tsuna, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, langsung mempercepat terbangnya menuju Thextera. Begitu ia berada di atas punggung Thextera, Tsuna menarik sebuah dagger yang telah ia lumuri oleh Echo Herb tadi. Pemuda itu menancapkan dagger tersebut di punggung Thextera, mengernyit ketika sedikit darah mengalir dari tubuh hewan raksasa itu.

"Maafkan aku," bisiknya dengan tidak tega kepada Thextera yang ia lukai. Tsuna buru-buru melompat dari punggung lebar itu untuk menghindari kibasan ekor raksasa Thextera. Ia harus berterima kasih pada Gokudera. Sebab, kalau saja ia tidak mengamati pertarungan Gokudera tadi, Tsuna tidak bisa membaca gerakan Thextera yang ini.

Di bawah, Hibari tengah menghabisi satu dua serigala yang tersisa. Setelah ini, tidak akan ada serigala lagi yang datang. Tsuna sudah membuat Thextera bisu dengan obat Echo Herb yang ia masukkan ke tubuh hewan raksasa itu melalui tancapan pisau.

"…!"

Jantung Tsuna serasa berhenti.

Mengapa? Bukan, bukan karena ia diserang mendadak lagi. Kali ini, wajahnya juga menunjukkan sedikit semburat merah.

"…"

Bagaimana jantungnya tidak terasa berhenti, ketika dari bawah, seorang Hibari Kyoya tengah melemparkan senyum kepadanya. Memang bukan senyuman yang manis…Hibari adalah Hibari, jadi senyumannya masih menimbulkan kesan ngeri dan badass.

Mungkin senyuman itu hanya sebatas mengatakan, 'Aku tidak keberatan kau mengambil mangsaku (Thextera). Ambillah, Omnivore.'

Tapi, tetap saja…Tsuna dibuat lemas oleh Hibari—secara tidak langsung. Tsuna sendiri tidak mengerti kenapa hanya karena tatapan Hibari saja bisa membuatnya seperti ini. Ah, mungkin saja ia terlalu lelah sehingga otaknya agak error…

"Ini kesempatanmu, Juudaime! Serang dia!"

Pemuda berjuluk Vongola Decimo itu tersentak dari dunia lamunannya.

"Benar…" Tsuna menghela nafas. "Aku tidak punya waktu untuk melamun."

Dengan pandangan yang memancarkan pride, tekad, dan keinginan untuk melindungi, Tsuna menyelimuti Thextera dalam kumpulan Sky Flame miliknya yang murni, sepatah kata 'Maaf' terbisik dari mulutnya.

Dengan itu, perjalanan singkat mereka di Westersand berakhir.

.

.

Ketika Tsuna, Gokudera, dan Hibari sampai di depan pintu masuk barat Rabanastre, mereka langsung disambut oleh keramaian. Para penduduk nampak berjejer-jejer berdiri di depan pintu. Bingung, Tsuna bertanya kepada salah satu penduduk yang berada paling dekat dengannya.

"Ano, kalau boleh tahu…ada apa dengan keramaian ini?"

Lelaki yang ditanya pun berhenti dari kesibukan mengaduk-aduk tas pinggang miliknya. "Hm? Oh, katanya, nanti malam ada pesta untuk Consul. Dan mereka dikabarkan akan lewat gerbang barat ini."

"Ah, baiklah. Terima kasih."

Tsuna bergegas kembali ke tempat Gokudera dan Hibari berada untuk menyampaikan informasi yang didapatnya.

"Pesta untuk Consul, ya? Kalau tidak ada pesta itu sih, kita tidak akan bisa keluar kota sampai sekarang," keluh Gokudera yang berkacak pinggang. Tsuna menanggapi dengan tawa kecil.

"Omnivore, aku pergi."

Hibari Kyoya sudah memasang wajah yang tidak mengenakkan. Kalau Tsuna melupakan fakta bahwa Hibari benci bergerombol, ia pasti sudah kebingungan. Di kesempatan biasa, ia mungkin hanya mengangguk saja, terlalu takut untuk mencegahnya. Tapi tidak untuk kali ini, karena beberapa alasan…

"Tunggu, Hibari-san…" Tsuna meraih lengan Hibari, hanya untuk mengeluarkan 'hie' pelan ketika ia lagi-lagi mendapatkan deathglare untuk kesekian kalinya hari itu. "A-Ano, kita harus menemui Mon-san dulu. Apalagi, kemarin kita belum menemuinya…Aku takut kalau dia menghukum kita dengan yang tidak-tidak."

…Paling tidak, begitulah firasat Tsuna.

Hibari menatapnya sebentar. Tsuna jadi semakin deg-degan menunggu jawaban Hibari.

"…Hn."

Terdengar helaan nafas dari si Decimo.

"Ah!" Gokudera tiba-tiba berteriak. "Itu Gatsly-san!" Pemuda berambut silver itu menunjuk seseorang berambut hitam yang memakai semacam sorban di kepalanya. "Kebetulan sekali…Ayo kita ke sana, Juudaime!"

"U-Um…" Tsuna melirik seorang klien yang ditunjuk Gokudera, sebelum menjawab, "Bagaimana dengan Hibari-san?"

Ya, bagaimana dengan Hibari? Ia jelas tidak mungkin meninggalkan prefek itu sendirian di sini! Bagaimana kalau Hibari tiba-tiba berserk dan menyerang penduduk, saking tidak tahannya bergumul bersama 'para herbivora'?

"Kau menyuruhku ikut bergumul?" Hibari malah memberinya deathglare lagi—padahal niat Tsuna baik sekali.

"Hiie! Ti-Tidak…Hanya saja, itu lebih baik daripada Hibari-san tetap di sini sendiri…" Takut-takut, Tsuna memandang wajah Hibari. "Bagaimana kalau ada apa-apa denganmu?"

Cie, cie—

"Che," sela Gokudera, bibirnya mencibir. "Kau sebaiknya menghargai rasa perhatian Juudaime padamu, Hibari!"

"…Aku tidak mau menghargai perasaan herbivorous seperti itu."

Setelah berkata demikian, Hibari menghilang dari tempat bak ninja profesional—begitulah kata Gokudera. Tsuna yang tahu kalau Hibari sebenarnya melompat ke atap sebuah bangunan, hanya bisa sweatdrop.

"…Yah, mungkin Hibari-san langsung pergi ke markas, ke tempat Mon-san," gumam Tsuna kepada dirinya sendiri. "Ayo, Gokudera-kun."

"A-Ah—" Gokudera yang tersentak dari kehebohannya tentang 'ninja-Hibari' pun lantas tergagap. "B-Baik, Juudaime!"

Mereka menghampiri Gatsly yang tengah berbincang-bincang dengan salah satu temannya. Tsuna menepuk lengan lelaki itu pelan. Entah mengapa, Gatsly malah merogoh sakunya untuk mengeluarkan beberapa koin, lalu mengarahkannya ke wajah Tsuna.

"…Gatsly…san?"

"Eh?" Lelaki itu menoleh dari hadapan temannya. "Oh…Kau kan, kalau tidak salah, Oozora dan Arashi?"

"I-Iya," jawab Tsuna dengan canggung. "Kenapa kau…menyodorkan uang padaku?"

"Ah? Oh, ini? Aku kira tadi kau bocah pengemis…" Gatsly menggaruk belakang kepalanya dengan wajah tidak bersalah. Tsuna terdiam, tidak tahu harus merespon bagaimana. Gokudera, merasa Juudaime-nya dihina, langsung meledak.

"Woi, Juudaime bukan pengemis! Enak saja kau!"

"Maaf, maaf. Aku sedang berbicara dengan temanku, sih…Haha."

Wajah inosen itu ingin sekali Gokudera tonjok, entah mengapa.

"Jadi…kalian berhasil mengalahkan Thextera?" tanya Gatsly kemudian. Si Storm Guardian di depannya mengangguk antusias.

"Tentu saja! Kerja sama diriku dan Juudaime memang paling top!"

"Ta-Tapi," Tsuna mencoba menyela. "Hiba—maksudku, Kumo-san juga ikut bertarung, kan?"

"Cih…" Lagi-lagi, wajah Gokudera berubah ke mode premannya—Tsuna jadi merasa bersalah. Sebenci itukah ia kepada Hibari? Kenapa?

"Woah! Terima kasih banyak!" Gatsly meremas kedua bahu Gokudera, mengguncang-guncang dirinya dengan brutal. Setelah mendapat protes dari pemuda yang bersangkutan, Gatsly baru mau berhenti. Ia merogoh tas selempangnya untuk mengeluarkan beberapa koin, sebuah helm perang—atau sesuatu yang seperti itu, dan sebuah batu yang Tsuna kenali sebagai Teleport Stone.

"Ini tidak seberapa, sih. Tapi ada 500 Gil, Headguard, dan satu Teleport Stone."

"Uwa—Ini saja sudah lumayan, Gatsly-san!" tanggap Gokudera dengan mata berbinar-binar. Gatsly menepuk punggungnya keras-keras.

"Benarkah? Haha! Ngomong-ngomong—"

Tsuna tanpa sadar tersenyum kecil melihat mereka berdua. Entah ini hanya perasaannya saja, atau Gokudera memang agak menaruh respect pada Gatsly? Yang jelas, melihat Gokudera yang seperti itu, Tsuna merasa senang. Paling tidak, ia bisa melupakan segala masalahnya—meski hanya untuk sementara.

Pemuda berambut cokelat spiky itu terlonjak kaget ketika ada suara ribut-ribut di dekatnya. Ia menoleh ke samping, dan—kedua matanya melebar ketika ia melihat banyak sekali orang-orang berseragam sama seperti om-om bucket head itu. Tsuna bisa langsung menyimpulkan kalau mereka adalah orang-orang Imperial. Di tengah mereka, ada sebuah kencana yang membawa seseorang berambut hitam keriting di atasnya—kelihatannya ia adalah tokoh penting. Semua penduduk, tidak ingin mencari masalah, terpaksa memberi mereka jalan.

"…Wow. Ramai sekali," desis Tsuna. Satu hal yang ia ketahui adalah—keramaian itu bukan karena sorak sorai senang dan bangga dari penduduk. Namun, sorak sorai tersebut penuh hujaman kata-kata buruk, penuh ejekan.

Yah, tidak heran. Kalau ia berada di situasi yang sama, Tsuna pasti sudah meneriaki mereka, orang yang telah merebut haknya—kalau berani, sih. Untung Reborn sedang tidak ada di dekatnya. Jika ada, ia pasti sudah dapat membaca pikiran Tsuna, lalu mengatainya, 'Jangan sok keren, Tsuna'.

Ah—ia jadi lupa. Pasti Hibari sudah lama menunggu di markas Clan Centurio.

"Anu, Gokudera," Tsuna menghampiri Gokudera yang masih berangkulan dengan Gatsly—jujur saja, pemandangan itu sempat membuat Tsuna speechless dan lupa dia mau apa. "Um…Maaf mengganggu, tapi… kita lebih baik ke markas."

"Eh? Lewat mana, Juudaime?" Gokudera bertanya dengan heran. "Jalannya masih dipakai oleh pasukan sialan itu, kan?"

"Yah…kita bisa…lewat atap bangunan, mungkin?" jawab Tsuna ragu, salah satu tangan ia gunakan untuk menggaruk pipi.

Mendengar hal itu, Gokudera shock. Dia shock. Tsuna tidak tahu kenapa dan bagaimana, tapi dia shock.

"Go-Gokudera—"

"TIDAK! JUUDAIME TELAH TERPENGARUH HIBARI! Ha-Habisnya…dia tidak mungkin se-ugal-ugalan itu, sampai-sampai memilih untuk berjalan lewat atap…A-Aku tidak seharusnya mempertanyakan keputusannya, tapi…tapi ini terlalu—"

Eto, bukan itu, Gokudera-kun. Aku hanya ingin memilih jalan tercepat saja, jawab Tsuna di dalam hati.

"Woah, dia ngambek!" seru Gatsly ndeso, sambil menunjuk sosok Gokudera yang tengah berjongkok dengan madesu-nya. Tsuna bisa saja meneriakkan 'Jangan lebay, plis!' jika saja ia tidak bisa menahan diri. "Eto," Lelaki itu kemudian menoleh ke arah si Decimo. "Kau mau kembali ke markas Centurio?"

Kehabisan suara untuk berbicara—entah mengapa—Tsuna hanya mengangguk.

Gatsly mengacungkan jempol ke arahnya, giginya yang kinclong ia pamerkan kepada Tsuna. Posenya yang seperti ini menurut Tsuna…norak.

"Serahkan padaku, Oozora! Gai-sensei—Eh, maksudnya, Gatsly-sama akan menjaga Gokudera sampai mood-nya membaik, tenang saja!"

Siapa itu Gai-sensei? Tsuna bertanya di dalam hatinya sambil sweatdrop. Kembali ke topik. Gokudera memang kelihatannya akrab sekali dengan lelaki yang tiba-tiba mengaku sebagai Gai-sensei itu…Jadi, kenapa tidak?

Memutuskan untuk mempercayakan Gokudera pada orang di depannya, Tsuna menepuk pundak Gatsly.

"Tolong, ya."

.

.

Suasana markas Clan Centurio masih sama rusuhnya. Masih ada saja beberapa anggota yang bermain kejar-kejaran di dalam gedung markas yang sempit itu. Malah ada juga yang sedang sparring.

Mencoba menghindari mereka, Tsuna cepat-cepat menaiki tangga menuju Montblanc. Dirinya memang menaiki tangga dengan cepat, tapi bukan berarti Tsuna ingin bertemu dengan kelinci jadi-jadian itu. Ia sudah trauma dengan kejadian yang lalu—yang itu lah.

Dan sayangnya, di atas sana ia disambut oleh pemandangan Hibari dan Montblanc yang sedang mendiskusikan sesuatu—Tsuna tidak mau tahu apa itu. Kalau dipikir-pikir, bisa saja dua sosok itu sedang mendiskusikan tentang kegiatan hunting mereka.

"Oh, Oozora?" Montblanc melongokkan kepalanya agar ia bisa melihat sosok Tsuna yang tertutup, akibat tubuh Hibari yang berada di depannya persis. "Kemari, kemari. Aku punya hadiah atas keberhasilan kalian."

Tsuna dengan lemas berjalan mendekat. Jika Mon sudah berwajah ceria seperti ini—ia memiliki perasaan tidak enak.

"Jadi, dua keberhasilan berturut-turut, eh?" Mon menarik sebuah kantong dari belakang tubuhnya—niatnya sih, ia sembunyikan biar jadi surprise. Tapi karena badannya yang pendek, Tsuna sudah bisa melihat kantong itu terlebih dulu. "Ini untuk kalian. Terimalah."

Ragu-ragu, Tsuna menerima bingkisan tersebut, sebelum sedikit membukanya untuk mengintip apa yang ada di dalam.

"Um…Obat-obatan, Teleport Stone, dan…Apa ini?" Tsuna mengangkat tiga botol yang—jujur saja, terlihat sangat mencurigakan. Dua botol berwarna hijau dan satunya lagi berwarna ungu.

"Yang hijau itu? Ah, itu Warp Mote. Kau tahu Warp? Menghentikan pergerakan lawan," jelas Mon dengan tidak niat. "Yang ungu itu—ifyouknowwhatImean."

Pemuda bermarga Sawada itu semakin bingung. "…Hah?"

"Lupakan soal itu," ujar Mon sebelum pemuda kepo itu bertanya lebih jauh.

Tsuna mencatat di dalam otaknya, begitu ia keluar dari markas tersebut, ia akan langsung membuang obat aneh berwarna ungu itu.

"Selamat atas kenaikan ranking kalian menjadi Hedge Knight, anak-anakku! Fufufu, aku sangat bangga…" Dengan (sok) imut, Mon menggunakan salah satu tangan mungilnya untuk menutup mulutnya. "Sayang sekali si rambut gurita itu tidak ikut juga. Padahal dia mau aku kerjain…"

'Beruntunglah kau, Gokudera-kun,' ucap Tsuna di dalam hatinya. Ah, tahu begini, ia seharusnya tetap di sana saja bersama Gatsly dan Gokudera. Rasanya seperti mau menghadapi hukuman yang akan diberikan oleh seorang guru. Deg-degan sekali.

"Jadi—to the point saja. Kau dan Kumo sudah anu?"

Tuh, kan. Tsuna ingin menangis saat itu juga.

"Anu apaan!? Dan tidak, kami tidak melakukan apapun! Ya, kan, Kumo-san?" sembur Tsuna. Berusaha meyakinkan Mon, Tsuna menoleh ke arah Hibari untuk meminta kesaksian—niatnya sih begitu. Tapi tidak setelah ia melihat Hibari not responding—nge-blank. Tsuna semakin ingin menangis. Ada apa gerangan dengan prefek yang kuat itu?

"Hib—Kumo-san!"

Tersentak kecil, Hibari membuang muka.

"Hn."

"Hoo, Kumo malu~ Cuit, cuit~" Dari samping, Mon menyemangati mereka.

Plis. Tsuna ingin nyemplung ke sumur sekarang juga.

"Hentikan, Mon-san…Aku lelah sekali, please," keluh Tsuna dengan pasrah.

"Ara, ara…Jangan begitu, Oozora~ Kau masih belum mau mengakui, meski aku mengatakan begini?" Montblanc memutus perkataannya untuk mengambil nafas dalam-dalam. Tsuna tidak peduli lagi kelinci itu mau berbuat apa. Ia sudah pasrah. "…Semalam, kau tidur sama Kumo dan sempat kisu-kisu, kan?"

DOR

"Ap—Apa!?" Tsuna kehilangan defense-nya. Sesuai harapan Montblanc, wajahnya mulai memunculkan warna-warna merah yang sungguh membuat rupanya lebih kawaii.

"Ara, wajahmu merah~" Mon semakin gencar menggoda Tuna ngenes itu. Merasa tidak adil karena hanya Tsuna yang digoda, Mon menoleh ke arah Hibari yang masih juga memalingkan wajah. "Bagaimana denganmu, Kumo? Itu benar, kan?"

Dari sana, Hibari menggeram pelan. "Bukan urusanmu."

"Jangan begitu, lah…Oh iya, bagaimana rasanya? Hot? Enak? Ketagihan?" Mon jadi asyik fanboy-ing sendiri. "Uuh…Doki-doki…Dadaku jadi doki-doki…"

"Sudahlah, Mon-san!" Vongola Decimo berambut cokelat itu akhirnya mencoba memberontak.

Mon malah jadi semakin liar, "Kyaaa! Rahasiaku dengan Kumo-san terbongkar! Kyaa, malunyaa~"

Entah mengapa, hari ini Montblanc menjadi lebih hyper dari biasanya, kalau Tsuna tidak salah.

"Aku ingin tidur…Aku lelah sekali…Kumohon," lirih pemuda yang tengah dinakali Mon itu. Suaranya sudah terdengar pasrah sekali.

"Hm…Mau pulang? Ah—Aku tahu!"

Aduh. Mau diapakan lagi dirinya…Tsuna serasa ingin menghilang dari tempat itu.

"Kalian boleh pulang…kalau Kumo sudah memperban luka Oozora dengan penuh kasih sayang! Hahaha, sip dah, aku jenius banget, sih! Hahaha!"

Tsuna menghela nafas panjang. "Dia sudah gila…"

"Nah, ayo cepetan! Atau kalian akan kutahan di sini!" Mon memelototi Hibari dan Tsuna secara bergantian. Seperti seorang emak-emak yang ingin anaknya cepat-cepat menikah.

"Kamikorosu."

Sebuah tonfa hampir saja mengenai pipi Mon. Tsuna sampai menganga lebar. Bukan karena Hibari yang tiba-tiba menyerang Mon—itu mah biasa, dia juga sudah sering diserang begitu. Pemuda berbadan kecil itu terpana melihat kecepatan Mon yang…bagaikan bayangan saja. Cepat sekali.

"Hn. Tidak buruk," komentar Hibari, senang mendapat lawan baru.

"Jangan pikirkan itu! Cepat lakukan apa yang kukatakan, Kumo," pinta Mon. Karena jurus mata berkaca-kacanya tidak mempan kepada Hibari, ia menggunakan strategi lain. "Aku akan bertarung denganmu suatu saat, kalau kau mau melakukannya."

"Baiklah," jawab Hibari tanpa ragu-ragu, sukses membuat Tsuna ber'EEEEEH!?' ria. Mon dan para fangirl merasa senang, tapi tidak dengan Tsuna. Pemuda itu sendiri tidak menyangka Hibari akan semudah itu setuju kalau imbalannya adalah bertarung.

"U-Um…Hiba—Kumo-san?"

Alangkah gugupnya Tsuna ketika Hibari mendekat, lidahnya sempat terpeleset dan hampir saja mengatakan nama asli si skylark. Untung saja Hibari sempat memberinya deathglare (lagi).

"Lengan."

Kedua mata Tsuna berkedip. "…Eh?"

"Lenganmu. Kemarikan."

"O-Oh, begitu."

Duh, canggung sekali rasanya. Sambil berdoa atas keselamatannya, Tsuna mendekatkan bahunya. Otomatis, tubuhnya juga kian mendekati tubuh Hibari. Tsuna tambah gugup setengah mati.

BRET

"Ja-Jangan sobek jubahku!" jerit Tsuna dengan horror. Dikira jubah seperti itu harganya murah—yah, kalau Hibari sih mungkin cuek-cuek saja. Memang, jubah miliknya sudah sedikit terkoyak karena gigitan tadi, tapi paling tidak, masih bisa diperbaiki, kan?

"…Hn."

Tuh, kan, dia cuek.

Kembali hening.

Lengan kaos Tsuna yang sudah tersobek—entah kapan—mempermudah Hibari mengamati luka pada bahu Tsuna. Luka tersebut sudah mulai sembuh, berkat obat yang telah Tsuna gunakan pada kulitnya yang terkoyak itu. Dan ketika prefek itu mulai memperban lengan atasnya—

"ITTE!"

"…"

Hibari Kyoya melilit perbannya dengan sangat erat.

…Sakit. Banget. Tsuna mewek.

Mon, sebagai figur emak mereka yang baik, langsung sewot. "WOI, kubilang dengan penuh kasih sayang, kan!?"

"Hn."

Keheningan kembali melanda. Kali ini, Tsuna bersyukur, Hibari lebih mengurangi kebrutalannya. Di luar dugaannya, ternyata Hibari dapat mengerjakan sesuatu dengan terampil seperti ini. Pandangannya fokus, dan kedua tangannya bergerak cepat. Diam itu emas—kalimat itulah yang pertama kali muncul dalam benak Tsuna melihat cara kerja Hibari.

Ketika terdapat suatu bagian pada perban tersebut yang tidak rapi, Hibari mendekatkan kepalanya untuk membetulkan bagian tersebut. Tsuna menelan ludahnya. Pandangannya tidak tahan untuk tidak melihat wajah—uhuk—tampan Hibari.

Doki, doki…

"…"

Tanpa berkata-kata, Hibari menarik dirinya mundur ketika pekerjaannya sudah selesai. Diam-diam Tsuna merasa kecewa karena kehangatan tubuh Hibari pun menghilang. Setelah itu, ia amati lengan atasnya yang telah terlilit perban dengan rapi sekali. Ia mencoba menggerakkan lengannya tersebut beberapa kali.

Well done, Hibari-san. Tsuna hanya memuji di dalam hati, takut kalau Mon akan menggodanya lagi jika ia mengatakannya keras-keras.

"Eit, bentar!" cegah Mon sebelum salah satu dari mereka keburu pulang. "Kumo, kau cium dulu bahu Oozora yang diperban itu."

Tsuna tidak mau menahan diri lagi untuk tidak berserk.

"PLIS, BIARKAN AKU ISTIRAHAAAT!"

.

.

TBC


Oke, jadi, kenapa mereka tahu Sket Dance sama Gai-sensei, saya juga ga tau. Abaikan saja ya, haha. #plak

Oh iya, terima kasih kepada Drack Yellow yang telah bertanya. Yep, fanfic ini memang sebenarnya crossover, karena Tomaj, Montblanc, Gatsly, dll adalah karakter milik FFXII. Tapi, saya ga kepikiran soal itu dan udah terlanjur 'melahirkan' fic ini di fandom KHR. :"|

Kenapa Goku bisa deket sama Gatsly…mungkin suatu saat bakal dijelaskan. Mungkin, sih.

.

Terima kasih bagi yang sudah mau membaca, review, fav, follow…

Nee: Iya juga…Entah Tsuna yang terlalu mirip cewek, atau Lucy-nya yang terlalu tomboy, saya ga tau. XD | Oke, makasih udah review… :D

Malachan12: Hehe, maklum masih battle…Chapter ini udah ada sedikit fanservice kok. Makasih sudah review…

Yuuki: Oke, besok liat aja yah. XD | Makasih udah review!

Untuk yang log-in, sudah saya balas di PM masing-masing (kalau tidak ada yang kelewatan, kalau abis selesai ngetik se-chapter langsung pusing sih u_u).

Berkenan untuk review~?