Batas
Shiroi Kage's Project
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Mature
.
.
.
ItaFemNaru
.
.
.
Kau tahu batas ?
Sebuah garis pemisah ?
Bagiku batas lebih dari itu,
Batas adalah keegoisan yang menghancurkanku secara perlahan
.
.
.
Bab VIII [ Naruko ]
Semenjak Naruko minggat atau lebih tepatnya mengungsi dikediaman Gaara. Selama itu pula Itachi tidak bisa merasakan ketenangan didalam tidurnya. Laki-laki dewasa itu secara tiba-tiba terserang penyakit insomnia parah yang membuat kantong matanya menghitam hampir menyamai mata panda Gaara. Itachi lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melamun, memikirkan apa yang sedang dilakukan Naruko saat ini, menunggu kabar dari si pirang yang sudah sangat jarang didapatkannya, bahkan hampir tidak pernah. Ada kecemasan yang mendiami hatinya, memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin saja terjadi pada si pirang. Kebimbangan hatinya bertambah ketika pertanyaan 'siapa yang aku khawatirkan sebenarnya? Naruko atau Naruto?', ironisnya dia sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan yang dia ajukan untuk dirinya sendiri. Perlahan-lahan muncul keraguan didalam dirinya, mengenai kepada siapa hatinya berlabuh sebenarnya. Mereka berbagi tubuh yang sama, mereka berasal dari satu orang yang sama, tapi adanya pemisahan ingatan diantara mereka yang kemudian membentuk dua kepribadian berbeda membuat identitas merekapun berbeda. Lalu siapakah yang benar-benar Itachi cintai sebenarnya?
Mata hitamnya bergulir kearah kalender yang berada disamping nakas tempat tidurnya. Pandangannya fokus pada lingkaran merah, bertepatan dengan tanggal yang akan menjadi batas waktu sisa hidup Naruko. Hanya tersisa waktu satu hari lagi. Besok Naruko akan menghilang untuk selamanya, tapi hingga kini si pirang tidak juga menampakkan batang hidungnya. Setidaknya dia harus memberikan Itachi satu atau mungkin dua kata perpisahan. Dia ingin mendengarkan keluh kesahnya selama ini, mengambil sedikit beban yang selama ini dipikulnya. Menyodorkan bahunya untuk si pirang bisa menangis sepuasnya. Mengatakan semua akan baik-baik saja, karena setelah ini dia yang akan bertanggung jawab atas kebahagiaan Naruto. Tentu Itachi tidak akan membiarkan Narutonya terluka lagi. Walaupun sampai saat ini kebimbangan mengenai siapa yang benar-benar dia cintai masih menghantui pikirannya. Tapi dia tidak akan menjadikan hal itu sebagai alasan untuk menyakiti Naruto.
Tap tap tap
Itachi menaikkan satu alisnya. Melihat kearah pintu kamarnya yang kini terasa lebih menarik untuk diamati. Beberapa saat yang lalu dia bisa mendengarkan suara langkah kaki mendekat kearah kamarnya. Tapi kemudian suaralangkah kaki itu berhenti, tepat didepan pintu kamarnya. Seolah ada sesuatu yang kini menahannya untuk terus masuk kedalam.
"Masuklah. Aku tidak mengunci pintunya."
Suara berat Itachi terdengar. Tapi sosok yang kini berdiri didepan kamarnya masih tidak melakukan pergerakan apapun.
"Aku tahu itu kamu, Naruko. Masuklah, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan."
Kriet
Pintu kamarnya terbuka. Menampilkan siluet seorang perempuan bersurai pirang yang kini menundukkan kepalanya. Membuat helaian surai pirang itu turun penutupi paras cantiknya. Si pirang berjalan mendekat, dengan tetap menundukkan kepalanya. Saat dia sudah berdiri dihadapan Itachi, terlihat bibirnya sedikit terbuka –
"A-aku takut."
Suaranya hampir terdengar seperti cicitan, tapi Itachi dapat dengan jelas mendengarnya. Tangan si raven panjang terulur kedepan, menggapai tangan Naruto yang terlihat bergetar hebat. Itachi kemudian menuntun Naruto untuk duduk diatas kasurnya.
"Katakan apa yang membuatmu takut. Katakan semua beban yang selama ini kau pikul. Aku akan mendengarnya untukmu."
Naruko semakin menundukkan kepalanya. Tapi kali ini bahunya terlihat bergetar, terdengar isakan kecil yang keluar dari bibirnya. Dengan sigap Itachi menariknya masuk kedalam pelukannya. Membuat tangisan Naruko pecah saat itu juga. Gadis pirang itu menangis meraung-raung, mengeluarkan segala emosi dan beban yang selama ini pendamnya sendiri. Itachi mempererat pelukannya, membiarkan bajunya basah oleh air mata Naruko.
"Menangislah sepuasmu."
Bisik Itachi tepat ditelinga Naruko. Nafas hangatnya menyentuh permukaan daun telinga Naruko. Tapi Naruko sama sekali tidak memperdulikannya, dia hanya ingin menangis. Meluapkan segala hal yang tidak pernah dia lontarkan dalam bentuk ucapan kedalam tangisan. Menceritakan kepedihan hidup yang selama ini harus dijalaninya. Meminta tolong untuk membawanya keluar dari beban yang kini ditanggunya seorang diri. Semua itu ikut jatuh bersama butiran air mata yang jatuh menelusuri pipinya.
.
.
.
.
.
Keduanya terdiam. Saling menyelami keindahan bola mata mereka yang sangat kontras. Seperti siang dan malam. Tapi bukankah hal itu yang membuat mereka terlihat istimewa. Saling melengkapi kekurangan masing-masing.
"Aku pernah membayangkan."
Naruko mulai bersuara. Meskipun suaranya masih sedikit serak karena terlalu banyak menangis tapi dia tidak peduli. Bola sapphirenya berotasi keatas, membayangkan setiap kata yang akan dia sampaikan, sambil menduga bagaimana jika bayangannya menjadi kenyataan. Walaupun dia tahu, itu mustahil.
"Jika saja Naruto hidup dalam keluarga normal, dilimpahi kasih saying, dikelilingi teman-teman yang mendukungnya. Tentu jalan cerita kita akan berbeda, aku tidak akan pernah ada. Karena itu didasar hatiku yang terdalam aku bersyukur dengan kemalangan yang menimpa Naruto. Karena dengan begitu aku bisa ada disini. Menghirup nafas layaknya orang normal, walaupun kenyataannya aku dan Naruto harus berbagi tubuh yang sama."
Itachi masih mendengarkan. Tidak bermaksud menyela. Membiarkan cerita itu mengalir begitu saja. Mengamati setiap perubahan ekspresi yang terlihat jelas di wajah si pirang.
"Aku tidak pernah membenci Naruto. Walaupun dia sudah melimpahkan masalahnya padaku dan melarikan diri seperti pengecut. Tapi sekuat apapun aku berusaha, aku tidak bisa membencinya. Karena itulah aku bertekat untuk melindunginya. Membalas budi karena telah menciptakan aku dan mau membagi tubuhnya denganku."
Naruko terkekeh. Tapi disudut matanya Itachi bisa melihat ada butiran air mata yang akan jatuh kapan saja.
"Setelah ini aku akan menghilang. Tidak, aku hanya kembali menjadi bagian dari dirinya. Sejak awal aku adalah dia dan dia adalah aku. Tapi aku tetap merasa takut, bagaimana jika setelah ini aku akan dilupakan. Membayangkan Naruto yang bisa menjalani kehidupannya tanpaku membuat hatiku sakit."
Tangan Naruko bergerak menggenggam garis rahang Itachi. Menangkup wajahnya didalam kedua tangan kecilnya. Memandang Itachi tajam. Seolah sedang mengukir wajah Itachi didalam ingatannya.
"Tapi Naruto memiliki sekarang, jadi aku tidak akan merasa khawatir lagi. Aku titip Naruto padamu. Jangan biarkan dia menciptakan dirinya yang lain sepertiku untuk kedua kalinya."
Itachi mengangguk.
"Aku janji."
Naruko tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit, memperlihatkan lipatan dikedua sudut matanya.
"Aku mengantuk, bolehkah aku tidur sekarang?"
Tes
Itachi merasakan air matanya jatuh tanpa peringatan. Air matanya semakin deras mengalir, tapi Itachi tetap memamerkan senyumannya dihadapan Naruko. Dan Itachi tahu, kalimat itulah kalimat terakhir yang didengarnya keluar dari bibir Naruko. Kalimat yang mengantarkannya kepada dirinya yang lain.
.
.
.
.
.
.
TBC
Note : Next chapter adalah chapter terakhir Batas. So stay tune yak! Arigatou minna-san XD
